Titik nadir itu akhirnya menyapaku juga. Dan tampaknya api sudah tidak membakar, hujan sudah tidak membasahi, rasa telah membeku. Huruf-huruf tidak menari lagi, hanya diam menunggu inspirasi yang sudah terlupakan. Ada yang tertinggal sedikit, rasa muak memenuhi relung-relung yang kering-kerontang.
Mentari sudah tidak terlihat lagi, telah hilang lama sekali. Hanya pekat malamlah yang tersadari, dalam kesendirian jiwa. Meratap bersama lolong serigala, yang menangisi jiwa malang. Dan kata tetap membeku, sang anginpun berdesir tanpa suara. Hitam pekat semakin mewarnai jiwa, mendekam dalam kelam.
Kalut pun meraja, memakan asa yang tersisa sedikit. Perjuangan tampaknya tinggal kata-kata tanpa makna, dan hidup semakin nisbi. Mati tampaknya semakin nyata, merayu jiwa yang sekarat. Bunuh diri benderang menjadi jalan terang, di kebuntuan yang mengurung tanpa belas kasihan. Tanpa terlihat apa-apa lagi, seakan telah buta tanpa peringatan.
Jiwa terus berjuang, mencari di setiap pelosok relung relung yang bahkan tak tergapai. Sebuah alasan untuk meneruskan hidup, ketika jenuh telah nyata-nyata mengambil alih. Apakah memang sudah saatnya mati? Ketika hidup semakin kehilangan makna, hanya sisa-sisa kesadaran yang menunda. Yah, setitik kesadaran yang masih berusaha mencari alasan untuk hidup. Setitik yang semakin memudar ditelan hitamnya keputus-asaan.
Jenuh tampaknya akan membunuh lagi. Ataukah kesendirian akan menemukan jalan untuk mengatasinya?



khulwah! uzlah!
I’m back!!!
Makasih buat yang dah baca dan dah komen disini.
mual pusing jenuh, kering, gelap itu karena pikiran terforsir, muka kebanyakan kena radiasi monitor, kebanyakan minum kopi, kurang kalori( nasi, ketela pohon dll).
jenuh jenuh jenuh dan jenuh…kayak komentare ivan gunawan dalam super mama indosiar aja.
Lha aku apa harus eyel-eyelan sama mas santri gundul po?