Kubaca lembar demi lembar argumentasi yang baru saja terjadi. Argumenku dan argumenmu. Tanpa ada satupun yang terlewat. Semua kulahap habis demi sebuah kepuasaan. Dan setelah itu kusiapkan diri untuk menuliskan argumen selanjutnya. Setelah itu kutunggu argumenmu kembali, dengan sedikit rasa cemas. Begitu terus, berputar tiada akhir.
Suatu saat, ketika terduduk didepan laptop untuk kembali berargumen. Tiba-tiba, sebuah kesadaran menyeruak dalam pertanyaan: “Demi apa sebenarnya kubenamkan diri dalam perang argumen ini? “ Ya, demi apa ya? Apa ada sesuatu yang sangat penting sehingga harus berargumen? Tanya itu terus terngiang.
Dipuncak pertanyaan, entah darimana sebuah jawaban terpampang dengan jelas sebening kristal. Jawaban yang datang bagai pencuri di pagi buta ketika saya sedang terlelap tanpa kesadaran. Jawaban itu berkata dengan lembut : ” Semua itu ternyata demi memuaskan ego.. ” Senyap malam ketika jawaban itu kuendapkan dalam heningku.
Ah, betapa aku malu saat itu. Ternyata selama ini kebenaran yang aku agung-agungkan, yang aku perjuangkan dengan argumen-argumen brilian. Yang juga dibantah kebenaran versi lain dengan argumen yang tidak kalah briliannya. Kemudian aku tohok dengan argumen yang lebih brilian lagi. Kemudian dibalas lagi. Begitu tiada habisnya. Namun semuanya itu ternyata hanyalah ilusi yang menutupiku dari kebenaran sejati. Egolah yang kubela selama ini. Memalukan!
Oh, pantas jiwa semakin jauh dari cahaya. Terperosok dalam kegelapan kelam mengurung. Semoga belum terlambat diri ini berusaha kembali menuju cahaya terang benderang yang sempat tercecap sebentar. Dulu sekali. Kebenaran itu ternyata tidak kutemukan dalam argumen. Tapi pada keheningan setelah itu.
Tulisan ini sebenarnya sudah lama. Tulisan ini sebagai bentuk perenungan diri ketika terlibat dalam debat masalah ahmadiyah pas jaman panas-panasnya SKB dulu.
Renungan seperti ini rasanya sudah cukup sering saya hadirkan. Tapi berdasarkan pengalaman selama ini, mungkin saya akan kembali larut dalam adu argumen. Tapi tak apalah. Postingan seperti ini adalah salah satu cara saya untuk mengingatkan diri. Mengingatkan pada diri bahwa silahkan berargumen sepuasnya, tapi jangan sampai larut dalam argumen itu. Keheninganlah yang diperlukan.



@mas dana
Tapi… mas, kesempurnaan Sang Maha Pencipta, yang Menciptakan jutaan pola fikir. Jangan sampai luput teramati.
Segala puju puji Bagi Sang Maha Pencipta…
KAHIJI EUY…
salam
TUBUH INI BAGAI GUMPALAN BUSA
PERASAAN BAGAIKAN GELEMBUNG UDARA
PERSEPSI BAGAIKAN FATA MORGANA
BENTUK MENTAL BAGAIKAN TANDAN PISANG
DAN KESADARAN BAGAIKAN TIPU MUSLIHAT
ISI ADALAH KOSONG
KOSONG ADALAH ISI
ada banyak versi kebenaran, mas dana. bagiku itu sah2 saja, asalkan tdk ada usaha2 licik utk mencari pembenaran berdasarkan versinya masing2. beradu argumen secara sehat dan cerdas sungguh amat menyenangkan.
Kesadaran kadang menipu kita
dengan dalih2 pembenaran
yang sejati adalah keAKUan yang menuntut pengAKUan
dalam kekosongan
dalam keheningan
semua menjadi jelas tersingkap
@ kang dana
kebenaran sangat relatif hukumnya manakala itu bersinggungan dengan ahlak atau keduniaan namun ketika berkaitan dengan IMAN yg benar2 IMAN….maka itu hukumnya MUTLAK / ABSOLUT.
* Khusnulzdon MODE always ON *
@ mas Dana
TQ..atas pujiannya..saya kembalikan kepada yang berHAQ.
Soal perdebatan itu mah biasa yang penting RUH dari perdebatan itu adalah saling mencerahkan. hingga orang tersebut mencapai pemahamannya kepada PRIBADI-nya
Nana Ga komen mcm2.. cuma suka bagian ini… Nana benge deh…:D
Semua makin dewasa dan makin mendewasakan semua
he eh.
kadang-kadang ngerasa adu argumen itu ndak ada manfaatnya
*kabur! pake jurus maling kondang level 597*
Segala puji baginya tuhan seru skalian alam. Sungguh dia akan menuntun semua jiwa melalui jalan manapun kepadanya. Kata hanyalah satu lautan, lihatlah siapa yang berbicara. Hati hanyalah dengan hati, otak dengan otak, nafsu dengan nafsu, badan dengan badan. Semua adalah lautan yang bertumpuk. Jika kita mengenali, warna mawar bukanlah mawar, wangi mawar begitu pula, bentuk pun bukan juga. Mawar sejati hanya ada dalam keheningan, yang terpancar dalam sejuta lautan. Smoga kebahagian bagi semua.
::dan, tak ada berbantahan, yg tak berahir dengan ingatan, jika sesuatu itu perlu, apa dana tidak merasa jika menuju heningpun ada keinginan untuk menujunya,
tidak ada yg sia-sia dari sesuatu, ada masanya, kehendak heningpun tak memberikan apa-apa lagi, umpama seorang murid yang sudah dibekali segala jurus, tak mungkin jurus-jurus itu lagi yg terus diulang, ada masa turun gunung, dan ada masa untuk berlatih dengan guru lainnya pada masanya…
Hiks…
rupa-rupanya Kang Dana lage KECAPEKAN, tenaga tersedhot setelah panjang lebar mengulas DAGELAN Kethoprak FPI dengan judul ” FPI BRONTOYUDO ” di Monas yah…
Sini Kang, tak pijitin sepertinya pundhakmu kaku, Otakmu KEMRUNGSUNG bak air mendidih dalam temperatur 1000 derajad terbawa arus ESMOSINYA sang Laskar Komando Islam yang ternyata BANCI…!!dan FPI…sang pemegang KUNCI SURGA.
Kang Dana, mo ikutan gak…??
Aku barusan saja membuat lembaga dengan nama FPI juga, tapi bukan untuk menandingi Front Pembela Islam loh, melainkan FRONT PEMUJA IBLIS…
Cuman syaratnya harus GUNDHUL…sebab mayoritas umatku adalah ” TUYUL GUDHUL “…heks..heks..
Ajakan buat rekan-rekan blogger Indonesia, dan siapa saja yang cinta keindahan Danau Toba, keunikan Taman Nasional Komodo, dan keperkasaan Gunung Krakatau :
ayo ramai-ramai memberikan suara dukungan (vote secara online), supaya ketiga obyek wisata kebanggaan nasional itu menang dalam pemilihan sedunia, “Tujuh Keajaiban Alam”
Info lebih lanjut, klik aja link di bawah ini :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/
terima kasih
Iya mas Dana, momen2 penting jangan terlewatkan. Mungkin kami yang tidak turut serta berargumen tentang tema tersebut, bukan berarti tidak perduli. Tetapi ikut memahami dan menyimpannya di dalam hati.
@Dana
AKU bersumpah demi jiwa yang menyesal…..
Wuus…
*Mode Ruh Abah Dedhot*
Ndak apa2 itu, terus aja maju. Insya Allah Dana telah mengalami “kiamat” di tingkat kesadaran itu, “hisab” telah terjadi, karakter tuhan ITU sudah TERBACAKAN dengan jelas berkat Cahaya Sang Pengikat Karakter, pandanglah tuhan-tuhan itu, Dia itu cuma salah satu “ISTRIMU” yang bahenol. Bersyukurlah kepada Allah yang menciptakan SANG PROVOKATOR yang selalu mengorbitmu. Bedakan dengan cara kerja “istrimu”, kenali cara kerja Sang Provokator itu, sesungguhnya dia yang memfasilitasi DIRIMU untuk mengawasi polah tingkah “ISTRIMU” yang itu. Jangan sering2 kau gumuli “ISTRIMU” itu. Seperlunya aja…
@Santri Gundhul
*Mode setan*
Hai manusia, Sesungguhnya aku tidak kuasa untuk menyesatkanmu, aku takut dan berserah diri kepada Allah…
Awas kau Santri Gundhul, sudah buka hijabku….
Puas!!! Puas!!
*Bersila kembali di depan teken*
-salam-
@abahdedhot
iya bah. Saya cuma bilang, sebaiknya ada saat hening setelah beradu argumen untuk kontemplasi. Agar jangan terjadi bahwa kita ternyata telah menjadi budak ego.
@tomy
Isi adalah kosong, kosong adalah isi.
@sawali tuhusetya
Asal jangan larut ke dalam argumen demi ego. Itu malah sangat tidak menyenangkan pak. Sebaiknya memang ada jeda hening untuk kontemplasi.
@tomy
Itulah makanya dibutuhkan keheningan untuk intropeksi diri setelah beradu argumen itu.
@penggoda80
IMAN sebenarnya memang Absolut. Cuman ya itu tadi, kalo ego yang dibela kan dah lain ceritanya.
@zsheefa
Sama-sama. Eh, ini tentang puisi itu kan? Boleh saya pajang disini?
Iya, untuk dapat mencerahkan maka diperlukan keheningan untuk kontemplasi. Itu dari pengalaman saya sih.
@Biyung Nana
Mang kamu dah gelap-gelapan juga na?
@FOTOGRAFER PROFESIONAL
Semoga.
@daeng limpo
@ghaniarasyid™
Adu argumen yang tidak menimbulkan pencerahan memang tidak berguna.
@ariss_
Yah, yang penting bisa menimbulkan kontemplasilah.
*liat yang lari pontang panting*
@Godamn
Amin.
@zal
Kalo dipikir-pikir, dalam hal ini maka adu argumen dan hening itu sama pentingnya. Adu argumen membersihkan kerak pikiran. Hening menyadari hasilnya.
Betul zal, tidak ada yang sia-sia memang.
@Santri Gundhul
Iya mbah, saya kok jadi takut ikut terseret ke kedangkalan dagelan itu. Makanya saya hening dulu deh, biar nggak salah malah jadinya ikut arus amarah itu.
FPI yang itu boleh juga tuh.
@tobadreams
Boleh lae.
@Laporan
Semoga pembaca juga mau sejenak hening untuk meresapinya.
@Faubell
Makasih. Memang perlu ada jeda hening untuk meresapi. Eh, iya bahenol banget emang.
@Mas dana
*MODE sir mas faubell*
tanpa sang bahenol, kehidupan terasa sepi.
Menjadi “khalifah” sang bahenol, adalah pengendali kehidupan.
RASA hening “ada”, setelah merasakan keramaian.
ternyata sang bahenol dan keramaian adalah petunjuk untuk me RASA kan HENING.
yaa RABbul’alamin…
salam
Makanya Kang Dana,
Sekaliyan saja aku bentuk Lembaga KEYAKINAN dengan nama ” FRONT PEMUJA IBLIS “( FPI ). Dengan KONSEP mengembalikan MAKNA ” Bismillah Hirrohman Nirrohim ” agar bener-bener MBALUNG SUNGSUM dalam sang Pribadi Menungso sing SEJATINING Manungso. Manusia yang PATUT disebut Manusia sebagai KHALIFAH di muka bumi ini sebenarnya untuk APA…??. MENINDAS kah, MEMBERANGUS kah, MERUSAK kah…??. Jika setiap di akhir PENUTUP dalam melakukan SEMBAHYANG ada IKRAR berupa SALAM ke kiri dan kanan untuk KESELAMATAN, RAHMAT dan BERKAH bagi sesama makhluk ciptaan-Nya. lalu kenapa APLIKASINYA bertolak belakang..??.
ISLAM yang katanya merupakan RAHMAT bagi Alam Semesta itu, apa yah yang seperti DICONTOHKAN dalam DAGELAN KONYOL seperti di Monas..??. Terminologi itu kini kok sepertinya hanya tinggal SLOGAN-SLOGAN MANIS yang KOSONG dari MAKNA. Tapi, moga-moga kelompok kecil ” para DAGELAN POLITIK yang menggunakan LABEL Agama ” yang digelar di Monas ini saja yang mengekspresikan KETERBALIKAN dari MAKNA bahwa Islam adalah Rahmat bagi alam semesta.
Hoooiiih…JIN,PERI Parahyangan, Gondoruwo, Wewe Gombel, Thuyul lan Syetan-Syetan Gundhul…poro Punggawaku, berangkatlah kalian semua ke Monas…!!
Sadarkan Iblis-Iblis yang mengejahwantah dalam WUJUD Manusia berbaju Putih itu untuk kembali kepada JALAN yang LURUS…sebagaimana KODRAD dan IRODADNYA sebagai Khalifah yang WELAS dan ASIH terhadap sesamanya.
Muuuuuuaaaaaaaaaaha..ha..ha…Wuuuussszzz….Ngrapal Ajian ” ANGIN PENTIL MUTER “
intinya mo cari bener ato mo cari menang ?
kalo mo cari bener.. ayo diskusi.
kalo mo cari menang.. ambil kebenaran mu
semoga tidak ada adu argumen yang menjadi perpecahan dari acara kopdar kita kemarin
silahkan liat berita laporan acara kopdar blogger di medan di psotingan saya yang terbaru
terima kasih
Wah, om dana, saya rasa ini menggugah ” Semua itu ternyata demi memuaskan ego.. ”, dan berapa banyak orang yang menyadarinya, mungkin hanya sedikit.
Saya selalu berusaha menghindari argumentasi tentang “membela Tuhan” dan semacamnya dengan pikiran bahwa “Tuhan yang membelaku, bukan sebaliknya”. Tapi mungkin memang lebih dari itu, semuanya berhubungan dengan ego, dan semua perdebatan semacam itu mungkin sebenarnya untuk kepentingan diri kita sendiri, bukan yang lain
FPI yang bubar
Gus Dur yang bubar
atau malah Perjalanannaya Mas Dana yang bubaran dulu
…..hening…..
Terus, jadinya bagaimana? Masih akan tetap berargumen?
@abahdedhot
Walah, pada suka nyamar gini.
Seimbang.
@Santri Gundhul
Entahlah mbah. Mungkin Islam bukan cuma damai?
@nindityo
Jangan salah bro. Perasaan sih cari bener, tapi bisa ternyata cari menang.
@realylife
Amin. Entar saya lihat deh.
@sigid
Seringkali ego itu sangat halus, sehingga susah disadari. Kitanya sih merasa sedang membela kebenaran, namun nyatanya cuma membela ego.
@ketawa_ketiwi
Cuma Tuhan yang tahu.
@Moh Arif Widarto
Masih donk. Soalnya kalo nggak rame , nggak tahu rasanya hening.
numpang komen dulu ah…
semua benda katanya terus menerus bergerak. atom bergerak, manusia bergerak, bumi bergerak, matahari bergerak, dan bahkan alam semesta kabarnya juga terus berkembang dalam gerak. kalo gerak adalah perpindahan segala sesuatu dari titik A ke titik B, satu-satunya cara untuk mengamati semuanya tentu dengan diam, hening, sambil memandang… *halah*
Yeah, just go fight and die!!
It will be good to you, and especially me
@dana
kalau bang dana anggap baik silahkan terbitkan seiring fajar dipagi hari