
Terus terang saja pertanyaan ini sudah lama ada dikepala. Pertanyaan ini pertama kali muncul dulu ketika membaca sebuah debat di forum Myquran antara dua kubu. Kubu pertama adalah orang-orang yang tampak sangat putus asa terhadap hadist-hadist, sehingga mempunyai pemikiran untuk meninggalkannya saja dan kemudian hanya menggunakan AQ. Nah , kubu kedua adalah orang-orang yang sangat menentang pemahaman demikian, karena menganggap tanpa penjelas (hadist-hadist tersebut) maka mustahil mengetahui apa yang dimaksud dengan ayat-ayat dalam AQ.
Perdebatan tersebut memang sangat seru, dan saya terpesona melihat argumentasi kedua belah pihak. Sungguh hebat mengutip ayat-ayat, hadist, maupun pendapat para ulama dalam usaha membenarkan kubu mereka. Terus terang, disitulah saya makin paham bahwa ternyata dalil-dalil yang sama, bisa dipakai dalam membenarkan pendapat yang bertolak belakang. Tergantung kepentingan si pemakai dalil. Makasih banyak kepada kedua kubu yang bertikai. Sehingga saya mendapat pencerahan dalam memahami penggunaan dalil-dalil demi membenarkan pendapat saya.
Sungguh memang dahsyat perdebatan kedua kubu tersebut. Hingga pada suatu titik kedua kubu membahas mengenai shalat. Lebih tepatnya sih mengenai gerakan shalat. Nah, pembahasan inilah yang menimbulkan pertanyaan dalam diri saya. Apa memang benar bahwa gerakan shalat adalah seperti orang banyak lakukan sekarang ini? Atau itu hanya karena kesepakatan kaum mayoritas saja ? Atau ditetapkan kaum penguasa jaman dulu, dan yang berbeda tidak diberi ruang untuk tumbuh? Sebuah penyeragamaan mungkin?
Pertanyaan tersebut muncul disebabkan ada argumen (pertanyaan?) dari kubu pertama yang sepertinya belum terjawab dengan telak sampai saat ini, yakni:
Jika memang gerakan sholat sekarang adalah sama dengan perintah Tuhan kepada nabi Muhammad , kenapa tidak dituliskan dalam AQ? Padahal kan hal mengenai sholat ini sangat penting.
Kenapa tidak ada satupun hadist yang memuat bagaimana gerakan sholat ini dari awal sampai akhir? Hanya ada sepotong-sepotong saja dalam berbagai hadist.
Kubu kedua sih telah mencoba menjelaskan. Tapi terus terang penjelasan mereka belum cukup memuaskan. Hingga sampai sekarang belum bisa menghilangkan rasa penasaran saya. Nah , daripada saya nanti terus penasaran, maka lebih baik saya buka saja di blog ini. Kali saja menemukan jawaban yang lebih memuaskan.
Maka para pembaca, jangan malu-malu, kemukakan saja pendapat anda mengenai argumen kubu pertama yang saya kutipkan di atas. Bantulah saya menghilangkan rasa penasaran ini.
Inspirasi dari :
Gambar diambil dari sini



Sholat yang penting pertama itu “niat”, kalo memang ada kesalahan dalam gerakan dan pengucapan (asal kaga parah kaya “ada tuhan yang lain”)itu masih bisa dimaafkan. Katanya Tuhan Maha Pemaaf ?
tapi itu pemikiran gue aja loh, kalo mau beragumen lain silahken asal jangan di pukul gue ;D
jadi gimana, apakah sholat itu equal dengan “ritual sholat” ??
nambah,
mana yang lebih mending,
melakukan sholat tanpa kenal esensi sholat ??
atau tidak melakukan sholat juga tidak kenal esensi sholat ??
Lebih mending orang yang melaksanakan esensi sholat. Selain itu nggak ada yang mendingan.
hahaha … betul betul …
karena memang dunia ini hanya ada hitam dan putih *manggut-manggut*
mas dana
masih ada tempat ga buat rani
Sebelum engkau sholat..
Matilah dahulu..,sehingga engkau dapat merasakan
sholat dalam kematian
itulah yang sebenar benarnya sholat
itupun bagi yang faham
lalu yan tidak faham bagaimana???
ya..ya..belajar dahulu lah
sebelum engkau disholatkan dalam kematian
KEMATIAN = mati boong boongan
MATI = ditinggalkan oleh sang Hidup
…….cape’ deh mikirnya
sholat, yang di qur’an cuma disebut shola tanpa t, seperti terjemahan di sini, arti harfiahnya dalam bahasa indonesia katanya, komitmen, hubungan yg kuat, spt itulah.
Kalo kita mati yg pertama dihizab katanya sholat kita dulu, kalo maksudnya ritual sholat spt saat ini, tentu gak terlalu masalah kan kalo kita jahat, asal ritual solat tetap jalan, perbuatan apapun akan jadi baik kalo sholat kita baik? tp jd bingung jg..
Aaamiiiin… *eh udah belom ya?*
assalamu’alaikum…
Hdp ini adlh utk beribadah.jika kita msh tertanya2 ttg cara sholat yg benar itu bgmn,sebab itu kita dianjurkan utk belajar ilmu agama.agar kita tdk sesat didunia dan diakhirat.amin.wassalam
@dewi eygi twina
beribadah itu apa ?? melakukan ritual-ritual khusus itu ??
seorang “ahli agama”, biasanya anti banget dengan yang namanya sekuler … meski (mungkin) tidak sadar bahwa dirinyalah sebenarnya salah satu pelaku/pengikut sekulerisme itu.
::watonist, he..he… koq mekso…apapun makanannya minumnya…, selalu ada hasil dari jerih payah…biar dikit namun ada hasilnyakan…biarlah sepanjang ada khabar, lambat laun setelah cermin mulai cerah, maka gambar akan nampak juga…nah berita-berita ini telah sampai, seperti kilat dan guruhnya…meski kilat sudah menampakkan diri sebelumnya, suaranya baru didengar berikutnya, maka tersadar orang, dan berkata…ooohh…yang tadi itu kilat..ya.., alhamdulillah berarti mau turun hujan, sudah lama bumi ini kering, biar tanaman akan tumbuh kembali, rumput menghujau sebagai makanan ternak, ada buah-buahan yang banyak, yang beraneka dan ranum-ranum…sayangnya gaya bahasa majas, dikira hanya untuk membuat pantun, sajak, gurindam dan prosa saja…., sedangkan AQ tak menggunakan gaya bahasa…
@zal
ee … iya juga mas,
ndak terasa juga sih, memang lagi agak sukar dikendalikan.
Ass.wr.wb
Mungkin apa yang saya kemukakan ini dapat sedikit membuka pemahaman kita semua tentang agama(aturan),shalat dsb.
Segala hal tentang nilai-nilai agama, qur’an & hadits, juga argumen & fatwa-fatwa ulama, bila masih dijadikan polemik dan perdebatan, itu menandakan bahwa orang-orang tsb masih dalam keadaan maaf bodoh & sombong, karena mereka hanya menggunakan otak-fikiran(terutama otak kiri yang selalu menginginkan hal yang kongkrit & matematis), sehingga perdebatan itu tidaklah akan menghasilkan pembenaran yang hakiki, kecuali kekalahan & kemenangan dalam adu kepandaian otak.
Rasulullah saw pernah marah besar ketika agama dijadikan perdebatan, beliau bersabda “Aku diturunkan kebumi bukanlah untuk memperdebatkan dan perdebatan”.
Beliau bersabda al bahwa :
” Aku diturunkan kebumi untuk memperbaiki keluhuran akhlaq manusia”
” Aku diturunkan ke bumi untuk melengkapi ajaran para Nabi sebelumku, ibaratnya sebuah bangunan kokoh dan megah aku melengkapinya dengan sebuah bata pada dinding yang masih kosong”
Islam bukanlah risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw saja, tetapi ajaran dari Nabi-nabi sebelumnya, sebagai mana pada QS:2
“Orang orang yang bertaqwa adalah mereka yang percaya (beriman) kepada perkara yang telah diturunkan kepadamu Muhammad, dan perkara yang dirutunkan sebelum mu Muhammad, dan kepada hari akhir mereka meyakininya, itulah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan”.
Maka selama ayat & hadits masih diperdebatkan dengan fikiran maka hal itu menandakan orang-orang yang lemah aqalnya dan terhambat perkembangan jiwanya, karena merasa benar & paling benar, sedangkan kebenaran Al-qur’an & hadits bukan dan tidaklah menurut mendapatnya saja, masih banyak kebenaran lainnya yang perlu dipertimbangkan dengan arif dan bijaksana, yaitu kebenaran Yang Maha Benar(hakiki), yang hanya dapat diakses oleh kebersihan & kesucian hati(hatinurani), sesuai dengan petunjuk & pertolonganNya(taufik hidayah).
Tentang shalat, Rasulullah hanya mencontohkan dengan gerakan dan bacaan, dalam tiap kesempatan kepada para sahabatnya pada waktu-waktu yang berbeda beliau mencontohkan shalatnya, hingga Rsulullah saw bersabda ” lihatlah ..inilah shalatku yang paling benar”, maka tiap gerakan & bacaan shalat itu selanjutnya ditiru oleh para sahabat, dan dijelaskan dengan detail oleh para sahabat, tabiin, it tabi’in, ulama dst oleh para warisatul anbiya, hingga tertuang dalam kitab-kitab fikih tentang tata cara shalat.
Adapun shalat itu terbagi atas beberapa poko, yakni,
- Asholatu imaddudin (shalat adalah menegakan agamanya), yakni shalat adalah tiangnya agama, yaitu suatu pekerjaan lahir & bathin dengan gerakan fisik, dengan waktu-waktu yang telah ditentukan.
- Asholatu adzikri (shalat adalah memelihara ingatnnya kepada Tuhan) baik dengan fikiran & hatinya setiap saat, bahkan pada tiap tarikan nafas, tidak terikat oleh gerakan & waktu.
- Asholatu mi’rajul mu’min( shalat adalah naiknya seorang mu’min bertemnu dengan Tuhannya), yakni bahwa ibadah yang tanpa hijab(penghalang) dengan Tuhannya adalah pada saat shalat.
Pada shalat inilah puncak dari pengabdian seorang hamba dengan penciptanya sebagai mana peristiwa israa mi’raj Rasulullah saw pada 27 rajab. Disebutkan bahwa shalat berjamaah berpahala 27 derajat, yakni berjamaahnya jasmani dan ruhani(bersatunya fikiran & hati) masuk dalam orbit Tuhan dan berjumpa dengan Nya.
Sahalat(sholu) artinya do’a, tidak terbatas pada waktu dan gerakan saja, pada intinya shalat adalah pertemuan antara hamba dengan Tuhannya, karena manusia telah berjanji(bersyahadat) kepada Tuhannya sewaktu di alam Ruh(Qs. Al-Araf), dengan sifat manusia yang penuh dengan kelemahan kebodohan dan kehinaan, maka mannusia diwajibkan menuntut ilmu untuk belajar dan menemukan serta mengetahui untuk meyakini tentang Tuhannya. Karena manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi kepada Tuhan(koskwensi dari innalillahi wa inna ilaihi rojiuun).
Maka dalam hal ini belajar, mempelajari, dan mengetahui serta meyakinini Tuhan dalam menempuh perjalanan & pengabdian hidup(ibadah),adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan haq kewajibannya seluruh manusia sesuai fitrah nya.
Sudah merupakan kewajaran(biasa),dan bukan hal yang aneh dan istimewa apalagi hebat, bila manusia mampu, pandai dan cerdas dalam beribadah dan beragama hingga mampu bertemu dengan Tuhannya lewat shalatnya. Sebab Tuhanlah yang akan membantu dan memberi kekuatan untuk hal tsb, bukan dengan kekuatan dan kepandaian serta kehebatan manusia untuk bertemu dengan Tuhan.
Justru dihadapan Tuhan :
-dengan merasa bodoh Tuhan akan berikan kepandaian
-dengan kesederhanaan Tuhan akan berikan kecerdasan
-dengan merasa miskin Tuhan akan berikan kekayaan
dan kekayaan yang abadi adalah merasa memiliki Tuhan.
-dengan merasa hina Tuhan akan memuliakan
Sebagai mana Rasulullah yang umi(merasa bodoh, tidak dapat baca tulis), namun Rsulullah berakhlaq mulia, dan terpercaya(Al-Amin), tidak pernah sombong angkuh dan berdebat, dikagumi dan dihormati seluruh makhluk jagat raya, termasuk oleh para musuhnya).
Pearsaan ragu dan penasaran serta cemas, adalah manusiawi, karena pengaruh fikiran hingga ke-hati, dan itu semua adalah sebuah halangan syetan & tantangan orang yang ber-iman, tanpa ujian itu semua mustahil manusia akan berkualitas.
