Ayat Sebagai Pendukung Pendapat : Contoh Kasus Poligami

Setelah membaca satu komen di tulisan saya tentang reinkarnasi dalam Islam dan Kristen  maka saya terilhami membuat tulisan ini. Terimakasih banyak *menjura* . Tulisan kali ini ingin membahas bahwa memang benar seperti komen tersebut bahwa ternyata seringkali ayat-ayat itu digunakan atas nama kepentingan. Eh, sebenarnya tidak tepat juga disebut kepentingan sih. Mungkin lebih tepatnya disebut bergantung pada refrensi yang telah kita peroleh selama ini.

Seperti tentang kasus reinkarnasi itu maka yang saya pahami adalah bahwa orang yang membuat tulisan tersebut telah mengalami sendiri bahwa ternyata reinkarnasi itu ada. Nah berdasarkan pengalamannya itu maka dia mencocokkan dengan yang tertulis dalam ayat-ayat kitab suci kedua agama samawi itu. Karena mungkin kebetulan orang tersebut meyakini bahwa kedua kitab suci tersebut adalah menyatakan kebenaran. Maka dia beranggapan tentu saja ada hal yang menjelaskan tentang pengalaman reinkarnasi tersebut. Hasil pembacaan tersebut adalah dikutipnya ayat-ayat yang dirasa tepat menggambarkan pengalamannya.

Tapi sudahi dulu saja mengenai benar tidaknya reinkarnasi itu. Sekarang saya ingin membahas mengenai pemakaian ayat-ayat kitab suci dilihat dari sudut pandang kasus pro kontra poligami. Semoga dengan demikian maka akan dapat dilihat dengan jernih mengapa bisa ada perbedaan dalam memaknai ayat-ayat dalam kitab suci. Kedepannya semoga bisa lebih siap menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut.

Sebagai kita ketahui bersama maka ayat untuk meributkannya adalah :

” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

Setelah saya amati dari dulu sekali sampai sekarang ini cara memandang satu ayat di atas ada dua. Yakni pandangan dari sudut pro dan kontra. Walau mungkin ada pandangan yang lain. Namun demi kepentingan tulisan saya maka akan saya generalisasi jadi dua saja. Cara memandang ini tentu saja sesuai dengan masing-masing kepentingan pihak yang bertentangan tersebut.

Adapun cara pandang tersebut adalah:

1.Pro

Biasanya lebih menekankan kepada hal bahwa beristri sampai empat itu dibolehkan. Sudah itu saja, titik. Sedangkan syarat adilnya sih biasanya dengan merasa bisa adil saja. Atau dengan argumen bahwa jika tidak dicoba mana tahu bisa adil atau ngga.

2. Kontra

Biasanya menekankan pada syarat adil itu. Beranggapan bahwa tidak akan ada manusia yang bisa adil (setahuku ini memang ada ayatnya dalam AQ nih). Jadi dengan kata lain bahwa sebenarnya ayat ini hanya sekedar permainan kata-kata yang intinya Poligami itu haram.

Saya sendiri tidak akan menilai mana pihak yang benar dalam kasus Pro-Kontra Poligami ini. Saya lebih membahas bagaimana hubungan sikap Pro - Kontra tersebut dengan cara memahami suatu ayat dalam kitab suci. Jelas dapat dilihat bahwa masing-masing pihak dalam memandang ayat yang sama ternyata menggunakan penekanan yang berbeda. Pihak yang Pro lebih menekankan pada kebolehan, sebab itulah yang mendukung pendapat mereka. Sedangkan pihak yang Kontra lebih menekankan pada syarat adil, sebab itu pulalah yang mendukung pendapat mereka.

Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa ternyata ayat-ayat kitab suci itu memang seringnya dimanfaatkan oleh manusia tanpa disadari. Bahwa manusia itu sudah punya pendapat sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mencari dukungan di ayat-ayat yang disesuaikan dengan pendapatnya. Atau bisa disebut menyesuaikan ayat-ayat dengan pendapatnya.

Tapi apa kemudian cara tersebut salah? Saya kira tidak salah juga. Hal tersebut adalah kewajaran sebagai konsekuensi dari manusia yang mengakui (mengimani?) kesucian dari kitab suci itu tapi juga sekaligus dianugrahi akal untuk berpikir sendiri. Nah maka ketika akal kita mempunya pendapat tentang sesuatu maka otomatis biasanya kita mencari ayat-ayat kitab suci yang dapat mendukung pendapat tersebut.

Seringnya kita merasa bahwa setiap pendapat yang tidak dapat disandarkan kepada ayat-ayat kitab suci serasa kurang afdol. Kurang bisa dibuat jadi pegangan. Sikap tersebut memang dapat memacu kita memahami kitab suci dari konteks- konteks kekinian yang terjadi di sekitar kita. Sehingga kitab suci itu bisa menjadi kitab yang hidup, bukan hanya menjadi mahluk mati. Tapi ada bahayanya juga, bahwa jadinya kitab suci menjadi pembenar dari pendapat kita. Bukan lagi sebagai petunjuk.

Untuk hal tersebut maka kita harus menyadari bahwa kepentingan-kepentingan atau pengalaman-pengalaman kita sendiri sangat berperan dalam hal kita memahami makna ayat-ayat dalam kitab suci. Jadi janganlah langsung mengkronfontir saya yang benar kamu pasti salah terhadap pemahaman orang lain. Mendingan disikapi dengan kepala dingin, dipelajari pelan-pelan. Mungkin akhirnya kita dapat hikmah dari perbedaan tersebut. Jangan sampai nantinya kedua pihak malah malu sendiri. Sebab bisa jadi ternyata kedua-duanya telah salah atau hanya memahami sebagian dan tidak utuh. Atau jadinya hanya memanfaatkan ayat-ayat kitab suci sesuai kepentingan pendapat pribadinya saja.

Oh iya, hal ini sejalan juga dengan pendapat saya bahwa kitab suci adalah hanya sebuah petunjuk. Dan hebatnya ayat yang sama bisa menjadi petunjuk untuk berbagai peristiwa yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dalam hal ini saya akan menukil sebuah pribahasa tua bahwa “Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya ” . Kaitannya dengan ayat kita suci adalah : bahwa setiap ayat bisa mempunyai makna yang berbeda-beda, tergantung kondisi dan siapa yang memaknainya. Bukankah memang kitab suci itu diturunkan sebagai petunjuk untuk pribadi-pribadi? Jadi logika saya mengatakan memang sudah dari sononya bahwa ayat-ayat kitab suci itu multitafsir. Hal ini untuk mengakomodir kebutuhan yang berbeda-beda dari setiap umat manusia.

