Malam ini, ketika desau angin dan sapaan jangkrik membelai jiwa, dalam penyatuan indah dengan simfoni alam. Teringat ada tiga hari yang diberi warna merah di kalender , yang mengantar saya dapat menikmati libur yang lumayan panjang. Maka saat itu, jiwa mulai bekerja, berusaha menggapai lautan makna dari Dia yang maha memaknai. Berusaha menggali makna dari idul adha, natal dan tahun baru yang beriringan sembari berharap agar bisa berguna bagi kemajuan pencapaian jiwa.
Arsip untuk Desember, 2007
Cerita Tentang Ibu
Diterbitkan Desember 22, 2007 Perjalanan Dongeng , Perjalanan Renungan 49 KomentarTag:doa, dongeng, ibu, Kontemplasi, perjuangan, Renungan
Ibu sayalah yang pernah merubah saya untuk lebih melakukan hal-hal yang berguna bagi diri sendiri dan lingkungan. Kejadiannya dulu waktu saya masih smp, dan sedang bandel bandelnya, maklum lingkungan saya lingkungan preman soalnya. Ada salah satu tindakan saya yang sangat membuat ibu kecewa. Dan saking kecewanya ibu sampai memukuli saya sambil menangis sangat pedih. Entah pedih karena tindakan saya atau malah pedih karena terpaksa memukul anaknya yang saya yakin sangat di cintainya. Dan tangis ibu itulah yang merubah saya, bukan pukulan ibu. Dan sejak detik itu saya berjanji untuk tidak akan pernah membuat ibu menangis lagi. Syukur syukur bisa membuat ibu tersenyum bahagia dengan segala tingkah laku saya dalam hidup ini.
Ketika kehendakku tak tercapai
kuhibur diri dengan kehendakNya
Tapi apa Dia punya kehendak?
Reinkarnasi dalam Islam dan Kristen
Diterbitkan Desember 15, 2007 Perjalanan Jenar , Perjalanan Spiritual 109 KomentarTag:agama, ayat, cerpen, Islam, jenar, Kontemplasi, kristen, reinkarnasi, Renungan, spiritual
Jenar seperti kesurupan di depan laptop nya, di dalam kamar saat senja telah tenggelam di telan pekatnya kegelapan. Memandang layar laptop, yang memperlihatkan sebuah lembaran email dari seorang yang dia anggap cukup mumpuni dalam dunia spiritual. Dunia tempat memahami esensi dari ayat-ayat yang betebaran di alam semesta ini. Dan, dia membaca berulang ulang emai tersebut, seolah-olah rasa haus itu belum terbayar hanya dengan sekali minum. Seperti gila dia terus membaca.
Sinkretisme dan Saya
Diterbitkan Desember 12, 2007 Perjalanan Dongeng , Perjalanan Renungan , Perjalanan Spiritual 72 KomentarTag:agama, aliran sesat, curhat, dongeng, Kontemplasi, Renungan, sinkretisme, spiritual
Sering saya di tuduh berpaham sinkretisme, walau sebenarnya saya nggak peduli label yang di sematkan manusia, bahkan jika di cap kafir sekalipun. Tapi berhubung rasanya kok hal yang berasal dari kesalah pahaman itu, bisa saya luruskan dan sekalian menjadi pembelajaran bagi kita semua. Maka saya paksakan juga diri ini untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. *padahal aslinya sih , saya sedang kehabisan ide buat ngisi blog ini*
Cinta
Diterbitkan Desember 9, 2007 Perjalanan Puisi 53 KomentarTag:cinta, gadis, hati, kata, puisi, sajak
Tak usahlah kau tanya mengapa
jika memang cinta itu menyapa
sungguh percuma kau coba analisa
cepatlah, nikmati saja belaiannya
Just Wait and See : Eksekutor MUI???
Diterbitkan Desember 7, 2007 Perjalanan Dongeng , Perjalanan Renungan 53 KomentarTag:agama, aliran sesat, dongeng, eksekutor, kebebasan, Kontemplasi, Renungan
Dear All
Siang hari ini, kamis, 6 Desember 2007 kami mendapat info dari Pengurus Ahmadiyah Pusat bahwa besok JUMAT usai Shalat Jumat Mesjid Al-Fadl Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 34 Kebon Jahe BOGOR akan diserang oleh kelompok yang dipimpin oleh Abdurrahman Assegaf.
Bersyahadatnya Jenar
Diterbitkan Desember 4, 2007 Perjalanan Dongeng , Perjalanan Jenar 81 KomentarTag:alam, cerpen, dongeng, esoteris, fiksi, jenar, Kontemplasi, Renungan, spiritual, sufi, syahadat
Jenar yang bulan depan akan genap berusia 14 tahun, tampak lari terbirit birit. Di belakangnya bagai terbang ustad Jaga mengejar dengan mengacung-ngacungkan sapu lidi sembari mengangkat ujung sarungnya. Si Jenar lari menyelusup lewat semak perdu, menembus pagar pesantren dari lobang kecil di pojok. Ustad Jaga yang kehilangan jejak, hanya bisa termangu dengan kemarahan yang tidak tersalurkan, menggumpal dalam nafas yang menderu. Matanya liar memandang ke segala penjuru, mencari Jenar yang dalam anggapannya sungguh seorang bocah yang sangat keterlaluan.



Komentar pada Perjalananku