Jenar sedang bingung bin heran. Dia bingung akan orang-orang yang saling menyerang ajaran agama orang lain. Penyerangan yang dilakukan dengan memakai ayat-ayat dari kitab suci yang diserang. “Apa mereka-mereka itu telah selesai mempelajari agamanya masing masing ya? Sehingga punya waktu untuk mempelajari agama orang lain. ” pikir Jenar.
Ya, Jenar tidak habis pikir. Wong dia saja sudah belajar agamanya dari lahir sampai sekarang ini sudah berumur 40 tahun masih merasa belum menguasai semuanya.
“Apa mungkin karena aku yang bodoh? Atau orang-orang itu kelewat pintar ya? ” Jenar resah akan kemungkinan bahwa dia terlalu bodoh untuk belajar agama. Tidak seperti para ahli itu yang bisa menamatkan ajaran agamanya di umur yang begitu muda. Sehingga punya waktu untuk mencari kelemahan agama orang lain.
“Ah… tapi sebenarnya untuk apa mencari kelemahan agama lain ya? Apa untuk menunjukkan kebenaran agama sendiri? ” tanya Jenar terus berlanjut.
“Hem… seharusnya kan kebenaran adalah kebenaran. Tidak perlu ada kesalahan yang membuat dia benar. Sebab jika tergantung kesalahan, maka tidak ada salah tidak ada benar dunk. Wah, bisa bubar kalo gitu. Tuhan tidak ada tanpa iblis nantinya. ” Sisi lain dari Jenar berusaha menjawab.
Jenar terus bermain dengan pikirannya. Sebuah keheranan akan orang-orang yang sangat pintar bisa menamatkan agamanya, sehingga bisa punya waktu untuk meneliti kesalahan agama orang lain.
Dan terlebih Jenar mengamati dirinya sendiri yang ternyata juga sangat senang mempelajari kitab orang lain. “Apa aku juga termasuk orang yang merasa telah menamatkan agama. Sehingga mempelajari kitab suci agama orang lain? ” pikirnya semakin runyam. Dia memang selama ini sangat suka menggali ajaran agama lain. Berusaha menemukan kebenaran di sana. Dan kini dengan adanya pikiran bahwa orang yang mempelajari agama lain seharusnya sudah menamatkan ajaran agamanya, maka otomatis menohok dirinya sendiri. Pikiranna semakin kalut.
Di puncak rasa kalut itulah, Jenar memutuskan untuk berhenti memikirkannya saja. Akhirnya Jenar benar-benar telah menyerah untuk memikirkannya. Daripada dia terus menerus memusingkannya, kan mendingan dilupakan saja. Dia mengambil sikap pasrah sajalah atas apa yang terjadi. Tidak ingin menilai mereka-mereka itu. Toh dari pengalaman bahwa ternyata ahkhir penilaian itu kembali kepada dirinya sendiri. Jenar berpikir, biarlah hidup berjalan apa adanya. Yang harus terjadi terjadilah.
Kemudian, dalam kepasrahannya itu . Tiba-tiba terngiang petuah dari salah satu gurunya:
Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kebenaran maka kebenaranlah yang akan kau temukan. Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kesalahan maka kesalahanlah yang kau temukan.
Senyum mengembang di bibir Jenar. Matanya berbinar, air mukanya yang tadi keruh menjadi tenang kembali. Memancarkan pemahaman. Lalu digoreskannya pena di buku renungannya:
Mempelajari kitab suci agama lain dengan tujuan menemukan kebenaran, dapat membuka pintu kebenaran di kitab suci agama sendiri.
Jenar pun sujud sukur. Berterimakasih pada Dia yang Maha Mengilhami.
Ah, Jenar boleh terbenam dalam eforianya. Tapi semua itu harus dibuktikan dalam kenyataan. Tidak berhenti hanya sebatas teori di buku renungan saja.



jadi maksudnya gini ya kang (ceritanya kan jenar sudah dewasa
), “yang jadi masalah itu bukan apa yang kita pelajari, tetapi pada kondisi jiwa kita sendiri, apakah kita perlu ngasorake liyan (merendahkan orang lain) untuk memperoleh kemenangan ??”
*ikut ber-euforia*
horee … akhirnya pertamax !!! *jingkrak-jingkrak dengan lebih semangat*
assalamualaikum..
*sok tahu mode:on*
ketika kita menemukan kebenaran yg hakiki maka tertampaklah kesalahan2 yg hakiki pula..
tapi beda dgn kebenaran yg relatif yg tidak akan menampakan kesalahan..
hemm..
pagi-pagi udah ngaco saya..
Maaf saya bukannya penentang agama *agama bukan sebagai kelembagaan* meski postingan saya sering dibaca ekstrim
bagi saya agama adalah ’ageming aji (budi pekerti luhur) kang tuwuh saka ing kalbu (tumbuh dalam kalbu) kang mahanani pranatan, kasusilan saha kabudayan (berimplementasi dalam aturan hidup, kesusilaan & kebudayaan manusia)
Jadi agama sejatinya adalah pemaknaan hidup manusia di dunia ini yang akan terus bertumbuh & mendewasa sepanjang perjalanan hidupnya. Agama disini sebagai ranah privat yang menentukan kualitas pribadi, mengatur hubngannya dg sesama, alam & tuhan. Namun saat agama ditarik menjadi ranah publik, ia tak bisa melepaskan diri dari jerat kepentingan manusia *keluh*
Andai kita mau kembali kepada kesejatian diri bahwa kita tercipta sama melalui bapa ibu & bahwa saat itu *bahkan sampai nanti keliang lahat* kita tak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain mungkin *sekali lagi mungkin* kita sungguh akan menemukan sejatinya agama sebagai ’ageming aji’ (pakaian SANG HIDUP)
Selama kita terus mencari pembenaran diri *bukan kebenaran* dengan berkedok tuhan ya kita akan seperti ’orang2 pintar’ yang ternyata saat KEBENARAN SEJATI sungguh dinyatakan dalam hidup mereka, mereka akan ’semaya’ mengelak untuk merengkuhnya karena ’konflik kepentingan’ diri sendiri
Juga saat agama ditarik keluar menjadi ranah publik maka manusiapun menjadi ’komoditi’
http://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/12/07/kamu-cuma-komoditi/
mungkin udah kepinteren kali bos… jadi mempelajari agama laen
Astagfirullah…
Ampunilah kami yang hanya bisa mencari-cari kesalahan orang lain, dan mencari-cari pembenaran atas apa yang kami yakini.
Astaghfirullah…..
Wahhh kalau begitu kesimpulannya jadi gini:
ternyata aku (jenar) yang paling pintar merenung!
betul kagak?
kagak ya?
ya gak papa lah…
Jenar mungkin ingin mengetahui reaksi Tuhan di atas sana, ketika melihat orang saling menyerang dan berbunuh atas namaNya.
jenar itu ceritanya kamu ya dan?
@cK
Sama, saya juga binggung, jenar itu mas danna yah?
salam kenal akh,,, blog nya seru euy,,,,
Coba ganti kata ‘kitab suci agama lain’dengan kata ‘kitab suci agama sendiri’ jadi lucu makna kalimatnya.
Mempelajari kitab suci agama sendiri untuk menemukan kebenaran maka kebenaranlah yang akan kau temukan. Mempelajari kitab suci agama sendiri untuk menemukan kesalahan maka kesalahanlah yang kau temukan.
Kalau begitu Mendingan tiap-tiap orang bertujuan menemukan kesalahan saja, ketika mempelajari kitab suci agamanya masing-masing. biar apa? ya biar ketemu kesalahan-kesalahan itu. Nah, kalau ternyata kitab itu nyata salahnya kan ga perlu dipatuhi.
Akhirnya jadi sesuatu yang lucu…
ketika kebenaran
ditempatkantergantung padatujuan awal/niat/sudut pandang atau apalah namanya (mengatasnamakan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan).Kebenaran jadi relatif sangadh, ketika tergantung pada hal-hal serupa itu.
Bukankah, ia (Jenar), pernah bercerita,
“Hem… seharusnya kan kebenaran adalah kebenaran.[...dsb].
Jenar… jenar…
tampaknya aku sepakat dengan komen Mas Suluh di atas.
@watonist
Selamat ber-euforia.
*ngeliatin kang waton yang jingkrak-jingkrak*
@syahbal
Lah, saya malah lebih kaco lagi.
@tomy
Eh, tapi untuk ke kesejatian itu harus lewat agama atau bagaimana?
