Gender, Agama, Budaya , dan Evolusi

 

“Dasar , kok bisa ya dia yang di angkat jadi supervisor, kamu kan lebih berpengalaman, lebih senior, lebih pinter, dan dia itu kan cewek ” dumelan salah satu temanku kepada temen yang satu lagi yang merasa di langkahi dalam kenaikan jabatan. Sebenarnya sih saya juga mendukung seharusnya temen ini yang di angkat jadi supervisor, karena memang sudah sangat memenuhi syarat. Di banding dengan mahluk manis yang masih ijo itu, setidaknya kalo dari segi kemampuan kuakui temen ini memang lebih mumpuni. Nah tapi yang tidak saya setuju tentang alasan yang mengatakan bahwa dia kan cewek? Please deh mang apa masalah perempuan ama laki laki dalam hal ini, saya kira tidak ada hubungannya bukan?

Dan sepotong kalimat tersebut menyadarkan saya bahwa masalah gender masih ada di sekitar kita, bahkan dalam kehidupan yang katanya modern ini. Streotip perempuan seharusnya di belakang laki laki masih mengakar.

Sayapun jadi bertanya tanya kok sampe segitu susahnya ya menilai seseorang itu tanpa embel embel dia itu kan perempuan atau dia itu kan laki laki? Mendingan kan menilai dari kemampuan aja, lebih fair. Tapi misteri ini sedikit terkuak ketika saya mengikuti diskusi debat kusir di sini . Ternyata pemahaman akan agama turut menyumbang juga, kalau tidak mau di bilang sebagai penyumbang terbesar terhadap pola pikir bias gender tersebut. Coba aja liat salah satu kutipan yang saya ambil dari komen di diskusi tersebut :

Literal atau tidak itu ketentuan dalam ISLAM ma, kadang gw juga mikir apa Tuhan itu literal yaaa koq ga kirim nabi dari jenis perempuan hihihihi

Ada saja memang orang orang yang berpendapat bahwa hal di atas berarti bahwa Tuhan telah meninggikan derajat kaum laki laki di bandingkan dengan derajat kaum perempuan. Jadi mungkin dianggap sudah sunatullah kalo perempuan itu hanya sebagai pelengkap saja. *geleng geleng*

Padahal kalo kita mau sedikit berpikir jernih, bukankah memang hal ini di sebabkan karena situasi budaya umat saat nabi tersebut di utus. Kita ambil contoh aja agama Islam yang turun di arab saat Nabi Muhammad menjadi utusan , betapa memang perempuan tidak dianggap sama sekali sepertinya sampai sekarang juga demikian. Wong jika melahirkan anak perempuan bisa langsung di kubur bukan? Nah coba bayangkan jika nabi yang di kirim itu perempuan, ya ndak bakal di dengerin. Bisa bisa malah langsung di kubur hidup hidup. Jadi hal tersebut bukan berarti Tuhan meninggikan laki laki di banding perempuan, tapi memang itulah yang paling tepat dan efisien saat itu.

Dan dari sisi yang lebih luas ternyata agama yahudi, Kristen dan Islam yang serumpun, ternyata mempunyai kemiripan. Di mana sepertinya hanya laki laki yang layak jadi utusan. Apa memang dikarenakan lelaki lebih tinggi derajatnya? Nah setelah merenung lagi, akhirnya saya sadari bahwa ke tiga agama besar itu memang turun di budaya yang meninggikan laki laki. Jadi lagi lagi demi alasan tepat dan efisien, makanya utusanNya ya laki laki. Jadi bukan karena laki laki lebih tinggi derajatnya di banding perempuan.

Nah kemudian ada pertanyaan lagi nih, heh dasar nih otak kok nanya muluw yak?.:mrgreen:

Hem… bukankah Tuhan itu maha segalanya, lantas ketika Dia menghendaki seorang wanita menjadi utusan, walau di tempat yang berbudaya meninggikan laki laki, tentu Tuhan akan sanggup membuat si wanita di terima bukan? Nah loh …

Dan sayapun merenung lebih keras lagi untuk mengetahui jawabannya. Dan….. akhirnya secercah inspirasi menghampiri, seperti ada yang menyuruh saya untuk menghubungkan dengan teori evolusi yang sedang rame di bicarakan di sini , sini , sini , dan sini .

Secara garis besar yang saya tangkap dari para “pembela” teori evolusi tersebut bahwa Tuhan itu ternyata ndak senang bermain sulap alias kun faya kun langsung deh jadi dengan sempurna. Tampaknya Tuhan memang lebih senang membiarkan agar mahluknya dapat berevolusi dengan alamiah, sehingga masing masing dapat semakin menikmati keindahan sandiwara yang di lakoninya. Dalam konteks ini evolusi berlaku di segala bidang , termasuk budaya. Nah begitu juga dengan di turunkannya utusan yang di sesuaikan dengan budaya setempat, yakni di turunkannya utusan yang berjenis kelamain laki laki. Toh dalam hubungannya dengan masalah gender ini, para nabi yang laki laki itu akhirnya semakin memperbaiki harkat dan martabat wanita di banding sebelum adanya si utusan. Dan peningkatannya melalui evolusi bukan revolusi, jadi bertahap , bukan bleg langsung jadi. Eh, apa itu karena Tuhan kurang menikmati jika melalui revolusi ya?😆

Namun sebenarnya yang bikin hingga menjadi bias gender adalah ketika ada orang orang yang menggangap proses evolusi perbaikan itu , dalam konteks artikel ini adalah perbaikan harkat dan martabat wanita, telah berhenti ketika si Nabi mati. Apalagi di anggap bahwa nabi sudah tidak turun lagi, jadinya proses evolusi tersebut dianggap benar benar berhenti. Jadi ajaran para nabi itu dianggap udah saklek, gitu aja ndak bisa berkembang lagi.Dan lebih repotnya lagi , banyak orang yang mengambil ajaran dari para nabi secara literal, dan khususnya mengenai masalah gender ini, banyak yang tidak menyadari makna dari evolusi peningkatan harkat wanita yang diusung para nabi di dalamnya. Jadilah wanita tetap menjadi kelas dua, dan hanya sebagai pelengkap dan pelayan bagi laki laki. Pokoknya di larang memimpin deh. Padahal kalo dari pemahaman saya , bahwa para nabi itu adalah peletak dasar perubahan ini, dan seharusnya kita tetap melanjutkan evolusi yang di bawa nabi tersebut. Sehingga tercapai kondisi yang di cita citakan oleh para nabi tersebut, jangan pernah berhenti ber evolusi, walau anda mengganggap sudah tidak ada lagi nabi.

Kesimpulan saya bahwa masalah gender ini lebih kepada masalah pemahaman kita terhadap bagaimana pemaknaan terhadap perbaikan yang dulu di usahakan nabi terhadap umatnya. Dan bagi saya pribadi sih, apa yang di lakukan nabi dulu tidak akan berhenti ketika si nabi telah tiada, tapi ajarannya adalah sebuah pemicu budaya manusia berevolusi ke arah yang lebih baik lagi. Termasuk juga tentang masalah gender ini.:mrgreen:

Dan untuk lebih meyakinkan para pembaca bahwa memang masalahnya terletak pada pemahaman, akan saya kasih contoh satu lagi . Contoh tersebut adalah kisah adam dan hawa dimana juga bisa jadi inspirasi untuk semakin menyakinkan kalo wanita itu memang manusia kelas 2. Padahal jika saja kita lebih memahami makna kisah tersebut, tentu tidak akan timbul kesimpulan yang demikian. Ndak usah mengerti maknanya juga bisa sih, tapi cukup anda kaitkan bahwa kisah tersebut di ceritakan kepada umat yang lagi lagi berbudaya meninggikan laki laki. Maka seharusnya semua menjadi jelas bukan?

Tapi apa boleh punya pemahaman sendiri yang beda dengan para pemuka agama itu ya? Alih alih malah entar dihujat karena menafsirkan ayat seenak udel. Padahal nafsirin ya nggak pake udellah, tetep pake akal seperti juga para ahli tafsir itu. 😆

47 Responses to “Gender, Agama, Budaya , dan Evolusi”


  1. 1 deKing van deDreef September 3, 2007 pukul 1:45 pm

    Sayapun jadi bertanya tanya kok sampe segitu susahnya ya menilai seseorang itu tanpa embel embel dia itu kan perempuan atau dia itu kan laki laki? Mendingan kan menilai dari kemampuan aja, lebih fair.

    Makanya…buruan jadi anonim semua tapi anonim sepenuhnya ya, termasuk genderless:mrgreen:

  2. 2 Kopral Geddoe September 3, 2007 pukul 1:59 pm

    Kalau saran saya sih pertama-tama pakai kitab suci yang built-in di kepala dulu, baru merujuk ke kitab-kitab *yang dianggap* suci itu. Jadi ya ndak bertabrakan antara akal sehat, hati nurani, dan hukum-hukum agama.:mrgreen:

  3. 3 danalingga September 3, 2007 pukul 4:46 pm

    @ Pak De King

    kekekeke, jadinya biar tak berbentuk tapi berbau ya pak?😆

    @kopral

    ah kopral, sarannya susyah di laksanakan. Mendingan saya percaya aja hasil mikir para pemuka agama itu, jadinya otak saya tidak perlu bekerja keras. 😆

  4. 4 Catshade September 3, 2007 pukul 6:51 pm

    @Geddoe:

    Ah, itu artinya ente jadi menuhankan akal dong. Prosedur yang bener ya merujuk ke kitab suci dulu, baru akal mengikuti. Nah, itu baru namanya menuhankan kit*uhukuhukuhuk*, maaf batuk, maksud saya monomorsatukan Tuhan😀

  5. 5 Kopral Geddoe September 3, 2007 pukul 7:16 pm

    Soale agama saya belum ada kitab sucinya, sih.😦

  6. 6 k* tutur September 3, 2007 pukul 7:54 pm

    Jadilah wanita tetap menjadi kelas dua, dan hanya sebagai pelengkap dan pelayan bagi laki laki.

    Siapa bilang wanita kelas dua? Tanpa wanita (Ibu) yang mengajarkan kita dan tanpa wanita (Isteri) yang mendampingi kita dst… adalah suatu bukti bahwa Wanita bukan kelas dua!

  7. 7 tiar September 3, 2007 pukul 8:02 pm

    ehehe kok tulisanya bolg smua ?

  8. 8 danalingga September 3, 2007 pukul 8:09 pm

    @Catshade

    itulah, makanya tolong si kopral ini dinasehati.😀

    @Kopral

    Jangan sampai pake kitab suci pral, entar malah kitabnya yang di Tuhankan.

    @ K* tutur

    itu bener sih, tapi tetep aja utusanNya hanya laki laki tuh. Dan yang poligami juga hanya laki laki. Dan yang boleh mimpin juga hanya laki laki. Bahkan Tuhan itu ternyata laki laki. Dan banyak lagi sih.😆

    Entah siapa yang mengatakan itu semua, yang pasti pernah kudengar.

    @ Tiar

    itu emang jadi ciri khas di blog ini.😀

  9. 10 Rizma September 3, 2007 pukul 9:05 pm

    Kalo dipikir pikir lagi, wajar sih ya,,😦

    Kalo udah nge-artiin semua hal literal aja, wajar punya pikiran kalo wanita itu warga kelas dua, dan lahir jadi wanita itu lebih ga beruntung,,

    Hmm,,
    dan makhluk apa yang terlahir dari warga kelas dua itu,,?
    makhluk apa yang jatuh cinta sama warga kelas dua itu?

    Masa seleranya rendah amat, naksir yang sama sama warga kelas satu dongg!!😆

  10. 11 Catshade September 3, 2007 pukul 9:43 pm

    Gw jadi inget joke ini:

    “Satu-satunya kondisi dimana wanita boleh lebih tinggi tingkatnya dari pria adalah ketika dapur berada di lantai 2.”😀

    @rizma:
    Hei, kamu perempuan! Jangan bicara ya kalau tidak diminta! Di sini obrolan para homo pria kelas satu! Sana, kembali ke dapur!

    *digiling rizma*

  11. 12 Kopral Geddoe September 3, 2007 pukul 10:03 pm

    Saya jadi teringat, di PhilosophersNet, Tuhan disebut dengan kata ganti she. And that is good. Sounds sexier. Because, now when I visualize a mean, hell-inventing God, I do not imagine Hitler anymore, but an S&M queen.😆

  12. 13 hoek September 3, 2007 pukul 11:08 pm

    SETUJUUUU!!!!

    contohnya : ada perusahaan yang ngirim karyawannya buat pelatihan di seminar tertentu. tetapi yang dikirim semuanya pria. kenapa bukan wanita?

    “buat apa ngluarin biaya buat mereka?ntar juga kalau mereka nikah dan punya anak, pasti juga out dari kantor inigh” (dari artikel yang ditulis sama pa’de bondan winarno, sang pendekar kuliner^^)

    tapi, ada juga kasus kaya gini : A = cowo, B = cewe, A dan B nglamar kerja, yang diterima si B, bukan karena skillnya, tapi karena takut ntar dikira genderisme…
    huff…

    menurut saia, dimensi kewanitaan sekarang ini yang cuma sampai terbatas tentang kewanitaan itu sendiri.

    contoh sederhana buat nambahin dimensi pergaulan antara wanita dan lelaki :
    (ni yang saia baca dari tulisannya Emha)

    kalau saia lagi ngobrol – misal – sama Aisyah, maka yang saia hadapi tuh bukan cuma Aisyah sebagai cewe, tetapi ya juga sebagai pribadi, bisa aja sebagai psikolog, tukang makan, dan fansnya w a d e h e l ADA band. NAH! bukankah semua itu engga genderis? ga ada unsur pejantan atau betina khan?

    sori, komennya panjang banget.

  13. 14 hoek September 3, 2007 pukul 11:15 pm

    emm…saia jadi pengen bkin postingan juga negh…
    btw, mkasih mas dana, dikau memberi saia inspirasi^^
    huehuehue…
    saia nge – link yak?
    bole dunk?
    bole ya?
    ya?

  14. 15 cK September 3, 2007 pukul 11:15 pm

    waduh…hari gini membicarakan tentang wanita? boss saya cewek! bagian keuangan cewek! marketing cewek! ampe reporter kebanyakan cewek! percaya ga? malah kantor saya sepi pria-pria ganteng…hiks😦 *kecewa*

    eh…komennya OOT ya?😀

    maap:mrgreen:

  15. 16 alex September 3, 2007 pukul 11:18 pm

    @ Kopral Geddoe

    itu sebabnya saya lebih suka nyebut Tuhan/God saja … Jadi imbang, gitu..🙄

  16. 17 erander September 3, 2007 pukul 11:34 pm

    Pastilah .. laki2 dan perempuan diciptakan-Nya ada maksudnya. Saling melengkapi bukan untuk saling berseteru. Saling mengisi agar dunia menjadi ramai. Laki2 itu fitrahnya melindungi perempuan. Tapi .. sejalan dengan evolusi, banyak wanita tertindas .. maka timbullah gerakan2 feminisme.

    Seandainya, kita kaum laki2 dapat menghargai perempuan sebagaimana kita (laki2) menghargai ibu kita. Kita (laki2) melindungi perempuan sebagaimana kita melindungi keluarga kita. Kita memimpin perempuan sebagaimana kita memimpin rumah tangga yang sakinah dan adil.

    Insya Allah .. perempuan akan merasa nyaman seandainya kita (laki2) dapat menghargai perempuan, melindungi perempuan dan memimpin perempuan dengan adil. Laki2 memang diberi previllage .. tapi bukan untuk menindas.

  17. 18 julfan September 3, 2007 pukul 11:42 pm

    harus berfikir jernih dalam hal ini. Sebaiknya kita bertanya dan belajar lagi.

  18. 19 hoek September 4, 2007 pukul 12:54 am

    @cK
    emang bener juga c, lha wong nyang shift pagi ampe siang di warnet saia juga cewe ko
    *Mode Ga Nyambung ON*
    eh, ko saia jadi ikotan OOT…

  19. 20 fertobhades September 4, 2007 pukul 1:42 am

    Konsep sifat feminin dari Tuhan sempat ada dalam agama (Islam, Katolik, dan Kristen, nggak tau kalau Yahudi), tapi konsep ini dengan cepat diberangus oleh para pemegang tunggal kedaulatan penafsiran *you know who…*😉 Bahkan seorang Paulo Coelho pernah menuliskannya dalam novelnya, lupa judulnya apa….

    Evolusi lain yang terpenting selain evolusi biologisnya Darwin adalah “Evolusi Pemikiran”, Epistemilogical and Onthological Evolution. Dan saya rasa, “Tuhan” sedang mengajari kita untuk memahami arti kedua evolusi itu.

    Lain lagi kalau saya baca buku-bukunya Erich Fromm, dkk (Mazhab Frankfurt), Karen Amstrong, dll. Kebanyakan mereka melihat ketidaksetaraan cowok-cewek dalam perspektif sejarah dan mythology. Dalam mitologi banyak bangsa-bangsa sebelum agama turun, kebanyakan perempuan diberi tempat yang tertinggi dalam strata sosial dan spiritual masyarakat. Ini bisa dilihat dalam konsep ibu bumi (mother earth), ibu pertiwi (mother land), dll. Perempuan adalah titisan “Tuhan” dengan segala kesucian dan kemuliaan yang dimilikinya.

    Tapi disitulah kemudian terjadi “pertempuran” antar gender. Laki-laki dan perempuan bertempur dalam konteks memperebutkan pengaruh dalam kehidupan, Salah satu simbolisasinya adalah Tiamat dan Marduk. Pemenangnya ? Sudah ketahuan kan….

    Tapi yang terpenting menurut saya, <b?Gender itu Konstruk Sosial. Tidak ada namanya makhluk kelas 2, kelas 3 atau makhluk tinggal kelas:mrgreen: Sementara dari sononya, manusia itu sama saja. apapun jenis kelaminnya. Beda banget dengan SEX as Jenis Kelamin, yang lebih bermakna biologis.

    *sorry Dan kalau jadi ngeblog*🙂
    *jadi terpikir untuk nulis juga*

  20. 21 salim September 4, 2007 pukul 8:23 am

    Komentar boleh-boleh aja, terutama ttg gender, tergantung pola pikir anda, bila anda dilatar belakangi oleh filsafat semata maka anda akan berbeda dengan orang yang memiliki pola pikir agama (Dien yang benar), Islam tidak mengatakan wanita nomor dua atau nomor satu, tetapi Alloh SWT, (maaf saya tidak mengatakan Tuhan karena artinya jauh berbeda dengan Alloh SWT), telah memberikan hak dan kewajiban kepada masing2 (wanita dan laki-laki) baik maslaha kepemimpinan, masalah waris dll,

  21. 22 Tito September 4, 2007 pukul 10:42 am

    Dulu segala pekerjaan lebih membutuhkan kekuatan fisik ketimbang sekarang.. karenanya pria bisa lebih dominan karena massa otot mereka yang melebihi perempuan membuat mereka sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan lebih baik ketimbang kaum hawa.

    tapi sekarang makin sedikit pekerjaan yg berorientasi fisik. malah makin banyak yg bisa diselesaikan di depan layar monitor… so today women can work as good as men…

    evolusi gak cuma soal kerjaan atau gender aja, budaya bahkan agama juga terus ber-evolusi… gak ada gunanya melawan perubahan.

    *ini nulisnya sambil ngerjain detline, jadi mohon maap kalo rada tulalit*

  22. 23 baliazura September 4, 2007 pukul 12:10 pm

    no comment..!!
    (aq baca dulu ya post nya)

  23. 24 Mrs. Neo Forty-Nine September 4, 2007 pukul 1:15 pm

    Gender itu Konstruk Sosial. Tidak ada namanya makhluk kelas 2, kelas 3 atau makhluk tinggal kelas Sementara dari sononya, manusia itu sama saja. apapun jenis kelaminnya. Beda banget dengan SEX as Jenis Kelamin, yang lebih bermakna biologis.

    setuju…jaman sekarang ini, nyaris semua yang dilakukan pria, bisa dilakukan sama wanita. Apa yang bisa dipikirkan pria, bisa dipikirkan wanita.Apa yang bisa diciptakan pria, bisa diciptakan wanita.

    memang, ada sdikit perbedaan perbandingan (katanya sih) antara perasaan dan logika.

    well, bagi saya, wanita atau pria itu yang berbeda hanyalah jenis kelaminnya aja.

    OOT ya?
    nggak deh keknya…

  24. 25 zal September 4, 2007 pukul 1:30 pm

    :::horeee…dana naik kelas…. memasuki alam praktik…
    :::gender wanita, atau Pria, dalam kefisikannya memang terlihat dari fisik telanjang dan mengurut sampai pembuktian bahwa tidak ada proses alih dengan operasi…..
    misalnya ada fisik Pria yang dioperasi menjadi wanita, mau disebut gendernya apa…???😆
    dan wanita, jika dia memposisikan sebagai lelaki dalam kelesbiannya mau disebut gendernya apa….????😆
    Jika kita upayakan membicarakan hal ini dalam bentuk praktik hidup, maka akan berpolemiklah orang-orang, padahal sudah banyak yang dipertontonkan bagaimana seorang yang secara fisik wanita namun menjadi pemimpin, contohnya saja , Ratu Balkis, di zamannya Nabi Sulaiman AS, Siti Aisyah, memimpin kaumnya setelah wafatnya Ullaha urrasyidin, di Inggris secara turun temurun dipimpin oleh seorang Ratu, bahkan PMnya yang sangat terkenal dengan sebutan “Wanita Besi”, termasuk juga Megawati…. apakah ini lantas bisa kita sebut “Praktik” evolusi atau revolusinya Tuhan….?????
    Menurut saya Bentuk yang ada adalah suatu sarana Tuhan untuk tergambarnya suatu sebab, sehingga “memudahkan fikiran” kita menjangkau suatu konsep yang lebih utama…
    Misalnya kefisikan laki – perempuan, salah satu fungsinnya adalah memperbanyak keturunan,
    jika hendak dipandang, apakah Tuhan tidak bisa mencipta tanpa proses hubungan intim, engga juga, sebab salah satunya saja Adam & Hawa…
    Jika kita melihat sosok feminin, maka kegemulaian, sering diindentikkan sebagai karakter wanita atau “kewanita-wanitaan” ini juga ada pada yang berfisik laki-laki,
    atau jika sosok . maskulin dipandang dari “kegagahperkasaan”, “kelaki-lakian” ini juga ada pada yang berfisik perempuan…

    jika cerita janji dalam surga ada 70.000 bidadari, lha bagian untuk wanitanya manaaa…

    Memang rasanya alam praktik, adalah alam yang sulit, suatu contoh saja, bisa jadi kita menyadari “Allah Maha Berkehendak”, lalu.praktiknya…???🙄

  25. 26 Joerig™ September 4, 2007 pukul 3:19 pm

    generalisasi kan udah membudaya banget …😦

  26. 27 danalingga September 4, 2007 pukul 6:12 pm

    @Rizma

    Sabar mbak … sabar .
    Saya sih yakin kok kalo maksud Tuhan itu bukan menjadikan dilahirkan menjadi wanita jadi sama nilainya dengan dilahirkan sebagai buta. Kalo bocoran dari Tuhan sih, dilahirkan sebagai wanita sama saja dilahirkan sebagai pria.😀

    @catshade

    untunglah itu hanya joke.😆

    @rizma:
    Hei, kamu perempuan! Jangan bicara ya kalau tidak diminta! Di sini obrolan para homo pria kelas satu! Sana, kembali ke dapur!

    *digiling rizma*

    kalo pria kelas satunya sih sepertinya benar, tapi homonya ? Ehem… saya masih normal nih.😆

    @kopral

    itulah jika Tuhan ternyata di paksa untuk mempunyai jenis kelamin juga.😀

    Tapi boleh juga tuh gambaran sebagai she, biar para cowok bisa lebih giat PDKT nya.😆

    @hoek

    Iya, saya sih setuju aja kalo ndak ada yang namanya gender dalam hal prestasi. Tapi ndak semua orang berpikiran gitu kan?

    ontoh sederhana buat nambahin dimensi pergaulan antara wanita dan lelaki :
    (ni yang saia baca dari tulisannya Emha)

    kalau saia lagi ngobrol – misal – sama Aisyah, maka yang saia hadapi tuh bukan cuma Aisyah sebagai cewe, tetapi ya juga sebagai pribadi, bisa aja sebagai psikolog, tukang makan, dan fansnya w a d e h e l ADA band. NAH! bukankah semua itu engga genderis? ga ada unsur pejantan atau betina khan?

    Saya kira malah keceweannya ndak terlalu ngaruh nih. Yang ngaruh justru dll nya itu.😀

    emm…saia jadi pengen bkin postingan juga negh…
    btw, mkasih mas dana, dikau memberi saia inspirasi^^
    huehuehue…
    saia nge – link yak?
    bole dunk?
    bole ya?
    ya?

    makasih kembali. Silahkan aja ngelink, ndak haram kok.😆

    @ck

    waduh…hari gini membicarakan tentang wanita? boss saya cewek! bagian keuangan cewek! marketing cewek! ampe reporter kebanyakan cewek! percaya ga?

    Yang dapat saya pastikan bahwa boss, bagian keungan, marketing, reporter itu memang punya kemampuan di bidangnya masing masing. Ndak ngaruh tuh dia cewek atau cowok. Begitu bukan mpok?😀

    malah kantor saya sepi pria-pria ganteng…hiks😦 *kecewa* )

    apa perlu saya pindah ke kantor mpok?😆

    h…komennya OOT ya?😀

    maap:mrgreen:

    ndak OOT kok mpok, jadi nggak perlu minta maaf.:mrgreen:

    @erander

    Pastilah .. laki2 dan perempuan diciptakan-Nya ada maksudnya. Saling melengkapi bukan untuk saling berseteru. Saling mengisi agar dunia menjadi ramai. Laki2 itu fitrahnya melindungi perempuan.

    Bukannya wanita di jajah pria sejah dulu ?😆

    Seandainya, kita kaum laki2 dapat menghargai perempuan sebagaimana kita (laki2) menghargai ibu kita. Kita (laki2) melindungi perempuan sebagaimana kita melindungi keluarga kita. Kita memimpin perempuan sebagaimana kita memimpin rumah tangga yang sakinah dan adil.

    Idealnya sih gitu dalam hal berumah tangga. Tapi lantas jika di bidang lain, apa wanita tidak layak jadi presiden, direktur, manajer, dikarenakan dianggap tidak berhak memimpin laki laki?

    Insya Allah .. perempuan akan merasa nyaman seandainya kita (laki2) dapat menghargai perempuan, melindungi perempuan dan memimpin perempuan dengan adil. Laki2 memang diberi previllage .. tapi bukan untuk menindas.

    previllage buat apaan nih? Apa buat selalu berada di atas wanita dalam segala hal?😀

    @julfan

    postingan ini adalah salah satu sarana kita untuk belajar.😀

    @hoek lagi

    berarti warnetnya telah di jalan yang lurus.😛

  27. 28 danalingga September 4, 2007 pukul 6:46 pm

    @ferthobades

    Konsep sifat feminin dari Tuhan sempat ada dalam agama (Islam, Katolik, dan Kristen, nggak tau kalau Yahudi), tapi konsep ini dengan cepat diberangus oleh para pemegang tunggal kedaulatan penafsiran *you know who…*😉 Bahkan seorang Paulo Coelho pernah menuliskannya dalam novelnya, lupa judulnya apa….

    di berangus oleh laki laki ya bang?😉

    Evolusi lain yang terpenting selain evolusi biologisnya Darwin adalah “Evolusi Pemikiran”, Epistemilogical and Onthological Evolution. Dan saya rasa, “Tuhan” sedang mengajari kita untuk memahami arti kedua evolusi itu.

    Sepertinya malah evolusi inilah yang penting, agar kita dapat meningkat lagi.

    Lain lagi kalau saya baca buku-bukunya Erich Fromm, dkk (Mazhab Frankfurt), Karen Amstrong, dll. Kebanyakan mereka melihat ketidaksetaraan cowok-cewek dalam perspektif sejarah dan mythology. Dalam mitologi banyak bangsa-bangsa sebelum agama turun, kebanyakan perempuan diberi tempat yang tertinggi dalam strata sosial dan spiritual masyarakat. Ini bisa dilihat dalam konsep ibu bumi (mother earth), ibu pertiwi (mother land), dll. Perempuan adalah titisan “Tuhan” dengan segala kesucian dan kemuliaan yang dimilikinya.

    Tapi disitulah kemudian terjadi “pertempuran” antar gender. Laki-laki dan perempuan bertempur dalam konteks memperebutkan pengaruh dalam kehidupan, Salah satu simbolisasinya adalah Tiamat dan Marduk. Pemenangnya ? Sudah ketahuan kan….

    Ternyata begitu toh, sehingga bisa serunyam sekarang ini. Ternyata tidak lebih dari akibat saling berebut pengaruh. Nafa nggak saling melepas pengaruh aja ya?

    Pemenangnya untuk sampai saat ini sepertinya laki laki .

    Tapi yang terpenting menurut saya, <b?Gender itu Konstruk Sosial. Tidak ada namanya makhluk kelas 2, kelas 3 atau makhluk tinggal kelas:mrgreen: Sementara dari sononya, manusia itu sama saja. apapun jenis kelaminnya. Beda banget dengan SEX as Jenis Kelamin, yang lebih bermakna biologis.

    iya, saya pikir Tuhan juga sependapat dengan pemikiran bang fertob ini.:mrgreen:

    *sorry Dan kalau jadi ngeblog*🙂
    *jadi terpikir untuk nulis juga*

    Ndak afa afa ngeblog di sini.
    Di tunggu tulisannya lho…😀

    @salim

    Komentar boleh-boleh aja, terutama ttg gender, tergantung pola pikir anda, bila anda dilatar belakangi oleh filsafat semata maka anda akan berbeda dengan orang yang memiliki pola pikir agama (Dien yang benar),

    Ah yang bener nih?😀
    Perlu anda ketahui saya malah ndak terlalu paham yang namanya filsafat itu. Ini hanya sekedar pemikiran sebagai akibat pengalaman pengalaman yang saya alami dalam kehidupan ini.

    Islam tidak mengatakan wanita nomor dua atau nomor satu,

    Iya saya juga tahu, yang bilang itu semua kan budaya. Btw, anda udah membaca artikel saya dengan benar belum sih?

    tetapi Alloh SWT, (maaf saya tidak mengatakan Tuhan karena artinya jauh berbeda dengan Alloh SWT), telah memberikan hak dan kewajiban kepada masing2 (wanita dan laki-laki) baik maslaha kepemimpinan, masalah waris dll,

    Yah ndak afa afa jika anda lebih senang menyebut Alloh SWT , asal anda tahu saja ketika saya menyebut Tuhan yang saya rujuk itu sama saja dengan ketika anda menyebtu Alloh SWT.😀

    Dan mengenai hak dan kewajiban itu lebih kepada perbaikan budaya secara evolusi menurut saya. Dan hal itu seharusnya terus berkembang, dan tidak stagnan.😀

    @tito

    Dulu segala pekerjaan lebih membutuhkan kekuatan fisik ketimbang sekarang.. karenanya pria bisa lebih dominan karena massa otot mereka yang melebihi perempuan membuat mereka sanggup mengerjakan berbagai pekerjaan lebih baik ketimbang kaum hawa.

    tapi sekarang makin sedikit pekerjaan yg berorientasi fisik. malah makin banyak yg bisa diselesaikan di depan layar monitor… so today women can work as good as men…

    Nah, ternyata kondisi sudah berubah di banding jaman dulu. Kenafa kita masih mempertahankan budaya budaya jaman dulu? Alangkah lebih baiknya jika budaya budaya itu terus berevolusi sesuai dengan kondisi.😀

    evolusi gak cuma soal kerjaan atau gender aja, budaya bahkan agama juga terus ber-evolusi… gak ada gunanya melawan perubahan.

    *ini nulisnya sambil ngerjain detline, jadi mohon maap kalo rada tulalit*

    Yup, saya setuju sekali. Segala sesuatu masih tetap berevolusi hingga detik ini, jadi ngapain kita terlalu cinta kepada masa lalu toh.😀

    @baliazura

    silahkan di kunyah duluw.😀

    @nyonya 049

    setuju…jaman sekarang ini, nyaris semua yang dilakukan pria, bisa dilakukan sama wanita. Apa yang bisa dipikirkan pria, bisa dipikirkan wanita.Apa yang bisa diciptakan pria, bisa diciptakan wanita.

    Saya sih setuju setuju aja. Tapi apa memang dalam kenyataannya semua sudah berpandangan demikian?

    memang, ada sdikit perbedaan perbandingan (katanya sih) antara perasaan dan logika.

    ini bukannya hoax?😆

    well, bagi saya, wanita atau pria itu yang berbeda hanyalah jenis kelaminnya aja.

    iya ini sih dah pasti. Soale kalo sama entar saya kawin ama siapa coba?😆

    OOT ya?
    nggak deh keknya…

    ndak OOT kok.:mrgreen:

    @zal

    :::horeee…dana naik kelas…. memasuki alam praktik…

    Alah, selama ini juga masih praktik di dunia ini.

    :::gender wanita, atau Pria, dalam kefisikannya memang terlihat dari fisik telanjang dan mengurut sampai pembuktian bahwa tidak ada proses alih dengan operasi…..
    misalnya ada fisik Pria yang dioperasi menjadi wanita, mau disebut gendernya apa…???😆
    dan wanita, jika dia memposisikan sebagai lelaki dalam kelesbiannya mau disebut gendernya apa….????😆

    hem… kira kira mang di sebut apa zal?😆

    Jika kita upayakan membicarakan hal ini dalam bentuk praktik hidup, maka akan berpolemiklah orang-orang, padahal sudah banyak yang dipertontonkan bagaimana seorang yang secara fisik wanita namun menjadi pemimpin, contohnya saja , Ratu Balkis, di zamannya Nabi Sulaiman AS, Siti Aisyah, memimpin kaumnya setelah wafatnya Ullaha urrasyidin, di Inggris secara turun temurun dipimpin oleh seorang Ratu, bahkan PMnya yang sangat terkenal dengan sebutan “Wanita Besi”, termasuk juga Megawati…. apakah ini lantas bisa kita sebut “Praktik” evolusi atau revolusinya Tuhan….?????

    Berarti budaya tempat para wanita dah bisa jadi pemimpin itu tidak hanya meninggikan laki laki. Tapi hal tersebut kok nggak jadi rujukan di agama ya zal? Kenafa kira kira?

    Menurut saya Bentuk yang ada adalah suatu sarana Tuhan untuk tergambarnya suatu sebab, sehingga “memudahkan fikiran” kita menjangkau suatu konsep yang lebih utama…
    Misalnya kefisikan laki – perempuan, salah satu fungsinnya adalah memperbanyak keturunan,
    jika hendak dipandang, apakah Tuhan tidak bisa mencipta tanpa proses hubungan intim, engga juga, sebab salah satunya saja Adam & Hawa…

    Kalo bahasa saya tuh untuk alasan tepat dan efisien.

    Jika kita melihat sosok feminin, maka kegemulaian, sering diindentikkan sebagai karakter wanita atau “kewanita-wanitaan” ini juga ada pada yang berfisik laki-laki,
    atau jika sosok . maskulin dipandang dari “kegagahperkasaan”, “kelaki-lakian” ini juga ada pada yang berfisik perempuan…

    Itu hanya identifikasi alisa budaya toh zal.😀

    jika cerita janji dalam surga ada 70.000 bidadari, lha bagian untuk wanitanya manaaa…

    wanitanya ya jadi bidadari itu.😛

    Memang rasanya alam praktik, adalah alam yang sulit, suatu contoh saja, bisa jadi kita menyadari “Allah Maha Berkehendak”, lalu.praktiknya…???🙄

    pada prakteknya kita batasi dengan apa yang kita anggap keinginan Tuhan.😀

    @joerig™

    maksudnya saya teh?😕

  28. 29 extremusmilitis September 4, 2007 pukul 10:36 pm

    kalau menurut aku sih mending coba berpikir logisnya saja, siapapun dia, mampu gak melakukan sesuatu dengan fair?
    selama dia mampu, dan emang punya skill untuk itu, why not kan? toh seleksi alam juga yang bakalan menentukan yang bakal survive. bullshit dengan agama dan budaya yang sering melihat hanya dari segi empiris-nya saja.

    Untuk simple-nya ini ada 2 contoh kecil yang ada di realitas kita:
    1. Setting: Management Buruh Pelabuhan. Cewek sebenarnya lebih mampu untuk memimpin, tetapi dengan alasan bahwa si Cowok itu secara fisik mungkin lebih mampu apalagi berhadapan dengan para buruh yang secara de-facto berbadan kekar maka si cowok lebih diprioritaskan sebagai manager.
    2. Setting: Kampus. Cowok udah mati2an gak tidur demi ujian esok harinya, si Cewek malah dengan santainya, datengin dosen, senyum manis, dan lusa, nilai si Cewek lebih tinggi dari si Cowok (itu realita, dan itu memang terjadi)

  29. 30 akses internet gi kembang kempis September 5, 2007 pukul 3:24 pm

    setuju dengan extremusmilitis
    pada akhirnya kemampuan sebenarnya lah yang dipandang dan pandangan empiris seperti itu akan luruh dengan sendirinya (sayangnya pada saat kasus itu terjadi saja)

    manusia memiliki keterbatasan dalam memahami kebenaran hakikat karena begitu ia sampai kedalam cerebrum tiap individu akan langsung terdistorsi hingga ke tiap binernya oleh alter ego yang sering kita biasakan dengan istilah to err is human

    salam kenal, and thx dah mampir ke blog ku

  30. 31 danalingga September 5, 2007 pukul 9:02 pm

    @extremusmilitis

    Menurutku juga begitu sih, apalagi yang ini nih :

    bullshit dengan agama dan budaya yang sering melihat hanya dari segi empiris-nya saja.

    😆

    Untuk simple-nya ini ada 2 contoh kecil yang ada di realitas kita:
    1. Setting: Management Buruh Pelabuhan. Cewek sebenarnya lebih mampu untuk memimpin, tetapi dengan alasan bahwa si Cowok itu secara fisik mungkin lebih mampu apalagi berhadapan dengan para buruh yang secara de-facto berbadan kekar maka si cowok lebih diprioritaskan sebagai manager.
    2. Setting: Kampus. Cowok udah mati2an gak tidur demi ujian esok harinya, si Cewek malah dengan santainya, datengin dosen, senyum manis, dan lusa, nilai si Cewek lebih tinggi dari si Cowok (itu realita, dan itu memang terjadi)

    lah, ini contoh yang salah bukan?😕

    @akses

    Tapi apa jika kita biarkan apakah memang benar akan terjadi seleksi alam? Bukankah manusia ini paling pinter untuk mengakali alam?

    Salam kenal juga, & thanks.😀

  31. 32 Rapidity September 6, 2007 pukul 2:11 pm

    Menurut saya, wanita dan laki laki memang berbede… tapi jangan juga membesarkan perbedaannya. kalau memang bisa dan pantas untuk wanita. kenapa harus dilarang? gimana???

  32. 33 danalingga September 6, 2007 pukul 3:08 pm

    setuju, tapi mang berbeda ya?😆

  33. 34 Joerig™ September 6, 2007 pukul 3:56 pm

    @joerig™

    maksudnya saya teh?😕

    bukan kok😆

  34. 36 extremusmilitis September 7, 2007 pukul 12:59 am

    perbedaan emang tidak bisa dihilangkan
    tapi setidaknya bisa kita minimalkan🙂

  35. 37 danalingga September 7, 2007 pukul 1:16 am

    minimal kita bisa menempatkan perbedaan pada tempatnya.😀

  36. 38 mr lekig September 7, 2007 pukul 9:42 am

    kalau menurut saya, urusan gender adalah urusan tanggung jawab, pria dan wanita memang dari sananya berbeda, tidak mungkin bisa disamakan dan memiliki tanggung jawab yang berbeda juga sesuai dengan peran dan kondisi masing2.

  37. 39 danalingga September 7, 2007 pukul 12:48 pm

    Bentuk kelamin emang berbeda, nah soal tanggung jawab ini maksudnya yang gimana nih mr?

  38. 41 oddworld September 10, 2007 pukul 5:09 pm

    Setelah membaca artikel ini
    http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0709/01/Bentara/3800195.htm

    Andaikan saja yang ditulis di artikel tsb sebagian saja benar.
    Saya jadi berpikir mungkinkah di alam bawah sadar beberapa wanita, sudah di-set kalau peran publik memang lebih baik dipegang laki-laki (begitu pula sebaliknya) ? Siapa tahu ada gen yang membawa kecenderungan ke arah tsb ?

  39. 42 danalingga September 10, 2007 pukul 6:10 pm

    @watonist

    terimakasih sudah berhasil menghibur, kalo saya sih ndak gundah, tapi kasian aja ama cewek apalagi yang manis itu.😆

    @oddworld

    Jika membaca artikel tersebut sepertinya perempuan lebih memilih sebagai ‘king maker’.😀 Tapi itu semua di daerah timur tengah bukan?
    Apakah di belahan bumi lain juga begitu ya?

  40. 43 oddworld September 11, 2007 pukul 8:59 pm

    Mungkin bisa dibandingkan dengan peran Hillary (such a tough woman especially in the middle of her husband Lewinsky scandal)yang semula sekadar menyokong sekarang mencoba bangkit dari bayang-bayang.

  41. 44 danalingga September 13, 2007 pukul 10:36 pm

    Bisa jadi itu karena para pria telah di kasih kesempatan kok nggak becus, jadinya ya wanita sendirilah yang maju. Entahlah….

  42. 45 edratna Oktober 1, 2007 pukul 7:36 pm

    Andaikata dilahirkan kembali dan boleh memilih, saya tetap memilih menjadi perempuan.
    Menjadi perempuan, bisa memberikan kasih sayang pada sesama, pada anak-anaknya, sesibuk dan setinggi apapun dia berkarir, tetapi dirumah dia tetap berperanan sebagai ibu, yang menyayangi anak-anaknya, mendongeng selagi anak-anak kecil, dan berbagi cerita dengan suami.
    Syukurlah saya mendapat pasangan, yang tak mempermasalahkan perempuan, justru selalu mendorong untuk isterinya agar bisa berkarir dengan baik.

  43. 46 danalingga Oktober 1, 2007 pukul 8:27 pm

    Wah, karir dan keluarga ternyata bisa berjalan beriringan ya bu?😀


  1. 1 Tindakan Pengecut « Chaos Region Lacak balik pada September 7, 2007 pukul 1:12 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: