Pertanyaan ini sering ditanyakan dalam posting-posting yang membahas agama. Apalagi jika komen-komen di posting tersebut menjadi ajang “perang” antar pemeluk agama yang berbeda. Sebuah pertanyaan yang mengusik ego saya :
Kenapa sih membahas agama, mendingan membahas hal lain yang lebih berguna misalnya tentang kebijakan pemerintah, sosial. Pokoknya jangan tentang agama yang sangat sensitif itu.
Hem… terus terang ego saya menjadi tersakiti oleh komentar begitu, sebab secara tidak langsung seolah menampar saya. Postingan saya kan banyak tentang agama, jadinya selama ini saya memosting yang agak tidak berguna dunk?
Maka oleh sebab itu , demi membela ego saya maka akan saya buat semacam pembelaan pembenaran bahwa membahas tentang agama itu perlu. Adapun alasan-alasannya adalah :
- Jika tidak ada lagi yang berani membahas agama, lantas bagaimana mau belajarnya?
- Bahwa agama itu hanyalah sebuah ilmu tidak lebih tidak kurang, jadi sah-sah saja dibahas. Dan semoga dengan di bahas maka akan semakin dimengerti
- Dengan semakin seringnya agama di bahas, maka tentu diharapkan orang-orang yang ikut serta membahas dan membaca menjadi terbiasa. Sehingga pada suatu saat lagi bukan menjadi hal yang sensitif, sehingga tidak akan ada lagi “perang” yang di sebabkan ketersinggungan karena masalah agama.
- Agama perlu di bahas karena pemahaman terhadap agama itu akan selalu berkembang sesuai konteks jaman. Jadi tidak benar itu yang mengatakan kembalikan kepada pemahaman jaman dulu, jadinya malah menciptakan ketidakmanfaatan untuk konteks jaman kita. Nah dari pembahasan itu diharapkan pencerahaan bagaimana sebaiknya mengamalkan agama dalam konteks kekinian.
- Mungkin pada awalnya memang akan terjadi “perang” dalam pembahasaan agama itu. Tapi itu karena kita masih kaget, dan belum dewasa saja menikmati wacana soal agama ini. Diharapkan semakin sering ikut serta dalam pembahasan wacana agama, maka akan semakin terbiasa dan akhirnya bisa semakin dewasa dalam mensikapinya. Akhirnya tidak bereaksi seperti anak-anak yang merasa terganggu akan miliknya.
- Bahwa agama itu bukanlah monopoli dari petinggi agama, sehingga setiap orang tentu berhak membahasnya.
- Membahas agama dapat meningkatkan pemahaman akan sebuah agama. Setidaknya dapat memicu untuk lebih mempelajari agama lagi.
- Bahwa yang paling ahli agama untuk diri sendiri adalah diri sendiri, bukan orang lain. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Soalnya agama memang sebuah ilmu yang di peruntukkan bagi pribadi-pribadi.
- Bisa sebagai penumpahan uneg-uneg dan membuat melihat dari perspektif lain. by nurma
- perlu karena membahas mengenai hubungan antar manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. by Ram Ram
- Karena agama merupakan hal paling esensial dalam hidup, jadi tentu perlu dibahas. Agar bisa dikritisi. by esensi
- Agar bisa menjadi Haqqul Yakin yakni yakin yang sebenar-benarnya. by rashia99
Nah, semoga alasan-alasan tersebut dapat berguna bagi orang-orang yang ingin membahas agama. Dan yang ragu-ragu akhirnya menetapkan hati untuk membahas tentang agama. Mari ramaikan blogsphere ini dengan tulisan berbau agama.
Oh , iya jika kamu punya alasan untuk mendukung pembahasan mengenai agama di tuliskan saja di komentar. Entar bakalan aku update ke postingan.



Saran saya lihat di link yang saya berikan jauh sebelum komen ini. Ada alasan dibalik penyebutan semua agama itu benar. Dan alasannyapun saya lihat tidak menyalahkan AQ. Anda udah liat belum sih? Lihat dulu deh sebelum menuduh. Tapi kenapa sih anda bersikeras membahasnya dipostingan ini?
saya berikan linknya kembali, silahkan mampir:
http://danalingga.wordpress.com/2007/08/08/ternyata-semua-agama-sama/
Yah, kan berarti maksud kita dah sama lalu kenapa di komen sebelumnya anda menuduh saya membiarkan saudara saya yang tersesat seolah tanpa usaha menyadarkannaya?
Jadi intinya anda juga setuju kan tidak boleh memaksa, tapi hanya menasehatinya saja. Nah soal dia menerima nasehat atau tidak itu kan terserah dia.
Sepertinya terpaksa saya kutip sedikit ayat:
Inilah dasar sikap “terserah” saya itu.
6.
Mengenal Allah dari Allah dunk. Dah jelas kan?
Oh iya, Islam dalam pengertian saya dengan Islam pengertian sodara kan dah berbeda. Jadi ya nggak nyambung.
Coba menurutmu seseorang yang mengikuti ajaran nabi Isa tanpa melenceng itu layak disebut telah Islam tidak? Jelas orang tersebut tidak berlabel agama Islam.
8.
Saya tidak paranoid dengan gelar petinggi agama itu mas. Tapi saya paranoid jika anda hanya melihat gelar lantas langsung yakin bahwa beliau itu layak disebut sebagai “ahli agama” itu saja. Jadi orang biasapun, yang tidak bergelar kyiai, dll lagi gelar petinggi agama bisa saja telah mengenal Allah. Seperti yang saya bilang syaratnya adalah harus mengenal Allah. Mau dia kyiai atau bukan. Nggak rumit kan?
Ok, itu pendapat anda. Tapi jika diijinkan memberikan satu contoh bahwa yang terlihat berlawanan itu ternyata tidak berlawanan silahkan berkunjung ke artikel saya yang ini:
http://danalingga.wordpress.com/2007/06/16/hanya-agamaku-yang-benar/
Tapi ya itu hanya sebuah contoh saja. Nggak mesti percaya sih.
sip dah. btw, seperti tadi. cara pandang sudah berbeda.
terimakasih diskusinya.
saya menemukan semangat luar biasa untuk memperkokoh akidah saya
salam hormat
http://arifrahmanlubis.wordpress.com/
Ok. Makasih kembali.
he. kelupaan. saya mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaan.
btw, diskusi kita di blog anda ini saya masukkan ke blog saya ya. nuhun
@arifrahmanlubis
Anda mengatakan
“kalau agama kan mutlak perlu bagi semua orang. dan mutlak ada pembalasan yang mengikat.”
Pertanyaan saya, bagaimana anda menjelaskan atheisme kalau begitu?
beda yg dipandang
beda yg diceritakan
ambillah shaf lalu luruskan
sehingga sejajar kaki dan bahu
berbicara cantik, lihatlah rupa
ber shaf rupa akan beda batas cantik
berbicara kaya, lihatlah kedudukan
berbeda syaf, akan beda batas kaya
jika membicarakan Islam dzohir
ambillah AQ dan Hadist, sebab inilah UU nya
Jika berbicara Islam batin
apapun yang dilihat, didengar, dibicarakan, dan dirasakan
itulah hamparannya, tak memerlukan kitab apapun atau siapapun
mengenal Tuhan
mengenallah bagaimana kebiasaanNYA
Mengenallah bagaimana gaya kalimahNYA
Mengenallah bagaimana gaya af’al – NYA
lalu bagaimana orang berseberangan menemukan titik temu
ambillah sebuah dasar yg sama, untuk bisa memahaminya
bak sebuah pengadilan, KUHPlah yang diungkapkan
sebab keduanya, dalam genggaman KUHP yg sama…
Padahal Islam dzohir juga merujuk Islam bhatin kan zal?
salah dan benar
positif dan negatif
dingin dan panas
hitam dan putih
semua nanti kan terlampaui juga
saat telah bersatu dengan sang asal.
::yupe Dan, rasanya faham dengan maksud Dana, namun Dan, sepertinya pijakanmu dengan pijakan arifrahmanlubis, berbeda tempat, meskipun intinya sama, namun pandangan pasti berbeda,
semua yang mulanya suci jika berada di dalam, akan menjadi najis setelah berada diluar, seperti tinja, urine, angin pada waktu didalam semuanya fine aja, begitu keluar maka sifatnya menjadi kotor, perlu di daur ulang dulu sebelum dimanfaatkan lagi, urine yang ternyata obat berbagai penyakit harus di daur ulang baru digunakan lagi, tinja sebagai penyubur, harus dipendam beberapa lama baru bisa digunakan, nafas yang keluar, harus di repro dulu oleh tumbuhan baru digunakan lagi…
bentuk-bentuk perumpamaan inilah yg kiranya sektor batin, tidak mudah terterjemahkan oleh sektor dzahir, sebab sesuatu yg suci, tidak dapat disatukan dengan sesuatu yang sudah terkontaminasi, seperti orang operasi semua peralatan harus di strerilkan dulu, baru digunakan jika tidak maka akan menimbulkan infeksi…demikian juga dengan kepemahaman maka sarana yg digunakan untuk menempatkan faham, harus bening, murni dan suci, maka hal yg terpandang menjadi benar dan jelas adanya..
Betul, saya juga paham itu. Makanya diskusi kami sudahi. Daripada nantinya kami ngolor-ngidul bikin sakit kepala .
iya ya.. kenapa gak boleh?
bahas tentang sex aja boleh kok ..
bahas tentang pembunuhan juga boleh..
yg gak boleh itu melakukan sex (yg tidak pada tempatnya)..
yg tidak boleh itu melakukan pembunuhan ..
yg tidak boleh itu beragama secara tidak benar..
kalo cuma bahas kiri bahas kanan ya gak popo dong..
ato ada yang merasa dilangkahi karena ada yang bahas agama?
wah kalo begitu minta maaf.. jangan buka blognya mas dana..
lebih baik bikin blog sendiri yang searah dan satu jalur. tutup jalur satunya sehingga semua pendapat berjalan beriringan. gak harus pake kacamata kuda kok. apalagi bilang sampeyan kuda.. enggak beneran enggak.
selamat beragama