Agama sebuah kata yang sudah tidak asing lagi bagi manusia, apalagi di bumi Indonesia yang katanya religius. Dan jika ada agama tentu ada tindak laku melaksanakan agama tersebut, yang di sebut beragama. Dan selama ini kadang sepertinya beragama itu menjadi begitu rumit, harus sholatlah, harus ibadahlah, harus di tempat ibadahlah, harus menyisihkan penghasilah sekian prosenla (kek pajak aja), harus memakai pakaian tertentulah, dll aturanlah lagi. Sebenarnya apakah jika melakukan semua aturan ritual agama tersebut, dapat di sebut telah beragama?
Nah saya ingin membahas apa itu beragama dari sudut pandang saya. Menurut saya beragama itu bukan dilihat dari apakah anda telah melakukan aturan ritual agama. Misalnya seperti sholat, puasa, ibadah, berdoa, naik haji, ziarah, mengaku dosa, sembahyang. Juga bukan karena telah melakukan aturan ritual sesuai saran yang merasa pemilik tokoh agama, maka anda sudah di sebut beragama. Jangan sampai agama anda di tuduh agama hipokrit hanya karena tingkah laku anda tidak mencerminkan orang yang beragama.
Beragama itu seharusnya dilihat melalui tingkah laku dalam menjalani kehidupan ini. Misalnya jika anda beragama Islam, maka apakah anda sudah menjadi rahmat bagi sekitar, dan jika anda Kristen, apakah anda telah menimbulkan kasih, dan bukan malah benci? Begitu juga dengan agama lain, apakah anda telah berhasil mencapai apa yang seharusnya di capai dari agama anda? Jika jawabannya sudah maka layaklah anda di sebut sebagai orang beragama, walaupun misalnya anda tidak menjalankan ritual seperti yang di bilang yang merasa pemilik tokoh agama tersebut.
Jadi yang menentukan apakah anda telah beragama adalah tingkah laku dalam menjalani kehidupan, bukan kegiatan melakukan aturan ritual agama. Sebab tentu saja anda belum beragama jika masih korupsi, menipu, membunuh, dll lagi tindakan yang tentu di larang oleh agama anda, walau anda misalnya rajin ibadah, rajin mengaji, rajin berderma, rajin mengutip ayat suci di sela sela ucapan, berpakaian seperti orang suci.
Jadi persetanlah dengan semua ritual agama itu , jika tanpa itupun anda telah dapat mencapai apa yang hendak dihasilkan oleh agama tersebut dari umatnya. Anda tetap telah beragama kok. Walau sih tentu ada saran menyebalkan seperti : kan paling baik ritual di jalankan, dan tingkah lakunya juga mencerminkan agama. Bah!!!! ![]()



Sabarrr…
Heee…? itu juga merepotkan lho sebenarnya
Kalau enggak, maka pasti banyak yang dengan mudah dan senang hati bisa menguasai `seninya`. cuma karena dianggap lumayan merepotkan, jadi begitu deh…
Mau saya kasi pertanyaan retoris yang ga kalah menyebalkan untuk saran itu? *diamuk*
–
btw, kayanya memang disini ya tantangannya, memiliki pemahaman bahwa beragama itu sinergi antara ritual (yang mungkin sedikit merepotkan) dan implementasi tiap esensi ajarannya (yang juga lumayan repotnya) dalam kehidupan nyata…
`Sim salabim` dapat pemahaman yang instan jelas ga mungkin, jadi gimana dong?
*ketularan danalingga*
Agama? ho ho…….
Agama itu adalah CANDU
waduh,, Ma bingung juga nih,,
Biar gimana menurut Ma ritual itu ga bisa ditinggalin,, (bukan artinya Ma udah ngejalanin semuanya dengan bener,,) tapi kayanya bisa diusahain kan,, berusaha lebih berakhlak baik dengan ga ninggalin ritual, biar blom berhasil 100%, masih bisa berusaha kan,, (walah,, jadi saran menyebalkan ya,,)
*digantung Geddoe*
eh,, bukannya sebenernya inti dari ritual itu mengajarkan buat jadi humble dan berakhlak ya??
kaya solat, ngajarin buat jadi lebih humble,,
bayar zakat, berbaik hati dan berbagi sama yang membutuhkan,,
mungkin masih banyak lagi ya,,
@Sileh, aku rasa seperti kata Iwan Fals “tak segampang yang kau kira…, (ini saja penggalan lagunya…) meskipun masuknya tak sesulit yang kau kira”,
Semakin tersadari olehku, bahwa aku tidak berproses dengan mauku, kemampuanku, namun ada sesuatu yang membuat sebab sesuatu berjalan.
Benar, agama bukanlah lantaran orang menjalankan sebagaimana yang saya fahami dahulu sebagai ibadah, namun jalan menuju hal itu diperoseskannya seperti solah-olah sebab ibadah, mungkin karena hal itulah yg mampu tercerna…namun siapa yg bisa menebak yg lebih dahulu ada : telurkah atau ayam…???
mungkin yang termaksud danalingga bahwa carilah sesuatu, lebih dari yang dilihat saat ini, jangn merasa cukup dengan yg terpandang seperti ibadah, sebab bagi Rasulullah SAW pun keutamaan Abu Bakar, bukan sebab banyak ibadah, namun sesuatu yg ada dibalik dadanya itu, (mungkin paru-parunya bagus ya….) he..he
iya.
Wah ternyata merepotkan juga ya? Berarti beragama memang merepotkan donk.
*hmm….apa nggak usah beragama aja ya? biar nggak repot*
no, thanks. *siap-siap ngamuk*
Wah mungkin karena implementasi beragama itu lebih merepotkan daripada sekedar ritualnya, makanya pada milih ritual aja deh, implementasi beragamanya entar aja
kalo dah mo mati.tanyakanlah pada hati nurani anda.
@ 049
wuih, ternyata bisa separah narkoba.
@Rizma
sama, saya juga jadi bingung lihat Ma bingung.
iya termasuk saran menyebalkan (Geddoe mode on)
Sebenarnya ritual juga nggak apa – apa sih selama memang bisa mengarahakan kita buat lebih baik. Tapi jika ritual hanya sekedar di jalankan tanpa merasakan essensinya, kan nggak beda ama robot tuh jadinya.
nah sekarang harus kita tanyakan kepada diri sendiri, apakah sholatku telah membuat saya humble sehingga mencegah kita berbuat keji dan mungkar, zakatku membuat aku berbaik hati ? sebenarnya masih banyak lagi sih.
Jika iya maka berarti bolehlah di sebut telah beragama.
@zal
Sebenarnya saya sih kesel ama orang-orang yang hanya menjalankan ritual agama sekedar ritual saja, tanpa memahami essensi ritual itu. Kan jadinya seperti robot aja tuh. Misalnya sholat karena di suruh sholat ama ustadnya, tanpa pernah memahami apa sih sebenarnya essensi dari sholat itu.
Nah karena rasa kesal itu makanya
kadangmuncul pemikiran, gimana kalo nggak melaksanakan gerakan sholat, tapi telah melaksanakan essensi dari sholat itu? Bukankah sudah dapat di sebut sholat juga. Dan begitu juga dengan ritual yang lainnya.keknya gini asik,
iya.., ya…memang sepertinya apa yg dipandangkan ke kita sebagaimana yg sileh lihat,
namun sayapun berasal dari hal demikian, sampai ketetapan waktu mempertemukan, akan adanya sesuatu yg perlu dicari,
namun itulah “tak semudah yg diperkirakan, namun juga tak sesulit yg diperkirakan” hanya suatu belas kasih dari YG Penuh Kasih, terhadap si bodoh, yg sok pintar ini…
saya dibawa untuk flashback my self, oh..oh..engga ada yg kulakukan…yg jelas ini hanya bentuk zakat untuk sang fakir…dan ternyata bukan badan jasad ini yg dituju…, kalau engga salah di AQ “yg hendak dilihat apa yg dibalik dada itu..”…badan jasad sebagai penikmat jikalau senag, dan kurang senang…, berbangga seolah berbuat…
sangat mudah dimunafikkan, sangat mudah disesatkan, sangat mudah untuk dibuat berlaku salah…yah seperti ombak itulah…yg engga sadar dipermainkan gelombang…kalau kata ada band “manusia bodoh”…itulah saya….yg engga pernah sadar….
Iya sih,, tapi Ma seneng aja karena maksud mas danalingga itu sebenernya pengen orang kalo melakukan ritual bener bener dengan hati,, ga cuma ngikut ajah,,
tapi menurut Ma dari pada ga solat mending solat,, masalahnya itu kan ketulis banget di Al-Qur’an,, (hehehe,, alesannya ga keren ya,,)
Kalopun susah buat dengan seluruh pemahaman tentang esensi beribadah, bisa dimulai dengan niat berusaha mentaati aturanNya,, hopefully, bisa ditingkatkan,,
@zal
yah, semoga kita tidak jadi orang yang munafik.
@Rizma
Jadi mau nanya nih, boleh kan?
kalo bagi Ma, sholat itu apa sih?
salah satu ritual yang Ma lakukan tiap hari,,(?)
Pengakuan nih… Selama ini saya lebih ke sikap beragama ketimbang ritual beragama…
Jadi yah… begitulah -____-
Saya nggak terlalu peduli sama tetek bengek yang terlalu dalam.. tapi juga tidak saya tinggalkan.
(wah, apa ini…faktor…ah, lupakan)
kalau saya sendiri lebih mengartikan ritual sebagai … istilahnya “latihan”
*padahal penilaian manusia sangat relatif lho …*
hal yang lebih penting memang “tujuannya” itu sendiri.
“Jadi ?? boleh dong meninggalkan ritual ??” boleh … sangat boleh, asal sampeyan juga siap dengan resikonya .. yaitu menyiapkan “metode latihan” yang lebih manjur
tapi ya memang tidak bisa dipungkiri … ada sebagian orang yang bertujuan akhirnya “latihan” itu sendiri, sehingga selalu meributkan “metode latihan” mana yang paling bagus. yaa … itu tadi, balik ke masalah orientasi dianya apa ??
Apa yg difahamkan, bahwa pada sholat, terdapat suatu pelajaran yg Maha Mulia,
1. dari Takbir ada Pengakuan Ke Maha Besaran, namun dalam praktiknya saya sulit menerapkannya, sebab kualitas iman dan yakin bahwa Allah Maha Besar, masih rendah, sehingga dimulut Maha Besar di praktik dikecilkan, …hiks …muna banget gw..nich..
2. Do’a Iftitah, ada beberapa hal yang di sumpahkan kepada Allah :
– Menghadapkan wajah, namun sering gw nyangka bahwa wajahnya diarah yang itu-itu aja, padahal kemanapun…
– Ngaku hidup/ mati untuk Allah, …aduh..dikasi sedikit kesulitan aja udah ngeluh banget…
– Ngakunya engga bakal menyerikatkan Allah,..ini lebih parah, dikantor gw nich..,sbg boss, ingin dihormati berlebihan, kepada boss memuji luar biasa, biasalah biar gw cepat naik, apalagi kedudukan sekarang jg sampe hilang…, ama anak bini.., ini utama..donk, dan banyak kebohongan lain yg gw buat ke Tuhan…, yg lebih sering nih, merasa engga enak donk, kalau engga sholat, apa kata dunia…sok baik..kan gw orang alim, jagan sampe dech orang ngecap yg engga baik ke gw…
– Ke Ruku’an, badan gw memang ruku’ tapi gw hormat…ichh ntar dulu..emang ngga tahu gw ini siape..
– i’tidal, gua bilang Allah Maha Mendengar, ngaji gw mesti banter, biar kedengaran juga ama tetangge, Do’a mesti kuat, paling minim pake komat-kamit, kalo Tuhan salah dengar gimana…
– kesujudan, yap gua udah ngerunduk buaanget…yang laen udah kalah…, itu kalau pas sholat, kalau enggak…siapa yg mau ngelawan gw..enga tahu betapa tegapnya gw, perkasanya gw, berpangkatnya gw, blm tahu dia siapa backing gw…
– Duduk diantara 2 sujud, lihat nich, gw memang fakir…, ini di shalat, diluaran semua hasil gw adalah dari kerja keras gw….
– syahadat…gw ngaku nyaksiin..benar..nih sumpah…, padahel….
– Selesainya salam-salaman, meskipun dalam prakteknya…bah pukimak kau..telenandem…diancuk kon, coloken ambu…fuck you..dan lain lain…karena salamnya dengan jabatan tangan..bukan kalih hati yg salamah-salamah..
nah sudahkah anda sholat…???, sudahkah anda menegakkan sholat, sook, pilih ngerjain dan setelah itu dzholimi segalanya…, atau tegakkan, tanpa suara kata-kata…
jangan katakan, kan lebih baik, ngerjakan dan dalam sikap keseharian juga tegaknya sholat,…ssst nati joe marah…
@ Mr. Lee
Akhirnya anda mengaku juga . Kekekekeke…….
Dan memang sebaiknya kita mementingkan sikap beragama, dibanding hanya ritualnya aja.
@watonist
makanya kan saya tulis:
jika itu kan berarti ada subtitusi yang menyebabkan bisa.
Dan bagi saya, apapun cara (latihan) nya, selama bisa mencapai tujuan, kenapa tidak?
@zal
hiks…sebuah paparan yang menohok relung hati paling dalam.
Ya Allah, tunjukkanlah aku jalan yang lurus. amin.
eh…tapi kok joe bisa marah?
lagi…. lagi agama…… gak bosan2nya… yah…
Justru karena saking bosannya.
@rul, yang bosan…benar, yang belum bosan…benar…he..he..
apa “bosan” adalah bagian dari ritual ??
*joke*
bisa jadi,
tapi minimal bosan dapat membuat kita melangkah pada tahap selanjutnya.
abis bosan terbitlah terang??
Ma mo ikutan bosen ga ya??
*ngitung untung rugi pake kalkulator*
silahkan ikut aja ma, menguntungkan kok. Percaya deh.
yuph..beragama tentunya ga cuma menjalankan apa yg diperintahkan sm agamanya masing2 aja…
tapi juga pake keikhlasan dan niat hanya sama sang pencipta..
lagipula kalo di islam, ibadah itu kan diterima dilihat dr 2 sisi.. cara beribadahnya dan (yg terpenting) niat
jadi ya..kalo ngejalanin perintah tp cm buat nyombongin diri aja mah..sama aja boonk kan?
Btw, apakah om dana masih inget dgn daku?
kucing manis dr AK… ^^v
Penjaga forum rikues MP3 ituloh..hehe..
Wah masih bijak seperti biasanya,
berpikir melampaui umur.
Tentu saja saya masih inget kucing manis dari AK, ini neko bukan?
Wheeww… Menurut saya nih (ijinkanlah saya egois sebentar
), kalau kita sampai pada kesimpulan kaya gini, kita engga lebih baik daripada yang kita sebut tadi, yang mementingkan ritual aja…
Jangan sampai karena kesel sama org yg cuma mentingin ritual malah menggiring kita ke ketidakbaikan satunya lagi itu, hanya mentingin sikap menjalankan esensi tapi melupakan ritual pula… karena disebut beragama bukan cenderung ke salah satunya kan ya…
Well, cukup merepotkan memang, (
) tapi paling ga kita lagi usaha kan ya, masalah hasil biarin aja orang-orang sibuk nilai sekian ini sekian itu, huh…
Yang Maha Bijak sebaik-baik penilai kan
Walah itu kan jika pilihannya hanya ritual agama aja atau sikap beragama, manakah yang di pentingkan?
Oh iya hiruta, sepertinya pengertian ritual juga pasti berbeda-beda antara semua orang, seperti misalnya sholat, ada yang berpendapat sholat itu adalah gerakan sholat , sedangkan ada juga yang berpendapat kalo sholat itu bukan dilihat dari gerakannya, melainkan dari sikap kita apakah senantiasa sholat kepadaNya (hal ini di tunjukkan bahwa kita seharusnya bisa sholat nonstop sepanjang hidup).
Dan anggaplah pendapat saya datang dari orang berpandangan sholat itu adalah sikap. Jadi sebenarnya masih melaksanakan ritual , walau ritualnya berbeda dengan orang kebanyakan.
Nah itu baru satu sisi perbedaan akan ritual sholat saja, saya yakin masih banyak perbedaan lainnya dalam memandang ritual agama.
Dan semoga kita dilimpahi kebijakanNya.
Hooh… *ngangguk-ngangguk*
iya ya
Yang saya maksud ritual tadi itu memang secara harfiah, hehehe… jadi maksud Mas Dana disini memang beda konteks tentang makna ritual itu ya… sorry, missunderstanding
Abisnya saya masih terasosiasi sama yang ini…
Jadi saya kirain tadi, ritualnya itu memang dalam artian itu
He eh… memang bisa diliat dari banyak sisi…
Yap, mengaminkan sekuat tenaga yang quote terakhir itu Mas
Saya setuju seratus persen.
Ritual, ritual, bah.
Nuff said.
Walah…hati-hati, entar di marahin lho.
walaah,, Difo + Dana,, =
@ Ai
Top banget!!
kapan ya bisa ngegabungin antara ritual dan esensinya itu dalam ritual rituan yang Ma lakuin??
nafa Ma?
Iya Ai tuh emang top, padahal masih kecil tuh.
ritual? kagak penting!!!!!!!!!!!!!!!!
