Bersyahadatnya Jenar

Jenar yang bulan depan akan genap berusia 14 tahun, tampak lari terbirit birit. Di belakangnya bagai terbang ustad Jaga mengejar dengan mengacung-ngacungkan sapu lidi sembari mengangkat ujung sarungnya. Si Jenar lari menyelusup lewat semak perdu, menembus pagar pesantren dari lobang kecil di pojok. Ustad Jaga yang kehilangan jejak, hanya bisa termangu dengan kemarahan yang tidak tersalurkan, menggumpal dalam nafas yang menderu. Matanya liar memandang ke segala penjuru, mencari Jenar yang dalam anggapannya sungguh seorang bocah yang sangat keterlaluan.

Teringat bahwa Jenar adalah titipan kepadanya untuk di ajarkan bersyahadat. Hal ini sesuai dengan budaya tempat dari mana Jenar berasal, di mana seseorang itu harus bersyahadat walau di lahirkan dari orang tua yang beragama Islam. Yang merupakan wujud kepercayaan mereka bahwa setiap anak manusia harus beragama secara sadar, bukan sekedar ikut-ikutan. Tapi ternyata membuat Jenar mengucapkan syahadat sangat tidak mudah, kalau tidak mau di sebut sangat sulit. Sebab ketika si Jenar di suruh untuk mengucapkan kalimat syahadat, maka dengan tegas Jenar selalu menolak.

Dan ketika ustad Jaga menanyakan apa alasan Jenar hingga menolak bersyahadat. Dan ternyata Jenar tidak mau jika hanya sekedar mengucapkan kalimat syahadat. Jenar malahan minta agar Tuhan dan Muhammad itu di hadirkan di depannya agar dia bisa menilai, apa layak bersaksi untuk mereka. Tentu saja ustad Jaga menjadi pusing tujuh keliling, sebab dia sendiri belum pernah melihat Beliau Beliau itu. Dan di puncak kepusingannya, maka amarahlah sebagai pelampiasan, dan bergegas dia mengambil sapu lidi, senjata kesayangannya. Jenar yang memang sangat pintar dalam membaca situasi, tanpa basa-basi lagi langsung menyelamatkan diri dengan lari ke luar, mendahului Ustad Jaga dalam mencapai sapu lidi. Dan akhirnya terjadilah kejar-kejaran di latar belakang indahnya langit senja yang memerah itu.

Jenarpun tiba di balik pagar pesantren yang terasa bagai penjara. Dia berjalan santai sembari mulutnya melantunkan siulan sesuka hati, melintasi jalan setapak di antara bunga bunga yang sepertinya mekar menyambut langkah . Dengan pasti langkah kaki Jenar akhirnya membawa ke sebuah pohon besar di tengah bukit. Pohon di mana dia merasa damai, tanpa ada paksaan dari ustad Jaga. Di bawah pohon itu dia merasa bebas menyapa alam, bersyahadat menurut caranya. Yakni bersatu dengan simfoni alam, dan bukankah simfoni alam itu merupakan firman Tuhan juga? Walau sih, memang semua itu tidak di sadari oleh Jenar sendiri, yang dia sadari adalah ada damai yang tak terkatakan di bawah pohon besar itu. Dan Jenar sangat suka itu.

Apalagi ketika seorang gadis cantik, yang dia panggil kakak menyapa. Ah , Jenar juga tidak tahu bahwa kakak cantik itu adalah bidadari surga yang menyapa jiwa. Yang dia tahu bahwa rasa damai itu menjadi kesenangan ketika si kakak cantik menemaninya berbincang bincang. Walau kalo lebih di amati ternyata si kakak cantik hanya mendengar dengan sabar segala keluh kesah Jenar, di sertai senyum di bibir ranum yang sangat manis itu.

Jenar bercerita bagaimana ustad Jaga memaksa dia untuk mengucapkan kalimat syahadat. Dan bagaimana dia tidak mau, karena merasa belum bisa menyaksikan yang harus di saksikan itu. Dan bagaimana ustad Jaga jadi naik pitam, dan mengejarnya dengan bersenjata sapu lidi. Kakak cantik tersenyum manis, dan mengusap ngusap kepala Jenar, sembari berkata : ” ah, Jenar bukankah kau telah menyaksikanNya di alam dan di diri kakak? ” . Jenar menatap wajah kakak cantik, dan secercah kesadaran akan penyaksiannya selama ini hadir dalam kalbu. Terdendanglah kalimat syahadat menyatu dengan simfoni alam. Dan perbincangan Jenar, kakak cantik, dan alam terus berlanjut tanpa henti.

81 Responses to “Bersyahadatnya Jenar”


  1. 1 Herianto Desember 10, 2007 pukul 2:22 pm

    ———————–
    Haruskah kita mengulang kisah Isa as sampai “tersalib” ?
    Haruskah kita mengulang kisah Ibrahim as dalam mencari Tuhan ?
    Haruskah kita mengulang pengalaman Muhammad saw untuk mendapatkan wahyu ?
    Siapa kita ?
    ———————–

    Benar dong, bahwa syahadat (sumpah/janji/ikrar) itu akan sia2 jika tanpa bukti. Tapi bukan keberadaan-NYA yg harus berbukti dalam persaksian, tetapi kebenaran janji kita (tiada yg diper-ilah illa Dia, dan Muhammad utusannya) butuh pembuktian (amal) yang akan mempersaksikan kita akan-NYA.

    Wallau a’lam.

    ————-
    Kecuali istilah syahadat, kayaknya diskusi kita sedikit OOT dari esensi tulisan Dana…😆
    OOT sedikit gak papa ya Dana … please dong ah.🙂

  2. 2 zal Desember 10, 2007 pukul 6:16 pm

    ::bukankah Para Beliau itu contoh…???

  3. 3 joyo Desember 10, 2007 pukul 8:33 pm

    saya melihat tuhan pada/melalui alam, salah kah saya?
    dana ikutan OOT y

  4. 4 Herianto Desember 10, 2007 pukul 9:06 pm

    Tapi aku tak mau sampai disalib segala [walau cuma silauan mata], tak sudi disembelih [walau kiasan] (Ismail as), tak sudi coba2 menyembah bulan-matahari [walau perkisahan], tak sudi bertapa 40 hari di gua dan kegelapan [walau beliau itu uswah].
    Adakah dalil naqli untuk alasan ketidak-mau-an ku itu ?
    Cukupkah dengan alasan hanya karena aku bukan utusan khusus-NYA itu, …
    ——————–
    BTW, adakah zal akan melakukan itu semua ?
    ——————–
    ::bukankah Para Beliau itu contoh…???
    Mentok juga dipertanyaan ini… ? Sepertinya kita perlu referensi lain nih zal.😀
    Yang mau sharing masalah ini mohon pencerahannya…

    #Atau jangan2 si “bandel” jenar punya jawabannya …😆

  5. 5 danalingga Desember 10, 2007 pukul 9:35 pm

    @teman-teman yang lagi diskusi

    Kalo sepemahaman saya begini:

    Bahwa cerita tentang perjalanan nabi dan kekasih Allah yang banyak itu (terangkum dalam Kitab-kitab yang katanya suci itu), hanyalah sebagai cerita bagi kita. Dan jika kita beruntung maka bisa menjadi petunjuk bagi kita untuk menempuh perjalanan sendiri.

    Jadi perjalanan itu harus kita lakukan sendiri, baru sah kita telah berjalan dan bisa sampai. Tidak bisa hanya berdasarkan contekan dari perjalanan orang lain, lantas kita mengklaim telah sampai. Soal kita memanfaatkan petunjuk-petunjuk dari orang yang telah lebih dulu menempuh jalan yang sama, itu lain soal. Dan berdasarkan pengalaman saya, tiap orang sebenarnya punya jalan masing-masing yang unik. Walau misalnya sama-sama menggunakan petunjuk yang sudah ada, tetap saja tidak bisa sama persis dengan jalan orang lain.

    Jadi sekali lagi bukan soal :

    Tapi aku tak mau sampai disalib segala [walau cuma silauan mata], tak sudi disembelih [walau kiasan] (Ismail as), tak sudi coba2 menyembah bulan-matahari [walau perkisahan], tak sudi bertapa 40 hari di gua dan kegelapan [walau beliau itu uswah].

    Melainkan soal kita harus menempuh jalan kita masing-masing, dan mulai berjalan. Sebab jika sibuk menganalisa hasil dan cara jalan orang lain, kapan kita jalannya?:mrgreen:

  6. 6 zal Desember 10, 2007 pukul 11:25 pm

    ::hei dan, aku lagi ikutan modeling, apa aku engga boleh lihat cara orang lain berjalan…😆

    ::herianto, sebenarnya diskusi kita sekedar cerita saja, maafkan jika ada kesan ngotot, ya…,

  7. 7 abah dedhot Desember 11, 2007 pukul 1:28 am

    keberadaan nabi-nabi yang dikisahkan dalam Al Qur’anul Karim (yang di kertas), hanya ada di “alam fikiran” kita. kita sepakat bahwa… dahulu kala, tahun XXX SM ada orang yang namanya nabi X as. mengalami peristiwa begini, begini, begini dst. kok jadi kaya buku sejarah…??? padahal lebih lengkap & lebih seru buku sejarah Indonesia, cerita tentang raja X, tahun XXX SM dengan peristiwa dsb. dsb. dsb.

    Tempatkanlah AQ sebagai pedoman hidup / petunjuk / Huda lil mutaqien. AQ sebagai “petunjuk” hanya berlaku untuk kalangan mutaqiin. kalo ngga mutaqiin AQ itu menjadi “penyesat”, jadi lebih baik pake kitab/manual book yang lain aja, jangan dipaksakan pake AQ, pasti lieur…!!!

    @jenar
    Bersaksilah kepada DIRI, dahulu… sudahkah kita memakai jubah AL MUTAQIIN…??? Kalo sudah barsaksi kepada DIRI bersaksilah kepada RASULULAH. kerena hanya RASULULLAH yang bersaksi kepada ALLAH.
    Kemanapun engkau berpaling, disitulah wajahNYA…itu bahasa RASULULLAH, bukan bahasa DIRInya jenar.
    man arafan nasfsahu faqod afaran rabahu.
    DIRI jenar mustahil bisa bersaksi kepada ALLAH, MUSTAHIL yang terbatas menjangkau yang Maha Tanpa Batas.
    Kenali DIRImu dengan cara menempuh jalan orang-orang yang DIA ridhoi, jalan manusia-manusia pilihan, yang menurut dongeng / cerita / katanya… jalannya ngga ada yang enak, jalan mendaki, terjal punuh dengan kerikil tajam… rasakan sediri tajamnya kerikil itu, tanggalkan kedua terompahmu (Musa as.) pelindung dunia & akhirat selain DIA.
    pancunglah kecintaannmu pada dunia (Ibrahim as. & Ismail as.), bunuhlah sifat kerdilmu / kekanak-kanakan (Musa as. & Khidir as.),
    Salib nafsuMU / DIRImu (Isa as.) dsb. dsb.
    Jalan-jalan itu harus kau tempuh, kau alami, rasakan sendiri (bukan katanya…) sehingga DIRI itu hancur, sirna, tanpa bekas… yang ADA hanya DIA & RASUL NYA.
    Cukup jelaskah, hai jenar…???
    Gara-gara kamu suhu zal & suhu herianto… pada pegel jarinya.😆
    DASAR BOCAH BANDEL, bikin repot aja…

  8. 8 abah dedhot Desember 11, 2007 pukul 1:42 am

    @jenar
    eee… masih kurang juga…???
    Hinakan DIRImua dalam pendakian (Yunus as, Ayub as), amati perjalananmu (alam) dengan seksama karena itu adalah perbuatanNYA, yang diliputi oleh citraNYA (Sulaiman as.), perhalus “rasa”mu dalam pengamatan itu (Yusuf as.) karena DIA Al Latief.
    dsb. dsb. dsb.
    Setelah kau lalui jalan itu, engkau akan memahami kesempurnaanNYA (Muhammad saw.)
    tuh.. ah. Semoga kamu ngga bandel lagi…😆

  9. 9 zal Desember 11, 2007 pukul 2:01 am

    ::abah, buka kartu, lho koq AS semua…😆

  10. 10 abah dedhot Desember 11, 2007 pukul 12:53 pm

    @mas zal
    Itulah kepiawaian mas zal dalam membuka kartu…
    tapi kartu joker masih abah umpetin…😆
    salam

  11. 11 zal Desember 11, 2007 pukul 4:52 pm

    ::keh..keh..penyeimbang segala kartu ya bah.. terendah dan tertinggi..😆

  12. 12 danalingga Desember 11, 2007 pukul 6:35 pm

    @zal

    Wah, kalo modelling sih, afa endak di kata coba?😆

    @abah dedhot

    Wah, mulai di buka nih sepertinya. Tapi kalo mau jenar mengerti mungkin kartu jokernya juga harus di buka bah.:mrgreen:

  13. 13 Herianto Desember 12, 2007 pukul 12:05 pm

    @abah dedhotT
    Tuntas.😀

    —————
    Kok jadi pada maen kartu… Taruhan ? 😆

  14. 14 abah dedhot Desember 12, 2007 pukul 2:02 pm

    @jenar
    setelah abah amati “kartu joker”… ternyata kartu itu udah ditunjukin sama mas dana… kartu joker itu adalah perjalanan “pribadi” (bukan diri…!). perjalanan yang mencakup keseluruhan perjalanan orang-orang yang DIA ridhoi (yang diceritain/didongengkan dalam AQ Karim). Kartu ini akan muncul saat jalan itu sudah dilalui, kartu itu adanya di “rasa” & menjadi sir / rahasia pribadi.
    pada prakteknya/syariatnya jalan ini sebanyak bintang dilangit. Jalani salah satu yang sesuai dengan Pribadi mu.
    Itulah kartu JOKER, kartu yang sudah ada pada manusia, tinggal ditongolin aja… ngga usah takut, ngga usah malu, ngga usah ragu-ragu… Jangan ikut-ikutan, jangan niru-niru karena Pribadi mu itu citra SANG MAHA CREATIF, SANG MAHA UNIQUE.
    Kalo kata orang ranca ekek… be yourself, tapi self bukan diri, self adalah pribadi.
    Bersyahadatlah dengan PRIBADImu.
    semoga sekarang jenar mau mengerti… ngerti yaa😆
    salam

  15. 15 danalingga Desember 12, 2007 pukul 6:38 pm

    Bah, bukanya memang perjalanan pribadi yang harus di jalani sendiri? Alias nggak bisa di wakilkan?😆

  16. 16 zal Desember 12, 2007 pukul 6:49 pm

    ::boleh sih numpang,…, yok ikut ndak… ooh kau bawak mobil sendiri…ya udah…aku jalan ya..😆

  17. 17 abah dedhot Desember 12, 2007 pukul 9:42 pm

    @mas dana
    yup… betul mas. karena yang faham hanya pribadi… tapi banyak yang ngga PD mas. suka ngelakonin pribadi orang lain yang dianggapnya sukses / bagus… itu yang sering tersesat… keblinger…

    @jenar
    kok… koe meneng wae… malah mas dana yang terus comment…???

    @mas zal
    mobilnya sering di service ngga (terawat)…??? udah periksa ban…???
    rem…??? BBM hi oktane…??? mesin DOHC / V6 / VVTi…??? perhatikan terus rambu-rambu dijalan… jangan lupa bawa peta untuk faham tujuan dan makanan kecil buat di jalan. SIM dompet jangan ketinggalan. Yang bagus sih jangan nyetir sendiri, duduk di belakang sambil mengagumi pemandangan… biarkan pribadi yang nyetir, DIA pakarnya tuh.😆

  18. 18 zal Desember 13, 2007 pukul 3:20 am

    ::saya engga ngerti tuh bah…, bahkan juga engga tau ada yang nyupirin engga ya… sebab engga ada ruang cockpitnya, eh jalan sendiri…ajaib ya…😆

  19. 19 kurtubi Desember 13, 2007 pukul 9:48 pm

    Jenar ternyata sorang santri yang “mbeling” tapi kritis, mempertanyakan mainstream… adakah kisah2 selanjutnya…🙂
    *menunggu on*

  20. 20 danalingga Desember 13, 2007 pukul 11:04 pm

    @abah dedhot

    Jenarnya mungkin dah mengerti tentang hal ini bah. Dan sekarang sedang kontemplasi di kasus lainnya, entar tak ceritain lagi di blog ini deh.:mrgreen:

    @kurtubi

    Jenarnya lagi kontemplasi, mungkin bisa menjadi cerita lagi.:mrgreen:

  21. 21 Anti KApiTalis Januari 9, 2008 pukul 12:57 pm

    kemudian sang kakak bidadari cantik tak sabar menanti djenar dalam kebimbangan, dalam teruk yang mengakar hebat di bawah pohon beringin yang tampak sudah memurba…kembali jenar berpikir dalam kekritisanya,..jenar kembali mengumbar maklumat yang pernah tertancap di otaknya dan begitu teringat jenar bersuara..”didesa tempat ayah tinggal banyak orang pasti akan menaruh sesaji di bawah pohon beringin ini….” dalam perenungan dalamnya malam itu kembali jenar berkata dalam alam sadarnya.”apakah mungkin tuhan itu seperti pohon besar ini?? yang tubuhnya bisa tumbang terkena gergaji mesin pekerja pembalakan majikan pemeganng HPH?? tapi mengapa sejak nenek moyang pohon seperti ini disucikan??” kembali pertanyaan menyeruak dalam hatinya. ” Atau..tuhan itu seperti menhir yang disembah pada jaman purba kala??…ataukah mewujud seperti pepatung???”..begitu banyak pertanyaan membabi buta dalam akalnya..”oh…ternyata memang dari sejak dulu menyucikan sesuatu itu naluriah dalam manusia, karena emang manusia itu lemah dan tak berdaya, tapi apakah benda benda tadi layak disucikan???”
    kaloupun layak, apakah tuhan pohon tadi menyuruh menyembah dia dengan cara seperti itu??” umpat jenar tak masuk akal. ternyata nenek moyang mengarang sendiri tata cara ibadah. dan stelah beberapa hari merenung di rimbunan pohon beringin akhirnya jenar mendapat jawaban mencerahkan…”oh ya, tuhan itu ada dan wajib adanya…keteraturan siang dan malam,..tumbuhan yang gak abdi, batu yang bisa hancur….itu tak layak sebagai tuhan. tuhan hrus tak menyerupai iotu semua..itu mahluk lemah tak berdaya. dan bagaimana caranya aku menyembah tuhan???aku teringat akan adanya nabi…..sang penyampai bgmn tuhan mau disembah.jenar pun pulang ke pesantren dengan senyum bahagya…………)_

  22. 22 danalingga Januari 9, 2008 pukul 11:02 pm

    Tapi tiba-tiba jenar tersadar, bahwa nabi telah mati, dan kenabian telah di tutup.😆

  23. 23 Anti KApiTalis Januari 10, 2008 pukul 11:11 pm

    Sesampai di pesantren jenar kembali membuka Al quran..ketika kembali membuka mushaf suci itu menyeruak kembali rangkaian kekata didalm benaknya…

    Benarkah Al Quran itu firman ALLAH dsang pencipta manusia???

    tggu kelanjutan jenar menemukan kebenaran…
    gwe lagi sakit perut..ato klik aja di http://antikapitalis.wordpress.com

  24. 24 danalingga Januari 10, 2008 pukul 11:21 pm

    Lah katanya dari nabi, sekarang kok jadi dari lembaran kertas yang di sebut AQ .😆

  25. 25 Anti KApiTalis Januari 10, 2008 pukul 11:31 pm

    apakah Al Quran ini buatan orang orang ARAB?
    atau Buatan Muhammad dan para sahabatnya?

  26. 26 danalingga Januari 10, 2008 pukul 11:33 pm

    Taruhlah itu buatan Allah sekalian. Tapi tetap bukan nabi bukan?😆

  27. 27 Anti KApiTalis Januari 10, 2008 pukul 11:35 pm

    jenar kembali memicing micingkan matanya, sempat kepikiran buatan orang arab karena memang bahasa Alquran bhs ARAB………tapi kok dalam Alquran malah nantangin orang orang arab untuk membuat tandingan alquran…surat>>>gak mampu>>>>ayat>>>>malah ngelantur??
    Lalu benarkah muhammad??sebab muhammadlah yang pertama kali mempopulerkan???jenar pusing sambil menggaruk garuk kepalanya yang gak gatal????

  28. 29 johnjaiz Januari 12, 2008 pukul 9:13 pm

    wah…ternyata banyak kisah2 yang Antique dan Unieque dan memang kalo tidak dibagi2 jadi kepenuhan sendiri….hi..hi..hi

  29. 30 danalingga Januari 13, 2008 pukul 2:14 am

    Iyah, bisa bisa meledak entar.😀


  1. 1 Islamkah Ini? AQ 4:3 « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Januari 8, 2008 pukul 8:08 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: