Ujung Bambu

Ujung bambu,
menyambut pelukan angin
melenggang menatap langit biru
cinta membakar
hangus jadi abu
meluruh menjadi satu zat.

Ujung bambu,
menari dalam kenangan
tersimpan kebijaksaanaan
cinta dengan angin
bercumbu di genggaman
sebagai penanda
walau lenyap tak berbekas
kala kembali.

54 Tanggapan ke “Ujung Bambu”


  1. 1 Faubell Mei 13, 2008 pukul 4:05 pm

    @razuka
    Waduh maaf Mbak.
    *Nangis lagi*
    Ayena damang?
    Salam kenal.

  2. 2 danalingga Mei 13, 2008 pukul 5:52 pm

    Hem… ini lagi ngomongin lebur itu bagaimana ya? *bingung*

  3. 3 razuka Mei 14, 2008 pukul 8:41 am

    soal lebur kan gampang aja…Lebur = senyawa = melekat…
    wah jadi pusing.
    yang melekat ini sifat atau apa yah??? andai dia itu sifat pasti suka mensifati. andai dia kompor pasti suka mengompori
    Kompor = kata benda
    mengompori = kata kerja, jadi dia akan seperti keadaan awalnya
    >> begitu juga lebur, dua unsur menjadi satu dalam penyatuan itu tidak bersatu…gampangnya minyak sama air aja kali yaaaah


  1. 1 Rumput « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Februari 23, 2008 pukul 8:09 am

Tinggalkan Balasan




Menyiasati Jalan Hidup

AKU

Bermakna

Tanah Karo Simalem

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

counter

AddThis Social Bookmark Button