Catatan Tentang Rasisme

 

Sebuah kenangan masa kecil selintas singgah dalam lamunan seorang anak manusia, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang sedang merayakan hidup dan kehidupan. Ah… betapa ku teringat pada manusia-manusia beretnis tionghoa yang singgah di sebuah Sekolah Dasar tercinta. Yang menjadi (teman?) sekelas selama 6 tahun. Sungguh tidak kuasa kalo kusebut mereka sebagi teman, sebab toh kusadari hubungan yang kubina dulu bukanlah termasuk per teman an.

Betapa tidak , saat itu, ketika saya tidak tahu sama sekali tentang apa itu rasis, namun ternyata saya malah menjadi penganut rasisme yang sangat parah. Teringat pada dua etnis tionghoa, yang kebetulan sial (atau beruntung?) satu sekolah dengan saya di SD sebuah kota kecil. Entah bagaimana pikiran mereka setiap mau berangkat ke sekolah, untuk di siksa oleh kami (yang seharusnya) teman-temannya. Sebuah bayaran untuk perbedaan etnis. Entah siapa yang menanamkan paham bahwa orang cina itu untuk di hajar rame-rame, sebab mereka berbeda dengan kami orang kebanyakan. Maka, di waktu istirahat, di waktu pulang sekolah, mereka berdua akan menerima siksaan yang sekarang kusadari sungguh sangat kejam telah terpikir oleh siswa SD. Dan seingatku, bahkan guru-guru tidak pernah berusaha mencegah, atau mungkin saya yang lupa, entahlah. Yang pasti hal tersebut terus terjadi sampai lulus.

Dan sebuah kewajaran tentu saja, jika akhirnya jurang-juarang di antara kami (pribumi?) dan mereka (tionghoa?) semakin lebar dan dalam. Toh, ternyata itu di pupuk dari kecil (sejak SD), dan telah tertanam di sanubari paling dalam bahwa kami dan mereka berbeda. Dan dari kehidupan yang demikian rasis jugalah kupahami telah terjadi perputaran roda nasib. Di mana ketika kecil mereka disiksa tanpa kasian dan tidak dapat melawan. Sebab kekuatan kami adalah mayoritas, sedangkan mereka hanya minoritas. Dan seiring bertambahnya usia, maka ternyata merekalah yang mengatur hidup kami, sebab saat itu uanglah yang berbicara, dan kami tidak punya uang. Yah saya maklumi jika mereka kadang bisa menjadi tidak berprikemanusiaan juga terhadap kami, sebab toh dulu kami juga sama tidak berprikemanusiaannya kepada mereka bukan?

Ah … tapi sudahlah, itu masa lalu yang pahit (atau terlalu manis?) untuk di kenang. Lagian sekarang telah kupahami bahwa kami dan mereka ternyata sama, sama-sama manusia yang menjadi korban sebuah ketidak pahaman. Di mana perbedaan kadang di pupuk, atau bahkan di benturkan, dalam melanggengkan sebuah kekuasaan. Dan di sini, dari kota besar ini, kudoakan kota kecil yang telah membentukku , semoga tidak ada lagi cerita rasis yang menyebar. Hiduplah dalam keselarasan, sebab semua kita  ini adalah manusia, ya sama-sama manusia. Dan semoga pada akhirnya, kita semua pun dapat menjadi manusia yang berprikemanusiaan. 😉

Si anak manusia pun melangkah pasti untuk ikut larut dalam perayaan, bersama sahabatnya seorang etnis tionghoa. Bergembira.


 

Lapor!
Gambar di culik dari sini

74 Responses to “Catatan Tentang Rasisme”


  1. 1 sigid Oktober 22, 2007 pukul 11:01 am

    Eh, tgl 18 udah masuk kok ya

  2. 2 danalingga Oktober 22, 2007 pukul 6:04 pm

    @calonorangtenarsedunia

    hem.. begitu ya bu?

    *manggut manggut*
    *ngelus ngelus jenggot*

    @sigid

    Saya sih liburan juga gid, kan saya ini juga manusia. Tapi liburnya hanya sampai tanggal 17.😀

  3. 3 fertobhades Oktober 22, 2007 pukul 6:44 pm

    @ hana :

    Iya, memang tingkah lakunya kok, Nak.

    ehm… yang sedang belajar collective behavior😉 habis ini di-tes mau nggak ?

    @ dana :

    waktu saya ikut konselor trauma di daerah konflik (Poso dan sekitarnya), sangat sulit untuk memutus batas kecurigaan terhadap pihak lain (dlm hal ini kelompok yg bertikai). Apalagi pada anak-anak. Sejak kecil mereka sudah mempunyai pandangan negatif terhadap kelompok lain yang berbeda [agama]. Konflik antar kelompok memang sering menyisakan luka yang teramat dalam [dan juga benih-benih rasisme, prasangka, dan diskriminasi], khususnya pada anak-anak.

  4. 4 dewo Oktober 23, 2007 pukul 10:06 pm

    Wah, sebegitu parahnya rasisme.

  5. 5 CY Oktober 24, 2007 pukul 3:25 pm

    hihihi… bukan preman Dan, cuman bbrp parut dilengan (oleh2 manjat pohon mangga tetangga) bikin mereka pikir2 duakali mungkin. wakakaka…

  6. 6 danalingga Oktober 24, 2007 pukul 5:03 pm

    @fertobhades

    Wah, kasian banget anak-anak itu ya? Menderita trauma berbalur rasis. Kira-kira kalo di brainstorming bisa nggak tuh? Biar kembali normal ajalah pola pikirnya.

    @ dewo

    Iya, separah itu deh.

    @CY

    Ah, ternyata semua ada hikmahnya.😛

    *itu bukannya penipuan ya?*

  7. 7 calonorangtenarsedunia Oktober 24, 2007 pukul 8:18 pm

    ehm… yang sedang belajar collective behavior habis ini di-tes mau nggak ?

    Mati akuu…..

    *nginget2 bacaan*

  8. 8 CY Oktober 25, 2007 pukul 5:20 pm

    wakakakak… penipuan image ya.. 😀

  9. 9 danalingga Oktober 25, 2007 pukul 6:16 pm

    @calonorangtenarsedunia

    Kalo saya ndak ngetes, cukup minta resensi aja.😆

    @CY

    Nah, itu dia bro.😀

  10. 10 calonorangtenarsedunia Oktober 26, 2007 pukul 2:06 pm

    resensinya privat saja ya. Ada beberapa hal mengganjal soalnya.

  11. 11 danalingga Oktober 26, 2007 pukul 7:41 pm

    Boleh bu, silahkan yang mengganjal di komunikasikan.:mrgreen:

  12. 12 Resta Oktober 26, 2007 pukul 10:37 pm

    gelangnya bagus …😛

  13. 13 danalingga November 2, 2007 pukul 6:28 pm

    yup, mayan bagus, silahkan di beli aja.😛

  14. 14 ulu November 10, 2007 pukul 7:38 pm

    Di Indonesia banyak orang asing ya, dan sekarang udah pada jadi WNI. Tapi kog ya, etnis cina yang “lebih” jadi obyek rasis. Pribumi dan non pribumi. Arab, Keling, India dikemanain ? Apa karena etnis cina lebih banyak ?
    Belum kenal maka nggak sayang kok.

  15. 15 encyblogedia November 18, 2007 pukul 1:39 am

    Rasis, sebuah ketidakadilan budaya. Sebenernya gak cuma di Indonesia sih, di luar negeri, walaupun katanya mereka memerangi rasis, namun masih ada aja pelecehan atas nama warna kulit dan suku. Lazio, salah satu klub bergengsi di Italia masih berbau rasis. Buktinya, sampai sekarang belum pernah ada (kalopun ada dikit bgt), pemain afrika atau kulit item yang direkrutnya. dari dulu Lazio pemainnya kulit putih semua. Orang kulit putih merasa lebih unggul dari kulit hitam, pribumi merasa lebih berhak daripada imigran. kita semua lupa jika kita, apapun bangsa, negara, agama, suku, ras, dllnya walaupun berbeda, namun tetap 1 spesies, homo sapiens. dengan rasisme, kita merasa lupa, kita merasa tidak 1 spesies dengan mereka yang berkulit, bersuku, beragama, berbangsa dan segala atribut lainnya.

    Pernah saya baca dari berbagai sumber, Ketika kerajaan Tuhan datang, semua manusia adalah sama. tidak ada perbedaan suku, bangsa, warna kulit, status, kekayaan, semua bersujud bersama memuliakan Tuhan. Sebagai seorang muslim saya menafsirkan ramalan ini adalah ketika seluruh umat manusia berkumpul dari berbagai penjuru dunia, menanggalkan atribut keduniawiannya (harta, benda, jabatan, bahkan pakaian), berkumpul bersama manusia lain (dari bangsa, negara, suku, warna kulit lain), untuk bersama2 memuliakan Tuhan, di baitullah, Mekkah dalam ibadah haji. Betul2 suatu panggilan universal..

    Alangkah indahnya dunia ini ketika kita sama2 menyadari bahwa kita adalah satu spesies, homo sapiens, dari satu keturunan, yaitu anak Adam. Tidak ada perang, pertikaian, permusuhan. kita semua saudara satu keturunan, kita semua sama2 homo sapiens. Entah itu cina, arab, yahudi, jawa, arya, kita tetap satu spesies.

  16. 16 danalingga November 23, 2007 pukul 10:36 am

    @ ulu

    Yup, makanya marilah kita semua saling mengenal.:mrgreen:

    @encyblogedia

    Membaca komen ini membuat saya bertanya tanya, apakah memang rasis itu sudah kodrat ya? *kontemplasi*

  17. 17 Junarto Imam Prakoso November 24, 2007 pukul 4:11 pm

    Saya nggak sadar ada pembedaan rasialis sampai kuliah, pas semester 1 ada sosiologi yg bahas khusus. Jumlah etnis tionghoa juga sebenernya kagak minoritas… 10 juta lebih lho, bandingin dengan orang Irian, Maluku, Aceh dan lain2. BTW, apa reaksi mas danalingga pas ketemu kedua lawan lama itu?😀

  18. 18 encyblogedia November 27, 2007 pukul 8:50 pm

    Buat pak Danalingga;

    Rasis menurut saya sebenernya bukannya kodrat, cuma pemahaman manusia aja yang belum “nyandhak” sampai situ. Lha gimana, sejak kecil kita sudah dicekoki Rasis oleh budaya kita. Kita sebagai orang jawa (saya sendiri), sering kali mendengar joke2 yang berbau rasis. Misalnya begini: Setelah makan tidak merokok, ibarat dipukuli oleh Cina tidak membalas. Sama duit kok pelit, mau jadi Cina? Kurang lebih joke2 demikian yang sering kita dengerin sehari2.

    Kenapa kok kita cenderung punya sikap yang kurang, atau “gimana gitu lho” ama mereka yang bukan warga pribumi? Salah satu penyebabnya adalah kesenjangan sosial. Banyak warga pendatang yang hidup sukses di tanah perantauan, lantas seolah merebut lahan nafkah penduduk asli. Orang cina di Indonesia, menjadi pedagang sukses lantaran usaha mereka, dan mereka kreatif dalam melihat peluang pasar. mereka juga hemat, sehingga uang sekecil apapun ditabung. Itu budaya mereka. Sementara kita, udah orangnya males, gak kreatif, boros, ketika melihat imigran sukses ditanah kita, kita menjadi iri, lantas segala bentuk ketidaksukaan kita pada mereka, bahkan hingga tataran fisik dihujatkan pada mereka. Ini merupakan salah satu alasan, masih banyak lagi alasan lain seperti agama, budaya, kondisi fisik, yang menjadi alasan timbulnya rasis. Imigran Afrika yang tinggal di Eropa dan Amerika juga mengalami hal yang serupa. Pada intinya, kita susah melihat orang senang, dan senang melihat orang susah. Kita tidak menyadari jika mereka juga sama seperti kita, homo sapiens.

    Jadi menurut saya Rasis bukanlah kodrat, namun lebih karena Kahanan (keadaan). Maka dari itu, kita kembali menengok kebelakang, introspeksi mencari tahu siapa diri kita, asal usul kita, budaya kita, sehingga pada akhirnya kita dapat menghindari Chauvinisme/ nasionalisme sempit dalam membanggakan bangsa sendiri.

  19. 19 danalingga November 27, 2007 pukul 11:18 pm

    @Junarto Imam Prakoso

    Sayangnya saya belon pernah ke temu lagi sih. Tapi pas suatu masa di smp sepertinya saya dah berhubungan baik dengan mereka, kalo saya nggak salah inget.

    @encyblogedia

    Karena keadaaan atau lebih karena ketidak sadaran? Seperti soal yang lebih berhasil itu, kita iri karena kita tidak tahu bagaimana mereka mereka melakukan kerja keras siang dan malam hingga berhasil. Dan sepertinya soal senang melihat orang susah itu sangat mengena, bahkan kita rela menjadi susah agar orang lain juga susah.😀

  20. 20 Mr. X Desember 7, 2007 pukul 2:42 pm

    Gw terharu bangeeet masih ada orang2 yg menganggap bahwa kami etnis Cina adalah sama, padahal kami selalu menganggap kami adalah orang Indonesia, bahkan ketika Thomas Cup Cina melawan Indon, kami dengan semangat 45 membela Indon.
    Secara pribadi, saya menganggap kita semua adalah sama, yg membedakan manusia dengan manusia lainnya adalah tingkah lakunya. Dari pribumi yg saya kagumi adalah rasa setiakawannya, walaupun kadang tidak pada tempatnya.
    Baru Kamis kemaren, kami akhirnya menerima perlakukan rasisme lagi, mungkin temen2 udah nonton di berita, kalo terjadi kerusuhan di Pontianak. Hanya gara2 perkelahian kecil akhirnya mengorbankan orang2 Cina lain yg tidak bersalah, rumah2 dihancurkan bahkan sampe tempat ibadah, seakan-akan hukum sudah tidak berlaku lagi.
    Sedih sekali rasanya, kenapa tidak diselesaikan dengan otak, kenapa harus dengan otot.
    Semoga kita generasi muda bisa menghapuskan rasisme dari bumi Indonesia.

  21. 21 encyblogedia Desember 10, 2007 pukul 12:10 am

    bener pak X, kita semua sama. anda Cina, saya Jawa, ttp 1 spesies, homo sapiens. warna kulit kita aja yg beda. Yah semoga generasi muda kita kelak bisa menghilangkan hal ini, dimulai dari mendidik anak2 kita.

  22. 22 danalingga Desember 10, 2007 pukul 12:19 am

    Maka marilah kita terus menyebarkan persamaan tersebut, agar damai bisa tergapai.

  23. 23 Julian Agustus 2, 2008 pukul 8:24 pm

    @Kopral geddoe
    “Btw setahu saya rasisme sedikit demi sedikit memang menuju ke kepunahan, kok. Saat ini sudah jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya…”

    apa iya bener begitu! beberapa bulan yg lalu saya pernah ikut kompetisi sepak bola sejakarta mungkin ada yg tau “cocacola cup”
    kompetisi ini memang jarang di ikutin oleh sekolah swasta atau mungkin sekolah chinese. mayoritas adalah sekolah negri. nah.. saat giliran sekolah saya yg bertanding tiba” supporter di tribun semua kompak meneriakan yel “CINA NYA BEGO-BEGO”
    pada saat itu saya bener-bener marah, tapi saya tidak tahu harus berbuat apa. padahal kami tidak pernah meneriakan yel-yel yg berbau rasis. kejadian itu membuat saya sedikit tidak respect pada pribumi (maaf kalau ada yg tersinggung)

    mereka meneriakan kami CHINA padahal kalau kami pergi ke china pun mereka akan bilank kami bukan org china, org china akan bilank kami orang INDONESIA.. jadi dimanakah kami harus tinggal.. kami tidak diterima dimanapun…

  24. 24 S $ S Agustus 4, 2008 pukul 2:28 am

    sebagian besar dari kelompok ini lebih suka disebut sbg China atau Tionghoa, bukan dg sebutan Cina, yg berkonotasi sara (ejekan).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: