Mengenal Tuhan

Tuhan merupakan sebuah kata yang akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap saat namanya disebut (tersebut) oleh berbagai macam masyarakat. Ada memuji, ada memohon, ada kekaguman, ada ketakutan dan bahkan kadang umpatan.

Namun jika ditanya siapakah Tuhan itu maka jawaban yang muncul hampir itu-itu saja, yakni Tuhan itu Maha baik, Maha pengasih, Maha memaafkan, dan lain sebagainya dengan ke Mahaaan Nya (mungkin saja maha jahat???). Dari hal ini kita harus bertanya? Apakah jawaban tentang siapa Tuhan itu merupakan jawaban kita? Atau hanya pendapat umum dari masyarakat yang diberikan kepada kita sejak kita lahir sampai saat ini?

Kita harus benar-benar merenungkan hal diatas. Jika jawaban kita ya maka berarti agama kita hanya tradisi dan Tuhan yang kita kenal selama inipun hanya menjadi sebuah konsep yang telah mentradisi sejak jaman agama kita dimulai.

Kemudian kita dapat bertanya lagi: jadi apakah hal tersebut sudah seharusnya begitu? Jika jawaban anda ya maka ya sudah, memang anda sudah senang dengan keadaan sekarang, tanpa mau diganggu kenyamanannya. Jika jawaban anda tidak benar, maka anda harus berusaha untuk mengenal Tuhan secara pribadi.

Untuk mengenal Tuhan secara pribadi maka segala konsep Tuhan yang lama harus anda hancurkan (anda akan mengalami kiamat). Konsep Tuhan tradisi harus benar-benar hancur, sebagai contoh orang katolik secara tradisi mempersonifikasikan Tuhan sebagai pria, maka anda harus mematahkan konsep ini, kemudian secara pribadi kenalilah siapa tuhan itu. Begitu juga dengan konsep lainnya.

Bahkan setelah kita marifat, kadang kita masih terbawa akan konsep orang lain, misalnya konsep dari guru kita. Konsep dari guru kita hanya merupakan pembantu bagi kita, setelah kesadaran kita melampaui konsep itu maka itupun harus kita lepas. Lalu kenalilah tuhan tanpa konsep lagi, mengalir apa adanya.

Sebenarnya pengenalan Tuhan ini intinya adalah setelah kita sampai ke dunia kelima, dimana setelah itu segala konsep, segala metode harus kita lepaskan. Dan kita benar-benar jalan sendiri, bahkan tanpa guru lagi. Jadi kitalah secara pribadi yang berjalan disitu dan saat itulah kita akan dapat mengenal Tuhan itu benar-benar secara pribadi.

Kenalilah Tuhan secara bebas tanpa takut aturan-aturan, karena dengan begitu maka kamu akan mengerti siapa (atau apa) sebenarnya Tuhan itu. Dan Tuhanpun menjadi Tuhan.

Kesimpulan

Tuhan bagi seseorang adalah benar-benar pribadi bagi orang itu

Mengenal Tuhan harus terlebih dulu mengalami kiamat

Tuhan benar-benar dapat dikenal secara pribadi setelah di dunia ke lima.

About these ads

38 Responses to “Mengenal Tuhan”


  1. 1 Rizma Juli 24, 2007 pukul 1:05 pm

    Oh, ini yang waktu itu Dana bilang yak,, (ini post perdana-nya pula,,)

    Hmm,,
    dan Ma masi harus banyak belajar buat yang ini,,

  2. 2 danalingga Juli 24, 2007 pukul 1:55 pm

    Iya ini kali ma…

    Artikel ini sebenarnya saya tulis sudah lama banget, dan merupakan tonggak awal perjalanan saya untuk memutuskan mengenal Tuhan secara pribadi. Bukan berdasarkan katanya orang. ;)

  3. 3 secondprince Juli 26, 2007 pukul 12:25 pm

    Maaf, ingin menampilkan sudut pandang lain tentang “Mengenal Tuhan”. Ya dimulai dari pertanyaan “Siapa Saya”, mungkin kejelasan bisa didapat setelah semuanya terasa begitu nyata, silakan dicoba.

  4. 4 danalingga Juli 26, 2007 pukul 7:34 pm

    Iya, seperti ujar-ujar kenalilah dirimu maka akan kau kenal Tuhan. :mrgreen:

  5. 5 jaren Agustus 5, 2007 pukul 7:16 pm

    Mau tanya sedikit ya, untuk apa sebenarnya manusia mau kenal sama Tuhan. Dan kalau kita merifat dan ingin melepaskan diri dari pendapat orang lain ataupun firman, dari mana anda tahu ada istilah Tuhan itu ? Apa istilah Tuhan itu anda dapat sendiri di got atau mimpi atau jatuh sendiri saat anda sedang apalah. Ilmuwan bisa menciptakan ciptaannya, tapi tahukan si ilmuwan bahwa yang diciptakannya (bahannya) apakah juga dari hasil ciptaannya dan seterusnya ? . Rasanya istilah Tuhan itu kita peroleh bukan karena hasil pengamatan pribadi kita, tapi kita tahu dan dengar bisa dari orang ataupun firman. Menurut hasil anda merifat, apa yang anda peroleh tentang Tuhan itu, biar kami-kami juga dapat tahu dan kenal Tuhan, bagi hasilah gitu, Jadi kembali kepertanyaan awal, untuk apa kita mau kenal Tuhan; Untuk kebaikan atau kejahatan manusia dan membuat aturan sesuai dengan aturan hasil rifatnya manusia atau menerima Tuhan yang diperoleh dari firman itu sendiri. Anda bilang untuk kenal Tuhan intinya adalah setelah kita sampai kedunia kelima. Ini menurut anda dan ternyata andapun ingin membuat batasan untuk kenal Tuhan. Kenapa mesti sampai kedunia kelima. Sebelum sampai kesitupun orang sudah banyak kenal ama Tuhan. Mintalah engkau akan mendapatkan, Tuhan, Engkaulah tempat pengungsianku, Engkaulah perisaiku dan mukjijat ini telah banyak dirasakan oleh manusia sebelum sampai kedunia kelima itu. Trims

  6. 6 danalingga Agustus 5, 2007 pukul 7:40 pm

    Silih, tolong pahami kalo semua itu istilah istilah dalam dunia spiritual atau mistikus (kalo di kristen), Jadi janganlah artikan secara harafiah. Jika hanya dengan dasar ayat ayat aja anda akan puas, maka maaf saya kurang menghafal akan ayat ayat.

    Dan jika saya pribadi, mengenal Tuhan itu adalah untuk memahami apa sebenarnya kehendakNya. Percaya atau tidak percaya sejak saya di jalan ini maka saya menjadi lebih dapat memahami akan isi dari kitab kitab suci , nggak cuma satu agama. Entah kenapa saya bisa melihat garis bessar yang sama dari makna ayat ayat dalam kitab suci tersebut. Ya, sayapun setelah proses kiamat itu kemudian tetap memakai referensi ayat ayat dari kitab suci, hanya kali ini saya telah mempunyai bekal dan tidak memilih milih kitab suci agama yang mana. Juga tidak membatasi lagi kalimat Allah (firman) itu hanya pada kitab suci yang di kenal saja, sebab di mana mana pun ternyata firman itu memang ada.

  7. 7 rahmat Agustus 7, 2007 pukul 3:57 pm

    Kuantusi, apa yang dimaksud oleh pemulis blog ini.
    Manusia yang katanya adalah makhluk yang paling sempurna di muka bumi diantara segala makhluk(bagi yang telah mulai sadar akan existensinya), sebelum ia mengoptimalkan keseluruhan indra yang ada melekat pada dirinya, manusia mengartikan sesuatu yang berarti itu, selalu melalui dari apa yang dilihatnya oleh mata. Misalnya orang primitip yang selalu kita lihat di layar kaca, suatu ketika turunlah hujan dan petir saling sambar menyambar. Dan tiba tiba menyambarlah petir pada sepotong kayu, lalu kayu itu terbakar. Si manusia primitip heran dengan perasaan yang tidak karuan ( mungkin takut, heran, kagum atau apa perasaan yang mereka rasakan saat itu) melihat dan bertanya satu sama lain; apa yang terjadi pada kayu itu. Kok ada sesuatu yang bernyala-nyala dan berwarna, maka mendekatlah mereka ke api itu. Salah seorang dari mereka dengan tanpa prasangka apapun mendekati dan lalu memegang api itu. Ich panas katanya sambil menyeringai dan kesakitan ditangan bahkan sampai membuat tangan si manusia primitip itu jadi melepuh. Pada saat itu pun mereka belum tahu, bahkan sama sekali belum menggunakan akal dan pikirannya, bahwa yang membuat tangan temannya melepuh dengan rasa sakit dan panas itu adalah disebut Api;apalagi mencari tahu sebab dan asal-usulmya. Akirnya timbul kesan pada mereka bahwa apa yang mereka lihat tadi menjadi satu issu yang sangat menarik di lingkungan mereka bahkan ada yang menjadikan api sebagai Dewa. Demikian juga dewasa ini masih banyak manusia melakukan ritual-ritual yang mengatasnamakan dan berlandasakan ajarannya atas nama Tuhan. Erpangir ku lau yang melibatkan seorang dukun sebagai perantara ( padahal yang punya hayat ini katanya telah mengenal Tuhan), untuk meminta berkah dari keramat batu ernala di Gunung Sibayak dan ternyata memang mendapatkan berkah yang berlimpah sehingga bertambah-tambah kekayaannya dan orang yang percayapun bertambah banyak juga, bahwa keramat batu ernala telah dianggab tuhan yang harus mereka sembah secara priodik dengan korban-konban misalnya melepaskan Manuk Mentar, membuat macam-macam Cimpa. Bahkan banyak cara yang dilakukan manusia untuk mencari dan mengenal Tuhan. Kumkum dipertigaan sungai yang mengalir senantisa juga dilakukan orang, disamping menguji ketahanan phisik dari masuk angin, juga untuk menguji bathin apakah aku telah dapat menyerap kekuatan yang ada diluar diriku da ini pun dilakukan secara priodik. Dan kehidupan para pelaku pun dari segi ekonomi banyak yang berhasil bahkan pengikitnya pun tidak sedikit.
    Nah apakah kehidupan yang begitu yang ingin dituju ? Apa arti hidup,. Adakah kehidupan tanpa berkematian atau adakah mati tanpa hidup. Dan mati, apakah arti mati bagi manusia sangat berarti atau tidak. Setelah mati, apa ada lagi hidup ? Manusia hidup memerlukan support, perlu ngengsi, pingin dihormati diantara sesama, perlu aturan yang disebut adat istiadat, perlu budaya, perlu hukum. Dan ego dan super ego manusia senantiasa ingin menindas dan menundukkan orang lain. Apakah demikian saja hidup dan kehidupan yang diinginkan manusia, apakah tindakan dan perbuatan manusia selama hidup, hingga ia mati tidak punya resiko. Manusia pergi kesuatu tempat untuk pergi bertapa untuk mencari sesuatu yang tentunya dia yang akan melakukan, tahu persis apa yang akan dituju dan diharapkan dari usaha bertapa yang dilakukannya. Apakah si pertapa akan memperoleh sesuatu atau sudak ketemu dan kenal dengan Tuhan ? Apa sebenarnya yang ingin diharap pada hidup dan kehidupan ini sehingga kita ingin kenal pada Tuhan, dengan menempuh berbagai cara, termasuk merifat itu. Apakah hidup yang damai dan sejahtera yang diridoi dan setelah mati kemudian dibangkitkan untuk memperoleh hidup yang kekal atau hanya sekedar eksperimental kehidupan saja , sehingga dapat memuaskan kehidupan daging dan bathin atau rohani (pada umumnya yang datang dapat memuaskan kehidupan daging dan rohani manusia adalah bisikan dari si Setan atau Iblis) Dan kita sudah sepakat bahwa kebenaran Tuhan dan Firmannya adalah absolut benar. ya enggak , bujur. Salah lepakna, sentabi silih

  8. 8 danalingga Agustus 7, 2007 pukul 10:16 pm

    yup setuju bahwa kebenaran Tuhan itu absolut benar.

    Tujuan saya untuk mengenal Tuhan agar tahu kehendakNya. Itu saja sih, tidak kurang tidak lebih. :D

  9. 9 fauzan.sa Agustus 12, 2007 pukul 7:39 pm

    Hmm, suatu pemikiran yang menarik. Tapi, untuk mengenal Tuhan itu akan sangat sulit. Ada beberapa alasan untuk itu. Yang pertama, Tuhan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Einstein bilang kalo dulu ruang-waktu ini muncul secara bersama-sama. Kalo kita berpendapat bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhanlah yang menciptakan ruang-waktu dan isinya. Ini masalah rumitnya. Kita sangat susah untuk berpikir di luar ruang waktu.

    Bagaimana kita akan paham tentang Tuhan yang tahu segala masa dan tidak terjebak dalam suatu masa? Itu sangat abstrak. Bagaimana kita akan paham tentang waktu yang bukan dulu, bukan masa yang akan datang, dan juga bukan sekarang? Bagaimana kita akan paham tentang ruang yang ditempati Tuhan? Bagaimana kita akan tahu suatu tempat yang tidak di mana-mana?

    Yang kedua, jika kita mengabaikan kitab suci, maka mengerti sifat-sifat Tuhan itu juga susah. Ketika dikatakan Tuhan Maha Penyayang, maka kita juga harus bertanya, sebenarnya apakah yang dimaksud dengan penyayang? Ketika ada yang berkata Tuhan Maha Adil, sebenarnya apakah artinya adil? Apa pula artinya Maha Baik? Baik bagi orang Jawa belum tentu baik bagi orang Sumatra-Melayu. Yang di sini dibilang sopan, sementara di tempat lain merupakan penghinaan. Kita akan kesulitan mengartikan kata “Maha Baik” karena hal ini.

    Jadi, sudahkah anda siap dengan risiko semua ini? Dan, sejauh mana hasilnya? Eh, mas Dana Lingga, mau nggak diskusi tentang mengenal Tuhan ini via imel aja? Soalnya, saya terlalu malas untuk lengganan RSS blog anda, apalagi untuk menyempatkan mampir ke blog anda. Tampaknya kalo kita sama-sama diskusi filsafat kayak gini, bakalan jadi asyik nih. Ntar, kalo udah selesai, boleh diaplot deh.

  10. 10 syamsultabriz08 Januari 29, 2008 pukul 5:17 pm

    Assalammualaikom sekelianya saudaraku yg berbicarakan Topik ‘TUHAN’.

    Terlebeh dahulu saya perkenalkan diri saya sebagai hamba yg teruja dgn perbahasan2 saudara2 sekelian yg membuat saya ingin untuk bersama berbicara. Saya bersal dari Malaysia – Kuala Lumpur.

    Membicarakan Topik ‘ TUHAN ‘kita harus berhati2 jgn berbicara dgn semporono saja.. bahaya pada diri kita sendiri. Seharusnya ada sesaorang yg bisa berbicara dgn betul jgn ikut sesedap rasa kita dgn mengunakan akal fikiran saja.Berbicara hal ‘TUHAN ‘tidak dapat atau kesampaian dgn ‘AKAL FIKIRAN ‘kita.Banyak peraturan yg harus kita lalui dgn bimbigan Mursyid/Syech yg wasil dgn hal ilmu ketuhanan.Seumpama kanak2 kecil yang meningkat dewasa wajib ada pembimbingnya supaya kesempurnaanya kanak2 tersebut dapat menjadi seorang yg sempurna apabila dewasa kelak kelak.Seseorang/salik yg sampai kepada kefahaman ilmu ke KETUHANAN adalah orang/salik mengikuti perjalanan Ahli Sufi Sejati yg di bimbing oleh seorang ‘MURSYID ‘ yg juga di Gelar ‘SYECH ‘yg mempunyai salsillah/rantaian Rabitahnya hingga sampai kepada Rasullullah Sallallah Alaihisalam.Saya berharap dgn penjelasan serba rengkas saya ini mudah2an mendapat petunjuk untuk kita semuanya yg meminati hal ‘TUHAN’supaya mudah2an sempurna ‘IMAN & ISLAM ‘ yg jati. Jangan sesekali kita menjadi orang yang mengaku beriman( Berkepercayaan ) & Islam ( Kesejahteraan/sempurna )dgn cara akal atau diatas sebutan saja ( TAQLIK = Ikut2an ) tanpa kita memahaminya. Wassallam.

  11. 11 Y.Badruzzaman Juli 19, 2008 pukul 2:26 pm

    ass.wr.wb
    Mengenal Tuhan adalah bentuk dari kita yang utama untuk mengenal diri sendiri, yang mana apabila kita sudah mengenal diri sendiri maka akan mengenal Tuhan.saya setuju sekali pendapat dari saudara Syamsul tabrit,kita harus hati-hati sekali berbicara tentang hal ini.Maka yang paling utama adalah kita kenal diri sendiri terlebih dahulu dari mulai derngan Zat, Sifat,Asma dan Afal yag ada pada diri kita yaitu Hakekat Ketuhanan.Maka nIscaya akan terbuka pintu dan adanya hidayah darti Tuhan.Yang perlu diperhatikan jangan sampai Pelajaran anak tigkat Perguruan Tinggi diberikan kepada Anak SD ,maka disini kita harus perlu berhati-hati dan pilih-pilih kepada siapa kita bicara dan dan bagaimana cara kita menempatkannya.Trims Wassalam.

  12. 12 Antara ada dan tiada Oktober 12, 2008 pukul 11:25 pm

    Apa bedanya ga ada dan tiada?

    Jika dikatakan ga ada, berdusta.
    Dikatakan ada pun, ternyata salah sangka.

  13. 13 A. Achmad Oktober 13, 2008 pukul 11:45 am

    Lucu sekali ini… agamanya sudah sempurna, nikmatnya telah cukup, dan islamnya juga sudah di ridhoi. masih bilang mau mengenal?
    masih juga bilang kiamat dulu baru mengenal?

    MasyaAllah

  14. 14 Sobat November 12, 2008 pukul 2:29 pm

    SEMOGA TUJUAN PENULIS BISA TERCAPAI.
    SETELAH MEMAHAMI KEHENDAKNYA, MESTINYA LEBIH BIJAKSANA.

    Tapi menurut saya, IBARAT seorang anak, tidak mungkin bisa memahami maksud orang-tuanya. Orang tua menyuruh, memarahi, mengajari, menyayangi, si anak tidak bakalan bisa mencapai maksud/kehendak orangtuanya tersebut.

    Si anak tersebut hanya bisa memahami anaknya sendiri (cucu) bila sudah menjadi orangtua kelak.

    Semoga pandangan ini bisa menambah wawasan.

  15. 15 Joedi Moeljanto Desember 3, 2008 pukul 7:03 am

    hmmm…

  16. 16 Lumiere Desember 22, 2008 pukul 11:43 am

    wow… :shock: ini toh post perdana-nya perdana eh pamanda?? keyenz euy! anw, saya malah suka bagian ini:

    memutuskan mengenal Tuhan secara pribadi. Bukan berdasarkan katanya orang

    Hmmmh…, perjalanan yg panjang ya Om?? ^-^

  17. 17 qbographic April 29, 2009 pukul 1:51 pm

    tuhan smuanya sudah ada dalam diri..belajar dengan alam

  18. 18 Ferry ZK Mei 20, 2009 pukul 3:03 pm

    hmmmm… inilah contoh kesombongan manusia…

    orang – orang suci dan beberapa nabi saja tidak sanggup mencari Tuhan apalagi manusia biasa ? jika datang “jin” atau apalah yang sejenisnya diluar manusia kemudian mendatangkan keajaiban dan minta dipertuhankan sanggupkah kita membedakanya ? sedang manusia saja tanpa sadar kita pertuhankan…

    ALLAH maha tahu dengan segala kekurangan dan kelebihan manusia maka diberilah jalan yang terang dengan petunjuknya terlepas ikhlas atau tidak menerimanya…

    Tanpa kehendak ALLAH tidak ada yang sanggup mencari Tuhan…

    lagi pula tidak pernah ada Tuhan selama ini kenapa pula kita hendak mencarinya sedang ALLAH diatas segalanya…

  19. 19 Patima Juni 15, 2009 pukul 6:18 pm

    Kita ini masih dalam time frame dunia. Saya pribadi melihat banyak wacana2 tentang mengenal tuhan digulirkan. Ada yang berpendapat tuhan ada dalam diri masing2, atau tuhan ada dimana2. Namun dari sekian wacana2 tersebut apakah masing2 individu sudah malaksanakan apa yang digulirkan atau hanya sekedar wacana? Tahapan apa yang sudah dicapai? Selama masih ada di dunia lakukan apa yang telah digariskan sebelumnya di kitab2 suci. Wong urip kuwi mung cuma’ mampir ngombe lan golek sangu (Orang hidup itu cuma mampir minum dan mencari bekal) kanggo emben dowo (untuk hari lusa panjang/kehidupan selanjutnya).

  20. 20 cah angon November 4, 2009 pukul 1:02 pm

    Saya tidak bisa menjalaskan lewat bahasa atau kalimat bagaimana nikmatnya rasa minum kopi kepada orang lain,yang saya bisa hanya memberi panduan cara membuat kopi beserta komposisi takarannya.Baru orang tersebut mencoba meminumnya dan merasakn sendiri rasa kopi itu.Setelah dia sudah merasakan sendiri rasa kopi itu tentunya dia juga tidak bisa mendefinisikan rasa nikmat kopi itu lewat bahasa atau kalimat yang pas kepada orang lain.Begitulah pengalaman spiritual para pencari.Klo masih dalam wilayah proses masih bisa di jelaskan atau di ceritakan,namun jika sudah sampai pencapaian atu tujuan,huruf dan bahasa tidak akan bisa mewakili makna yang sebenarnya,hanya mungkin mendekati,itupun masih jauh dari hakekat.Selamat mengarungi samudra ma’rifat bagi para pencari sejati.

    • 21 jaya Desember 19, 2009 pukul 1:21 pm

      betul saya setuju sependapat dengan cah angon banyak hal yang tidak dapt diungkapkan masalah rasa itu harus disakan tulisan tidap biya untuk mewakili

    • 22 encang Juli 11, 2013 pukul 9:56 am

      inilah komentar paling oke dari semua komentar…, karena memang begitulah adanya, rasakan oleh sendiri bukan untuk di katakan , karena tidak bisa di katakan oleh kata2, dan hal itu merupakan hak orang yg mengalaminya, jadi bukan katanya……..salam sukses selalu….

  21. 23 cah angon November 5, 2009 pukul 2:22 am

    Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu:Barang siapa mengenal dirinya maka mengenal Tuhannya.”Al-insanu sirri wa ana sirruhu:Manusia itu rahasiaku{RasaKu}dan Aku rahasianya(rasanya).Bahkan Tuhan itu dekat,lebih dekat dengan urat lehar.Merujuk kepada ayat-ayat diatas semua berhubungan dengan diri manusia.jadi yang jelas Tuhan la harfin wala sautin:Tuhan tidak ada dihuruf,dan tidak ada dikertas,bahkan dilangit sekalipun.Tuhan itu ada pada diri pribadi manusia.Maaf saya tidak berani menjelaskan lebih detail dan lebih dalam lagi karena bukan kapasitas saya untuk hal itu.Alangkah baiknya saudara-saudara yang sedang menjalani proses pencarian harus ada pembimbing yang mursyid.tujuannya supaya kita di tunjukkan dengan guru sejati kita.Guru sejati itulah yang akan membawa saudara menuju yang saudara cari.Selamat berjuang wahai sang pencari sejati.

    • 24 encang Juli 11, 2013 pukul 10:00 am

      betul sekali pendapat cah angon ini…, memang begitulah seharusnya…. mursyid pun jika sudah tahu ternyata ada di diri ini… salam untuk semuanya

  22. 25 Sungkowo widodo November 9, 2009 pukul 3:55 pm

    Setuju dengan “cah angon”

    Jangan hanya berdasarkan “KATANYA” tapi, cobalah buktikan. Pasti anda akan merasa puas.

    “Salaka”

  23. 26 jaya Desember 19, 2009 pukul 1:15 pm

    ada sesuatu yang perlu dipertanyakan
    mengapa mengenal tuhan hars menghilangkan konsep lama. apa gak takut tersesat ya, kalau tersesat neraka dong jadinya.

  24. 27 wiwa Januari 7, 2010 pukul 12:19 am

    Rasanya kita perlu melanjutkan lebih jauh pertanyaan kang Jaya.
    Adakah suatu konsep yang bersifat up to date dalam berjalan menuju Tuhan?
    Demikian pula, adakah seorang mursyid yang benar2 tahu jalan menuju Tuhan? Apakah sang mursyid pernah menjalaninya dan berpengalaman bertemu Tuhan dan kemudian membimbing kita melalui jalan itu? Apakah kita yakin ada makhluk yang bisa melakukan itu hingga saat ini? Apakah kita tahu persis bahwa makhluk itu telah bertemu dengan Tuhan sehingga kita bisa percaya?
    Lalu…Bukankah jelas sekali terlihat bahwa konsep adalah hasil ciptaan pikiran. Pikiran siapa? Pikiran sang mursyid? Kapan itu dipikirkannya?

    Teman2… jelas sekali bahwa semua itu didasarkan pada dogma “percaya”. Percaya artinya berangkat dari ketidak tahuan. Karena kalau sudah tahu, kita tidak gunakan kata percaya. Mari kita tanyakan kepada mursyid kita apakah ia pernah bertemu tuhan…lalu apakah anda percaya kalau dijawabnya ya…. bagi kita kembali landasannya kepercayaan… walaupun dalam keraguan yang besar.

    Seperti saya katakan sebelumnya, konsep adalah buah pikiran… dan pikiran selalu sesuatu yang usang dan sangat terbatas.
    Mari kita lihat apakah pikiran itu.. pikiran kita. Bukankah itu timbunan informasi yang kita kumpulkan sejak kita lahir hingga saat ini. Kita simpan dalam memori dikepala kita. Artinya bahwa pikiran selalu datang dari sesuatu/kejadian dimasa lampau.
    Lalu berdasarkan itu kita ciptakan sebuah konsep. Kalau demikian, apakah konsep yang diciptakan itu sebuah “kebenaran”?

    Rasanya jelas sekali tidak ada konsep atau metoda yang dapat membimbing manusia menuju kepadanNya. Yang ada hanyalah kita harus setiap detik belajar dan belajar dalam hidup ini yang hasilnya berupa suatu peningkatan kesadaran kita disetiap detik pula. Kalaupun konsep atau seorang mursyid diperlukan, itu adalah sebagai komunikasi awal dari perjalanan pencarian kita. Selanjutnya harus sama sekali dilupakan.

    Tiap manusia berada pada kondisinya sendiri dan memiliki tujuannya sendiri.

    Akan terlalu panjang dan lebar tulisan ini apabila saya ingin memaparkannya. Namun satu hal yang perlu kita sadari bahwa kita adalah makhluk spiritual yang diciptakan bukan seumur ibu kita melahirkan kita, tapi kita telah berevolusi sejak “kun fayakun” diucapkan oleh Sang pencipta. Kita bagian dari alam semesta ini dan terus berevolusi bersamanya menuju kesempurnaan seperti yang dimaksudkanNya.

    Mungkin saya akan melanjutkan tulisan ini berdasarkan tanggapan dan pandangan anda atas pembukaan ini.

    Salam,

  25. 28 joni Mei 17, 2010 pukul 5:51 pm

    aduh salah masuk nih gw…

  26. 29 binun Juni 3, 2010 pukul 12:47 am

    semua manusia, sedang bingung mencari Tuhan….
    Itulah bukti keberadaan Tuhan yang nyata.
    Sebab kalau Tuhan itu tidak ada, tidak ada seorangpun yang bingung mencari Tuhan.

  27. 30 Arief R. Hakim Juli 21, 2010 pukul 8:46 am

    untuk mengenal Tuhan dan mengetahui kehendakNya atas diri pribadi mas Danalingga, coba buka situs : http://www.subud.or.id mungkin bisa membantu anda.

  28. 31 kleyang kabur kanginan Juli 27, 2010 pukul 8:21 pm

    Tuk kenal Tuhan ndak usah berpolemik deh, jangan gunakan akal, karena akal itu terbatas, tapi gunakan ROSO, karena dengan ROSO alam semesta ini akan terbabar dan masuk, yang penting perlu adanya Consiuousness, atau Sat Chit Ananda, cariah mursyid yang mumpuni, kalau dah dapat jalani sendiri, karena jalan itu seudah Tuhan berikan, tapi maukah, bisakah kita menemukan jalan itu, baca petunjuknya yang ada dalam kitab suci , nuwun

  29. 32 kripikpedes Agustus 18, 2010 pukul 2:50 pm

    Rugi skali kalau waktu hidup dihabiskan hanya untuk mencari dan menemukan TUHAN. Padahal setiap saat Dia mengenalkan diri kepadamu. Dan Dia lebih dekat kepadamu dari urat lehermu sendiri. Hatimu saja yang tertutupi oleh kesombongan dan keengganan untuk mengakui segala kebesaran dan keagungan-Nya.

  30. 33 budak tauhid April 5, 2011 pukul 5:55 pm

    setahu saja dan keyakinan saya , sebetulnya dan yang betul tiada tuhan selain Allah. Apapun siapapun kalu bukan Allah bukan tuhan. totok (titik besar)

  31. 34 bonny Oktober 5, 2011 pukul 11:28 am

    wah rame juga posting2 nya..berarti semuanya sebenar nya peduli akan sesuatu yang positif….bagus.
    Mengenal Tuhan….??? ikut share pengalaman saja ah…
    – Tuhan sudah ada dalam diri kita, renungkan rendah kan diri kita dalam perasaan paling bawah ( alam bawah sadar kita ),jangan takabur / sombong,bayangkan semua ciptaan dan kebijakan nya sampai kita bisa seperti sekarang..ucapkan alhamdullilah..anda akan merasakan kesejukan dan ketenangan tubuh anda…satukan pikiran jiwa kita dengan alam sekitar kita…secara tanpa sadar kita akan merasakan sebuah suasana yang tidak biasanya…apapun yg kita pikirkan dan kita minta alam ini akan mengamini..itulah kuasa Allah kuasa sang pencipta…amien

