Gamang

semburat sinar senja yang seharusnya indah
tak ternikmati saat darah membasuh bumi
tertumpah oleh dendam anak manusia bereliji
ketika memandang perbedaan sebagai kesesatan

senyum di bibir dari kepala yang terpenggal
menyapa hati yang hangus terbakar amarah
di antara manusia manusia yang menjadi Tuhan
menertawakan matinya kebenaran sejati

ah reliji,
kenapa harus menjadi alasan atas peristiwa?

40 Responses to “Gamang”


  1. 1 cK November 4, 2007 pukul 2:32 am

    tumben ngepost malem-malem..๐Ÿ˜•

    *OOT*

    duh…puisi lagi… *pusink*

  2. 2 almascatie November 4, 2007 pukul 3:01 am

    kadang kita akan terhanyut dalam pusaran dunia.. saat antar bertahan atawa menyerang sama-sama menjadi kesalahan, kebenaran macam apa yang akan kita teriakkan pada saat itu

  3. 3 hoek November 4, 2007 pukul 7:44 am

    “ah reliji,
    kenapa harus menjadi alasan atas peristiwa?”
    hmm..khas mas dana sangadh……..

  4. 4 Hanna November 4, 2007 pukul 8:33 am

    Puisi yang bagus. penuh makna. Puisi ini dah mengingatkan akan kebenaran. Kebenaran yang sebentar lagi mati oleh manusia yang menyebut dirinya Tuhan.

  5. 5 baliazura November 4, 2007 pukul 9:00 am

    selama ada orang-orang yang gelisah dengan jiwanya dan lapar akan hakekat Ilahi,kebenaran adalah harta karun yang terus diburu

    seperti empunya blog ini

  6. 6 zal November 4, 2007 pukul 11:17 am

    ::hei penonton, mohon maaf mohon ampun, lihat inul bergoyang… keh..keh..keh..
    kenapa yang lainnya berjoget…ya karena inul menggoyang…
    kenapa ada yg berantem, ya karena inul menggoyang,
    kenapa ada yg marah ya karena inul menggoyang
    inul…??? inul siapa…๐Ÿ˜†

  7. 7 syeeddath November 4, 2007 pukul 12:21 pm

    ah reliji.. kenapa harus jadi alasan atau perisiwa…
    Tanya kenapa?

  8. 9 extremusmilitis November 4, 2007 pukul 12:28 pm

    sesuatu yang meng-atas nama-kan religi adalah bodoh
    dan bodoh adalah yang meng-atas nama-kan religi
    aku tidak mau men-jadi bodoh, aku yakin kamu juga tidak Dan๐Ÿ˜‰

  9. 10 danalingga November 4, 2007 pukul 12:49 pm

    @cK

    Perasaan ngepostnya pagi, bukan malem deh. Ini ngepost sambil judi nonton bola.๐Ÿ˜€

    Puisi itu bagus buat kesehatan chik, percaya deh.๐Ÿ˜›

    @almascatie

    Mungkin saat itu kesalahan pun jadi kebenaran.๐Ÿ˜ฆ

    @ hoek

    Walah, khas ya? *berpikir untuk mematenkan*

    @Hanna

    Iya mbak, kira kira begitu deh.๐Ÿ˜€

    @baliazura

    Semoga berhasil dalam perburuan.๐Ÿ˜€

    @zal

    Eh, semua salah inul ternyata.๐Ÿ˜†

    @syeeddath

    iya, kenapa ya?

    @qzink666

    ikut menangis …

    @extremusmilitis

    Saya sih berusaha untuk tidak bodoh.:mrgreen:

  10. 11 calonorangtenarsedunia November 4, 2007 pukul 2:12 pm

    Ah, reliji itu alasan paling gampang diterima oleh kebanyakan umat beragama, Nak.

  11. 12 salamatahari November 4, 2007 pukul 2:33 pm

    hai Dana…
    ternyata bisa juga mengolah kata menjadi puisi ya.
    katanya niy, sangat sulit untuk menggambarkan sesuatu dengan sedikit kata…tapi dengan puisi, seseoarang dapat menggambar sejuta bentuk dengan sedikit kata-kata.
    kurasa bukan religi yang menjadi alasannya..tapi ketidakmampuan memaknai reliji itu yang menjadi masalah…
    hi..sotoy niy…

  12. 13 celotehsaya November 4, 2007 pukul 5:55 pm

    ah puisi….

    ah reliji….

    *korslet*

  13. 14 rozenesia November 4, 2007 pukul 6:03 pm

    Reliji itu stagnan, pak…
    Ndak boleh dibantah itu!!
    Apa kata pemuka reliji yo wis dengerin!!
    Kita tau apa sih???
    Yang ahli kan pemuka religi!!
    Kalau mau masuk surga yo wis ngikut aja!!

    *siul-siul*

  14. 15 danalingga November 4, 2007 pukul 6:46 pm

    @calonorangtenarsedunia

    Ah, ternyata karena lebih gampang toh.

    @salamatahari

    Hai Hanum,
    Iya, memang puisi itu dari kata kata toh. Lagian kadang puisi lebih bisa memuat lebih banyak dari tulisan biasa.๐Ÿ˜€

    Oh, jadi masalah di pemaknaan toh, pantesan aja reliji bisa menjadi alasan untuk membunuh.

    btw, sotoy itu afa sih?

    *kok serasa menulis surat nih*

    @celotehsaya

    Silahkan dinikmati ke korslet an nya.:mrgreen:

    @rozenesia

    nggih… nggih… *ngasah golok*

  15. 16 abee November 4, 2007 pukul 7:28 pm

    wah…..gara2 nabi palsunya al qiyadah neh….
    ah? salah?
    maap maap…….. ๐Ÿ˜†
    lam kenal :mrgreen:

  16. 17 'K, November 4, 2007 pukul 11:13 pm

    wah puisi
    *saingan baru lagi neh*
    btw, about reliji n puisi ini, aku jd inget lagunya Dreamtheater.cuma lupa judulnya,tar cari dulu๐Ÿ™‚

  17. 18 mad man November 5, 2007 pukul 1:19 am

    poem??
    kalo aku lebih suka bikin jokes

  18. 19 deKing November 5, 2007 pukul 4:31 am

    Oom Dana ini gimana sich, masak lupa kalau reliji itu merupakan komoditi bisnis dan politis yang paling ampuh?:mrgreen:

  19. 21 itikkecil November 5, 2007 pukul 9:26 am

    reliji…. alasan dari suatu peristiwa…
    atau sengaja dibuat untuk jadi alasan????

    *binun sendiri*

  20. 22 Sayap KU November 5, 2007 pukul 10:36 am

    Ini puisi judulnya gamang atau religi yah mas? hehehe..

    -Ade-

  21. 23 caplangโ„ข November 5, 2007 pukul 10:56 am

    makin banyak manusia yang jadi tuhan yak

  22. 24 salamatahari November 5, 2007 pukul 3:39 pm

    Sotoy itu daging sapi atau ayam yang diberi santan lalu dibumbui, berwarna kuning ke hijau-hijauan atau hijau kekuning2an, dimasak sampai dagingnya empuk.
    Jadi deh sotoy alias sok tahu.:D

  23. 25 sigid November 5, 2007 pukul 3:45 pm

    dendam anak manusia bereliji

    Turut prihatin

    *kayak politisi itu loh mas, ngucapin turut prihatin*

    Waduh, bukankah tidak selayaknya manusia bereliji itu memiliki dendam.
    Dan, seperti juga yang disenandungkan bait terakhir, kenapa yah๐Ÿ˜ฆ

  24. 26 ordinary November 5, 2007 pukul 4:55 pm

    gamang yaaa
    hehehehehee
    Selamat Menikmati Kegamangannya๐Ÿ˜‰

  25. 27 CY November 5, 2007 pukul 5:25 pm

    Yg candu relijius hobi belah kepala, yg candu kesesatan hobi “belah duren” … manusia.. manusia.. lebih baik kah abu2 daripada terlalu hitam atau terlalu putih …?? :mrgreen:
    *muntah akibat komen terlalu serius*

  26. 28 Sawali Tuhusetya November 5, 2007 pukul 6:07 pm

    Pilar hidup bersama dan damai di tengah perbedaan perlu diperkokoh agar orang tak gampang naik darah ketika pendapatnya tidak bisa diterima oleh kelompok lain. Yak, paling praktis ya perlu dimulai dari diri sendiri.

  27. 29 celotehsaya November 6, 2007 pukul 11:09 pm

    semburat sinar senja yang seharusnya indah
    tak ternikmati saat darah membasuh bumi
    tertumpah oleh dendam anak manusia bereliji
    ketika memandang perbedaan sebagai kesesatan

    menurut saya tergantung ya mas…kita sebagai siapa, kalo kita sebagai orang yang menumpahkan darah, mungkin aja kita justru menikmati dengan sudut pandang lain..

    senyum di bibir dari kepala yang terpenggal
    menyapa hati yang hangus terbakar amarah
    di antara manusia manusia yang menjadi Tuhan
    menertawakan matinya kebenaran sejati

    wah, secara saya nggak pernah jadi mayat…tapi wajar kalo mereka tersenyum miris selama menjadi korban…

    ah reliji,
    kenapa harus menjadi alasan atas peristiwa?

    simpel..hanya dengan satu kata reliji, kita bisa menggerakkan massa..apalagi sifat reliji yang dogmatik membuat massa nggak bisa membantah atau sekedar mempertanyakan

    *mengartikan sepotong-sepotong itu memang enak, apalagi bisa membuat salah persepsi*

    [propokator mode on]

  28. 30 extremusmilitis November 7, 2007 pukul 12:11 pm

    jangan gamang melulu euy, updateee….:mrgreen:

  29. 31 alex November 7, 2007 pukul 2:48 pm

    ah reliji,
    kenapa harus menjadi alasan atas peristiwa?

    Karena kadung dianggap lebih ampuh dari ekstasi buat pelipur lara? ๐Ÿ™„

  30. 32 joyo November 8, 2007 pukul 12:51 pm

    Sial, makan siangku jd mentah. Ngomong2 soal mkn siang, knp aq gak makn nasi thok?, knp aq makan nasi pake lauk, sayur, krupuk?. Ah tnyata perbedaan itu kenikmatan.

  31. 33 zal November 8, 2007 pukul 1:10 pm

    ::joyo, kukira kamu lagi mutih…

  32. 34 joyo November 8, 2007 pukul 5:45 pm

    @zal
    wah masa2 itu sudah blalu mas. Skr udah nggak ada bedanya lg hitam..putih..smuanya satu tak tbatas dan meliputi. Ah jd bingung sndiri.

  33. 35 Resta November 8, 2007 pukul 11:50 pm

    maksudnya agama tidak boleh dibela?

  34. 36 joyo November 9, 2007 pukul 10:43 am

    Untuk apa agama d bela?

  35. 37 danalingga November 9, 2007 pukul 2:58 pm

    @abee

    Yah, itu termasuk kejadian yang memicu.๐Ÿ˜‰

    @’K,

    Iya puisi pak jendral.๐Ÿ˜›
    Tafi sumpeh saya ndak berniat nyaingi kok.

    @mad man

    Yah, emang tergantung kesukaan sih.

    @deKing

    Maklum Pak De, saya kan orang Indonesia, di mana katanya rakyat Indonesia itu rakyat yang paling pelupa. Terimakasih sudah diingatkan kalo ternyata agama itu buat politik dan bisnis.:mrgreen:

    @venus

    Yup, peace deh.๐Ÿ˜€

    @itikkecil

    Wah lihat mbak ini bingung, saya jadi ikut bingung nih. *mikir*

    @Sayap KU

    Judulnya gamang kok, sumpeh deh.๐Ÿ˜†

    @caplangโ„ข

    Mungkin karena jadi Tuhan itu enak, bisa semaunya sendiri.๐Ÿ˜€

    @salamatahari

    Jika begitu saya juga sotoy dunk ah…๐Ÿ˜‰

    @sigid

    Mungkin tergantung apa relijinya.๐Ÿ˜€

    @ ordinary

    Iya, lagi gamang liat liat manusia merasa jadi Tuhan.:mrgreen:

    @CY

    Kalo kata orang bijak sih, yang seimbang itu memang baik.๐Ÿ˜‰

    @Sawali Tuhusetya

    Iya pak, memang segala sesuatu itu seharusnya di mulai dari diri sendiri dulu.๐Ÿ˜€

    @celotehsaya

    menurut saya tergantung ya masโ€ฆkita sebagai siapa, kalo kita sebagai orang yang menumpahkan darah, mungkin aja kita justru menikmati dengan sudut pandang lain..

    Pastinya sih memang menikmati, sebab jika tidak menikmati ngapain menumpahkan darah bukan?

    wah, secara saya nggak pernah jadi mayatโ€ฆtapi wajar kalo mereka tersenyum miris selama menjadi korbanโ€ฆ

    Tafi senyumnya nggak miris kok, malah senyum damai.

    simpel..hanya dengan satu kata reliji, kita bisa menggerakkan massa..apalagi sifat reliji yang dogmatik membuat massa nggak bisa membantah atau sekedar mempertanyakan

    Sepertinya memang begitu fungsinya reliji. Sebenarnya bukan ngga bisa membantah atau mempertanyakan, tapi lebih tepat di sebut tidak berani.

    *mengartikan sepotong-sepotong itu memang enak, apalagi bisa membuat salah persepsi*

    Memang sangat nikmat tiada tara.๐Ÿ˜›

    @extremusmilitis

    Soale lagi keluar kota bro, ini baru pulang.:mrgreen:

    @alex

    Kenyataannya memang sangat ampuh tuh.

    @joyo

    Seharusnya memang nikmat.๐Ÿ˜€

    @Resta

    Kalo bagi saya, jika sesuatu itu perlu di bela maka itu pasti bukan agama.๐Ÿ˜‰

  36. 38 saya November 14, 2007 pukul 7:58 pm

    no no no

    Sepertinya memang begitu fungsinya reliji. Sebenarnya bukan ngga bisa membantah atau mempertanyakan, tapi lebih tepat di sebut tidak berani

    berani juga kalo jawabannya “Karena Dia memerintahkan / melarang hal seperti itu” kita bisa apa…?? nggak bisa dipertanyakan…karena itu disebut dogma…

  37. 39 gi males login November 16, 2007 pukul 7:28 am

    Ya,jika di jawab begitu tanya lagi:

    Kok bisa tahu itu perintah/larangan dari Tuhan? Mang Tuhan ngasih tahu langsung sama kamu?

    Begitu? Kalo berani bertanya sih selalu ada pertanyaan lanjutan.


  1. 1 Blog, Puisi dan Sajak « extremusmilitis imperialism Lacak balik pada November 5, 2007 pukul 9:54 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: