Dalam salah satu episode sandiwara kehidupan ini, tiba tiba jiwa tersadar akan doa-doa selama ini. Doa-doa yang terus meminta. Meminta dengan sangat detail tentang kebutuhan-kebutuahan (keinginan?) saya. Ketika belum di kabulkan maka meminta lagi tanpa putus asa , dan setelah di kabulkan maka meminta pemenuhan kebutuhan yang lain lagi.
Ah, kok sepertinya Tuhan hanya tempat meminta dan meminta lagi. Dan seakan Tuhan tidak tahu kebutuhan saya, sehingga saya merasa perlu mendiktekan secara terperinci segala kebutuhan-kebutuhan (keinginan?). Yang kemudian saya sampaikan dalam doa yang telah saya niatkan, dan jika merasa perlu akan saya awali dengan puasa dulu. Agar semua permintaan-permintaan saya itu dapat di kabulkan.
Tampaknya sih mulia, karena hanya meminta kepada Tuhan langsung. Tapi apakah memang benar begitu mulia? Apa mulia jika saya meremehkan ke maha tahu an NYa dengan memberikan detail – detail kebutuhan saya? Apa tidak sebaiknya saya memasrahkan segalanya kepada kehendakNya saja? Dan saya tinggal melakukan doa dengan tindakan kerja dalam dunia nyata. Tidak perlu tiap malam sengaja berdoa setelah puasa seharian , dan mendiktekan segala kebutuhan (keinginan?). Dan agar kesannya tulus, maka di selingin dengan air mata sambil meratapi nasib diri yang serasa sangat malang.
Sehatkan Doa semacam itu? Entah mengapa saat ini jiwa merasa itu memperlihatkan ketidak pasrahan diri terhadap segala kehendakNya. Dan terlebih lagi menafikan kemaha-tahuan Nya. Sepertinya memang ada yang salah dalam pola pikir yang telah terbentuk selama ini. Bahwa berdoa itu adalah meminta, dan harus menyatakan detail kebutuhan kepadaNya. Yah seperti meminta pada orang tua atau santa Claus mungkin? Tapi kini kusadari bahwa Tuhan itu bukan manusia atau santa Claus. Tuhan itu adalah yang Maha. Jadi tidak pada tempatnya doaku selama ini.
Maka saat ini doaku hanya bisa kulakukan dengan bekerja dalam usaha, dan terselip ucapan di suatu malam : ” Tuhan, terjadilah kehendakMu”. (Walau sebenarnya kata-kata tersebut juga tidak penting, wong kehendakNya pasti terjadi kok ). Hanya itulah yang mungkin kurasa saat ini paling tepat dalam berdoa. Entah kalo suatu saat nanti ada pencerahan bahwa ternyata harus mendiktekan detil kebutuhan kepadaNya. Maka mungkin akan kucatat semua kebutuhan. Dan setelah berpuasa, maka di malam hari akan kudiktekan kepadaNya dalam doa ku dengan membaca catatan tadi. Atau mungkin lebih baik kalo kukirim lewat email saja semua catatan itu ya? Lebih efisien sepertinya. 



emailnya tuhan mana om?

masak diembat sendiri
*kaburrrrrrrrrr*
Tuhan memang mahatahu, mas dana, sehingga tanpa harus berdoa pun Tuhan tahu kebutuhan setiap hamba-Nya. Tapi doa tetap perlu dilakukan sebagai wujud pernyataan kehendak makhluk yang dhaif. juga sebagai spirit untuk selalu dekat dengan-Nya. Saya jadi membayangkan, seandainya setiap orang tidak berdoa karena toh tanpa berdoa Tuhan selalu mengetahui setiap kebutuhan kita, wah, bisa jadi tempat2 ibadah akan sepi. makanya, *halah, sok tahu* tidak semua kebutuhan setiap hamba Tuhan bisa terpenuhi apabila tidak mau berdoa dan berusaha; sebagai pembelajaran sekaligus jalan menuju kehendak-Nya.
Mas, pengetahuan agamanya diperdalam lagi deh. pertanyaan semacam ini banyak kok jawabannya di buku-buku dan majelis majelis taklim..
kata pertama……pasrah…..
kata kedua……..berusaha…..
kata ketiga……pasrah dalam berusaha…
kata keempat…..berusaha dalam kepasrahan….
kata kelima……tidak pasrah….tidak berusaha…
lalu aku bertanya…? masihkah Tuhan membutuhkan Doa ?
lalu Tuhan membalas…masihkah manusia perlu berdoa…?
lalu semua manusia memusuhi aku
lalu semua manusia memisuhi aku
maka aku pun berdoa dalam harap…karena aku bergantung padaNya.
konon karena ada kehendak bebas. kita cenderung berharap segala upaya berjalan lancar. niat jahat atau baik adalah pilihan. kalo do’a orang Jawa dulu tidak harus berbentuk kata-kata, tapi lelaku atau perilaku (tirakat). hasil bakal dicapai bila telah melalui sebuah proses. pun proses selalu membuahkan hasil, meskipun hasilnya nihil. *barangkali*
wah serruuuu…apalagi klo bisa di CC kan
Via YM aja deh klo bisa…
Terlalu banyak meminta itu gag baik loh mas..
Ajak chatingan aja gimana.. hehehe
wah..bisa yach email-emailan ama Tuhan?
*mupeng*
kl dah dicoba dan dapat balasannya kabarin aku yach.
*mo ikutan*
@almascatie
Maaf , itu rahasia perusahaan mas.
@Sawali Tuhusetya
Bagaimana jika doa dan usaha di lebur menjadi satu dalam kerja pak. Jadi kerja kita itu sudah merupakan doa itu sendiri, jadi tidak usah takutlah tidak akan ada doa lagi. Sebab semua orang tentu melakukan kerja bukan?
@tukangkopi
Jika memang banyak, apa susahnya menuliskan sedikit di komen ini sih?
@daeng limpo
Kerja adalah doaku.
@sitijenang
Sepemahaman saya saat ini juga memang bahwa doa itu adalah kerja yang kita lakukukan. Sebuah kerja dengan kesadaran penuh akan keberadaanNya.
@baliazura
Yah, mungkin memang begitulah bentuk doa suatu saat nanti.
@adit-nya niez
Punya ym Nya nggak?
@Sarah
Sayangnya saya ndak punya YM Nya.
Kalo ym sarah apa ya? Mo nanya-nanya nih. *mulai berpuasa dan menyiapkan detail doa kepada Tuhan agar keinginan ini terkabul*
@Ina
Sip, entar tak kabarin deh.
Ehmmmm… Boleh Mas, tapi jgn dlm bentuk Spam ye
*Ber-doa, moga di-ampuni*
Bukankah skenario itu memang ada??

jadi apa fungsi berdo’a??
mendikte…?? memang pada murid??
ah saya jadi inget, ada yang bilang katanya untuk mengingat
begitu barangkali tuan dana
makasih
yang pasti sih doa disertai dengan usaha…
hi salam kenal…
saya selalu mendoakanNya agar selalu sehat dan selalu pada jalan yang lurus dalam memberi petunjuk pada manusia.. amin
Pada dasarnya, Tuhan dengan segala keMahaan-Nya tanpa dipintapun selalu memberi. Jadi gak usah khawatir, banyak meminta pada-Nya adalah bukti bahwa kita membutuhkan-Nya. Tapi, jangan lantas doa tak terkabul kita jadi putus asa.
Saya telah banayak belajar, bahwa saya tidak selalu mendapatkan apa yang saya pinta dari Tuhan, tapi Tuhan selalu memberi apa yang saya butuhkan. Cayo…
::ada sebuah kalimat, yang terlotar sebagai guyonan dari serorang teman, “aku percaya sama Pak Azis, cuma aku engga tau apakah Pak Azis, percaya kalau aku percaya dengannya…”, inilah mungkin perlunya Doa, agar terbangunnya rasa percaya, namun itupun masih belum cukup rupanya, sebab, jika yang berdo’a melihat kepada usahanya, maka usahanyalah yang menghijab hubungan do’a dan hasilnya…,
jika do’a, tehijab pada usaha sendiri, lalu kapan tersadarinya Kemaha-tahuanNYA…,
salam kenal… *halah*
Kalau bagi saya, doa itu seperti berbicara/berkomunikasi. Bedanya, doa itu komunikasi satu arah. Kalau doa jadi komunikasi dua arah, saya nggak tau lagi apa namanya : ilham/wahyu atau schizoprenia ?
Saya jadi ingat salah satu cerita di buku yg pernah saya baca dulu (lupa judulnya). Jadi, ada orang-orang yg hidup di suatu tempat terpencil dan pernah diinjili oleh seorang pendeta. Tapi mereka lupa doanya (dlm Kristen biasanya Doa Bapa Kami). Dan akhirnya mereka berdoa seperti ini : “Tuhan, Engkau disana, kami disini. Amin”
Terkadang doa seperti itu perlu lho…
@danalingga
saat manusia dirundung keputus asaan, kemana hendak berharap kawan ?.
saat perahu tenggelam, dan hanya ada sepotong kayu yang menopang tubuhmu yang terombang-ambing disamudera nan luas, kepada siapa kawan berharap pertolongan?.
Kerja adalah doaku…..artinya kan dalam kerja anda masih mengingat Dia khan?…Ya itu juga sama dengan doa…kan doa nggak mesti harus mengangkat tangan…..ha…ha…ha…memang pemutarbalikan yang sempurna. wakakakkkkk
Kemarin Ade baca buku tentang “kepasrahan total”, didalam buku itu ditulis satu kata yang kena “Jangan ikut mengatur Allah dengan do’a-do’a kita” intinya adalah berdo’a tidak spesifik dan terkesan memerintah Allah.. emangnya kita siapa bisa memerintah tapi do’a harus lebih kepada kepasrahan TOTAL berharap yang terbaik, selebihnya serahkan ke ALLAH, dia tahu yg terbaik untuk memenuhi napas kita.
*Ade sok tahu mode ON*
-Ade-
Dag Hammersjold berkata,
“Terima kasih untuk semua yang telah berlalu
terjadilah yang akan terjadi
ya, aku terima”.
& marilah kita berdoa,
“untuk apa yang akan kami terima, ya Tuhan
buatlah kami bersyukur”.
urip iku satuhu nggawa reng-renganing Hyang Widhi
kodrat datan anyidra marang Kersa Agung
dadiya sakkersaningsun
ana sasedyaningsun
metu saka kodratingsun
semua berproses Dan, semua butuh proses … bukan berarti bahwa dia “berkomat-kamit” itu lebih baik daripada yang tidak, atau sebaliknya.
anggap saja “doa” itu sebagai salah satu proses untuk lebih mengenal-Nya … ndak perlu khawatir, yakinlah Dia akan akan mengajari dari setiap kita dengan cara yang benar dan sesuai, tinggal kitanya … mau apa tidak ?!
saya melihat ada “kegilaan” di blog ini, namun saya menikmatinya….
Kalau kita tidak berbuat sesuatu dengan doa dan salah satu isi doa biasanya – ya – meminta, apakah Tuhan tahu kita mau dekat sama Dia? Kalau saja semua orang tanpa meminta sudah diberi sesuatu oleh Tuhan, lalu mengapa Tuhan memberikan kemampuan menangis, tertawa, marah, kemauan untuk meminta dan iri serta dengki?
Ah, itulah kebesaran hati seorang Tuhan yang memberikan kita kebebasan untuk memilih …
Karena Tuhan – menurut saya – juga adalah pribadi yang ingin diperhatikan
* sok tahu
*
stress yah mas…heheheheh…
Hohoho, aku lebih percaya untuk ber-serah kepada “Biar-lah Ke-hendak-Nya yang Jadi atas-ku”
Memaksa emang lebih mudah dari-pada me-minta kok bro, menurut aku sih mending menyerah-kan-nya kepada-Nya, dan sekaligus ber-buat, dan me-minta dengan semua ke-rendah-an kita
*doa bersyukur*
*siul-siul*
Dia tau ko’,
cuma mo ngetes aja kali, kita ngerasa butuh apa nda
berdoa sambil berusaha. berdoa supaya kita dekat dengan Tuhan.
Saya adalah pendoa yg spesifik dan saya rajin menyebarkan ajaran ini pada orang2 sekitar.
Saya melihatnya sebagai usaha saya untuk merasa dekat dengan tuhan lebih drpd urat nadi. doa saya adalah curhat. berisi pikiran dan keinginan yang begitu spesifik dan gamblang. dengan begitu saya merasa dekat dan tanpa topeng ketika berhadapan dengan tuhan.
Saya pernah bercanda dengan kawan2 saya, ketika itu ada Pemira di kampus.
Saya: Udah berdoa, Din?
Calon Presiden: Udah, Han. Gw minta yang terbaik.
Nah, ternyata si Capres ini kalah. Trus saya bilang sama dia:
Tuh, minta yang terbaik sih lo. menurut Tuhan, yang terbaik buat jadi presiden tu dia, bukan lo. makanya kalo berdoa tuh yang spesifik, jadi biarpun bukan lo yg terbaik yang penting lo ada usaha buat berdoa jd yang terbaik.
@goes
Lah, emang ndak punya anti spam ya?
@Goop
Sepertinya emang benar doa buat mengingat. Tapi sepertinya doa saya selama ini salah besar, sebab doa saya bukan mengingat, melainkan meminta dan mendikte.
@cK
Ya chik, lo jangan pernah lupa berdoa yak.
@brainstorm
Wah, doa jenis baru nih.
@ibnuara
Tidak cukupkah dengan menyadari bahwa semua hal atas kehendakNya, dan kita pasrahkan semua menurut kehendakNya itu? Bukankah itu malahan lebih memperlihatkan kita membutuhkannya, di bandingkan hanya dengan doa yang meminta dan mendikte?
@zal
*berusaha menemukan cara berdoa yang tidak akan terhijab*
@Pyrrho
Yup, jika doa itu komunikasi sepertinya baik. Maka saya pengen chating denganNya aja kalo gitu.
Sayangnya doa saya selama ini malah kadang membingungkan saya, sebenarnya yang bos itu saya apa Dia? Soalnya selalu meminta dan mendiktekan.
Btw, mengenai cerita itu, mereka yang bisa jalan di atas air ya bang?
@daeng limpo
Yup, doa berarti mengingat sepertinya. Sayangnya doaku sebelumnya sepertinya bukan untuk mengingat.
Dan ketika kerja menyadari sepenuhnya keberadaan dia adalah merupakan doa. Dan jika begitu, maka tiap gerak langkah kita pun bisa menjadi doa. Hem.. apakah saya sedang memimpikan utopia di diri yak?
@Sayap KU
Setuju de. *terus berusaha untuk pasrah total*
@tomy
Sebuah permintaan yang bijaksana saya kira.
@watonist
Sepertinya begitu. Dan mungkin artikel ini adalah salah satu dari proses itu, untuk mengingatkan tentang doa doa kita, dan tentang sudut pandang kita terhadapNya. Semoga.
@daeng limpo
Hanya sekedar tulisan untuk brainstorming kok.
@bisaku
Wah, jadi Tuhan ingin di perhatikan ya?!!
Tapi walaupun demikian, sepertinya diperhatikan tidak sama dengan diminta kan? Malah seharusnya kita memberikan sesuatu kepada yang kita perhatikan.
@syahbal
Nggak kok.
@extremusmilitis
Begitulah maksudku bro.
@Goenawan Lee
*ikut*
*siyul siyul juga*
@phiy
Sepertinya kalo itu ndak perlu ngetes phiy, Dia tahu isi hati kita bukan?
@atapsenja
Wah, kalo itu saya mau.
@calonorangtenarsedunia
Mungkin harusnya si teman meminta agar dia di jadikan menjadi presiden walau dia bukan yang terbaik.
Kalo saya sih doanya tak jadiin chating ajalah.
Salam kenal,…
sebelumnya saya mohon ma’af dulu nih kalo nulisnya rada ngaco, ngga nyambung, soalnya saya kayaknya punya masalah dengan pentransferan otak ke tangan, jadi suka maunya apa, keluarnya apa gitu loh, harap maklum yah! ….. kalo ngga salah sih doa itu menunjukan ( pengakuan ) ke tidak berdayaan kita dihadapan yang maha Agung, mengakui segala keterbatasan, ketidakmampuan, meluruhkan ke-aku-an, karena bukankah kita selalu merasa bisa melakukan sesuatu, selalu ingin diperhitungkan dalam segala hal, baik ke luar maupun kedalam ( berbangga diri ) bangga sama apa yang kita punya sekecil apapun, padahal sesungguhnya semua adalah PemberianNYA, karena rahmatNYA. Ngga punya apa – apa.
salam
yup, berarti doaku selama ini salah.
kadang saya malas berdoa karena suka g enak sama Tuhan betapa saya hanya bisa meminta tanpa bisa bersyukur.
Makanya doanya jadiin gerak langkah kerja aja.
@mas dana
*sok tau MODE ON*
abah simpulkan, dari komen rekan-rekan diatas…
Do’a adalah INTI ibadah.
Ibadah adalah penghambaan, hubungan antara a’bid dan ma’bud, hubungan antara SUPER BOSS dengan hambanya.
Dalam ritual, syari’at… do’a sering diartikan dengan permohonan atau permintaan. Bahkan banyak dalam kitab mujarobat, permohonan ini dilandasi oleh tuntutan hawa nafsu (ingin kekayaan, pangkat, kelezatan, kemudahan dsb). Sehingga DO’A menjauhkan hubungan a’bid & ma’bud, melekatkan hubungan a’bid & nafsunya. ini yang harus di WASPADAi.
Permohonan & permintaan yang dicontohkan sunnah, adalah “simbol” dari pengukuhan ketidakberdayaan, ketiadaan, kekurangan, kebodohan, keterbatasan & ke dholiman seorang hamba. bukan sebagai wahana / fasilitas hawa nafsu… truss… ehm, segini dulu ah
*sok tau MODE OFF*
salam
Ya, bah. Intinya jangan sampe doa di pengaruhi oleh hawa nafsu, jadinya malah keblinger.
Hmmmm….
kayaknya mending mohon ke.presiden aja om dana….kalo mau minta kebutuhan..apalagi kalo saudaraan…pasti dikasihnya dari pada minta ma Tuhan…harus pake syarat Ber-Taqwa dulu…kecuali minta mati… itu pasti dikasihnya…mustahil enggak…hi..hi…hi
salam
Kekekeke… gimana kalo minta ke duit aja, kan lebih tokcer tuh.
Lagian kalo dah berserah diri sepenuhnya, apa bakalan masih minta minta juga yak? *bingung*
tuhan maha melihat tidak buta….
dan Tuhan maha mendengar tidak tuli…..
Wassalam…
berdoalah kepadaku maka aku akan mengabulkannya….
minta apa saja pasti aku akan kabulkan..
karena aku ini adalah TUHANMU.
@ikhy
Apa Tuhan punya mata ya? Sehingga bisa tidak buta.
Apa Tuhan punya telinga ya? Sehingga bisa tidak tuli.
@razuka
Apa lagi yang harus saya minta?
kalo menurut pengalaman hidup saya, doa itu adalah hasil keinginan pikiran kita yang tertuang dalam kata2 atau dalam hati yang kita yakini bakal terjadi. sifat doa ini adalah dengan hukum tarik menarik, doa dengan penuh keyakinan telah kita lontarkan cepat atau lambat akan jadi kenyataan. tanpa ada campur tangan pihak ketiga, dalam hal ini tuhan (emangnya dia benar2 sosok yang perlu di minta2 atau perlu disembah semabah ?). karena semua doa, pikiran dan segala keinginan kita itu maujud karena hukum alam sebab akibat. apa yang akan kita inginkan/ doakan akan terjadi sesuai porsi sebab yang sudah kita bikin.