Keadilan : Membalas atau Memaafkan ???

[Update versi 1.0 ]

Tulisan kali ini masih berkaitan dengan komenku di sini  dalam menanggapi komen mbak hanna. Di mana mbak Hanna mengutip sebuah ujar ujar dari Konfusius:

“Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu akan membalas kebaikan?
Kamu seharusnya membayar luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan”.

Nah yang membuat pikiran aneh saya mulai bekerja adalah apakah keadilan yang di maksud dalam ujar-ujar tersebut? Apakah gigi di ganti dengan gigi, muncung diganti dengan muncung, mata diganti dengan mata, nyawa diganti dengan nyawa, atau bagaimana?🙄

Dan dalam pencarian jawaban dari pikiran aneh tersebut yang  tentunya sangat melelahkan sekali hiperbola dikitlah , akhirnya saya menemukan jawabannya dalam potongan cerita di Bhagavad Gita  , seperti yang saya kutipkan berikut :

 
Belajar Bijaksana

Seusai peperangan yang di sebut Bharatayudha  , para Pandawa sang pemenang, merayakan kemenangan meraka di medan perang kurukshetra . Putra para Pandawa tidur larut malam dalam keadaan mabuk kepayang. Malam itu , Ashwathama, simpatisan Kurawa yang kalah, menyusup masuk ke kemah mereka dan membunuh mereka.

Esoknya, orang pertama yang melihat jasad mereka berlumuran darah adalah ibu mereka, Drupadi. Ia menjadi histeris. Teriakannya membangunkan orang-orang yang masih tidur, termasuk Arjuna dan Krishna. Melihat keadaan Drupadi , Arjuna bersumpah, “Drupadi biarlah rambutmu dalam keadaan lepas seperti itu, janganlah kau merapikannya. Akan kutangkap pembunuh anak-anak kita dan akan kupenggal kepalanya di hadapanmu. Setelah membilas rambutmu dengan darahnya, barulah kau mengikat dan merapikan rambutmu!”

Krishna menganggukkan kepalanya, seolah merestui sumpah Arjuna. Kemudian, berangkatlah keduanya untuk menangkap pembunuh yang sudah di ketahui jelas identitasnya. Sebelum matahari terbenam, Arjuna sudah berhasil menangkap Ashwathama dan membawanya ke kemah Drupadi, “Inilah pembunuh anak-anak kita.”

Melihat Ashwathama dalam keadaan tak berdaya, muncullah rasa iba dalam sanubari Drupadi, dan ia berkata: “Arjuna, maafkan dia. Biarlah dia pergi. Terpikir olehku, ibu Ashwathama masih hidup. Dia baru saja kehilangan suaminya dalam perang. Apa yang akan terjadi pada dirinya, jika ia kehilangan putra satu-satunya? Maafkan dia, Arjuna.”

Krishna menganggukkan lagi kepalanya, memberi isyarat kepada Arjuna bahwa Drupadi benar.

Arjuna bingung, “Kebenaran itu apa , Krishna? Menghukum seorang pembunuh berdarah dingin seperti Ashwathama, atau memaafkannya? Apa yang harus kulakukan? Apa yang menjadi tuntunan dharma bagiku? “

Krishna menjawab: ” Menghukum mereka yang bersalah adalah dharma seorang satria, dan kau seorang satria. Kau dapat menghukum Ashwathama. Ia jelas bersalah. Tetapi, ada dharma yang lebih tinggi daripada dharma manapun juga, dan itu adalah dharma manusia yang menuntut pemaafan. “

“Dengan memaafkan Ashwathama, apakah aku tidak akan bersalah terhadap dharmaku sebagai satria?” tanya Arjuna.

“Jalankan dharmamu sebagai satria dengan mengasingkan dia. Itu pun hukuman. Tidak perlu membunuhnya.” Krishna menasihati Arjuna.

Luar biasa bukan? Sebuah kasus pembunuhan berdarah dingin akhirnya di maafkan demi dharma kemanusiaan, dan di asingkan demi dharma  satria.  Ternyata dalam kasus ini, keadilan bukanlah sesuatu di ganti dengan sesuatu. Apalagi bahwa ternyata pengasingan itupun bukan seperti pengasingan Pak Karno oleh rezim orde baru, yakni pengasingan untuk di bunuh pelan-pelan. Melainkan pengasingan yang lebih beradab, pengasingan untuk sebuah kesempatan baru.😀

Semoga tindakan kita atas nama keadilan itu bisa sebijaksana tindakan Arjuna dalam bimbingan seorang Krishna. Bahkan kebijaksanaan ini muncul dalam sebuah peperangan, yang kadang membuat saya berpikir bahwa dalam perang inilah kemungkinan Allah ikut berperang  .😉

Baca juga cerita bang aib tentang darah di bayar darah, dan semoga lebih mengerti akan maksud dari artikel saya ini.:mrgreen:
 

Pelaporan :

Gambar di ambil dari sini

80 Responses to “Keadilan : Membalas atau Memaafkan ???”


  1. 1 Rizma Oktober 29, 2007 pukul 12:31 pm

    Ma inget salah satu quote fave Ma dari Imam Ali,,

    “Jika kamu mampu mengalahkan musuhmu, jadikanlah maaf sebagai ungkapan syukurmu,,”

    :mrgreen:

  2. 2 ordinary Oktober 29, 2007 pukul 4:00 pm

    setuju ma koment ma diatas, membala itu mudah, memaafkan itu yang suusaaahnya minta ampun (ini yang versi ikhlas setulus hati). Perlu kesabaran dan kebesaran jiwa buwat melakukannya.
    Hehehe, sok tau aq

  3. 3 almirza Oktober 29, 2007 pukul 7:51 pm

    Wah, poligami itu kesalahan bukan ya? Sebab hanya kesalahan kali yang perlu di maafkan atau di balas dalam konteks artikel ini

    Maaf gak nyambung ya
    Tapi bagi sebagian orang Poligami itu menyakitkan
    Bagi sebagian orang juga Hal yang menyakitkan dirinya dianggap kesalahan
    So, kalau berasa lebih baik maafkan saja pendatang baru itu😆
    *siap-siap dihajar massa cewek *
    OOT nih

  4. 4 extremusmilitis Oktober 29, 2007 pukul 9:20 pm

    ternyata benar, kalau me-maaf-kan itu lebih tinggi daripada sekedar mem-balas-kan dendam, dan bukan-kan me-maaf-kan itu jauh lebih indah. bukan begitu Dan?
    *terus belajar untuk bisa me-maaf-kan*

  5. 5 Agiek Oktober 30, 2007 pukul 11:21 am

    *tao ming tse mode ON*

    Kalo semua kesalahan bisa selesai dengan ‘maaf’, buat apa ada polisi?

    *tao ming tse mode OFF*

    hehe2x numpang nyampah mas dana:mrgreen:

  6. 6 celotehsaya Oktober 30, 2007 pukul 11:46 am

    kadang keadilan kita bersebarangan dengan leadilan orang lain lho…

    apa jang adil bagi kita beloem tentoe adil bagi orang disebelah kita…

    daripada menghakimi dan memaafkan, kok ik lebih milih membiarkan jak…???

  7. 7 danalingga Oktober 30, 2007 pukul 7:11 pm

    @kurtubi

    Makasih kembali.😀

    @Zazi

    Bagus, berarti dah siap memaafkan kan?😉

    @watonist

    Wah iya juga ya? Karena semua unik maka nggak mungkin mata ganti mata, dll. Sebab toh ndak sama mata saya ama mata mereka.:mrgreen:

    @deKing

    makanya jangan model yang itu.😛

    @cK

    Nggak apa apa sedang belajar tante, yang penting saya di maafkan.😀

    @qzink666

    Sepertinya sih bener.😀

    @bangaiptop

    Wah, kalo mereposisi itu ya terserah masing masing ajalah bang. Sebab saya toh bukan nabi baru.😆

    @baliazura

    Dihapuskan akibatnya memang sepertinya nggak mungkin, tapi melupakan sih mungkin aja toh.😆

    @caplang™

    Beneran nggak penting.🙄

    *tendang caplang*

    @Rizma

    Wah sepertinya memang gitu ya Ma, taklukkan dan maafkan.:mrgreen:

    @ ordinary

    Saya setuju ama may ajah.😀

    @almirza

    Walah, maaf ternyata bisa jadi senjata untuk berpoligami. *garuk garuk ketek*

    @extremusmilitis

    Sepertinya sih begitu, mus.:mrgreen:

    @Agiek

    Polisi?!! afa itu?😆

    @celotehsaya

    memaafkan memang bukan pekerjaan yang mudah.😀

  8. 8 celotehsaya Oktober 31, 2007 pukul 1:21 am

    maka dari itoe ik lebih memilih oentoek bersikap apatis dan membiarkan mereka berboeat sesoeka hatinja dan ik akan diam sambil berlaloe…

  9. 9 danalingga Oktober 31, 2007 pukul 8:10 pm

    Yah, silahkan aja . Hidup memang sebuah pilihan toh.😀

  10. 10 puak November 1, 2007 pukul 3:46 pm

    artikel yang bagus, mas.. dendam boleh saja, tapi harus ada batas waktunya dan sebisanya jangan dibalas cukup hati saja merasakannya sejenak.. ada email yang aku terima hari ini. Cerita sederhana, tapi setidaknya ada pesan moral yang bisa diambil:

    Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak ( TK ) tersebut mengadakan ” permainan “.
    Ibu Guru menyuruh anak tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang.
    Masing-masing kentang tersebut di beri nama ber dasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa … tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

    Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik.
    Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5.

    Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang di beri nama sesuai nama orang yang dibenci.
    Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

    Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.
    Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

    Ibu Guru : ” Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

    Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi.
    Guru pun menjelaskan apa arti dari ” permainan ” yang mereka lakukan.

    Ibu Guru : ” Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa
    apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.

    Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi.
    Itu hanya 1 minggu bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
    Alangkah tidak nyamannya …
    ————————-

  11. 11 danalingga November 1, 2007 pukul 4:03 pm

    Waduh, artikelnya bagus banget mbak. Makasih ya.😀

  12. 12 zal November 1, 2007 pukul 5:51 pm

    ::heh dan, ternyata masalah ini, sudah dipelajari di TK yak.., padahal kita baru belajar.😆

  13. 13 danalingga November 2, 2007 pukul 6:25 pm

    Iya tuh zal, mungkin ini yang di sebut TK unggulan.😀

  14. 14 syahbal November 10, 2007 pukul 6:07 pm

    sbentar…
    saya mau nanya…
    pemilik blog ini sebnernya beragama apa…
    klo islam…
    saya bingung…
    buat apa anda membuka dan membaca sejarah(mitos) agama lain…
    apakah dalam agama islam tidak ada yang lebih baik….
    buat apa anda membaca sesuatu yang tidak pantas anda baca…bahkan anda pegang kitabnya…
    apakah pernah Rasulullah mengajarkan untuk membuka injil ataupun taurat…yang jelas turun dari ALLAH SWT…
    Rasulullah hanya mengajarkan untuk sekedar mengimaninya…bahwa kitab itu pernah turun….segitu saja…
    tapi anda membuka kitab agama yang tidak turun dari ALLAH SWT…apakah pantas membahasnya…TIDAK…

    TERIMAKASIH…

  15. 15 danalingga November 10, 2007 pukul 7:02 pm

    @syahbal

    sbentar…
    saya mau nanya…
    pemilik blog ini sebnernya beragama apa…
    klo islam…
    saya bingung…

    ndak usah bingung latar belakang saya , lihat aja pesan yang ingin saya sampaikna.😉

    buat apa anda membuka dan membaca sejarah(mitos) agama lain…
    apakah dalam agama islam tidak ada yang lebih baik….
    buat apa anda membaca sesuatu yang tidak pantas anda baca…bahkan anda pegang kitabnya…

    Buat mengambil hikmah yang bisa saya ambil, dan itu bukan berarti Islam tidak baik. Dan maaf saya sangat menolak soal lebih baik, sebab bagi saya di kitab manapun itu ada firman Tuhan yang sama. Jadi ndak ada firman yang lebih baik dari firman yang lain bukan?

    apakah pernah Rasulullah mengajarkan untuk membuka injil ataupun taurat…yang jelas turun dari ALLAH SWT…
    Rasulullah hanya mengajarkan untuk sekedar mengimaninya…bahwa kitab itu pernah turun….segitu saja…
    tapi anda membuka kitab agama yang tidak turun dari ALLAH SWT…apakah pantas membahasnya…TIDAK…

    Oh , begitu toh pemahaman anda. Tapi kalo pemahaman saya sih beda, sebab bagi saya Allah itu terlalu besar untuk di rangkum hanya ke dalam satu kitab yang anda sebut AQ itu. Jadi di manapun, jika bisa membawa saya lebih memahamiNya ya saya terima.😉

    Btw, apakah ada yang salah dengan artikel saya ini?

  16. 16 Fitra November 12, 2007 pukul 11:38 am

    Saya suka artikel ini, cerita pewayangan pada umumnya mengandung unsur filosofi tinggi yang penuh kebijakan…

  17. 17 syahbal November 12, 2007 pukul 8:53 pm

    @danalingga

    “Dan maaf saya sangat menolak soal lebih baik, sebab bagi saya di kitab manapun itu ada firman Tuhan yang sama. Jadi ndak ada firman yang lebih baik dari firman yang lain bukan?”

    ingat saat ini hanya ada satu kitab yang turun dari Allah yang masih asli.. hanya Al-quran.. Injil sudah hancur dirusak oleh para Paus…begitu pun Taurat..
    lalu bagaimana dengan kitab yang lain… anda tadi menyebut firman dari tuhan.. sekarang tanyakan pada umat selain islam,nashrani,dan yahudi… apakah mereka memiliki tuhan??? jwabanya TIDAK….

    “Oh , begitu toh pemahaman anda. Tapi kalo pemahaman saya sih beda, sebab bagi saya Allah itu terlalu besar untuk di rangkum hanya ke dalam satu kitab yang anda sebut AQ itu. Jadi di manapun, jika bisa membawa saya lebih memahamiNya ya saya terima.”

    yup begitulah pemahan saya… ups salah.. pemahaman yang saya pelajari dari pemahaman Rasulullah..
    maaf Allah terlalu besar.. lalu sebesar apakah Alla??? sehingga anda tidaj bisa memahaminya.. anda perlu tau.. bahwa untuk memelajari Allah anda hanya perlu membaca dan menmahami satu surat yaitu Al-ikhlas…hanya 4 ayat.. itupun sudah dikemukan oleh rasul.. gampang kan.. jadi tidak usah dipersulitlah…karena sifat sperti itulah yang menyebabkan Ahmad Musadeq mengemukakan bahwa dirinya nabi…wesss lah..

  18. 18 danalingga November 13, 2007 pukul 3:20 pm

    @ Fitra

    Iyah, saya juga suka.😀

    @syahbal

    ingat saat ini hanya ada satu kitab yang turun dari Allah yang masih asli.. hanya Al-quran.. Injil sudah hancur dirusak oleh para Paus…begitu pun Taurat..
    lalu bagaimana dengan kitab yang lain… anda tadi menyebut firman dari tuhan.. sekarang tanyakan pada umat selain islam,nashrani,dan yahudi… apakah mereka memiliki tuhan??? jwabanya TIDAK….

    Ah, yang bilang asli juga dari AQ itu sendiri alias logika silkular. Btw, anda kan nggak berani membaca kitab kitab yang lain, tapi kenapa anda bisa tahu bahwa mereka tidak memiliki Tuhan? Atau anda tidak membaca kitab mereka, tapi mempelajari ajaran mereka ?😆

    yup begitulah pemahan saya… ups salah.. pemahaman yang saya pelajari dari pemahaman Rasulullah..

    Ah, Jangankan pemahaman yang di pelajari dari Rasulullah, bahkan pemahaman yang di pelajari langsung dari Allah, itu tetap pemahaman anda. Mengerti kan?😉

    maaf Allah terlalu besar.. lalu sebesar apakah Alla??? sehingga anda tidaj bisa memahaminya.. anda perlu tau.. bahwa untuk memelajari Allah anda hanya perlu membaca dan menmahami satu surat yaitu Al-ikhlas…hanya 4 ayat.. itupun sudah dikemukan oleh rasul.. gampang kan.. jadi tidak usah dipersulitlah…karena sifat sperti itulah yang menyebabkan Ahmad Musadeq mengemukakan bahwa dirinya nabi…wesss lah..

    Logika anda nggak kebalik kan nih ya? Bukannya karena Ahmad Musadeq merasa sudah mengerti atau memahami Allah (yg kata anda cukup dari Al-Ikhlas hanya ayat 4 itu ) sehingga dia merasa dirinya Nabi?😆

  19. 19 syahbal November 15, 2007 pukul 2:21 pm

    @joyo

    allah ya’fad..jauhin saya diri najis membaca kitab orang” kafir…karena rasul ga ngajarin kita buat baca kitab orang laen…hanya ilmu ajah yang rasul ajarkan untuk di pelajari kita…cukup mengimanni ajah..gtu..

    tapi itu yang saya tahu..kalu mau tahu ALLAH cukup baca satu surat saja al-ikhlas..gtu..
    tapi terserah sih..maw gimana juga…
    semoga allah memberikan hidayah pada anda..amiiinn…

  20. 20 danalingga November 15, 2007 pukul 7:24 pm

    Eh, yang di atas itu bukan Joyo, jangan terlalu terpesonalah ama sosok Joyo itu.😛

    Btw, dan semoga Allah memberikan hidayah kepada anda, sehingga dapat mengenalnya dari manapun.😉

  21. 21 joyo November 15, 2007 pukul 8:01 pm

    ada apa..ada apa? kok nama saya disebut2.😀

    @sayhbal
    Sini tak kasih tau, dalam ajaran Buddha Gautama (sekitar abad 6 SM alias 1200 tahunan sebelum nabi Muhammad lahir dan jauh sblm surat al-ikhlas ada) ada istilah sbg berikut:

    Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang

    yang artinya:

    Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak

    Ungkapan ini dapat anda temukan dalam Sutta Pitaka (kitab ajaran Buddha).

    Hmmmm….saya jadi curiga, jangan2 jaman dulu sudah ada bajak membajak suatu hasil karya.

  22. 22 zal November 15, 2007 pukul 10:22 pm

    ::syahbal, takkan pernah kau lihat kebenaran, jika sisi salah saja yang kamu cari, begitu jelas yang menampilkan kebenaran, asik kau sanggah saja…, kebenaranmu ada tapi kau tak sadar…, padahal “pada setiap kaum ada rasul yang diutus, dengannya ada “kebenaran”” apa kamu tidak mengerti….

  23. 23 watonist November 16, 2007 pukul 8:42 am

    @joyo

    ada apa..ada apa? kok nama saya disebut2.

    eh … jangan-jangan sampeyan ini sejenis danyang blog yah …😀 begitu nama disebut langsung datang😀

  24. 24 syahbal November 16, 2007 pukul 1:08 pm

    @danalingga

    eh iya maaf..salah…biasa lah…suka error…sayakan bukan Allah…saya hanya manusia biasa…maaf yah..hehehehe…

    @joyo

    ehm..apakah anda yakin..kitab budha tersebut terbit saat ajarannya turun..yang saya tahu sih..kitabnya dibuat saat al-quran sudah turun dengan lengkap…tapi gtw juga seh…

    @zal

    masa yang salah harus saya diemin…yang bener baru didiemin…biar ga sombong…

    memang setiap kaum ada yang diutus…tapi harus saya tambahin…khusus buat Muhammad ar-rasulullah…dia bukan buat suatu kaum..tapi buat rahmatan lil alamin…gtu…

  25. 25 joyo November 17, 2007 pukul 1:22 am

    @syahbal

    ehm..apakah anda yakin..kitab budha tersebut terbit saat ajarannya turun..yang saya tahu sih..kitabnya dibuat saat al-quran sudah turun dengan lengkap…tapi gtw juga seh…

    Wah silahkan tanyakan para Bhikhu ato Bante, mereka pasti punya jawaban yang valid dan pasti dan tentu saja didukung dengan bukti2 otentik.
    ya…sama dengan anda ketika bilang AlQuran itu asli dan otentik.

    Dan bagi saya itu semua relatif, sebab kalian memiliki meme yang sejenis😀

  26. 27 syahbal November 17, 2007 pukul 11:57 am

    @joyo

    aduh ga deh..klo harus nanya ama si bikhu atau si bante..rumahnya mereka aja saya ga tau dimana…
    saya mah mau juga nanya am ustadz atau qur’an dan hadist…biar ga tersesat kemana-mana…sirothol mustaqim…

  27. 28 joyo November 17, 2007 pukul 12:12 pm

    @syahbal
    dari sekian milyar jumlah manusia di dunia ini…brapa orang yang mengakui alam sebagai tuhan???
    Ya sudah, silahkan tetap berada dalam tempurung Islam, AlQuran dan Ustandz anda.

    Dunia ini luas dan beraneka ragam lho, dan disitulah letak indahnya…surganya…

  28. 29 syahbal November 17, 2007 pukul 12:21 pm

    @joyo

    maksudnya…
    tempurung???
    y gpp seh…selama masih didunia…
    asal jangan diakhirat ntar ajah…sayang bgt
    hidup didunia cuma bntar…eh disia-sia in…

    luas…kata siapa….mang anda udah ngukur gtu…luasan mana dunia ama jupiter atau matahari…luasan mataharikan..jadi idup aja dimatahari..klo mempermasalahkan luas mah…

    emang islam ga luas apah….
    sekarang barat ajah udah takut ama islam….eh dari dulu ding….
    tapi sama alam…takut ga…ga lah…buktinya..hutan ancur..minyak mau abis…pake nuklir sembarangan…yah….

  29. 30 Kendengip Oktober 21, 2008 pukul 6:48 am

    Hey,
    I am, George
    there is a ton of stuff on here
    my site:

    http://o0biU2T.spaces.live.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: