Islamkah Ini? AQ 4:3

Jenar berulangkali membaca ayat AQ 4:3 , tapi tetap saja dia tidak bisa memahami bagaimana untuk mengamalkan ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Di bacanya lagi dengan suara lamat-lamat terdengar, sambil berusaha meresapi makna :

” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

Jenar tetap saja tidak paham mengapa budak-budak bebas di setubuhi, seolah hukum Tuhan sudah tidak berlaku lagi terhadap budak. Dan juga apa kedudukan kemanusiaan budak lebih rendah dari kemanusiaan wanita, sehingga tidak berlaku adilpun terhadap seorang budak tidak apa-apa. Jenar mengucek-ngucek rambutnya, dan tampak merenung lebih dalam lagi.

Lalu di coba juga membaca dengan menghilangkan kurung. Sebab pernah ada seorang kyiai yang mengajarkan bahwa makna untuk pribadi akan bisa di dapat jika yang di dalam kurung di hilangkan. Maka terdengarlah kembali suara Jenar seperti mengeja :

” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim , maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

Dan ternyata tetap saja makna yang di dapat jenar tidak beda dengan yang memakai kurung. “Kenapa mesti budak boleh di perlakukan tidak adil? ” , desisnya setengah protes kepada Tuhan.

Dan Jenar kembali kontemplasi, berusaha memahami makna dari sepenggal ayat tersebut. Namun tetap saja dia tidak mengerti, walau setelah menguras segala referensi yang dia miliki selama pengalaman hidup 20 tahun ini, tidak membantu untuk memahami makna ayat tersebut. “Ajaran apa yang mengajarkan untuk menghalalkan untuk menyetubuhi budak? “, gumamnya di tengah rasa frustasi yang menghampiri kehidupan beragamannya.

” Seandainyapun saat ayat itu turun ada suatu alasan yang sangat kuat sehingga bisa ajaran untuk menghalalkan penyetubuhan budak ini. Tapi bagaimana pemaknaannya untuk situasi sekarang ini? ” renung Jenar akan makna ayat untuk kekinian “Apakah saya bisa menyetubuhi budak jaman ini sesukanya? ” .

Jenar mengucek-ucek rambut ikalnya, putus asa karena hati nuraninya sungguh tidak menerima jika penghalalan menyetubuhi budak masih berlaku di jaman ini. Sebab setahu Jenar sudah tidak ada jabatan budak itu , sudah di hapuskan. Yang ada itu sekarang hanya pekerja-pekerja yang di gaji majikannya sebagai balas jasa. Jadi tidak ada lagi manusia-manusia yang bisa di perlakukan seenaknya, yang di sebut budak itu.

“Ataukah budak itu dinikahi dulu sebelum di setubuhi? ” renungnya. “Tapi tetap saja walau dinikahi, tapi jika membaca ayat tersebut maka sepertinya keadilan yang diperuntukkan untuk wanita-wanita tidak berlaku terhadap budak?” batinnya lagi. Dan Jenar semakin tenggelam dan tenggelam dalam kontemplasinya.

“Apakah ayat ini memang sudah tidak berlaku lagi?” lirih jiwa yang semakin putus asa .

“Tapi bukankah kata ustad Jaga kalo ayat-ayat AQ itu berlaku setiap masa?” sanggah jiwa yang lain .

Jenar tampak menderita dalam kontemplasinya. Jidat berkerut, keringat mulai keluar walau udara tidak terlalu panas. Di tatapnya lagi ayat tersebut dengan nanar, dan sebait doa keluar dari mulutnya:

” Oh, Tuhan semesta alam
Mohon tunjukkanlah hamba jalan yang telah di lalui para kekasihMu
Agar bisa kumengerti sepotong ayat ini
Sungguh tidak tenang jiwa ini sebelum memahaminya ya Tuhan. Amin “

Dan kembali dipandanginya ayat tersebut, berusaha untuk mengerti. Dan tetap saja dia tidak bisa mengerti. Dan pertanyaan-pertanyaan kembali menari-nari di batin yang semakin lelah:

“Bagaimana mungkin Islam yang kucintai ini menghalalkan menyetubuhi budak? “

“Dan jikapun ternyata dinikahi dulu, bagaimana mungkin nilai kemanusiaan budak lebih rendah dari wanita-wanita sehingga tidak wajib berlaku adil kepadanya? “

“Dan bagaimanakah melaksanakan ayat ini untuk kondisi sekarang ini?”

“Ataukah ayat ini sudah layak di museumkan saja, karena sudah tidak sesuai dengan jaman? “

Ke empat pertanyaan itu terus menari-nari di jiwa , begitu menyiksa dalam kontemplasi Jenar. Dia kembali berusaha mengingat-ngingat segala referensi yang telah di milikinya dari pengalaman hidup 20 tahun. Dan tiba-tiba jenar tampak tersentak, dan menggumamkan bagai mantra ucapan seorang temannya yang mengaku sebagai pengikut orang-orang soleh terdahulu, yang minta di panggil salafy.

” Jika kamu tidak bisa mengerti suatu ayat, terima saja ayat itu. Sebab Tuhan tidak mungkin salah, pasti sudah memperhitungkan kegunaan ayat tersebut. Jadi kamu tinggal menjalankannya saja, tidak perlu di pertanyakan lagi. Sebab ketika kamu tidak mengerti, itu hanya berarti akal kamulah yang tidak sanggup untuk memahaminya. “

Dan jenar tampak tersenyum senang, karena berhasil untuk menghilangkan tarian pertanyaan-pertanyaan itu. Jenar tidak peduli, apakah pertanyaan itu hilang untuk sementara atau selamanya?. Yang penting dia bisa keluar dari kontemplasi yang menyakitkan itu. “Ada gunanya juga petuah teman salafy itu”, pikir Jenar. Walaupun selama ini dia kebanyakan tidak setuju dengan sang teman. Bahkan sering mendebat, tapi sepertinya kali ini nasehat teman tersebut dapat membuat Jenar berhenti dari usaha memahami makna ayat yang sungguh melelahkan jiwa.

Dan Jenar yang telah terbebas dari kontemplasi menyakitkan, bersiap-siap untuk pergi menikmati hedonisme kota besar. Menuju salah satu klub malam langganannya, bersenang-senang.

87 Responses to “Islamkah Ini? AQ 4:3”


  1. 1 calonorangtenarsedunia Januari 11, 2008 pukul 1:29 pm

    @Sharipuddin?
    Orang malaysia?
    Ah, maklumlah..Yang punya blog ini kan indon..πŸ˜†

  2. 2 Herianto Januari 11, 2008 pukul 2:37 pm

    @Sharipuddin
    Ma’af…
    Tetapi pengajuan tanya melalui penokohan karakter ala mas Dana ini ada baiknya lho…
    Kadang2 rasa haus akan keingin-tahuan jika diajukan ke pihak2 yg tidak siap bisa dikira melakukan penghujatan …
    Untunglah saya dah sedikit kenal dengan Dana …πŸ™‚

    #Dah berpuluh tahun #Ngibul banget… πŸ˜†

  3. 3 danalingga Januari 11, 2008 pukul 9:36 pm

    @zal

    silahkan zal, sebab biasanya kalo dikau nyamfah bukan sembarang nyamfah.:mrgreen:

    Nah kan betul bukan sembarang nyamfah, jadi zal asbabun nujul sebenarnya apa toh?

    Dari dulu saya penasaran dengan asbabun nujul ini. Sebab jika hanya berpatokan dengan asbabun nujul (secara awam) maka niscaya ayat-ayat AQ akan banyak yang harus di pensiunkan, entah sementara atau selamanya, karena jelas konteks jaman dulu dengan jaman sekarang sudah berbeda.πŸ˜‰

    @regsa

    Mungkin, jika kamu ke klub malam langganan Jenar juga.πŸ˜†

    @daeng limpo

    Makasih atas infonya, saya rasa isinya kurang lebih sama dengan yang di maksud oleh komen pak ram ram muhammad di atas, jadi tanggapannya pun sama juga.:mrgreen:

    @calonorangtenarsedunia

    Dah paham kan logikanya bu?:mrgreen:

    *menunggu tafsir versi ibu tentang ayat ini di tulis di sini*

    @abah dedhot

    Oh begitu ya bah, boleh lebih di jelaskan apa yang di maksud dengan “mas kawin” ini. Sepenangkap saya adalah sebuah syarat yang harus di penuhi untuk ber ahad ria dengan sang adil. Begitukah?

    [Jenar mode on]
    Waduh abah ternyata dapat menangkap maksud saya secara jelas. Memang begitulah kegamangan saya bah, saya inginnya agar ayat-ayat AQ itu menjadi pemberi petunjuk di saat kini. Sebab jika hanya sebagai sejarah, maka tentu harus di museumkan karena sejarah toh telah lewat. Dan kadang memang bisa mengambil pelajaran dari sejarah, tapi ya hanya sebatas itu. Sejarah tidak bisa selalu menjadi petunjuk saat ini, sebab toh jaman sudah berbeda. :mrgreeen:

    Tapi kuakui dari petunjuk sejarah itu bisa juga di ambil hikmah untuk kekinian. Yakni tentang cara mengangkat harkat budak-budak itu secara transformasi yang step by step. Mungkin bisa juga digunakan untuk mengangkat harkat diri yang menjadi budak nafsu.:mrgreen:

    Gimana bah?

    [Jenar mode off]

    @Herianto

    Makasih atas pengertiannya. *terharu*

  4. 4 edratna Januari 11, 2008 pukul 9:48 pm

    Seperti bahasa hukum, harus dipahami dengan benar, agar perbuatan dan keputusan kita merupakan hal yang terbaik untuk dilakukan.

  5. 5 danalingga Januari 11, 2008 pukul 11:17 pm

    Wuih, bahasa hukum gitu ya bu. Berarti harus bener-bener berusaha untuk di pahami. Nah si Jenar juga ingin memahami ayat AQ 4:3 ini, makanya ampe muncul nanya nanya gitu. Sayang akhirnya dia menyerah, malah asyik di klub malam.πŸ˜€

  6. 6 RETORIKA Januari 11, 2008 pukul 11:41 pm

    Astaghfirullah..
    “”
    beginilah kalau antum hanya mendalami alquran hanya satu ayat saja. Ayat Alquran itu satu sama lain saling berkaitan. Jangan dimengerti sefaro-faro. afalagi antum ndak funya ilmunya…..””

    [Plagiat from mas Hoek] –πŸ˜†

    Pokoknya perbudakan itu asalnya dari amerika selatan – untung amerika selatan kalah dari pasukan amerika utara kalo nggak nanti seluruh dunia menderita akibat “War on Slavery”

    nggak nyambung yah ? Hidup George Washington !

  7. 7 danalingga Januari 12, 2008 pukul 1:46 am

    πŸ˜›

    lah sampean emang abu sejati, nah itu udah pake ilmu tersaktinya, paham pokoknya.πŸ˜†

    All hail George Washington atas keberaniannya menghapus perbudakan, walau saat itu sepertinya menentang arus.

  8. 8 abah dedhot Januari 12, 2008 pukul 2:14 am

    @mas dana
    betul boss…
    “mas kawin” : sesuatu yang ‘dianggap berharga’ oleh yang punya keinginan untuk dilepaskan / diberikan (dikembalikan, ‘perasaan’ memiliki, kembali kepada fakir) kepada yang di ingin kan agar yang di ingin kan ridho menyambut pinangan yang menginginkan… membiaskan kesan bahwa yang di ingin kan jauh lebih berharga dari pada sesuatu itu.
    Sehingga nyata bahwa ke AHAD an menjadi tidak syah / batal tanpa adanya penyerahan “mas kawin”.

    @dek jenar
    “sejarah” adalah kenyataan tentang keberadaan masa depan… Sesungguhnya TIDAK hanya pada sejarah, bahkan segala sesuatupun adalah wajahNYA. manfaat / keberuntungan yang terhebat adalah ketika DIA memperlihatkan wajahNYA ( kepada DIA… ).
    Dan segala sesuatu yang terikat dengan kehidupan PASTI melalui PROSES / perjalanan (transformasi yang step by step), karena justru dalam “perjalanan” lah terbentang wajahNYA, sang Maha Kasih.
    Dan betul dek jenar… Yang terpenting, jangan terlalu terpesona dengan sejarah diluar diri sehingga melupakan sejarah diri dan pribadi… tau sejarah orang-orang arab, tapi ngga faham sejarah diri & pribadi… sampai-sampai ngga kenal diri… hasilnya jadi manusia LIEURRR.

    salam

  9. 9 daeng limpo Januari 12, 2008 pukul 8:46 am

    si Jenar mungkin berpikir terlalu rumit, udahlah terima ajalah nasibmu Jenar jadi pria metropolis dan heteroseksual….gitu aja kok repot

  10. 10 danalingga Januari 12, 2008 pukul 9:59 am

    rumit dan tidak itu relatif, tergantung sudut pandang.

  11. 11 daeng limpo Januari 12, 2008 pukul 12:42 pm

    lha menurut sudut pandang Mas lingga gimana?

  12. 12 syahbal Januari 12, 2008 pukul 2:36 pm

    “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita yang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun ia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya . Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (QS. al-Baqarah [2] : 221)

    kalau ini bagaimana????

    jadi yang katanya kedudukan kemanusiaan budak wanita di rendahkan…apakah itu terbukti di ayat ini????

  13. 13 Iwan Awaludin Januari 12, 2008 pukul 3:11 pm

    Perbudakan mungkin masih ada di jaman sekarang ini. Ya, menurut aturan agama memang budak boleh di”anu”kan.
    Apakah Islam mendukung perbudakan? Itu pertanyaan yang berbeda dengan ayat yang sedang dibahas di atas.

  14. 14 watonist Januari 13, 2008 pukul 12:33 am

    nak jenar … coba dicari lagi kata aymanukum itu dipakai di mana saja (di Al-Quran), mungkin artinya tidak hanya “budak”, barangkali …πŸ™‚

  15. 15 danalingga Januari 13, 2008 pukul 1:38 am

    @daeng limpo

    Sudut pandang saya sendiri relatif. Kalo lagi nyambung ya nggak rumit, tapi kalo lagi nggak nyambung ya rumit.:mrgreen:

    @syahbal

    Ah, ada sih yang ingin di tanyakan dari ayat ini. Tapi entar aja deh, soalnya ini khusus bahas ayat AQ 4:3. Lagian walau apapun arti dari ayat yang kau berikan, tidak akan mengganti arti dari ayat AQ 4:3 itu bukan? Jadi lebih baik bahas aja ayat AQ 4:3 itu.πŸ˜‰

    @Iwan Awaludin

    Betul, dan pertanyaan Jenar juga bukan tentang Islam mendukung perbudakan atau tidak.:mrgreen:

    @watonist

    Ok, entar Jenar tak suruh nyari deh. Moga moga dapet.πŸ˜€

  16. 16 dragon_chaser Januari 13, 2008 pukul 2:57 am

    Mas Danalingga yg baek…nengok donk mas kalo lagi diajak bicara tuh…ehh…si mas…malah mbelakangiπŸ˜€

    Mas, jaman nya Nabi Muhammad dulu, para budak itu memang sangat rendah derajatnya…makanya mereka seperti barang…diperjualbelikan. Islam yang memberi jalan keluar memanusiawikan perbudakan yang sangat lumrah terjadi di jaman itu.

    ” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

    Dalam ayat diatas, budak – budak itu pun harus di nikahi dulu sebelum disetubuhi…liat donk baik – baik kalimat sebelumnya.
    “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”
    Jelas kan bahwa maksudnya kawinilah satu saja atau kawinilah budak – budak yang kamu miliki. Jangan sepotong – sepotong baca nya.

    Jelas lah, Nabi Muhammad berkeinginan menaikan derajat para budak itu, salah satu caranya…dengan dinikahi. Kesimpulannya, islam menolak perbudakan. Pasti!

    Don’t complicate your life.

    Nabi Muhammad SAW…i am so proud of you!!!!

  17. 17 danalingga Januari 13, 2008 pukul 3:16 am

    Sepertinya anda belum baca komen ya? Makanya bisa muncuk kembali argumentasi soal peningkatan harkat para budak ini dan soal di nikahi dulu.

    Saran saya baca dulu komen-komennya, niscaya di situ sudah ada tanggapan-tanggapan terhadap argumen komen yang seperti ini. Dan silahkan di jawab pertanyaan lanjutannya.πŸ˜€

  18. 18 calonorangtenarsedunia Januari 13, 2008 pukul 11:34 am

    *ga tahan ga komen*

    [SOK TAHU MODE]
    Pertama, kita liat ayatnya dulu.

    ” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

    Masalah terjemah “kawin” sehingga Jenar menganggap bahwa itu adalah bebas disetubuhi, maka silakan Jenar lihat lagi AQ nya. Di sana tertulis “Fankihuu” that means “Nikahilah”. Jadi komplein aja sama yang bikin terjemahan.

    Kedua, syarat adil itu sulit. Maka Tuhan menunjukkan bahwa kalo ga mampu 2, 3, atau 4, ya satu saja. Kenapa? Karena adil akan lebih mudah diterapkan pada satu orang istri. Kenapa wanita yatim duluan baru yang ga yatim? Karena wanita yatim lebih butuh perlindungan dan kalo ga sanggup wanita yatim ya yg ga yatim aja. Soalnya kedudukan anak yatim itu tinggi sekali.

    Ketiga, apakah ini berarti bahwa dengan budak boleh ga adil? Justru Tuhan sedang memberikan keadilan melalui perintah menikahi para budak. Dengan dinikahi maka akan terjamin status sosial ekonominya serta terlindungi.Adil itu berlaku bagi siapapun yang dinikahi.

    Keempat, logika Jenar adalah apabila tidak sanggup 2, 3, atau 4 wanita, maka nikahilah 2, 3, atau 4 budak. Hla gimana tho si Jenar. Kenapa budak disebut setelah “nikahilah satu saja?” karena budak yang dinikahi pun cuma satu. Kalo boleh 2, 3, atau 4, maka akan disebut setelah “nikahilah wanita yang kamu sukai 2, 3, atau 4”.

    Kelima, kalo cuma satu kenapa disebut budak2? Karena budak pada masa itu buanyak sekali. Satu bangsawan bisa punya sampe puluhan budak. Maka, dari budak2 itu pilihlah salah satu yang “bila melihatnya kamu menjadi tentram”.

    Sekali lagi, sebuah ayat tidak bisa dilepaskan dari keadaan sosio-kulturalnya.

    [/SOK TAHU MODE]

    Buset, nulis apaan gua?? Panjang banget. Ada yg ketinggalan ga, Dan?:mrgreen:

  19. 19 daeng limpo Januari 13, 2008 pukul 12:13 pm

    Setelah masuk ke pub, esoknya Jenar masuk ke Hotel Prodeo tertangkap Pulisi sedang nyabu…oooo…pantas….

  20. 20 danalingga Januari 13, 2008 pukul 2:17 pm

    @calonorangtenarsedunia

    Hueheheheh… akhirnya di tulis juga. Gitu dunk bu, kan bisa menjangkau lebih banyak orang lagi. Muaach!!! Ibu cakep deh.πŸ˜†

    Jadi maksudnya satu budak ya?

    *memancing komen*

    Buset, nulis apaan gua?? Panjang banget. Ada yg ketinggalan ga, Dan?:mrgreen:

    Sepertinya udah semua deh bu. Tafi saya masih belon bisa menggolongkan komen ibu ini masuk metode yang mana nih?πŸ™„

    @daeng limpo

    Tenang aja daeng, nggak usah panik gitu. Jenar punya beking jendral kok.πŸ˜†

  21. 21 johnjaiz Januari 13, 2008 pukul 2:49 pm

    Salam untukmu dan untukku….

    Trimakasih abah dehdot atas “mlenge’in” sedikit…nya..jadi cucu kalo mau kawin harus nyari “Mas Kawin”nya dulu…ya

    tuk den.jenar…..
    Hi..hi..hi…mudah-2an den.jenar paham kalo mau kawin harus ada modalnya dulu..ya nyari Mas Kawin dulu,kalo ndak pengantinya mana mau nerima….Lah nyarinya jangan di tempat goyang….Wong pada gak tau…buktinya belum ditanya aja udah pada geleng2…hi…hi…hi untungnya den.jenar langsung pulang dapat ilham dari abah dehdot….kalo nggak ntar ikutan geleng2 kayak yang lain….bukannya dapet ilham malah dapet pegel2 lehernya…..weleh2…tobat

    Lebih enak sijenar jalan2 dan pergi naik perahu mancing dilaut kalo perlu sampai diSamudra yang luas…..kali2 ketemu ma ikan duyung dan bisa minta kawin (eh maksudnya minta ilham)…tapi jangan takut bocor perahunya apalagi sampai tenggelam..karena memang sudah jadi resiko kalo mau dapat ikan yang banyak dan besar2…ya mancingnya di.laut jangan disungai atau danau….ikannya kecil2 karena dangkal airnya..

    salam…

  22. 22 danalingga Januari 13, 2008 pukul 8:49 pm

    Hem… pantesan si Jenar semangat banget nyari mas kawin tuh. Taunya habis baca komen di sini.:mrgreen:

  23. 23 abah dedhot Januari 14, 2008 pukul 12:42 am

    @cucu johnjaiz
    Ooo… ternyata cucu belum kawin yah…??? apa lagi ngelakonin bujangan…??? mentang-mentang lagi ditinggal sendirian, udah berencana nyari mas kawin lagi, awas ya…πŸ˜†

    @dek jenar
    kamu responsif banget, kaya mesin VTEC… segerakan untuk mencari sang “yatim” (yang utama), memburu “mas kawin” (sebagai syarat mutlaq), & merdekakan hamba sahaya (jalan menuju tujuan)…
    Jangan terlalu serius / sibuk ngebahas sejarah orang-orang arab… ‘ntar makin bingung… sebenernya, kita ini sekarang ada dimana ya…???πŸ˜†

    @mas dana
    cocok ya mas… “sejarah orang arab”, bila diamati melalui “cermin miratul haya’i” :
    Yang namanya bangsawan(pejabat), hartawan… adalah yang PALING BANYAK memiliki hamba sahaya… merekalah yang dituntut untuk memerdekakan hamba sahayanya (yang banyak itu).
    Kalo yang ngga punya hamba sahaya, lebih mudah, tinggal mencari “mas kawin” & “yatim”.
    Kalo yang ngga punya hamba sahaya & fakir, plus yatim pula, lebih enak lagi… tinggal ke AHAD an yang menantinya…
    sungguh JELAS terbentang wajahNYA yang Maha Adil & Maka Pengasih.

    AQ itu sarat dengan perumpamaan, dan dengan perumpamaan itu… ada yang KU sesatkan & ada yang KU beri petunjuk…

    salam

  24. 24 sezsy Januari 14, 2008 pukul 10:09 am

    aku ga mau dimadu… :p

    btw, definisikan ‘budak’ donk…

  25. 25 syahbal Januari 14, 2008 pukul 12:20 pm

    @danalingga

    loh mas dana…setahu saya sih AQ itu adalah satu kesatuan…jadi tidak bisa dipahami tanpa memahami ayat yang laennya…
    jadi antara satu ayat dengan ayata lainnya itu saling berhubungan…yang satu menjelaskan yang satunya…

    truz mengenai pernikahan pada para budak itukan merupaka salah satu cara untuk memerdekakan mereke(budak) tanpa harus melewati proses jual beli…

    klu dilihat ada satu cara untuk memerdekakan seorang budak yaitu dengan membelinya dan memerdekakan nya…tapi cara ini terlihat seperti menghina martaban seorang manusia…dan cara ini biasanya digunakan oleh seorang muslim yang ingin memerdekakan seorang budak yang ada dibawas seorang non muslim…

    tapi jika budak itu ada dibawah seorang muslim maka ada cara lain yang dapat mengangkat harkat dan martabat seorang budak yaitu dengan menikahinya…coba klo misalnya seorang majikannya itu adalah seorang hartawan, pejabat, atau apalah…maka sang budak pun bisa menjadi hartawati, ibu pejabat, atau apalah…

    banyak koq kisah yang sudah dicontohkan oleh para sahabat melalui kedua cara tersebut…

    lalu klo dilihat Islam tidak mendukung sma sekali terhadap perbudakan malah Allah memerintahakan untuk memerdekakannya…
    “maka bayarlah diat yang diserahkan kepada keluarganya serta MERDEKAKAN BUDAK yang beriman” (QS. An-Nisa : 92)

    mengenai lebih jelasnya dapat dilihat di
    http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/11/cn/24906

  26. 26 danalingga Januari 14, 2008 pukul 7:18 pm

    @abah dedhot

    [jenar mode on]

    Nggak serius kok mbahas budak-budak itu bah, hanya mencoba menggelitik aja, mana tahu orang jadi lebih tertarik mencari si yatim daripada membahas sejarah. Dan jika tidak ada yang tertarik, yah lumayan kan untuk bersenda gurau bah. Bukankah hidup ini hanya senda gurau belaka?:mrgreen:

    [jenar mode off]

    Kok sepertinya membebaskan hamba sahaya itu menjadi berarti melepaskan diri dari rasa kepemilikan ya bah?

    @sezsy

    Budak, saya juga kurang paham itu.

    @syahbal

    Iya, itu juga saya tahu. Tapi sebelum mengenai ayat AQ 4:3 ini beres, dan dapat di jelaskan bahwa itu bukan menganggap bahwa nilai kemanusiaan wanita dengan budak itu berbeda. Maka penjelasanmu tentang ayat yang lain itu hanya akan makin membingungkan Jenar. Taruhlah memang ayat barumu itu malah meninggikan budak, nah Jenar tentu makin bingung , sebab kok ayat yang satu dengan ayat yang lain jadinya tabrakan. Makanya saya bilang bahas dulu ayat ini.

    Dan di cerpen ini, tidak ada yang menanyakan apakah mengawini budak itu bagus atau tidak. Yang di tanyakan Jenar apakah syarat adil berlaku juga jika menikahi banyak budak. Jika berlaku ya baguslah, jika tidak ya nggak apa apa. Toh memang mungkin begitu ketentuannya.

    Lagian argumentasimu itu sudah banyak di bahas di komen di atas, jadi silahkan baca-baca aja komennya.

  27. 27 abah dedhot Januari 14, 2008 pukul 11:42 pm

    @dek jenarπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†
    nakalnya ngga habis-habis…

    salam

  28. 28 calonorangtenarsedunia Januari 15, 2008 pukul 11:05 am

    Yo, maksudnya satu budak. I’ve told you how specific the Quran is..

  29. 29 danalingga Januari 15, 2008 pukul 8:10 pm

    @abah dedhot

    Lah…πŸ˜†

    @calonorangtenarsedunia

    Yo.. bu.:mrgreen:

  30. 30 johnjaiz Januari 16, 2008 pukul 1:54 am

    # abah dehdot…

    he…he…he..

  31. 31 adit Januari 31, 2008 pukul 1:31 pm

    mengawini budak-budak yg kamu miliki berarti kan mengangkat derajatnya, yg tadinya status budak menjadi status isteri

    dan itu lebih baik daripada mengawini wanita yg bukan budak

    gitu sih kalo pemahaman saya mah……..

  32. 32 danalingga Januari 31, 2008 pukul 7:09 pm

    Ya…ya… udah banyak kok yang bilang begitu di atas.πŸ˜€

  33. 33 DensS cessario Maret 21, 2008 pukul 8:00 am

    hahaha… Bosen dengan jawaban yg sama terus2… tarik kesimpulan deh…

  34. 34 danalingga Maret 21, 2008 pukul 8:06 am

    Kesimpulannya kan sudah di artikel selanjutnya. Coba di baca.

  35. 35 budak dan Raja Oktober 12, 2008 pukul 11:49 pm

    Jgn berharap keadilan dari si budak.
    Keputusan yg adil adalah karunia Sang Raja.

    Jika kau madu si dia,
    jgn harap keadilan yang kau dapat.


  1. 1 Metode Memahami Ayat-Ayat Kitab Suci « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Januari 14, 2008 pukul 10:00 am
  2. 2 Metode Memahami Ayat-Ayat Kitab Suci « Emmy21’s Weblog Lacak balik pada Februari 19, 2008 pukul 8:24 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: