J. Krishnamurti Menjelaskan Pilihanku

“Saya nyatakan bahwa kebenaran adalah wilayah tanpa jalan [Truth is a pathless land], dan kalian tak dapat mendekatinya melalui jalan apa pun, melalui agama apa pun, melalui sekte apa pun. Itulah sudut pandangku, dan saya berpegang pada itu secara mutlak dan tanpa syarat.

 Kebenaran, yang tanpa batas, tak terkondisi, tak dapat didekati melalui jalan apa pun, tak dapat diorganisir; tidak semestinya dibentuk suatu organisasi untuk menuntun atau memaksa orang menempuh suatu jalan tertentu. … Anda mungkin membentuk tarekat-tarekat lain, Anda akan terus masuk organisasi lain untuk mencari kebenaran. … Aku tidak ingin masuk organisasi spiritual apa pun; harap pahami ini. Jika suatu organisasi dibentuk untuk tujuan itu, itu akan menjadi tongkat penopang, kelemahan, belenggu, dan pasti akan melumpuhkan manusia, dan menghalanginya tumbuh, untuk menegakkan keunikannya, yang terletak pada penemuannya sendiri akan Kebenaran mutlak yang tak terkondisi. … Aku tidak menginginkan pengikut. Pada saat kalian mengikuti seseorang, kalian tidak lagi mengikuti Kebenaran. … Oleh karena aku bebas, tak terkondisi, utuh, bukan bagian, bukan relatif, melainkan seluruh kebenaran yang abadi, aku menghendaki mereka yang ingin memahamiku, untuk bebas pula, bukan mengikutiku, bukan membuat dariku sebuah kurungan, yang akan menjadi sebuah agama, sebuah sekte. … Kini aku telah memutuskan untuk membubarkan Tarekat ini, karena kebetulan aku menjadi Ketuanya. Kalian boleh membentuk organisasi-organisasi lain dan mengharapkan orang lain. Aku tak peduli dengan itu, tidak pula dengan menciptakan kurungan-kurungan baru, dan hiasan-hiasan baru untuk kurungan itu. Satu-satunya minatku hanyalah membuat manusia bebas secara mutlak, tanpa terkondisi.”

Kutipan di atas diambil dari kata-kata J. Krishnamurti saat membubarkan tarekat yang dipimpinnya setelah beliau mendapat pencerahan. Adapun saya menyempatkan diri untuk memuat kutipkan tersebut diblog saya ini adalah disebabkan bahwa kata-kata beliau ini, sangat tepat menggambarakan bahwa kenapa saya memilih untuk tidak terikat pada salah satu agama. Bahkan aliran spiritualpun aku tidak mengikat diri. Kucicipi ke-spiritual-an itu dari aliran manapun datangnya, selama bisa lebih mendekatkan aku pada kesejatian. Hanya merasakan tanpa syarat..

Sangkar yang telah lama ada
Sangkar pusaka warisan para leluhur
Indah, berlapis emas dengan sedikit berlian
Pesonanya memancar tiada terperi

Tapi sayang itu tetaplah sangkar
Yang memasung kebebasan seekor burung
Cicitnya ke kalbu, keinginannya terbang bebas
Berkelana tanpa batas, tanpa halangan

Maka kubuka pintu sangkar itu
Penuhi keinginan, biarkan burung terbang
Hinggap sesuka hati dimana dia berkehendak
Tanpa batas, tanpa halangan ‘tuk nikmati hidup

Cicitnya menjadi riang
Menyenangkan!

 

 

Kridit:

Kutipan diambil dari sini .

 

Disclaimer :

Tulisan Krishnamurti ditujukuan kepada para pelaku spiritual, bukan buat kalangan awam. Terimakasih.

 

64 Tanggapan ke “J. Krishnamurti Menjelaskan Pilihanku”


  1. 1 ekapratiwi Mei 14, 2008 pukul 8:58 am

    raja diatas raja………………..
    salut.

  2. 2 ulan Mei 14, 2008 pukul 9:09 am

    weh… krishnamurti juga… nice.. pencerahan nya emang keren..
    mmm
    keren sekaligus pusing..
    pusing tapi mikir,
    mikir tapi kosong..
    lah..

  3. 3 goop Mei 14, 2008 pukul 9:33 am

    bila burung terbang bebas, tuan
    suatu ketika akan lelah,
    hinggap pula pada sebuah dahan,
    terkadang hujan basah,
    adakah dahan yang kan menaungi?
    siapakah itu? apakah itu?
    *terbang lagi* :P

  4. 4 esensi Mei 14, 2008 pukul 9:44 am

    Hmm…[angguk2]
    jadi individu independen ya…
    why not, tuh?

  5. 5 daeng limpo Mei 14, 2008 pukul 10:45 am

    yang pertama-tama saya ucapkan adalah ungkapan terima kasih kepada anda, atas postingan yang menarik ini.

    Saya merenungkan dan merasa kagum dengan prinsip beliau.

    Sepengetahuan saya agama-agama besar yang ada memanglah mengorganisasi ajaran-ajarannya sehingga menjadi besar. Karena ada “keinginan” untuk menjadi besar, ada keinginan berkuasa dan menguasai. Kalau hal tersebut tidak ada, saya pesimistis agama-agama besar yang ada sekarang bisa sebesar seperti saat ini.

    .

    Bagaimana pendapat anda bung?

  6. 6 tukangkopi Mei 14, 2008 pukul 11:11 am

    bahwa kata-kata beliau ini, sangat tepat menggambarakan bahwa kenapa saya memilih untuk tidak terikat pada salah satu agama.

    gw jadi penasaran, dan. di KTP lo agamanya tertulis apa ya? :mrgreen:
    gak usah dijawab bro..ini pertanyaan SARA..cuman nulis yang terbersit aja :lol:

  7. 7 dnial Mei 14, 2008 pukul 12:41 pm

    Krisna Mukti?
    Yang digosipin homo itu, ternyata selama ini sama kamu?
    *lagi error*

    Ada yang milih jalan bebas, ada yang milih jalan tertentu.
    Bebas aja…
    Siapa tahu kita ketemu di sebuah persimpangan, meskipun mungkin kita tidak bertemu di ujung jalan.

  8. 8 Guh Mei 14, 2008 pukul 1:06 pm

    Syukurlah tak banyak orang yang memilih bebas seperti sampeyan, jadi bisnis agama masih tetap menjanjikan *optimis*

  9. 9 Guh Mei 14, 2008 pukul 1:10 pm

    Btw… Itu menjelaskan “aku”, atau menjelaskan “aliran ku”? Saya kok merasa agak tertipu oleh judulnya.

  10. 10 preethink Mei 14, 2008 pukul 1:51 pm

    Hmm saya tidak harus mengikuti pemikiran dan langkah J krishnamurti. Saya memilih mencari bekal pengatahuan, menekuni tarekat, setelah lulus bisa pindah pencarian ilmunya, tak apa-apa terikat dengan suatu metodologi pendekatan tuhan, tak apa-apa menjadi besar,tak apa-apa banyak teman,tak apa-apa menjadi mayoritan, tak apa-apa sama dengan orang lain yang penting hati menemukan Tuhan yang sejati. Dalam kebersamaan keterikatan saya masih merasa bebas. Bukankan dekat Tuhan mensyaratkan hati kita bebas dari segala keduniaan. Makan boleh enak, istri boleh cantik, boleh juga kayaraya, namun hati masih bisa bebas dari rasa memiliki semuanya itu; karena hati ini ingin kupenuhi dengan Allah swt.
    Inilah perbedaanku dengan j krishnamurti. aku bebas dari pengaruh j krishnamurti.

  11. 11 tomy Mei 14, 2008 pukul 2:37 pm

    postingan yang bagus Kang Dana :D
    hanya bisa diucapkan oleh mereka yang mencapai ‘penerangan’
    hanya sering manusia butuh penunjuk jalan, sukur2 yang mau jadi guide-nya
    padahal hidup bersifat bisa diselami
    semuanya tergelar sepanjang jalan
    karena bukan tujuan yang penting saat manusia melangkahkan kaki
    namun sejatinya perjalanan itu sendiri
    sayapun berjalan tak bertolak dari kemana aku akan pergi
    karena perjalanan kita adalah URAIAN dari KENYATAAN YANG KITA HADAPI
    *ah ngomong saya mungkin dianggap ngelantur…tapi nyanyaian jiwaku semakin nyaring :D *
    mentari bersinar burung berkicau dan bunga bermekaran
    alangkah indah saat kukatakan YA pada hidup ini

  12. 12 CY Mei 14, 2008 pukul 3:41 pm

    @preethink
    coba direnungkan ulang, dengan komentar anda secara tidak langsung berarti anda mengiyakan pendapat Krishnamurti pada postingan di atas ini.. hahahaha…

  13. 13 CY Mei 14, 2008 pukul 3:44 pm

    Dan, kutipan kata2 Krishnamurti di atas betul2 sesuatu kebebasan yg mengikat dan keterikatan yg bebas. Seperti kata2 “Kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong” hehehe… :)

  14. 14 tobadreams Mei 14, 2008 pukul 6:12 pm

    tanpa komentar

    (buat apa lagi kata-kata kalau diam saja kita sudah saling mengerti ?)

    Raja Huta

    (penganut “agama” kasih sayang,
    yang sealu gagal mengamalkannya)

  15. 15 Faubell Mei 14, 2008 pukul 6:54 pm

    @Dana
    ” Adapun saya menyempatkan diri untuk memuat kutipkan tersebut diblog saya ini adalah disebabkan bahwa kata-kata beliau ini, sangat tepat menggambarakan bahwa kenapa saya memilih untuk tidak terikat pada salah satu agama. Bahkan aliran spiritualpun aku tidak mengikat diri. Kucicipi ke-spiritual-an itu dari aliran manapun datangnya, selama bisa lebih mendekatkan aku pada kesejatian. Hanya merasakan tanpa syarat..”

    Mendekatkan itu ada proses berpindah nggak? Atau sampeyan hanya mbulet di tempat?

  16. 16 danalingga Mei 14, 2008 pukul 7:02 pm

    @ekapratiwi

    Saya juga salut.

    @ulan

    Wedew, kenal juga ama krishnamurti toh mbak?

    @goop

    Tenang goop
    kan bebas hinggap dimana saja dia suka.

    @esensi

    yup, mengapa tidak. :D

    @daeng limpo

    Idealnya sih tidak begitu. Tapi pada kenyataannya memang sepertinya kok lembaga agama jadi melihat kuantitas, bukan kualitas. Sungguh perlu dipastikan lagi apa sih tujuan agama sebenarnya? Sebab saya kira tujuan agama seharusnya bukanlah untuk menjadi besar, tapi untuk menjadi petunjuk bagi manusia.

    Soal apa agama-agama bisa besar jika tidak ada “keingingan” jadi besar, maka saya sendiri kurang tahu apa akan begitu.

    @tukangkopi

    Itu misteri abad ini. :P

    @dnial

    Tapi kata Krisnamurti itu harusnya tanpa jalan sama sekali.

    @Guh

    Walah, jadi sampeyan yang jualan agama itu toh. :P

    Hem… judulnya menipu ya? Akan saya ganti menjadi pilihanku deh. Soalnya memang “Aku” bisa diartikan lain sama orang seperti anda ini.

    @preethink

    Hmm saya tidak harus mengikuti pemikiran dan langkah J krishnamurti.

    Memang itu yang diinginkan oleh Krishnamurti. Bahkan jalannya pun jangan diikuti sebab akan menjadi penghalang antara kita dan kebenaran.

    Saya memilih mencari bekal pengatahuan, menekuni tarekat, setelah lulus bisa pindah pencarian ilmunya, tak apa-apa terikat dengan suatu metodologi pendekatan tuhan, tak apa-apa menjadi besar,tak apa-apa banyak teman,tak apa-apa menjadi mayoritan, tak apa-apa sama dengan orang lain yang penting hati menemukan Tuhan yang sejati. Dalam kebersamaan keterikatan saya masih merasa bebas. Bukankan dekat Tuhan mensyaratkan hati kita bebas dari segala keduniaan. Makan boleh enak, istri boleh cantik, boleh juga kayaraya, namun hati masih bisa bebas dari rasa memiliki semuanya itu; karena hati ini ingin kupenuhi dengan Allah swt.

    Eh, tapi jalanmu ini kok sama dengan jalan krisnamurti ya? Kebetulan atau bagaimana tuh? :D

    @Inilah perbedaanku dengan j krishnamurti.

    Saya sih tidak melihat bedanya. Bisa dijelaskan lagi dimana bedanya?

    aku bebas dari pengaruh j krishnamurti.

    Memang J. Krihnamurti menekankan bebas dari pengaruh segala hal, termasuk dari pengaruh J. Krishnamurti itu sendiri.

    @tomy

    Intinya sih bahwa memang harus mengalami sendiri, tidak bisa diwakilkan atau meminjam pengalaman orang lain.

    Dan ketika YA pada hidup, maka alangkah bahagianya. Surga.

    @CY

    Yup, kebetulan memang sejalan dengan prinsipku selama ini.

    Ah iya, “Kosong adalah isi, isi adalah kosong” masih tetap memberi getar-getar tersendiri setiap mendengarnya.

    @tobadreams

    *hening*

    @Faubell

    Mendekatkan itu ada proses berpindah nggak? Atau sampeyan hanya mbulet di tempat?

    Jujur, saya tidak tahu.

  17. 17 Faubell Mei 14, 2008 pukul 8:11 pm

    @Dana
    Mendekat adalah proses bergerak dari posisi lebih jauh ke lebih dekat terhadap suatu hal atau benda yang didekati. Berarti ada proses berpindah / berjalan.
    Tetapi dekat kan tidak berarti bersatu tho? Kalau sudah bersatu ya nggak perlu jalan lagi, ngikut aja…

    Jujur, Saya OOT terhadap pendapat Krisnamurti itu. Meniadakan jalan itu bagaimana ya? Bukankah tidak memilih itu telah melakukan pilihan juga.

    Terus untuk mas Dana, berkaitan dengan pendapat diatas saya tanyakan begini : “Mendekatkan itu ada proses berpindah nggak? Atau sampeyan hanya mbulet di tempat?”
    *OOT sambil narik2 rambut*

  18. 18 alex® Mei 14, 2008 pukul 8:36 pm

    [OOT]

    Beuh… kirain bahas krisna mukti yang presenter itu. Sejak kapan rupanya jadi pengikut acara tipi? :lol:

    [/OOT]

  19. 19 cK Mei 14, 2008 pukul 9:37 pm

    hhmm….saya ngerti postingan ini. tapi bingung mo komen apa… :-?

  20. 20 iman brotoseno Mei 14, 2008 pukul 10:05 pm

    kira kira dengan ajaran manunggaling kawula Gusti Syeh Siti Jenar gimana ? Tuhan ada dalam aku…?

  21. 21 Wagu Banget Mei 15, 2008 pukul 1:32 am

    Wuih ini pendalaman spiritual yang sangat tinggi …namun yang jadi persoalannya adalah…realita.
    Realita yang terjadi adalah dalam satu komunitas (apapun itu)musti ada tatanan.
    Mengapa musti ada tatanan supaya ” Tidak Sak Karepe Dhewe ( Semau ).Kenapa tidak boleh Sak Karepe Dhewe Supaya tidak terjadi kisruh….apa Kata Dunia Kalau Semuanya Kisruh….Kalau terjadi kisruh maka kita akan setback ke jaman Batu.
    Sah sah saja Manusia sebagai individu menahbiskan diri tidak mengikuti apapun…tidak mengakui punya negara (walau tinggal di negara itu),tidak mengakui punya agama ( Karena Agamapun tidak akan Patheken jika ada orang yang enggak mengakuinya).
    Namun pertanyaannya adalah Apakah Manusia itu tetap tinggal dalam suatu Komunitas…? ( apakah itu dalam lingkungan Masyarakat,Agama,Kepercayaan….dsb).Kalau iya apa ini tidak menjadi persoalan didalam komunitas ini..?
    Terus kalau menjadi persoalan dalam Komunitas…apa ya tentram dalam mengarungi Samudra Kehidupan di Masyarakat banyak.
    Mungkin lontaran lontaran pertanyaan dan pernyataan saya ini menggambarkan betapa Cetheknya tingkat spiritualitas saya sebagai orang ndeso yang kurang ngangsu kawruh .
    Nuwun Sewu Kalau ada kata kata yang kurang berkenan..sebab yang saya posting ini hanyalah ungkapan pribadi dan tidak ada maksud untuk menyakiti..hanya mengkritisi saja.
    Salam Kenal

  22. 22 zal Mei 15, 2008 pukul 2:44 am

    ::tak ada yg benar-benar terlepas dan bebas dari satu rangkaian, sebab gerbong yg sekarang terikat dan ditarik dengan gerbong sebelumnya, lokomu akan diganti dengan loko yg lain jika arahmu masih terus menapak, loko lamamu tak lagi menarikmu sebab melampaui kapasitas jarak tempuhnya, jalan-jalanlah terus sang gerbong, usah pusing dengan lokomu, yang terus berganti…dan tak perlu pusing ngurusi loko mana yang menarikmu…

  23. 23 Suluh Mei 15, 2008 pukul 9:09 am

    bagi saya itu hal mustahil alias mustahal… bagaimanapun kita akan terikat… terikat oleh lingkungan sosial… terikat oleh keberadaan ktia sebagai manusia yang berinteraksi dengan manusia lain.. terikat oleh dogma indera kita yang mau tidak mau harus kita ikuti untuk meneruskan hidup… dan keterikatan keterikatan yang lain…

    Sebagai sebuah slogan sih gak papa… tapi sebagai keseluruah kebebasan itu gak mungkin bisa terjadi…

    Btw… “dapat pencerahan” itu kayaknya kurang tepat deh…

  24. 24 lainsiji Mei 15, 2008 pukul 5:05 pm

    :mrgreen:

    skeptis akan kebebasan yang sampean katakan,
    absolut?? 100% itu ndak ada bos, setidaknya ndak di dunia ini.
    Yang ada [dan lebih rasional] adalah pendekatan

    merasakan tanpa syarat?? setiap hal ada imbal baliknya, entah itu disebut dengan istilah syarat, kewajiban, ritual atau apapun, kita tak bisa terlepas dari itu.

    Tapi bagaimanapun ini adalah hak anda, hak paling personal yang menandakan bahwa anda adalah pribadi yang utuh untuk berkehendak.
    Seperti kata orang bijak (entah bijak sana atau bijak sini :mrgreen: ) Banyak jalan menuju ke Roma, tapi lebih banyak lagi jalan yang tidak menuju Roma :lol:

  25. 25 watonist Mei 15, 2008 pukul 5:21 pm

    @zal
    yang bahaya itu kalao gerbong tarik-menarik dengan loko nya, itulah ketidakbebasan yang dimaksud.

  26. 26 zal Mei 15, 2008 pukul 6:24 pm

    ::ton, ikikan pembicaraan sekapasitas J.Krishnamurti kan…
    bukan sekapasitasku… :)

  27. 27 danalingga Mei 15, 2008 pukul 6:42 pm

    @Faubell

    Tetapi dekat kan tidak berarti bersatu tho? Kalau sudah bersatu ya nggak perlu jalan lagi, ngikut aja…

    Oh, gitu toh. Bagaimana jika saya sebutkan “mendekat” , apa lebih bisa dimengerti ya?

    Jujur, Saya OOT terhadap pendapat Krisnamurti itu. Meniadakan jalan itu bagaimana ya? Bukankah tidak memilih itu telah melakukan pilihan juga.

    Kan memang persoalan memilih ini. Memilih untuk tidak terikat kepada satupun organisasi. Hal ini demi meminimalkan halangan dengan Dia.

    Terus untuk mas Dana, berkaitan dengan pendapat diatas saya tanyakan begini : “Mendekatkan itu ada proses berpindah nggak? Atau sampeyan hanya mbulet di tempat?”

    Saya jawab berarti saya “mendekat” , entah itu berpindah atau mbulet.

    @cK

    Gimana kalo komen : “dana itu memang ganteng. ” :lol:

    @iman brotoseno

    Itu mungkin yang dituju semua orang, termasuk juga J. Krihnamurti ini.

    @Wagu Banget

    Realita yang terjadi adalah dalam satu komunitas (apapun itu)musti ada tatanan.
    Mengapa musti ada tatanan supaya ” Tidak Sak Karepe Dhewe ( Semau ).Kenapa tidak boleh Sak Karepe Dhewe Supaya tidak terjadi kisruh….apa Kata Dunia Kalau Semuanya Kisruh….Kalau terjadi kisruh maka kita akan setback ke jaman Batu.

    Kan ini bukan bicara tatanan. Tapi soal tidak terikat dari organisasi-organisasi.

    Sah sah saja Manusia sebagai individu menahbiskan diri tidak mengikuti apapun…tidak mengakui punya negara (walau tinggal di negara itu),tidak mengakui punya agama ( Karena Agamapun tidak akan Patheken jika ada orang yang enggak mengakuinya).

    Yup, emang sah-sah saja.

    Namun pertanyaannya adalah Apakah Manusia itu tetap tinggal dalam suatu Komunitas…? ( apakah itu dalam lingkungan Masyarakat,Agama,Kepercayaan….dsb).Kalau iya apa ini tidak menjadi persoalan didalam komunitas ini..?

    Terus kalau menjadi persoalan dalam Komunitas…apa ya tentram dalam mengarungi Samudra Kehidupan di Masyarakat banyak.

    Ah, kan tinggal pake topeng yang sesuai. Asal jangan terikat sama topeng itu saja. ;)

    Mungkin lontaran lontaran pertanyaan dan pernyataan saya ini menggambarkan betapa Cetheknya tingkat spiritualitas saya sebagai orang ndeso yang kurang ngangsu kawruh .

    Jangan terlalu suka merendah, entar jadi rendah beneran loh. :mrgreen:

    Nuwun Sewu Kalau ada kata kata yang kurang berkenan..sebab yang saya posting ini hanyalah ungkapan pribadi dan tidak ada maksud untuk menyakiti..hanya mengkritisi saja.
    Salam Kenal

    Terimakasih kembali.

    @zal

    Mungkin maksud Krihnamurti ini adalah agar tiap-tiap orang terpacu agar menjadi lokomotif itu sendiri. Bukan cukup puas hanya menjadi gerbong. Walau ternyata gerbong itu ditarik oleh lokomotif yang paling bagus sekalipun.

    @Suluh

    bagi saya itu hal mustahil alias mustahal… bagaimanapun kita akan terikat… terikat oleh lingkungan sosial… terikat oleh keberadaan ktia sebagai manusia yang berinteraksi dengan manusia lain.. terikat oleh dogma indera kita yang mau tidak mau harus kita ikuti untuk meneruskan hidup… dan keterikatan keterikatan yang lain…

    Kalo boleh saya kasih saran sih, heningkanlah pikiran yang berisik teriak-teriak tidak mungkin itu. :D

    Sebagai sebuah slogan sih gak papa… tapi sebagai keseluruah kebebasan itu gak mungkin bisa terjadi…

    Justru kalo sekedar slogan maka apa-apa. :mrgreen:

    @lainsiji

    skeptis akan kebebasan yang sampean katakan,
    absolut?? 100% itu ndak ada bos, setidaknya ndak di dunia ini.
    Yang ada [dan lebih rasional] adalah pendekatan

    merasakan tanpa syarat?? setiap hal ada imbal baliknya, entah itu disebut dengan istilah syarat, kewajiban, ritual atau apapun, kita tak bisa terlepas dari itu.

    Saran saya sama dengan bro suluh diatas. Coba heningkan pikiran yang teriak-teriak tidak mungkin itu. :D

    Tapi bagaimanapun ini adalah hak anda, hak paling personal yang menandakan bahwa anda adalah pribadi yang utuh untuk berkehendak.
    Seperti kata orang bijak (entah bijak sana atau bijak sini ) Banyak jalan menuju ke Roma, tapi lebih banyak lagi jalan yang tidak menuju Roma

    Sepertinya anda tahu banget bahwa lebih banyak jalan yang tidak menuju roma. Sudah pernah menghitung sendiri ? :mrgreen:

  28. 28 unknown entry Mei 15, 2008 pukul 8:41 pm

    ketika anda bicara kbenaran sejati..ad satu konsep yg anda lupakan yg tdk mempunyai kandungan spiritual :

    atheisme

    buka mata
    buka pikiran
    terhadap semua

    cari truuuuuuussssss……..

  29. 29 Rindu Mei 16, 2008 pukul 12:38 am

    Satu hal yang saya TETAPKAN dalam hati saya bahwa “saya TIDAK akan pernah menghakimi seseorang, bukan hak saya tp hak TUHAN” jadi saya tidak perlu report menyatakan orang itu salah atau benar … tulisannya bagus mas :)

  30. 30 Rindu Mei 16, 2008 pukul 12:40 am

    eh, ini ngomongin krisnamukti apa kang Dana yah …

  31. 31 Abahdedhot Mei 16, 2008 pukul 1:28 am

    @mas dana :-?
    ah… ternyata J.Krishnamurti masih main di “dunia fantasi”, pake tiket terusan, jadi ngga mau selesai keluar.. keasyikan maen. Abah juga pernah ditempatkan pada kondisi ini, so… boss dana jangan terburu-buru “menetapkan”, kondisi ini masih bagian dari perjalanan. “SAAT DIHADAPKAN PADA JALAN BUNTU, JANGAN MENGANGGAP ITU SEBAGAI TUJUAN atau AKHIR PERJALANAN”.
    “Waktu berjalan melintasi sungai, Abah menapaki jembatan. Setelah sampai diseberang sungai… so pasti jembatan ngga diperlukan lagi, tapi jangan di bantah keberadaan jembatan yang sudah dilintasi, kecuali pada saat nyebrang.. matanya merem, tapi itu juga mustahil sampai, yang ada pasti kecebur”.
    Terus saja berjalan (diperjalankan), tapi cermati dengan teliti pemandangan selama perjalanan. Karena disitulah “wajah”nya.
    Coba amati…
    Selama kita mengakui “keberadaan” (eksistensi) manusia lain, berarti kita masih mengakui “keberadaan” diri. Dan ini BUKAN pada kedudukan “kebenaran MUTLAK” (masih mengakui “yang relatif”), belum keduudkan pada tujuan.
    Pernyataannya justru kontradiktif (untuk menarik perhatian, yang terbungkus kata-kata bijak).
    Bukankah pada kedudukan “TUJUAN”, kemanapun KU berpaling disitulah wajah KU…???? :mrgreen:
    Memang tidak ada PAKSAAN dalam AGAMA.
    AGAMA bukan untuk dicari, tetapi untuk ditemukan karena dia sudah “ada” melekat pada tiap-tiap diri. Jauhnya tidak berjarak, dekatnya tidak berantara.
    J.Krishnamurti keliru dalam memandang AGAMA, dia memandang AGAMA yang diluar (sebagai organisasi). Pandangan yang keliru menghasilkan AHKLAQ yang keliru.
    Tapi wajar aja agak ngelantur… namanya juga manusia, sama kaya ROCKER… :mrgreen:

    salam

  32. 32 zal Mei 16, 2008 pukul 3:45 am

    ::wuih, si abah, sudah jadi penilai sekarang…,
    abah, bagaimana menggambarkan suatu kekeliruan dari sesuatu yang terstatement keluar…akh seandainya aku lebur bersama jiwanya…namun apakah itu akan membuatku faham apa yg dimaksudkannya…, akh seandainya ku lebur dalam jiwa itu… mungkin aku hanya akan berkata kebenaran belaka…namun jika kukatakan padamu…yakinkah kau jika itu kebenaran….akh seandainya aku lebur dalam zat itu…

  33. 33 Suluh Mei 16, 2008 pukul 4:21 am

    @danalingga: eh ada yang teriak ya? mana mana? :lol:

  34. 34 Abahdedhot Mei 16, 2008 pukul 9:29 am

    @mas zal
    ehm… jadi seperti penilai yaa…??? wah… maaf kan abah, suhu… :lol: padahal Abah hanya mengamati. Dan mencoba mengarahkan untuk sama-sama mengamati “objek” yang dimaksud, agar tidak lari dari rel aqidah. Karena bila sama-sama mengamati objek yang sama, selayaknya terucap bunyi dengan makna yang sama. Saat bunyi yang keluar terfahamkan makna yang berbeda, seolah-olah… ehm mendekati kepastian, objek yang diamati adalah objek yang berbeda. Jadi ngga nyambung boss…
    Tapi… terus terang aja pak boss… Pandangan dia mengenai AGAMA (sebuah organisasi atau kumpulan manusia), itu yang paling ngga pas… keliru pisan euy. Perbuatan dan pernyataan menegaskan AKHLAQ yang menjadi landasannya. Setuju ngga mas zal..???

    @mas dana
    Kiriman Abah sudah sampai kah…??? semoga cepat digelar… :mrgreen:

    salam

  35. 35 calonorangtenarsedunia Mei 16, 2008 pukul 10:20 am

    Akhirnya kau sampai juga di sana, Dan.

  36. 36 unknown entry Mei 16, 2008 pukul 11:19 am

    @dana
    anak kaskus jg y?
    nick lo ap?

  37. 37 Faubell Mei 16, 2008 pukul 11:44 am

    @Dana

    “Kan memang persoalan memilih ini. Memilih untuk tidak terikat kepada satupun organisasi. Hal ini demi meminimalkan halangan dengan Dia.”

    Oh, jadi jalan yg dimaksud Krishnamurti itu hanya itu tho, saya pikir memang nggak ada jalan sama sekali untuk mendekati kebenaran.
    Yah itulah keterbatasan kata2 untuk menjelaskan suatu maksud.

  38. 38 lainsiji Mei 16, 2008 pukul 3:03 pm

    Coba heningkan pikiran yang teriak-teriak tidak mungkin itu. :D

    udah bos.. tetep ndak bisa

    ngomong-ngomong… situ dah pernah ya?? nyampe 100% :D

    Sepertinya anda tahu banget bahwa lebih banyak jalan yang tidak menuju roma. Sudah pernah menghitung sendiri ?

    :lol: saya belum pernah menghitungnya bos… bukan apa-apa.. capek ngitungnya
    lha wong roma cuma satu tempat dari ribuan tempat lainnya, lha kok bisa lebih banyak jalan yang menuju roma
    *ato aku salah ya :mrgreen: *

    kok jadi ngomongin roma yak. tanya ke om roma irama dulu deh

  39. 39 Kang Darmo Mei 16, 2008 pukul 7:31 pm

    whe..lah dalah..blog ini jadi rame banget…semua berbicara spiritual yang menarik untuk dikaji.
    Salam omong omong kosong Om

  40. 40 Okta Sihotang Mei 16, 2008 pukul 8:57 pm

    begh..jadi team independent yak ??
    teruskanlah perjuanganmu ;)

  41. 41 Santri Gundhul Mei 16, 2008 pukul 11:31 pm

    Walah…walah….Kang Dana,
    Kok tiba-tiba seperti KACANG yang lupa sama KULITNYA yah…
    Pandangan yang disampaikan oleh Khrisnamurti itu merupakan HASIL dari PROSES LAKU yang panjang dan berliku. Jatuh bangun…kejedat, kejedut..kebentur, kepenthung seperti layaknya kita sewaktu masih kecil mencoba berjalan kan Kang Dana..??. Ketika sikecil dah bisa berjalan sendiri, maka gak perlu lagi pake DITETAH ( dituntun ) sama orang lain. Karena si kecil dah bisa mandiri. Terus belajar ILMU TULIS di sekolah SD, SMP, SMA hingga bisa baca dan tulis. Selanjutnya masih perlu belajar NGAJI tentang KAWERUH Batin misalne, iki kan mesthi kudu ono sing NGAJARI dan MENUNTUN baik itu berupa Guru Pitutur, guru Pituduh, Guru Purwo sampai akhirne bisa ketemu GURU SEJATINE.
    Nah…ojo lali Kang yen menowo guru-guru kabeh mau mung sadermo MENGHANTARKAN kita untuk menjadi DIRI SENDIRI. Cuman masalahne kita-kita saja yang gak mau menjadi DIRI sendiri dan harus NGINTHIL sama gurunya terus. Apalagi dalam komunitas THAREQAT, sudah lumrah, wajar dan logis jika harus membentuk sebuah LEMBAGA, karena banyak umat yang diatur. Nah persoalan Lembaga tadi dalam perjalanannya menyimpang dari RUL, itu persoalan lain. Boleh jadi BUKAN kehendak si Guru, melainkan si PENGURUS yang gak mau menjadi DIRINYA sendiri tadi. Disinilah memang KEBANYAKAN lembaga keAGAMAAN, SPIRITUAL berbelok dari PAKEM AJARAN yang telah diAJARKAN oleh si guru tadi. Sebenarnya yang BELOK BUKAN AJARANNYA, tetapi para pengurus Lembaganya yang sudah MUYEK ngurusin DANA ( duit ) dari umatnya. he..he..yang pada akhrnya memang FAKTA telah membuktikan bahwa ketika ada AJARAN KAWERUH BATIN ( spiritual ) yang didirikan dengan membentuk KELEMBAGAAN, ujung-ujungya AJARAN KEBENARAN yang disampaikan oleh si Guru tadi lama kelamaan menjadi BIAS dan KABUR. Dari sinilah umat harus PINTER, JELI dan yang terpenting kudu NGERTI dan PAHAM supaya ” TERPAHAMKAN ” tentang AJARAN yang digelutinya selama ini ( pinjem istilahnya Abahdhedhot dan Kang Zal ). Boleh jadi Khrisnamukti yang seorang Guru Thareqat tadi melihat KELEMBAGAAN yang telah dipimpinnya sudah MENYIMPANG dari konsep dan pemikiran serta AJARANNYA.

    Kembali kepada STEATMEN sampeyan pada paragraf penutup.
    Itu kan semua merupakan HASIL PERJALANAN sampeyan yang panjang dan berliku tadi toh Kang..??. Asal jangan NGIKUT-NGIKUT APA KATANYA Khrisnamukti wae Kang. Jika diikutin para PEMULA apalagi yang masih berkutat di SYARIAT NDELES…wuuuuaaaahhh…MBEBAYANI Kang.
    Saya PAHAM dan NGERTI karep sampeyan itu. Untuk menjadi DIRI SENDIRI memang BUKAN karena FRUSTASI menjalani kehidupan, melainkan karena telah MEMAHAMI tentang ” MAKNA HIDUP “. Menjadi DIRI SENDIRI bukan berarti mau berbuat sak kepenak wudele dhewe. Taat aturan, adat istiadad masyarakat setempat, taat bayar PAJAK heks..heks..ojo lali..
    Sabar menunggu antrian dan gak boleh main SROBOT. Lak ngono sih Kang…??

    Dah…selamat menjadi DIRI SENDIRI deh….

  42. 42 padmasambawa Mei 17, 2008 pukul 12:29 am

    ketika kebenaran telah ‘manjing’(wah,bahasa indonesianya apa ya? ee..mendekati menjelma deh) pada diri,maka tentu jalan sudah tidak diperlukan lagi..pada saat itu segala penjelasan luruh tak berbekas, karena kata-kata tidak mampu lagi menyampaikan gambaran apapun..
    jadi ketika kata-kata masih bergulir, kata-kata masih meluncur, maka niscaya jalan itu masih berproses..

  43. 43 padmasambawa Mei 17, 2008 pukul 12:33 am

    maap..tulisan ‘kata-kata’ yang terakhir maksudnya adalah ‘penjelasan’

  44. 44 danalingga Mei 17, 2008 pukul 11:49 am

    @unknown entry

    Oh, saya pernah mencicipi dunia atheis itu sebentar dulu. Dan ternyata bagi saya itu adalah tetap bagian dari perjalanan spiritual saya.

    @Rindu

    Wah, seandainya makin banyak yang seperti mbak rindu ini. Mungkin kehidupan beragama akan lebih damai. *menghayal*

    *tendang yang OOT*

    @Abahdedhot

    Waduh, sepertinya ada terjadi salah komunikasi abah dengan krishnamurti nih. Sebab kalo rasa saya sih nyambung saja dengan pernyataan krisnamurti ini.

    Begini bah, mungkin yang perlu dipahami:

    1. Pesan Krishnamurti ini bukan ditujukan pada awam, tapi pada para salik yang tengah menempuh jalan spiritual yang ternyata malahan jadi terpaku pada organisasi-organisasi yang terbentuk dalam perjalan itu. Jadinya tidak berusaha menjadi diri sendiri.

    2. Mungkin Krishnamurti mempunyai (dan kayaknya memang) pengertian agama yang berbeda dengan Abah. Kalo saya tangkap Krishnamurti menyebut agama dalam tataran sebagai petunjuk jalan yang bisa dilewati itu (kan ada dalam tulisan abah). Sedangkan abah lebih kepada kesejatian itu sendiri. Nah, bisa jadi Krishnamurti tidak menyebut kesejatian itu dengan agama, tapi dengan sebutan lain. Saya lihat sih disini cuma karena berbeda istilah bah.

    3. Yang sedang dikritik oleh Krishnamurti adalah pengagungan terhadap organisasi-organisasi spiritual yang ternyata malah memasung keinginan untuk berjalan sendiri. Padahal jelas perjalanan akhir menuju Kesejatian mesti dilakukan sendiri.

    Begitu sambung rasa saya dengan pernyataan Krishnamurti ini bah. Tapi kalo maksud pastinya Krishnamurti saya juga tidak tahu sebab saya hanya tahu yang dipahamkan bagi saya.

    Tapi walau begitu, saya sih tetap mengucapkan terimakasih banyak buat abah. Dengan komen abah ini saya jadi merasa harus membuat sebuah disclaimer dalam tulisan ini, agar tidak menyesatkan.

    @Suluh

    Waduh, itu tuh. :lol:

    @calonorangtenarsedunia

    Heh? Nyampai kemana han?

    @unknown entry

    Nick gue dulu sih dana_lingga. Tapi sekarang lagi nggak aktif nicknya.

    @Faubell

    Itulah, tapi kalo nggak diungkapkan dengan kata-kata jadi susah juga membagikannya. Memang serba salah.

    @lainsiji

    udah bos.. tetep ndak bisa

    Berarti belon jodohnya.

    ngomong-ngomong… situ dah pernah ya?? nyampe 100%

    Sudah pernah.

    saya belum pernah menghitungnya bos… bukan apa-apa.. capek ngitungnya
    lha wong roma cuma satu tempat dari ribuan tempat lainnya, lha kok bisa lebih banyak jalan yang menuju roma

    Waduh, ini roma bukan analogi ya? Saya salah kalo gitu. :mrgreen:

    @Kang Darmo

    Iya, nih pada suka mengkaji spiritualisme. :D

    Salam juga.

    @Okta Sihotang

    Biar netral. :lol:

    @Santri Gundhul

    Untuk hal ini tanggapan saya bisa dilihat di tanggapan terhadap abah dhedot di atas.

    @padmasambawa

    Pribadi banget memang. Tapi ketika memberikan penjelasan pada orang lain, maka memang akan ada distorsi. Apa sebaiknya nggak usah menjelaskan saja ya?

  45. 45 rudy rushady Mei 17, 2008 pukul 12:55 pm

    agama itu katanya the old fashion, yang jelas para tokoh agama pasti tidak setuju dengan postingan di atas karena menyangkut kebutuhan hidupnya ,bukankah cramah dibayar, melayani umat dapat status dan uang

  46. 46 abahdedhot Mei 17, 2008 pukul 3:38 pm

    @mas dana
    Oh.. gitu yaa mas, berarti abah yang kurang minyak… eh, nyimak. Komeng abah memang (tersirat) bukan untuk mas dana. :mrgreen:
    (sedikit banyak abah sudah terFAHAMkan atas citranya mas dana, dari karyanya).
    Karena maksud dari Krishnamurti, sudah keluar dari tujuan penulisannya (ada beberapa yang malah takjub, terpesona dengan “tokoh”).

