Terinspirasi dari tulisan lae jarar tentang kafir kafiran, yang menantang keberanian orang orang muslim untuk mengkafirkan Bunda Teresa . Dan ternyata ada juga yang menyambut tantangan tersebut dengan tanpa ragu ragu mengkafirkan Bunda Teresa. Sungguh mengagumkan memang, sebuah sikap yang sudah sangat yakin. Tanpa ada secuil keraguan pun.
Sungguh jauh dengan sikap saya yang masih penuh keragu raguan ini. Alih alih mengkafirkan Bunda Teresa yang saya kagumi itu. Malahan keraguan itu membuat saya jadi punya pikiran aneh mempertanyakan kekafiran diri sendiri. Jadi inget pikiran aneh saya yang lain nya tentang kemungkinan musyrik . Tampaknya pikiran aneh kali ini masih senafas dan sejiwa dengan postingan tersebut. Kira kira pikiran aneh tersebut adalah sbb:
Apakah jika ada yang menantang saya untuk tidak mengkafirkan diri sendiri malah ndak berani jawab?
Sebab dalam pikiran saya yang sering rancu ini, jika di bilang saya ini tidak kafir, tapi kok rasanya ada (kalo nggak mau di sebut banyak) tingkah laku saya yang mencerminkan kekafiran? Misalnya menjalimi diri sendiri dan orang lain, korupsi kecil kecilan, suka menghina orang, sering terbakar emosi hingga membakar orang lain, selalu mengharapkan imbalan jika beramal, membom orang sambil tersenyum manis, mengkafir kafirkan orang lain seenak udel (lah… kalo ini masuk tindakan kafir nggak ya?), dll lagi tindakan yang kok rasanya malah semakin memperjelas kalo saya ini ternyata masih tertutup dari apa yang di sebut Kebenaran itu.
Nah , lantas dari pikiran kepada diri sendiri itu muncul sebuah pertanyaan renungan pada manusia manusia yang kebetulan membaca tulisan ini.
Apakah ada orang yang berani sebut dirinya tidak kafir?
Sungguh jika pertanyaan itu di arahkan kepada diri saya, terus terang saya belum berani menjawab dengan tegas kalo saya ini tidak kafir. Mungkin agar batin saya tenang, saya akan sedikit berdiplomasi menjawab bahwa saya ini memang masih kafir, tapi sedang menuju apa yang di sebut tidak kafir itu. Oh iya, agar tidak salah duga dan salah tebak , tolong pahami bahwa term kafir yang saya pakai adalah term kafir mas harry . Entahlah kalo ada term kafir yang lain, yang akan membebaskan saya dari label kafir ini. Tentu akan saya sambut dengan tangan terbuka dan rasa terima kasih sebesar besarnya. Sebab telah membebaskan saya dari prasangka sendiri bahwa saya ini masih kafir.
Tapi jika term anda tersebut malahan membuat saya jadi kafir dengan lebih sukses, nggak usah di kasih tahulah. Tolong kasihani saya agar tidak makin terpuruk, bisa bisa malah saking terpuruknya, jadinya saya pendek akal dan milih bunuh diri . Kan anda malah dapat dosa karena menyebabkan manusia yang berguna seperti saya ini hilang dari peredaran panggung sandiwara yang sedang rame ramenya ini .Dan tentu sungguh sayang tuh kesucian anda jadi ternoda hanya karena alasan sepele yang demikian. Mendingan diam aja, toh katanya orang banyak diam itu emas.
Tapi itu kan pikiran saya ya? Kira kira bagaimana pikiran umat umat ? Mungkin saja ada orang yang dengan tegas (setegas ketika mengkafirkan Bunda Teresa ) menyatakan dirinya tidak kafir. Sungguh jika memang ada, sepertinya saya memang harus berguru kepada orang tersebut. Sebab sepemahaman saya, bahwa hanya orang yang telah mengenal (melihat ?) Tuhan sepenuhnya dan mendapat stempel tidak kafir dari Nya langsung, yang bisa dengan tegas menjawab dirinya tidak kafir. Sungguh layak orang seperti ini diangkat menjadi guru bukan?
Dan jika gurunya seperti ini maka apa yang disangka kristenisasi seharusnya bukan ancaman toh.
lae, kalau judul artikelmu adalah “siapa berani sebut dirinya bukan kafir?”, maka aku menjawab: justru aku berani menyebut diriku kafir.
aku serius, kawan. aku ini kafir.
menurut lae, apakah TUHAN mendengar kalau kita menyebut seseorang kafir? apakah TUHAN terpengaruh kalau kita menuduh bunda teresa sebagai kafir?
kalau menurutku: TUHAN tidak akan terpengaruh dengan cap kafir yang diucapkan oleh manusia. kecuali ada orang yang merasa suci atau merasa sebagai ajudan TUHAN yang diberi mandat khusus sebagai polisi agama.
memangnya TUHAN setolol itu?
jika Bunda Theresa : Kapir
maka Thomas Alfa Edison : Kapir
jadi yang muslim ga usah pake lampu biar gelap2 sebab make barang orang kapir kan termasuk kapir jga
saya tidak kafir, saya cuma agnostik dan peragu yang masih percaya Tuhan (atau apapun namanya)
*bingung ya mas ?*
Saya kafir benwit
BTW kalau membaca definisi kafir dari Mas Harry kok jadi geli dengan banyak orang yang sering mengkafirkan orang lain.
Sepertinya orang2 yang hobi mengkafirkan itu belum melakukan “iqro” yg benar2 iqro. Pikiran mereka akan definisi kafir sepertinya terlalu sempit
Saya agnostik dan skeptis, jadi saya nggak tahu.
Tapi supaya agak keren, bolehlah saya melabel diri sendiri kafir.
*bikin tato ‘kafir’ di jidat*
Tes… Tes… Ngepos sebagai kafir…
*kembali menjadi kopral purnawirawan*
kafir™ kamu™
ya … yang penting kan ndak bangga dengan kekafiranmu to Dan ?! itu modal yang berharga lho … jangan dibuwang.
Wahai umat yg merasa org lain diluar agamanya kafir.., bukankah org yg mengikuti setiap tindak tanduk dan kelakuan org kafir akan disebut kafir juga? Betul kan begitu??
Kalau ya, maka INGATlah mulai hari ini setiap org yg melakukan tindakan2 yg sama dgn Bunda Theresa (termasuk membantu yg miskin, menolong sesama yg sakit, mengajar anak2 buta huruf) akan disebut Kafirrrr!!!!!
Krn Bunda Theresa tidak melakukan korupsi, membunuh org, memfitnah sesama, mencelakai sesama, mengkafirkan org lain. Maka anda2 yg merasa dirinya tidak kafir, dipersilakan melakukan hal2 yg tidak dilakukan Bunda Theresa diatas.
Btw, jangan lupa kalau Bunda Teresa berjalan pakai tangan dan makan lewat mulut.
Yang berminat beda, silakan cari metode lain.
sabar … sabarr … jangan emosi
mau jadi kafir ?!!!

Kafir = Haram
Pemakai WordPress = Kafir = Haram
WordPress = Haram ?
Hore, berarti saya haram.
Kayaknya sih saya tidak kafir.
Tapi sepertinya sering saya melakukan hal yang dilarang Tuhan dan sedikit sekali kayaknya melakukan hal yang dianjurkan Tuhan
Kalau nge-cap orang kayanya saya berusaha untuk tidak pernah melakukannya.
Ada orang bijak yang bilang kalau :
Bunda Teresa –> manusia setengah dewi, bayangkan ada 10 aj orang seperti beliau, betapa indahnya dunia
Baca komen Geddoe …
*Ngakak ngebayangin org makan lewat interface lain selain mulut*
Bisa diinfus, ‘kan?

Silakan membeli berbotol-botol.
Kalo blog saya termasuk kafir, ngga ? Buktikan aja deh sendiri.
nggak usah saling meng-kafirkan.
yang penting beribadah sesuai agama masing-masing secara benar .
hore !
orang yang mengkafirkan orang lain juga belum tentu dia tidak kafir.
nggak usah saling meng-kafirkan.
yang penting beribadah sesuai agama masing-masing secara benar .
hore !
Berarti saya harus mengedit perkataan saya…
Saya berjalan memakai kaki, jadi saya bukan kafir…
*Melenggak kesenangan*
walah, ini lagi….., sesat………
mana mungkin agama campur aduk gitu, emang kumpul kebo?…….. tobatlah
hey, liat ratuku yang bau……….
gak?
@ “abangnya” si gibran
Akupun berpikir kalo aku ini masih kafir kawan. Habis perbuatanku ternyata mencerminkannya…
Mendengar sih iya, tapi lantas ikut ikutan mengecap kafir sungguh tidak mungkin. Tuhan gitu loh.
Jelas tidak kawan, wong Tuhan punya penilaian tersendiri tentunya.
Yah, saya sangat setuju kawan. Sebab yang di “ucapkan” Tuhan lah yang berpengaruh bagi kita, bukan sebaliknya.
Tidak kawan, kitalah yang tolol.
@almas
kira kira almas itu masih kafir atau sudah bukan kafir lagi?
@fertob
masalahnya percaya ama Tuhan belon tentu tidak kafir loh….
ah nggak juga.
@Pak De King
sungguh anda dalam kesesatan yang nyata, soale anda gagal dalam membedakan kafir dan fakir. Segeralah bertobat akhi, mumpung dah ramadhan.
Wah itu gamfang akhi, anggap aja bahwa Harry itu antek antek JIL. Berarti semua pendapatnya pasti salah, sehingga tetep saya bebas mengkafirkan orang yang berbeda pemahaman dengan saya.
@kopral
aduh akhi, anda memang telah tersesat. Sejak kafan kafir jadi keren?
kopral yang pake tato kafir
Eh… keren juga nih.
kopral purnawirawan
lah , kenafa tato kafirnya dihapus akhi? Dah nggak keren ya?
@Ck
Wah biar kafir yang penting keren.
@watonist
Saya sih sedih nih ton, tapi si kopral malah bangga tuh. *ngelirik kopral*
@CY
*berdiri di depan umat dengan toa*
Dengerin tuh wahai umat yang dicintai Allah! , Jangan kita hanya pinter kafir mengkafiri aja. Harus ada tindakan nyata donk, biar kita ndak malu ama CY. Salah satu tindakan nyata kita adalah tidak meniru apapun dari orang orang kafir itu. Dah faham semua?!!!
*umat bisik bisik sambil manggut manggut*
@kopral
ah akhi, soal cara makan itu orang kafir yang meniru orang bukan kafir. Jadi tidak ada salahnya saya tetap memakainya.
*puwas telah berhasil membuat alasan brilian*
@watonist
Setuju kang harus sabar, sebab orang sabar itu tidak kafir dan orang marah itu kafir.
@DB
Merangkap kafir dan haram kok malah seneng.
@sigid
lah kok malah kontradiksi sih gid? Wong jika masih sering melanggar perintah Tuhan berarti masih tertutup dari kebenaran alias telah kafir.
Iya ngapain coba ngecap orang wong kita bukan Tuhan toh, mendingan ngecap diri sendiri aja. Kali aja dengan begitu kita bisa semakin mendekatkan diri ke arah bukan kafir itu.
@joyo
apalagi kalo setengah dari isi bumi ini ya pak?
@CY & Kopral
Walah malah ngomongin infus. Kaco …
@Dewa Dewi
Walah kalo majalah sih ndak ada cap kafirnya, yang ada tuh cap buat manusia doank.
@bachtiar
Tul itu, memang tindakan mengkafirkan itu tidak berguna. Tapi jika nafsu mengkafirkan itu sudah menggelegak, sebaiknya mengkafirkan diri sendiri aja lah.
@nk
kok ndak nyambung sih?
Saya tidak mau kafir, saya berusaha menyembah Allah yang esa, berapa banyakpun dosa dan kelalaian dilakukan.
Kalau orang lain, ada yang nyata-nyata kafir ada yang tersembunyi dan berpura-pura. Tapi, sulit neh melihat dan membaca hati dalam dada manusia. Jadi yo wis, kafir ciri-cirinya itu, tidak kafir ciri-cirinya ini. Kalau menunjuk sama orangnya… nggak lah. Allah melarang kita menilai hati manusia karena memang manusia tidak dianugrahi kemampuan itu. Kita tidak tahu siapa-siapa di antara manusia yang sesungguhnya bertakwa.
QS 16. An Nahl 125. Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Apakah saya kafir??? Jawaban akan hal ini nggak akan pernah pasti 100%… Untuk mengetahui kafir atau bukan biasanya seseorang akan merujuk pada pernyataan2 para ahli agama atau pada kitab suci… Namun seringkali mereka lupa untuk merujuk pada hati kecil mereka.
Jika kita mendengar bahwa ada seseorang yang mengabdikan hidupnya demi kaum miskin akan dipanggang di neraka selamanya, tidakkah hati kecil kita protes (walau sedikit saja)?
Lantas bagaimana kita memperlakukan protes hati kecil ini? apakah kita akan menganggapnya sebagai bisikan iblis atau sebagai suara malaikat? Ini berpulang pada diri kita masing2…
lagi-lagi saya harus tekankan bahwa yang berhak memutuskan perkara yang bukan wilayah manusia untuk menggarapnya, janganlah sekali-kali mencoba melakukannya. seperti kasus siapa saja penghuni surga dan neraka dan dalam kasus ini yang berhak menilai kafir atawa tidak hanyalah allah semata.
http://abeeayang.wordpress.com/2007/09/13/kalo-soeharto-jd-presiden-lg-gmn/
sepakat abeayang…
ya ambil definisi dari alqur’an aja dech… apa itu kafir…
He he, kafir yah ?
saya kafir bukan ya????? walaupun saya mengaku islam tapi saya sadar kalau tindakan saya jauh dari orang yang katanya islam

Jadi terserah sajalah….
Tapi, IMHO, bukannya orang itu tidak berhak untuk mengkafirkan orang lain.
Dana, maaf kalau OOT, masih mabok akibat ngerjain tugas itu, tapi gak tahan pengen komen liat postingan ini…..
kafir =….??
*nyari definisi kafir ke mbah gugel dan pa de wiki*
Saya seorang kafir karena saya tidak melihat kebesaran Allah, Saya bahkan tidak mengenal Allah..
Saya seorang kafir karena saya tidak mengerti Alquran, saya bahkan tidak pernah menyentuh atau membukanya..
Pertanyaannya, kalau kafir, so what gitu lho??
Yang penting kan tidak menyakiti orang lain..
Peace…
@danalingga
bukan pemetaan satu ke satu Dan … tetapi sebagai percikan sifatnya.
seringkali saat ada orang menunjuk ke diri kita dengan kata “kafir !!”, kita membalasnya dengan menunjuk “tidak beradab !!”, misalnya.
… sekedar agar kita “merasa berhak” untuk menjatuhkan atau memukul balik mereka.
terkadang saking GR-nya, kita ini merasa berhak atas “pengkafiran” mereka dan bahkan pula berani membayar mahal untuk hal tersebut (bahkan mungkin ada yang berani membelinya dengan “cinta”
lalu … apa yang membuat kita berbeda dari mereka ?? nggak ada … selain bahwa kita berdiri berhadapan dengan mereka.
tolong dimengerti bahwa kata “kita” dan “mereka” tersebut tidak menunjuk secara eksplisit ke siapapun, selain sebagai kata ganti untuk pemahaman yang sama dan berseberangan.
marahlah bukan karena pelampiasan, marahlah karena kebutuhan (kemarahan semu) …
ingatlah, orang yang kuat itu bukan dia yang memukul orang lain sekali langsung mati, tetapi adalah dia yang dipukuli berkali-kali nggak mati-mati.
kalau dipikir-pikir … dibalik keseriusannya, ternyata manusia itu sangat “humoris” (mungkin lebih ke konyol) ya …
*baca komen*
Hore!! Banyak yang agnostik!
Ah, konformitas sosial aja deh, saya kafir juga!
(woi, ingat definisi kafir susah disamakan ya…
Eh, salam kenal.
eit….. begini aja deh, klo aku pikir dari pada membicarakan agama yang gak abis2, klo menurut saya sebagai seorang muslim adalah agamamu- ya agamamu dan agamaku- ya agamaku. Jadi gak usah mikirin yang kafir ma yang gak.
So big good boy aja.
saya mah berpikirnya beda, saya ga peduli mo dibilang kafir,homok,tak beragama, kejam,menjijikan,gila,stres,bau dll
selama yg ngomong manusia mah i don’t give a damn
Toh smua itu urusan saya dgn Tuhan saya.hehehe
*a proud kafir*
@agor
tidak mau kafir bukan berarti tidak kafir loh pak…
Oh gitu toh pak, pantesan saya ragu ragu menilaik kalo saya ini kafir atau bukan. Ternyata karena saya ini bukan Tuhan toh.
@Tito
Kenafa nggak merujuk ke Tuhan aja to? Mang hati kecil itu sehebat apa sih?
saya sih protes to, tapi masalahnya kan kita tidak akan pernah tahu apa memang orang tersebut masuk neraka. Bisa jadi malah lagi bercengkrama dengan Tuhan.
.
Jadi protes itu nggak relevan lagi toh to.
@abeeayang & arul
seharusnya sih begitu, tapi kan kenyataan suka berbicara lain.
@dobelden
Yah semua juga mengambil defenisi dari AQ, tapi ya itu tadi tafsirnya bisa berbeda beda.
@sigid
iya tuh.
@itikkecil
waduh jangan putus asa gitu dunk mbak, lebih baik kita terus berusaha untuk menuju bukan kafir itu.
Seharusnya sih begitu , tapi ada aja orang yang merasa telah berhasil mengerti bagaimana ciri ciri orang kafir. Sehingga merasa berhak untuk melabelkan cap kafir.
Asal jangan makin mabok aja nih mbak abis komen di sini.
@baliazura
dah nemu belon?
@mr lekig
jika begitu so no what whatlah.
@Watonist
Nah , kalo gitu kan saya jadi mengerti ton. Kirain mata balas mata.
Lagian ngapain coba balas membalas, mendingan juga merenung apa diri sendiri kafir atau tidak. Keknya lebih bermanfaat tuh.
Wah kalo ini susahnya minta ampun ton, lebih gampang nggak usah marah sekalian.
nah kalo ini emang iya, mungkin memang sandiwara ini lagi episode komedi.
@rozenesia
Udah gih, buat agama agnostik.
Kafir sih keknya iya, tapi yang terpenting langkah langkah untuk menuju bukan kafir.
@ario dipoyono
Lah kalo nggak di pikirin entar pada nggak sadar kalo sebenarnya sama sama kafir.
@’K
Gimana kalo Tuhan yang ngasih cap kafir itu?
@ danalingga: Hush, hush… Negara kita tercinta ini baru mengakui 6 agama secara resmi, lho.
Klu kita membatasi pada dua kutub ekstrem itu; kafir dan ngga kafir, kekna susahlah. Coba kasih tempat di tengah; agak kafir atau agak ngga kafir.
Keberadaan dan keesaan Tuhan, saya terima. Dalam hal ini, saya ngga kafir. Tapi bahwa Tuhan itu seperti yang mereka gambarkan; serem, tukang siksa, pendendam, dosa beberapa puluh tahun di dunia dibales-Nya selama-lamanya di neraka, Bismillah, saya kafir, saya mengingkari itu.
Lagian, apalah nama, apalah kategori.
::Bang Toga, kalau ditarok ditengah kayaknya sempit, jadi goyang sikit…enam kanan, enam kiri….bah itu kalau naik sudaco….

::cerita kafir ya silih Dana, sudah…???, aku..????, duh Gusti, aku koq belum dikasi predikat apa-apa…????
hmm…saia berani sebut diri saia bukan kafir!!!
SAIA BERANI!!!
karena saia ini bukan kafir, saia sebut diri saia hoek. bukan kafir…….hoekekekeke…
sori OOT…
dan hoek itu bukanlah kafir atau tidak kafir, ini tidaklah kafiris, tidak keduanya…esensinya melebihi antara kafir dan tidak, karena kafir atau tidak kafir hanya status, dan walaupun tuhan yang memberikan status itu pada seseorang langsung dengan tanganNya…orang tersebut ya tetap orang, pemikirannya ya tetap pemikirannya sebagai manusia, sebagai makhluk tuhan…jadi walopun saia dicap kafir oleh Tuhan, saia tetep keukeuh bahwa saia juga sama kaya manusia laen……..persetan dengan cap tuhan apakah saia kafir atau tidak!
lho?
ko saia malah jadi marah-marah gitu…hmm…
sori-sori, terlalu bersemangat^^
intinya, saia ga peduli mo kafir atau engga, soale
KAFIR JUGA MANUSIAAAAA!!!!!!!!!!!!!
*mode serius: on*
:
IMHO sih
yang menilai aku, kamu, dia, mereka atau kita itu kafir atau pendosa ataupun bukan…
itu hanya Tuhan yang punya hak
*mode serius: off*
Kalau Kafir=Ka
*
muflaseFikiran*ini aku masih mau
waaalaah,, Ma telat berita nih Dana,,
eh btw, kalo dari term kafir aja udah ga sama, bakal susah deh buat ngebahas ini,,
Masalahnya ngebikin orang nerima term kafir-nya mas Herry itu aja udah susah,,
@zal
loh … sampeyan itu siapa ?? emang ada ??
::watonist, Lha wong yang lainnya, udah ngaku…lha koq aku ngga kebagian…,
(nongolin juga akh… 
*cek ke goa, ada zal ngga, hei ternyata ada…zal yg bukan zal…*
hmm kata yang tak termaafkan itu baiknya jangan diumbar-umbar ya
pengertian kafir juga macam-macam
tapi versi Mas Herry itu keren juga
kalau versinya itu sih saya jadi bingung dengan diri saya sendiri
ah baiknya agnostik aja kali masalah kafir mengkafiri
Bunda Teresa kafir, ah itu yg bilang maksudnya beda agama wajar aja dia berani
@rozenesia
iya nih, agama bola aja nggak gol gol nih. Katanya kurang syarat stempel dari Tuhan, lah padahal agama lain apa pake stempel dari Tuhan juga?
@Toga
Tapi ada yang bilang kalo urusan dengan Tuhan itu hanya hitam putih tuh . Sedangkan daerah abu abu itu hanya akal akalan manusia aja. Gimana tuh bang?
jadi kafir berdasarkan pengertian ya? Apa ini bukan akal akalan aja nih?
@zal
sabar zal , sabar… *nepuk pundak zal*
Coba di lihat lebih teliti lagi, jangan jangan kau malah dah dapat cap bukan kafir.
@hoek on da hatrik
sabar sabar mas/mbak, orang sabar itu ndak kafir lho.
Oh jadi ternyata ndak peduli toh. Ya sudahlah kalo gitu, soale saya sih masih peduli soal kekafiran saya.
justru karena manusia itu maka bisa dapet cap kafir.
@extremuslimitis
Iya sih, tapi ada yang merasa bisa mengerti jalan pikiran Tuhan sehingga merasa punya hak juga menkafirkan.
Lah kalo kamuflase fikiran apa nggak bingung tuh?
@Rizma
iya nih ma, kemana aja sih?
makanya saya juga meminta dipaparkan term kafir yang lain
walau yang saya minta adalah yang meringankan kekafiran saya aja sih..@secondprince
oh, jadi maksudnya kafir dalam artian beda agama toh. Kalo itu sih tentu beda, wong Bunda Teresa agamanya berserah diri, lah kalo kita?
::dan…
udah semua kedudukan cakra kuteliti, engga ada yang duduk…, eh malah tiduran di sofa… , disuruh ngelewati lobang kecil, malah mau ngelompati pagar…wah repot dan, bandal kali si zal ini…. mau enaknya saja…, kalo kayak gitu kekmana dan…???. 
ya gak lah, buktinya tuh para Mentalist kaya Deddy Corbuizer hobbynya kan maen-maen ama kamuflase fikiran
@zal
Kalo kayak gitu saya jadi bingung zal, bisa lebih dijelaskan lagi maksudnya?
@extrememuslimitis
Kalo itu sih mendatangkan duwit, saya juga mau.
::apalagi aku dan.., ini cerita tontonanku Dan, mungkin karena aku belum bertanya, sehingga SAYA belum memberitahukannya ke aku….
Itulah zal, mendingan nyari Aku dulu deh daripada nyari Dia.
*kok makin bingung ya?*
::hooi Dan, koq ngebingungin yg ngga penting…

inikan namanya ke uniq an, ada kesamaan, namun tidak benar-bbenar sama, ada perbedaan namun engga benar-benar beda…
jenjang ada, potitioning juga ada, hallah….
::extremusmilitis, mistic beda buanget dengan magis,
saya ngga tau seperti apa definisinya, namun mistikus yg disampaikan Dana, bukan seperti pandangan dari trackbackmu..
wah kalo urusan kafir itu mah urusan tuhan. hak prerogratifNya. kita hanya njalanin apa nyang diperintah kalo kita mengkafirkan seorang ato lebih, kita melebihi tuhan donk. itu bukan hak kita. tul gak?
saya harap saya tidak kafir.. dan saya berusaha ngga kafir
@zal
yah namanya juga manusia zal, wajar aja jika bingung.
Tapi bukankah semua itu sama zal, apanya yang berbeda?
@sajira
Butuuuullll!!!
@funkshit
Jika begitu kan baik toh.
Ah, masa masih meributkan hal-hal sepele seperti ini. kafir atau tidak kafir. Karena ini hanya akan jadi debat kusir aja.
*sambil celingak-celingguk nyari… kudanya mana ya?*
Bersyukurlah masih diberi cap “kafir”. Bayangkan para Tapol G30S/PKI. mereka di cap ET (eks Tapol) G30S/PKI dan itu berlaku abadi dan turun temurun sampai ke anak cucu. Mau masuk Polisi? kakekmu ET G30S/PKI? langsung dicoret deh namamu.
So, disebut kafir atau dikafir-kafirkan? santai aja lageeeeee…emang lo siapa? Tuhan?…
Banyak hal lain yang harus difikirkan ketimbang hal2 kayak gini…
berfikir positif aja. Toh disebut kafir atau tidak gak menambah atau mengurangi apapun dalam diri kita.
Ah, mosok masalah kecil sih? Kalo saya sih merasa kekafiran saya itu menjadi masalah yang sangat besar.
Kenafa bisa jadi debat kusir, jika yang saya kafirkan itu adalah diri sendiri?
iya juga sih, si zal aja malah sedih tuh karena ndak dapat cap. Tapi kafir yang saya maksud di sini bukan sekedar cap mbak, tapi suatu kondisi tertutup dari kebenaran. Apakah kita mesti bersyukur?
Saya bukan Tuhan, cuma lagi berpikir untuk melamar jadi Tuhan, jika ada lowongan.
Tapi kok sepertinya anda salah tangkap akan maksud postingan ini ya?
masalahnya yang menganggap kafir itu adalah diri sendiri, bukan orang lain.
“Tapi kok sepertinya anda salah tangkap akan maksud postingan ini ya?”
oups…salah ya? MaaP (pakai P)
“Ah, mosok masalah kecil sih? Kalo saya sih merasa kekafiran saya itu menjadi masalah yang sangat besar.”
hihihi…itu masalah kamu…EGP..oups…maaB (pakai B)
“Saya bukan Tuhan, cuma lagi berpikir untuk melamar jadi Tuhan, jika ada lowongan”
ehm..ehm..maaf lowongan tuhan sudah tutup, kalau nabi saja bagaimana?
Silahkan lanjut deh…
*sambil celingak-celingguk…kudanya udah diikat mas?*
iya salah besar, jadinya ndak nyambung. Tapi udah saya maafin kok.
nah kan salah tangkap lagi.
Kan yang saya tulis di artikel ini memang masalah saya kok. Bukan masalah orang lain.
Wah , kalo hanya buat nabi sih, maav (pake v) sekali saya ndak berminta.
monggo.
asli… postingan yang muantaps
cuma bisa liat2 doank, komentnya hebat2 siy
*malu*
balik lagi ke petapaan
Makasih makasih *serasa di langit ke 7*
Ndak usah malu malu, eh … itu bukannya dah komen?
Loh, ternyata seorang pertapa. *menerawang*
buat yang nulis artikel dan pertanyaan kayak gini(atawa yang punya blog)………..
sampe jumpe dan sampe ketemu di neraka ya………..(udalah kita sama-sama pendosa iyakan? kamu juga jawab jujur kamu pendosakan?)
bodoh baget sih jadi orang……….
kenapa sih kafir-kafir terus yang ada diotak kalian?????????
mungking saja semua yang ada di tempat ini adalah kafir………
termasuk yang komen ini..he..he..he..dan jangan lupa juga yang punya blog……..oke?
jakarta terapung…jakarta punya monorel..ok
Wah, hebat anda ini, kok bisa tahu kalo kita bakal jumpa di neraka. Kamu Tuhan ya? *curiga*
saya tidak kafir…
masalahnya…abang ngerti ndak dengan definisi kata atau istilah
kafir?
jangan-jangan..ndak ngerti atau tidak tau nih dengan definisi kafir
he..he..he…
kalau sudah tau…tanpa ada pertanyaan kayak diatas, jawabannya akan tau sendiri deh..kan masing2 bisa introspeksi diri
bang…bahas yang lain saja deh..ok
hidup jangan dibuat susah..iya ngga bang?
Antara jawapan saya tentang cinta:
Dalam ruangan Siapa Berani Kata Mother Teresa Kafir
J1.
Katakan anda sang Suami tapi isteri anda mempunyai rasa cinta , kasih dan sayang pada lelaki X. Rasanya boleh anda terima sang isteri itu Lantas kerana lagangan kasih anda maka anda tetap mengasihi isteri anda walau pun segalanya bagi dirinya ada buat lelaki X.
J2.
Allah tidak akan kesal dengan orang kafir atau tidak kerana dia tidak memerlukan apa-apa. Cuma dia amat murka orang mentigakannya. Sedangkan sang isteri suaminya kawin lain sudah perang.
J3.
Cadangan meyebarkan cinta bagi semua agama adalah sama. Akan tetapi yang mencadangkan meyebarkan cinta ialah pencipta manusia iaitu Allah yang satu.
J4.
Belajar cinta
Memahami Cinta
Mengamalkan cinta
Ketiga-tiga boleh disebut dengan semaunya akan tetapi ketiga-tiganya mempunyai cara yang berbeza untuk melaksanakannya.
Seminimnya : belajar cinta dengan deria lihat dan deria dengar, memahami cinta dengan dengan akal
Akan tetapi mengamalkan cinta menjemput keseluruhan deria bahkan seluruh kemampuan. Hanya anugerah Allah saja mampu membuat kita mengamalkan cinta.
So, jangan lagang saja tetapi realiti hanya ngomong di bibir atau tulisan atau di cetakan internet saja.
kadang-kadang saya ketawa para yang melagangkan CINTA seolah-olah itulah mereka tetapi ingat hanya anugerah Allah saja yang mampu memberi CINTA kepada kita.
J5.
Mari kita lihat analogi ini:
Ada satu rumah
Tentu rumah itu ada tuannya
Ramai duduk rumah itu
Si A tidak mengaku ketuanan tuan rumah
Si A lagi baik macam Teresa
Rasanya tuan rumah itu cinta kah sama itu Si A?
Ada satu alam
Tuan Alam ini adalah Allah
Seluruh alam(makhluk) ini milik Allah
Ada makhluk yang tidak menerima satu-satunya Tuhan (Allah)
Makhluk itu amat baik sekali kalah Teresa”
Rasanya Allah cinta kah Teresa?
” seolah-olah Teresa saja baik didunia………….
J6.
Cinta anda bercelaru, kejap pada CINTA, kejap pada Jesus, kejap pada Roh Kudus, kejap pada Maryam jadi mana satu
J7.
Betulkah ajaran CINTA KASIH menjadi majoritas pegangannya. Lantas kenapa ada pengeronyokan Serbia ke atas etnik Bosnia dengan idea penghapusan etnik. Kenapa ada Amerika di Afghanistan juga Iraq.
Tambahan:
Cinta pada makhluk dan alam tidaklah setara dengan cinta Allah.
Jika kita masih kanak-kanak dikeronyok lantas menangis jadi pada siapa kita datang untuk meredakan tangis, tentulah pada ibu. Bagi yang ada ibu, bagi yang tiada ibu bagaimana, kasihan dia.
Jika seorang dewasa menangis kerana dikeronyok dengan pelbagai tekanan kehidupan, pada siapa dia mahu mengadu? Manis agaknya dia ketemu ibunya dan meredakan tangisnya pada ibunya. Tidak bukan, tentulah si dewasa itu akan mengadu pada Allah SWT yang satu. Atau ada pilih kasih pada Jesus, Maryam atau Roh Kudus.
@adi isa
Yang saya mengerti akan kafir adalah seperti link yang ada dalam artikel saya itu. Makanya sampai sekarang saya tidak berani menyebut diri saya ini tidak kafir.
Jelas amat saya bukan kafir.
Kerana Alam ini milik Allah SWT dan walaupun saya jahat saya tetap mengakui bahawa itulah satu-satunya Tuhan yang harus saya sembah tidak ada yang lain melainkan Allah SWT.
Kalau pemilik alam ini tidak dikenali dengan tepat maka golongan itu ialah kafir. Harus diingat kafir bukan maknanya musuh tetapi sekadar label membezakan antara muslim or non muslim.
Saya ulangi analogi saya:
Mari kita lihat analogi ini:
Ada satu rumah
Tentu rumah itu ada tuannya
Ramai duduk rumah itu
Si A tidak mengaku ketuanan tuan rumah
Si A lagi baik macam Teresa
Rasanya tuan rumah itu cinta kah sama itu Si A?
Ada satu alam
Tuan Alam ini adalah Allah
Seluruh alam(makhluk) ini milik Allah
Ada makhluk yang tidak menerima satu-satunya Tuhan (Allah)
Makhluk itu amat baik sekali kalah Teresa”
Rasanya Allah cinta kah Teresa?
Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika algojo penjara itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu boot keras milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. “Hai… hentikan suara jelekmu! Hentikan… !” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata. Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyunya.
Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahananyang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia alu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana abduka… Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata,
“Bersabarlah wahai ustaz… InsyaALLAH tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, algojo penjara itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.
“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan suara-suara yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami.”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh… aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”
Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika
itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah buku kecil. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat. “Berikan buku itu, hai lelaki dungu!” bentak Roberto.
“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.
Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan algojo penjara itu merasa lebih puas lagi ketika melihat titisan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.
“Ah… seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”
Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.
Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka gelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat
pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.
Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid
semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak - kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa… .? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi… ”
Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi… Abi… Abi… ” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
“Hai… siapa kamu?!” jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi… ” jawabnya memohon belas kasih. “Hah… siapa namamu budak, cuba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah… ” dia kembali menjawab dengan agak kasar. Tiba-tiba “Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. “Hai budak… ! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang Adolf Roberto… Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.”
Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah tanda hitam ia berteriak histeria, “Abi… Abi… Abi… ” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai tanda hitam pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha… ” Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya. Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu… ” Terdengar suara Roberto meminta belas.
Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah… . Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya… ”
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah…
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ALlah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah ALlah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS>30:30)
Syeikh Al-Islam Turki yang terakhir iaitu As-Syeikh Mustafa Al Basri telah menegaskan dalam bukunya …
Sekularisma yang memisahkan ajaran agama dengan kehidupan dunia merupakan jalan paling mudah untuk menjadi murtad.
@Sharipuddin
Baguslah kalo anda sudah tidak kafir. Btw, ke tidak kafir an anda itu langsung dari Tuhan, atau sekedar merasa rasa?
Dan apa yang anda pahami tentang muslim? Sehingga saya bisa mengerti mengapa anda menyebut yang diluar muslim itu kafir.
Dan
Tidak pas rasanya analogi ini, karena mungkin Teresa lebih mengenal Tuhan di banding anda yang mengaku tidak kafir.
Danalingga
Bukankah anda juga terdoktrin hingga tidak meluluskan apa yang saya kata.
Muslim bermaksud seseorang yang bersyahadah dengan mengatakan bahawa “Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Nabi Muhammmad itu pesuruh Allah”.
Namun begitu tentang amalan orang Muslim yang diperintah oleh Allah itu amat berbeza dari satu orang ke satu orang yang lain namun dia tetap mengatakan Allah itu satu.
Susah mahu memahamkan isu kafir ni
Islam baik - syurga
Islam jahat - neraka
Kafir baik - neraka
Kafir jahat - neraka
Ini juga perlu diperbincangkan dan belum lengkap.
Apa Kata al-Qur’an Dan Bible Tentang Nabi Isa (Jesus) Dan Kepercayaan Trinity
Apa Kata al-Qur’an Dan Bible Tentang Nabi Isa (Jesus) Dan Kepercayaan Trinity
Apa itu kepercayaan Trinity?
Secara ringkasnya, kepercayaan Trinity ialah suatu bentuk kepercayaan (iqtiqad) yang mempercayai bahawa Tuhan itu tiga (ada tiga tuhan). Iaitu terdiri daripada Tuhan Ayah (Father - Allah), Tuhan Anak (Jesus Christ), dan Ruhul Qudus (Ruh yang suci).
Di samping itu, Jesus Christ yang dimaksudkan oleh kepercayan ini adalah nabi Isa. Mereka (penganut Kristian) menganggap nabi Isa sebagai tuhan anak (anak tuhan) iaitu salah satu daripada tiga tuhan yang dimaksudkan…
Kepercayaan ini terdapat di dalam majority mazhab kristian. Baiklah, kita cuba teliti apa kata al-Qur’an dan bible sendiri berkenaan kepercayaan ini…
Al-Qur’an dan Bibile Menolak Kepercayaan Trinity:
Demi sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Bahawasanya Allah ialah salah satu dari tiga tuhan”. padahal tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Tuhan Yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa Yang mereka katakan itu, sudah tentu orang-orang yang kafir dari antara mereka akan dikenakan azab seksa yang tidak terperi sakitnya. (al-Maidah: 73)
And one of the scribes came, and heard them questioning together, and knowing that he had answered them well, asked him, What commandment is the first of all? Jesus answered, The first is, Hear, O Israel; The Lord our God, the Lord is one. (Mark – 12: 28-29, Bible Software, American Standard Version (ASV), Keluaran BibleOcean.com)
Nabi Isa Sebenarnya Adalah Salah Seorang Rasul Allah:
Dan (ingatlah juga peristiwa) ketika Nabi Isa Ibni Maryam berkata: “Wahai Bani Israil, Sesungguhnya Aku ini pesuruh Allah kepada kamu, mengesahkan kebenaran Kitab Yang diturunkan sebelumku, Iaitu Kitab Taurat, dan memberikan berita gembira Dengan kedatangan seorang Rasul Yang akan datang kemudian daripadaku - bernama: Ahmad”. (as-Saff: 06)
And when he was come into Jerusalem, all the city was stirred, saying, Who is this? And the multitudes said, This is the prophet, Jesus, from Nazareth of Galilee. (Matthew – 21: 10-11, Bible Software, American Standard Version (ASV), Keluaran BibleOcean.com)
Nabi Isa (Jesus) Menyatakan Hanya Allah Yang Wajib Disembah Di Dalam Bible:
Then saith Jesus unto him, Get thee hence, Satan: for it is written, Thou shalt worship the Lord thy God, and him only shalt thou serve. (Mark – 4: 10, Bible Software, American Standard Version (ASV), Keluaran BibleOcean.com)
Seruan al-Qur’an Kepada Ahli Kitab (Yahudi Dan Kristian):
Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. (al-Maidah: 15)
Wahai ahli Kitab! mengapa kamu campur adukkan Yang benar Dengan Yang salah, dan kamu pula menyembunyikan kebenaran padahal kamu mengetahuinya? (Ali Imran: 71)
Katakanlah (Wahai Muhammad): “Wahai ahli kitab, marilah kepada satu kalimah Yang bersamaan antara Kami Dengan kamu, Iaitu kita semua tidak menyembah melainkan Allah, dan kita tidak sekutukan dengannya sesuatu jua pun; dan jangan pula sebahagian dari kita mengambil akan sebahagian Yang lain untuk dijadikan orang-orang Yang dipuja dan didewa-dewakan selain dari Allah”. kemudian jika mereka (Ahli Kitab itu) barpaling (enggan menerimanya) maka Katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah kamu Bahawa Sesungguhnya Kami adalah orang-orang Islam”. (Ali Imran: 64)
@Sharipuddin
Maaf , tampaknya kita memang berbeda pandangan bagaimana seseorang itu layak di sebut muslim.
Bagi anda muslim itu adalah :
Tapi bagi saya muslim itu adalah:
Btw, anda belum menjawab darimana cap ke tidak kafir an itu anda dapat? Dari Tuhan langsung? Ataukah hanya perasaan anda aja?
@Sharipuddin
Maaf ya, kita di sini tidak sedang membahas trinity. Tapi kalo anda mau tahu pandangan saya tentang ke Tuhan an Yesus silahkan lihat di post saya yang berjudul Yesus itu Tuhankah ??? .
::syaripuddin, sayang kamu menulis namun tak mengenali tulisanmu, kamu berfikir namun tak mengenali fikiranmu, padahal jika kamu tahu kamu itu apa, niscaya takkan sepicik ini pendapatmu, bacalah ulang sajakmu itu, jika kamu mempersepsikan satu tuan rumah, maka tuan rumah itu bukan tetanggamu, namun itulah Yang Mencipta segalanya,
saranku jika kamu menulis, dan berfikir, baca ulang tulisan dan fikiranmu, pelajari tulisanmu sendiri, sebab sesungguhnya meski dalam satu balutan daging, kamu berbeda dari tangan kananmu, meski kamu berfikir, fikiranmu berbeda dari kamu, kenalilah dirimu terlebih dahulu, jika sudah kamu kenali Insya Allah kamu akan kenal dengan Tuan Rumah itu, dan mustahil kamu akan mengatakan hal yg naif tentang Bunda Theresa, mustahil….
dari namumu, nama izza, saja sudah berbeda dengan Theresa dan Roberto, padahal diciptakan dari 1 diri/ jiwa (baca AQ)
Cinta memang Anugerah Allah, namun sudah ditempatkanNYA pada hamba Laki-laki dan Hamba Perempuan, namun ini bermanfaat bagi yg berpengetahuan…, jadi carilah pengetahuanmu dulu…,
Ingat segalanya Milik Allah, Pengetahuan Fikiran, Aqal, namun ini akan disedekahkanNYA kepadamu pada saat dinyatakanNYA itu bermanfaat bagimu…
jika kamu suka membaca carilah catatan-catatan Tok Pulau Manis, Semoga Rachmad Allah tercurah bagi Beliau, saya ngga kenal dengan Beliau namun saya dikenalkan Allah dengan buah Fikirnya…
saya yang bodoh lemah tak berdaya, taunya celingak celinguk menatap Kinerja Allah dan Rasulnya pada tempat yang sama….
Zal
Banyak falsafah ko tu
Fikiran dan perbuatan kita bekerja mengikut manual diri kita yakni Al Quran,kalau Al Quran tidak kami ikuti lalu apa yang bisa kami pegang. Akal manusia ta cukup dong.
Memikirkan ketidakadasempadan alam ini pun agak rumit, mana lagi ketentuan yang Allah bagi melalui manualnya yakni Al Quran. Jelas pandangan saya ialah berpandukan Al Quran.
::sharipuddin…he..he…tak lah..yang kucakapkan ni AQ, karena AQ yg boleh dibuat tuk penyampaian, mungkin awak belum bace ja lah…, tapi ok lah tak apa-apa, bukan tugasku untuk memahamkan..
Sepertinya ada perbedaan lagi antara zal sama sharipudin tentang apa yang layak di sebut AQ itu.
::heran ya dan, koq kalo udah pake s