Jenuh Berdebat

Di antara hidup, dalam berjuta kontemplasi yang telah dilakoni. Terlintas hal tentang sebuah kebiasaan saya dalam dunia maya di waktu yang telah lewat baru saja. Terutama di forum-forum dan blog yang saya singgahi. Sebuah kebiasaan yang akhir-akhir ini sepertinya semakin melemah, dan semakin jarang dilakukan. Hal itu mungkin bukan karena sebuah kesadaran yang mutlak, tapi lebih kepada rasa jenuh yang menyergap.

Namun walau berawal dari rasa jenuh. Pada akhirnya saya sedikit menyadari bahwa kebiasaan tersebut memang pantas untuk ditinggalkan. Karena kebiasaan tersebut kadang, ah… bukan kadang melainkan sering membuat kebenaran itu jadi tersembunyi akibat ego tidak ingin kalah. Apalagi jika kebenaran itu berasal dari orang yang mengusung pendapat yang seakan mengkounter pendapat diri. Padahal ketika dengan jernih berpikir lagi, maka ternyata pendapat itu tidak menkounter sama sekali, melainkan melengkapi pendapat diri, hingga semakin mendekati kebenaran.

Teringat dulu, ketika kebiasaan ini sudah menjadi makanan sehari-hari dalam usaha untuk membela ego tidak mau kalah itu. Sampai-sampai semua hal bisa di manfaatkan untuk berkelit, padahal kadang jauh di hati terdalam sudah merasa kalau pendapat diri memang keliru. Tapi tetap saja membuat berbagai pelintiran-pelintiran sehingga seolah-olah pendapat tersebut adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Kadang saking hebatnya memelintir, maka seolah-olah pendapat tersebut adalah pendapat Tuhan sendiri. Siapa yang berani menyalahkan lagi kalau begitu heh?!!!

Tapi tersadari juga bahwa kebiasaan itu bukan tidak ada gunanya sama sekali. Toh dalam kasus saya maka akhirnya kebiasaan itu menjadi bahan renungan akan arti sebuah kebenaran. Dan tersadari bahwa jika memang sebuah hal itu adalah kebenaran maka akan selalu menjadi kebenaran. Walau dicoba untuk memolesnya dengan pelintiran terbagus menjadi seolah-olah bukan kebenaran. Dan demikian juga sebaliknya, bahwa secanggih apapun memoles sebuah ketidak-benaran, maka itu tetap merupakan ketidak-benaran.

Ketika kesadaran akan hal-hal di atas semakin meraja dalam diri. Maka secara otomatis niat untuk berdebat semakin hilang. Palingan kadang hanya ada niat usil, sekedar menggelitik untuk mengajak berpikir . Biasanya dilakukan dengan mempertanyakan sebuah pendapat, dengan memberi opini yang berlawanan. Yang harapan saya akan memacu diri sendiri dan partner berpendapat untuk bisa berpikir lebih dalam dan dengan sudut yang lebih luas lagi. Jadi marilah kita sekedar bermain-main pendapat, demi peningkatan kualitas diri. Toh, hidup ini kan hanya sebuah senda gurau saja, jangan terlalu di ambil serius, agar kesenangan hidup tidak hilang dari rasa.

*senyum-senyum mengenang perdebatan diri*

50 Tanggapan ke “Jenuh Berdebat”


  1. 1 cessario Februari 28, 2008 pukul 6:58 pm

    “Jadi marilah kita sekedar bermain-main pendapat, demi peningkatan kualitas diri.”

    Wah, ceritanya member FLAME ARENA neh? emang asik sih, biasanya ada flame arena di forum2. Dan bahasa-nya juga keren2, mengandung kata2 yang memang jarang dilontarkan oleh orang yang tidak kenal di dunia nyata, tapi di dunia maya ( maksud:internet ) Debate tuh jadi berani, soalnya dilindungi oleh privacy internet dan dari ISPnya hohoho…

    Enak debat lho, menambah wawasan kata2 kasar wkwkwkkw!!!

  2. 2 goop Februari 28, 2008 pukul 7:01 pm

    tuan Dana, apakah saya seorang pendebat yang baik?

  3. 3 Sawali Tuhusetya Februari 28, 2008 pukul 7:25 pm

    Berdebat? wew… ada kelebihan dan kekurangannya, mas dana. kelebihannya kalau wacana yang diusung itu menyangkut kepentingan orang banyak, dan dari perdebatan itu memunculkan sebuah pendapat yang lebih mendekati sebuah kebenaran, Namun, berdebat juga tak luput dari kekurangan, terutama kalau sudah menyangkut harga diri. adhominem pun seringkalu dilakukan jika wacana ilmiah dan logika gagal dipertahankan. btw, sepanjang percebatan tidak menyerang secara pribadi dan semata-mata menggunakan logika dan penalaran, saya kira kok masih dalam batas wahar, mas dana. tapi rupanya mas dana sudah sangat panjang dan jauh mengikuti arus debat di arena blogosphere ini sehingga jebuh berdebat. ok, mas dana, selamat menikmati masa-masa berkontemplasi, mudah2an makin bertambah arif dan bijak, *halah, sok tahu*

  4. 4 phiy Februari 28, 2008 pukul 7:27 pm

    Karena kebiasaan tersebut kadang, ah… bukan kadang melakinkan sering membuat kebenaran itu jadi tersembunyi akibat ego tidak ingin kalah.

    menyembunyikan kebenaran,
    hiiiy…
    :mrgreen:

    Jenuh y?
    Kalo kata mba inith,
    “sedang dalam masanya”
    :lol:

  5. 5 Jendral Bayut™ Februari 28, 2008 pukul 8:20 pm

    debat terkadang menambah rasa lho oom :evil:

  6. 6 danalingga Februari 28, 2008 pukul 9:10 pm

    @cessario

    Wah, baru tahu istilah Flame Arena nih. Tapi sepertinya emang kurang lebih begitulah tempat maya yang sering saya ikuti, tapi itu duluw, dulu sekali. :D

    Betul memang debat menambah wawasan, buktinya karena debat itulah maka ada wawasan seperti dalam artikel ini. :mrgreen:

    @goop

    Mungkin pendebat diri yang terbaik paman. ;)

    @Sawali Tuhusetya

    Wah, sebenarnya penyumbang kejenuhan terbesar bukan dari blogsphere sih pak, melainkan dari forum-forum diskusi yang banyak bertebaran. Kalo bapak pernah maen ke forum-forum yang membahas agama, pasti akan tahu yang saya maksud. Kalo di blog malah debatnya lebih beradab, sebab dikit-dikit bakal di ingetkan tentang etika dalam berdebat.

    Btw, makasih atas penjelasan tentang debat dari sudut lain nih pak, semoga nanti ketika saya sudah bisa meresapinya maka jenuh itu bisa hilang. :mrgreen:

    @phiy

    Iya nih fiy, hiks saya jenuh bener. Moderator forum filsafat kok bisa jenuh berdebat ya? :lol:

    *nanyain mbak inith ah… *

    @Jendral Bayut™

    Iya, itu dah nambah rasa jenuh buat saya. :P

  7. 7 cessario Februari 28, 2008 pukul 9:58 pm

    Apa!?! baru denger flame arena??? cape deh… kalo gitu coba ikutan deh salahsatunya, itu yang namanya rame… whwohwohwo, isi-nya hujatan doang… penuh dengan kata kasar omongan kosong dan orang2 yang gila ( tidak waras ) dll….

    wah koq jadi promosi flame arena yah? well… there goes nothin…

    btw sorry OOT, aku blogroll yah… heheh

  8. 8 Ina Februari 28, 2008 pukul 10:06 pm

    saya bukan pendebat yang baik.
    krn kl saya kalah debat bisa bogem yg melayang.
    *preman mode on*

  9. 9 cK Februari 28, 2008 pukul 10:29 pm

    waduh dan, bahasamu njelimet. saya sampe baca dua kali nih baru ngerti.. :lol:

    kalo jenuh berdebat, mari kita berpelukaannn.. :D

    *nyodorin bayut*

  10. 10 iphan Februari 28, 2008 pukul 11:31 pm

    kalau saya, membaca blog seperti minum segelas cappucino. menikmati bermacam-macam rasa. kopi, susu, foam, dan gula. Setiap orang punya gaya, cara berpikir… kalau saya cuma menikmati pemikiran setiap orang yang tertuang di dalam blog masing-masing…

  11. 11 daeng.limpo Februari 29, 2008 pukul 8:20 am

    Wah….kalau nggak ada debat…mungkin sepi juga blogosphere nih…, rasanya perlu juga neh orang yang suka berdebat sekadar membuka wawasan, yang penting sopan aja jangan sampai keluar kata-kata yang tidak senonoh. Udahlah Mas Dana Buat aza lagi postingan yang menimbulkan perdebatan….saya tunggu neeeh.

  12. 12 joyo Februari 29, 2008 pukul 8:39 am

    lha bukannya yg beda itu yg mbikin hidup mas Dana?!

    marah tanpa emosi
    mencinta tanpa bercinta
    mendebat tanpa berdebat

  13. 13 itikkecil Februari 29, 2008 pukul 9:06 am

    mau tidak mau kadang-kadang kita memang harus berdebat ya :D
    buat saya gak masalah, asal masih dalam konteks. jangan akhirnya malah jadi ad hominem

  14. 14 norie Februari 29, 2008 pukul 9:16 am

    Kadang Debat hanya dalam rangka Memuaskan. Memuaskan siapa? Memuaskan Ego? Tentunya Ego tak akan pernah terpuaskan. namanya juga Ego.
    Mungkin Mas Dana harus cari pemuasan lain supaya ga jenuh. :) peace

  15. 15 edy Februari 29, 2008 pukul 10:25 am

    bukannya dengan debat yg sehat membuat jiwa yg kuat? :mrgreen:

  16. 16 ratna Februari 29, 2008 pukul 12:25 pm

    hai, numpang baca yach…
    JEnuh debat? emang berdebatnya merupakan kegiatan rutinitas yach? kok bisa ampe jenuh gitu.
    Yg suka gw alami sih jenuh ma kerja…hehe..

  17. 17 tukangkopi Februari 29, 2008 pukul 2:20 pm

    cuman mo mbenerin pepatahnya edi:
    didalam debat yang sehat terdapat persaudaraan yang kuat.. :mrgreen:

    *padahal blm tentu bener* :lol:

  18. 19 danalingga Februari 29, 2008 pukul 9:16 pm

    @cessario

    Apakah se dahsyat FC atau FFI?

    @Ina

    Weleh, untung saya belom pernah debat ama Ina.

    @cK

    Mosok sih njlimet chi? Wong aku belon baca aja langsung ngerti kok. :lol:

    kalo jenuh berdebat, mari kita berpelukaannn..

    *nyodorin bayut*

    *tendang bayut*

    Peluk chika.

    @iphan

    Semoga tidak pernah menjadi jenuh menikmatinya.

    @daeng.limpo

    Sepertinya hal itu masih harus menunggu pak. Moga-moga nanti rasa jenuhnya dah berkurang.

    @joyo

    Walah, dalem gitu. *langsung belajar lagi*

    @itikkecil

    Debat atau diskusi?

    @norie

    *cari istri*

    @edy

    ndak tahu itu. :lol:

    @ratna

    Silahkan baca sepuasnya.

    Iya nih, saya jenuh berdebat. Mungkin karena dah keseringan.

    @tukangkopi

    Silahkan di benarkan sepuasnya. :P

    @isnuansa

    Wogah! :P

  19. 20 joesatch yang legendaris Februari 29, 2008 pukul 9:31 pm

    kalo saya sih debat buat ngasah insting saya biar ndak tumpul, oom..

  20. 21 cessario Februari 29, 2008 pukul 10:46 pm

    well… setahu saya, pertama kali saya berpengalaman masuk ke FAITHFREEDOM ( versi Indonesia ) memang benar2 menguncang hati gw, bahkan gw ampe gak bisa tidur mikirin Agama gw ( Islam ) melulu… Untunglah, dengan beberapa waktu utk menenangkan dan menjenuhkan pikiran gw, gw join lalu gw mulai bermusyawarah ( weeiiisss kekeke ) dan tebak apa, ternyata hasilnya seperti debat bersama teman hihihi… tapi tetep aja kata2 kasar pasti 100% ada, nama nya juga debat, tapi kalo FFI sih memihak, jadi aku pindah ke flame arena yang lebih umum ( tidak memihak ).

    Lagipula, FFI sekarang topik2nya dah basi2… ^^. Tapi masih ngakak aja kalo gw jalan2 ke FFI… ( Brb ke FFI )

    btw, kalo FC itu apa?