    Tapi memang pandangan terhadap AGAMA nya yang berbeda… dia memandang hanya “jembatan”nya saja, tanpa mengamati adanya “penglihatan, kekuatan gerak, keseimbangan dsb” yang menjadi sifat “sang penyeberang”.
    Kalo dia ke warung, yang dicari objek kristal putih yang halus (gula), padahal sesungguhnya yang dicari adalah RASA manisnya.

    sama-sama mas…

    salam

  47. 47 danalingga Mei 17, 2008 pukul 7:13 pm

    @rudy rushady

    Tergantung tokoh agamanya sih. :D

  48. 48 tintin Mei 19, 2008 pukul 9:33 am

    humm saking spiritualnya sampai tidak memilih agama ..

    humm bagaimana dengan Rasulullah yang memilih agama islam sebagai agamanya ..?? sangat disayangkan mempelajari spiritual sampai tidak memilih agama .. tobatlah kawan .. :)

  49. 49 danalingga Mei 19, 2008 pukul 9:36 am

    Islam bagi saya bukanlah organisasi agama. Semoga dapat dimengerti.

  50. 50 Tappang Mei 19, 2008 pukul 9:45 am

    Wah, berabe juga tuh, sli… Mungkin terikat secara fanatisme memang jadi kendala. Namun menurut saya, boleh-boleh aja tuh manusia memiliki komunitas, yang tentunya untuk saling menghargai perbedaan. Toh, manusia tidak hidup sendirian di muka bumi ini. Harus memiliki interaksi. Kalo semua menjadi individualistis, dasar berpijak kita untuk sebuah keyakinan, apa dong? Memang, si A atau si B masuk sorga apa enggak [?] tergantung dari prilakunya sesuai ajaran dogma agama yang dianutnya.

    Si Krishnamurti sejak lahir, apa sudah langsung seperti sekarang cara berpikirnya? Pasti dong di masa-masa kecilnya dia dicekokin ajaran salah satu agama? Itu yang disebut pijakan awal. Manusia tidak ujug-ujug jadi begini atau begitu.

  51. 51 danalingga Mei 19, 2008 pukul 10:34 am

    Iya memang begitu bang, bahwa Krishnamurti juga berawal langkahnya dari organisasi agama. Begitu juga saya. Tapi kan kalo mau bahas semua agama mau-tidak mau saya harus ngaku ngaku tidak terikat pada salah satu agama. Biar netral gitu. :mrgreen:

  52. 52 unknown entry Mei 19, 2008 pukul 10:54 am

    @ dana lingga
    oh arti spiritual yang d perkcil y??
    mngkin lebih tepat perjalanan psikologis kali y…
    spirit = ruh
    d atheis g ad ruh tuh…..

  53. 53 preethink Mei 20, 2008 pukul 10:13 am

    @CY dan @danalingga
    Lho saya kan membaca postingan ini secara serampangan dan menuliskan komentar saya langsung. Jadi saya merasa berbeda dengan J krishnamurti, dan saya tidak kenal beliaunya.
    Saya merasa bebas, lain, dan tidak terpengaruh dengan jkrishnamurti tetapi malah sama, heran aku :-) :-)
    Apa itu bebas tetapi masih ada ikatan ya mas dana?

  54. 54 razuka Mei 26, 2008 pukul 9:18 am

    krishnamurti…apapun tentangnya boleh saja namun masih ada yang creshh point yang belum jelas layaknya sebuah kata yang berbias.

    @kang dana
    good artikel

    @abah dedhot
    good comment

    @rindu
    bulan terbelah coba diangkat di danalingga atikel yang laya dihamparkan agar semua dapat menuai hikmah dibalik peristiwamu

    @ Zal
    untuk lebur jangan berandai tapi cari jalan bagaimana cara meleburkan diri *hub TOKO MAS*

  55. 55 zal Mei 26, 2008 pukul 12:22 pm

    ::razuka, iya..ya..terima kasih…

  56. 56 razuka Mei 26, 2008 pukul 2:29 pm

    @ dana
    islam = selamat
    lalu bagaimana dikatakan islam kalau bakal tidak selamat???
    jadi apanya yang selamat??

  57. 57 razuka Mei 26, 2008 pukul 4:05 pm

    @ santri botak
    komentarnya api’ tenan begitu dong jangan berbelit belit kaya’ abah dedhot….mudah dimengerti
    -salam-

  58. 58 danalingga Mei 26, 2008 pukul 5:18 pm

    @razuka

    Saya juga berpikirnya sesederhana itu sih.

    Jika telah selamat berarti sudah berIslam. Jika berIslam berarti sudah selamat.

    Nah, jika belum yakin selamat kenapa bisa yakin telah berIslam ya? :roll:

  59. 59 watonist Mei 27, 2008 pukul 7:45 am

    rupanya banyak yang salah paham dengan “Truth is a pathless land” Dan.
    memang sih … ketika diucapkan dianya akan menjadi “path of pathless land”, yaa … begitulah ..

  60. 60 danalingga Mei 27, 2008 pukul 6:33 pm

    Itulah keterbatasan ucapan ton. Mungkin mememang sebaiknya dibiarkan saja menjadi rasa.

  61. 61 godamn Mei 29, 2008 pukul 8:41 pm

    Saluuuut… saluuuut…. pinter juga akang jawabnya. seru loh… sumprit deh…. sering-sering ah kemari…

  62. 62 zsheefa Mei 31, 2008 pukul 4:15 pm

    wueeehh….gile abiees!
    ini mah kumpulan orang jago semua jadi minder
    * clingak clinguk, menunduk*
    -salam-

  1. 1 awal ngeblog dan kangen « Abeeayang™ Lacak balik pada Mei 15, 2008 pukul 10:36 pm
  2. 2 Dari Blog Seberang: J. Krishnamurti, Sopo Toh? « diaryblogdotcom Lacak balik pada Mei 20, 2008 pukul 10:07 am

Tinggalkan Balasan




AKU

Bermakna

Jenis Perjalanan

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku