Kata kami sering ditemukan dalam ayat AQ ketika Tuhan menyebutkan dirinya yang sedang berbuat atau berkehendak. Kalo dipikir-pikir kok ya Tuhan menyebut kami, kan berarti ada lebih dari satu Tuhan tuh. Tuhan menyekutukan dirinya sendiri dunk jadinya. Heh?! Tuhan macam apa yang begitu. Melarang orang menyekutukanNya, namun malah melakukan penyekutuan itu sendiri. Walau sih Tuhan itu memang maha-maha, jadi ya bisa seenaknya dewelah. Tapi mosok Tuhan begitu. Saya jadinya pengen protes dunk.
Nah, tahu-tahu ada sedikit jawaban di komen razuka yang di sini . Dengan berbekal sedikit jawaban, yang benar-benar sedikit itu (dasar emang razukanya pelit) maka saya kembangkan melalui rasa. Hasil pengembangan saya itu begini.
Bahwa Tuhan mengatakan kami setiap berbuat atau berkehendak bukanlah karena Tuhan itu banyak. Cuma kami dalam hal ini berarti bahwa Tuhan berbuat dan berkehendak melalui ciptaannya di dunia . Begitu kira kira hasil dari rasa saya. Namun rasa saya tidak berhenti sampai di situ saja. Rasa masih terus melanjutkannya. Bahwa kami itu tidak sembarangan bakal tercapai. Kalo dalam level manusia maka kami itu tercapai jika manusia telah berserah diri sepenuhnya pada kehendakNya. Hanya dengan begitulah maka yang kita manusia lakukan adalah pengejawantahan dari perbuatan atau kehendak Tuhan.
Jika belum mencapai penyerahan diri total itu, sangat diragukan bahwa tindakan atau perbuatan kita adalah tindakan dan perbuatan Tuhan. Jadi makna kami dalam ayat-ayat AQ itu belum terwujud. Belum sempurnalah hidup. Oh, iya mungkin kita dapat belajar pada alam untuk hal tersebut. Betapa alam merupakan pengejawantahan dari berbuat atau berkehendak dari Tuhan. Alam tidak pernah neko-neko, berjalan sesuai dengan apa adanya. Sesuai hukum alam.
Alam tidak pernah memanipulasi, seperti manusia. Yah, itu semua mungkin karena alam hanya bisa mengikuti alur, tanpa bisa berkehendak. Tentu beda dengan manusia yang dianugrahi kehendak sendiri. Sebab katanya memang manusia itu citra Tuhan. Termasuk mencitrai pada kehendak itu.
Tapi justru dengan adanya kehendak itu maka peluang manusia menjadi lebih sempurna dibanding alam terbuka lebar. Bahwa alam hanya bisa bersikap pasif. Sedangkan manusia dapat bersikap aktif dalam mengejawantahkan kehendakNya. Jadi dengan menundukkan (menyelaraskan?) kehendak diri agar bisa menjadi sarana berbuat atau berkehendak Tuhan. Maka kata kami di ayat-ayat AQ itu pun menjadi kenyataan yang sempurna, tidak hanya sekedar kata tanpa makna.



Teman-teman Bila ingin paham tentang keESAAN Tuhan pelajarilah Surat Al-Ikhlas, itu merupakan penjelasan Keesaan Wujud, dan proses “kejadian” dari yang Tunggal/Esa menjadi banyak. Prinsipnya adalah bukan saja Causa Prima tapi WUJUD tunggal yang benar-benar Wujud/Maujud dan tak ada lagi Wujud lain selain Yang Haqq. Silahkan di baca surat Al-Ikhlas karena itu inti dari diturnkannya para Nabi manapun ke Dunia ini.
AKU itu HakNya DIA..
kami ini haknya “kita”..
aku, kamu dan dia; jadilah ‘kami’, jika sedang berbicara dg ‘mereka’.
semua ada batasnya, semua ada haknya.
jika tak ingin ada batas, penuhilah HakNya.
jika tak ingin langgar batas, penuhilah kewajiban anda.