  21. 22 qzink666 Februari 29, 2008 pukul 11:07 pm

    Makanya om, karena saya orang yg males debat-debatan, ketika pengen ngajuin topik yg mengundang perdebatan biasanya saya tulis pake metode tanya..
    Kan enak tuh liat orang saling cakar sementara kita yang nulis liatin dari jauh sambil ngakak.. :D

  22. 23 Pyrrho Maret 1, 2008 pukul 1:44 am

    Ini berdebat kan mas ? Bukan berdiskusi ? ;)

    Kalau berdebat memang konotasinya itu “mempertahankan pendapat/ego” masing-masing. Sementara kalau berdiskusi itu “mencari solusi/kebenaran dari suatu masalah”.

    Tapi saya terkadang senang berdebat. Karena suka mengambil pelajaran “bagaimana cara ngeles yang baik” :mrgreen: Bukan solusi yang jadi tujuan, tapi bagaimana saya bisa lolos dan mampu memojokkan lawan dengan suatu serangan balik.

    Kadang enak lho, mas… :lol:

  23. 24 watonist Maret 1, 2008 pukul 7:54 am

    rupanya kamu sudah jenuh dengan kekafiran Dan … bagus … baguss … :mrgreen:

  24. 25 pratanti Maret 1, 2008 pukul 8:41 am

    Nice post,
    Berdebat memang sangat menambah wawasan. Tergantung kita-nya mau mengumpulkan vocab kata2 kasar, atau mencari sudut pandang lain dari suatu persoalan :)
    IMO, penting juga untuk memiliki kerendahan hati, untuk menerima pandangan yang berbeda dari orang lain sehingga kita tidak semata-mata hanya mempertahankan diri dan terkesan “keras kepala” :P

    Kejenuhan mungkin merupakan suatu masa saat seseorang mulai berpikir untuk menghayati bahwa ada pendapat lain yang berbeda dan juga mengandung kebenaran. Suatu masa di awal era kebijaksanaan… :D

  25. 26 tomyarjunanto Maret 1, 2008 pukul 11:20 am

    yup :D meski kadang sebuah konflik membuat suatu kualitas baru dari diri kita, tapi ketika hanya mencari pembenaran2 saja tanpa mau terbuka akan kebenaran liyan apalah gunanya, rebut balung tanpa isi kata simbah saya. teringat akan cerita 2 setan yang melihat seorang anak manusia menemukan sekeping kebenaran. setan yang satu bertanya pada yg lain “tidakkah itu merisaukan hatimu? melihat manusia tadi menemukan kebenaran?”
    setan satunya yg lebih bijak menjawab “ah biarkan saja, karena sekeping kebenaran yg ditemukannya hanya akan ia pegang erat2 membutakannya dari kebenaran2 yang lain yg masih akan ia temui sepanjang jalan.”

  26. 27 jumawa Maret 1, 2008 pukul 3:24 pm

    lho kan nikmat melihat orang yang didebat kehilangan pendiriannya :mrgreen:

  27. 28 abdulsomad Maret 1, 2008 pukul 4:34 pm

    tidur aja mas dana
    pasti jenuh nya hilang

  28. 29 calonorangtenarsedunia Maret 1, 2008 pukul 8:10 pm

    berdebat memang melelahkan, Nak. tapi berdiskusi itu sebegitu menyenangkannya hingga saya kecanduan.

    Ah, tapi batas antara diskusi dan debat kusir begitu tipis.

  29. 30 zal Maret 1, 2008 pukul 11:40 pm

    ::hei, pestanya sudah usai…??? :)
    kayaknya sih, sekedar ganti ban, isi premium dan melaju lagi.., mungkin… :lol:

  30. 31 Santri Gundhul Maret 2, 2008 pukul 12:42 am

    Hik…sampeyan gak bakalan bisa begini to Kang Dana, tanpa melalui sebuah PROSES. Lah proeses itu termasuk diantaranya yah DEBAT tadi. Debat bisa jadi merupakan sebuah PROSES pendewasaan PEMIKIRAN dan PENGENALAN DIRI yo to..?? Percis kayak anak kecil yg baru bisa berjalan dituntun Bapak/Ibunya, ada proses tarik menarik antara kemauan si Anak dengan kemauan Ortunya. Ketika semua berjalan dalam konteks WELAS ASIH, maka dah pasti out putnya yah KESELAMATAN antara penuntun dan yang dituntun sama-sama gak kecebur di lobang atau masuk jurang.

    Apa sih sekarang ini yang pake debat..?? Mo ambil Gelar saja pake DEBAT, Mo jadi Presiden juga pake DEBAT kok…??.

    Jadi BERDEBATLAH dengan SEHAT dan tetep WELAS ASIH…

    Ngeloyor mbungkuk-mbungkuk…undur diri

  31. 32 watonist Maret 2, 2008 pukul 7:12 am

    @zal
    lho ya jangan kalau cuman sekedar ganti ban, atau ganti peluru …
    ketemu pemahaman baru ya harusnya ganti mesin … hehehe :D

  32. 33 gempur Maret 2, 2008 pukul 9:02 am

    meski, saya tahu nama besar pak danalingga… saya tak pernah beranni berdebat dengan panjenengan.. saya sami’na wa ato’na aja pak dana! takut salah… hehehehehe… beginilah mentalitas saya yang rendahan pak!..

  33. 34 brainstorm Maret 2, 2008 pukul 12:50 pm

    mau bunuh diri mas? :lol:

    *kembali hilang*

  34. 35 danalingga Maret 2, 2008 pukul 5:52 pm

    @joesatch yang legendaris

    Mang mo di asah setajam apa sih?

    @cessario

    Yah, FFI sih menurut saya membosankan, soale debatnya ya gitu-gitu aja.

    FC itu Fight Club di kaskus, COba saja kalo kamu senang maki-maki orang tuh.

    @qzink666

    Iya, juga sih zink. Kalo nanya kesannya kan ngajak diskusi, bukan debat. :D

    @Pyrrho

    Yup, berdebat bang.

    Nah, itu dia bang, saya dah kebiasaan ngeles nih, jadinya bosen juga. :P

    @watonist

    Sepertinya masih kafir nih ton. :P

    @pratanti

    Makasih atas pujiannya. :D

    Seringnya ya kalo dah debat, segala cara di halalkan demi sebuah kemengan pendapat. Saya bosan dengan itu. ;)

    @tomyarjunanto

    Wah, sebuah komen yang sangat mengena nih. Memang ketika akhirnya pun kebenaran yang di peroleh malah membutakan, apa gunanya ya?

    @jumawa

    Saya nyari kenikmatan dari yang lain aja deh. :mrgreen:

    @abdulsomad

    Udah tidur 3 kali nih. :D

    @calonorangtenarsedunia

    Mungkin diskusi adalah debat tanpa mendebat. *ngelirik joyo*

    @zal

    Walah, si zal ini emang. :P
    Tenang aja zal, entar juga ada acara kebut-kebutan lagi. ;)

    @Santri Gundhul

    Tul mbah. Hal ini memang hasil dari debat selama ini. Ke depannya mungkin berusaha berdiskusi saja. :D

    @gempur

    Maksudnya sami’na wa ato’na ke saya tuh? :lol:

    @brainstorm

    Sepertinya belum. :lol:

  35. 36 cessario Maret 2, 2008 pukul 7:30 pm

    hmmm, gw ikutan kaskus tapi koq baru tau ada FC sih… gw malah tau nya ada Buka bukaan 17thn+, itu baru seru :kabur!:

  36. 37 almascatie Maret 2, 2008 pukul 11:56 pm

    eh ada jga yah jenuh berdebat…. kalo debat pake ngotot dan tiap pihak mo menang sendiri seh emang jenuh jga yah
    :p

  37. 38 watonist Maret 3, 2008 pukul 8:40 am

    kafir atau ndak ?! yaa … itu urusanmu sendiri Dan … :D
    tapi setidaknya kita kan melihat kamu sudah bosan dengan salah satu cirinya (suka berbantah-bantahan) :)

    “eh … jadi ciri orang kafir itu suka berbantah-bantahan yah ??”, saya bilang “yups .. exactly, bahkan mungkin itu salah satu ciri yang paling gampang dilihat.”

    “lha kalau itu nggak boleh, lantas gimana dong cara kita mengasah argumen kita ?! cara kita tahu pendapat kita sudah benar atau belum ?!”, ada satu perbedaan yang mungkin kecil kelihatannya, itulah “sikap mau saling memahami”, sikap membuka diri, sikap siap untuk memperluas cakrawala pengetahuan kita, sikap ikhlash, sikap siap mengosongkan diri, dst … atau apapun sebutannya. Dan sikap itu berakar dan bermula dari diri kita sendiri, tidak bisa kita meminta orang lain untuk memaksa kita melakukannya ataupun sebaliknya, meskipun kita boleh dan dianjurkan untuk saling membantu dan mengingatkan.
    Itulah kenapa kita nggak mungkin diminta untuk mempertanggung jawabkan kekafiran ataupun kesesatan orang lain, karena memang itu urusan kita dengan kita sendiri, dengan yang memberi penugasan kita disini. :)

  38. 39 hanna Maret 3, 2008 pukul 9:41 am

    jadi, setelah hari ini tak akan perdebatan lagi, ya? hehe.
    kadang kita menyadari banyak hal, anehnya, kita pun kadang melakukan kesalahan itu lagi.

  39. 40 joesatch yang legendaris Maret 3, 2008 pukul 9:09 pm

    setajam silet, kang. hohoho…
    bukan gitu…cuma njaga supaya ndak tumpul aja kok. kalo diajak ngomong orang trus saya sampai gelagapan, itu pertanda saya masih harus banyak baca2 buku lagi. salah satu guna berdebat menurut saya ya buat parameter apakah saya sudah cukup baca buku atau masih harus terus nambah, kekekekekeke

  40. 41 daeng limpo Maret 3, 2008 pukul 9:42 pm

    @abdul somad
    tidur….? tengkurep atau telentang pak Somad?

  41. 42 stey Maret 4, 2008 pukul 10:38 am

    Bukannya ga suka berdiskusi tapi saya emang dari dulu males berdebat..hehehe..

  42. 43 abah dedhot Maret 4, 2008 pukul 11:05 pm

    @mas dana
    wah… bagus itu mas… setelah perdebatan diri hilang, semua jadi terang benderang, ngga ada yang tersamar… damai dihati… (pasti damai di bumi)… selamat…!!! menjadi warga alam hening :lol:
    salam

  43. 44 hanum Maret 5, 2008 pukul 12:44 am

    ego,
    pendapat diri,
    menjadi tuhan,
    benar,
    pembenaran,
    kebenaran,
    berdebat,
    perdebatan diri,

    hihihi… masih suka berdebat Bang?
    Ayo semangat…

  44. 45 rajasimarmata Maret 6, 2008 pukul 2:52 pm

    numpang berita ya ………!!

    Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen Cornel Simbolon menyatakan keprihatinan yang mendalam, karena ratusan meter hutan perawan di Tele, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, telah ditebas habis baru-baru ini. Selain mencemaskan resiko bencana longsor, apabila areal hutan seluas 2.250 hektar di daerah itu habis dibabat, Cornel juga mensinyalir bahwa investor cuma ingin menyikat kayu disana.

    Hal itu dikemukakan jenderal kelahiran Pangururan, Samosir ini dalam acara diskusi TobaDream Dialogue, Sabtu sore 91/3) di TobaDream Cafe, Jakarta. Cornel hadir di sana sebagai peserta, sedangkangkan pembicara diskusi dengan tema “Penyelamatan Danau Toba : Difficuit but Possible“‘ itu adalah Cosmas Batubara dan Bungaran Saragih. Keduanya bekas menteri.

    Pernyataan keprihatinan itu dilontarkan Cornel Simbolon pada sesi tanya-jawab. Sebenarnya yang jadi sorotan saat itu adalah upaya penyelamatan Danau Toba, terutama dari aspek pariwisata dan lingkungan. Tapi Cornel tidak mengajukan pertanyaan, malah langsung meminta perhatian dan kepedulian hadirin terhadap pembabatan hutan ynag sedang berlangsung di Tele.

    “Memang benar seperti dikatakan Lae (Suhunan) Situmorang tadi, hutan di Tele sedang terancam sekarang ini.Tidak tanggung-tanggung, hutan yang akan ditebang di kawasan tangkapan air itu mencapai 2.260 hektar. Katanya mau dibuat kebun bunga. Katanya bunganya untuk diskspor,”papar jenderal yang cinta lingkungan itu.

    “Kita sangat prihatin karena ratusan meter hutan perawan di sana sudah dibabat habis, katanya buat jalan ke areal yang akan diubah jadi kebun bunga,’tambahnya.

    “Tele itu adalah daerah tangkapan air, dan seperti tadi dijelaskan Pak Bungaran, daerah itu sangat ringkih dan rawan longsor,”tutur Cornel sambil menegaskan,”Saya setuju dengan apa yang dikatakan Lae Situmorang, saya mengerti apa yang dikuatirkannya, bahwa besar kemungkinan rencana membuat kebun bunga di bekas areal hutan seluas 2.250 hektar itu hanya kedok. “

    Yang disitir Cornel adalah ucapan Suhunan Situmorang di awal acara, saat menyampaikan kata sambutan selaku Ketua Steering Commitee TobaDream Dialogue. Suhunan membeberkan kepada hadirin mengenai pembabatan hutan di Tele, termasuk sinyalemennya bahwa target utama investor PT EJS dari Korse adalah menyikat kayu di hutan alam itu.

    “Memang sudah banyak kejadian seperti itu, “ujar Wakasad Cornel Simbolon. “Hutan dibabat, katanya mau buat kebun kelapa sawit atau kebun bunga. Tapi, setelah hutan dibabat dan kayunya dijual, investornya kabur. Makanya kita harus cermati terus perkembangan di Tele ini. Itu adalah daerah tangkapan air, sebagian masih hutan perawan. Kenapa itu harus dibabat ?”

    “Makanya kita harus selamatkan hutan Tele. Kalau perlu kita panggil Bupati Samosir Mangindar Simbolon ke Jakarta, untuk menjelaskan kebijakannya membabat hutan perawan di sana, “tegas putra Samosir yang kenal liku-liku kawasan Tele itu.

    Hutan lindung

    Letjen Cornel Simbolon, yang bicara berdasarkan hasil pengecekan terbaru di lapangan, dengan blak-blakan menyatakan kurang yakin mengenai kelayakan investasi kebun bunga di Tele. “Mau diangkut pakai apa bunga-bunga itu ke Medan ? Dan kalaupun bisa, biaya transportasinya pasti sangat mahal. Pokoknya sangat meragukan, sehingga lebih masuk akal kalau investor hanya mengincar kayunya,”ujarnya.

    Menurut Cornel, selain penyelamatan hutan Tele, agenda sangat penting yang harus segera dilakukan adalah menentukan peta hutan di Samosir. “Perlu segera dilakukan maping untuk menetapkan yang mana hutan lindung, yang mana hutan ulayat. Di Samosir belum jelas maping seperti itu.”tandasnya.

    Dalam kesempatan itu Cornel Simbolon menyatakan sangat menghargai dan mendukung program konservasi yang akan dikerjakan Komunitas TobaDream. Besok pagi (9/2) rombongan Komunitas TobaDream akan terbang ke Medan, untuk selanjutnya pada Senin 3 Maret 2008, tepat pukul 3, akan menanam pohon pada areal seluas 2 hektar di desa Martoba , Kecamatan Sidihoni, Kabupaten Samosir.

    “Sangat saya hargai dan dukung program penanaman pohon yang akan dilaksanakan Komunitas TobaDream. Tapi perlu saya pesankan, kalian harus pentingkan untuk menjalin kerjasama dengan penduduk setempat. Jangan asal nanam pohon, tapi penduduk di sana hanya jadi penonton, akan sia-sia,”kata Cornel.

  45. 46 razuka Mei 13, 2008 pukul 1:23 pm

    bicara hening mah rani juga udeh hening
    damai dalam ” berlima “

  46. 47 Faubell Mei 13, 2008 pukul 3:15 pm

    @razuka

    he..he..
    Maksudnya?. Sedulur papat, lima pancer, ya?.
    Kalima Sada nya gimana?

    Salam kenal.

  47. 48 danalingga Mei 13, 2008 pukul 5:54 pm

    *duduk menunggu penjelasan*

  48. 49 erickningrat Februari 4, 2009 pukul 2:04 pm

    wah saat ini saia lagi off untuk debat2 di forum semacam blog pengen nyante aja dulu…. :mrgreen:


  1. 1 IQRO’ Pembacaan Muhammad Atas Tuhan « Mata Air Lacak balik pada Maret 8, 2008 pukul 6:58 am

Tinggalkan Balasan




Menyiasati Jalan Hidup

AKU

Bermakna

Tanah Karo Simalem

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

counter

AddThis Social Bookmark Button