Saat itu. Ketika Jenar sedang hidup di negeri antah berantah. Sebuah peperangan telah pecah di bagian lain negeri itu. Peperangan yang semula karena dendam pribadi. Karena berbagai kepentingan akhirnya menjadi perang agama. Maka tumpah ruahlah medan perang oleh darah-darah orang ngakunya beragama. Yang tertumpah oleh orang-orang yang ngakunya beragama juga. Orang-orang beragama begitu ganas, seperti telah kerasukan iblis. Diri-diri yang menjadi jagal tiada mengenal ampun. “Babat musuh Tuhan! ” teriakan yang keluar dari mulut-mulut suci itu. Sembari tidak pernah lelah untuk memenggal kepala musuh. Musuh yang kebetulan sial karena kalah jumlah.
“Nar, peperangan semakin menggila. Pihak kita perlu bantuan.” Celetuk Sobri teman Jenar, ” Ayo Nar, kamu ikut untuk berjihad bersama saya. Pertengahan bulan ini ada pemberangkatan pasukan ke wilayah perang. Mari kita membantu saudara-saudara kita yang saat ini terdesak karena pihak musuh mendapat bantuan dari negara luar.”
Jenar diam termangu mencerna ajakan Sobri. Lalu, ” Bri, apa kita harus ikut menjadi jagal yang haus darah? “
“Nar, ini bukan menjadi jagal. Tapi membela agama Tuhan. Apa kita diam saja melihat Tuhan dilecehkan begitu. Ini kan Jihad, Nar. Diperintahkan langsung oleh Tuhan. ” Sobri meluruskan pendapat Jenar. Pendapat yang dirasanya sangat bisa malah melemahkan semangat. Jadi harus diluruskan pendapat seperti itu.
“Tapi Bri, kan ada juga perintah untuk tidak membunuh. Sepertinya perintah itu masih berlaku sampai sekarang. Belum dihapuskan. ” Jenar masih berusaha mencari pembenaran untuk mendukung keengganannya menjadi jagal.
“Ya, perintah itu memang masih berlaku sampai sekarang Nar. Tapi ada pengecualian dalam perang. Mosok kita diam saja jika ada yang memerangi kita, hendak mencabut nyawa kita. Tentu kita melawan bukan? ” Sobri terus berusaha meyakinkan Jenar.
“Tapi apa harus dengan menjagal Bri? Memang tidak ada cara lainnya ya? ” Jenar masih tetap terlihat enggan.
“Tidak ada Nar. Ini sudah darurat. Sudah banyak saudara-saudara kita yang terbunuh. Itu harus diperhitungkan. Nyawa ganti nyawa , Nar. Harus itu! ” jawab Sobri.
“Tapi pihak mereka juga kan sudah banyak yang mati Bri. Apa lantas mereka juga berhak menuntut balas. Bisa-bisa perang ini tidak akan habis sampai salah satu pihak dibasmi tanpa sisa. Semua Bri. Termasuk anak-anak. ” Jenar berkata sambil menutup mukanya, berusaha menghilangkan bayangan yang terlintas. Bayangan akan anak-anak yang akhirnya turut menjadi korban para jagal yang mengaku beragama .
“Oh, Tuhan apa benar ini demi diriMu. Demi menjalankan perintahMu?” Hati Jenar menggugat.
“Ah, itu hanya akibat Nar. Yang penting niat kita kan membela Tuhan. Menjalankan perintah Tuhan untuk menegakkan agamaNya. Yakinlah korban-korban itu memang pantas mati sebagai tumbal untuk kejayaan agama ini. Jangan sampai ada keraguan Nar. ” Sobri terus berusaha meyakinkan Jenar.
“Tapi apa memang begitu Bri. Saya kok ragu Tuhan ingin sampai begitu. Jagal-jagalan sesama manusia. Bukannya agama diturunkan malah tujuannya mengatasi hal jagal-menjagal tersebut? ” Jenar masih mencoba membela keengganannya.
“Ah, kamu kebanyakan meragu Nar. Pokoknya ini Jihad. Ini perintah Tuhan. Ayo kamu harus ikut. ” Sobri tampak mulai tidak sabar.
“Sabar Bri. Kita harus pikirkan baik-baik. ” Jenar menyabarkan.
“Ah, taik kucing kesabaran itu! Selagi kita bicara disini berapa puluh orang saudara kita yang mati Nar. Coba pertimbangkan itu. ” Muka Sobri mulai angker dalam murka.
“Sabar Bri. Saya Cuma tidak mau salah jalan dan akhirnya malah mengikuti perintah Iblis bukan perintah Tuhan. Begini saja deh Bri, coba sebutkan sumbangan Jihad jaman ini bagi kemanusiaan. Sebab yang saya lihat selama ini hanya menyumbang kesengsaraan. Makanya saya menjadi ragu akan Jihad yang kau dengung-dengungkan untuk membujukku menjadi jagal. Jangan-jangan itu hanya meperalat Jihad demi kepentingan nafsu manusia yang haus darah. ” Tampaknya Jenar sudah enggan berpanjang-panjang berpolemik.
Sobri tampak terdiam. Mungkin sedang mengingat-ngingat. Semoga dia bisa mengingat. Sehingga pada akhirnya Jenar dapat disadarkan betapa bejihad itu adalah demi membela Tuhan. Merupakan perintah Tuhan yang tidak ada tawar-menawar. Harus dilakukan. Titik.



Odium theologicum.
Benarkah Tuhan akan melindungi kita jika kita tidak melindungi diri sendiri…?
Jika seseorang melayangkan pedangnya keleher saya, maka saya akan berusaha menghindar. Jika kemudian pedang itu terus mengejar leher saya maka akan saya cari cara supaya si pemegang pedang kalah.
Jika nyamuk menggigit tangan saya, apakah saya harus berdoa supaya nyamuk itu pergi….? atau saya harus memukulnya atau mengusirnya…?
Cerita Jenar diatas menurut saya adalah membuat kita berfikir kembali tentang konteks jihad dialam modern ini (suasana damai). Mari Jihad memerangi kemiskinan dan kebodohan, Jihad menuntut Ilmu Pengetahuan. Bukan Jihad dengan mengancungkan pedang,karena Indonesia bukanlah Iraq, Afghanistan atau Chechnya yang dalam kondisi perang.
—salam—
He he, perintah Tuhan atau perintah iblis itu kadang bisa membuat bingung lho mas. Karena iblis bisa tampak seperti malaikat.
Ada yang salah ketika banyak orang kecewa kepada agama dan meninggalkannya karena dia menimbulkan perpecahan. Secara pribadi saya pikir banyak manusia merasa dirinya “lebih” sehingga dia merasa perlu membela dan menyelamatkan agama. Agama, sebuah jembatan antara kita dan Tuhan, Tuhan yang memberikan kita banyak hal termasuk kehidupan, kekuatan …. dan keselamatan.
Sepertinya kembali lagi kepada post njengen yang kemarin bahwa sebenarnya hal yang kita lakukan itu demi apa ya, demi ego atau bukan …
@Jenar
Salut…
Tidak ada: La qaula wala quata illa ABLASA.
Cuma karena kebiasaan bergaul sama ABLASA, bahkan kawin dengan ABLASA maka dirinya dengan semena2 menggunakan pemberian Allah untuk mengejawantahkan perbuatan ABLASA di muka bumi, tubuhnya manusia tingkah lakunya seperti ABLASA.
Jihad yang paling Akbar adalah JIHAD LI NAFSI…Ingat pesan Rasulullah setelah perang Badar..Tidak bisa ditawar2 lagi..Titik.
-salam-
perang karena alasan ekonomi. para jendral berunding damai menghitung untung rugi
perang karena agama, berdamai adalah kesesatan yang nyata
terus mencederai kehidupan
yang indah dalam bentuk & warna berbeda
niscaya imbalanmu surga
Ndak usah bingung to jenar, berjihad untuk menghentikan perang aja, yaa bisa lewat gencatan senjata, jalur pbb,dll.
Istilah “penggal”kan sama saja dengan istilah tembak, meriam granat dll, esensinya mematikan. Juga istilah ‘preemtive strikenya bushhh”
DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
karya :W.S. Rendra
Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Bukan “jihad”, tapi “qital”.
Bukan “agression”, tapi “self-defense”.
Perang menurutku bukan pilihan, Mas Dana. Saya pikir Gandhi mungkin tidak akan menjadi Gandhi seandainya ia berhadapan dengan Israel.
aku kira siti djenar
lagi2 jenar mengungkapkan pemikiran2nya yang moderat dan toleran. dia ndak mau larut dalam pemaknaan kata “jihat” yang dianggapnya hanya menciptakan kesengsaraan kehidupan umat manusia.
Jenar terlalu banyak merenung dan berpikir. Lebih aman memang menurut pada suara kebanyakan orang.
Kalau kata orang jihad itu perang, ya itulah yang paling benar. Sementara suara hati harus dikubur rapat-rapat.
Ya ya.. Jihad itu memang menyenangkan, kalo masih hidup kita masih bisa menjagal orang sebanyak-banyaknya.. Dan semua itu halal!! Dan kalaupun mati, kita akan digelari syahid, yang punya tiket eksekutif menuju surga yang penuh perawan..
Oh..
jika Tuhan ada di luaran sana, kita memang perlu menginjak tangga untuk meraihnya.
jika Tuhan ada di kedalaman sini, kita hanya perlu merengkuhnya untuk mencapainya.
The Greatest Battle Lies Within – Spiderman 3
tokoh khayalan aja bisa begitu…
*SOBRI Mode: ON*
Manfaat perang? Mengurangi populasi bumi yang semakin padat.
*SOBRI Mode:OFF*
@K. geddoe
Kebencian memang sangat bermanfaat dalam hal ini.
@daeng limpo
Kalo dari sejarah sih, kadang kadang iya, kadang kadang nggak. Entah kalo sejarahnya salah.
Masalahnya si Jenar lagi nggak dikejar pedang sih, dan nggak digigit nyamuk.
Btw, kalo hal seperti di atas saya nggak bilang itu jihad. Tapi membela diri.
@sigid
Soal perang yang paling saya suka adalah kisah perang bharatayudha. Karena disitu ada sosok krishna yang begitu bijak. Mungkin dari situ kita bisa memilah-milah bagaimana sebenarnya perang itu. Biar jangan jatuhnya ternyata hanya karena membela ego.
@Faubell
Mungkin memang seharusnya duluan Jihad melawan hawa nafsu itu. Sebab jika sudah berhasil maka walaupun nantinya harus berperang senjata juga, pasti bukan membela ego.
@tomy
Agama memang sangat berguna dimanfaatkan dalam perang.
@Uhuik
Yup, penggal memang jadi lambang membunuh musuh yang manusia.
Ah, iya menghentikan perang sepertinya lebih mulia tuh.
@gentole
Oh, bukan jihad toh? *manggut manggut*
Saya kira jika Gandhi sudah menaklukkan hawa nafsunya, maka dia akan tetap seorang Gandhi. Walau jika melawan Israel, kemungkinan dia mengangkat senjata. Sebab ke-Gandhi-an tidak dilihat dari anti perangnya, tapi dari kesadarannya.
@ulan
Bukan.
@Sawali Tuhusetya
Intinya itu sih pak. Jika ternayata menyengsarakan kehidupan umat manusia, apa masih tepat disebut jihad?
@goldfriend
Sebenarnya karna Jenar penakut aja tuh bang. Jadinya dia cari alasan buat ngeles.
@Nazieb
Betapa menggiurkan emang.
@watonist
Katanya Tuhan ada dimana-mana.
@SJ
Kasian yang dibohongi.
@calonorangtenarsedunia
Eh, itu berguna bagi kemanusiaan nggak ya?
jenar lagihhhh
Emang susah yah… apalagi kalo inget soal siklus alam versi Tao dimana kehancuran adalah bagian dari alam. Aku pikir sih suatu saat mungkin kita harus memilih antara ya dan tidak, Suatu saat kita harus memilih untuk membela keyakinan kita. Orang yang bodoh bukan hanya di satu agama aja kan… Bahkan Arjuna pun harus memilih antara kedua hal tersebut sampai Kresna harus cerita Bhagawad Gita.
Tapi yang aku tahu sih, di agama apapun yang benar, tidak ada perang untuk memaksakan kehendak maupun ekspansi wilayah. Kecuali bertempur melawan kebodohan yang agresif.
Nabi Muhammad sendiri menghormati kemanusiaan dan keyakinan orang lain, bahkan dalam perang sekalipun dilarang membunuh orang yang tidak ikut dalam pasukan musuh, bahkan pasukannya dilarang merusak pepohonan sekalipun. yang jelas front buat kita sekarang dari diri sendiri dulu deh… front gede mah belom sampe sini kayaknya.
SAYA PIKIR “TUHANNYA” SOBRI MUSTI NEBUS OBAT PENENANG DI APOTEK………….., TERMASUK SOBRI DAN SOBRI2 YANG LAEN TENTUNYA………………….
“Tidak ada Nar. Ini sudah darurat. Sudah banyak saudara-saudara kita yang terbunuh. Itu harus diperhitungkan. Nyawa ganti nyawa , Nar. Harus itu! ” jawab Sobri.
Salam buat Jenar,
ikutan perang aja, buat ganti nyawa,
tapi kalo ada tawanan perang,
tolong diselamatkan dan diobati,
jangan lupa kasih senyum..
Say Cheese.. ^^
@zoel chaniago
Iya nih, jenar nongol lagi.
@Godamn
Cerita bhagavadgita itu memang sanga indah soal perang.
Mungkin memang disitulah letak rahasianya bagaimana perang yang layak disebut jihad itu. Kita harus menyadari kehadiran Krishna dulu baru bisa perang tanpa tergoda untuk mengikuti hawa nafsu. Atau setidaknya ada seorang pemimpin perang itu yang telah menyadari kehadiran Krishna itu.
@CRAZY GABRIEL
Mosok Tuhan butuh obat sih?
@phiy
Salam balik dari Jenar.
Eh, kemana aja nih phy, kok baru muncul?
kayaknya emang gitu yah… ato mungkin kresna sudah ada, arjuna dah ada juga, cuma kita aja terlalu sibuk ngobrol ma ngomentarin segala macaem hal… Kalo jenar kira-kira bisa gak yah jadi arjuna? atau mungkin ngelmunya belum cukup en mesti tapa lagi ke hutan kamandaka kali… sapa tahu bisa dapetin anaknya resi apa… gitu. Nar mau gak nar…? kalo sodara ada en cakep… mau juga loh… hehehe
nar… djenar…. agamamu apa tho?? tuhanmu berapa??
Ini Jenar yang mana nih….?
Mengapa banyak orang yg berani mati tapi tak berani hidup
. Memang sih mati lebih mudah daripada hidup tersiksa gara2 mengungkap korupsi dan memerangi kemiskinan …
wah, baru saja saya post sesuatu yang mirip mirip ini.. sepertinya akhir akhir ini banyak blogger Indonesia yang ‘frekuensi telepati’ nya nyambung.
hmmm harusnya yg dibunuh itu Tuhan, agar tak ada lagi darah manusia tumpah karenaNya…
@JOYO
wex xex xex
Lho tuhan katanya sudah dibunuh di kayu salib, koq masih ada darah manusia yang tumpah?
di sini, saya akan sangat kondisional dan kontekstual deh mas dana… dan itu tidak bisa saya jabarkan hanya sekedar nyawa dibalas nyawa. tuhan dalam jiwa saya bisa diam, jika hilang nyawa memang ada makna. dan akan segera menerjang lebih dahsyat, jika itu sia-sia belaka..
tapi, kadang saya lebih suka memilih tuk memaafkan dan berdialog. bayar nyawa itu dengan sesuatu yang lebih berharga tuk banyak nyawa lagi. dan saya rasa itulah tobat.