Keterikatan Universal

  By Fenny

Kita sama-sama mengetahui sumber dari segala masalah adalah keterikatan (ego). Hal ini sudah terjadi sejak jaman adam dan hawa, seperti dalam salah satu cerita buku dimana menceritakan bahwa hawa mengiginkan seorang anak. Keterikan hawa yaitu anak sedangkan adam hanya memikirkan Tuhan.Disini akan dibahas keterikatan terhadap sesuatu atau seseorang.

Bagaimana keterikatan itu timbul? Asal mulanya yaitu ketertarikan terhadap sesutau (pikiran).Misalnya tentang seorang yang mula-mula tertarik terhadap rokok (sesuatu), lalu mencoba-coba merokok , lalu merasa enak, akhirnya timbul ketagihan (keterikatan).

Sifat pikiran adalah menginginkan semua yang enak agar diulang-ulang terus-menerus. Akhirnya timbul segala problem(keterikatan) pada diri terhadap rumah, uang, dll. Ada agama yang mengatakan keterikatan itu adalah karma, dan ada masa untuk melunasi karma tersebut. Kecenderungan (karma) ini terjadi terhadap hal yang berhubungan terhadap hal tersebut. Hukum alamlah yang mengatur semuanya mengenai pelunasan karma. Tetapi selama ini manusia terus-menerus memulai bukan mengakhirinya. Dalam celestine prophercy disebut kebetulan-kebetulan yang terjadi disekitar kita.

Keterikatan yang lain adalah keterikatan terhadap seseorang. Kecendrungan manusia adalah terikat pada orang-orang disekitarnya. Jadi bagaimana agar kita tidak terikat pada seseorang? Dalam celestine prophercy caranya adalah dengan menghindari pandangan pertama. Hal itu mungkin jawaban dalam wilayah yang lebih tinggi. Mungkin James Resfield meninjau dari segi berbeda, tetapi menurut penulis , pandangan pertama merupakan pelunasan karma. Mungkin menurut James Redfield ketagihan yakni menomerduakan Tuhan.

Jadi dalam berhubungan dengan orang lain kita harus selalu sadar dalam berhubungan.

Bagaimana kalau sudah terlanjur terikat kepada seseorang/sesuatau?

Disini ada point penting yakni jangan pernah melawan keinginan. Jika melawan akan terwujud dalam bentuk lain (misalnya mimpi atau alam bawah sadar). Sebaiknya ikuti tetapi dengan sadar sehingga karma yang berhubungan mungkin habis/hilang.

Sebenarnya masih ada lagi dua keterikatan yang lain (merupakan kunci seluruh keterikatan) yakni keterikatan terhadap diri sendiri dan keterikatan terhadap Tuhan. Keterikatan terhadap diri sendiri merupakan keterikatan yang paling berbahaya. Contoh dari keterikatan diri ini adalah ketika lagi jalan dan ada yang memanggil nama kita lalu kita menaggapinya. Jadi kita mengidentifikasi nama kita sebagai tubuh (identifikasi tubuh) dan seluruh anggotanya.

Keterikatan terhadap Tuhan merupakan jenis keterikatan yang paling baik, karena keterikatan kepada Tuhan menyebabkan keterikatan lainnya secara otomatis hilang. Dalam manifestasinya tiada awal tiada akhir. Cara mencapai keterikatan terhadap Tuhan adalah kepasrahan total terhadap apa yang akan terjadi tanpa keterikatan yang lain.

Nah, jika sudah pasrah lalu bagaimana? Apakah tidur saja? Atau ada yang lain lagi? Lalu bagaimana?

Dari satsang terdahulu, maka disebutkan bahwa sebelum turun kedunia maka semua telah diplot jadi mungkin setiap kejadian telah ada pilihannya. Kita selalu tahu apa yang kita pilih, yang berarti pilihan keterikatan mana yang kita ambil. Misalanya apakah kita mau ke kampus atau tidak. Sebenarnya jalan sudah ada di depan mata, tinggal bagaimana kita menggunakan kebijaksanan. Jika kita terus-menerus sadar maka pilihan kita selalau benar.

Jika semua sudah diplot maka bagaimana dengan salah pilih?

Ada dua pandangan, misalnya kita ambil menurut islam, secara syariat ada yang namanya saalah pilih, namun secara marifat semuanya benar, tidak ada yang salah pilih.

kesimpulan

  • v Ada dua jenis keterikatan yakni terhadap sesuatu dan seseorang.
  • v Ada dua jenis keterikatan secara kasat mata yakni keterikatan terhadap diri sendiri dan Tuhan
  • v Keterikatan kepada Tuhan seperti terikat ke buldoser dan yang lain terikat kepada anjing dalam arah berlawanan.

2 Responses to “Keterikatan Universal”


  1. 1 wiwa Oktober 13, 2009 pukul 10:50 pm

    Awal yang bagus untuk menuju kesadaran yang lebih tinggi. Sesungguhnya secara spritual, kesadaran kita masih berputar ditempat yang sama, tidak ada peningkatan walaupun telah ribuan tahun berjalan. Kita masih melihat kesedihan yang sama, kekejaman yang sama, kebingungan yang sama, penderitaan yang sama, air mata yang sama dari manusia kini hingga bertahun, beratus… beribu tahun mundur. Secara fisik memang jauh berubah…sangat berubah… coba rasakan dilama batin ini, saat ini, bukankan getaran kekejaman, kepedihan,kebingungan yang sama yang ada. Pembunuhan antar manusia, ketamakan yang melahirkan kekerasan, manipulasi kemanusiaan…. tidak berubah sejak zaman cerita nabi Adam.
    Apakah demikian memang perjalanan hidup manusia berjalan?
    Rasanya tidak… sudah banyak manusia2 tersadarkan yang memberikan kita bimbingan dan contoh…sebut saja Isa al masih, Sang Budha, Muhammad. Namun masih saja kita terjerembab dalam pemahaman yang dogmatis….tak lagi dapat merasakan essensi pelajaran spiritual yang mereka sebarkan….

    Keterikatan….? ya ini satu hal yang membuat batin manusia tidak pernah tenteram. Apapun obyek yang diciptakan pikiran, walaupun berupa obyek luhur sekalipun… keterikatan yang demikian tetap menimbulkan kebingungan dan keresahan didalam batin.

    Apakah benar saat ini kita telah berhasil menciptakan keterikatan dengan Tuhan saat ini? Atau kita cuma menciptakan keterikatan dengan suatu gambaran akan suatu yang kita sebut tuhan yang diciptakan pikiran kita? Apakah sama Tuhan dengan gambaran mengenai tuhan?

    Mari sejenak kita melihat kedalam batin kita…. benarkah kita telah terhubung dengan Sang Maha Mutlak atau cuma gambarannya saja? Bukankah kita sejak dulu cuma menciptakan gambaran2 tentang Dia melalui macam2 definisi dan sifat2? Bagi saya nampak sekali bahwa memang demikian adanya?

    Apakah Tuhan adalah sesuatu yang harus kita kenali dalam pikiran…sehingga kita perlu untuk mempersonifikasikan Dia? Apakah mampu? Apakah Tuhan adalah sesuatu?

    Keterikatan…. selalu lahir dari suatu pilihan. Pilihan selalu menciptakan keterikatan. Keterikatan membuat keterbatasan…keterbatasan melahirkan penderitaan. Kita selalu ingin memilih untuk senang, dan menolak kesusahan. Selalu mencari yang enak, menjauhi yang tidak enak, ….kemdian selalu membagi-bagi sesuatu dengan yang baik dan buruk.

    Bukankah susah dan senang, baik-buruk, enak-tidak enak adalah dua sisi mata uang? Kalau yang baik tidak datang, tentu yang buruk akan datang. Kalau demukian adanya, adakah pililhan bagi kita?… karena dunia memang demikian…. dunia memang terbatas…

    Kalau saja kita mampu memandang baik dan buruk sebagai suatu kesatuan….bukankah artinya kita tidak melakukan pilihan. Kita tidak lagi memillih, memisahkan dan membandingkan. Kita selalu hanya memandang yang datang dan pergi. Kita melaluinya detik demi detik, menjalani kehidupannya. Maka, kita berada dititik nol … keikhlasan mutlak…

    Jika demikian konsistennya berada dititik nol…. batin akan tersadarkan dan sangat peka dan aktif.
    Disanalah getaran Sang Ilahi berresonansi….tak ada lagi yang lebih indah dari hal itu …..

  2. 2 cah angon Desember 5, 2009 pukul 2:09 am

    Setuju dengan uraian mas wiwa,memang manusia yang sudah tercerahkan,dan merasakan kesadaran tertinggi,menjadi nol artinya kosong.Manusia yang sudah mencapai tingkatan ini sudah tidak ada lagi beda antara susah senang,pahit manis,hitam putih,semua sudah melebur menjadi satu kesatuan.Karena semua perbedaan-perbedaan itu hanya persepsi akal pikiran saja yang dibantu melalui panca indra manusia.Karena sejatinya segala sesuatu itu berasal dari yang satu.Kalau manusia sudah bisa melebur diri ( dalam konsep timur tengah “fana” ),sudah tidak ada lagi persepsi perbedaan.Kesemuanya sudah lebur menjadi satu kesatuan.Kalau sudah menjadi satu,lalu apalagi yamg akan dipilih,apakah masih ada pilihan? Namun sangatlah panjang perjalanan menuju ke makom yang satu ini.Selamat menempuh perjalanan menuju kepada yang satu,yang kekal abadi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Juni 2007
S S R K J S M
    Jul »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: