Kali ini saya secara tak sengaja mendengar seseorang berucap :
Kesempurnaan adalah milik Allah semata, dan kesalahan adalah milik kita manusia.
Sebuah kalimat yang terdengar bijak. Sebuah kalimat yang seolah meninggikan Allah di ketinggian tempat Dia memang layak . Apalagi coba yang lebih tinggi dari kesempurnaan.
Tapi benarkah demikian? Kok saya merasa ada yang salah. Bukankah semua itu adalah milik Allah, dan tidak ada satupun yang milik kita? Jadi bagaimana mungkin kita menjadi sebegitu berkuasanya sehingga dapat memiliki kesalahan. Dan jadinya seolah-olah kita menjadi setara dengan Tuhan. Setara dalam artian kita juga memiliki sesuatu seperti Tuhan memiliki. Bedanya hanya kita memiliki kesalahan, sedangkan Tuhan memiliki kesempurnaan.
Padahal, sekali lagi, apa sih yang kita miliki? Bukankah semua hal tidak ada yang milik kita ? Yah, hanya Allahlah yang memiliki, sedangkan kita hanya dititipi atau pengguna. Bahkan apa yang kita sebut kesalahan itu sendiri.
Eh, jadi Allah bisa salah dunk? Ah… itu kan salah dan benar di mata kita manusia. Sedangkan dalam Tuhan sendiri, kita tidak tahu bukan? Bahkan ada kabar yang terhembus bahwa di dalamNya hanya ada Dia, tidak ada yang lain. Apalagi hanya sekedar salah dan benar. Itu hanya ilusi yang kita butuhkan untuk bersandiwara di dunia ini. Tidak lebih.
Lagian kan anggapan Allah itu sangat salah oleh manusia tidak berarti apa-apa. Sebab dianggap seperti apapun Dia tetap adalah Allah. Tidak lantas berubah menjadi Iblis atau manusia.


Lucu Mas Dana ini,
tokh dalam Al-Qur’an tertera bahwa Allah sudah memberikan ilham kebaikan dan kejahatan. Nah, tinggal kita yang diberi kebebasan memilih, mau jalan yang baik atau buruk. Tentu, disini akal memiliki peran penting. Nah, jika manusia yang notabene diberi akal (yg sudah diformat untuk bisa merasakan jelas mana yang baik dan mana yang buruk) namun malah lebih condong berbuat salah/buruk/kerusakan, maka otomatis (dan pantas) kalau kesalahan disematkan ke dada kita (manusia). Allah hanya menerapkan “aturan” yang Ia buat untuk kita, sedang keputusannya ada di tangan kita sendiri. Ia menetapkan barangsiapa yang melakukan kejahatan misalnya, maka akan mendapat hukuman. Nah, jika kita melanggar, apa masak iya, kita tetap ngotot kalau kesalahan itu bukan milik kita, melainkan itu kesalahan Dia? Bukankah itu cenderung ke pemahaman Jabariyah namanya.
Untuk kesekian kalinya, Mas Dana mengangkat topik Ketuhanan diluar pengetahuan manusia.
SF
Hi hi, masalah kepemilikan tadi saya njuk bingung.
Tapi paragraph terakhir adalah sesuatu yang saya sangat setuju, mau dibilang apa, mau diperdebatkan kaya apa, itu tidak mengubah apapun.
Dia ya tetaplah Dia …
TUHAN SEGALANYA..
YANG PALING MAHA…..
ESA
di dunia ini ternyata ada banyak tuhan (tuhan dengan t kecil), mas dana. manusia seringkali juga menciptakan banyak tuhan utk menciptakan kesempurnaan buat dirinya. mereka yang ingin menyempurnakan dirinya lewat harta, jadilah harta sbg tuhan, mereka yang ingin sempurna lewat hedonisme, jadilah hedonisme itu sbg tuhannya. wow, ternyata memang ada banyak tuhan di sekitar kita, mas dana. sempurnakah mereka?
bedanya mencari “kebenaran” tentang ketuhanan dan iptek
mencari kebenaran Tuhan dengan keyakinan, memupuk keyakinan alias iman, ibarat mencari mutiara cari mutiaranya bersihkan kotorannya.
mencari kebenaran iptek harus dengan skeptis / meragukan.
kalau dibolak-balik (meskipun bebas berpikir) jadinya nggak fokus.
Misalnya belajar nyetir mobil tapi malah sibuk meragukan bentuk bundar, bundar belum tentu roda, belum tentu stir, belum tentu lampu depan, mungkin donat juga bundar. Akhirnya mobilnya nggak berjalan.
Sibukk terus memperdebatkan isi agama, tetapi malah nggak jalan amalan baiknya.
jadi bingung debat untuk memcari kebenaran, atau debat untuk mencari ide posting berikutnya…. ha ha ha
//ini juga bahan debat dab//
awalnya sepi akhirnya sepi diantara dua sepi adalah fatamorgana. Siapa pemilik sepi, siapa pemilik fatamorgana?
itu hanya spontanisasi sikap (belajar) rendah hati Dan, meski memang kurang pas … tapi juga nggak seluruhnya buruk.
santai saja … pelan-pelan aja ngingetinnya
nah ini nyambung dg posting terdahulu ttg Tuhan yang satu
Tuhan itu satu, baik & jahat itulah Tuhan
lalu apakah & darimanakah salah & benar itu?
jahat & baik itu?
Aha
benar & salah itulah Tuhan
awal & akhir, ada & tiada
& manusia terus bersandiwara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia ini
ah Bang Dana saya meracau lagi
stuju sama yg ini
Dan, kok saya jadi ingat The Madness of God-nya Shawni….
Iblis : “Jadi atas kuasa siapa aku menyesatkan banyak orang ? Aku bukanlah tuan atas keinginanku. Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu di alam semesta ini, termasuk segala keinginanku.
*dalem*
*sorry kalau OOT*
@ jejakfarisya :
Jadi “topik keTuhanan diluar pengetahuan manusia” itu tidak boleh dibahas sama sekali ?
Kalau seseorang “mempertanyakan keimanannya”, apakah itu salah ataukah itu bukan wilayah manusia ? Tuhan-pun bisa dipikirkan. Itulah artinya kita juga ikut berpikir dalam keimanan kita, dan tidak sekedar beriman saja.
Tetapi jika ternyata pengetahuan kita tidak mampu menjangkaunya, maka disitulah batas kita dalam berpikir tentang keimanan kita. Yang terpenting adalah kita mencoba mengeksplorasi akal yang diberikan Tuhan, bahkan untuk memikirkanNya. Dan bukan untuk disimpan dan tidak digunakan.
Tuhan bisa salah… << Agama siapa neh?
Hah? Tuhan itu organ tubuh???!
Haha, udah itu quote yg ditulis biru dijadikan hadis baru aja buat agama baru itu lho yg ahmadiah itu lho, mayan nambah2 hadis ^^
@ Pyrrho
“…Jadi “topik keTuhanan diluar pengetahuan manusia” itu tidak boleh dibahas sama sekali? Kalau seseorang “mempertanyakan keimanannya”, apakah itu salah ataukah itu bukan wilayah manusia ? Tuhan-pun bisa dipikirkan. Itulah artinya kita juga ikut berpikir dalam keimanan kita, dan tidak sekedar beriman saja…”
Namun apa yang hendak saya lontarkan balik, (meski tidak terlalu sama persis dengan yang ada dalam benak saya) ternyata sudah anda tulis sendiri :
…Tetapi jika ternyata pengetahuan kita tidak mampu menjangkaunya, maka disitulah batas kita dalam berpikir tentang keimanan kita. Yang terpenting adalah kita mencoba mengeksplorasi akal yang diberikan Tuhan, bahkan untuk memikirkanNya…. Jujur, itu yang hendak saya maksud.
Lagipula, saya bukannya men-judge, bahwa “membicarakan masalah KeTuhanan” itu tidak boleh hanya gara2 diluar pengetahuan manusia, hanya saja, apa toh urgensinya, jika pada akhirnya tidak ditemukan suatu konklusi final atas wacana kontemporer yang Mas Danalingga usung kali ini (mengingat masing2 kita memiliki paradigma dan anggapan personal, plus mayoritas kita tidak memiliki kualitas intelektual seperti “anda2″). Mas Fertob mungkin pengecualian untuk hal ini, dan saya tidak mempermasalahkan jika seribu orang “Fertob” beradu argumen dalam wilayah abu-abu ini.
Masih ada keluhan?
SF
@jejakfarisya
Baguslah jika memang saya bisa memiliki. Walau hanya memilik kesalahan saja. Thanks.
@sigid
Betul. Maka mari kita perdebatkan sampe bebusa-busa. Lho…
@indra1082
Sip.
@sawali tuhusetya
Waduh, jika kita dah sempurna berarti kita tuhan dunk pak.
@iseng2
Makasih atas pencerahannya soal membersihkan kotoran itu. Bisa nggak kalo posting ini juga bermaksud untuk membersihkan kotoran?
@daeng limpo
*ikut merenung*
@watonist
Mari. Eh… kalo postingan ini termasuk pelan-pelan atau bagaimana ton?
@tomyarjunanto
Saya juga meracau kang, Mari kita meracau bersama-sama.
@phiy
Semoga memang begitu phiy.
@Pyrrho
Nah itu juga saya agak gimana tuh bang ama kisah Iblis yang begitu itu. Btw, aku agak kurang percaya Iblis itu terpisah dari manusia sih.
@densscessario
Kamu aja yang buat dens. Kalo saya masih takut bakalan dipenjara entar.
Mengapa harus berpusing berpikir ttg dzat Tuhan bila tyt kita sudah diberi kemudahan dan kenikmatan dg beribadah scr benar kepada-Nya. Apakah pembicaraan ketat terkait Tuhan akan membuat kita tambah cinta dan taat kepada-Nya
itu kata2 dorce tuh kaya’nya..
Ketika manusia mulai saling mencaci, saling serang dan akhirnya saling bunuh.. mungkin Ia telah “salah” dalam penciptaan.
kalo itu kan berarti kalimat bijak yak

semua orang punya kalimat bijak, dan memang kata bijak itu tergantung orangnya menafsirkan yang intinya memberikan semangat buat dirinya, dan bisa saja sebuah kalimat bijak beda penafsiran
masih dari shawni :
” bagaimana mungkin aku menyembahnya sebab dia berasal dari abuku, sisa apiku, dia merupakan sisi gelapku dan semua sifat-sifat burukku ada padanya..”
* merasa keren bisa comment disini.. kabuuuur *
@danalingga
masih … masih kok
hanya takutku, kamu nanti “menembak mati” (menyalahkan secara saklek) semua orang yang berucap seperti itu.
Kalau mau bicara seperti sulit banget dengan logika… Kebanyakan dari kita juga menduga bahwa semua itu sudah di atur, menurut saya yang diatur tu kehidupan doank. Yang lain itu hanya sebuah pilihan… Seperti contoh, di sebuah hutan yang sepi kita di beri 2 jalan dengan petunjuk : belok kanan, cepat sampai tapi banyak serigala, belok kiri aman dan nyaman tapi sampainya lama… Yaa tergantung kita milih yang mana….
@ jejakfarisya :
Urgensinya terletak pada pencarian spiritual masing-masing orang. Tiap orang berbeda dalam hal itu. Ada yang sudah merasa nyaman dengan spiritualitasnya tanpa perlu bertanya dan ada yang masih perlu bertanya lebih lanjut.
Bagi orang-orang yang sudah merasa nyaman, hal itu dirasa tidak penting dan buang-buang tenaga. Tapi bagi orang yang terus menjelajah sisi spirtualitasnya maka pencarian itu adalah seperti “sebuah keharusan”. Ada ketenangan psikologis jika mampu bertanya, mampu memproses jawabannya, walaupun terkadang tidak selalu berujung pada suatu jawaban final dan tunggal.
Tidak harus ada satu konklusi yang memuaskan dari pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh orang-orang yang beriman selama ribuan tahun sebelum anda dan saya.
Tujuannya bukanlah mencari satu konklusi. Tetapi bagaimana kita menuju kesana, dan bagaimana kita mengeksplorasi sisi spiritualitas kita. Proses yang penting dan bukan tujuan. Karena bagi saya pribadi, tujuan itu sudah jelas, yaitu keimanan saya kepada Tuhan. Proses ditengah-tengahnya yang perlu saya jelajahi.
Banyak yang berkata kalau itu adalah wilayah abu-abu. Tetapi hal itu menjadi abu-abu kalau kita bandingkan dengan matematika atau fisika. Dalam hal pencarian ini, ada tujuan yang “hitam-putih” diseberang sana, yaitu “Tuhan” dalam pengertian masing-masing.
Kebanyakan orang selalu mengatakan abu-abu karena (1) jawabannya hampir tidak bisa ditemukan, kecuali dalam diri subyektif si penanya, dan (2) dianggap bisa meruntuhkan keimanan. Lalu jadilah “forbidden area” bagi orang-orang yang tidak melihat urgensinya dan takut keimananannya diruntuhkan dengan pertanyaan itu.
Sedikit OOT :
Kalau anda sudah merasa nyaman dengan keimanan anda, mengapa mempertanyakan orang yang masih “mempertanyakan keimanannya” ?
Woow … bahasan padat nan mengayun jernih ke ulu rasa. Selamat.
” Kesempurnaan adalah milik Allah semata, dan kesalahan adalah milik kita manusia “.
Kang Dana,
Ayat atau Hadis di atas apakah ini SUARA, BISIKAN dan PERNYATAAN Tuhan atau SIAPA sih..??
Bukannya itu merupakan INTERPRETASI dari manusi-manusia PENCERAH atau orang-orang yang juga memilki KETERBATASAN seperti kita…??.
Jadi…??
Seperti itulah BAHASA yang bisa diucapkan oleh mereka kepada Umat ( pengikutnya ) sesuai dengan wawasan dan Ilmu yang dimilikinya pada masanya.
Lalu bagaimana Kang Dana, jika kata KESEMPURNAAN saya gantikan dengan ” SURGA ” dan KESALAHAN saya ganti dengan ” NERAKA “…??
Wathaaaaauuuooooff….TOOOOOOOOOBBBAAAAAA…..AAATT.
Ngeloyor….golek BAJU TAHAN API..keks..keks…
@ Pyrrho
[angguk2 melihat Mas Fertob "meng-kuliahi" farisya]. Counter yang bagus! Tapi Mas, ada satu hal yang ingin saya sampaiken, jika sudah jelas tujuan Anda adalah keimanan kepada Tuhan, dan kemudian lebih mementingkan proses, apakah ini bukannya suatu pernyataan yang absurd? Sebab, kita tidak bisa mendapatkan kepastian bagaimana akhir tujuan kita jika dalam prosesnya pun masih dalam tahap penjelajahan.
.
Analoginya begini, saya punya tujuan pergi ke Jakarta, tapi saya tidak bisa mengatakan kalau tujuan saya sudah jelas, sebab bisa saja dalam “prosesnya” (maksudnya saat di perjalanan), saya tersesat misalnya, atau dirampok, atau kendaraan yang saya tumpangi mengalami kecelakaan, dan lain sebagainya. Nah, jika pada tahap perjalanan itu saja sudah mengalami hal-hal yang berpotensi besar membelokkan tujuan (yang dalam analogi tadi, sudah jelas saya tidak akan sampai di tujuan, dan menjadi makin tidak jelas tujuannya), maka apakah realistis jika kemudian saya berkata kalau “tujuan saya sudah jelas”?!
.
Taruhlah Mas Fertob dalam pengembaraan spiritualnya “terpeleset” ke “jurang kemusyrikan” (ini misalnya, lho) hingga keimanan Anda kepada Tuhan hilang. So, pernyataan Anda barangkali memerlukan sedikit koreksi. Yakni bahwa PROSES dan TUJUAN itu sama-sama penting. Memang “proses” harus lebih dijelajahi, namun jika prosesnya kebablasan ya pada akhirnya tujuannya malah makin nggak jelas lagi, barangkali hal ini yang hendak disampaikan oleh Farisya di atas.
.
Salam,
[saya tunggu masukan dan "counter"-nya Mas]
nunggu postingan baru lagi nih………..
@Akhmad Guntar
Wah, kalo soal ini saya cuma bisa bilang setiap orang punya jalan masing-masing. Nggak bisa disamain.
@brainstorm
Ah, iya benar si dorce. Kira-kira menurut dorce Tuhan telah salah menciptakan dia nggak ya? Soalnya kan dorce seperti “membetulkan” kesalahan Tuhan dengan operasi kelamin tuh.
@aRuL
Tul. Dan inilah sudut pandang saya. Semoga bisa meperkaya.
@nindityo
Jadi penasaran siapa shawni itu. Ada e-book nya nggak bro? Minta kalo ada.
@watonist
Ah, anggap saja ini curhat saya karena merasa ada sesuatu yang nggak pas.
@Bambosi
pilihan itu diberikan kepada kita atau memang sudah milik kita nggak ya?
@Ersis Warmandyah Abbas
Makasih pak.
@Santri Gundhul
Walah, kalo diganti Surga sama Neraka keknya malah lebih jelas lagi tuh mbah. Arigato. *membungkuk*
@daeng limpo
Sabar daeng.
Assalamualaikum…
manusia adalah tempatnya salah…
dan sebaik-baiknya salah ialah tobat…
huhuhuhuhuhuhuhuhuhuhuuhhuhu….
@ syahbal
dari mana “salah” itu berasal?
Apakah asal segala sesuatu?
kalau menurutku sih manusia itu perlu tuhan agar dia merasa aman dan ada yang melindungi kalau manusia seh memang tidak luput dari salah karena perbedaan pandangan manusia itu sendiri yang membuat adanya kesalahan. misalnya bagi kita sering kali kita yang benar namun bagi orang lain belum tentu.
*ikutan brainstorming*
Dari manakah asalnya salah itu?
Kesempurnaan adalah milik Allah semata, dan kesalahan adalah milik kita manusia.(kata siapa ?)
Kesempurnaan dan kesalahan adalah milik saya, milik saya…
karena alloh bersama saya (dengan nama alloh yang…..dst) berarti saya dengan alloh. (tetapi sementara=ora ndduweni)
Allah dari kata Illa yang artinya “rahasia” semuanya telah diserahkan untuk kemakmuran umat. ya milik saya dong ….
@ Dana :
Dari ketiadaan kebenaran.
Hehehehe… analogi dari pertanyaan “apakah kejahatan itu ?”, yang bisa dijawab dengan “dari ketiadaan kebaikan”.

@ esensi :
Setidaknya ada 3 macam “tipe” ketika seseorang menjelajah sisi spiritualitasnya. Dan saya nggak tahu Om Dana ada dimana.
(1) Mulai dari NOL KILOMETER.
Maksudnya seperti ini. Seseorang mulai dari ketiadaan kepercayaan, ketiadaan keimanan, alias segala hal yang berhubunga dengan kepercayaan itu adalah NIHIL. Dia tidak memiliki kepercayaan terhadap hal-hal yang berhubungan dengan spiritualitasnya, dan dari titik itulah dia menjelajahi lebih jauh.
Saya nggak tau, tetapi secara psikologis itu hampir nggak mungkin, karena kepercayaan itu adalah mekanisme internal yg ada dlm diri manusia.
Mungkinkah itu ?
(2) Mulai dari MENIHILKAN KEPERCAYAANNYA. Maksudnya, seseorang sudah memiliki suatu kepercayaan/keimanan tetapi kemudian “menghabisi” seluruh kepercayaannya itu, meruntuhkannya menjadi puing-puing tak bersisa, kemudian membangun kembali suatu bangunan kepercayaan yang baru. Caranya membangunnya adalah melalui suatu penjelajahan spiritual dan dari situ dia menyusun kembali kepercayaannya.
Ini adalah hal yang mungkin, tetapi sulit. Karena yang namanya kepercayaan itu sangat sulit untuk “dihabisi” dengan gampang dan juga sulit untuk “dibangun” dengan cepat.
(3) Mulai dari APA YANG DIYAKININYA. Maksudnya, seseorang mulai dari keimanannya sendiri. Dia sudah berpegang pada suatu keyakinan, merasa bahwa itulah tujuannya, dan merasa bahwa disitulah kebenarannya. Tetapi masih banyak hal-hal didalam kepercayaannya yang tidak diketahuinya. Dan dari kesadaran itulah akhirnya dia menjelajah sisi spiritualitasnya lebih jauh. Bukan demi suatu tujuan kebenaran, tetapi demi suatu proses akan pertanyaan yang selalu menggedor-gedor sisi spiritualitas itu.
Saya sendiri sudah lupa saya ada dimana….
Dimana “tipe” kita bisa menentukan apakah kita lebih mementingkan proses ataukah proses itu hanya sebagai pelengkap dari suatu tujuan yang sudah jelas.
Kalau seseorang sudah YAKIN akan tujuan yang ada dalam suatu keimanan, maka dia tidak perlu takut untuk “mencari” jawaban ditengah-tengah proses itu. Beriman bukan sekedar sebuah finalitas, tetapi juga sebuah proses yang terus dijalani. Dan banyak orang yang “tidak berani” untuk menyentuh “proses” itu karena takut kalau justru tujuannya (Tuhan) yang bisa tidak tercapai. Lalu apakah orang-orang seperti ini sudah bisa dikatakan beriman dengan kuat ?
Maaf, saya nggak menuduh. Tapi terkadang alasan “meruntuhkan keimanan” itu sering dipakai untuk mengatakan bahwa proses ini tidak perlu dan tidak berguna. Bahkan Tuhan-pun dalam kitab-kitab suci agama memerintahkan agar kita berpikir. Apakah “berpikir” tentang Diri-Nya lalu menjadi sesuatu yang haram ? Heh, lalu Ilmu-ilmu Agama itu lahir dari proses apa ?
Maaf lagi kalau kepanjangan. Sorry Om Dana, kolom komentarmu kujadiin postingan khusus.
*minta royalti sama Dana*
@fertob
Berarti kebenaran ada dari ketiadaan kesalahan.
Kesalahan ada dari ketiadaan kebenaran.
Nah berarti kebenaran dan kesalahan sama pentingnya. Sebab dari ada maka bisa menjadi menjadi tiada.
Dan berarti lagi yang memiliki kebenaran itu maka otomatis juga yang memiliki kesalahan itu. Eh.. gitu nggak ya?
Btw, saya sepertinya yang nomor 2 tuh bang. Tapi mungkin nggak murni.
emmmm….
pengetahuan agama saya mungkin enggak dalem yah…
tapi saya pernah di ajarin gini,
dlm islam itu ada konsep ketawhidan, kemudian di konsep tawhid itu ada yang namanya dualisme, di mana Creator is Creator, and Creation is Creation. mereka terpisah satu sama lain, dalam artian creation tidak akan pernah menyerupai atau sedikit pun seperti Creator (yang dalam case ini adalah kesempurnaan), dan Creator pun tidak akan pernah menjadi atau bahkan menyerupai creation (dlm case ini adalah kesalahan).
maka di bawah konsep ini lah terletak yang mana yang punya Kuasa dan yang mana yang cuma mahluk kecil tidak berdaya…
gt sih…
*berharap enggak OOT*
no comment
@ fertob
ini pasti dari einstein.. gelap adalah ketiadaan cahaya, karna gelap diukur dari intensitas cahaya, kejahatan adalah ketiadaan Tuhan, equivalen dengan kejahatan diukur dari intensitas Tuhan?? dimana Tuhan berada ketika kejahatan ada? ah hanya Dia yang tau..
saya yakin dana pasti ada di POIN 2.. hehehe KEMATIAN SAAT HIDUP..
masalah menghitung tuhan itukan syah2 saja karena memang banyak sekali TUHAN.// tapi yang paling penting yang mana sih yang benar2 layak jadi tuhan??apakah kekuasaan ataukah uang atau mungkin memang benar2 ada tuhan diatas tuhan bak pepatah mengatakan diatas langit masih ada langit,..lantas yang mana yang disebut The GOD???
saya sangat kasihan terhadap rekan2 yang belum benar benar menemukannya…” gimana mau ketemu tuhan..mencari saja tdk koq” oleh karena itu sebelum kita menghadap tuhan kenali dulu barangNya.
Mas Dana..orang yang tepat untuk bertanya tentang tuhan.
iya kan MaaaaS.
Maka daripada itulah, saya bosan jadi manusia, saya mau naik tahta jadi Tuhan saja!!!
@razuka
Itu yang banyak tuhan apa Tuhan? Yang saya bicarakan disini adalah Tuhan lho.
Btw, saya masih menunggu yang bisa mengajarkan bagaimana cara menghitung Tuhan.
@Nazieb
Selamat berusaha.
*baca komen atas*
mas dana, komen saya di cuekin…
*ngambek*
@mas dana
BENAR & SALAH… adalah bahasa hukum, hukum yang melekat pada adat, budaya, norma yang mengikat kehidupan “manusia” (makhluq) sebagai objek hukum.
Jadi jelas… kalo DIA mah… mustahil ada yang mampu mengikatNYA… mustahil DIA tunduk kepada hukum. kedudukan DIA yang MAHA SUCI, tidak serupa, diluar & meliputi “itu” semua…
kitu boss
salam
@grace
*ngasih coklat ke grace biar nggak ngambek*
Nah menurutmu apa yang ditahudin itu (Allah) masih terpengaruh dualisme?
@abahdedhot
Diluar dan meliputi. Benar Salah disini mewakili dualisme itu kan ya bah?
diluar tidak, didalem ngga, diatas bukan, dibawah ngga juga, disamping kiri or kanan… juga tidak. DIMENSI RUANG, ngga laku.
tapi Dia MAHA MELIPUTI SEGALANYA…
::Dan, sebenarnya ini pernah terbaca di aQ, cuma saya cari ayatnya engga ketemu bunyinya kalau engga salah ‘mereka berkata yang baik itu dari aku sedang yang salah dari engkau, padahal semua dari Aku” sepertinya dri tafsir Al Azharnya Buya Hamka….
dan syiratan lain, “semua masalah berasal dariKU, dan akan berpulang kepadaKU”…, apa tujuannya mau nyalahkan Tuhan nih Dan…
bak mata, yg bisa salah pandang, demikian juga fikiran…
jangan salahkan penyampai, sebab yg disampaikan meskipun bentuk wujud, harus diurai…, bagi pemakai, uraian tak perlu, sebab hanya untuk dipakai, bagi pengamat penguraian penting, untuk penyempurnaan…
@abahdedhot
Termasuk meliputi kesalahan bah?
@zal
Sepertinya menarik nih membaca tafsir Buya Hamka. Di gramedia ada nggak ya?
Terjawab sudah.
@mas dama
wah…
kebenaran & kesalahan adalah satu paket kesempurnaan dalam kehidupan
ngga ada yang luput, mas. segalanya diliputi…
salam
Eiy?? Berarti masih menang manusia ya maksudnya? Soalnya manusia masih memiliki kesalahan sedangkan Allah tidak memilikinya.
**geleng2 mabuk**
@abahdedhot
Sepemahaman aku juga begitu bah.
@CY
Seimbang kok CY. Kan Allah memiliki kesempurnaan. Eh.. tapi kalo nggak lengkap apa bisa disebut sempurna ya? *mikir*
sekian lama berjalan begitu banyak yang dijumpai…..
maka:
>> hadirkan aku dihadapanmu walau belum tentu aku disana
>> palingkan wajahmu kearah yang kau suka….
>> hiruplah udara, berjalanlah engkau sejauh mungkin, namun tak jua kau “…..dapat”….. bila kau tak berfikir.
salah dan benar jadi satu paket ada pada rukun iman..ketika kita meng-claim kesalahan dari diri kita, maka sadar ataupun tidak, kita telah memposisikan diri pada kedudukan tandingan atas tuhan karena mampu berbuat.
>>bukankah diri ini la hawla??? maneeeee buktinye??? tuh liat aje sesosok tubuh yang telah ditinggal pergi oleh sang Dzat…lantas masih beranikah diri ini menyatakan mampu berbuat???
Wasspadalah…wasssspadalah KEKUFURAN terjadi bukan karena ada niat tapi juga lebih karena KEBODOHAN kita.
jika membaca uraian pendapat-pendapat dari saudara-saudaraku sekalian, ternyata intinya masih memposisikan tuhan sebagai sosok dan bukan dzat. sosok yang mengatur baik buruk kelakuan manusia, karena memang katanya semua berawal dari dia.
sosok yang mengatur nasib hidup kita dengan memberi takdir.
sosok yang maunya disembah-sembah.dipuja-puja.
sosok yang mendidik manusia dan bangsa ini jadi bangsa kere ( maaf ), karena selalu diajari minta-minta,memohon atau berharap terhadapnya.
jadi,kalau dia memang sosok artinya tuhan itu maha menangan sendiri ?
iya tho ? betuuuuuul ?
@ Dana
Kalau hal ini bagaimana Mas Dana?
Ini saya ambil dari kitab Al Hikam, No. 218, Rampai Hikmah Ibn ‘Atha’illah :
“Bagaimana Kebenaran dapat teralingi oleh sesuatu, padahal Dia itu tampak, ada, dan hadir dalam apa yang mengalingi-Nya”
Ulasan Syekh Fadhlaalla Haeri: ” Sang Mahabenar menundukkan semua realitas. Karena itu, apa yang engkau anggap sebagai sebuah tabir adalah manifestasi dari kebenaran dan menunjukkan keberadaannya. Jejak-jejak dan tanda-tanda kebenaran merembesi semua existensi, yang kita ketahui maupun yang tak kita ketahui”.
Kejahatan ada karena adanya kebaikan sama halnya kesalahan yang disebabkan oleh adanya kebenaran, karena kalo kebenaran tidak ada berarti yang ada salah semua donk!
Analoginya : Mau kerja apa pak polisi kalo tidak ada kejahatan? Polisi ada untuk mengamankan kasus kejahatan, coba bayangkan kalo kejahatan ada tanpa keamanan… dan coba bayangkan kalo gak ada polisi… Kesimpulannya kebaikanlah yang mempekerjakan pak polisi.
Apakah suatu negara aman tanpa adanya petugas keamanan? Senang polisinya donk kalo banyak kejahatan, karena kalo gak ada kejahatan jadi hilang mereka punya gawean. Analogi yang ke-2 coba bayangkan kalo peraturan tidak ada… kira-kira lancar gak pelanggaran? Adanya pelanggaranlah yang menjadikan peraturan itu ada, karena kalo pelanggaran tidak ada tentu tidak ada peraturan. Perbedaan adalah nikmat, coba Anda bayangkan kalo tidak ada perbedaan… misalnya di dunia ini yang ada cuma laki-laki tanpa perempuan, akan seperti apa ya? Namun segala sesuatu yang kita jumpai di dunia ini semua memiliki batasan termasuk perbedaan, karena muatan kebenaran hanya ada satu. Hitam tetap hitam, kalo hitam katakan itu hitam, jangan hitam dibilang putih, itu salah dan itu bohong! Atau apakah ada kebenaran ke_dua dengan mengatakan merah? Tetap salah dan itu adalah bohong!
Sebenarnya Fajar punya banyak konsep kalo mau membahas perkara KeTuhanan {Theology}, tapi pagi ketemu pagi konsepku tak akan habis, dengan catatan siap bertemu muka dengan Fajar, baru Fajar siap mempresentasikan konsep. Oya, sebelum Fajar akhiri, Fajar pengen tawarkan sedikit kata bijak yang Insya Allah mungkin sedikit lebih bijak dari kata bijak yang ditawarkan mas Dana.
“Kata bijak itu indah, tetapi tidaklah setiap keindahan mengandung kata bijak”
“Think to day and speak for tomorrow”
“Kalau kita bisa berbuat hari ini, mengapa harus menunggu esok? Karena hari esok adalah hari dimana kita telah menikmati hasil dari apa yang telah kita perbuat hari ini”
Wassalam,,,
Sorry,,, tulisan ketikanku yang pertama belum diedit, jadi kurang sempurna dikit. Sebenarnya banyak juga gak masalah sebab Fajar sadar bahwa manusia memang diciptakan tanpa kesempurnaan. Konkretnya bacaan ke_dua yang boetul!
Kesalahan adalah penyempurna kebenaran. Gini aja mas Dana… Kalo tidak ada kesalahan terus tindakan kejahatan itu mau disebut apa? masa’ disebut kebenaran! kan lucu! Kata ponakanku yang masih duduk di bangku TK ; “Super Boy kan pembela kebenaran, masa’ dibilang penjahat!” Coba Anda bayangkan kalo gak ada kesalahan, semua hal jadi benar donk! semua pendapat benar, bunuh diri/makan racun pun bukan tindakan yang salah, pastinya semua yang seharusnya salah jadi benar gitu loch!
Fajar harap dengan jawaban ini mampu membenarkan yang salah, Fajar berharap ini dapat menjadi respon benar yang disempurnakan oleh kesalahan, Amin. Kalo masih kurang puas hubungi 085246852455
Maha sempurna Allah atas segala ciptaannya
Jangan coba-coba menghitung Tuhan, ntar salah hitung bisa berabe kasusnya, satu aja belum habis. Lagian kalo kelebihan ntar Tuhannya kelahi jika ada perbedaan persepsi antara Tuhan yang satu dengan Tuhan yang lainnya. Satu mengarahkan manusia berbuat kebajikan dan yang lainnya mengarahkan manusia untuk berbuat kerusakan. Gak bisa Fajar bayangkan kalo Tuhan Anda semua kelahi, bisa hancur bumi beserta isinya . Untung Tuhannya Fajar cuma satu jadi bumiku masih senantiasa terjaga. Kalo boleh usul: Jangan kebanyakan Tuhan, takutnya kalo rebutan kekuasaan seperti yang terjadi pada umat manusia sekarang ini. Sadar Oiiiii…!
Tuhan = damai
Tuhan = diri sendiri
Tuhan = perhatian orang lain
Tuhan = kebijaksanaan
Tuhan = Kebahagiaaan
dgn logika diatas maka rumus ‘einsteinnya’.
TUHAN = kebijaksanaan kepada diri sendiri terhadap orang lain dan diri guna menggapai kedamaian dan kebahagiaan.
kesimpulan TUHAN = DIRI KITA SENDIRI
tapi ada tuhan yang kita sembah == nah lho!!!!
Tuhan = sang penjaga manusia ada dalam hati kita.
tuhan itu maha bijak maka kita adalah TUHAN yang belajar dari-NYA.
^-^ salam kenal I like filosofi U?
filosofi Tuhan sudah dikenal sejak dahulu, Tuhan ada bila kita sungguh mendefinisikannya, tapi IA tidak benar2 ada bila kita tidak menganggapnya begitu.
orang2 kuno takut akan penyakit, alam yang marah asumsi tuhan marah dll. muncullah beragam tuhan.
beragam tuhan kini didominasi orang para hamba yang membuat definisi sendiri >> menyempit menjadi filosofi tuhan yang 1 maha ada (ESA).
2 kubu spiritual yang terbagi:
muncullah monotheisme >> spt islam, kristen, dkk
muncullah politheisme >> spt hindu,dkk
muncullah humanistic >> spt buddha (mereka meyakini manusia hanya bisa lepas dari sengsara bila memang mau menolong diri sendiri)
kesimpulan: semua agama baik >> membuat tatanan yang harmonis dalam hidup.
Agama >> tidak kacau (ajaran yang niatnya baik)
^-^ U?
@Faubell
Hem… boleh juga tuh.
Jadi maksudnya bahwa segala exsitensi di dunia adalah kebenaran itu sendiri ya?
@Fajar Mentari
Kalo berdasarkan logika saya sih bukan gitu. Malah jika kebenaran tidak ada maka kesalahan juga tidak ada. Nah sekarang pertanyaannya apa benar logika yang seperti itu?
Btw, saya nggak merasa menawarkan kata bijak tuh.
Persoalannya kan bukan soal ada tidaknya kesalahan dan kebenaran itu. Persoalannya adalah siapa sih pemilik dari kesalahan dan kebenaran itu?
Menyebut satu itu bukannya berarti sudah menghitung TUhan?
@glaydenty
Sepertinya menarik nih. Saya endapkan dulu saja.
@Dana
Kesalahan adalah hijab yang ditampilkan, karena existensi yang ada adalah Sang Maha Benar.
Ya tuhanku ampunilah aku dan juga teman-temanku…