Di akhir tulisan tiba-tiba terlintas bahwa jangan-jangan penyesuaian ini juga yang terjadi dalam justifikasi pro dan kontra tindakan teror atas nama agama. Atau juga tentang pro dan kontra pandangan liberalis . Bukankah kedua belah pihak telah menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai pendukung argumen masing-masing ?

Mungkin kita semua tanpa terkecuali perlu merenungkan kembali tentang kisah tiga orang buta yang menerangkan apa itu gajah. Jangan-jangan kita semua telah mengemukakan pandangan bagai orang buta yang menerangkan bagian gajah yang mereka raba. Namun merasa mereka sudah mengenal gajah secara lengkap.

…. tunjukkanlah saya jalan yang lurus, jalan yang telah dilalui para kekasihMu …

 

78 Tanggapan ke “Ayat Sebagai Pendukung Pendapat : Contoh Kasus Poligami”


  1. 1 joyo Mei 2, 2008 pukul 8:32 am

    ternyata seringkali ayat-ayat itu digunakan atas nama kepentingan

    hmmmm sepertinya ayat2 itu dibuat demi kepentingan manusia

  2. 2 watonist Mei 2, 2008 pukul 8:37 am

    lha memang gimana lagi, baca kitab (kitab apa saja) itu mesti bersuci dulu je …
    mau membuka mata, mau membuka telinga, ndak cuman sibuk ngomong saja.

  3. 3 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 9:13 am

    Dalam hal ini saya akan menukil sebuah pribahasa tua bahwa “Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya ”

    Kalo kaitannya dengan Islam, setahu saya itu hadis Qudsi. Bunyinya, “Sesungguhnya Aku menurut persangkaan baik hamba-Ku kepada-Ku.” dan itu dikategorikan Muttafaq ‘alaih.

  4. 4 brainstorm Mei 2, 2008 pukul 9:21 am

    balik ke kata2 bijak kemarin dan, Kebenaran hanya milikNya.. manusia hanya bisa menafsirkan. Jadi siapapun yang menggunakan kata-kata Tuhan maka akan benarlah dia. Kan fungsi Tuhan adalah tameng kebenaran (serendah itukah posisiNya??)

    ttg poligami? masih dilema saya :lol:

  5. 5 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 9:33 am

    @ brainstorm

    balik ke kata2 bijak kemarin dan, Kebenaran hanya milikNya.. manusia hanya bisa menafsirkan.

    Benar :)

    Jadi siapapun yang menggunakan kata-kata Tuhan maka akan benarlah dia. Kan fungsi Tuhan adalah tameng kebenaran (serendah itukah posisiNya??)

    Kalo dalam pandangan saya justru karena posisi-Nya yang tinggi itu Tuhan menjadi final protector bagi saya. Cuma bedanya, Tuhan ‘menjadi tameng kebenaran’ bagi saya secara inklusif, bukan eksklusif. Dalam artian, keimanan saya tak berhak diusik siapapun dengan alasan apapun. Perkara apa yang diyakini orang di luar diri saya sehubungan dgn Tuhan, terserah dia saja :mrgreen:

  6. 6 daeng limpo Mei 2, 2008 pukul 10:40 am

    Wah….saya merasa begitu kecil untuk menafsirkan hal tersebut. Saya malah ingin bertanya :
    1.Mengapa sejak manusia dilahirkan, Tuhan tidak langsung memberitahu kepada setiap orang siapa jodohnya…?
    2.Benarkah setiap pria ditakdirkan berjodoh dengan satu orang wanita saja?
    3.Bagaimana jika seorang istri “memaksa” suaminya untuk kawin lagi, karena mungkin sang wanita “kepayahan” dan menyatakan “menyerah” untuk melayani suaminya…sementara sang istri cinta banget sama suaminya (mungkin karena duitnya banyak dan nafsu seksnya tinggi)? (kalau pertanyaan yang ini hanya intermezzo saja, gak usah dijawab) :D

  7. 7 Rindu Mei 2, 2008 pukul 11:13 am

    Saya penganut poligami … buat saya, semua yang tertulis di kitab suci pastilah benar adanya, dan bermanfaat untuk umat. saya PRO poligami :)

  8. 8 Rindu Mei 2, 2008 pukul 11:18 am

    @daeng … pro poligami?

  9. 9 daeng limpo Mei 2, 2008 pukul 11:20 am

    @rindu
    saya tidak pro POLIGAMI dan MONOGAMi…saya hanya mengikuti INSTING dan NALURI saya saja :D

  10. 10 Sawali Tuhusetya Mei 2, 2008 pukul 1:27 pm

    poligami memang sudah lama menimbulkan pro-kontra, lebih2 setelah kaum feminis gencar menyuarakan hak2nya yang selama ini dianggap telah dibungkam oleh budaya patriarki. idiom2 semacam itu memang tak pernah lepas dari penafsiran2, mas dana. san saya sangat menghormati pilihan2 itu sepanjang memiliki kejelasa argumentasi!

  11. 11 Tgk. Alex Mei 2, 2008 pukul 3:51 pm

    Oh iya… bicara tentang poligami…
    Ngngng…
    Saya ndak termasuk dalam barisan yang pro-poligami. Sederhana saja: adik2 saya perempuan semua, dan saya ndak siap untuk membayangkan perlakuan tidak adil apa yang mungkin akan terjadi dengan poligami tersebut.

    Langka poligami yang adil itu. Bahkan ayahnya Hamka sendiri konon pernah menasihati Hamka utk tidak berpoligami (CMIIW).

  12. 12 nurma Mei 2, 2008 pukul 4:05 pm

    Jangan-jangan kita semua telah mengemukakan pandangan bagai orang buta yang menerangkan bagian gajah yang mereka raba. Namun merasa mereka sudah mengenal gajah secara lengkap.

    *segera epaluasi diri*
    makasih sudah mengingatkan :)
    (tumben nih orang gak propoktip)

  13. 13 Biyung Nana Mei 2, 2008 pukul 4:47 pm

    Poligami.. hmm.. liat pelakunya dulu deh dan latarbelakangnya apa… baru bisa menentukan apakah poligaminya bisa kurestui ato nggak. :D

  14. 14 danalingga Mei 2, 2008 pukul 6:27 pm

    @all

    Mohon kesadarannya bahwa artikel ini bukan tentang poligami. Poligami hanya menjadi contoh kasus di sini. Makasih. :D

    @joyo

    Kepentingan untuk petunjuk atau untuk dimanfaatkan membenarkan pendapat ya yo?

    @watonist

    Bisa lebih dipaparkan maksud bersuci itu?

    @Tgk. Alex

    Saya suka menganggap sebagai pribahasa sih lex. :P

    Eh, tapi jadinya prasangka yang baik aja ya?

    @brainstorm

    Oh, ternyata itu fungsi Tuhan. *tercerahkan*

    Bro, ini bukan tentang poligami kok. Tapi entak kenapa kok jadi banyak yang menganggap tentang poligami. *berniat ganti judul*

    @daeng limpo

    Jah, ini kan bukan tentang poligami daeng.

    @Rindu

    Mbak coba dibaca pelan-pelan deh. Saya ini tidak sedang membahas tentang poligaminya. :(

    @Sawali Tuhusetya

    Tapi pak, poligami disini hanya sebagai contoh kasus tentang pemanfaatan ayat-ayat. Jadi bukan membahas tentang poligaminya.

    @Tgk. Alex

    Bukan tentang poligami lex. Tapi tentang kita secara tidak sadar sering meletakkan fungsi ayat-ayat untuk mendukung pendapat pribadi. Bagaiman menurutmu lex?

    @nurma

    Waduh kurang propokatip ya? *nyiapin tulisan yang propokatip*

    @Biyung Nana

    Jah, kan bukan bahas poligaminya na. *garuk garuk idung*

  15. 15 esensi Mei 2, 2008 pukul 7:04 pm

    @ danalingga
    …Bahwa manusia itu sudah punya pendapat sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mencari dukungan di ayat-ayat yang disesuaikan dengan pendapatnya…

    Sudah menjadi “penyakit” umum Kang, kalau manungso itu doyannya mencari justifikasi atas apa2 yang ia pegang (agama, keyakinan, perbuatan, ucapan, and… whatever). Tapi… kok style tulisan panjenengan mirip2 Mas Ulil Abshar Abdalla, ya… (jadi inget tulisannya >> http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1331 ).

    [ah, ya dah deh, cuma numpang lewat, namanya jg pejalan, cuma kaget aja, nemu kata polipantai, eh, poligami, di postingan sampeyan kali ini]

    monggo…

  16. 16 danalingga Mei 2, 2008 pukul 7:16 pm

    Weleh, agak mirip ya. Mungkin karena sedang memandang persoalan yang sema dengan kacamata yang sama pula. :D

  17. 17 Santri Gundhul Mei 2, 2008 pukul 7:32 pm

    Kang Dana,
    POLIGAMI itu sinkatan dari
    ” Pekan Olahraga Lirak-lirik Gacoan Minal-minul ”

    Ngeloyor….sambil Lirak-lirik….

  18. 18 RETORIKA Mei 2, 2008 pukul 8:45 pm

    ndak pernah baaca ayat … ndak bisa nafsirin … tapi lalaki di poliandri mau apa ndak ?

  19. 19 danalingga Mei 2, 2008 pukul 9:06 pm

    Waduh, kok poligami lagi. Apa perlu ganti judul ya?

  20. 20 qzink666 Mei 2, 2008 pukul 9:10 pm

    Jadi pada sebagian orang, kitab suci itu mirip2 ensiklopedia yg cuma dibuka ketika gak tau.. :D

  21. 21 grace Mei 2, 2008 pukul 11:21 pm

    kalo saya ngeliat poligami itu sebenernya enggak cuma dari satu pihak aja sih. maksudnya ini ga cuma soal bisa ato tidaknya sang suami untuk bersikap adil, tapi juga adanya jaminan surga untuk sang istri yang rela ikhlas dalam menjalani perkawinan poligami.
    jadi kalopun si suami enggak bisa adil, maka ya bagian istri untuk menjadi ikhlas demi mendapatkan jaminan surga kelak..
    nah, kalo pandangan kaya gitu masuk ke bagian pro ato kontra tuh?termasuk yang peribadi yah mas dana?

  22. 22 esensi Mei 2, 2008 pukul 11:31 pm

    Wah, suettuju banget tu ama komennya Kang QZink! [angguk2]

  23. 23 abahdedhot Mei 3, 2008 pukul 12:05 am

    @mas dana
    …ehm, mungkin maksudnya mas dana… mengungkapkan “sifat universal” yang melekat pada kitab itu, dengan “penafsiran” yang pasti mengambang… cocok untuk diselaraskan dengan berjuta-juta pola pikir manusia… sifat universal ini hanya difahamkan oleh manusia-manusia “aneh”, sehingga terpancar dari dalam hatinya sifat bijak & ketepatan, damai di hati - damai di bumi.
    kalo kebanyakan “manusia”, sifat universal pada kitab ini malah menjadi penyulut, pemicu pertikaian, permusuhan, ke EGO an yang dipertuhankan, anti perbedaan… buta akan wujud sang Maha Pencipta, yang sempurna menciptakan jutaan pola fikir yang berbeda-beda…
    begitu kali ya mas…
    malah abah akan jadi bingung kalo TUHAN hanya menciptakan satu atau beberapa pola fikir saja pada makhlukNYA… itu mah TUHAN yang ngga kreatif.
    kata para ustadz mah “perbedaan adalah rahmat”…

    salam

  24. 24 brainstorm Mei 3, 2008 pukul 12:24 am

    @ dana

    ganti judul dulu aja lah..
    saran judul “Tentang Tafsir, bukan Poligami” :mrgreen:

  25. 25 brainstorm Mei 3, 2008 pukul 1:08 am

    tapi dan, taro’ lah semua tafsir itu salah, karna penafsiran manusia sangat meragukan dan kemungkinan besar hanya untuk kepentingan sepihak. Lalu dimana itu “benar”?
    kalau bermain dengan probabilitas, ya bisa diandaikan posisi manusia itu antara 0 sampai dengan 1.. 0 untuk salah dan 1 untuk benar. kita? diantaranya.
    Jadi, benar itu tidak ada, sama seperti salah. Karna kata Tuhan pun “yang benar menurut manusia, belum tentu benar menurut Aku”.
    Yang ada hanya petunjuk. Tapi apakah petunjuk itu benar? tetap tidak mutlak, karna Tafsir itu tadi.

    So.. untuk benjadi benar, manusia harus menjadi Tuhan. Apakah anda ingin menjadi Tuhan? :roll:

  26. 26 danalingga Mei 3, 2008 pukul 7:42 am

    @qzink666

    Mungkin memang begitu. Tapi kalo saya pribadi sih lebih kepada kitab suci itu ternyata tempat orang meyakinkan pendapatnya. Jadi Kitab suci dibuka untuk melihat apa pendapatnya mendapat dukungan dari ayat-ayat didalamnya.

    @grace

    Sebenarnya artikel ini bukan tentang poligami sih grace. Tapi sepertinya ada yang menggelitik dari pendapatmu itu. Sudah jelas bahwa ada syarat adil didalamnya (ayat AQ itu) . Nah berartikan kalo tidak bisa adil ya tidak boleh dilakukan bukan? Jika tetap dilakukan berarti melanggar perintah Allah. Apakah melanggar perintah Allah itu cuma berlaku buat suami saja, atau juga pihak istri yang mau ya? Sebab jika dua-duanya maka istri masuk surga itu kok jadi bertabrakan dengan AQ ya grace. :mrgreen:

    Dan menurut pendapat saya pribadi baha jika istri mau (membolehkan) dipoligami dengan tidak adil, maka istri tersebut juga ikut menanam saham dalam urusan pembangkangan perintah Allah berbuat adil tersebut.

    @abahdedhot

    Iya bah, begitulah kira-kira. Betapa Ayat-Ayat Kitab Suci tersebut ternyata bisa ditafsirkan berbeda-beda. Hal ini bisa jadi karena memang Kitab Suci adalah petunjuk untuk tiap-tiap orang. Tapi karena ada ego yang ikut bermain. Jadinya Kitab Suci bukanlagi sebagai petunjuk. Melainkan sudah menjadi alat untuk membenarkan pendapat pribadi.

    @brainstorm

    Sudah ganti judul. Sesuai belon ya? :roll:

    Ya mungkin memang salah semua atau bisa jadi benar semua. Sebab saya masih berpandangan bahwa kitab suci itu memang dibuat untuk menjadi petunjuk kepada kebenaran sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masing-masing pribadi. Tapi tentu ada syaratnya agar benar-benar kitab suci itu menjadi petunjuk. Yakni harus dibaca dengan kejernihan dan bebas dari ego (hem… mungkin ini yang dimaksud watonist di atas bahwa harus bersuci dulu) .

    So.. untuk benjadi benar, manusia harus menjadi Tuhan. Apakah anda ingin menjadi Tuhan?

    Ndak perlu jadi Tuhan, cukup mengenal Tuhan saja.

  27. 27 brainstorm Mei 3, 2008 pukul 8:14 am

    @ dana

    hehehe… kaya’nya masih kurang tuh, entar yang fast reader masih komeng poligami!! kan emang ga ada abisnya kalo poligami :mrgreen:

    Yakni harus dibaca dengan kejernihan dan bebas dari ego (hem… mungkin ini yang dimaksud watonist di atas bahwa harus bersuci dulu)

    bisakah? sedangkan manusia tesusun dari 2 unsur, Hati dan Nafsu (masih skeptis).

  28. 28 Biyung Nana Mei 3, 2008 pukul 11:18 am

    @Dana
    Heee.. habis kalo ada poligaminya bawaannya suka sensi :lol:

    mungkin bisa kasih contoh lain lagi deh yg bukan poligami :D minimal dengan 2 contoh berbeda.. jadi yang baca ga fokus ke poligaminya ajah… (tapi kira2 apa yah :D mungkin tentang definisi jihadnya para teroris) truss judulnya… poligaminya dihapus aja. eh ga juga gpp siy karena judulnya cukup ‘komersil’, bikin orang2 tertarik masuk kesini. saran aja lhoooo :D

  29. 29 padmasambawa Mei 3, 2008 pukul 11:20 am

    Kalau mau hidup sendirian ya boleh saja menafsirkan ayat kitab suci menurut kemauan sendiri-sendiri, toh akibatnya ditanggung sendiri..Kalau sepakat hidup bermasyarakat maka musti tidak bertentangan satu sama lain, maka dibutuhkan penafsiran yang bernilai “berlaku bagi semua”, disepakati bersama..
    Tentang kitab suci(dalam hal ini,yang saya pegang, Al Qur’an), asal penafsirannya tidak sepotong-sepotong (jika ada rangkaiannya)maka tidak akan ada pertentangan..Atau jika dibalik jika terdapat pertentangan dalam penafsiran Al Qur’an, barangkali karena penafsirannya sepotong-sepotong, tidak melihat rangkaiannya pada ayat yang lain..

  30. 30 daeng limpo Mei 3, 2008 pukul 11:22 am

    @danalingga
    maaf mas Dana, kalau kemarin OOT.
    Mengenai tafsir menafsir ini, seperti saya yang awam ini hanya mengikuti pendapat “ahli tafsir” saja. Soalnya untuk belajar tafsir menafsir ini “menurut saya” butuh waktu, sementara saya juga harus bekerja.
    Saya pribadi sebenarnya “bersangka baik” terhadap ayat tersebut, karena sebagian besar umat manusia gak ada yang mau dipoligami. Namun mungkin bagi pribadi-pribadi yang “sepakat” tanpa paksaan untuk melakukannya, apa hak kita untuk melarang?. (masih OOT nggak mas?)

  31. 31 danalingga Mei 3, 2008 pukul 8:57 pm

    @brainstorm

    Waduh, susah juga ya penentuan judul. Tapi ya memang saya membahas berangkat dari pro-kontra poligami itu sih. *garuk garuk hidung*

    bisakah? sedangkan manusia tesusun dari 2 unsur, Hati dan Nafsu (masih skeptis).

    Sepertinya bisa, contohnya yang disebut nabi. Mereka itu manusia biasa seperti kita-kita ini toh?

    @Biyung Nana

    Makanya jangan suka sensi na. :P

    Lah, saya memang menekankan pada peristiwa pro-kontra poligami itu sebagai kerangka dasar dari pembahasan saya. Mungkin kamu saja yang ngasih contoh lain, gimana?

    @padmasambawa

    Idealnya memang begitu. Cuma kan sering secara tak sadar kita menggunakan ayat-ayat untuk mendukung pendapat kita. Jadinya sering disesuaikan.

    @daeng limpo

    Mengikuti tafsir orang lain juga sama saja daeng. Seringnya kita mengikuti tafsir yang sesuai dengan pendapat kita.

  32. 32 cK Mei 3, 2008 pukul 11:32 pm

    saya ndak suka poligami. :roll:

  33. 33 danalingga Mei 3, 2008 pukul 11:38 pm

    iya, saya tahu chik. :roll:

  34. 34 trizna Mei 4, 2008 pukul 1:28 am

    saya ga setuju tentag poligami .
    tp sebagai muslim klo ada aturan di dalam al quran yang menyimpulkan di perbolehkan bepoligami dengan syarat DAPAT BERLAKU ADIL ..
    saya setuju .
    knp?? jarang ada manusia yang dapat berlaku adil.bagi yang blum mersa berlaku adil di larang berpoligami
    menurut pendapat mas gmn??mas pasti juga gaa bkalan ngedukung

  35. 35 zal Mei 4, 2008 pukul 2:44 am

    ::dan, permasalahan memahami ayat, sepertinya boleh-boleh saja dengan semampu apa bagi yg memahaminya, apa lagi Allah menggambarkannya “samudera menjadi tinta, dan ditambah tujuh serupa, belum habis AQ ditulis tintanya sudah habis”, demikian luas dan tak terbatasnya pemahaman AQ,
    yang mungkin (inipun jika memungkinkan lho) jika dalam memberikan arti AQ, jika perlu diberi arti harfiah per ayat mungkin lebih baik, sebab dengan adanya tanda kurung ( ) yg mungkin akan mendistorsi pemahaman kearah pemahaman penulis arti, sehingga pemahaman menjadi terbatas pada pemahaman si pengarti.
    bukankah para mysticus, bahkan satu hurf saja dapat memberikan suatu kode yg difahami, mengenai titik dibawah, titik diatas, titik yg satu atau dua, belum lagi seperti Alif Lam Miim, Alif Lam Raa, Miim dall, yang sepentara oleh mufassir atau pengarti hanya diberi “Hanya Allah yang Tahu MaksudNya”, jika didepan surah sudah seperti itu artinya maka semua surah sebenarnya seperti itu, termasuk isinya…
    ini juga mungkiin…

  36. 36 nindityo Mei 4, 2008 pukul 3:54 am

    betul sekali bos dana..
    gak bisa sebuah ayat digunakan sebagai justifikasi pendapat pribadi. seorang penulis pernah bilang.. “jangan mengutif perkataan seseorang jika kamu tidak mempunyai sikap batin kenapa orang tersebut berbicara seperti itu..”

    saya setuju bahwa kita musti melihat baik-baik asal kalimat itu, budaya setempat, keadaan saat itu, bahkan banyak kalimat yang setelah diterjemahkan dalam bahasa setempat ternyata tidak dapat dicari padanannya sehingga malah mempunyai arti yang berbeda sama sekali dari maksud awal kalimat itu.
    sebuah cerita :
    seorang pastur pernah ditampar umatnya, ketika akan dibalas umat tadi berkilah bahwa “kata Injil, jika seseorang ditampar pipi kirinya maka dia harus memberikan pipi kanannya.” pastur tadi diam, saat selesai ibadat ketika bersalam-salaman, pastur ketemu umat yang menamparnya tadi dan langsung membalas tamparan itu, umat tadi kaget. pastur berkata ,”ada tertulis, apa yang kamu tabur itu yang akan kamu tuai.” sepotong ayat suci, berbisa dimulut orang bodoh.

    kembali ke poligami, liat kenapa ayat itu diturunkan dan jangan liat sepotong saja.

  37. 37 Syahbal Mei 4, 2008 pukul 9:38 am

    Assalamualaikum..
    Hmm..
    Tafsir y? Rasul sudah menafsirkan alquran tuh..
    Apakah Allah perlu menurunkan tafsirnya jg.. Lalu buat apa Allah memberikan hati n akal..
    Sbenernya manusia itu bodoh atw sombong seh? Atw kedua-duanya?
    Hmm..

  38. 38 danalingga Mei 4, 2008 pukul 9:56 am

    @trizna

    Yah, ini kan bukan tentang poligaminya.

    @zal

    Mungkin juga harus dipahami soal bersuci dulu baru membaca itu zal. Kalo nggak begitu, bisa-bisa AQ dipake untuk menjustifikasi tindakan yang nggak Qurani.

    Selebihnya saya sependapat zal, bahwa memang AQ itu memberikan petunjuk sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap orang. Jadi berbeda yang baca bisa berbeda petunjuk yang didapat. Di situlah memang bisa keluasan AQ itu sehingga “samudera menjadi tinta, dan ditambah tujuh serupa, belum habis AQ ditulis tintanya sudah habis. ”

    @nindityo

    Maka marilah kita waspada semuanya. :D

    @Syahbal

    Lalu menurutmu kenapa ada perbedaan penafsiran seperti dalam kasus pro-kontra poligami itu bal?

  39. 39 daeng fattah Mei 4, 2008 pukul 12:35 pm

    Mending ambil hukum sekuler kalau gitu

  40. 40 trizna Mei 4, 2008 pukul 4:07 pm

    yah.. tentang apa yaa???ada apa dengan ayat poligami??

  41. 41 danalingga Mei 4, 2008 pukul 7:09 pm

    @daeng fattah

    Sudah kan?

    @trizna

    Baca dan resapi dulu. Bukankah baca perintah pertama? ;)

  42. 42 tomy Mei 5, 2008 pukul 7:46 am

    apa memang ayat2 suci itu sungguh2 Tuhan berkata kepada manusia seperti Kau & Aku sekarang?
    atau aku hanya ingin mendengar apa yang sebenarnya ingin kudengar dari Kamu

  43. 43 razuka Mei 5, 2008 pukul 8:58 am

    saya setuju dengan abah dedot.//
    hidup abah slalulah menyendiri hingga sunyi

  44. 44 uhuik Mei 5, 2008 pukul 11:37 am

    Bingung ngomonging poligami dan mbahas poligami dari ayat suci
    padahal
    pacar belum punya
    istri belum punya
    mau naksir gadis nggak pede
    internet terus pacarnya
    hwa kak kak kak
    disuruh poligami sama istri malah kapok nanti…

  45. 45 J&W Mei 5, 2008 pukul 12:22 pm

    Beberapa tahun yang lalu saya menyaksikan sahabat (sebut saja namanya Johni) saya masuk Islam, yg sengaja dipilih setelah sholat Jum’at di Mesjid Pondok Indah.

    Setelah bersalaman dengan dengan para tokoh mesjid, sahabat saya itu dipanggil oleh salah satu tokoh yang begitu ramahnya merangkul Johni dan memberi selamat. Saya ikut bergabung karena kita pikir akan dapat petuah dari sesepuh itu, tp saya & Johni agak terperangah waktu tokoh itu bilang “selamat nak Johni, mulai sekarang anda berhak mempunyai istri lebih dari satu, bahkan anda dibolehkan utk mengawini empat wanita yang anda sukai”

    Si Johni jadi bingung, gimana sih, aku baru aja selesai baca 2 kalimat shahadat, mau belajar lebih banyak, malah disodorkan boleh punya 4 istri. Baca Qur’an aja belon bisa (saat itu).

    Bagaimana nih Kang Dana?

  46. 46 pangonjat Mei 5, 2008 pukul 2:12 pm

    Syahwat saja nyari pembenaran.

  47. 47 danalingga Mei 5, 2008 pukul 6:52 pm

    @tomy

    Bisa jadi mendengar yang harus didengar.

    @uhuik

    Makanya jangan membicarakan poligami.

    @J&W

    Mungkin sang tokoh merasa cuma itulah keunggulan agama baru dibanding agama lama Johni.

    @pangonjat

    Ndak afdol kalo nggak ada pembenar.

  48. 48 abahdedhot Mei 5, 2008 pukul 9:59 pm

    @mas syabal
    Assalamu a’laikum… maaf abah “kaget” baca komeng nya…

    …”Rasul sudah menafsirkan alquran tuh..”

    SEJAK KAPAN RASULULLAH MENJADI “PENAFSIR”…???

    Kerena beliaulah yang berjumpa, menjelaskan, meRASAkan, dengan sgala bentuk YAKIN (ilmu, a’in, & Haq ) sehingga faham akan wujud kenyataan AL QUR’AN.
    Rasulullah bukanLAH Penafsir… Dia lah yang mengungkapkan “SESUNGGUHNYA KEBENARAN & KENYATAAN” karena sifat sidiq, amanah, fathonah & tabligh, yang melekat kepadanya…
    Kalo mau mengenal AL QUR’AN yang sesungguhnya, kenali RASULULLAH..!!! Dia adalah AL QUR’AN yang HIDUP…!!!
    sekali lagi… RASULULLAH BUKAN PENAFSIR…!!!

    wassalam

    @razuka
    HIDUP razuka pun “sendiri” dalam ke”ESA”an NYA… hanya “kehidupan” yang slalu ramai karena perbuatan sang HIDUP yang meliputi “kehidupan”… sifat NYA adalah sejati MU & dzat NYA adalah asal MU.
    “mulih ka jati, mulang ka asal”, Ina lillahi wa ina illaihi raji’un.
    setuju…???

    salam

    @mas dana :lol:

  49. 49 edratna Mei 6, 2008 pukul 6:33 am

    Untung suami nggak poligami, jadi ya nggak terlalu dipikirkan pendapat yang berbeda tentang pro kontra tsb sepanjang masih dalam perdebatan yang tak menimbulkan perpecahan.
    Penafsiran yang sering berbeda, mengakibatkan orang yang tak memahami hanya mengambil manfaat yang dilihat dari dirinya sendiri, bukan melihat dari sisi risiko dan tanggung jawabnya.

    Pertanyaannya: Bagaimana jika tiba-tiba suami poligami…jawabannya jelas, saya menolak, bukan masalah poligami nya, tapi sebelum bersedia menikah, maka telah ada kesepakatan berdua apa saja yang wajib dilakukan, bagaimana tujuan hidup kedepan, apa pandangannya terhadap seorang isteri dst nya. Nahh kalau itu diingkari….berarti perjanjian batal…

    Tapi banyakkah kaum isteri yang bisa dan berani mengambil keputusan seperti tsb, karena ada yang kawatir nama baik, tak punya penghasilan sendiri, kawatir dengan nasib dan perasaan anak-anak. Jadi sebuah keputusan memang harus dipikirkan segala akibatnya, dan ini yang membuat sulit.

  50. 50 dimas Mei 6, 2008 pukul 12:13 pm

    agree dengan mbak edratna…masalah poligami masalah person masing2. kalo isteri rela di poligami ya monggo, kalo tidak ya jangan..
    seperti kata gus dur “gitu aja kok repot”
    hehehe

  51. 51 grace Mei 6, 2008 pukul 7:54 pm

    ya bukan maksudnya si suami berhak berpilogmi terus dia bisa enggak adil, kembali ke essensi awal syarat itu tadi, ya suami harus menyanggupi berlaku adil, tapi kalo di tengahnya ternyata enggak adil (ya manusia ga ada yang sempurna kan?terkadang ada silap dan cacat di sana sini, tapi tentu di uahakan terus buat bersikap adil, itu udah urusan suami dan Yang diatas lah, kok dia menyalahi syarat yang di berikan tadi), nah sedangkan dari pihak istri, untuk yang mampu bersikap sabar dan ikhlas ketika menghadapi segala cobaan dalam rumah tangga, terutama ketidak adilan dan rasa berat dalam satu pernikahan poligami, nikmat surga lah jaminannya). bukan maksudnya sang istri mau mau saja di sikapi tidak adil, toh Allah membolehkan jalan cerai kok kalo pada akhirnya ketidak adilan itu merusak sebuah mahligai pernikahan, ya sang istri halal halal saja kok meminta cerai..
    tapi itu sih menurut saya… :mrgreen:
    eh tapi saya setuju kalo ayat poligami itu ga boleh d jadikan pembenaran dalam berpoligami, sebab, memang sangat sulit di lakukakn. menurut saya peribadi :mrgreen:

  52. 52 danalingga Mei 6, 2008 pukul 8:04 pm

    @edratna

    Sebenarnya ini bukan membahas soal poligaminya bu. Tapi lebih kepada mengapa sampai bisa pihak yang pro-kontra memilih bagian ayat yang mendukung pendapatnya. Nah kekhawatiran saya, jangan-jangan begitu pula dengan ayat lainnya. Sehingga jadi tidak utuh.

    @grace

    Nah, kan jadi panjang ngejelasinnya. :P

    Ok, saya terima dulu pendapatnya. Tapi artikel ini bukan bahas poligaminya sih grace.

  53. 53 Faubell Mei 7, 2008 pukul 6:28 pm

    Tadabur ayat tersebut akan lebih lengkap apabila dimulai dari ayat 1,kemudian 2, dan 3. Kalau dipahami ayat 3 saja, terbuka kemungkinan timbul pendapat yang pro poligami, monggo…, silahkan.
    Namun terbuka kemungkinan baru, kalau dimaknai dari ayat 1~3. Dan Insya Allah dapat diperoleh makna yang lain, misalnya proses pengambilan keputusan dalam menjalankan hidup manusia berdasarkan karunia yang diberikan Allah terhadap setiap manusia berdasarkan fitrah penciptaannya.
    Maaf, perbedaan adalah rahmat. Silahkan masing2 memilih. Yang penting pilihan Anda berdasarkan pertimbangan yang masak. Jangan asal taklid aja. Tetapi, pilihan manusia itulah yang akan mengubah jalan hidupnya ke depan. (manusia tidak sadar telah ngobahke jangka).
    Waspadalah!!!! Waspadalah!!!.

  54. 54 Faubell Mei 7, 2008 pukul 6:44 pm

    Sedikit Tambahan:
    Berhati-hatilah dalam mengambil referensi ayat untuk mendukung pendapat Anda. Jangan sampai Anda termasuk orang yang yang menjual Ayat-ayat-Nya dengan harga yang murah.
    Waspadalah!!!! Waspadalah!!!

  55. 55 danalingga Mei 8, 2008 pukul 6:17 am

    Sepertinya memang harus begitu. Kalo pendapat saya sih malah harusnya dibaca seluruh ayat baik tertulis maupun tidak tertulis untuk mengetahui makna sesungguhnya.

  56. 56 Raden Mas Panut Mei 9, 2008 pukul 1:12 am

    Pemahaman masing-masing orang tentang ayat-ayat dalam kitab2 suci agama memang bisa berbeda, dan mereka masing-masing merasa paling benar.
    Menurut saya “kebenaran” itu sendiri tidak mutlak, karena beda pengertian dan penafsiran itu tadi. Karena, benar menurut si A belum tentu benar menurut si B.
    Alangkah baiknya yang kita lihat kebaikannya ayat2 kitab suci tsb terhadap hidup kita dan kita implementasikan dalam hidup kita ini.

    Jadi dengan demikian ayat-ayat yang kiranya baik dan relevan untuk kita terapkan dalam hidup kita bermasyarakat sajalah yang harusnya kita pakai sebagai pedoman.

  57. 57 danalingga Mei 9, 2008 pukul 4:50 am

    Iya, sepertinya begitu lebih masuk akal.

  58. 58 Faubell Mei 10, 2008 pukul 11:21 am

    @ Raden Mas Panut
    Salam kenal Raden Mas.

    “kebenaran” yang Anda maksud itu kebenaran yang ada dari hasil olah pikir dan budi manusia atau “Kebenaran” dari Sang Maha Benar. Kalau yang pertama memang tidak mutlak, sedangkan yang kedua adalah Mutlak.
    Karena persepsi manusia itu berbeda-beda tergantung dari hidayah Allah yang ditanamkan dalam jiwa manusia tersebut. Makanya lakukan olah pikir dan budi dan jalankan amal kebaikan (jangan kotori jiwa itu). Insya Allah, Allah akan menurunkan hidayah yang lebih baik, sebagai kerangka penyempurnaan jiwa manusia.

    Raden Mas Panut :”Alangkah baiknya yang kita lihat kebaikannya ayat2 kitab suci tsb terhadap hidup kita dan kita implementasikan dalam hidup kita ini.”
    Saya lebih cocok dengan pemikiran Anda, bahasa sononya “Tadabur”, jangan bilang tafsirlah, kecuali kalau memang kita sudah memiliki prasyarat untuk menjadi Ahli Tafsir.

  59. 59 razuka Mei 10, 2008 pukul 11:57 am

    untuk lebih jauh mengkaji tentang ayat-NYA maka tanya aja pada-NYA karena ha-NYA dia yang tau persis tentang bagaimana kalam-NYA.
    @abah dedhot
    HIDUP ( Rani Razuka ) tentu dalam ESA-NYA bukan ke-ESA-anNYA karena awalan Ke= artinya menuju
    akhiran An= artinya bukan sesungguhnya.
    (contoh)
    ketika kita memahami kata main itu berarti sesungguhnya,
    namun bila kata itu menjadi main-an maka akhiran an menerangkan bukan sesungguhnya.
    BTW..untuk abah dedhot is OK!!! * terselip maksud *
    <>

  60. 60 pencari tuhan Mei 10, 2008 pukul 12:29 pm

    @ Faubell

    saya kurang setuju kalau “kebenaran” tuhan itu mutlak, dia memang maha segalanya salah satunya maha benar, tapi karena dia maha segalanya berarti dia juga maha salah dong. betuuuuul ?

  61. 61 Faubell Mei 10, 2008 pukul 6:31 pm

    @Pencari Tuhan
    Terimakasih atas pertanyaannya.
    1.Pemahaman saya tidak. Kalau Allah mengilhamkan kefasikan dan ketakwaan ke setiap jiwa, iya betul. Saya tidak boleh menisbatkan kesalahan kepada Allah, karena itu tidak sopan.
    2. Kebenaran yang saya maksud di sini adalah manakala saya ikut kehendak Allah, maka saya Benar, Sebaliknya, kslsu saya tidak mengikuti kehendak Allah, maka saya Salah. Kebenaran seperti itulah yang saya maksud, sehingga Benar menurut Allah itu mutlak benar bagi manusia, walaupun tidak sesuai pemahaman manusianya. Makanya pemahaman benar salah menurut manusia jadi tidak mutlak.

  62. 62 danalingga Mei 10, 2008 pukul 8:48 pm

    Untuk soal Tuhan apa juga salah? Mungkin posting di sini bisa sedikit menjelaskan.

  63. 63 Faubell Mei 12, 2008 pukul 12:38 pm

    @Dana
    Proses pencarian Tuhan, adalah proses pencarian Kebenaran. Dalam prosesnya Insya Allah akan ditemukan dulu dengan tuhan-tuhan yang Tidak Benar, tuhan yang salah. Benturan persepsi akan terjadi. Jangan takut, waspadalah, jalani terus pencarian itu, berpikir positif dan dilandasi keihlasan. Yakinlah bahwa Sang Maha Benar yang akan menuntun Anda untuk menuju kepada-Nya. Bagi pencari kebenaran, menisbatkan kesalahan kepada Sang Kebenaran adalah tidak sopan dan hanya akan menambah hijab yang justru semakin menjauhkan dari Sang Kebenaran.
    “Untuk apa kita mengupas kulit telur, kalau kita sudah merasa tahu telor itu busuk. Hanya akan meyakinkan bahwa telor itu busuk kan?”.

  64. 64 rajani simatupang Mei 12, 2008 pukul 1:27 pm

    kok repot2 ya? mestinya kita berangkat dari penciptaan manusia,utk adam hanya satu orang diberikan perempuan(hawa/eva).Bukankah TUHAN dapat menciptakan lima perempuan utk adam? tetapi mengapa TUHAN hanya memberikan satu orang?artinya basicnya satu orang,lebih dari situ maunya manusia(bukan perintah TUHAN).

  65. 65 daeng limpo Mei 12, 2008 pukul 3:47 pm

    @rajani simatupang
    Lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya dengan kisah nabi adam dan eve …?
    Maaf, saya tidak mendukung poligami tetapi juga tidak menentangnya.
    Pertanyaan saya…?
    Jika Manusia boleh memilih mengapa Tuhan hanya menyediakan satu….? benarkah jodoh setiap laki-laki itu satu…?, buktinya ada yang cerai kawin lagi, artinya jodohnya kan nggak satu…? inikan hanya masalah waktu karena ada selang waktu antara jodoh yang satu dengan yang lain. Bagaimana jika pada saat yang bersamaan dua orang wanita menyukai satu pria dan keduanya rela “berbagi”…..?
    ***maaf ini bukan untuk mendukung pria-pria yang “meniatkan” poligami***
    —salam—

  66. 66 danalingga Mei 12, 2008 pukul 5:16 pm

    @Faubell

    Apa itu benar dan salah?
    Apa itu sopan dan tidak sopan?
    Bukankah semua itu masih dalam dualisme sobat?

    Yang aku cari bukan yang maha benar, sebab pasti ada yang namanya maha salah jika begitu.

    Yang aku cari adalah yang tidak terumuskan. ;)

  67. 67 Faubell Mei 12, 2008 pukul 6:11 pm

    @Dana
    Aha.. Good. Thank’s Bro.

    Dari dualisme menuju ke “yang tidak terumuskan”, atau yang lebih umum dari pluralisme menuju ke singularitas. Pada singularitas, pengetahuan manusia sudah terhenti, tidak mampu mendefinisikan lagi.

    Jadi terinspirasi dengan ayat ini :

    “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiyaa’ :30)”

    Waduh, baru sadar saya masih kafir tental hal ini.

    *Nyorongin Kopi ke Om Dana*

  68. 68 danalingga Mei 12, 2008 pukul 6:31 pm

    Ah, terimakasih telah memberikan kalimat yang bagus.

    Dari dualisme menuju ke “yang tidak terumuskan”, atau yang lebih umum dari pluralisme menuju ke singularitas. Pada singularitas, pengetahuan manusia sudah terhenti, tidak mampu mendefinisikan lagi.

  69. 69 kenthir Mei 14, 2008 pukul 3:38 pm

    @Pencari Tuhan
    numpang tanya “Tuhan maha segalanya” itu termasuk asmaul husna atau hanya akal-akalan @pencari tuhan.
    Tuhan maha salah ? ha ha ha ha, apa definisi salah dari kacamata Tuhan. Lah wong Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Mosok ada kreasi salah-kreasi betul. Tanya lagi apa bisa Tuhan bisa masuk neraka? mengapa tidak?Tuhan yang menciptakan, tentu saja bebas mau keluar masuk, lha wong neraka dan malaikat tunduk pada kekuasaan Tuhan. neraka mau didinginkan juga bisa, dibuka-tutup juga bisa tentunya dengan kehendak Tuhan. Tuhan masuk surga? kenapa tidak? Jadi Tuhan dimana? dimana-mana ada manifestasi/tajalli Tuhan. Alamat Tuhan dimana, jawabnya di arashy. Ngendi kuwi? Mboh.

  70. 70 pencari tuhan Mei 14, 2008 pukul 9:25 pm

    bayi terlahir cacat, manusia terlahir bencong, bayi lahir langsung mati. apakah sebabnya ?
    bukankah ini tuhan juga maha salah ? apa karena tuhan sudah terlalu tua jadi mulai pikun ya ??

  71. 71 daeng limpo Mei 15, 2008 pukul 11:00 am

    @pencarituhan
    dari sisi mana anda menganggapnya salah…..?

  72. 72 Faubell Mei 15, 2008 pukul 12:00 pm

    @pencari tuhan
    Jangan kotori jiwamu, nanti kamu merugi.

  73. 73 pencari tuhan Mei 17, 2008 pukul 11:11 pm

    @daeng limpo

    dari hasil kraesi atau ciptaan dia sendiri. contoh seperti diatas.
    dalam kasus poligamipun itu salah dia, kenapa nggak dibikin prosentase pria wanita sama jumlahnya? yang akhirnya bikin masalah!

    @faubel

    dikotori oleh apa jiwaku ini. kurasa malah murni tanpa doktrin-doktrin agama yang malah mengotori jiwa2 manusia yang katanya tahu agama dan tuhan. betuuuul?

  74. 74 adit Mei 18, 2008 pukul 11:58 am

    …Bahwa manusia itu sudah punya pendapat sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mencari dukungan di ayat-ayat yang disesuaikan dengan pendapatnya…

    ehem.. menurut saya pernyataan ini bisa menjadi dilema tak berujung seperti “mana yg lebih dulu, telur atau ayam ?”

    pada kenyataanya menurut saya, manusia sulit berpikir kalau tanpa referensi

    so bisa jadi juga kan, manusia membaca ayat tersebut lalu karena ayat tsb dia dapat inspirasi lalu berpendapat deh …

  75. 75 danalingga Mei 18, 2008 pukul 5:10 pm

    so bisa jadi juga kan, manusia membaca ayat tersebut lalu karena ayat tsb dia dapat inspirasi lalu berpendapat deh …

    Kalo begini kan memang sudah benar yakni memperlakukan ayat sebagai petunjuk, bukan malah sebaliknya, memperlakukan ayat sebagai pembenaran pendapat. Gitu sih yang aku tangkap, maaf kalo salah. :D

  76. 76 papabonbon Mei 24, 2008 pukul 1:03 pm

    demi kepentingan manusia

    ketika masih miskin dan istri masih muda dan cakep cakepnya : pilih monogami

    ketika sudah kaya, terkenal, cari temen ngobrol yang cantik dan asik punya : jadi pendukung poligami deh …

    hehehe :p hidup islam agamaku ..

  77. 77 danalingga Mei 24, 2008 pukul 9:24 pm

    Walah, pemanfaatan ayat poligami yang maksimal tuh. :P

  78. 78 Kucing Mei 24, 2008 pukul 10:56 pm

    Saya numpang baca baca yah…dapet situs blog ini dari blognya Daeng Fattah

Tinggalkan Balasan




AKU

Bermakna

Jenis Perjalanan

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku