Saya memang sering menggembar gemborkan bahwa semua agama itu sama sama benar . Dan bahkan tampak pemahaman tersebut hampir menjiwai semua artikel saya di blog ini, hal tersebut tercermin dari artikel-artikel saya yang dapat tanpa beban membahas hikmah di balik berbagai agama, walau sampai saat ini lebih banyak tentang agama Islam dan Kristen. Tapi tidak menutup kemungkinan saya juga akan menulis tentang hikmah-hikmah di balik agama lain. Tunggu aja tanggal mainnya ya?
Adapun tanggapan orang terhadap pemahaman saya tersebut bermacam macam, ada yang setuju tanpa syarat , ada yang mengkaji lagi, namun tentu saja ada orang orang yang tidak rela kalo agamanya di benarkan bersama dengan agama lain. Pengennya agamanya saja yang dibenarkan, sedangkan agama lain di salahkan. Sungguh sebuah sikap yang masih belum dapat kumengerti sepenuhnya, bahwa entah kenapa ada aja orang yang tidak rela kalo ternyata agama lain juga benar? Padahal tentu saja agamanya dah di akui memang benar kok, tapi tetap aja ada keberatan ketika di sebut juga agama lain juga benar. Mungkin ini karena ketakutan tidak akan bisa lagi menggaet umat baru, jika semua berpandangan bahwa agama apapun akan bisa mengantar ke sang kebahagiaan sejati itu. Entahlah… hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Di artikel ini saya ingin lebih menjelaskan dari sudut pandang lain, apa sebenarnya yang menyebabkan saya sampai pada sebuah pemahaman bahwa agama itu bisa sama sama benar. Semua hal yang saya tulis , terutama mengenai agama adalah merujuk kepada pengalaman spiritual yang telah kujalani selama ini. Dan pengalaman ini memang belum tentu benar, sebab toh bisa jadi sayapun ternyata memang belum sampai ke ujung tujuan itu. Tapi minimal tulisan ini adalah sebuah kejujuran tentang hasil dari pengalaman saya selama ini, bukan berdasarkan pengalaman orang lain., apalagi hanya cerita dari cerita tentang pengalaman orang entah siapa.
Sebenarnya selama ini yang saya sebut sama dari ajaran agama itu adalah pada tataran spiritual, yang sepemahaman saya melingkupi setiap agama tanpa kecuali, bahkan juga melingkupi hal hal di luar agama. Spiritual itu adalah samudera makna dalam untaian kata kata dan tanpa kata kata. Menyebar dalam setiap sendi kehidupan, tanpa kecuali. Jadi bukan agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, dll , melainkan hal yang lebih luas dan mendalam yang dapat di dapatkan dari agama-agama tersebut. Dan sungguh merugi umat-umat dari agama-agama tersebut, jika tidak bisa mencapai kedalaman terdalam yang dapat di gapai dari agamanya.
Maka kalo boleh saya menyarankan nih, daripada sibuk membenarkan agamamu yang memang udah benar dan menyalahkan agama lain padahal kamu hanya tidak tahu , atau sibuk menentang penyamaan agama padahal memang sama . Sebaiknya menyelamlah ke kedalaman agamamu, dan temukanlah samudera spiritual itu. Dan niscaya kamu akan mengerti apa yang saya maksud dengan semua agama itu adalah benar. Sebab samudera spiritual itu adalah satu adanya, merupakan sebuah perjalanan untuk mengenalNya, dan samudera ini membentang melingkupi semua agama, bahkan apa yang kau anggap bukan agama. Jadi bagaimana mungkin kita membelah samudera, dan mengungkungnya di dalam kolam yang kita beri merek sebagai agama?
Dan janganlah tanggung-tanggung dalam beragama, selamilah agamamu sampai di kedalaman yang terdalam, sebab agamamu saat inilah merupakan jalan yang paling tepat bagimu. Dan hal tersebut mengingatkan saya akan sebuah kebenaran yang saya pahami dari sebuah ungkapan yang sangat terkenal. Dan sering di sebutkan sebagai sebuah bentuk toleransi beragama yang tertinggi. Ungkapan tersebut adalah sebuah kalimat yang kira-kira berbunyi:
bagiku agamaku dan bagimu agamamu
Sebuah kalimat yang pendek, namun sangat sarat makna, dan juga sangat indah. Bagi saya pribadi, kalimat tersebut bermakna bahwa memang pengkondisian dari agamamulah yang paling tepat dan mudah bagimu untuk mencapai samudera spiritual ini. Dan agamakulah pengkondisian yang paling tepat dan mudah bagiku untuk mencapai samudera spiritual ini.
Dari hal tersebutlah saya dapat melihat kebijakan dari Dia yang maha bijak , makanya memungkinkan tumbuhnya berbagai agama dan kepercayaan yang sangat banyak dalam dunia ini, yang semua itu tentu atas sepengetahuan dan ijin Nya. Dan menjelaskan juga mengapa kita sebagai mahluk yang sederajat, masing masing bisa lahir dalam lingkungan agama dan kepercayaan yang berbeda beda. Tidak lain, tidak bukan itu semua memang disesuaikan dengan kebutuhan kita masing masing. Jadi memang ternyata ndak bohong itu para pemuka agama yang mengiklankan kalo Tuhan itu maha Adil.
Dan bagi para spiritualis, saya mohon agar hati hati dalam mengarunginya, sehingga tidak akan pernah terjebak pada tindakan meng-agama-kan spiritual, sebab samudera ini terlalu luas untuk di kotakkan dalam sebuah kolam kecil dogma yang disebut agama itu.
Baca juga :



setuju ma oom Dana
setuju dengan syarat
@atas
Syarat apa?
@itikkecil
sama-sama mbak.
@bengak
jadi ketika niat sudah benar, terjun ajalah tanpa ragu-ragu.
@ gimbal
mengherankan memang.
@Dimas
iya bro, tentu sangat dahsyat ya? Sebuah pengalaman yang tak terkatakan tentunya.
sama-sama berdoa kitalah bro.
@wedulgembez
selamat menunggu.
@almascatie
kamu juga harus ngasih yang panjang dunk.
@suluh
kalo secara esensi sih, seharusnya spiritualitas itu adalah pengalaman mengenai sesuatu yang sangat murni, terlepas dari apapun kemurnian itu di sebut.
Dan damai sejati itu merupakan spiritualitas juga.
@fertob
sebenarnya tergantung apa yang kita pahami akan agama sih bang.
@’K
yup, setuju.
@watonist
tolong di kirim syaratnya.
Met hari lebaran. Mohon maaf lahir & bathin.
makasih, dan sama-sama mbak.
bagiku agamaku dan bagimu agamamu…
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga, yang latar belakangnya ber-beda2 (ada yang muslim, beragama Katolik, Kristen Protestan, Budha), membuat keluarga kami saling menghormati agama masing-masing.
Dan ternyata saling menghormati keyakinan masing-masing ini sangat indah….
“bagi ku agama ku, bagimu agama mu”
Ini bukan lah menandakan bahwa agama itu sama…malah suatu pernyataan bahwa agama itu berbeda2.
caba perhatikan dari ayat pertama dan tidak boleh sepenggal2 gitu.
coba kita berfikir…(kalo memang mo cari kebenaran bukan agama yah)
apa yg menyebabkan Tuhan mengutus nabi Isa (Yesus) almasih padahal waktu itu masih ada umat yahudi dengan para rahib2 nya…???
Trus napa pula para rahib2 yahudi tersebut mo menyalibkan nabi Isa kalo mereka mengakui kebenaran..???
apakah kebenaran itu…???
apakah ketika kita menghukum mati seorang pembunuh/psikopat itu suatu kekejaman ato suatu kebenaran dari sebuah sistem kehidupan…???
kita harus mendudukkan suatu permasalahan itu pada tempat nya…bukan menurut prasangka ato nafsu kita…???
ketika seorang anak balita dilarang memegang ular dia akan marah karena menghalangi kemauan (nafsu) nya, tapi seandainya dia tahu kalo ular itu berbisa dan akan menggigit nya tentu dia akan lari
nah sekarang kita sdh mempunyai akal yg sempurna mari berpikir sehat
Apa yg menyebabkan ato akar permasalahan yg sebenarnya dari kebingunggan2 ini…???
kalo anda org islam tentu anda juga punya kitab suci jadi coba pelajari sedalam2 nya, hingga mengetahui asbab turunnya, nasakh dan mansukh nya, trus pernyataan2 dalam bahasa arab asli….
sehingga anda tdk lagi mengatakan bahwa agama itu sama…
akar permasalahan adalah hawa nafsu… jadi ini dolo yg harus anda taklukan sehingga anda tau mana bisikan yg benar ato bisikan yg salah.
“segala sesuatu yg benar itu menentramkan hati, segala sesuatu yg salah pasti menimbulkan kegelisahan pada akhir nya”.
jangan lah terbawa emosi dengan para ektrimis2 agama yg telah terbuai dengan duniawi
Ayat selengkapnya :
1 . Katakanlah “hai orang2 kafir” َ
2. Aku tidak menyembah apa yg kamu sembah
3 . Dan tidak pula kamu menyembah apa yg aku sembah
4 . Dan aku tidak akan menyembah apa yg kamu sembah
5 . Dan kamu pun tidak akan menyembah apa yg aku sembah
6 . Untuk kamulah agamamu dan untuk ku lah agamaku.
Saya pikir sudah sangat jelas pernyataan Tuhan diatas…
Kecuali anda tidak mengetahui makna dari bahasa arab nya.
::Amrul…
1. orang kafir itu siapa dan yg mana rul..???
2. Aku/ kamu, itu maksudnya kelompok atau pribadi rul..??
jadi dari sekedar kalimatnya saja sudah jelaskan rul, kalau Kalimah Allah itu untuk pribadi mu dan ku…,
termasuk yang ku/mu sembah-kan rul..?, sebab sepertinya dari dahulu dilingkungan saya belum pernah tuh mencocokkan Tuhan yang masing-masing kami sembah…, atau dilingkungan Amrul, sudah pernah disepakati Tuhan yg disembah…
oh ya, jika mencapai tajalinya Allah, akan dikenalkan Tuhanmu diriNYA kepadamu, udah kenal belum…???, jika nanti udah ketemu, coba balik lagi ke blognya dana…, kujamin kamu akan komentar seperti ini>>
@edratna
Iya bu, sangat indah malahan.
@AmruL
Yup, memang berbeda.
Bukankah sudah di sebutkan di artikel bahwa :
Dari kalimat tersebut dapat di simpulkan bahwa memang tiap agama atau pemahaman dari satu agama memang berbeda-beda, demikian pula bahwa tiap manusia mempunyai kondisi yang berbeda-beda sehingga membutuhkan “hal” yang paling tepat baginya, sesuai dengan kondisinya
iya akan saya coba.
Tapi di sini saya bicara bahwa yang di sembah itu ternyata sama, jadi konteksnya dah beda. Dan kebetulan saja saya ingat akan ujar-ujar tersebut yang saya rasakan tepat menggambarkan pemahaman saya dalam artikel ini.
Karena ada yang membutuhkannya, seperti halnya sampai saat ini utusan Tuhan itu tetap ada, walau kita tidak mengelarinya nabi bukan? Tapi apalah arti sebuah gelar nabi bagi utusan itu.
yang bilang mereka mengakui kebenaran siapa? (khusus yang menyalibkan loh ya?) Tapi apa memang bisa digeneralisasi bahwa para rahib2 tersebut mewakili kebenaran ajaran yahudi? Tentu tidak bukan?
iya, apa coba? Tolong ajari saya.
itu suatu keadilan yang di putuskan oleh pengadilan.
yup betul.
nah apa hubungannya dengan artikel saya?
Yang bingung siapa?
iya, anda benar, rugi kalo emosi.
Jelas memang dalam konteks bahwa sembahannya berbeda.
Nah artikel saya itu mengacu kepada konteks bahwa yang disembah itu sama.
Kalo boleh saya beri ilustrasi , kadang kalimat tersebut digunakan pada konteks yang berbeda juga, seperti pada perdebatan antara seorang syiah dan sunni yang pernah kutemui, dan pada akhir perdebatan mereka pun saling mengambil sikap bahwa pahammulah untukmu, dan pahmamkulah untukku. Sebuah penempatan konteks yang berbeda bukan?.
Nah begitulah kira-kira, bisa di pahami nggak nih?
@zal
wah, dahsyat tuh lae zal. Moga-moga yang di tanya berkenan menjelaskan.
Hiohiohio…
Anda benar…kalo seperti itu maksud nya…
Pengertian : Tentang “balita” itu hanya sebuah perumpamaan ketika kita banyak melanggar suatu aturan2 yg telah di tetapkan…hal ini disebabkan kita blum mengetahui kebenaran yg sesungguh nya…
kadang hanya mengikuti prasangka dari hawa nafsu kita, sehingga banyak kekeliruan ato salah menafsirkan sebuah kejadian.
banyak pula yg menolak kebenaran karena tidak sesuai dengan kehendak hawa nafsu dirinya.
malah jadinya mempertuhan kan hawa nafsu nya.
Disinilah kita perlu kehati-hatian
saya sendiri sering terjebak dengan permasalahan kehidupan material ini…hampir2 saya tidak bs membedakan antara kebenaran dan keinginan hawa nafsu yg terus bergejolak…
Namun ketika sy terus berjuang melawan nya disinilah tampak bahwa pada akhir nya hawa nafsu membawa pada kehancuran, pada apapun permasalahan.
Saya terus mengingat bahwa hidup ini hanya sebuah ajang uji coba sebagai yg namanya makhluk Tuhan dalam mencari jati diri, makin banyak yg kita ketahui makin berat lah cobaan yg kita hadapi, ini sudah merupakan rumusan Tuhan sehingga yg tetap berdiri tegak itulah yg dinamakan seorang Khalifah/pemimpin.
Masalah perdebatan antar golongan, inilah yg menyebabkan terjadinya perpecahan, dan Tuhan telah menyatakan bahwa manusia itu pecah ketika telah datang petunjuk yg nyata, ini hanya karena perdebatan dalam mempertahankan pendapat masing2 golongan.
Jadi tinggalkan saja perdebatan2 kosong itu yg hanya melelahkan dan kita ketahui umur kita ini sangat2lah pendek, lebih baik mempelajari yg bermanfaat buat diri kita sendiri.
Saya katakan kebingungan karena banyak diatara kita kadang tidak lagi mengetahui kebenaran yg sesungguhnya, bukanlah kebenaran itu kita yg menentukan tapi Tuhanlah yg menentukan,
ketika Tuhan menyuruh sembahlah adam kepada syaitan, syaitan menolak karena dia merasa diri nya lebih mulia di banding adam, disini adalah “Perintah” bukan masalah kemuliaan, syaitan menolak perintah Tuhan berarti membangkang kepda Tuhan.
Dari sinilah awal terjadinya pembangkangan karena kesombongan thd Tuhan.
Jadi musuh sebenarnya adalah syaitan dan hawa nafsu
“Maaf yah sedikit OOT, dan bukanlah saya yg paling benar, ini cuma sebuah wawasan, dan saya bukanlah seorang yg terbaik tapi berusaha menjadi org yg baik, kadang anda lebih baik dari saya”
Hiohiohiho…hidup ini lebih indah kalo kita bawa dengan keceriaan…
Deal…???
Wah, gue jadi ndak bisa ngomong nih baca nasehat AmruL di atas. Dahsyat man, dan makasih banget saya telah diingatkan.
::Amrul, ssst jangan ribut…, tuh gurumu masih mengajar diklasmu…, masuk sana gih… , belajar yang baik…fahami keadan-keadaan yg datang…, engga usah terlalu gembira apapun yg dihasilkan, terlalu gembira lupa akan ancaman, tenang aja…biasa-biasa aja, biar air berganti dan kekeruhan berganti menjadi bening….ya…ya..
bolehkan saya MEMPUNYAI TUHAN TETAPI TIDAK BERAGAMA? saya menunggu jawaban anda
Kalo mempunyai Tuhan sepertinya baik beragama maupun tidak beragama nggak bakal bisa. Sebab Tuhan ndak bisa di punyai.
Dan jika maksudnya berTuhan, maka semua mahluk itu berTuhan, baik sadar maupun tidak.
ikutan ah..
@Daeng Limpo
IMHO, boleh Daeng!!
kan Tuhan itu secara bahasa berarti sesuatu yang menguasai. Kalo dikuasai uang ya berati bertuhankan uang, Daeng.
Piss..
::daeng limpo, cobalah bayangkan sendiri, kalau bayanganku “PUNYA TUHAN TAPI TIDAK BERAGAMA”
- Punya Tuhan, hmm.. enak.. bisa menyuruh-nyuruhNYA dengan do’a yang dirafalkan, namun engga enaknya, keputusan ada padaNYA..
- Engga beragama, hmm enak juga, engga ada yang ngatur, engga enaknya akan kebingungan sendiri….
jadi jawabnya enak engga enaklah daeng…
Apakah Tuhan pernah membuat agama ??
@ lounded
Ini dia yang kadang saya ragu.
Hahaha…..
itu mengapa semua agama adalah sama…
Tidak pernah sang nabi, syekh, buddha, santo, santas, saints, khresna, suciwan, suciwati, etc…hadir di dunia ini dan mengatakan “saya menciptakan agama A” misalnya..
mereka selalu mengaku bahwa mereka adalah utusan Tuhan dan akan membayar dosa-dosa kita…
tetapi kok kenapa jadinya malah ada banyak agama ya ??
siapa seh yg buat agama ?
@lounded
Yah, setahuku sih Tuhan nggak menciptakan agama. Hanya saja ada manusia-manusia yang cukup beruntung yang bisa memperoleh petunjuk untuk mengalami Tuhan itu sendiri. Dan orang orang tersebut biasanya tergerak (mungkin itu kehendak Tuhan) untuk menyebarkan petunjuk tersebut ke orang orang sekitarnya. Nah lama ke lamaan orang orang tersebut, sebagaimana manusia pada umumumnya, maka melembagakan petunjuk-petunjuk tersebut. Jadilah yang namanya agama itu.
Dan ada kok orang orang yang nggak mau agamanya itu di sebut agama, melainkan jalan hidup. Karena sadar kalo pelembagaan suatu ajaran itu, jatuh jatuhnya bisa menyimpang jauh karena berbagai kepentingan.
::sebenarnya kalau pada sebutan agama, konteks itu adalah suatu garis bentuk yang diciptakan Sang Pencipta, untuk memberikan warna yang bervariatif, memudahkan orang untuk memilih warna baju yg paling cocok dgn kulitnya, untuk menemukan kenyamanan dalam memakainya, namun dalam praktiknya, adanya coup atas warna hijau adalah warnakku, merah warnaku, dll, padahal warna itukan hanya warna dasar, yang bisa membuat suatu gambar alam yang penuh warna…
Bagaimana dengan orang yang seenaknya bersumpah dan melanggar sumpah, misalnya pejabat yang disumpah. Menurut saya mereka yang memiliki Tuhan karena menurut mereka ah…kapan-kapan juga guwe bisa tobat, artinya ah…Tuhan inikan punya guwe ..terserah guwe donk. he..he..he..
::daeng limpo, apa engga yakin dengan janji Tuhan pada Yunus 99, apakah pengikut nabi Muhammad SAW, sebelumnya adalah orang baik-baik semua…bagaimana Umar Bin Chattab, Bagaiman Hamzah…
@daeng limpo
Setahu saya sih, yang bisa di miliki itu bukan Tuhan.
@ Zal
mas Zal betul, hanya saja beliau berdua Umar R.A. dan Hamzah begitu beliau masuk Islam mereka masuk secara kaffah, lha ini pejabat yang jelas-jelas di sumpah dibawah Kitab Suci, dan kemudian melakukan dosa pagi hari sore hari bertobat pagi hari melakukannya kembali kemudian bertobat lalu melakukan dosa yang serupa lagi, bukankah itu artinya mempermainkan Tuhan. Bagi saya sama saja tidak memandang bahwa Tuhanlah yang menguasainya, tetapi dia yang menguasai Tuhan. Kalau salah tolong diluruskan. Salam
@ Danulingga
Betul Mas Danulingga dan Tuhan memiliki ciptaannya.
OKe…
1. Tuhan tidak dapat kita punyai
2. Manusia adalah kepunyaan Tuhan
Lalu mengapa manusia tidak mempunyai pengertian yang sama tentang Tuhan itu sendiri dan apa yang menyebabkan pertentangan itu. Kalau manusia adalah milik Tuhan dan Tuhan yang memelihara manusia, seharusnya manusia tidak perlu memperdebatkan tentang Tuhan yang memilikinya. Mohon pencerahan. Thanks
@daeng limpo
Karena kemampuan manusia memahami yang tak terbatas itu sangat terbatas. Dan sayangnya tidak sadar akan keterbatasan ini sehingga merasa bisa memperdebatkan, bahkan memiliki segala.
::daeng, selalu yg sering kita lihat adalah bentuk, seperti masuk.., kan ada faktor pramasuk…inilah titik ukuran, sebagian kita juga melihat Saidina Wa Maulana Muhammad SAW, sesudah kenabiannya, padahal ada kisah goa hira’nya…, bukankah disini Beliau diajarkan hal iqra’ bismirabbikallazi cholaq…
::perhatikanlah kisah ummat Nabi Musa, kurangkah kebesaran Allah ditampilkan kepada mereka, mulai adu ular, perintah bunuh anak sulung, sampai terbelahnya laut merah…namun apa yang terjadi setelah itu…bahkan mereka membuat anak sapi…dan siapakah yang beroleh keuntungan atas pristiwa ini baca yunus 90,
::itulah mengapa Rasulullah selalu mengingatkan “sempurnakan niat”, sebab itulah pintu masuk…kemana saja…
@danalingga
Thats right, thanks
@zal
terima kasih
Kami mengundang danalingga menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/
Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.