Terus kira-kira perlu dengan menyalahkan dulu agama lain?
@ario dipoyono
Mungkin saja.
@daeng limpo
Amin.
@Suluh
Mungkin kamu memang benar.
@iman brotoseno
Mungkin sekali memang begitu. Jenar sangat penasaran apa Tuhan di sana akan kegirangan atau malah sedih?
@cK & Rindu
Bukan chik. Ini kan cerpen.
@Mahasiswa Untuk bangsa
Salam kenal.
@norie
Yang lucu itu kok malah nyari kesalahan sih? Buat apa?
Btw, coba baca lebih teliti lagi dengan kepala dingin:
Arti dari quote tersebut adalah kebenaran akan kau temukan jika yang kau cari kebenaran. Jadi kebenaran tidak akan ketemu kalau yang kau cari kesalahan. Sedangkan kebenaran itu ya tidak berubah, atau tergantung pada apapun. Hanya saja bisa tidak ditemukan, tergantung niatnya. Dah mudeng kan?
Jenar Pintar
dan mariah kita jadi orang-orang bodoh, trus kita lebih banyak belajar memperbaiki diri dengan mendalami agama kita
mungkin karna sudah menamatkan agamanya, mencari kesalahan orang lain eh..gk taunya nemu kesalahan sendiri
@achoey sang khilaf
Jenar emang pinter banget tuh . Tau dia makan apa maka bisa begitu.
Tapi orang pintar yang merasa bodoh biasanya dahsyat, soale bakal terus belajar tanpa kenal lelah. Bayangkan bagaimana pintarnya dia kemudian.
@parda
Mungkin di sini letak inti yang disadari Jenar. Bahwa kitab suci itu (agama?) hanyalah sebuah cermin petunjuk, bukan kebenaran itu sendiri.
saya mau tanya dulu nih Mas, kira2 saat Nabi Muhammad nikah dulu beliau baca sahadatnya seperti apa? lalu arti agama sendiri itu apa? perlukah saling menyalahkan? apa yang harus disalahkan? kalau tahu salah pasti lebih dulu tahu yang benar
setelah itu semua terjawab, membawa sesuatukah dalam hidup kita sendiri? atau mungkin sekedar ego kita merasa puas?
jawabannya mungkin juga sebuah pertanyaan
jenar mirip seperti saya, suka mempelajari agama lain. Bukan untuk menemukan kelemahan, ato untuk mencaci tapi untuk belajar peduli..
tomy
Wah saya ndak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Kira kira ada gunanya tahu nggak?
*kok jadi berbalas pertanyaan gini*
@stey
Meskipun begitu, antara orang yang “meyakini bahwa Tuhan itu tunggal+meyakini hari akhir” dengan “orang yang tidak percaya” dipastikan beda niat kalau mempelajari AlQuran dan sunnah
teman-2 dah pernah lihar simpanse main gitar di planet jupiter??
Saya barusan selesai membaca sebuah postingan yang mencerahkan http://azharku.wordpress.com/2008/04/10/aku-dan-syaitan-ikhris/ .. semoga kita menjadi orang-orang selalu bertakwa.
@uhuik
Saya lebih setuju disebut mungkin beda niat.
@kumoiku
Maksudnya apa nih?
@erander
Makasih dan amin.
Weleh…weleh…Kang Dana,
Kenapa seh Kitab-Kitab umat beragama itu selalu dikatakan SUCI…??? Apa seh SUCI itu…???
SUCI tidak ada hubungannya dengan bentuk, bentuk tidak ada
hubunganya dengan suara, bentuk bukan suara, Tiap bentuk punya
laku/jalan dan tempat sendiri, punya tempat masing masing.
Umpamanya, mau mencari putih jika diawali dengan bentuk. Mana sih
yang dinamakan putih ? Apa sih putih itu ? kapur itu warnanya putih,
Mega yang menggantung di atas juga putih, riak air dipantai juga
putih, bulu burung kuntul juga putih. Semakin dikejar semakin
membingungkan ..
Sampai jambul beruban mencari SUCI tidak akan ditemukan jika hanya
mencari dari luar saja. Sebab yang ada diluar sudah menjadi gelar yang nyata tergelar ada. Apa yang tergelar ada itu, adalah gelarnya angan angan., Siapa saja yang hanya mengikuti angan angan akan kesasar,sebab angan angan itu selalu berubah dan tidak nyata (owah gingsir)
Jika demikian, SUCI itu bukan angan-angan, tidak pernah berubah,
Jadi SUCI itu nyata, SUCI itu langgeng (abadi), Langgeng (abadi)
itulah HIDUP, kuasanya GERAK, lungguh pada RASA yang dirasakan sekujur badan.
Celinagk-celinguk…nggandheng si Jenar….
hmmmm…ya..ya..tergantung persepsi awal kita yah…> nuhun sialturahmi, salam kenal
maen-maen dong ke rumahku, tapi ya gitu, gada ga bisa nyediain hidangan yang mewah
Dan, kaya-nya aku setuju dengan Mas Iman deh, juga setuju dengan si Jenar, karena ke-benar-an akan tetap men-jadi ke-benar-an dan ke-salah-an akan tetap men-jadi ke-salah-an, ter-gantung kita mandang-nya dari-mana
jenar, jenar, potret seorang pemburu nilai2 kebenaran yang selalu gelisah oleh banyak kejadian aneh yang berlangsung di sekitarnya. mudah2an saja kelak jenar bisa menemukan kebenaran-kebenaran itu seperti halnya ketika bima mampu melihat jatidirinya setelah memasuki lakon “gung susuhing angin” di tengah kedalaman samudra bersama dewa ruci.
sinkretis kamu jenar!!!
kamu…!!!
kamu…!!! (nuding2)
Tunggu pembalasannya!!!
*hlah, kabur…
@mr. jenar
wah… mas jenar sudah besar sekarang… lebih dewasa. Gimana kabarnya dengan kakak berbibir ranum itu…???
Tentang mencari kebenaran… Sebenarnya Mas Dana sudah faham…
“mencari kebenaran (AL HAQ) diluar “PRIBADI” sudah PASTI SESATnya”.
Makanya mr. Jenar lebih baik berguru dulu sama Mas Dana, dijamin sama Danalingga… ngga bakalan sesat…!!!
kitab, buku, referensi… itu mah masih barang “luar”, tidak sepenuhnya memuat dzat sang Maha Benar… makanya disana AL HAQ sulit ditemukan, emh… ngga bakalan ketemu…
salam
apa sih hakekat agama itu
menurut saya
hakekat agama adalah, menuruti perintah Allh swt tanpa syarat.
jadi masalahnya cuma mana perintah dan larangan Allah swt
@Santri Gundhul
Disebut kitab suci karena dilabelkan kitab itu dengan yang suci. Gitu kali ya?
Padahal sebenarnya seperti kata mbah, bahwa suci itu sudah melekat di jati diri. Jadi mengapa pula mencari kesucian di luar diri ya? *mabok*
@HILMAN
Persepsi emang dahsyat.
@extremusmilitis
Relatif sangadh kalo begitu. Tapi juga tidak relatif sangadh.
@Sawali Tuhusetya
Semoga saja pak. Sehingga nantinya saya tidak perlu pusing pusing lagi mendengar curhat si Jenar ini.
@joyo
*Jenar tertawa bangga*
@abahdedhot
Walah, mungkin karena Jenar udah nggak pernah bertemu dengan bibir ranum itu makanya Jenar bisa tersesat sejauh ini bah. *nyari nyari si kakak*
Setuju saya bah, memang ternyata di dalam diri jugalah jawabannya. Dan sepertinya kakak berbibir ranum itu juga ada disana. *ngelirik Jenar*
@sipakir
Agama bagi Jenar sih tidak cuma itu, tapi agama adalah ilmu untuk mengenal Tuhan. Maka jika ternyata tidak bisa mengenal Tuhan, sepertinya ada yang salah dalam ber-agama itu.
lha kalu sudah kenal mau apa? mau mendiskusikan kenapa matahari bersinar, angin berhembus po? Paling-paling ya menaati perintah, atau bahkan membangkang (kalau membangkan berarti ndak melaksanaken agama to?)Sedangkan ilmu sudah ditaburkan sejak dulu, cuman otak manusia yang nggak nyampe-nyampe.
Iya kalo dah kenal.
Tapi kalo belon kenal, gimana mo menaati perintah dan menjauhi larangan itu? Lah bisa bisa jadi ketuker perintah menjadi larangan dan larangan menjadi perintah.
wah ini quote menarik:
“Mempelajari kitab suci agama lain dengan tujuan menemukan kebenaran, dapat membuka pintu kebenaran di kitab suci agama sendiri.”
IMHO, pencarian kebenaran akan bermuara pada samudera Tauhid. Dalam hal ini, tokoh Jenar memiliki kesadaran bahwa kebenaran bukanlah miliknya semata dan menjauhi sikap apriori terhadap kitab suci yang lain. Dengan pencarian tiada kenal lelah dan tentu dengan kehendakNya pula, kebenaran yang diidamkan Jenar akan tercapai.
Setiap pintu kebenaran terbuka, muncullah pemahaman baru yang melengkapi atau pun menata ulang pemahaman yang telah ada. Untuk kemudian, pemahaman ini diejahwantahkan dalam bentuk amal shaleh.
betul kang, semakin kita menemukan kebenaran, semakin banyak juga kesalahan dan kelemahan yang ada pada diri kita…
kalo belum kenal ya mintak inpo sama yang udah kenal.
he he he
trus debat lagi : apa betul-betul sudah kenal.
Kata perkenalannya gini lho :
Sapa yang menciptakan manusia, galaksi, gugusan bintang, proton elektron dll. Kalau udah bisa njawab berarti dah dikit2 kenal to? gitu aja pusing, gelisah, repot dll.
@akmal
Pemahaman yang terus berevolusi.
@petroek™
Sampai nantinya kita sudah tidak ada.
@sipakir
Setuju.
Kalau mempelajari kitab agama A dan kitab agama B tanpa ada tujuan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan, tetapi ternyata kebenaran yang ditemukan di kitab agama A dan kesalahan di kitab agama B, bolehkah membagikan kebenaran agama A kepada agama B?
Quote Humbang Hasundutan:
Kalau mempelajari kitab agama A dan kitab agama B tanpa ada tujuan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan, tetapi ternyata kebenaran yang ditemukan di kitab agama A dan kesalahan di kitab agama B, bolehkah membagikan kebenaran agama A kepada agama B?
Jawab:
Kalau menurut saya sih, bagus banget membagi kebenaran agama A kpd B, tapi tentunya dengan tidak menyalah-nyalahkan agama B, apalagi kalau A merasa paling benar terus memaksakan kebenarannya. Mungkin saja “kesalahan” B itu semata-mata berbeda persepsi.
Contoh: ada 3 orang buta, bersamaan pegang gajah, yg 1 pegang belalai, bilang gajah itu cuma belalai, yg satu pegang kuping, bilang eh gajah itu cuma kuping, yg 1 lagi pegang kaki, yah dia pikir gajah itu kaki. Dimana kesalahannya? Jadi kaya teka teki nih yeh
@J&W
Tentu saja kawan, dengan tidak menyalahkan keyakinan pihak lain, dan tanpa ada unsur paksaan. Satu-satunya tujuan adalah untuk membagikan kebenaran itu.
Karena kita bukanlah orang buta, tetapi kita dapat melihat dengan jelas dan kita memiliki akal sehat untuk mempertimbangkan apakah yang kita lihat dan dengar itu benar atau tidak, maka di pihak manapun kita, baik sebagai pihak yang sedang membagikan ataupun pihak yang sedang dibagikan, kita tidak perlu saling menyalahkan.
untuk Humbang, saya sependapat banget ama dikau. Kalau semua orang berpikir pola berpikirnya seperti itu. Masalahnya walaupun kita tidak buta, kadang kita suka melihat dari satu / dua sisi saja.
saya punya seorang kawan yg senang banget baca buku, sampai dia punya perpustakaan sendiri, dan dia merasa sudah banyak dapat ilmu / informasi dari buku2 yg dia punya, tp setiap dia pergi ke toko buku dia merasa dia makin gak tahu apa2. – Saya gak pernah lupa ucapan dia.
Yah… kalo niatnya tulus mah kayaknya masing-masing dapet hikmahnya kok… meski gak tau kapan… Kalo gak pernah ada yang berantem, kayaknya kita-kita juga jadi gak pernah mikir kok… asyik-asyik aja kalie… kang mesti bersyukur apa mesti bertobat nih..? berdoa kali yah….?