Terima Kasih Itu Mukjijat

 

“Alhamdulillah” terucap dari seorang bapak penjual sarbet ketika berhasil mengejar mikrolet yang hampir meninggalkannya. Saya yang sedang duduk terkantuk kantuk di pojok, sepulang dari lembur yang sangat melelahkan, tiba tiba serasa di siram air yang sangat menyejukkan di tengah panasnya gurun. Ku lihat senyum bahagia dan ketulusan dari bapak penjual sarbet tersebut, dan bagi saya itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat indah, di antara kegersangan gurun Jakarta ini. Tampaknya memang selama ini sudah jarang kulihat ucapan terima kasih kepada Tuhan, terutama dari diri sendiri, yang benar benar keluar dari hati yang tulus. Bukan hanya sekedar basa basi agar terlihat seperti orang yang bersyukur.

Dan saat itu , di mana saya sudah sangat lelah lahir dan batin, seakan mendapat suatu kesegaran baru. Dan sayapun tersenyum sepenuh hati, dan ikut mengucapkan rasa terima kasih kepadaNya . Yah, tampaknya saya di ingatkan dengan cara yang sangat indah untuk berterimakasih atas segala yang saya alami dalam hidup ini. Baik itu menyenangkan atau menyedihkan, sebab toh tanpa kesedihan saya tidak tahu apa itu kesenangan bukan? Semua itu memang anugerah.

Yup sebuah pembuktian lagi bahwa mukjijat itu memang ada dan Tuhan memang ora sare. PesanNya bisa lewat siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Syukur alhamdulillah, puji Tuhan semesta alam, namaste, om shanti shanti om, salom, dan kunikmati pesan lewat ketulusan yang indah tiada taranya di sebuah mikrolet di sibuknya kota Jakarta.

Dan ketika saya merenungkan lagi ucapan bapak penjual sarbet tersebut sambil menulis artikel ini, saya meraksakan bahwa ucapan terimakasih tersebut setara keindahanya dengan ucapan syukur st. fransiskus asisi. :mrgreen:

43 Responses to “Terima Kasih Itu Mukjijat”


  1. 1 almas Agustus 24, 2007 pukul 2:41 am

    yeah pertamax jam pagi

  2. 2 almas Agustus 24, 2007 pukul 2:47 am

    wew… kesejukan dari si tukang serbet..๐Ÿ™‚

    Saya yang sedang duduk terkantuk kantuk di pojok, sepulang dari lembur yang sangat melelahkan, tiba tiba serasa di siram air yang sangat menyejukkan di tengah panasnya gurun

    ga bisa dibayangkan.. kadangkala kita hampir lupa dengan ucapan2 tulus ya.. sehingga dengan satu kejadian saja kita bisa merasakan kesejukan yg teramat dalam…
    hmmm saya jadi berpikir aneh.. apakah teori2 agama dan dakwah2 dari bapak2 yang pintar tentang agama sudah demikian sekarat sampai tidak bisa membuat kita tersentuh dan merasakan kesejukan tentang makna agama…. kayaknya kita hampir muak dengan wahyu yg disemprotkan oleh “mereka” sampai kita tidak lagi merasakan kesejukan itu.. dan kadang hanya dari orang2 yang tulus mengucapkan kata2 itu kita bisa mendapat siraman rohani yg bener2..
    nice posting bro… :mrgreen:

  3. 3 almas Agustus 24, 2007 pukul 2:49 am

    kok pikiran aneh ya…. wah jangan2 malah debat lagi nih๐Ÿ™‚

  4. 4 watonist Agustus 24, 2007 pukul 9:17 am

    menembus batas … ya, itulah …๐Ÿ˜€

  5. 5 danalingga Agustus 24, 2007 pukul 8:19 pm

    @almas

    beragama itu memang di lihat dari tingkah laku, bukan hanya kata kata. Nggak heran jika si tukang sarbet lebih memberi kesejukan daripada para pemuka agama yang sibuk berkhotbah sampai mulut berbuih.๐Ÿ˜€

    @watonist

    menembus batas ruang dan waktu maksudnya?

  6. 6 Ai Agustus 25, 2007 pukul 2:00 am

    Nah mas..
    Masih banyak kan hal-hal sederhana, yang punya makna yg ga sederhana untuk dibahas?

    ^^b

  7. 7 joyo Agustus 25, 2007 pukul 2:40 am

    absen dulu, tumben masuk 10 besar

  8. 8 danalingga Agustus 25, 2007 pukul 9:49 am

    @Ai

    Semua hal yang perlu di bahas tentunya di bahas. Ndak membedakan yang sederhana atau yang rumit. Toh sederhana dan rumit itu kan relatif juga.๐Ÿ˜€

    @joyo

    lah mang biasanya masuk tiga bersar ya?๐Ÿ˜†

  9. 9 Rizma Agustus 25, 2007 pukul 11:32 am

    sayangnya suka lupa bersyukur sih ya,, seolah olah kita bener bener deserve buat itu,,
    *btw, Ma baru balik ngeblog lagi nih,, :P*

  10. 10 danalingga Agustus 25, 2007 pukul 11:49 am

    deserve buat apa nih?

    *wah, ospeknya dah selesai toh?*

  11. 11 watonist Agustus 25, 2007 pukul 5:45 pm

    @danalingga
    bukan …. menembus batas imajinasi๐Ÿ˜€

  12. 12 danalingga Agustus 25, 2007 pukul 7:05 pm

    oh itu toh maksudnya. Yup, ini memang kisah di dunia nyata.๐Ÿ˜€

  13. 13 abah dedhot Agustus 25, 2007 pukul 10:10 pm

    Terima kasih itu mukjijat… Mujizat itu “Memuji kepada Dzat”.
    Dzat yang Maha Suci.
    Dzat yang meliputi sifatNya.
    Dzat yang menyertai namaNYA.
    Dzat yang menandai perbuatanNYA…

    salam…

  14. 14 adah dedhot Agustus 26, 2007 pukul 8:36 am

    “kemanapun mas dana berpaling… disitulah wajahNYA”…
    wuih…. muantab.

  15. 15 danalingga Agustus 26, 2007 pukul 10:08 am

    Wah boleh juga tuh abah.๐Ÿ˜€

    Mujizat itu ternyata memuji kepada Dzat, yang berarti harusnya memang di lakukan tiap helaan nafas. Dan jika sudah begitu maka di mana mana memang wajahNya.

    Mantap kali ini abah.:mrgreen:

  16. 16 mataharicinta Agustus 26, 2007 pukul 11:55 am

    “kemanapun kamu berpaling…disitulah wajahNya”

    ini kalimat yang paling bikin neng merinding waktu ikut pelatihan ESQ pas kuliah semester awal. bener2 sentakan yang menyadarkan bahwa kita memang gak lepas dari pengawasan sang Maha Agung.

    balik lagi ke ‘terima kasih’
    sehubungan dengan kata ini, temen deket neng dulu pernah bilang, kalo memang kita best friend, kita gak boleh bilang maaf ato terima kasih.
    selama sampai akhir masa sma neng pegang kata2 itu. tapi pas masuk kuliah, neng jadi sadar, bahwa kata2 terima kasih yang cuma dua kata itu bisa menghadirkan sebuah miracle, even cuma sejenak. minimal kita bisa melihat senyum dari orang yang padanya kita ucapkan terima kasih itu.

    jadi kalo manusia aja bisa tersentuh dengan ucapan terima kasih kita, apatah lagi pencipta kita yang udah begitu baiknya memberikan kita kehidupan di bumi ini.

    *kok jadi mirip curhat gini siy*

  17. 17 abah dedhot Agustus 26, 2007 pukul 3:05 pm

    โ€œkemanapun kamu berpalingโ€ฆdisitulah wajahNyaโ€
    … adalah peristiwa “melihat sang PENGLIHATAN”…

    terima kasih…
    abah pernah ngasih duit gope’an sama pengemis, dilampu merah rawamangun, setelah duinya dikantongin pengemis itu langsung aja ngeloyor pergi, ngga ngomong apa-apa. terus abah ledekin dia, abah ngomong “terima kasih…” dengan suara agak keras… maksudnya supaya dia denger. Dan ternyata memang dia denger, dia balik badan… matanya menatap mata abah sambil ngeludah..”PUIIH..”. terus dia balik badan lagi dan langsung ngeloyor pergi…

    waduh… dalam sekejap tanggal sudah sang “diri”… langsung MERDEKA…! inilah yang dicari… peristiwa yang muantab… beu.
    …he.. he… ngaco.
    salam.

  18. 18 danalingga Agustus 26, 2007 pukul 3:46 pm

    @matahari cinta

    untuk pencipta rasa terimakasih itu memang seharusnya mengalir dalam aliran darah ini.๐Ÿ˜€

    @abah dhedot

    kekekekek……. menanggalkan ego ya bah? Puih!!!๐Ÿ˜†

  19. 19 zal Agustus 26, 2007 pukul 4:28 pm

    :: sewaktu nonton mamamia show pada salah satu teve, ada seorang ibu pingsan sewaktu anaknya diumumkan masuk final,…wuiiih segitunya ngucapin terima kasihnya…๐Ÿ˜†

  20. 20 Mrs. Neo Forty-Nine Agustus 26, 2007 pukul 11:35 pm

    Alhamdulillah…
    akhirnya Dana bisa merasakan rasa itu juga…

    *sok bijak ON*

    tidakkah kau tersentuh dengan ini Dan?
    ๐Ÿ˜€

  21. 21 fertobhades Agustus 27, 2007 pukul 12:50 am

    ehm, ada apa ini kok jadi bijak ? *beda banget dengan God Bless Facism”๐Ÿ˜‰

    Terimakasih itu memang mujizat, hidup juga mujizat. Dan terimakasih (bersyukur) atas hidup yang diberi adalah mujizat yang luar biasa.

    *lagi bijak juga nih*๐Ÿ™‚

  22. 22 watonist Agustus 27, 2007 pukul 8:49 am

    @abah

    waduhโ€ฆ dalam sekejap tanggal sudah sang โ€œdiriโ€โ€ฆ langsung MERDEKAโ€ฆ! inilah yang dicariโ€ฆ peristiwa yang muantabโ€ฆ beu.

    wah … Tuhan negur kita emang macem-macem caranya, seolah-olah Dia ngomong, “kalau ngarepin balesan … jangan dari yang lain, ndak pasti …, dari Aku aja, dijamin patent”๐Ÿ˜€

    kalau saya sendiri dibegituin belum tentu langsung mampu ngambil maknanya bah … bisa-bisa malah makin tebel tembok penjaranya๐Ÿ˜†

  23. 23 erander Agustus 27, 2007 pukul 10:08 am

    Alhamdulillah .. saya masih diberikan kesempatan-Nya untuk berkunjung ke blog-nya mas Dana. Seperti dibimbing-Nya untuk menuju kemari. Memang .. rasanya makin lama jarang mendengar ucapan tersebut. Baik oleh diri saya sendiri maupun orang lain. Saya diingatkan kembali – melalui postingan ini – untuk selalu mengucapkan alhamdulillah.

  24. 24 aibnu Agustus 27, 2007 pukul 4:55 pm

    Al Mukminun 110-111 : ” Tetapi kamu jadikan mereka (mukmin) bahan olok-olokkan, sehingga kamu lupa….waktu kamu mentertawakan mereka….Sesungguhnya mereka itu orang yang menang “

  25. 25 danalingga Agustus 27, 2007 pukul 6:28 pm

    @nyonya 049

    yup, alhamdulillah.๐Ÿ˜€

    tidakkah kau tersentuh dengan ini Dan?
    ๐Ÿ˜€

    perasaan belon ada yang nyentuh deh?๐Ÿ˜›

    @ferthobades

    Nggak ada afa afa kok. Cuma lagi pengen mengajak bersyukur aja. Yang fasis itu juga bijak kok, cuma dengan cara berbeda.๐Ÿ˜€

    *selamat berbijak ria*

    @erander

    semoga kita semua bisa selalu bersyukur dengan tulus.๐Ÿ˜€

    @aibnu

    hem, hubungannya apa ya?๐Ÿ˜•

  26. 26 zal Agustus 27, 2007 pukul 6:30 pm

    ::Dan, aku koq no reken rek…

  27. 27 danalingga Agustus 27, 2007 pukul 6:54 pm

    *scroll up*

    waduh maksudnya komen yang kelewatan atau gimana nih zal?๐Ÿ˜€

    :: sewaktu nonton mamamia show pada salah satu teve, ada seorang ibu pingsan sewaktu anaknya diumumkan masuk final,โ€ฆwuiiih segitunya ngucapin terima kasihnyaโ€ฆ๐Ÿ˜†

    Itu mo ngucapin terima kasih apa karena terlalu senang.๐Ÿ˜†

    maaf zal, kelewat itu manusiawi toh.๐Ÿ˜€

  28. 28 jejakpena Agustus 28, 2007 pukul 9:40 am

    Iya, kadang kita sering melewatkannya tanpa sadar ya. *jadi diingatkan lagi*

    Pernah dengar, katanya orang yang tidak bisa berterima kasih pada hal yang kecil akan tidak pernah bisa berterima kasih pada hal yang besar. ๐Ÿ™‚

  29. 29 abah dedhot Agustus 28, 2007 pukul 11:05 am

    @mas watonist
    …pada awalnya gejolak amarah membara meledak tak tertahankan… membakar segala tanpa tersisa… bahkan api amarah pun “terbakar”… sirna.
    proses mah selalu ada… (untuk memancarka sifat ILMU NYA), yang beragam adalah kecepatan hantarannya… Alhamdulillah abah kebagian yang kilat hantarannya…

    @bang ferthobades…
    anda sangat RUAAAR BIASA…!!! mantap pisan.
    mensyukuri nikmat “HIDUP”…
    itu yang jarang abah dengar, sering terlewati / tidak terpahami oleh orang banyak…
    yang hanya tersentuh oleh nikmat IMAN, nikmat SEHAT, nikmat KEHIDUPAN…dsb.
    karena TANPA adanya HIDUP… segala nikmat MUSTAHIL adanya…
    Bahkan St. Fransiskus Asisi pun tidak menyadarinya…
    ck… ck… ck…

    @mas dana
    mas zal itu memang sudah kelewatan / melewati ke manusia annya…
    cuma suka kura-kura tidak tau… pura-pura diatas perahu, padahal sudah nyebur, tenggelam ke dasar samudera… he.. he… he…
    si ibu yang pingsan itu juga, tanpa disadarinya, menikmati sesuatu yang melewati kapasitas dirinya…. laksana peristiwa Musa as. di atas bukit sinai.

    salam

  30. 30 danalingga Agustus 28, 2007 pukul 11:16 am

    @jepe

    seperti kata bang fertob yang di perkuat oleh Abah, bahwa hidup ini sendiri sudah mukjijat. Jadi seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur toh?:mrgreen:

    @abah dhedhot

    iya tuh, kok banyak yang suka jadi kura kura ya? *bercermin*

    Wah, si Ibu benar benar beruntung jika begitu bah.๐Ÿ˜‰

  31. 31 abah dedhot Agustus 28, 2007 pukul 11:30 am

    si Ibu benar benar beruntung … cuma ngga ELING… kalo Musa as. ELING… “CUMA” itu saja kok BEDAnya…
    “CUMA”… he… he… (padahal jauuuuaaah banget…)

    salam

  32. 32 abah dedhot Agustus 28, 2007 pukul 11:47 am

    mensyukuri nikmat HIDUP… itulah yang UTAMA,
    suatu “pekerjaan” BESAR yang BERAT.

  33. 33 zal Agustus 28, 2007 pukul 12:29 pm

    ::::mrgreen: nah gitulah, baru adil namanya…yg nyambung dan ngga nyambung di jamu bersama…๐Ÿ˜† kan sifat Kerachmanrohiman….
    euh, Bah, biasanya memang baik Terimakasih yg terucap, ataupun pingsan, sama yah… bisa lantaran adanya harapan….., pointernya ada pada eling atau tidak, eling berarti tidak lalai menangkap kebenaran janjiNYA…. mantafff…
    jadi apa sebenarnya yang hendak dicapai ya Bah…, Dana…., sering direnungkan pada pandangan khayal pertanyaanku…apa sebenarnya makna tujuan dari penyaksian ini, jika kemudian diperbincangkan hanya mendatangkan keadaan “FIQIH” versi 1 dst…, lalu kata “saya” kepadaku….tidakkah kau rasakan perubahan pada diriku…???..dimana kegundahanku yang dahulu selalu nggelayutimu, tanpa ada jalan yang terang yang memberi jawaban…. dan aku hanya berujar…ooOOOO….gitu… itulah ungkapan terima kasihku… dasar aku tolol engga pandai mengucapkan terima kasih…koq cuma bisanya…oooooOOOOOOOOOOOOOOO… panjang banget…๐Ÿ™„

  34. 34 danalingga Agustus 28, 2007 pukul 1:37 pm

    @abah

    ndak eling, apa pura pura nggak eling tuh abah?๐Ÿ˜†

    Jika kerna hidup sudah kita sukuri selanjutnya apa donk bah?

    @zal
    Namanya juga manusia zal.:mrgreen:
    Kalo seharusnya sih bukan hanya di perbincangkan zal, tapi di lakoni. Semoga dengan memperbincangkan terlebih dahulu, maka ada keingingan untuk melakoninya.

    Oooooooooommmmmmmmm lah jadinya.๐Ÿ˜€

  35. 35 zal Agustus 28, 2007 pukul 1:57 pm

    Ooooooooommmmm….??? hei .itu pornografi…tauk…!!! he..he..๐Ÿ˜†

  36. 36 abah dedhot Agustus 28, 2007 pukul 2:07 pm

    bukan Oooooooooommmmmmmm tapi menjadi oooooooOOOOOOOOOyeeeaah…!
    Kesempurnaan Samudera ada pada gelombangnya.
    Kesempurnaan Khaliq ada pada MakhluqNya.
    Tidak syah mengaku Khaliq, kalo ngga ada makhluqNYA.
    Manunggal, tak terpisahkan.
    Kesempurnaan HIDUP ada pada KEHIDUPAN.
    next step… “pecahkan CERMIN”, supaya HIDUP lebih HIDUP di kehidupan.
    jadi ooooooOOOOOOOOOOOYEEEAAH….!!!
    *nulisnya guampang banget… ngelakoninnya, uaaampuuuun…*

    salam

  37. 37 deKing Agustus 28, 2007 pukul 4:22 pm

    Syukur dan terima kasih…

    Rasa (dan makna) luar biasa di balik kemasan yang terlihat biasa

  38. 38 danalingga Agustus 28, 2007 pukul 6:35 pm

    @zal

    porno tergantung dari sudut mana kita memandang.๐Ÿ˜›

    @abah

    hem … lagi mabok juga nih bah?๐Ÿ˜†

    @Pak De King

    dan alangkah lebih luar biasanya lagi ketika yang ada cuma rasa syukur.๐Ÿ˜€

  39. 39 zal Agustus 28, 2007 pukul 7:03 pm

    :: eh iya…kalau engga porno ya ngga jadi yah… kek..kek…kekeh…:mrgreen:

  40. 41 dokterpenulis September 3, 2007 pukul 7:32 am

    rasa syukur. mungkin hanya itu yang sebenarnya kita butuhkan agar tetap bahagia. salam kenal mas..

  41. 42 danalingga September 3, 2007 pukul 3:22 pm

    yah, begitu kira kira. Salam kenal juga.๐Ÿ˜€


  1. 1 Lowongan Tuhan « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada September 16, 2007 pukul 6:59 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: