Mengendalikan Marah atau Dikendalikan Marah ?

Begini, tentu wajar seorang manusia menjadi marah ketika merasa diganggu. Seperti halnya hewan juga wajar jika merasa diganggu menjadi marah. Tapi manusia kan bukan hewan? Manusia itu punya akal, disitulah bedanya manusia dengan hewan. Manusia itu disebut juga hewan yang berakal. Ah, itu sekedar perumpamaan saja, jadi jangan tersinggung dulu karena merasa manusia kusebut hewan. :P

Nah, jika hewan marah maka tentu saja akan langsung menuruti marahnya itu dan bertindak sesuai rasa marah. Tidak akan pernah merenung dan memikirkan apa dia layak marah? Apa akibatknya jika dia menuruti marah, melabrak (melukai) sesuatu yang membuatnya marah itu? Al hasih jika hewan marah maka akan langsung tanpa ba-bi-bu lagi menyerang secara fisik yang membuatnya marah.

Maka kejadian selanjutnya adalah sang hewan seringnya menjadi menderita jika yang menjadi objek kemarahannya itu adalah manusia. Mereka akan diburu, disiksa, lalu dimusnahkan. Eh, itu manusia kok jadi seperti hewan juga ya? Ah, itu nanti saja membahasnya. Yang pasti akibat hewan hanya bisa menuruti nafsu amarahnya, hingga jadinya merespon seketika tanpa sempat berpikir jernih, maka penderitaaanlah yang digapainya.

Nah, sekarang kita tinjau jika manusia yang marah. Tentu manusia yang menghargai akal yang telah dianugrahkan oleh Tuhan, maka akan memanfaatkan akal tersebut untuk berpikir dulu. Tidak lantas serta merta hanya bereaksi berdasarkan rasa marah. Bereaksi tanpa berpikir, langsung main hantam pada yang membuatnya marah itu. Lah, jika begitu apa bedanya dengan hewan ya? Kemanakah akalnya itu? Jika mau menggunakan akal, tanpa membiarkan marah mengambil alih. Maka tentu dapat memikirkan apa gerangan penyebabnya hingga membuatmu marah? Juga bisa berpikir tentang berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil, berikut untung-ruginya.

Misalnya jika merasa agamanya dihina, tentu bisa mengambil tindakan selain langsung main hantam saja akibat menuruti rasa marah. Dimana sudah sering tindakan main hantam itu malah merugikan diri sendiri. Harusnya bisa dijadikan pengalaman tuh. Mungkin jika tidak membiarkan rasa marah mengambil alih akal, maka kita bisa berpikir jernih untuk mengadukan kepada pengadilan atas tuduhan pencemaran agama.

Merasa dirinya difitnah tentu juga bisa mengadukan kepada pengadilan atas tuduhan pencemaran nama baik. Merasa dimaki, wah jika ini sepertinya tidak bisa diajukan ke pengadilan. Tapi mungkin saja bisa, toh dasar tuduhannya bisa dicari-cari, mungkin bisa dimasukkan ke dalam pencemaran nama baik juga. Ah, tanyakan saja pada ahlinya deh, para pengacara. Intinya sih jangan serta-merta bereaksi menurutkan rasa marah.

Terlepas dari soal bisa tidaknya memaki dituntut secara hukum, maka dimaki bisa dianggap sebagai sarana latihan paling tepat untuk melatih pengendalian diri. Saya rasa malah lebih efektif dibandingkan berpuasa sekalipun. Jadi sungguh sayang rasanya kesempatan itu dibiarkan begitu saja. Berlalu tanpa dimanfaatkan, dan membiarkan marah mengambil alih dan mengarahkan segala tindakan kita. Yang akibatnya sungguh bisa sangat merugikan.

Hem, apalagi ya yang membuat marah? Oh iya, tuduhan yang mungkin dianggap sangat tendensius. Walau bisa jadi tuduhan itu membuka kebenaran yang ada. Tapi kebenaran memang seringnya sangat pahit, sehingga akan membuat si tertuduh akan merasa marah. Bahkan bisa jadi sangat marah. Namun jika marah yang diturutkan maka adanya kerugian. Tidak ada untungnya sama sekali. Percaya deh.

Misalnya begini, anda dituduh hobinya hanya marah saja. Anda dituduh bahwa segala yang anda lakukan merupakan tindakan menuruti marah. Lantas andapun dengan gagahnya mementungi orang yang menuduh tersebut sembari membantah tuduhan.  Atau anda dituduh adalah antek setan. Lalu anda melakukan tindaka layaknya setan pada orang yang menuduh tersebut. Sambil meneriakka bahwa tuduhan itu tidak benar.

Tentu semua pembelaan anda menjadi konyol, sebab semua tidakan yang anda lakukan dalam membela tersebut adalah bentuk yang dituduhkan itu sendiri. Jadinya kan tuduhan tersebut malah memperoleh bukti baru. Orang yang menuduh jelas malah semakin yakin akan tuduhannya. Hal sekonyol itu harusnya hanya dilakukan oleh mahluk yang tidak berakal saja. Bukan oleh manusia yang telah dianugrahi akal. Saya kira kita semua menyadari hal tersebut.

Bukankah lebih baik tuduhan tersebut direnungkan dulu. Jangan-jangan selama ini memang ada tindakan yang dilakukan sehingga orang jadi mempunyai alasan untuk menuduhkan suatu hal pada diri anda. Daripada malah menuruti marah, sehingga semakin membuktikan tuduhan tersebut adalah benar. Bukankah lebih baik dijadikan tuduhan tersebut sebagai pemicu instropeksi diri.

Nah, setelah instropeksi jungkir balik, dan ternyata tuduhan tersebut tidak benar, juga tidak ada tindakan yang mendukung tindakan tersebut ya anda sampaikan saja pendapat anda tersebut dengan cara elegan. Soal tidak diterima ya itu soal lain, yang penting anda telah menyampaikan pandangan anda. Jika masih belum puas, pikirkanlah cara membalas yang terbaik, yang tidak akan menimbulkan kerugian.

Contoh yang sangat saya sukai tentang mengendalikan marah adalah ketika Nabi Muhammad selalu dihina oleh seorang Yahudi. Namun sang Nabi selalu membawakan makanan untuk orang tersebut. Entah kenapa, rasanya Nabi yang seorang manusia itu tentu marah dihina sedemikia rupa, namun Beliau adalah seorang yang dapat mengendalikan marahnya. Sehingga tindakannya tidak mecerminkan kemarahan. Malah masih mau membawakan makanan pada orang yang menghinanya.

Juga kisah tentang salah seorang sahabat nabi (lupa yang mana) , yang tidak jadi membunuh seorang tawanan perang karena takut niat dia membunuh hanyalah berlandaskan rasa marah saja. Dari kedua kisah ini saja ada pelajaran yang sangat berharga. Betapa kita diajarkan untuk memperlakukan rasa marah itu harus dengan sangat hati-hati. Sebaiknnya berpikir ulang dulu jika kita marah, jangan langsung bertindak. Jika langsung bertindak takutnya marahlah yang mengarahkan tindakan kita.

Jadi sudah tahu bedanya antara mengendalikan marah dengan dikendalikan marah bukan? Nah, sekarang tinggal memilih anda maunya mengendalikan atau mau dikendalikan . Itu tergantung pilihan anda. Hidup memang soal memilih. :mrgreen:

About these ads

56 Responses to “Mengendalikan Marah atau Dikendalikan Marah ?”


  1. 1 M. Sejuki November 2, 2008 pukul 9:31 pm

    Maksudnya?

    *Garuk-garuk kepala*

  2. 2 tomy November 5, 2008 pukul 11:19 am

    Mengapa Engkau cemas tanpa sebab? Siapa yang Engkau takuti? Siapa dapat membinasakanmu?
    Jiwa tidak dilahirkan, pun tidak akan binasa…

  3. 3 CY November 6, 2008 pukul 4:20 pm

    *melongo liat msejuki dan aryf**
    Kok ga chatting aja di YM, kan lebih enak?? Masa cetting dikolom komentar hihihi :mrgreen:

  4. 4 Godamn November 6, 2008 pukul 8:17 pm

    @dana
    maksudku berdo’a pada saat tidak marah, kalo pada saat marah mah susah… paling nggak kita ngebiasain berhati lunak dan lembut

  5. 5 Sumanto November 20, 2008 pukul 12:53 am

    marah? saya susah marah…tapi gampang gemass…
    masalahnya kalo gregetan/gemas sama orang bawaannya pingin ngunyah2 batok orang ituh…
    iya iyaa, saya tau ini kecenderungan psikopatismekronistustestis…
    maaf…
    duh mulai lagi nih… kayanya saya mulai gregetan sama yg namanya m.sejuki…hihhihi

  6. 6 M. Sejuki November 20, 2008 pukul 5:07 am

    @Sumanto

    Kalo gitu, kunyah saja sekalian batok kepala gue. Hehehe…

    *Sambil ancang-ancang pasang kuda-kuda, nyodorkan batok kepala*


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: