Entah apa lagi yang harus kutulis ketika rasa cemas ini datang tanpa permisi. Mengetuk hati yang seharusnya sudah berdamai dengan hidup. Tapi entah kenapa rasa cemas itu tetap datang menghampiri. Salah apakah jiwa ini sehingga menjadi tercerabut dari rumahnya, di tepi danau sekeliling bunga-bunga matahari. Terdampar menghampiri hidup yang keras di tengah hutan beton, yang sedemikian tingginya sehingga menghalangi mentari pagi menyapa. Dan di malam hari , angan mencari-cari celah demi rembulan yang tidak terlihat. Di antara beton-beton tinggi itulah terjadinya.
Padahal matahari pagi dan rembulan malam itulah yang biasanya menina bobokan jiwa resah ini dalam damai. Entah bagaimana lagi harus aku usir rasa cemas ini, yang datang bagai pencuri di dini hari, tanpa permisi. Kemana gerangan damai itu di sembunyikan oleh hiruk pikuk hidup jauh dari rumah tepi danau itu. Walau kadang masih tercium aroma rerumputan yang bercengkrama dengan sang bayu, diiringi tabuhan percik sang banyu. Merayakan siraman lembut dari sang rembulan, memberi rasa damai hingga ke tulang sumsum. Menikmati hangatnya belain mentari , menyuburkan rasa damai tadi malam.
Entah kapan lagi akan kureguk surga itu. Sementara aku terdesak untuk terus bertahan dalam neraka, di antara beton beton tinggi. Hingga mentari pagi dan rembulanpun selalu sembunyi, tak terlihat. Dan tanyaku terngiang ngiang di relung kalbu, di antara rasa cemas yang datang menghantam bagai badai. Akankah ada damai di sini, di tempat antara beton beton tinggi ini? Dan tampaknya rasa cemas ini makin tak tertahan. Haruskah aku lari, dan kembali ? Ah, bukan harus, tapi bisakah?
Kupejamkan mata ini, walau rasa cemas itu masih belum hilang. Demi esok yang entah ada apa , ku paksakan untuk tidur walau berselimutkan cemas. Dan dalam desah napas di dalam tidur yang tidak tenang, terselip doa. Dalam harap maka semoga di sini, di antara beton-beton yang menyembunyikan mentari pagi dan rembulan malam, kutemukan surga sejati. Amin.



eh kapling vertamax dolow
pertanyaan-pertanyaan terus berputar… ragu dan yakin, penasaran, tidak berdaya, marah dan harapan semua masuk dalam otak..
tapi…
dengan penyerahan total kepada entah siapa, maka harapan untuk mendapatkan surga ditengah neraka menjadi sedemikian gagah sampai neraka pun terpinggirkan?
hmmmmm…………..
menarik oi…
benar-benar cemas…!
biasanya, kecemasan itu ada penyebabnya.. semoga penyebab kecemasan itu ada solusinya dan cepat teratasi.. sebab kecemasan yg paling tidak enak adalah kecemasan yg tidak ada solusinya…
Kutipan kata bijak “Kita adalah apa yang kita pikirkan. Semua yang kita hasilkan berawal dari pikiran. Dengan pikiran kita menciptakan dunia kita”. “Musuh terbesar kita tak akan pernah bisa melukai kita sepedih dan sesakit pikiran kita sendiri yang tidak terjaga”.
Okey deh, moga cepat hilang yach rasa cemasnya itu. Beton-beton tinggi tidak akan mampu menyembunyikan cahaya hati kita. Moga Mas Dan cepat tersenyum lagi. Btw, tulisannya bagus bangat.
aku jga ingin kembali ke surga itu dimana harga wortel, kentang, bayam, dan cabe sangat terjangkau, disini manusia2 itu lebih senang menyamai beton, menuai debu dan panas, sesak lagi sumpek.
@ almascatie
Manusiawi itu memang menarik mas, soale kita kan masih manusia. Bukan robot, dan juga bukan malaikat.
@panda
yup!
@warnetubuntu
Justru cemas timbul mungkin karena melihat tidak ada solusi. Tapi ya melihat tidak ada bukan berarti tidak ada sih.
@Hanna
Makasih banget atas kata bijaknya mbak. Sungguh sebuah nasehat yang sangat mengena.
@joyo
Hehehehe… ternyata memang punya surga masing masing.
kata orang cemas itu ada dua : Cemas (dgn huruf C besar) dan cemas (dgn huruf c kecil).
C besar itulah yang bisa menjadi gangguan psikologi.
c kecil itulah yang selalu ada dlm diri manusia. dan saya juga mengalaminya…
kecemasan apa yang membuatmu begitu takut hingga menutup mata dan berlindung dibalik selimut?
apa kau cemas melihat matahari terbit dimalam hari dan rembulan muncul saat azdan subuh berkumandang?
jangan cemas, itu sudah biasa..
Emang pernah di surga ya Oom? Berarti pernah mati dunk….kan kematian adalah gerbangnya surga
BTW mengenai kecemasan, keresahan dkk menurut saya tidak ada salahnya … yang penting adalah bagaimana kita memanfaatkan potensi yang dimiliki cemas dkk untuk meraih hal yang positif. Susah sich…tapu susah bukan berarti tidak mungkin kan?
Secara jujur pengalaman pribadi saya …
Seringkali saya dicap sebagai penderita kecemasan yang akut…
OK saya akui kalau mungkin itu benar, tetapi yang jelas saya sampai sekarang (Alhamdulillah) justru (jauh lebih sering berhasil) memanfaatkan rasa cemas saya tsb untuk melawan hal yang saya cemaskan tsb …
@ joyo
Kita memimpikan hal yang sama, kamerad…
Sedikit utopis, tapi setidaknya lebih pasti untuk hidup di bumi saat ini
Apakabar bos,semoga selau sukses
ini puisi berbentuk kalimat ya?
@Pyrrho
Apa kalo nggak ada cemas maka hidup jadi serasa kurang hidup ya?
@brainstorm
Maksudnya yang biasa itu cemasnya atau kejadiannya nih?
@deKing yang pura-pura hiatus lagi
Kebetulan sudah beberapa kali mati nih.
Ya, ya, mungkin memang sebaiknya saya memanfaatkan cemas, daripada nanti saya yang di manfaatkan.
@alex
Waduh, kalo itu aja utopis, gimana yang lainnya lex?
@edwardsahalatua
Kabar baik, ya semoga kecemasan kali ini dilewati dengan sukses.
@cK
Ini curhat tentang kecemasa yang sering menghampiri dalam hidup di jakarta chik.
kontemplasinya mantap suhu Dana…
tiga hal yang berbeda antara “cemas”, “hutan beton” dan “danau” paduan kehidupan yang berirama pada rasa kedamaian, hantaman pekerjaan dan nuansa keindahan… barangkali cemas datang karena tiga hal berpisah, tapi barangkali jika tiga2nya bisa menaytu kecemasan itu akan sirna..
Menikmati cemas adalah hidup itu sendiri… seperti juga terjadi pada saya dia dan Anda..
Kecemasan sering kali membawa dampak *halah sok tahu* psikosomatis. Memang perlu banyak melakukan refleksi dan kontemplasi untuk menjernih pikiran, hati, dan emosi. Selamat berkontemplasi Mas Dana.
Cemas membuat saya waspada..
Cemas membuat saya tak berhenti berpikir..
*sama-sama H2C*
hadooh… kontemplasi mulu, bang
duh pengen sih ikutan nyari surga…..
tapi saya gi ada order wat nutup neraka nih.
ntar kalo dah ketemu sms in aja alamatnya ntar saya nyusul!
tangisan hati dari mereka-mereka yang ter-lupa-kan
tapi dari beton-beton yang beradu dengan cahaya itu, kau tangkapkah gelisah anak-anak?
::itu tanda-tanda kehamilan dan….
tanda-tanda lainnya, akan ada rasa dingin dibeberapa tempat terutama bagian kaki, tangan dan bibir,…heh jangan muntah disini…
sepertinya kejadiannya yang sudah biasa..
*saya msaih sabar nunggu ‘perjalanan jenar’ nya*
Jika bagi saya, yang kadang susah itu justru jika kita tidak tahu apa sebenarnya yang membuat kita cemas.
Kadang waktu cemas saya berpikir jika hari-hari yang telah kita lewati kadang justru lebih berat dari hari ini, namun kita bisa melewatinya. Berati hari ini dan hari esok pasti bisa.
He he, mbok ndak usah cemas to om
kangen saya ya, Nak?
Surga sejati tiada terdapat dalam hutan beton maupun hutan hijau…
cobalah cari dalam belantara jiwa
*sok puitis mode: ON*
yang pertama terlintas di otakku yang super lemot: been there, done that… tapi koq kayanya kurang ajar banget ma
yang tuasenior**********
kehilangan apa om?
mencari apa om?
seingin apa mendapatkannya om?
sebanyak apa yang mo anda korbankan untuk itu om?
**********
cahaya tawajjuh hanya mendekati sesiapa yang pantas memilikinya
*mati aku, kontemplasi lagi, bener-bener deh om dana*
Konon, kecemasan tidak pernah mendatangi orang mati. Didatangi kecemasan hanya jika engkau masih memiliki hidup. Pilihlah hidup, dan engkau akan didatangi cemasmu. Karena cemas menjadikan daya hidupmu mencair. Lalu mengalir. Menelusuri suluh batinmu. Dan ketika engkau mainkan nakhoda hidupmu mengarungi samudera cemas. Engkau akan tahu. Entah engkau akan tenggelam dalam gilamu. Atau berjaya dalam kedewasaanmu….
@kurtubi
Wah, komennya juga mantap nih. Membuat kontemplasi semakin intens.
@Sawali Tuhusetya
Iya nih pak. Semoga saja rasa cemas bisa memicu peningkatan diri.
@qzink666
Jadi cemas itu memang berguna.
@caplang™
Tau nih.
@bedh
OK deh, entar saya sms.
Kalau saya tidak sibuk dengan bidadari perawan itu@extremusmilitis
Terlupakan apa melupakan bro?
@panda
Ah, jika anaknya saja tidak terlihat, bagaimana mungkin kegelisahannya bisa tertangkap?
@zal
Kira-kira mengandung apa nih zal?
@brainstorm
Tapi jika terbiasa kadang suka meninabobokan tuh.
@sigid
Saya pengennya juga nggak cemas bro, tapi apa daya jika dia datang bagai pencuri.
Mungkin kecemasan bakal hilang kalo kita sepenuhnya bisa hidup di masak kini, saat ini.
@calonorangtenarsedunia
Iya nih bu, kangen banget.
*minta uang jajan*
@Tito
Ah, sepertinya jika di temukan di jiwa maka semua tempat menjadi surga.
@ordinary
Ah, nggak gitu juga kamu memang kurang ajar may.
Ah, saya nggak nyari apa apa kok dek may, saya hanya heran cemas itu di mana sih sebenarnya.
*semakin tenggelam dalam kontemplasi*
@Dadang Kadarusman
Wah, tipsnya boleh juga nih. Ternyata karena belum mati, maka kecemasan itu bisa ada.
*mengintensifkan belajar mati*
Bersyukur, masih ada cemas dalam diri…
Masih ada karuniaNya untuk difikirkan…
Masih ada kemampuan diri untuk merasa…
Surga sejati? benarkah bisa kau temukan itu? berbagilah dengan kami…
jadi inget salah satu tulisan di Burung Berkicau A De Mello. Daripada cemas memikirkan hari esok yang tidak pasti, lebih baik menikmati kebahagiaan saat ini.
Stress tinggal di kota besar ya bro..?? Dibawa santai aja, kadang2 memang stress bisa datang menghinggap, walaupun kita tinggal di kota tanpa tekanan spt saya dulu, apalagi yg kyk jkt yg regangannya tinggi.
hmmm, mungkin, ya seperti-nya dua-dua-nya. ter-lupa-kan dan me-lupa-kan
ironis yaks…
kontemplasi yang menarik
ooohh….
pada cemas yah…
takut ga dapet surga yah…
ooohh…
sama….hehehehe….
tapi gampang koq…
mau surga mana…
surga kenikmatan…berseliweran ajah malem hari…pasti dapet…
surga keindahan….tinggal aja dipulau yang belum dihuni…sok cari weh lah…
surga kekayaan…kerja yang giat…
surga kepinteran..blajar yang benr…
surga serba murah….datang aja ke tempat yang lagi ada sale…
surga apa lagi yah…
yang susah tuh surga akhirat…gimana yah…hmmmm…
satu lagi…
menurut saya cemas itu datang ketika kita sedang memikirkan apa yang akan terjadi besok…apa yang harus dilakukan besok…
contohnya ketika kita mem plan besok kita mau ketemu presiden…pasti datang cemas…”ada ga yah presiden besok??”…
jadi just let it flow…mengalir seperti aliran sungai cisadane….
Panjat temboknya, om. Kalau perlu, runtuhkan!!
Saya jadi teringat dengan judul sebuah buku yg sempat best seller : La Tahzan (jangan bersedih atau jangan cemas), tapi belom sempat mbacanya…
Ada yang sudah me-resume gak ya ?
indah sekali kata-katamu…
@perempuan
*bersyukur*
Insya Allah saya kabarkan
jika saya tidak terlalu sibuk menikmati surga itu.@itikkecil
Sepertinya memang jika hidup dalam kekinian, maka rasa cemas itu akan hilang.
@CY
*bawa bawa santai*
@extremusmilitis
Wah, kalo begitu memang ironis.
@jejakkakiku
Makasih.
@syahbal
Syurga yang kamu sebutkan itu, yang manakah surga sejati?
Oh iya, komen yang terakhir saya setuju tuh, sepertinya memang harus hidup dalam kekinian agar rasa cemas itu hilang.
@rozenesia
Wah, lihat komenmu ini saya jadi inget salah satu adegan dalam film GTO .
@Herianto
Wah, saya juga belon baca tuh pak.
@Bachtiar
Makasih.
@danalingga
surga sejati…
hmm..
mana yah…
tergantung dari setiap orang mengartikan apa itu SEJATI…
bener ga…
Surga sejati ya surga sebenar benarnya. Begitu bal.
Jadi apa masih tergantung jugakah?
@Hanna
“Semua yang kita hasilkan berawal dari pikiran”
@ItikKecil
“Daripada cemas memikirkan hari esok yang tidak pasti, lebih baik menikmati kebahagiaan saat ini.”
____________________________________
Setuju dengan pernyataan dua ini…
kecemasan datang karena fikiran dan hal-hal buruk yang belum terjadi..
padahal saat itu semua terjadi, mungkin kita dapat melewatinya
begitu kata Kho Ping Hoo
satu lagi, teringat sebuah nasihat “tindakan atau solusi yang antisipatif dan bukan reaktif”
ah OOT tidak ya??
Apakah “cemas” dapat dihilangkan ?
Barangkali artikel “cemas” berikut ada gunanya >> CEMAS