Sepenggal Kisah Ramadhan

[update v. 1.0]

Dalam suatu masa di senja bulan ramadhan, seorang anak manusia rebah di lantai sebuah mesjid bersahaja tanpa dinding, menyatu dengan alam. Sebuah keteduhan yang sungguh terasa , merasuk ke segenap sendi jiwa yang terasa lelah. Beristirahat sejenak , dari sebuah pencarian yang dia lakukan siang dan malam. Melintasi lembah dan gunung, sepi dan keramaian, ekstrim kiri dan ekstrim kanan, dalam kelaparan rohani yang tak tertahan.

Dan di sini dia kini, di sebuah mesjid bersahaja , mengistirahatkan jiwa yang serasa remuk. Terhantam badai putus asa dalam pencarian yang terasa sia sia. Mata tertutup tenang, menikmati sebuah keindahan yang sangat, dari kebersahajaan sebuah masjidnya alam. Yang bersedia menampung segala lelahnya, mendamaikan jiwa yang sedang galau, merintih.

Suara azanpun terdengar, suara yang membasuh jiwa yang kering kerontang. Bersiap-siap dia untuk mengadu kepada Dzat yang selama ini dicari seperti gila. Dalam kebersahajaan sebuah mesjid tanpa dinding akhirnya dia tersenyum. Sebuah kebahagiaan tak terkira ketika monolog yang dia lakukan selama ini, akhirnya menjadi sebuah dialog. Ternyata Dzat yang di rindukan , berkenan hadir dalam sebuah kebersahajaan di ujung senja pencariannya.

Diapun bersyair dalam kebahagiaan:

Telah kutemukan Dzat yang tidak pernah hilang,
hanya kebersahajaan kunci untuk menyadari,
sesuatu di sudut hati yang selama ini tertutup oleh tabir,
tersingkap akhirnya menampakkan wajah,
sebuah keteduhan yang membasuh jiwa kering,
maka sebuah monologpun menjadi dialog ,
fitri itu terasa jua.

Dan di ujung senja, dalam semburat matahari yang sederhana namun indah. Dia melangkah meninggalkanΒ kebersahajaan sebuah mesjid, menuju kota tempat seharusnya. Tanpa ragu lagi, karena kebersahajaan yang murni dibawa di hati , membalur setiap langkah kini. Selamat jalan wahai anak manusia, nikmati dan sebarkanlah kebersahajaan murni itu. , sebab itulah ke fitri an .

 

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. ” (Q.s. Al -Fajr: 27-28)

33 Responses to “Sepenggal Kisah Ramadhan”


  1. 1 calonorangtenarsedunia September 22, 2007 pukul 7:44 pm

    pertamax!!!

    tebel semua gitu, Nak..

    komen seriusnya tar dulu, saya lagi sakit perut, Nak..

  2. 2 rozenesia September 22, 2007 pukul 7:44 pm

    Ada yang jual makanan dekat tuh masjid?πŸ˜•

    *OOT*

  3. 3 salamatahari September 22, 2007 pukul 10:23 pm

    Selamat jalan wahai anak manusia, nikmati dan sebarkanlah kebersahajaan murni itu, sebab itulah ke fitri an .

    Selamat jalan Dan…(emang mau kemana?):D

  4. 4 abah dedhot September 22, 2007 pukul 10:27 pm

    INDAH PISAN… sangat mengharukan…
    Dalam baitullah, tempat shalat, tempat berpuasa, tempat berbuka, tempat kembali fitrah, tempat segala jiwa hancur remuk…
    SELAMAT DATANG KEMBALI… terimalah kemenangan yang besar…
    Mulih ka Jati, Mulang ka Asal…
    Ina lillahi wa ina illaihi raji’un.

    Dia melangkah meninggalkan kebersahajaan sebuah mesjid, menuju kota tempatmu seharusnya.
    … dengan Dunia & Akhirat di dalam genggamannya…

    selamat…

  5. 5 zal September 22, 2007 pukul 11:32 pm

    ::duh, mesjid alam, luas tiada terkira, melepaskan keterkungkungan dari keberdesak-desakan…dan keluasan semu…yang berbatas dan berdinding…
    padannya masih terdapat masjid yang terang benderang, disekelilingnya gelap gulita, dikawal oleh yang menghadang lalu tertunduk hikmat dan memberi jalan, mempersilahkan langkah menuju Sang Masjid terang-benderang….

  6. 7 hoek September 23, 2007 pukul 5:23 am

    wuaah…ko ya setelah saia selese mbaca jadi berasa seger sangadh yah..hmm, pembawaan ceritana keren sangadh, saia jadi terbayudhanyud…hohoho

    be te we, itu anaknya sapa si mas dana? bukan anak ilang khan?
    eh..

    *sadar kalo sendirinya juga anak ilang..*

  7. 8 almascatie September 23, 2007 pukul 6:32 am

    masih banyak mesjid yg menawarkan ketenangan hati..
    tapi sedikit sekali mesjid yg menawarkan ketenangan duniaπŸ™‚

  8. 9 abah dedhot September 23, 2007 pukul 10:00 am

    @mas almascatie
    “Damai dihati, damai di bumi”
    Kalo damai dihati pasti damai di bumi…

    salam

  9. 10 baliazura September 23, 2007 pukul 10:14 am

    maka sebuah monologpun menjadi dialog

  10. 11 danalingga September 23, 2007 pukul 10:22 am

    @calonorangtenarsedunia

    Selamat atas pertamaxnya bu. *ngasih cangkir cantik*

    Iya tebel bu, tebel itu kan harapan, apalagi kantong tebel.πŸ˜€

    Ok bu, komen seriusnya di tunggu. Btw, itu sakit ketularan siapa bu? Moga moga cepet sembuh deh.:mrgreen:

    @rozenesia

    Ada tuh, dan ndak di suruh tutup.πŸ˜‰

    @salamatahari

    selamat tinggal num, saya mo ke kota menggapai cita cita. Mohon doa restunya.πŸ˜€

    @abah

    Sepertinya semakin indah dengan pemaknaan abah ini.:mrgreen:

    @zal

    wah, sebuah pemaknaan lagi yang semakin menambah keindahannya.:mrgreen:

    @resta

    sayangnya saya belon, tapi tokohnya sedang menuju yang fitri itu. *iri*

    @hoek

    Wah, jadi hoek merasa tersegarkan ya? Syukurlah dan makasih atas pujiannya, tapi Dia lah yang berhak mendapat segala pujian itu. Sebab atas izinNya lah , inspirasi itu bisa mengalir, sekalian membasuh jiwa.πŸ˜€

    Anak hilan? Bukankah kita ini memang semua anak hilang?πŸ˜‰

    @almas

    tuh, denger kata kata abah mas. Bagaimana menurutmu?πŸ˜€

    @baliazura

    sungguh sebuah kebahagiaan tiada taranya jika begitu bukan?πŸ˜‰

  11. 14 Takodok! September 23, 2007 pukul 2:56 pm

    seharian ini saya ketemu bacaan yg bikin haru plus speechless terus..

  12. 15 danalingga September 23, 2007 pukul 3:59 pm

    @salamatahari

    waduh… *garuk garuk kepala*

    @yarza

    iya mas/mbak, sang manusia telah berdamai, sehingga begitu tenang jadinya.πŸ˜€

    @takodok!

    Sepertinya memang itu berkah ramadhan kali ya? *menerawang*

  13. 17 deKing September 23, 2007 pukul 9:42 pm

    Beristirahat sejenak , dari sebuah pencarian yang dia lakukan siang dan malam.

    Ah … jadi ingat sepenggal kalimat di blog Bli Baliazura (yang kebetulan saya komentari/soroti bagian itu).

    Kadang memang suatu perhentian tetap kita perlukan juga dalam perjalanan kita. Ya … berhenti yang bukan untuk berhenti.

  14. 18 dwihandyn September 23, 2007 pukul 10:39 pm

    Berharap bisa menikmati kebersahajaan murni itu…
    *berdo’a dulu* πŸ™‚

  15. 19 M Shodiq Mustika September 24, 2007 pukul 7:27 am

    “Ternyata Dzat yang di rindukan , berkenan hadir dalam sebuah kebersahajaan di ujung senja pencariannya.” ???

    Bagaimana bisa yakin bahwa Dia lah yang hadir?

  16. 20 sigid September 24, 2007 pukul 11:12 am

    Eh, “sebuah perjalanan” ini sudah menemukan “mesjid bersahaja tanpa dinding, menyatu dengan alam” ya?

    Betapa pencapaian yang menenangkan
    Bagaimanakah rasanya menjadi damai? (dishare dongπŸ™‚ )

  17. 21 zal September 24, 2007 pukul 1:38 pm

    ::M Shodiq Mustika, itu karena Dana yaqin..haqqul yaqin…, sebab Rasul saja tidak bisa ditiru…apa lagi Sumbernya Rasul…πŸ˜†

  18. 22 itikkecil September 24, 2007 pukul 3:45 pm

    Indahnya yang sudah menemukan ketenangan…..

  19. 23 danalingga September 24, 2007 pukul 9:23 pm

    @jendral bayut

    silahkan mampir, jendral.πŸ˜€

    @Pak De King

    Justru terkadang di perhentian itulah tujuan bisa disadari.:mrgreen:

    @dwihandyn

    Nikmati sajalah!

    @ M Shodiq

    Pak , soal ini ndak bisa di jelaskan , tapi hanya bisa dirasakan oleh yang mengalaminya.πŸ˜€

    @sigid

    Damai itu harus dirasakan sendiri gid, kata kata ndak akan sanggup menerangkannya.πŸ˜€

    @zal

    haduh, kok dana sih zal? Kan itu tokohnya seorang anak manusia, jadi bisa siapa saja.πŸ˜€

    @itikkecil

    iya mbak, indah memang.πŸ˜€

  20. 24 zal September 24, 2007 pukul 10:44 pm

    ::Dan… pacak dicaliak, dangadong na tarida, kecuali awake dewe….πŸ˜†

  21. 25 danalingga September 25, 2007 pukul 8:53 pm

    halah, afa lagi ini?πŸ˜•

  22. 26 Herianto September 25, 2007 pukul 9:08 pm

    Wah… baru versi 1.0 saja sudah cukup bagus, ada tarikan sufi dari rentetan katanya …
    Saya punya satu pertanyaan yang tak perlu dijawab :
    Who are you, danalingga ?

    #Ayo gmana menjawabnya ?#πŸ™‚

  23. 27 zal September 25, 2007 pukul 9:23 pm

    ::apapun bahasanya minumnya teh botol sosro…πŸ˜†

  24. 28 almascatie September 25, 2007 pukul 10:14 pm

    β€œDamai dihati, damai di bumi”
    Kalo damai dihati pasti damai di bumi…

    setuju:)

  25. 29 nyonya Farid September 25, 2007 pukul 11:32 pm

    ah, Dan…aku suka yang ini :

    Dan di ujung senja, dalam semburat matahari yang sederhana namun indah. Dia melangkah meninggalkan kebersahajaan sebuah mesjid, menuju kota tempat seharusnya. Tanpa ragu lagi, karena kebersahajaan yang murni dibawa di hati , membalur setiap langkah kini. Selamat jalan wahai anak manusia, nikmati dan sebarkanlah kebersahajaan murni itu. , sebab itulah ke fitri an

    apakah gerangan yang membuatmu romantis kek gini?πŸ˜›

  26. 30 danalingga September 26, 2007 pukul 9:11 pm

    @herianto

    ndak perlu di jawab bukan?πŸ˜†

    @zal

    halah, malah nyitir iklan.πŸ˜›

    @almas

    saya juga ikut setuju deh.:mrgreen:

    @nyonya farid

    Saya juga suka tuh.πŸ˜€

    apakah gerangan yang membuatmu romantis kek gini?

    yang pasti bukan karena komitmen .

  27. 31 jagaa November 21, 2007 pukul 9:45 am

    wow. it is true. yes. ooh

  28. 32 danalingga November 21, 2007 pukul 7:04 pm

    Lah, malah orgasme.πŸ˜›

  29. 33 nunue November 21, 2008 pukul 10:09 am

    SUBHANALLOH INDAHNYA….:-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

September 2007
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: