Amarah ini tampaknya tidak pernah mau pergi. Melingkar di tiap nadi kehidupan manusia, bagai ular valdemort yang melahap mangsa-mangsa yang diberikan tuannya. Menyerap semua keindahan hidup, laksana sang dementor yang menyerap kebahagiaan. Merah darah pun mewarnai hidup tanpa ampun.
Asap hitam pekat membumbung ke angkasa, meninggalkan jejak pada sebuah bangunan. Bangunan yang porak-poranda tercerabut karena amarah. Amarah orang banyak yang merasa kesuciannya di aduk-aduk. Tapi dengan buta, malah menghancurkan sebuah bangunan tempat orang menyembah yang Suci. Menggilas logika yang paling sederhana sekalipun menjadi tidak ada artinya. Sungguh sebuah penisbian logika sederhana bukan? Ketika sebuah pembelaan terhadap yang Suci di lakukan dengan cara yang tidak suci.
Seribu sumpah serapah menyebar ke udara, mengotori dengan pekatnya negatifitas. Sebuah hal yang kontras, ketika melihat asalnya sumpah serapah itu. Sepotong wajah cantik, yang dihiasi bibir kecil merah menggemaskan. Namun segala sanjungan kepada sang Pencipta atas maha karyanya akan seorang perempuan yang sangat mempesona, menjadi batal terucap. Ketika sumpah serapah memberondong , memanaskan jiwa hingga sekarat. Dalam amarah yang tidak tertahan, membakar hangus jiwa cantik itu.
Usaha meredam amarah, dari manusia-manusia yang marah pada hidup sepertinya gagal. Ketika perut harus berlapar-lapar, di saat sang hidup tidak mau berhenti dari putaran sang kala. Ya, perut semakin lapar, sementara amarah semakin meninggi. Sementara di tepat di hadapan, ada makanan yang tak terbeli, menggoda jiwa-jiwa yang semakin terbakar amarah.
Senyummu wahai penguasa, tidak bisa mengobati amarah ini, karena ternyata harga tidak juga turun. Sementara sebuah kesadaran menyapa batin, bahwa harga akan terus meninggi, sebab sang banjir ternyata cukup rajin untuk menyapa lebih awal. Dan terus menebar janji akan menyapa lebih lama lagi, tanpa bisa dilupakan barang sejenak.
Dan aku sedang marah kepada diri sendiri karena tidak bisa memadamkan amarah-amarah yang semakin membakar jiwa. Hanya menunggu dalam gamang, amarah meledak dan menelan semua kehidupan, hangus jadi abu. Amarahpun menjadi Tuhan, sebentar lagi.





Ya bang… amarah adalah pangkal kebodohan dan mematikan fungsi akal manusia. Amarah layak-na api yang dapat dengan sekejapan menghanguskan daun-daun kering. Manusia sama sekali tidak dilarang untuk marah, karena marah adalah ciri dari kesempurnaan manusia. Tuhan hanya meminta agar manusia tau kapan harus marah, dan kapan tidak perlu marah. Orang yang kagak bisa marah, disebut sebagai orang yang Tafrit… Orang yang marahnya berlebihan, disebut sebagai orang yang Ifraat. Yang erbaik adalah yang dapat memilah dan memilih kapan marah, oleh sebab apa dan bagaimana mengekspresikan kemarahannya secara “baik”, itulah yang oleh Tuhan disebut sebagai manusia yang I’tidal…
Ane sok tau ya bang…
*dimarahin bang Dana*
*difecut*
setuju sama mas cabe…
barang kali dia muncul, karena ingin dikenal… kalo sudah kenal kan bisa dikendalikan…
ridho aja lah… silahkan marah…
amarah dalam kultur jawa itu dilambangkan dengan api yang bisa meluluhlantakkan siapa saja. Yup, api, ada kalanya dibutuhkan, tapi kalau berlebihan, justru akan mendatangkan mudharat bagi yang lain. *halah sok tahu ya mas dana*. amarah juga bisa jadi tolok ukur tingkat kearifan kita dalam menyiasati hidup yang penuh borok dan bopeng. semoga kita bisa mengendalikan amarah agar tak telanjur menjadi api.
*Lagi belajar mencoba mengendalikan amarah*
::Dan, kalau kata orang-orang “amarah” asalnya telinga ujungnya jantung…, kalau mau memanfaatkan amarah boleh, namun berpuasa lebih baik untukmu katanya lagi… :yang terakhir itu, kalau mau lapar silahkan, tapi aku engga suka lapar…
Dan sekarang saya pengen marah..
btw, definisi antara marah dengan amarah itu sama gak sih, bro??
*berlalu sambil marah-marah*
Memang amarah bisa mengalahkan akal sehat. Terutama kalo lagi pusing atau ngomong sama lebih dari satu orang.
*Pengalaman pribadi*
Isthigfar dan diam adalah OBATnya amarah mas … “dan jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu” pas marah wudhu deh, DIJAMIN hilang amarah yang meluluhlantakan hati itu.
-Ade-
Sepertinya Ade salah ngasih komeng yah… ini tentang kemarahan rakyat toh?
duh !!
-Ade-
Amarah itu baik dan wajib, dgn syarat remote controlnya ada ditangan kita…
Udahlah mas dana jangan marah-marah sama dosen pembimbingnya….wakakakak
apakah masih lama waktu yg tersisa sebelum amarah benar-benar berubah?
makanlah…
carilah tempat yang kering…
dan liburan…
*yayyy*
@Cabe Rawit
Nah, sekarang berarti menurut kamu marah bisa berguna dan baik itu bagaimana? Sebab saya lihat amarah kok malah jadi api, yang menghanguskan segalanya.
*ndak sok tahu, malahan kayaknya tahu nih
*
@abah dedhot
Kira-kira orang bagaimana yang bisa mengendalikan amarah itu bah?
Sebab kalo sembarangan mengikuti amarah, bisa-bisa amarahlah yang menjadi Tuhan. Kan gawat tuh.
@Sawali Tuhusetya
Menarik juga menganlogikan amarah dengan api ini. Berarti selama kita yang mengendalikan, dan bukan sebaliknya kita yang dikendalikan, maka tidak apa-apa. Bahkan bisa sangat berguna. Seperti halnya api, ketika kita masih mengendalikannya maka akan sangat berguna. Tapi ketika kita tidak bisa mengendalikan api tersebut, maka akan menghanguskan segalanya.
@zal
Kira-kira bagaimana agar bisa memanfaatkan amarah, dan bukannya kita yang di telan amarah?
Yang terakhir itu, bukan niat berlapar-lapar, tapi terpaksa lapar zal.
@qzink666
Marahlah dengan kesadaran penuh.
@Mardies
Iya tuh, marah emang membakar seperti api.
@Sayap KU
Entahlah de, jika amarah sudah sebenar-benarnya amarah apa masih bisa padam hanya dengan wudhu dan sholat?
@CY
Nah, itu dia, kira-kira bagaimana cara mendapatkan remote controlnya itu ya?
@daeng limpo
Katanya, sekali-kali marah perlu juga tuh, biar cepat di tanda tangani.
@goop
Mana tiket ke bali goop? Butuh ini.
amarah itu yg membuktikan bahwa ternyata kita masih manusia
Entah mengapa saya ingin marah ketika melihat kenyataan inet saya lelet abisss…terutama pas buka page-page di WP… (termasuk ini)
weh komengnya dah di blok sama orang2 ‘bijak’
*
mmmm Buddha pernah marah nggak ya setelah tercerahkan?
*jangan marah karna saya bertanya ya
::dan kayaknya qzink666 mempertanyakan, definisi marah sama engga dengan amarah…,
Annafs al amarah kah…
Si Mbah : “Kalo Si Mbah lagi marah berarti darah tingginya lagi kumat… kekekeh….” (sambil nyruput kopi susu )
Sedang marah?
Ahhh..saya juga suka marah2 pada diri sendiri..makanya punya blog itu..hehehe..
kata SiMbah Ed, amarah itu kayak kebakaran hutan.
tandus deh.
banyak asep deh..
Amarah yang memuncak bisa mengakibatkan stress lho..!
awas…jadi hipertensi/darah tinggi…!
@’K,
Yakin nih? Soalnya binatang juga marah loh.
@Goenawan Lee
Wajar itu gun.
@zal
Waduh, gitu ya? *garuk-garuk kepala* . Hem… amarah itu amarah, sedangkan marah kegiatan melakukan amarah. Gitu kali ya? *bingung sendiri*
@Si Mbah
Jangan sering marah mbah, entar umurnya langsung tiba.
@stey
Wah, ternyata blognya untuk lahan memarahi diri sendiri toh?
Btw, kok blogmu nggak ada rss feednya sih? Di pasang dunk.
@tikabanget™
Mbah Ed emang bijaksana, jadi pengen kenalan ama mbahnya nih.
@Ina
Wah, gitu ya? Makasih atas
ancamannasehatnya na.Pak, bentar lagi harga pulsa turun per 1 april, mudah2an benar adanya, dan lumayan mengurangi beban pelaku ekonomi.. hehehehehehe
sabar ya dan. saya juga lagi emosi nih…
*lagi dapet*
Hehe… marah memang berguna dan setiap manusia kudu punya sifat yang satu ini. Tafi tentunya kudu pada tempatnya dan diekspresikan secara i’tidal ato tidak berlebihan. Kalo seseorang dihina, ato agamanya diinjak-injak, bangsanya dilecehkan, keluarganya direndahkan, martabatnya direnggut… pan kudu marah, kalo kagak marah, itu orang aneh namanya. Yang perlu ditekankan adalah bagaimana agar ketika marah, manusia masih dapat mengendalikannya supaya kagak jadi gelap mata. Tuhan tidak melarang manusia marah, tapi memerintahkannya agar dapat mengendalikan amarah.
*mohon ampun bang sama bang Dana*
@mas cabe
dalam kisah orang dulu…
Mr. X setiap hari pergi ke pasar melewati gang masjid, dan tiap hari pula di gang masjid itu ada seseorang yang selalu meludahinya. setiap kali diludahi Mr. X ngga pernah marah. Pada suatu hari saat Mr. X lewat gang masjid, orang yang selalu meludahinya, ngga ada disana, dan menurut informasi warga gang masjid, orang tersebut sedang sakit jadi hari ini dia ngga bisa ngeludahi Mr. X. Segeralah Mr. X ini mencari sang peludah, *abah pikir ini kesempatan Mr. X buat balas dendam, menghabisi sang peludah mumpung sedang sakit…* ternyata Mr. X menjenguk sang peludah dan mendo’akannya supaya cepet sembuh…
Ada lagi Mr. Y, saat ditampar pipi kiri nya, dia malah memberikan pipi kanan nya untuk ditampar lagi…
Yah.. memang Mr. X & Mr. Y ini termasuk orang-orang aneh… tapi sekarang banyak banget orang yang ngaku-ngaku sebagai pengikutnnya mereka… tapi pengikutnya ini, pada ngga mau atau gengsi??? kalo disebut “orang aneh”…
salam
Satu kewajiban mulia kita; memenej marah memang. Memperturutkan marah merusak jiwa dan merusak orang lain, dan seterusnya. Tapi, adakalanya marah itu perlu. Saya baru baca buku Mujahid, Ketika Rasulullah Marah. Salam.
Oallahhhh… akyu kira marah ama siapa..
Gak tahunya sama pejabat.. demo aja, mas dana!
Lagian, percuma …
@joyo yang ketinggalan
Setahu saya, ketika Buddha marah, maka yang di marahi mengalami pencerahan.
@gempur
Wah, lumayan menurunkan amarah itu.
@cK
Iya chik, saya akan berusaha tetap sabar.
*dapet kok marah ya?*
@Cabe Rawit
Hehehe… itu orang aneh apa orang yang telah bisa mengendalikan amarah? Coba liat komen abah dhedhot deh.
@abah dedhot
Wah, kalo orang-orang aneh tersebut, sepertinya kemarahannya adalah untuk meningkatkan kespiritualan yang di marahi bah. *jadi pengen di marahi orang-orang aneh itu.
@Ersis W. Abbas
Hem… saya jadi kepikiran, jangan-jangan amarah itu adalah salah satu dari sekian banyak nafsu yang harus di taklukkan. *kontemplasi*
@puak
Waduh, demonya entar aja mbak, kalo amarahnya dah berhasil di taklukkan.
Sabar pak de, sabar to …
@mas dana
abah pernah dimarahi “langsung”… sama “yang aneh” itu… wiii… serem banget, kapok.
bagaikan… lebih baik kehilangan langit dan bumi… uampuuuun…!!!
@sigid
Ini juga lagi belajar sabar gid.
@abah dedhot
Walah, kapok berarti tidak melakukan hal yang membuat di marahi lagi dunk bah. Berarti sudah …
marah = emosi _/ kehancuran
2′5+1.5 = 4
bila mau kenal “siempat” maka harus mulai dari 2.5