Tiba-tiba suatu hal terlintas dalam pikiran saya ketika sedang membaca-baca kembali soal pro kontra AKKBB dan FPI yang sangat panas itu. Berhubung saya membacanya di forum yang katanya Islami tentu saja lebih banyak yang membela FPI dan menghujat AKKBB. Sebuah hal yang wajar sih. Tapi ya, wajar bukan berarti benar toh?
Nah, kalo saya lihat lebih jauh lagi bahwa pembelaan terhadap FPI ini lebih dilatar belakangi oleh sikap berbaik sangka. Jadi walaupun jelas-jelas FPI telah melakukan kekerasan, maka dibela dengan mengatakan bahwa FPI melakukan tindakan tersebut dengan tujuan yang baik yakni membela kemurnian akidah Islam. Menjaga agar Islam jangan sampai ternoda. Jangan sampai di obrak-abrik orang seenaknya. Tanpa aturan yang jelas. Memang kelihatannya jadi baik sih. Benar-benar telah menjalankan ajaran Islam untuk berbaik sangka.
Ok, baguslah jika memang mau terus berbaik sangka. Tapi jika memang dapat berbaik sangka terhadap tindakan kekerasaan FPI tersebut, mengapa tidak sekalian berbaik sangka juga kepada AKKBB ? Kan menjalankan ajaran agama itu harus kaffah, tidak boleh setengah-setengah atau tebang pilih. Jadi jika mau berbaik sangka. Berbaik sangka jugalah terhadap AKKBB. Adapun pembenarannya adalah bahwa AKKBB itu ternyata hanya ingin menunjukkan pada dunia bahwa Islam itu memang rahmatan lil alamin. Islam itu tidak hanya bisa melakukan kekerasan, memaksakan kehendak dan membrangus yang tidak sejalan dengannya. Maka dengan menunjukkan sisi toleran dari Islam itu diharapkan sikap-sikap paranoid terhadap Islam bisa menjadi berkurang. Hingga Islam dapat lebih cepat mendunia.
Dengan berbaik sangka ke kedua belah pihak begitu kan damai bukan hal yang jadi mustahil. Keknya damai lebih enak deh daripada perang. Sekarang tinggal kita kritisi cara dari kedua pihak tersebut. Bisa jadi karena menggunakan cara-cara yang salah dalam menjalankan maksud yang sebenarnya baik itulah makanya terjadi hal-hal seperti sekarang ini. Sebuah perpecahan. Yang bagi saya sangat merugikan Islam itu sendiri. Dan jika terus menerus terjadi maka bisa jadi akhirnya menjadi perang saudara.
Lagian dalam bayangan saya bahwa ketika kedua maksud baik tersebut disatukan maka alangkah dahsyatnya yang bisa dicapai. Tapi apa mungkin ya? Sebab dari kenyataan selama ini kok rasanya susah mensinergikan kedua hal itu. Biasanya keinginan untuk memurnikan Islam akan meningkatkan paranoid terhadap Islam sendiri, akibat kekerasan yang (entah kenapa) selau menyertainya. Sedangkan keinginan untuk menghapus paranoid terhadap Islam dengan menampilkan sisi Islam yang toleran akan dianggap sesat. Mengobok-ngobok agama. Serba susah memang.
Eh, kok saya jadi berburuk sangka gitu ya? Baiklah, saya mau berbaik sangka sajalah bahwa semua hal itu masih mungkin. Imposible is nothing.
Gimana kira-kira? Mau nggak berbaik sangka seperti itu?



wah, aku selalu berbaik sangka pada siapa pun loh, mas dana, hehehehe
juga kepada mereka yang suka berteriak-teriak paling islam di antara saudara2nya yang seiman, bahkan menganggap orang yang tidak selairan sebagai orang yang sesat dan murtad. eh, jangan2 ini sudah berburuk sangka nih
Bebas dari rasa mengejar akibat, menyebabkan orang melihat rasa sendiri yang mengejar akibat dalam berbagai macam hal. Padahal rasa mengejar akibat tersebut menimbulkan perang batin. Oleh karena itu perang batin akan lenyap jika rasa mengejar akibat ketahuan sebelumnya.
Orang ingin damai dan tidak bertengkar dengan orang lain. Jika tidak mengerti rasa bertengkar atau rasa damai dan jika tidak mengerti bahwa sebab dan akibat merupakan satu hal, orang akan mencari damai dengan cara kekerasan.
berbaik sangka namun pandangan sudah saling berseberangan maka susah juga dicari titik temunya
Nabi SAW bersabda : “Perbedaan diantara ummatku adalah rahmat”
Marilah kita jaga rahmat itu agar tidak menjadi bala.
Islam mengajarkan pemeluknya untuk saling menghargai, toleran dan saling menyayangi.
Marilah kita menjadi orang yang tahu diri, tidak sesuka hati bertindak dengan nafsu mengatasnamakan Tuhan…
Tuhan dan Agama itu tidak pernah Salah, yang keliru adalah pemeluk agama yang kadangkala menafsirkan agam menurut nafsu nya
Salam Damai
@sufimuda
” Nabi SAW bersabda : “Perbedaan diantara ummatku adalah rahmat”.
saya koreksi sedikit: Kalau kita tidak mendengar langsung dari Rasulullah jangan seperti itu redaksinya.
begini kira2 : Kolla syaihunna wa kolla syaihunna mutasilan illa sahidil wujud Rasulullah SAW, kolla Rasulullah :…..
Perbedaan diantara ummatku adalah rahmat.
Agama tidak pernah salah namun yang perlu kita renungkan mampukah agama yang kita anut membawa kita selamat????
-salam-
Kalo orang islam mengikuti langkah gandhi nanti dikira hindu, atau salah-salah dikira orang hindu yang sesat
Kalau mengaku FPI, dan meyakini dirinya paling benar, sama saja mengulang kesalahan yaitu mempertuhankan diri-sendiri, memberhalakan hawa nafsu, thagut gaya baru, seperti Raja Fir’au merasa dirinya ‘tuhan’ dan paling benar….akhirnya semua binasa.
dan sesuai AlQuran…..semua akan binasa kecuali Allah swt…
aduh bang dana pasti pake puasa tujuh hari tujuh malam dan wiridan sampai subuh untuk kemudian menulis ini dengan hati bersih dan pikiran lapang.
*berbaik sangka*
enakan buruk sangka
lebih mengobarkan semangat
*ditabok*
Kebanyakan berbaik sangka juga melelahkan, Dan.
mari selalu berbaik sangka
Kalau prasangka itu apaan lagi, Dan ?
apalagi tersangkaSebenarnya yang kebanyakan dilakukan oleh orang lain dalam beropini terhadap kasus itu tidak bisa dikatakan berbaik sangka.
Dalam Agama [atau ideologi], suatu tujuan tidak bisa lepas dari cara yang digunakan. Kalau tujuan kita mulia sementara cara kita tidak mulia, maka segala pembelaan akhirnya berujung pada pembenaran.
Jika tujuannya adalah untuk menegakkan sesuatu, maka cara yang digunakan tidak boleh lari dari ajaran yang diberikan. Kalau lari, maka tujuan itu menjadi tidak berguna lagi.
Berbaik sangka dan berburuk sangak itu hanya ada jika konteks yang ada di otak seseorang telah terbentuk. Jika kita hanya melihat tujuan akhirnya, maka segala cara [termasuk kekerasan] menjadi pembenaran demi tujuan itu. Berbaik sangka tidak membuat cara kita jadi baik, tapi justru menjadi pemaafan akan cara-cara yang salah.
Saya sendiri tidak menentang FPI & AKKBB, tapi please, caranya jangan pake hukum rimba.
kata kedua, kata dasarnya kan “sangka”, kira-kira, barangkali, bisa jadi… mungkin juga asumsi. jadi belum tentu sesuai fakta atau belum jelas. menghadapi hal-hal yang belum jelas sepertinya lebih enak netral aja kali…
Kekerasan itu Baik Sekaligus Buruk.
Memiliki Kekuatan / Potensi untuk melakukan Kekerasan (Sekaligus Melakukan Kekerasan) merupakan sebuah tameng atau punggawa atau backup dari sebuah Kedamaian. Senjata Pembunuh, Pemusnah diciptakan, Tentara dibentuk, Persekutuan dibangkitkan, Hukuman Mati / Cambuk dan sejenisnya itu juga backup dari Kedamaian kita.
Kedamaian dan Kekerasan beserta potensi potensinya itu dekat dan saling memperngaruhi.
Hubungannya dengan FPI? Lah emang kurang ada hubungannya kok. Just OOT.
saya juga berbaik sangka terhadap karya machiavelli
Bukannya sudah lama mendunia Mas Dana?
Saya setuju dengan uraian Anda. Tapi berbaik sangka bukan berarti menjustifikasi kan?
@Sawali Tuhusetya
Baca komen bapak ini membuat saya berpikir, jangan-jangan bisa berbaik sangka setelah berburuk sangka terlebih dahulu.
@tomy
Padahal damai dan kekerasan sepertinya tidak sejalan ya?
@yudi
Jangan berburuk sangka dulu. Jangan jangan yang kelihatan berseberangan itu sebenarnya tidak.
@sufimuda
Idealnya sih memang menganalisa diri sendiri tuan sufi. Cuman seringnya manusia suka tidak sabar, jadi langsung menganalisa yang diluar diri yakni orang lain.
@wagu
Nah, itu dia, susah jadinya. Lihat aja gus dur, tuh dah disebut macem-macem deh.
@uhuik
Makanya, berbaik sangka dulu. Janga-jangan mereka tidak menganggap begitu.
@nindityo
Makasih atas pujiannya. *berbangga diri*
@Ade
Kebencian memang bisa menyatukan.
@calonorangtenarsedunia
Itu tandanya kamu belon ikhlas berbaik sangka pada saya tuh.
Btw, tulisan ini sebenarnya karena saya heran saja. Kok sama FPI bisa berbaik sangka, tapi pada AKKBB rasanya mustahil berbaik sangka. Padahal kan seharusnya jangan tebang pilihah.
@zoel chaniago
Sanggupkah?
@goldfriend
Jangan nanya yang aneh-aneh dulu bang.
Seperti komen saya pada hana di atas. Bahwa sebenarnya ini cuma ungkapan keheranan saya saja, kenapa berbaik sangka harus tebang pilih.
@sitijenang
Wah, iya juga, ternyata masih persangkaan. Cuman herannya, kok persangkaan aja masih begitu ngotot ya?
@Suluh
Mungkin memang diperlukan ketepatan dalam melakukan kekerasan.
@daeng limpo
Berbaik sangkanya gimana? Kasih triknya dunk.
@gentole
Walah, dah mendunia toh? Saya tahunya mendunia ya kekerasannya itu *korban media*
Wah, kalo soal justifikasi sih saya ndak tahu. Yang saya pertanyakan sebenarnya jika bisa berbaik sangka kepada FPI, kenapa tidak bisa berbaik sangka kepada AKKBB? Begitu kira-kira bro.
*pake topeng*
Berbaik sangka juga ada batasnya mas…
Saya cinta kedamaian, tapi saya lebih cinta pada kebenaran. Kalau kepercayaan saya dihina, ya persetan kedamaian. Persetan HAM.
*lepas topeng*
*gelar tikar*
*bakar jagung*
*kipas-kipas*
::Dan sepertinya sikap baik sangka itu hanya tertuju kepada Allah, memang sich.., Allah dzahir dan juga bathin, namun kalau kata achmad dhani, “aku tak bisa menjadi dirinya”, jadi kedudukannya “baik menurutmu, belum tentu baik, buruk menurutmu belum tentu buruk”,
hanya saja, keadaan selalu saja mengajarkan…entahlah… *gak bersangka apapun..*
Mau, mau ….
Berbaik sangka itu di pikiran juga rasanya lebih fresh …
baik sangka memang harus tapi perlu kita tempatkan pada tempat yang tepat, kemurnian berbaik sangka hanya kepadaNya sedangkan kepada mahluknya tidak akan pernah tulus berbaik sangka itu pasti ada harapan
biasa pakai pepatah lama….tak ada asap kalau tak ada api….? bener gak ya….?
kadang kalau kita berbaik sangka, suka dimanfaatin…
*curcol*
Paling banter sih kita cuma bisa sampai pada tahap “membaik-baikkan persangkaan” kita, bukan MURNI MEMILIKI PRASANGKA YANG SERBA BAIK.
ttd.
manusia yg tidak sempurna, catet itu, brother!
berbaik sangka..
perlu banget tuh..
klo ngga..
stress mulu bawaannya..
Saya berbak sangka sama dua2nya kok Um..
v
(bc: apatis)
“Berbaik Sangka” itu bagi sepertinya tingkatan ahlak yang tinggi,mudah2an banyak dari kita yang ‘bisa’ mencapainya………..pesimis..hehe
“Berbaik Sangka” itu sepertinya tingkatan ahlak yang tinggi,mudah2an banyak dari kita yang ‘bisa’ mencapainya………..pesimis..hehe
mau banget lah kang… berbaik sangka tuh kalo aku rasain sih enak banget.. terutama bikin pikiran kita gak mumet mikiran yang nggak-nggak, jadi aku stuju banget ma oRido
@oktara
berbaik sangka tuh bukan tingkatan ahlak yang tinggi kok, bang… tapi bukan berarti yang rendah juga… biasa aja lagi…
@K. geddoe
Tul, batasnya ya sesanggup diri aja. Tapi kalo sanggup berbaik sangka pada FPI seharusnya sih sanggup juga berbaiksangka pada AKKBB.
*bakar kompor*
@zal
Waduh, pada mahluk nggak boleh ya zal? *tertunduk kecewa*
@sigid
Tidak bersangka juga fresh loh.
@razuka
Wah, berarti tidak tepat berbaik sangka kepada FPI maupun AKKBB ya?
@daeng limpo
Saking dinginnya keknya ada asap juga tuh.
@cK
Berbaik sangka aja bahwa kamu tidak dimanfaatin, gimana?
@esensi
Yang dicatet bagian mananya nih?
@oRiDo™
Solusi satu lagi yang lebih afdol, jangan berprasangka apa-apa.
@phiy
Kekekeke… malah apatis.
@oktara
Amin.
@godamn
Tapi kalo merasa terpaksa berbaik sangka bisa capek juga. Tapi kalo tulus sih, seharusnya emang nggak mumet.
hampir tiap hari, di hampir semua stasiun tv kita dari pagi2 melek mata kita sudah dijejali tontonan yang membuat kita berburuk sangka terhadap orang lain.
1. infotainment cek dan ricek, kabari-kabari, seleb-news,kiss dsb yang isinya cuma membicarakan keburukan2 orang lain, yang akhirnya kita ikut2 berprasangka buruk.
2. berita siang hari tentang kejahatan2, yang akhirnya kita selalu was2 terhadap orang yang bertampang sangar.
3. sinetron dari sore sampai tengah malam, ini malah lebih parah lagi.mendidik bangsa kita mencontoh sifat2 pemerannya yang juga penuh prasangka buruk.
sementara acara siaran dakwah agama malah disiarkan subuh2, dimana mayoritas muslim indonesia malah lagi pada tidur enak2nya memeluk istri mereka.
terus giman dong baiknya?
Sebaiknya kita mengormati masing-masing kepercayaan, masing-masing individu dan tak saling menghujat. Kita tak boleh mengatas namakan satu agama atau aliran kepercayaan, dan bertindak seenaknya, seperti menyerang perempuan dan anak-anak…menurut saya jika kita beragama secara benar (entah muslim atau bukan), hal tersebut tak dibenarkan. Jika masing-masing memikirkan golongannya sendiri, maka Indonesia diambang kehancuran…karena mau tak mau, kita terdiri dari ribuan suku, aliran, dan agama.
Saya surprised saat ke Papua, walaupun sama-sama penduduk asli mereka belum tentu bisa saling berbicara karena bahasa yang berbeda (di Papua sukunya ratusan)…syukurlah masih ada bahasa Indonesia sebagai pemersatu.
masalahnya bukan berbaik sangka, Dana…
Masalahnya adalah, ketika ada orang-orang lemah dan wanita menjerit karena dianiaya, maka wajib hukumnya buat orang-orang mu’min untuk membela mereka (4:75-76).
Dan ketika ada orang musyrik yang meminta perlindungan, bila orang musyrik tersebut tidak akan berbuat kerusakan, maka wajib hukumnya buat orang-orang mu’min untuk memberi perlindungan (9:6)
Dan haram hukumnya untuk memaksakan agama dan keyakinan pada orang lain (2:256, 10:99-100)
Dan haram juga menyebarkan berita-berita fitnah, yang membuat orang-orang berprasangka buruk (49:12, 10:69, 24:11)
Dan orang-orang mu’min seharusnya mampu berdiplomasi. Ajaklah orang-orang yang menurut kita belum beriman untuk sama-sama beramal, berbuat kebaikan (49:14)
Lagipula, ngapain sih mesti capek-capek memaksakan keyakinan? Seharusnya, ketika kita sedih karena orang tidak mempercayai kita, katakan, “Cukuplah Allah sebagai saksi” (4:166)
@pencari tuhan
Asal jangan saja acara dakwahpun membuat kita menjadi berburuk sangka. Lengkaplah penderitaan kita.
@edratna
Sayangnya, masih banyak yang membenarkannya bu. Kalo dari sudut pandang artikel itu, mungkin disebabkan karena berbaik sangka.
@kunderemp
Waduh, bukan berbaik sangka ternyata yang membela FPI itu. Lantas kenapa ya? Soalnya saya lihat mereka juga tidak mengamalkan ayat-ayat yang kau berikan itu. Atau jangan-jangan ada ayat ayat lainnya lagi ya?
emmm baiklah, mulai hari ini daku akan berbaik sangka
berbaik sangka boleh, tapi kan ada takarannya juga, kalo untuk FPI, no comment deh, kayaknya udah tergambarkan dari perbuatan negatif mereka yang selalu mengatas namakan Agama
Cape d
Muhammad sebagaimana Khrisna adalah hijab terakhir bagi pandangan manusia untuk masuk ke dalam ke Esaannya, Dia akan selalu membersihkanNya dengan cara apapun, baik dengan mempergunakan orang tolol sekalipun.
agak sulit untuk berbaik sangka jika hati sudah diracuni dengan pikiran yang berburuk sangka
@calonorangtenarsedunia
bukan, bukan … yang melelahkan itu adalah “mencari-cari alasan untuk berbaik sangka”, bukan berbaik sangkanya itu sendiri.
Efek dari positive thinking sudah jelas lebih baik dari negative thinking bagi tubuh kita… Sebenarnya blm tentu pikiran positif kita juga positif bagi orang lain, tapi karena kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, berusahalah berfikir sesuatu yg memberi efek baik pada diri kita sendiri… masalah efeknya akan berbeda bagi orang lain, itu urusan mereka..
@Dimas
Bagus itu.
@Supermance
Oh, ada takarannya toh? Semacam tebang pilih gitu ya?
@godamn
Maksudnya?
@sigit
Di situlah tantangannya.
@watonist
Seharusnya tidak perlu lelah sih ton. Soale kan alasannya udah saya kasih di artikel tuh. Tinggal pake aja.
imarsatri
logikanya sih begitu.
GITU AJA KOK REPOT..
JITA LIHAT AJA PERKEMBANGANNYA
MEMANG DI AKHIR ZAMAN ITU DALAM HADITS NABI SUDAH DI JELASKAN ” AKAN DATANG SUATU MASA DIMANA BANYAK ORANG YANG MENGAKU NABI”
EMANG SUDAH DEKET HARI KIAMATNYA..
Gimana kalo berbaik sangka aja?
gratis..(saya harap anda berbaik sangka.. yg jelas ga ada virusnya)
http://www.geocities.com/maydydha/:
1. Disk Manipulator
2. Pathloss Portable
3. bantuan oracle