Sinkretisme dan Saya


indahSering saya di tuduh berpaham sinkretisme, walau sebenarnya saya nggak peduli label yang di sematkan manusia, bahkan jika di cap kafir sekalipun. Tapi berhubung rasanya kok hal yang berasal dari kesalah pahaman itu, bisa saya luruskan dan sekalian menjadi pembelajaran bagi kita semua. Maka saya paksakan juga diri ini untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. *padahal aslinya sih , saya sedang kehabisan ide buat ngisi blog ini*

Jadi tidak betul tuduhan sinkretisme itu sodara sodara, sebab sinkretisme itu adalah mencampur adukkan ajaran ajaran dari berbagai agama dan akhirnya menciptakan ajaran agama baru. Sedangkan saya tidak membuat agama baru dari ajaran ajaran berbagai agama yang kebetulan sempat saya pelajari itu. Yup, saya ndak menciptakan agama baru toh, jadi agama-agama lain yang katanya murni itu tidak usah takut di saingi dalam berebut kafling. :P

Saya mempelajari semua agama, karena memang saya lihat semuanya mengantar ke hal yang satu, yakni ke sang kebahagiaan sejati. Hal ini saya temukan bukan sekedar teori , atau dari membaca buku buku, tapi dari pengalaman menyelami samudera spiritual. Entah kenafa , dalam penyelaman tersebut, saya menemukan makna makna yang memberi peningkatan spiritual itu dalam berbagai agama. Dan kadang makna-makna itu saling melengkapi, sehingga pemahaman sayapun menjadi lebih utuh. Jadi untuk apa saya membatasi pada agama agama tertentu? Sungguh saya akan sangat merugi bukan? Merugi karena tidak bisa menikmati keutuhan makna, hanya karena sebuah pengkotak-kotakan bermerek agama.

Padahal spiritual itu adalah samudera yang melingkupi semua agama, bahkan melingkupi di luar agama agama itu. Jadi sodara sodara, saya tidak berpaham sinkretisme , melainkan saya hanya sedang menyelam di samudera spiritual, yang telalu luas jika di batasi dalam kotak kotak agama. Dan yang saya kejar adalah keutuhan pemahaman saya akan makna sejati, dan jika keutuhan tersebut bisa saya capai dengan mengumpulkan puzzle-puzzle yang berserakan di berbagai agama, mengapa tidak? Semoga dapat di mengerti penjelasan singkat ini. :D

Eh, kalo dipikir-pikir kok sepertinya saya memang mau membuat agama baru ya? Agama yang berjudul keutuhan pemahaman makna sejati, ah.. sabodo teuing . Pokoke bukan sinkretisme… *ngakak iblis*

Lapor :

Gambar di ambil dari sini

About these ads

72 Responses to “Sinkretisme dan Saya”


  1. 1 Siti Jenang Desember 14, 2007 pukul 5:22 pm

    ada teori yang kurang populer juga nih, dan :D

    kata agama itu dulunya, jaman majapahit, bukan ditujukan untuk identifikasi kepercayaan maupun keyakinan seseorang. katanya nih, agama itu artinya undang-undang negara. negarakertagama itu juga artinya undang-undang negara. sedangkan untuk kepercayaan dan keyakinan digunakan kata darma.

    jadi, di masa itu semua penduduk majapahit beragama satu, yaitu undang-undang negara :D lha jadi barang siapa melanggar hukum “agama” tersebut patut dijatuhi hukuman sesuai aturan. Tapi, darma tiap orang bisa berbeda-beda. lha kalau masalah darma ya terserah komunitasnya aja, asalkan tidak melanggar undang-undang negara.

    jadi, bangsa ini sesungguhnya punya satu agama, UUD 1945 he he he…

  2. 2 danalingga Desember 14, 2007 pukul 8:53 pm

    @CY

    Ritual dalam arti apa dulu bro. Kalo dalam arti sempit sih, nggak ada ritual juga nggak apa apa. Tapi jika dalam arti luas, hidup itu sendiri sudah ritual kok. ;)

    @Nyonya 49 lagi ngerjain tugas

    menurut saya ya, mencampur adukkan ajaran dengan mempelajari semua ajaran kok lain ya?

    Yup betul. Biasanya yang mencampur adukkan malahan belum mendalami ajaran agama.

    pada dasarnya memang seperti itu. Semuanya menuju sebuah tempat berjudul kepuasan/kebahagiaan. Cuma mungkin, jalan yang ditempuh beda beda. Nah, perbedaan ini yang juga dikhawatirkan bisa membuat “bingung” kala semua disandingkan berbarengan. Nah, makanya kita perlu pegangan *sok tau banget*

    Iya, jalan setiap orang memang unik, walaupun ngakunya memakai jalan yang sama (agama yang sama). Ndak membingungkan kok kalo semua di jalani, asal sadar kalo memang sedang menjalani. ;)

    Tapi, apa ritual ritual dari semua agama itu kamu jalankan semuanya Dan? bukankah agama indentik dengan ritual? hayooo??? kamu nggak capek Dan?

    Lah, ternyata “ritual” nya sama kok , jadi … :lol:

    Misal : untuk menuju Malang dari kota Surabaya, banyak jalan dan metode yang dipilih. Bisa naek helikopter dengan harga selangit, naek kereta dengan 4500 rupiah saja, naek pesawat yang bikin rugi, atau naik bus yang harganya setandar. Tapi Anda tetap harus memilih satu pilihan, kecuali kalo anda bisa ada di beberapa tempat dalam waktu bersamaan.

    ehehe… yang diatas itu cuma satu perumpamaan tolol saja kok…

    Yah kalo pake logika ini sih , saya juga maen logika aja. Bisa jadi saya ternyata sudah sampai ke tujuan dari salah satu jalan, lantas karena kurang kerjaan saya pengen mencoba dari jalan yang lain.

    Atau bisa jadi setiap jalan ternyata bertemu di persimpangan-persimpangan, sehingga saya bebas melanjutkan perjalanan dari jalan yang mana saja. ;)

    Hem.. jawaban saya juga agak tolol sih.

    masak agama disamain sama alat transportasi

    ampun suhu Dana…

    Disamain apapun sah-sah aja, tapi perlu di inget itu hanya penyamaan aja. :mrgreen:

    @Sayap KU

    Kalo belon ganti Tuhannya sih, sepertinya begitu.

    @Siti Jenang

    Sepertinya begitu lebih pas. :mrgreen:

  3. 3 deKing yang biasa2 saja Desember 14, 2007 pukul 11:22 pm

    Oom … sebenarnya ada yang kurang dari komentar saya yang pertama, yaitu mrgreen.
    Maksud saya sebenarnya adalah:

    Sekali sesat tetap saja sesat Oom … :mrgreen:

    Hehehehe hanya karena kurang mrgreen saja tanggapannya sudah beda banget ya. Oom Dana jadi serius banget tuch menanggapi kalimat saya yang itu hehehe …

  4. 4 danalingga Desember 15, 2007 pukul 7:07 am

    @deKing yang biasa2 saja

    Wah, walau pake :mrgreen: , tanggapan saya tetap sama Pak De . :P

  5. 5 Ersis WA Desember 15, 2007 pukul 8:18 am

    Ya ya bagus dalam tataran pemahaman, saya ikut merasakan (dan belajar). Saya mulanya terheran dengan puak Druz di Lebanon, Sikh di India, tapi akhirnya … bisa ho oh walaupun belum mantap amat.

  6. 6 ordinary Desember 17, 2007 pukul 3:45 pm

    @ordinary(buru-buru mo beli buku)

    Tapi kok sepertinya matahari lebih berguna dari sinar laser ya may?

    lebih berguna adalah relatif om dana, tergantung kondisinya bukan ;)
    lagipula yang saya maksut kan disini adalah pemahamannya.

    Well it’s just my opinion, sedikit ilmu yang dibarengi oleh implementasi tindakan dalam kesatuan jasad dan ruh, jauh lebih baik dibanding luasnya ilmu tanpa taufik. Toh yang ditanyakan nati bukan sudah berapa banyak kitab yang kau baca kan

    d’oh.. aku ngomong pa ini, maap om, kalu ga berkenan dihapus ja dey
    gi kumat neh

  7. 7 danalingga Desember 18, 2007 pukul 11:43 am

    @Ersis WA

    Saya malah baru tahu ada puak Druz. Berenang di samudera pemahaman memang enak tenan pak. :mrgreen:

    @ordinary

    Iya, kamu benar sih may. Tafi ada tafinya nih, bagaimana jika ternyata luas ilmunya sebanding dengan implementasi tindakan dalam ke satuan jasad dan ruh?

    Yang saya lambangkan laksana matahari, di mana menyinari semua tanpa pilih pilih, dan tergantung yang di sinari bagaimana memanfaatkannya.

    Terus aja ngomong may, mana tahu ini jalannya saya mendapatkan sesuatu. ;)

    Btw, dalam pengalaman saya nih, kadang saya memahami suatu makna itu dari satu kitab, dan memahami makna yang lain dari kitab yang lain lagi. Dan akhirnya setelah paham, maka saya menemukan ternyata di dalam kitab yang satunya tadipun ada di beritahu tentang makna ini, hanya saja saat itu saya tidak menyadarinya. Jadi jika saya membatasi diri dengan satu kitab, maka niscaya saya tidak akan berhasil memahami makna, walau ternyata ada di kitab yang satu itu. Begitu kira kira.

  8. 8 cha_n Desember 26, 2007 pukul 11:31 am

    hm, pemikiran yang bagi saya patut dihargai, tapi tentunya tidak patut diikuti…

    tetep smangad mencari om dana ;)

  9. 9 danalingga Desember 27, 2007 pukul 7:30 am

    Semua tergantung orangnya bu chan. :P

  10. 10 fade Januari 2, 2008 pukul 3:55 pm

    Tapi konon, kebenaran sejati tidak bisa diperoleh dengan bermain-main dengan fikiran. Otak memperoleh kesimpulan dari indra. Indra terbatas dari pengalaman dan ‘membaca’ sehingga dapat mempertautkan kesimpulan-kesimpulan. Kebenaran yang diperoleh berdasarkan input yang diterima indra, kemampuan mempertautkan satu sama lain sehingga apa yang tidak bertentangan dianggap sebagai kebenaran pribadi. Dan jika banyak orang menyepakatinya dianggap sebagai kebenaran komunal.

    Sedangkan kebenaran sejati, konon lagi, diperoleh dengan ilmu lelaku, dengan berbekal pada keterlepasan terhadap kekinian.Modalnya nggak pake otak :-) Bisa dengan keterlepasan terhadap berbagai keyakinan (mulai dari kosong) atau mengikatkan diri terhadap suatu keyakinan.

  11. 11 danalingga Januari 2, 2008 pukul 11:27 pm

    Makanya jangan hanya maen dengan pikiran aja, kan kita di karuniai banyak alat. :D

  12. 12 jabs Maret 4, 2008 pukul 1:37 am

    saya g setuju dengan paragrap 3 dan 4..saran saya coba anda baca semua kitab suci dalam agama pahami artinya dan coba amalkan dalam bentuk apapun termasuk perbuatan..lalu anda simpulkan sendiri..saya yakin anda bakal tau mana yang paling sempurna dari smw kitab suci tersebut dan itulah agama yang paling sempurna..

  13. 13 tony Mei 12, 2008 pukul 10:13 am

    mas dana yang baik .. = ) salam kenal
    share dari saia yang masih belajar,
    sama,
    masih tentang kehidupan,
    menurut saia hidup ini secara utuh konteksnya adalah ibadah,
    atau bisa juga disebut ‘ritual’,
    namun saat kita melakukan ‘ritual’ tersebut,
    komponen apa saja yang konkret ikut melakukannya,
    jasad kita, ruh kita, jiwa kita
    jasad yang nanti melebur dengan tanah, ruh yang nanti kembali pada Tuhan, dan jiwa yang akan diminta pertanggungjawaban atas semua ‘ritual’ yang telah kita kerjakan di dunia, ini sejauh yang saia pahami,
    lalu selanjutnya ‘ritual’ semacam apa yang kita kerjakan di dunia? apakah sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan oleh makhluk? mungkin untuk itulah dalam bahasa mas dana diperlukan kotak tadi = )
    agar manusia tidak “sak enake dhewe” dalam melakukan ‘ritual’ tersebut .. mungkin .. = )
    yah begono mungkin mas share dari saia = )
    yang benar datangnya bukan dari saia, nah klo yang salah baru murni datangnya dari saia sendiri = )

  14. 14 Rony Setya Siswadi Juli 13, 2008 pukul 2:36 am

    Salam damai entah apa padanannya dalam istilah agama Anda.

    Apa sih agama itu ? Ada pendapat yang mengatakan bahwa agama adalah sekumpulan sistem nilai dan kepercayaan serta ritual.

    Apa sih maunya agama ? Mungkin, membuat orang lebih mengedepankan hati nurani, membuat Tuhan yang bersemayam di hati ini menjadi tuan atas diri kita, sehingga kita menjadi sumber ketentraman bagi dunia.

    Jadi intinya ya di hati nurani. Buktinya, banyak orang mengaku beragama namun masih saja berbuat jahat. Artinya, ada kemungkinan bahwa agama hanya sebatas formalitas.

    Apa kalau saya tidak beragama maka saya dosa ?

    Perkara mencampur adukkan agama, itu urusan pribadi.
    Yang penting janganlah menimbulkan keresahan di masyarakat.

    Sampaikan saja bahwa “Bagi Tuhan, beribadahnya manusia yang paling tinggi tingkatannya adalah berbuat baik bagi orang lain, dengan niat demi Tuhan”

    Saya mengamati banyak agama, belajar untuk bertuhan.

    Marilah kita belajar rendah hati, janganlah sombong menghakimi saudara kita yang lain, mengatakan kafir / sesat / dst, emang kita lebih tahu daripada Tuhan ?

    Damai beserta Anda. Salam. Salom, dst.

    Rony Setya Siswadi – di Palangka Raya

  15. 15 dana Juli 13, 2008 pukul 10:06 am

    @jabs

    Silahkan tidak setuju.

    Wah, yang anda sarankan itu sudah saya lakukan. Dan saya temukan kalo agama yang paling sempurnah itu ya didalam diri. Bukan diluar diri. ;)

    @tony

    Hidup berarti yang menajadi jawaban.

    @Rony Setya Siswadi

    Yah, mungkin memang agama itu dibuat untuk menjernihkan nurani. Setuju deh.

  16. 16 godamn Juli 13, 2008 pukul 9:56 pm

    Sang pelaut yang telah berlayar tidak akan pernah kembali, hanya arus samudera dan angin yang akan membawanya menepi. Berlayarlah terus saudaraku, kita mungkin hanya bertemu di teluk ini, bagaimanapun kita semua harus berlayar sendiri-sendiri.

  17. 17 ismiy_hadi Desember 31, 2008 pukul 5:24 pm

    ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kpd Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dng pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya

    yang saya tulis di atas itulah yang didefinisikan sebagai agama. lha kalo anda mungkin pernah menjumpai banyak orang yang beragama, maka kalo menurut saya yang perlu anda kritisi adalah orang tersebut dan bukan agamanya. dan bila anda memutuskan untuk mempelajari semua agama dan mengambil intisari kebaikan dari agama-agama yang anda pelajari. maka secara tidak anda sadari anda telah melakukan apa yang namanya sinkritisme itu. entah itu apapun namanya. spiritual, makhluk bertuhan dan bukan beragama, atau apa lah. coba cek lagi definisi sinkretisme di kbbi, ato ini saya cuplikan definisinya.

    sin·kre·tis·me /sinkrétisme/ n paham (aliran) baru yg merupakan perpaduan dr beberapa paham (aliran) yg berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan, dsb: upacara Syiwa Buddha adalah ungkapan — agama Buddha dan Hindu

  18. 18 Marga Sisong Juli 3, 2009 pukul 10:57 am

    Salam sejahtera & salam kenal dari saya !
    Saya juga gak habis pikir kenapa sih klaim kekafiran itu selalu datang terlalu cepat dan begitu apriori. Padahal yang namanya kebenaran mutlak itu setahu saya hanya ada pada Sang Sumber Kebenaran. Untuk itu dibutuhkan usaha dan kerja keras serta kerendahan hati untuk menggapai kebenaran itu. Jadi menurut saya kebenaran itu bukan milik satu kelompok tertentu dan jangan “dipenjarakan” dalam satu kelompok tertentu.
    Tentang sinkretisme, bagi saya ajaran mana sih yang gak sinkretisme dalam batas-batas tertentu. Kalau melihat agama besar dunia, hampir -bahkan bisa dikatakan -semuanya lahir dari sinkretisasi. Baik itu secara esensi maupun secara eksistensi.
    Mungkin perlu mengkaji baik2 dan teliti dulu mengenai sejarah dan akar kata munculnya sinkretisme. Setahu saya kata sinkretisme itu berasal dari dua kata yaitu “sun” yang berarti bersatu;bergabung;menjadikan satu, dan “Kreta” yang menunjuk pada suatu nama daerah (lihat di Alkitab). Masyarakat Kreta mempunyai kebiasaan hidup memisahkan diri secara berkelompok. Namun ketika mereka diperhadapkan pada suatu yang dianggap sebagi “bahaya” atau “musuh” bersama mereka (kelompok-kelompok) kemudian bergabung menjadi satu (“sun”) untuk menghadapi hal tersebut. Dalan perjalanan sejarah kata ini kemudian direduksi (mengalami pengurangan makna) untuk keperluan kelompok (agama) tertentu untuk kepentingan komunitas. Kiranya ini bisa dijadikan bahan perenungan untuk mengambil sikap yang lebih kritis dan membangun.
    Salam
    Marga Sisong
    Palopo, Sulawesi Selatan

  19. 19 johanes budi prasetyo Januari 18, 2010 pukul 9:19 am

    saya mengalami seperti Anda, tapi sampai sekarang tetap pada pendirian. karena manusia diciptakan untuk menghadapi, menanggapi dan memeluk apapun di dalam hidupnya dengan kata lain universal, dan wajib mengetahui serta menghargai apapun isme2 atau disebut pluralisme. Maka kesempurnaan hidup bisa kita temukan bila kita mengetahui segalanya dan bisa mengambil sikap dan berguna untuk orang dan membahagiakan orang lain.Maka tidak salah dalam Injil dikatakan Engkau di dalam Aku, Aku di dalam engkau/ tatwamasi/ Manunggaling Kawula dalem lan Gusti : Keilahian Hyang Maha Kasih juga di turunkan ke manusia, kalau dalam huruf Jawa terletak di Caraka/ cipta, rasa dan karsa sebagai bekal kita berkarya. Apakah itu jelek. Bagi saya tidak. Makin banyak teman makin banyak tahu bagaimana dan siapa orang lain. Jangan takut disebut sinkretisme. Maaf kalau banyak kekurangan


  1. 1 kan kau bawa kemana kehidupan ini? « hAtI kU Lacak balik pada Desember 16, 2007 pukul 7:00 pm
  2. 2 Mari Kita Melihat-lihat « Halte Perjalanan Lacak balik pada Januari 2, 2008 pukul 9:37 am
  3. 3 Mimbar Jum'at Lacak balik pada April 20, 2009 pukul 1:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: