Ujung bambu,
menyambut pelukan angin
melenggang menatap langit biru
cinta membakar
hangus jadi abu
meluruh menjadi satu zat.
Ujung bambu,
menari dalam kenangan
tersimpan kebijaksaanaan
cinta dengan angin
bercumbu di genggaman
sebagai penanda
walau lenyap tak berbekas
kala kembali.


wah, apakah memang ada hubungan antara ujung bambu, cinta, dan kebijaksanaan, mas dana? puisi2 mas dana memang selalu menawarkan sebuah renungan dan kontemplasi. saya baru mencoba untuk menduga-duga *halah* makna yang tersembunyi di balik puisi ini. belum ketemu jugak, hiks.
Saya endapin dulu ya, bro.. Belum ketemu benang merahnya nih..
“Ujung bambu, menyambut pelukan angin……”
untaian kata yang indah, tapi aq ternyata belum paham isi sesungguhnya…
Salam kenal…
sirna lagee ternyata….,
benul-benul asyik titik
bukankah bambu termasuk benda yang fleksibel?
*kehilangan fokus*
brilliant…
persetubuhan ujung bambu dengan angin…
seperti penolakan yang luruh…
atau penghambaan yang memberontak…
fyuhhh… ekstase…
bambu tuh memang unik….
diterjang angin yang kencangpun bambu masih tetap kokoh berdiri… walaupun cuman goyang ke kanan dan ke kiri tapi masih berdiri dengan tegaknya…
makna yang terkandung di dalamnya dalem bangget bo’
amin
*
*eh ini komentar juga kan?
gw benci kenangan dalam bentuk apapun..huhuhu..apalagi yang sedeh sedeh..
ndak mudeng puisi..
*log out*
lantas, kenapa setelah disambut dengan hangat oleh ujung bambu, angin memilih bercumbu dengan cinta?
perselingkuhan?
kasihan ujung bambu…
Ujung bambu tetaplah ujung bambu, dan manusia tetap manusia. Tak bisa manusia menjadi ujung bambu.
*OOT*
Ujung bambu dan cinta…???? *mikir*
Ujung bambu itu kl diruncingkan pasti tajam dan kl ketusuk pasti sakit.
lha cinta juga kadang bisa jd menyakitkan.
*sok tau*
Lha ini cerita perjuangan pake bambu runcing ya?
Mohon maaf, saya bener-bener ndak mudeng…
Ujung bambu
itulah senjata nenek moyang kita kala melawan penjajah
ujung bambu
kalau tertusuk di kulit amat sakit rasanya
ujung bambu
itu runcing
ujung bambu…………
gak mudheng blas
== gi mbundet===
halah mang ndableg aku
ujung bambu muda atawa tua?
kalo muda enak dibuat lodeh
*ngumpet*
@all
Kira-kira makna puisi ini seperti yang di utarakan Paman Goop di komennya.
*memberikan piring cantik sebagai hadiah buat paman Goop*
Hmmm…jadi curiga…. kekekekekehhh….
@mas dana
dekapan cinta sang angin yang teramati
segala ujung mencitrakannya
tarian itu, menandakan kokohnya akar
tempat segala ujung berasal
saya lebih suka rebung… :p
bisa tolong buatkan saya puisi?? sesuatu yang menghilangkan gundah hati? puisi yang mampu membuat saya menerima hati yang telah pergi? sesutau yang membuat saya…. mas dana pasti tau deh..
pleaseeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee….
makasih mas…..
umm.. itu bambu brapa senti panjangnya?? *otak ngeres = on *
jgn2 ini nostalgia bercinta dibawah pokok bambu ah hahaha…
Menikmati …
::ujung bambu terus bergoyang
dengan apa harus menunjukkannya…
rumput teriak, hei..kamu jangan goyang melulu..
bambu menjawab bukan aku..tapi..di..di.. tolah toleh memandang angin…namun angin tak terlihat…
bambu..
@secangkirkopisusu
Curiga apaan nih?
@abah dedhot
Iya bah, kalo di runut memang begitu. Tapi kadang memang manusia terlalu terpesona melihat, hingga lupa sama yang tak terlihat.
@nana
Waduh, malah di todong buat puisi gini?
*garuk-garuk kepala*
*makan rebung*
mang ada permasalahan apa toh? Karena nangis-nangisan itu ya?
*kontemplasi*
@CY
Mang mak erot
Ndak kok bro, puisi ini tercipta karena rasa pas melihat ujung bambu yang bercengkrama dengan angin.
walau saya juga lagi bercengkrama sih@Ersis W. Abbas
Silahkan pak.
@zal
Sepertinya emang nggak bisa ya zal, mungkin si rumput harus merasakannya dulu baru tahu.
::mungkinkah rumput harus menari bersama pucuk bambu, namun itu menyalahi kodratnya…biarlah dia tetap sebagai rumput untuk manfaat lainnya…dalam tarian rumput
Bukan, bukan dengan bambu, tapi menari bersama angin. Biar dia bisa merasakan angin juga. Tariannya ya tetap tarian rumput.
*nyamber MODE ON*
abah amati, si rumput juga menari… apakah si rumput ini ELING, bahwa dia juga sedang menari bersama angin…???
*nyamber MODE ON terus*
Jah, cepat banget nyambernya.
Ah… jangan-jangan karena si rumput terlalu sibuk melihat tarian bambu dan mengira-ngira si bambu menari dengan angin yang tidak keliatan. Jadinya tidak sadar kalo dia juga sedang menari bersama angin.
Eh.. itu jangan-jangan sih…
Tapi sepertinya…
seperti pengalaman diri…*
karena sejak dilahirkan, si rumput mengamati semua yang dia lihat sedang menari, sudah terlalu lumrah dan terbiasa, sehingga perasaannya menetapkan tarian itu adalah miliknya… padahal dalam perjalanan kehidupannya acapkali tarian itu diluar kendalinya, kadang dirasakannya seperti terombang ambing… Tapi karena perasaannya terlalu dominan (dan selama ini selalu dipatuhinya), maka tetap aja sang ANGIN tidak teramati…
*jadi malu…
bambu yang masih kecil tuh namanya “rebung”…
malah enak kalau dimakan pas hangat… namanya masakan bisa di bikin lodeh… sayur… de el el deh
Saya mencoba memahami puisi ini . TApi ujung bambu itu apa ?
saya bingung baca puisi ini….
ujung bambu di sini maknanya apa bang?
@abah dedhot
Kira-kira apa yang bakal menyebabkan rumput menyadarinya ya bah?
*jadi keinget diri sendiri juga*
@alfaroby
*makan rebung*
@bachtiar & maxbreaker
Ujung bambu ya ujungnya bambu.
@mas dana
biasanya (kebanyakan) sih… kalo dia diterpa angin puting beliung, topan badai dsb. yang bikin akarnya nyaris tercabut… tapi semua atas kehendak sang angin, rumput yang sangat beruntung yang diperkenankan mengenal sang angin… lalu menari seirama dengan kehendak angin tanpa sedikitpun penolakan…
arghhh… cuma piring cantik

tapi terima kasih
________________________________
kenapa sibuk dengan rumput?
bukankah angin tetap sampai di pucuk rumput?
bahkan, di rongga tempat akar berada juga ada angin..
apakah saya harus mengaduk tanah?
>>hihi, sepertinya kian masai inih<<
@abah dedhot
Iya bah, terserah angin. Padahal rumput di lingkupi angin tuh, masih ndak sadar juga. Masak sih harus nunggu badai dulu. *gemes*
@goop
Sibuk tentang rumput, karena ternyata rumput merepresentasikan diri goop. Toh, ternyata angin melingkupi rumput dari segala penjuru, tapi rumput tidak menyadarinya. Dan malahan heran melihat ujung bambu yang menari bersama angin.
………..<<angin ibarat<>rumput<>bambu << si Istri Ke dua
sebenarnya ada kecemburuan yang terjadi antara rumput dan bambu namun khawatir akan si suami tidak mau lagi membelai hingga nampak goyang kiri kanan.
…ach..betapa aku tak ubahnya dengan rumput,,ngape ngga jadi rumput aje yeeee
Boleh juga.
Baca puisi Mas Dana ini, jadi teringat permainan layang-layang waktu kecil.
Oh… ternyata hanya perlu berpegang pada buhul (tali) yang kuat dengan segenap keikhlasan. Istighfar…
Ah, ikhlas memang indah, cuman susah banget ngelakuinnya.
@mas Dana
….walau lenyap tak berbekas kala kembali.
>>lenyapnya sesuatu memang tampak tak berbekas..namun ketika menyibak lebih dalam lagi maka…tiada satupun yang tak berbekas ketika sang lenyap itu pergi.
>>Kenangan..ya kenangan, hanyalah ungkapan yang muncul dari sebuah cerita atas segala kejadian.
>>Kenangan itu pula yang akan membawa rumput dan si ujung bambu merasakan belaian lembut dari sang Angin sekalipun sang penebar kenangan hanya menebar saja * ngaku ngga ????* dan mencari rumput dan ujung bambu lain untuk memperlancar progaram penebaran 1000 Kenangan ( bukan 1000 pohon )karena pohon disitu berkedudukan sebagai object penderita.
….menjdi satu Zat ( atau Dzat )???
>>terasa menggelitik atas dasar tujuan memaknai cerita dengan makna cerita atas untaian kata, saya melihat ada sedikit kontradiksi tapi sah2 aja koq mas hanya sedikit intrup bukan “……..”
>>marilah sedikit kita memahami tentang menjadi satu, bukan berarti melebur tapi hanya sebatas dua unsur yang semula berbeda bergabung atas dasar kesamaan baik itu,rasa,ide dan kesepakatan.
…… <>…….
>>ikhlas adalah suatu ungkapan atas bentuk akhir dari segala usaha ataupun keadaan,sangatlah mudah untuk mencapai ke sono bila kita mau tau DIRI
>>tau diri adalah suatu bentuk akhir dari mengkaji diri.
>>sedangkan mengkaji diri adalah suatu tindakan atas dasar keinginan untuk lebih mengetahui siapa….,apa dan bagaimana dirinya???????
…maka sirumput dan ujung bambu tidak akan bersatu bila mereka tidak pernah tau akan dirinya dan unsur lain diluar dirinya;
……………..
::wah, razuka, tinggi banget, sampe ngga kebayang lagi nich maksudnya…, lalu bagaimana kir-kira jika dikaitkan dengan yang dinamakan manusia, jikalau puisinya dana ini adalah sebuah perumpamaan, apakah kira-kira mereka yg tidak seperti razuka, yang sudah memandang sebuah bentuk kembar, tidak akan melebur ya….
bagaimana awal mula razuka, mempunyai keyakinan bahwa pola, mis, dengan suatu jalan, maka jalan ini adalah dari dasar keinginan pribadi razukakah sehingga mau melakukannya…
mudah ya…untuk beralih menjadi yakin terhadap sesuatu, atau mudah ya untuk langsung berpersepsi, bahwa ini benar, jika kita sudah memandang sesuatu sebelumnya adalah kebenaran mutlak….
@kang Zal
>>apakah kita akan berdebat tentang segala yang bukan haq kita?? lebur ataupun tidak kita kembalikan ladi pada Ta’sirNya
>>tidak dapat dipungkiri kalau kita harus benar2 selektip atas segala hal terutama tentang keyakinan, namun bila kita mencoba untuk berfikir maka sang hidayah akan mungkin dikucurkan kedalam batok kepala kita karena kata “Big BOSS”
tidaklah sempurna iman seseorang bila tidak mau berfikir…..afalaa ta’kilun?
>>apapun yang ada sama razuka bahkan iman sekalipun bukan milik diri….itukan hanya tampias dari keimanan sang Pemilik iman, yang razuka punya hanyalah kehinaan,ketidak mampuan,kebodohan,kefakiran,kenistaan…hik…hik..hik..* menangis tersedu sedu*
>>kata bijak<>>mas zal matamu ituloh bikin aku deg degan<<<
@kang razuka
Pemilik hati dan otak kita adalah Allah, makanya “bersih-bersihlah” disitu, biarlah Allah sendiri yang menaruh ilham2 di situ, tinggal kita pungut dan implementasikan dengan ikhlas.
Begitukah kang Razuka?
*jadi ikut nangis*
semua berawal dari …man araf nafsahu fakad arafah rabbahu…ini bukan hanya sekedar puisi,pantun atau prosa tapi ini adalah marka jalan bagi seseorang yang bergairah dalam mengembara demi mencari sang KEBENARAN.
..tiada lagi terhitung betapa banyak orang yang mengaku diri guru murshid yang pernah kukenal hingga aku acap kali berpindah dari tangan satu ke tangan yang lain tentunya setelah diikuti sekian lama hanya berujung kepada menggalang dana kelompok…( mereka tidak lebih dari hantu blau dalam pandaganku )
sembilan tahun….yah…benar..waktu yang begitu lama dalam pengembaraan dalam mencari jati diri demi mulih kajati.
>>akhirnya saya tumbuh menjadi sosok yang tiada………..haNya dialah segala ada.
@kang faubell
saya baca tanggapannya lebih terharu lagi karena ..hik..hik..hik saya mah bukan lalaki tapi seorang perempuan atuh kang.
@kang Zal
kalo tidak salah saya pernah mendengar nama akang beberapa bulan yamg lalu ketika saya belum, lahir hingga menggetarkan seantero dunia maya ??
@razuka
Waduh maaf Mbak.
*Nangis lagi*
Ayena damang?
Salam kenal.
Hem… ini lagi ngomongin lebur itu bagaimana ya? *bingung*
soal lebur kan gampang aja…Lebur = senyawa = melekat…
wah jadi pusing.
yang melekat ini sifat atau apa yah??? andai dia itu sifat pasti suka mensifati. andai dia kompor pasti suka mengompori
Kompor = kata benda
mengompori = kata kerja, jadi dia akan seperti keadaan awalnya
>> begitu juga lebur, dua unsur menjadi satu dalam penyatuan itu tidak bersatu…gampangnya minyak sama air aja kali yaaaah