Tips nya adalah, yakinilah sekemampuan kita adanya, lalu kerjakanlah(amalkanlah) secara rutin & terus menerus, kelak dalam proses tsb kita akan menemukan kebenaran atas petunjuk Nya, karena kata kuncinya adalah “TUNDUK PATUH TANPA BERTANYA”,
itulah Iman(percaya), diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, diperbuat(diamalkan) dengan anggota badan.
Insyaallah, perbuatan(pengamalan) dengan ikhlash & sungguh-sungguh tanpa ragu, yakin dan itu pasti ada hasilnya. Sebab dengan demikian cahaya illahi akan terpancar dari dalam hati, dan Allah akan bertajali pada hambaNya yang sholeh untuk menampakan keagungan-Nya sepertihalnya Rasulullah saw bagai Alqur’an yang berjalan(kalam hidup).
Hindari segala hal yang menjurus kepada perdebatan tentang agama, karena hal itu hanya akan membuat agama terpecah belah dalam kelompok, golongan, firqah-firqah dll.
Setiap kelompok akan merasa paling banar atas hujahnya, karena cara pandang yang berbeda, disebabkan lemahnya ilmu & aqal, kita tidak menyadari bahwa dalam perdebatan itu kita telah dihinggapi sifat iblis dengan merasa paling banar.
Dan agama itu akan menjadi rusak karena pedebatan & perpecahan.
Agama tanpa ilmu akan kacau, dan ilmu tanpa agama akan rusak.
Lihatlah buktinya dikehidupan saat ini, selama agama & ilmu tidak saling mendukung maka rusaklah & kacau kehidupan manusia.
Berapa banyak orang-orang yang bersyahadat, yang shalat, yang puasa, yang zakat, yang haji. Dan berapa banyak ustad kiyai, ulama, tapi kehidupan makin kacau dan terpuruk.
Karena agama hanya dijadikan ceremonial, dan dimomor duakan dalam kahidupan oleh kekuatan fikiran manusia.
Tapi lihatlah kaum-kaum yang mamahami agama dengan kekuatan hatinya, baik kaum kebathinan, kaum sufi, yang selalu memelihara ketauhidan & akhlaq prilaku yang luhur, apakah mereka pernah berdebat & bertengkar ???. Itu semua karena mereka melihat & mendengan dengan hatinya.
Allah berfirman :” Yang tuli bukanlah telinganya tapi hatinya, yang buta bukanlah matanya tapi hatinya”
“maka yang buta terhadapKu didunia, kelak akan lebih buta terhadap Ku diakhirat”.
Orang-orang yang bekerja dengan hatinya akan mampu mengukur dirinya dan orang lain, sehinggaz mereka mampu intropeksi diri dan tenggang rasa.
Orang yang bekerja dengan fikirannya tidak bisa mengukur dirinya, dan hanya mampu mengukur orang lain dengan prasangka dan keraguannya.
Maka orang -orang yang beragama dengan fikirannya saja tanpa hatinya, akan banyak benturan dan perbedaan faham, saling fitnah, dan buruk sangka, serta menghakimi orang dengan, bid’ah, kafir, musyrik, munafik, tanpa tahu bid’ah nya, kafirnya, musyriknya, munafiknya diri sendiri.
Tuhan berfirman dalam Qs.2 :
“bila kamu manganggap bahwa kampung akhirat itu hanyalah milikmu, maka mintalah kematianmu saat ini juga”.
Nah sesungguhnya orang-orang yang berdebat & merasa paling benar dalam hal agamanya, sesungguhnya mereka belum mencapai, bahkan tidak akan mampu mencapai terhadap apa yang diperdebatkannya tsb ,demikan Allah berfirman.
wabillahit taufik walhidayah,
billahi fii sabillilhaq,
wa astaghfirullahu lii walakum.
Wassalam,
makasih mas … mbak … oomm tante … siapapun anda dan penyedia blog terima kasih banyak atas ilmuna … sudah dishare untuk orang² bodoh seperti saya ini yang baru tau tentang apa itu agama, sholat dan bagaimana harus bersikap …
ini ada keterangan
-”sholatlah seperti aku sholat sesungguhnya sholatku tak berkeputusan”
-”Sholat itu bermunajat dengan tuhannya”
-”Sholat itu berdialog/bercakap cakap dengan tuhannya”
….” menurut saya anda sudah sholat”……