Gara2 gak ngejalanin ritual aja mosok ada yg nganggap dia lebih bejad daripada orang yg menzinahi ibunya sendiri!
http://web.singnet.com.sg/~abbasmy/document.html
Please deh…. korelasinya dimana tuh? nyang ada juga orang2 yg ngejalanin ritual dengan taat yg malah ngeledakin bom di-tengah2 warga sipil…
abis sholat bikin bom yuukkk….. DUERRRR!!!!
alah dasar bung Ishaputra, itu perlu di cermati lagi. Kalo menurut saya sih bukan karena menjalankan ritualnya, tapi dikarenakan essensi ritual itu yang tidak di tangkap atau salah menangkapnya.
Ritual adalah sebuah sarana yg akan menghantarkan kita menuju ke hakikat agama tersebut….
namun teteup, sarana adalah sarana, hakikat adalah hakikat….
Jangan terlalu menekankan pada sarana, sehingga kita meributkan soal2 remeh seperti:
- bahasa yg digunakan dalam ritual (ada yg pake bahasa beda dianggap sesat)
- gerakan2 maupun tatacara yg katanya gak boleh berubah…
- dll
Gak penting perahu yg digunakan, yg penting ialah: apakah ia mampu mencapai pulaunya… gak penting ritualnya, yg penting ialah apakah ia bisa menggapai hakikat (esensi) dari agama yg dianutnya
*cheers sama mas Tito*
Esensi agama adalah universal.
Ritualnya hanyalah produk budaya.
@tito
hus… tolong ya jangan menyebar aliran sesat
Welcome bro,
.
Saya setuju berat nih, apa gunanya membahas perahu mana yang di pakai, selama memang bisa mengantar kita ke pulau tujuan.
Tapi bro, seperti yang saya bilang ya, perahunya saya ikatkan di dermaga, mana tahu sekali-sekali saya ingin melancong.
@kopral
halah… nyamber aja nih,
hati-hati akhi, nanti anda tersesat
lebih baik menjadi orang baik walaupun tidak beragama daripada beragama tetapi tidak baik..
betul itu, tapi kalo versi menyebalkannya sih lebih baik menjadi orang baik dan beragama.
Pokoknya prioritasnya jadi orang baik dulu
Kalo versi saya sih, dengan menjadi orang baik maka kita telah beragama. Tapi ini versi saya lhooo…..
menurut gw pribadi, tingkah laku agama akan terwujud jika syariatnya sudah benar dulu. kalau ada korupsi, menipu dll, berarti dia belum betul secara syariat. syariat itu pondasi, seperti rumah punya pondasi, tiang penyangga dan atap. pondasi ibarat syariat, atap ibarat tinggkah laku. kalau pondasi tidak kuat maka atap tidak akan terlihat karena roboh….peace
duch …
mikirnya jelek amat …
gimana kalo cara berpikirnya seperti ini …
“masih bagus dia sholat, meski tingkah lakunya amburadul … coba kalo dia gak sholat, PASTI tingkah lakunya lebih parah lagi … ”
atau seperti ini …
“duch, meski gak pernah sholat, tingkah laku orang itu bagus bener, coba kalo dia sholat, PASTI tingkah lakunya bisa lebih baek lagi … ”
ada yg berpikir seperti itu ?
wakkakakkakaaaa …
@wedulgembez
Menurut saya juga begitu, tapi bedanya mungkin soal pandangan apa itu syariat. Bagi saya syariat itu bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban ritual saja.
@rajaiblis
Itu pikiran menyebalkan namanya.
::wedulgembez, yah tergantung siapa yang bersyariat, dan apa syariatnya…, misalnya tuh si raib, seperti memasuki wilayah kemalaikatan, yah dianya engga bersyariat…, lha kalau mau engga ada korup, menipu…hapus kalimat itu…dijamin engga ada yang namanya korup, dan menipu…
kefahaman saya, syariat itu adalah tindakan hati, yg bisa jadi terejawantahkan dalam tindakan fisik…dimana pandangannya merupakan respon atas sesuatu yg harus direspon sebagai alat ukur dalam periode waktu-waktu…, yah kayak sholatlah yg ada pada lima waktu itu….
idealnya memang, orang beragama yang rajin menjalankan ritual agama seharusnya lebih baik dari orang beragama yang tidak menjalankan ritual-ritualnya.
apalagi telah jelas dalam agama Islam misalnya. Salat itu mencegak dari perbuatan keji dan mungkar. Lho, dalam prakteknya?
Kalo dalam prakteknya nggak, berarti ada yang salah dari cara beragama itu.
menarik…coba yuk baca bukunya bertrand russel: bertuhan tanpa agama