  32. 35 tirta Maret 24, 2014 pukul 8:44 am

    Kenapa mengenal Tuhan sulit ? Sulit karena keterbatasan kita manusia.
    Apakah Tuhan itu jauh sekali. TIDDAAAK. TUHAN SANGAT DEKAT.
    Ini kesimpulan Pitutur gaib dari dimensi kesucian sbb. :
    SIAPA TUHAN ITU ?
    Tuhanmu adalah sejauhmana pengertian dan anggapan tentang Tuhan itu seperti apa, di mana dan bagaimana Tuhan itu. Itulah Tuhanmu.Tuhan itu pasti bersifat maha
    Apakah Tuhan itu membutuhkan malaikat, nabi/rasul atau apapun ? Terserah Tuhan itu sendiri. Nabi/rasul, malaikat itu hanya ciptaan.
    JADI SIAPA TUHANMU ? Seperti apa Tuhanmu ? Bagaimana Tuhanmu ? dan Di mana Tuhanmu ? Tergantung pola pikiranmu dalam pengurai.
    Tuhan itu seperti jagat raya beserta isinya, termasuk seperti dirimu dan seluruh ciptaaNya. Tetapi sosok/figur dan semua itu hanya ciptaanNya. Tuhanmu adalah Tuhan Maha Segalanya, Dia bersemayam di singgasana Tuhan di atas arsy/langit, tetapi penciptaan kamu sebagai menusia lewat rahim ibumu setelah dalam dirimu ditiupkanNYa ruh Tuhan.
    Tuhan memanggilmu “anakku” begitulah Tuhan menyapamu TETAPI kamu bukan anak Tuhan, kamu hanya ciptaan. SEKALI LAGI kamu hanya ciptaan.
    Jadi sebetulnya dalam dirimu ada sebagiannya zdat Tuhan sendiri, namanya Ruh (Allah menyebutnya RuhKu) Orang-orang menyebutnya Ruh Suci/Sukma sejati. Tetapi kamu bukan Tuhan, tetapi hanya sebahagianNya Tuhan itu sendiri.
    Ruh dalam dirimu bisa juga sebagai pemancar/frekuensi Tuhan yang ditempatkan dalam dirimu agar kamu menjalankan tugas sebagai manusia dengan perannya masing-masing.
    Ini berarti Allah sangat dekat bahkan dekat sekali.
    Oleh karena itu Tuhan selalu melihat sekecil apapun yang kamu lakukan, juga tau keinginanmu, perbuatanmu, pikiranmu dan perasaanmu.
    Akhirnya bersama ruh itulah manusia ditugaskan sebagai kholifah di muka bumi ini agar melakukan tindakan yang nyata dan berbuat sesuatu yg nyata.(tentu yang baik-baik).

    Selain ruh dalam dirimu dilengkapi dengan 4 nafsu yaitu :
    1. Aluamah tugasnya berkeinginan makan dan tidur kerjasama dengan jiwa kegelapan
    2. Supiah tugasnya berkeinginan mencari kepuasan kerjasama dengan jiwa kegelapan
    3. Amarah tugasnya berkeinginan angkara murka kerjasama dengan jiwa kegelapan
    4. Mutmainah tugasnya berkeinginan ketuhanan bersama malaikat & jiwa-jiwa suci

    Ssupaya tidak dikuasai oleh ego dan nafsu-nafsumu diperbanyak berdzikir/menyebut nama Tuhanmu (Allah-Allah….dst).
    Teorinya : Semakin banyak menyebut nama Tuhan/Dzikir, zdat Tuhan dalam diri kita menjadi semakin besar, kuat, berenergi.
    Awal-awal terasa tidak nyaman/panas dll karena pembersihan ego & nafsu-nafsu tapi semakin sering berdzikir akan semakin ringan karena frekuensi ruh dalam dirimu conect/tersambung dengan elemen-elemen Tuhan yang maha kuasa di atas arsy, dan dari dimensi kesucian memencar cahaya-cahaya/energi mengalir memasuki tubuhmu dengan peran cahaya masing-masing (ada cahaya/energi yang berperan sebagai pembersih/pengobatan/rezki/ pengasih/penyayang/karir dll)tergantung kebutuhanmu menurut Tuhan. Bukan menurutmu.
    Ada baiknya berdzikir menyebut nama (Allah-Allah.. dst). Setiap saat, dalam kerja, dalam perjalanan. Agar Allah senantiasa merengkuhmu dan terjaga. Bersambung…


  1. 1 Yesus itu Tuhankah??? « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Juni 29, 2007 pukul 10:17 pm
  2. 2 Surga dan Neraka « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada November 15, 2007 pukul 12:52 am
  3. 3 Cracking Turunnya Isa Untuk Mengalahkan Dajjal « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Desember 22, 2008 pukul 8:32 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Juni 2007
S S R K J S M
    Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: