KehendakNya

Ketika kehendakku tak tercapai
kuhibur diri dengan kehendakNya
Tapi apa Dia punya kehendak?

Ketika inginku kandas tak berbekas
kuhibur diri dengan inginNya
Tapi apa Dia punya ingin?

Hiburan apa lagikah yang tesisa bagi diri?
Ketika Dia tak ber-kehendak dan ber-ingin.

41 Responses to “KehendakNya”


  1. 1 goop Desember 17, 2007 pukul 7:23 pm

    Wuah..
    seperti berada di ujung jalan buntu,
    dan tak ada tempat untuk berputar atau kembali…
    Entah, bagaimana selanjutnya…
    Mohon, bila sudah ditemukan hiburan yang masih tersisa, mungkin tersembunyi, kabarkan kepada saya, yang tergelitik pula untuk bertanya…
    Terima Kasih

  2. 2 Sawali Tuhusetya Desember 17, 2007 pukul 7:55 pm

    Pusi Mas Dana makin menunjukkan betapa manusia hanyalah makhluk yang dhaif dan tak berdaya. Tuhan tak pernah berkurang kekuasaan-Nya aeandainya banyak hamba-Nya yang tersesat jalan. Tapi sekaligus juga menjadi bukti, manusia punya kehendak dan keinginan pun belum tentu Tuhan mengabulkan? Nah, apalagi yang tidak mempunyai kehendak dan keinginan, heheheheheπŸ˜†

  3. 3 Hoek Soegirang Desember 17, 2007 pukul 7:58 pm

    “Hiburan apa lagikah yang tesisa bagi diri?
    Ketika Dia tak ber-kehendak dan ber-ingin.”
    hmm…mbaca fostingan saia
    itu sih kata sebagian bloger…
    tulisan saia menghibur lho?
    *fromosi*

  4. 4 Kopral Geddoe Desember 17, 2007 pukul 8:10 pm

    *mencoba mencerna*

    Apakah ini perkara arogansi manusia menginterpretasi Tuhan dan alam semesta?😦

    *tercerahken*

  5. 6 cK Desember 17, 2007 pukul 11:51 pm

    waduh dan, saya juga bingung apa yang diinginkan oleh-Nya…😐

  6. 7 sitijenang Desember 18, 2007 pukul 12:03 am

    Eeeee..
    Jamane wus ngguling
    Gagih-gagiha padha eling
    Sejatine wus akeh pepiling
    Aja tansah milang-miling
    Mangko mundhak dadi aling-aling
    Ati-ati lho kena tempiling…

    he he he…πŸ˜€

  7. 8 Ersis WA Desember 18, 2007 pukul 12:17 am

    Ketiga tegun menegur di ujung kalam
    menjauh danau rasa
    bersama desau angin
    terbang menuju penantian

    Ketika ingin menumpang kalimah
    kepasrahan adalah kesejatian
    menuju keinginNya
    hanya padaNya

    lalu apa lagi yang tersisa
    semua milikNya

  8. 9 Mrs. 49 Lagi di Lab Desember 18, 2007 pukul 2:19 am

    Ketika Dia tak ber-kehendak dan tak Ber-ingin?

    sesungguhnya, itulah kehendak-Nya
    dan itu pulalah ingin-Nya
    πŸ˜‰

  9. 10 Mrs. 49 Lagi di Lab Desember 18, 2007 pukul 2:30 am

    *😯 kaget, kok komennya kepotong*

    eh, komen blom selse udah kepencet enter…
    ampun suhu Dana…koneksi di t4 saya segitu cepatnya, hingga tak sempat distop…
    *menjura dalam dalam*

    —————————

    Jadi, hiburlah dengan senantiasa mencintainya. karena mencintainya akan membuatmu mengerti dan memahaminya, hingga tak perlu lagi kau merasa bersedih dan mencari hiburan.

  10. 11 deKing yang biasa2 saja Desember 18, 2007 pukul 3:43 am

    Waduch kali ini benar2 spicles saya …
    Begini saja … kenapa kita mesti menghibur diri ketika kehendak dan ingin kita kandas?
    Seandainya kita tidak menghibur diri maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan dan hampa seandainya Dia sudah tidak ber-kehendak dan ber-ingin

  11. 12 daeng limpo Desember 18, 2007 pukul 9:11 am

    seperti berada diruang hampa, tanpa tekanan.

  12. 13 abah dedhot Desember 18, 2007 pukul 9:30 am

    “Dia” ini siapa yaa…??? bingung… euy ah.
    abah belum tahu “Dia” itu siapa, jadi belum bisa comment.

  13. 14 extremusmilitis Desember 18, 2007 pukul 10:19 am

    Semua akan kosong Dan. Dalam ke-kosong-an itu kita harus per-caya untuk meminta-Nya ber-Ingin dan ber-Kehendak. Semoga Dia mau.πŸ™„

  14. 15 tukangkopi Desember 18, 2007 pukul 11:19 am

    .
    .
    .
    udah setengah jam mikir buat ngasih komen. tapi bingung…terlalu dalam buat diartikan tapi juga terlalu dekat dengan keseharian..

  15. 16 qzink666 Desember 18, 2007 pukul 11:53 am

    Ketika segalanya terlalu mudah di dapatkan hanya dgn kun fayakun, maka kehendak dan keinginan pun sirna dgn sendirinya..

  16. 17 Sayap KU Desember 18, 2007 pukul 12:05 pm

    Bukankah semua tapak yang kita buat adalah KEHENDAKNYA Mas?

    -Ade-

  17. 18 Sayap KU Desember 18, 2007 pukul 12:06 pm

    Dan katanya pada saat kita kembali nanti TIDAK ada lagi kesedihan, tidak ada lagi kesulitan…

    -Ade-

  18. 19 rozenesia Desember 18, 2007 pukul 12:10 pm

    Interpretasi seenaknya dari seorang rozenesia: “Howeee? Coba mengintrepretasikan Tuhan dan konsep KeTuhanan kah?”😯

  19. 20 Sarah Desember 18, 2007 pukul 2:15 pm

    Hemm..aku juga bingung kirakira apa yaa..

  20. 21 ordinary Desember 18, 2007 pukul 5:05 pm

    πŸ™‚
    ada di titik jenuh om??

  21. 22 zal Desember 18, 2007 pukul 6:05 pm

    Mustahil Sang Kehendak tiada,
    Jika tiada, maka semua sirna,
    keinginan, hanya seupil kosong kerapuhan, bukan pada proporsiNYA.
    Jika keinginan menjadi Kehendak rusak binasa tak tentu arah.
    namun jika kehendak menjadi keinginan, maka merah menyala berbentuk merah delima.

    hendak kemana tujuanmu, jika cuti massal tiba…

    traveling yuuuk…πŸ˜†

  22. 23 brainstorm Desember 18, 2007 pukul 6:18 pm

    apa Dia pernah merasa bosan ga’ ya…

  23. 24 bedh Desember 18, 2007 pukul 7:35 pm

    tadinya saya pikir kekosongan dan kehampaan adalah diri.
    jika Dia meminta diri untuk merasa sendiri takkan disuruhnya diri berlari menghampiri.

    maafkan saya kalau tidak setuju kehampaan merupakan pencerahan, karna saya rasa hasrat dibutuhkan untuk buat diri berlari.

    tapi kalo malah jadi nggak nyambung maap yah…, soalnya diri ini masih suka nggak tau diri huhuhuhuhuhu

  24. 25 danalingga Desember 18, 2007 pukul 9:58 pm

    @goop
    :mrgreen:

    Sebenarnya bukan jalan buntu sih paman, tapi jalan yang kelihatannya buntu.:mrgreen:
    Ok, entar hiburannya saya kabari deh, atau paman dah menemukan hiburan duluan nih?

    @Sawali Tuhusetya

    Yah, semoga masih berkehendak dan berkeinginan pak.πŸ˜€

    @Hoek Soegirang

    Njrit ada yang narsis.πŸ˜›
    Tafi ku akui memang blogmu girang sangadh hoek. Tafi jika Tuhan aja sudah tidak dapat menghibur, afa blogmu sanggup?πŸ˜‰

    @Kopral Geddoe

    Kurang lebih begitu bro.:mrgreen:

    @joyo

    Singkat tapi padat.πŸ˜›

    @cK

    Makanya chik, cari tahu dengan jarimu.πŸ˜‰

    @sitijenang

    Opo iki rek?πŸ˜•

    @Ersis WA

    Jika sudah berserah sepenuhnya
    tiada yang tersisa saya kira
    bahkan pertanyaanpun tak tersisa.

    Mrs. 49 Lagi di Lab

    Bisa jadi… bisa jadi …. *kontemplasi*

    @deKing yang biasa2 saja

    Lah, kok pak de bisa menangkap permasalahan yang melatar-belakangi puisi ini ya? *curiga tingkat tinggi*

    @daeng limpo

    ruang hampa yang seharusnya tidak ada apa apa.

    @abah dedhot

    Terserah abah membacanya aja deh.:mrgreen:

    @extremusmilitis

    Layakkah kita meminta?
    Walau saat itu dalam kekosongan.

    @tukangkopi

    Walah, saya juga jadi ikut bingung nih bro.

    @qzink666

    Jika kun fayakun maka di manakah seninya? Begitu ya bro?

    @Sayap KU

    Semua tapak menjadi kehendakNya jika kita mengetahui kehendakNya dan menjalaniNya. Nah, permasalahannya adalah apa kita sudah tahu?

    Dan katanya pada saat kita kembali nanti TIDAK ada lagi kesedihan, tidak ada lagi kesulitan…

    Betul sekali, tapi permasalahannya apakah kita bisa kembali kepadaNya?

    *kok malah jadi banyak permasalahan ya?*

    @rozenesia

    Ndak kok, tafi cuma mempertanyakannya aja.πŸ˜‰

    @Sarah

    Mau nggak bingung lagi?

    @ordinary

    Sepertinya sih masih ada.πŸ˜€

    @zal

    Ah, sudahlah masalah keinginan dan kehendak itu. Yang penting kita traveling aja yuk…πŸ˜†

    @brainstorm

    Mungkin saja karena bosanlah maka kita ini ada, sebagai bahan permainan. *kontemplasi lagi*

    @bedh

    Hampa memang bukan pencerahan, sebab seharusnya jika tercerahkan tidak ada lagi kehampaan.:mrgreen:

  25. 26 kurtubi Desember 18, 2007 pukul 10:45 pm

    kesendirian apa kesibukan mas?
    sehingga mampu melahirkan sebuah bait galau di hati, dimata dan diblogπŸ™‚

    *blajar bikin puisi dalam kehampaan*

  26. 27 ordinary Desember 19, 2007 pukul 1:41 pm

    Om, udah pernah baca buku ini gak? Butir butir mutiara tasawuf rahasia cinta para kekasih Allah karangan Ibnu Mahalli Abdullah Umar, ya barangkali aja bisa membantu meredakan ”sakit”nya
    Itu versi ringannya kalau versi beratnya bisa baca kitab Matan Hikam karangan Abul-Fadhli Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Athaillah as-Sakandari <– kalu om nemu yang ini boleh bagi copy nya ya om

    Janganlah engkau menganggap baik warid (sesuatu yang masuk ke hati) yang belum engkau ketahui buahnya. Sebab yang dikehendaki dari mendung bukanlah adanya hujan, melainkan adanya buah tanaman yang tumbuh karena turunnya hujan
    Butir ke 211

    169, 177, 178, 179, 180, 182, 198, 220 Selamat menikmati samudra hakikatnya

    anw, kadang menjadi pencari itu menyebalkan ya omπŸ˜‰
    *pulang sambil siyul-siyul santai*

  27. 28 zal Desember 19, 2007 pukul 5:29 pm

    ::may::

    he..he..berat mex…πŸ˜†
    “Janganlah engkau menganggap baik warid (sesuatu yang masuk ke hati) yang belum engkau ketahui buahnya”
    bahasa Bapaknya Abul-Fadhli Tajuddin Ahmad , yg dikenal dengan Tok Pulau Manis…ya…πŸ˜†

  28. 30 extremusmilitis Desember 21, 2007 pukul 11:19 am

    Kita tidak meminta apa-pun, kita hanya ber-harap ke-murahan-Nya broπŸ˜‰

  29. 31 danalingga Desember 22, 2007 pukul 2:38 am

    @kurtubi

    Kesibukan dalam kesendirian pak.πŸ˜€

    @ordinary

    Belon baca tuh may. Nyarinya di toko buku yang mana kira kira ya?πŸ™„

    *menunggu buah*

    @zal

    tok pulau manis siapa lagi zal?

  30. 32 danalingga Desember 22, 2007 pukul 2:41 am

    @extremusmilitis

    Alias berserah diri.:mrgreen:

  31. 33 siluetpagi Desember 23, 2007 pukul 4:47 am

    kehendakMU dan kehendakku kapankah akan bersatu..?
    aku akan terus berusaha untuk itu.

  32. 34 Hileud Dot Com Desember 23, 2007 pukul 7:17 pm

    Ikutan baca mas…

    Dah lama gak maen sini, ada kue gak ? atau coklat ? Bagi donk !!

  33. 35 danalingga Desember 24, 2007 pukul 6:41 pm

    @siluetpagi

    Entahlah kawan,
    Sepertinya tidak mungkin bersatu jika Dia tidak berkehendak,
    Ataukah itu kehendakNya?

    @Hileud Dot Com

    Silahkan teh,

    kue ada sih, tapi saya nagih oleh-olehnya dulu nih.πŸ˜€

  34. 36 sungai Januari 22, 2008 pukul 11:57 pm

    Ketika kehendakku tak tercapai
    kuhibur diri dengan kehendakNya
    Tapi apa Dia punya kehendak?

    –jangan-jangan Dia pemilik justru kehendak paling gila.

  35. 37 danalingga Januari 23, 2008 pukul 6:36 pm

    Jangan jangan begitu.πŸ˜€

  36. 38 Raden Mas Panut Mei 9, 2008 pukul 12:19 am

    Masa muda saya, banyak saya habiskan mengikuti bapak dalam hal bisnis dan juga pertemuan2 keagamaan. Baik itu intern atau lintas agama dengan tokoh2 pemuka agama. Bahkan kira2 5 tahun yang lalu bapak pernah diundang oleh seorang tokoh yang telah mempelajari semua agama bahkan ajaran atheisme segala di Rusia saat dia sekolah disana.
    Beliau ini akhirnya bingung sendiri, yang akhirnya meminta tokoh2 agama untuk datang ke hotel beliau, dengan maksud mencari tahu apakah benar Tuhan itu ada ?
    Sebagai pembukaan di acara itu, beliau menulis di papan tulis besar2 : ” Tuhan = Hantu ” menurut beliau dua2nya sama2 cipataan manusia, direka2 sendiri dan akhirnya ditakut2i sendiri oleh manusia.
    Saat itu saya melihat banyak tokoh agama dan ulama merah wajahnya, panas kupingnya dan tentunya berdetak lebih kencang jantungnya !
    Saya lihat Bapak hanya tersenyum mendengarnya termasuk saya sendiri waktu itu. Geli.
    Pada intinya si tokoh atheis ini tidak percaya kalau yang namanya Tuhan atu Allah itu sebagai sosok/dipersonifikasikan sehingga seolah2 dia itu yang mengatur segala perbuatan baik buruk manusia, nasib manusia, rejeki manusia, hidup mati manusia dan segala macam campur tangan dia terhadap manusia dan alam semesta ini.
    Apalagi jika Tuhan disosokkan sebagai wujud manusia seperti di ajaran Nasrani. Tiba2 semua tokoh Nasrani minta ijin pulang.
    Banyak tokoh agama dan ulama berpendapat tentang esensi Tuhan menurut ajaran mereka, tapi si tokoh atheis juga bisa menyerang balik dengan dasar kitab2 suci mereka.
    Bapak juga menjelaskan terhadap beliau tentang Ketuhanan, tapi hanya sekilas.
    Sepulang dari sana, dalam perjalanan saya bertanya pada Bapak tentang pendapat dia. Pengertian Bapak tentang Tuhan atau Allah bagi saya yang orang modern dan selalu berpikir logis, sangatlah masuk akal. Beliau berkata, Tuhan atau Allah itu tidak bisa diperbandingkan atau diperumpamakan terhadap apapun jua, seperti dalam Al-Ikhlas. Tetapi dalam kenyataan Tuhan ini diperumpamakan atau dipersonifikasikan seperti manusia juga, hanya dengan embel2 awalan Maha.
    Kalau begitu Islam pun nggak konsekuen dengan Al-Ikhlas menurutku.

    Beberapa hari yang lalu saya berdiskusi dengan seorang Islam Syiah yang katanya bisa menjelaskan Islam secara masuk akal.
    Salah satuNYA tentang Allah yang punya kehendak asali dan takdir.
    Saya bertanya kalau memang awal kehendak asali Allah terhadap manusia itu sama kenapa ada takdir ?
    Kenapa aku ditakdirkan sebagai anak pertama dari 15 bersaudara dan waktu itu hidup serba kekurangan ?
    Kenapa Allah yang katanya Maha Suci masih punya kehendak yang macam2 baik buruk terhadap manusia dan alam ini ?
    Hampir semua pertanyaan2ku terjawab dengan sangat tidak memuaskan.

    Bagiku Tuhan atau Allah itu adalah ” hukum alam sebab akibat ” bukan sosok yang maha ini-itu yang selalu diminta2i sesuatu oleh manusia dan bukan yang minta disembah2 ( marah kalau nggak disembah ? ).

    Hukum alam sebab akibat ini sangat adil. Kenapa saya punya takdir atau nasib ( akibat ) seperti ini karena memang saya sudah bikin sebab di masa lampau, baik di kehidupan sekarang ini atau di kehidupan sebelumnya ( tumimbal lahir ). Bukankah ini sangat masuk akal ?

    MASIH PERCAYAKAH TUHAN ATAU ALLAH ITU SEBAGAI SOSOK YANG PUNYA KEHENDAK ?

  37. 39 daeng limpo Juli 7, 2008 pukul 11:54 am

    Hukum alam sebab akibat ini sangat adil. Kenapa saya punya takdir atau nasib ( akibat ) seperti ini karena memang saya sudah bikin sebab di masa lampau, baik di kehidupan sekarang ini atau di kehidupan sebelumnya ( tumimbal lahir ). Bukankah ini sangat masuk akal ?

    Justru yang anda katakan masuk akal ini, justru tidak masuk akal. Masa saya harus bertanggung jawab atas apa yang tidak saya lakukan…? Kalau anda katakan kesalahan dimasa lalu sebelum anda lahir….? emangnya anda sebelum lahir tahu…jadi apa…?πŸ™‚

  38. 40 pencari tuhan Juli 19, 2008 pukul 8:14 pm

    saya sangat setuju dengan pendapat raden mas panut.

    @daeng limpo

    kita sangat susah untuk mengerti siapa diri kita di kehidupan lampau, hanya orang-orang tertentu saja yang telah bisa sampai ketingkatan itu.
    saya rasa hukum sebab akibat memang benar masuk akal. hidup kita sekarang ini adalah akibat dari sebab perbuatan *kita sendiri*, makanya kitalah yang harus bertanggung jawab.
    jadi seolah-olah akibat itu dalam bahasa islam disebut takdir yang sengaja dibuat atas kehendak tuhan atau allah.
    apakah tuhan atau allah itu sosok yang punya kehendak macam2 ?
    terus gimana dong korelasinya dengan al-iklas ?

  39. 41 wong_katro Mei 17, 2009 pukul 6:45 pm

    kehendak = keinginan = nafsu
    apakah yang katanya maha suci masih bernafsu mengatur-atur baik buruk perilaku dan nasib manusia?
    tanya kenapa ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: