Pekerja LSM

Terhenyak aku terdiam merenung, duduk di kursi teras rumah. Meresapkan peristiwa yang baru saja terjadi. Ketika Joe, seorang teman kuliah dulu, datang bertamu dengan segala kemegahannya kini. Seorang yang dulunya mahasiswa ekonomi yang sangat idealis, setidaknya begitu menurut ingatanku. Dan demo adalah bagian hidup perkuliahannya, bahkan lebih banyak dari kegiatan kuliah itu sendiri. Aku kira. Joe memang selalu di depan dalam memimpin demo, ketika ada masalah-masalah yang dia kira perlu di bela, dan jawabnya selalu dengan demo.

Mulai dari isu-isu nasional, daerah, dan juga isu isu kampus sendiri. Sungguh mudah menemukannya di lapangan sedang berorasi. Ketika harga minyak naiklah, ketika budaya kita di klaim negara tetanggalah, apalagi ketika pulau kita di caplok. Juga ketika DPR bereksperimen dengan ketidak pekannyalah, ketika fasilitas kuliah terasa kuranglah, ketika uang spp hendak dinaikkan sebagai akibat kenaikan harga terdahululah (ironisnya Joe juga mendemo tentang kenaikan harga ini), dan banyak demo lagi. Yang kadang saya sendiri tidak mengerti kenapa harus demo. Dan ketika ketidak mengertian itu saya nyatakan ke Joe, maka jawabnya selalu singkat ,” Ini demi perjuangan Cok “. Entah perjuangan yang mana saya sebenarnya hendak menanyakan, tapi saya malas memperpanjang diskusi dengan Joe. Seperti dia juga malas menjawab panjang lebar setiap pertanyaan saya tentang demo- demonya.

Dan sampai saat ini, saya sudah lebih dari 3 tahun tidak bertemu dengan Joe. Terakhir yang kutahu adalah dia dengan semangat idealisnya telah menjadi sukarelawan dalam salah satu LSM negeri eropa ke Aceh, tidak lama setelah tsunami meluluhlantakkan bumi serambi mekah itu. Kuingat betapa berdedikasinya Joe saat menggalang sumbangan untuk Aceh, dan betapa bersemangatnya dia ketika mendaftar sebagai sukarelawan. Bahkan banyak mengajak teman-teman yang lain, untuk turut serta membantu. Dan tampaknya banyak teman-teman kuliah yang ikut, terutama para pelanggan demo. Dan aku, seperti ketidak-mengertianku akan demo-demo Joe, maka saat itupun tidak mengerti kenapa harus ke Aceh. Toh sudah ada professional yang di kirim LSM itu dari negrinya, pikirku. Dan kembali Joe malas berargumen, dan membiarkan saja aku dengan pilihanku. Dan kubiarkan Joe dengan pilihannya, meninggalkan bangku kuliah demi tujuan mulia. Menolong kemanusiaan yang diluluh-lantakkan oleh alam.

“Ini sarana untuk pemenuhan cita-cita saya Cok, cita-cita untuk berbuat demi kemanusiaan. Daripada saya demo di kampus ini yang nggak jelas hasilnya. ” Jelasnya ketika kutanyakan kenapa dia mau menjadi sukarelawan, padahal kuliahnya belum kelar.

Saat itu aku mengerti, mungkin itu lebih baik baginya. Melakukan tindakan nyata dari segala cita-cita idealnya. Aku turut mendoakan saat itu, mendukung cita-citanya yang sangat mulia. Toh, dia sendiri sudah jarang kuliah, terlalu sibuk dengan demo-demo rancangannya.

Dan dalam pertemuan singkat, setelah tiga tahun terlalui. Saat Joe akhirnya menyempatkan berkunjung ke rumahku. Di sela-sela rapat pertanggungjawaban proyek-proyek yang di pegangnya. Dan kebetulan rapatnya diadakan di kota kami. Sungguh terasa ada yang salah ketika melihat kemegahan Joe. Tubuhnya yang tambun, tunggangannya sebuah BMW. Belum lagi gaya Joe, yang entah kenapa serasa sangat mewah dan glamour sekali.

Aku semakin dalam terhenyak dalam diamnya sore. Mengingat semua kemuliaan cita-cita dulu, di bandingkan dengan apa yang saya tangkap dari pertemuan sebentar tadi. Ah, entah kemana jiwa idealis Joe menguap tanpa jejak. Dengan bangga Joe menceritakan bagaimana kemakmuran itu dia peroleh.

” Bayangkan Cok, para bule- bule itu ternyata memang bodoh-bodoh. Percaya saja mereka ketika kusebutkan pembangunan rumah rakyat ini bisa kurang dari rencana semula karena harga-harga bahan baku naik. Kekekeke … ” Sambil tertawa Joe menjawab ketika kutanyakan bagaimana bisa duitnya banyak, sedangkan gajinya setahuku standar mahasiswa, bukan gaji profesional.

Wah, tampaknya memang kawanku ini sudah menjadi seorang pekerja LSM. Dan terasa pahit teh manis yang kuminum. Ah, sang kala memang bisa berbuat sesukanya. Bahkan bisa mengubah seorang Joe yang idealis, menjadi seorang pekerja LSM. Doaku hanyalah agar orang-orang seperti Joe itu hanya minoritas. Sebab sungguh tidak bisa kubayangkan apa yang akan di peroleh rakyat Aceh, jika orang seperti Joe adalah mayoritas.

Dan kutatap malam yang telah menyapa, di sini , di kotaku yang bersahaja. Di mana orang-orangnya menanamkan benih-benih idealis di jiwa, dan di bawa menyebar ke manapun kaki melangkah. Sepertinya kotaku tidak peduli salah satu benih yang di tanamnya telah mati, kalah bersaing dengan semak perdu. Dia terus menanam benih-benih di jiwa-jiwa baru yang lahir dalam pangkuannya. Tanpa pernah peduli hasilnya nanti. Ikhlas.


34 Responses to “Pekerja LSM”


  1. 1 badai64 Februari 1, 2008 pukul 9:14 pm

    benarkah begitu ? smoga joe yang lain memilih jalan yang laen, sbentar lagi toh joe akan diPHK karena NGO asing pada hengkang, kapakah joe akan jadi pengusaha, cukong proyek, melamar ke NGO lokal yang sebagian kembang kempis, atau menjadi pasukan “teriak” dari luar pagar yang kecipratan rejeki meugang…….

  2. 2 Sawali Tuhusetya Februari 1, 2008 pukul 9:23 pm

    sungguh, mas dana, banyak joe-joe yang lain. LSM malah sering doplesetkan menjadi Lembaga Susah Makan, hiks, maaf. LSM justru sering dijadikan kedok mencari untung. slogan-slogan idealis yang mereka kumandangkan seringkali hanya meluncur di bibir doang. aduh, mudah2an saja LSM kembali ke “fitrah”-nya sebagai NGO yang bener2 memihak kepentingan kaum dhu’afa.

  3. 3 Ina Februari 1, 2008 pukul 9:41 pm

    Berkedok LSM tapi nga lebih sama dengan koruptor.

    Menyebalkan…!!!!

  4. 4 joyo Februari 1, 2008 pukul 10:00 pm

    mudah2an jika saya nanti diberi kesempatan dan tanggung jawab bs mngembannya dg baik, jujur dan bertanggung jawab. amin.

  5. 5 abdulsomad Februari 1, 2008 pukul 10:05 pm

    Apa kabar mas dana
    OOT
    lama ga berkunjung nech
    ……………………
    Semoga dia (si Joe) tidak ikut ikutan bunuh diri
    he he he

  6. 6 danalingga Februari 1, 2008 pukul 10:16 pm

    @badai64

    Sepertinya sih benar. Oh, iya jadi benar kalo NGO mau keluar dari Aceh ya? Kalo begitu maka ada tambahan PR bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi para penganguran yang bakal bertambah. Mungkin salah satu solusinya memfasilitasi dan menganjurkan agar menjadi cukong?

    @Sawali Tuhusetya

    Begitulah pak. Dan yang lebih ironis lagi, yang melakukan penyimpangan justru bangsa kita sendiri. Memanfaatkan kepercayaan dari pihak luar negri.

    @Ina

    Menyebalkan memang na.

    @joyo

    *ikut berharap* amin bro.😀

    @abdulsomad

    Kabar baik aja wak. Iya, wak somad dah jarang ngeblog sepertinya.
    —————-

    Semoga nggak Joe nggak bunuh dirilah.

  7. 7 cK Februari 1, 2008 pukul 10:52 pm

    sangat ironis! jiwa idealisme yang tertanam dapat terkalahkan oleh silaunya harta benda. ah..idealisme rasanya sudah mati..😦

  8. 8 extremusmilitis Februari 2, 2008 pukul 1:59 am

    Yupe bro, banyak sekali yang seperti itu, di-antara teman-teman kerja-ku sendiri seperti itu juga. Banyak yang men-jadi-kan pekerjaan ini sebagai lahan untuk mem-perkaya diri sendiri, istilah kami “Hidup di Atas Penderitaan Orang Lain”. Bahkan lebih ekstrim-nya lagi ada idiom bagi kami kalau banyak di-antara kami yang men-doa-kan agar bencana itu ter-jadi hanya agar bisa hidup dari situ😕👿

    Tapi yakin-lah Dan, masih banyak juga kok yang emang benar-benar bekerja tidak hanya atas dasar materi belaka, banyak yang emang bekerja karena satu tujuan utama ingin berbuat demi mereka-mereka yang di-timpa bencana. LSM/NGO seperti ini hanya-lah sebuah media agar kita bisa mengulur-kan tangan kita selagi kita masih mampu. Dan aku ber-syukur aku salah satu di-antara mereka se-tidak-nya untuk saat ini. Aku tidak punya apa-apa, tapi aku punya hati dan rasa ke-manusia-an, itu sudah lebih dari cukup Dan.🙂

    Maaf kalau komen-ku sekali ini agak panjang, dan mungkin agak meng-under estimate teman-mu, tapi memang aku sangat tidak suka dengan tipikal yang seperti itu…

  9. 9 zal Februari 2, 2008 pukul 1:59 am

    ::wooi…woooi…wooi..gibah..gibah..ini… asli…😆

    dasar memang, ya Dan, seringnya seorang idealis, malah kecebur ke kolam duit…dulu juga di tahun 60 an banyak tuh pendemo yang sekarang sudah milyarder…, yg terakhir gelombang demo menjatuhkan Pak harto sekarang terdiam menikmati jadi orang KPUlah, entah mana lagi…
    ahh..enakan tanpa keinginan…
    *pake sarung, berkaus dalam, rokokan 234, nongkrong dibelakang rumah melihat bulan…siul..siul dalam hati…*

  10. 10 Goenawan Lee Februari 2, 2008 pukul 5:00 am

    Ini bukan si Joe Satrianto yang kuliahnya ga kelar-kelar kan?:mrgreen:

    *dibakar om Joe*

    Mbuh, aku jadi ingat Su Fu-yi saja, yang kembali ke ‘dunianya’ setelah tenggelam dalam ‘dunia demo’.😛

  11. 11 ex-ordinary Februari 2, 2008 pukul 9:51 am

    kita dengan mudahnya mencibir kepada “mereka-mereka” yang dighibahkan om dana karena kita tidak dihadapkan oleh “serangan kenikmatan (pilihan kata yang rancu)😆
    coz kita juga berkemungkinan melakukan keputusan yang sama
    =====================

    mbuh aku ngomong po’o
    *makan mie aceh…slurrrpp…*

  12. 12 ex-ordinary Februari 2, 2008 pukul 9:55 am

    kta dengan mudahnya mencibir kepada “mereka-mereka” yang dighibahkan om dana karena kita tidak dihadapkan oleh “serangan kenikmatan” (pilihan kata yang rancu)😆
    coz dalam posisi itu kita juga berkemungkinan melakukan keputusan yang sama
    =================================
    mbuh aku ngomong po’o
    *makan mie aceh….slurrrpp… enak*

  13. 13 danalingga Februari 2, 2008 pukul 10:27 am

    @cK

    Sepertinya memang sudah mati chik. *ngeliat diri sendiri*

    @extremusmilitis

    Waduh, ada orang dalem nih. *ngumpet*

    Btw, semoga memang niat tulus itu masih ada bro. Dan saat ini sih saya masih percaya kalo kamu itu mang tulus, entah nanti kalo akhirnya kamu menemuiku persis seperti si Joe dalam cerita.😆

    @zal

    Mbah zal, ini kan cuma cerpen yang ide ceritanya di ambil dari kehidupan nyata.

    Iyah, sayang banget itu zal. Dan capek capek sang kota memupuk jiwa idealis, namun akhirnya kalah dengan semak perdu. Sepertinya menaklukkan keinginan-keinginan liar itu yang mungkin bisa menyelamatkan si idealis.😀

    @Goenawan Lee

    Bukan Joe yang itu, nama Joe di sini fiktif kok.😀

    Btw, itu “duna” soe hok gie yang mana?

    @ex-ordinary

    Yah, maka jadikanlah “ghibah” ini sebagai sarana untuk mengoreksi diri sendiri.:mrgreen:

    ———————-

    Mbuh, saya juga ndak tahu.

    *ngambil mie aceh may… slurp …. mang enak*

  14. 14 Cabe Rawit Februari 2, 2008 pukul 12:00 pm

    Masa muda biasanya serba idealis. Tapi seringkali sejalan ama waktu, idealisme akan luntur karena ditindih ama kebutuhan. Idealisme yang tergadai oleh perut dan kesenangan. Ane kira, para Suhartois yang dulunya -kebanyakan- adalah para mahasiswa idealis yang juga rame-rame ndemo Sukarno. Sejalan waktu, mereka juga mulai menggadaikan prinsip-prinsip yang dulu mereka usung untuk kekuasaan, harta, dan kehormatan semu. Ane berharap kita semua pada kagak begitu… Mudah-mudahan aja.

  15. 15 Dekisugi Februari 2, 2008 pukul 3:17 pm

    lho, mas…mas…
    saya mahasiswa ilkomp, kok😛
    yaaa…doakan saya biar ndak suka nilep duit kantor. kalo rokok, sih, masih sering

  16. 16 goop Februari 2, 2008 pukul 4:35 pm

    Memang banyak fenomena PSK ini…
    PSK = Pekerja sosial kemanusiaan

  17. 17 Dee Februari 2, 2008 pukul 9:32 pm

    Idealisme itu cuma miliknya orang mlarat yang nggak punya duit ya mas? Atau orang yang nggak punya akses sama duit ya?

  18. 18 abah dedhot Februari 3, 2008 pukul 12:32 am

    kalo ngga ada si Joe… ngga keliatan niat tulusnya extremusmilitis. ternyata perlu juga “keberadaan” si Joe ini… sebagai cermin diri kita, yang mesti di sembelih… (bukan nyembelih leher si Joe…😆 ).
    salam

  19. 19 Dimas Februari 3, 2008 pukul 1:37 am

    wah betul idealisme di indonesia tampak mahal di antara harta yang menyilaukan….

  20. 20 stey Februari 3, 2008 pukul 12:00 pm

    hemmm..klo ini gambaran yg sesungguhnya dari pekerja LSM itu..saya jadi bingung mo komen apa..

  21. 21 perempuan Februari 3, 2008 pukul 2:11 pm

    Ya tingal kita melihatnya dari mana Sam Dana.
    Tapi emmang kedilematisan selalu ada pada hal-hal yang begini. Pada dasarnya LSM bukan memerdekakan bangsa, bisa malah pada penyerahan kedaulatan bangsa secara halus kepihak lain.
    *maaf ini pendapat subyektif saya, sebatas penglihatan saya selama ini pada LSM*
    Dunia ini memang banyak yang abu-abu….

  22. 22 danalingga Februari 3, 2008 pukul 3:21 pm

    @Cabe Rawit

    Sepertinya calon maling teriak maling yak? Sungguh ironis bukan?

    @Dekisugi

    Kesamaan nama bukan kesengajaan, hanya kebetulan belaka.😛

    Oh iya, saya doakan deh.😀

    @goop

    Filem tentang PSK ini udah ada belon ya?

    @Dee

    Iya, kalo di pikir-pikir sepertinya begitu yak. Menyedihkan ketika idealis hanya karena tidak punya kesempatan untuk tidak idealis.😦

    @abah dedhot

    Yah, mari kita jadikan Joe sebagai cermin.😆

    @Dimas

    Mungkin karena miskin ya, jadi begitu lihat duit langsung kesetanan.

    @stey

    Kalo pekerja LSM emang begitu, nah kalo pengabdi LSM beda lagi kawan.😀

    @perempuan

    Wah😯

    Apa LSM nya salah juga ya mbak? Bukannya karena personelnya yang bikin salah itu?

  23. 23 lahapasi Februari 3, 2008 pukul 4:29 pm

    yah,mempertahankan idealisme memang bukan hal mudah ketika kita turun ke lapangan..

    ngomong2 masih hidup si joe?

    *serius*

  24. 25 sitijenang Februari 3, 2008 pukul 9:42 pm

    idealisme semukah? maha benar uang dengan segala daya tariknya…:mrgreen:

  25. 26 Arwa Februari 4, 2008 pukul 2:06 am

    Emangnya siapa seh yang kagak mau n kagak butuh ama duit….?
    *saya ndak butuh ama duit karna saya onta, hihiiihiii*

  26. 27 itikkecil Februari 4, 2008 pukul 10:43 am

    eh…. sebagai mantan orang LSM, harus saya akui kalau ada saja LSM yang seperti itu. tapi ada juga LSM yang masih idealis.
    masalahnya adalah masih banyak LSM yang belum bisa mandiri dan jadinya tergantung dengan donor. mungkin karena kurangnya partisipasi dari masyarakat.

  27. 28 danalingga Februari 4, 2008 pukul 6:43 pm

    @lahapasi

    Sepertinya memang sangat sulit.

    Si joe sepertinya sih masih hidup.😀

    @brainstorm

    Iya, juga ya…

    @sitijenang

    Wah, ternyata maha benar juga.😆

    @Arwa

    Ah… bahkan unta juga butuh duit.😛

    @itikkecil

    LSM apa orangnya mbak? Jangan sampe rancu ini.😉

  28. 29 itikkecil Februari 5, 2008 pukul 9:58 am

    ada LSM yang seperti itu, ada juga orangnya yang seperti itu. Ada yang memang sistem di dalam LSM nya yang memungkinkan terjadinya hal seperti itu. ada juga orang nya yang seperti itu.
    toh dalam setiap hal pasti ada dua sisi mata uang. ada yang baik ada juga yang tidak baik.

  29. 30 watonist Februari 5, 2008 pukul 3:12 pm

    *catat di bookmark, sebagai pengingat*🙂

    hehehe … itulah kenapa saya lebih menggandrungi idealisme yang membebaskan diri sendiri daripada idealisme untuk membebaskan orang lain.

  30. 31 danalingga Februari 5, 2008 pukul 5:11 pm

    @itikkecil

    Iya juga sih, semua memang ada dua sisi. Tapi kebetulan di cerpen saya ini, yang menjadi sorotan adalah pelakunya.😀

    @watonist

    Iya juga sih, bagaimana mungkin mau membebaskan orang lain jika diri sendiri aja tidak terbebaskan?:mrgreen:

  31. 32 MacDots Februari 9, 2008 pukul 4:42 pm

    Ada Sebuah slogan untuk cerita ini :

    “Kau siksa diriku…aku tahan…
    Kau tangkap aku…aku tak gentar….
    Kau pijak2 tubuh ku…semangat ku membara…

    Tapi jangan kau siksa diriku dengan Uang…
    Aku tak tahaaaaan……”

    Cuma anekdot ini…hiohihoihohi

  32. 33 fan April 19, 2008 pukul 11:50 pm

    pengen muntah. muntahin mukanya!

  33. 34 komentar November 27, 2008 pukul 11:47 pm

    semua manusia sama, manusia hanya dapat menduga dan mereka2, jangan jadi orang yang terlalu edialis…. toh akan mengakibatkan banyak godaan…. sedang2 aja ya…. karena andapun berpeluang untuk menjadi si joe, manusia … ya manusia yang hidup penuh godaan nafsu,

    jangan coba2 untuk menjadi seorang yang idealis bila pondasi moral tidak kuat anda pasti akan mengikuti jejak sijoe….

    ingat pesanku dan boleh dibuktikan,
    jangan percaya pada mahasiswa yang idealis tapi jarang masuk kuliah karena akhirnya akan menjadi si joe…

    boleh lihat kenyataan para aktifis yang dulunya idealis dan males masuk kuliah kini hidupnya bagaimana……???
    perhatikan pula aktifis yang sering masuk kuliah hidupnya bagaimana….???

    bagaimana dapat dikatakan idealis dan mampu untuk mempertahankan perjuangan bila kewajibannya sendiri tidak dapat dipenuhi… omongkosong itu semua….

    tak ada yang idealis bagi yang jarang masuk kuliah. tak ada yang idealis bagi orang yang tidak dapat menjalankan kewajibannya selaku pemeluk agama, tiada orang yang idealis bagi yang tidak memiliki nilai kesopanan.

    moralitas akan dapat tercipta bila sesoorang memiliki pondasi yang kuat untuk menjalankan sesuatu yang menjadi kewajiban baginya…

    berapa banyak aktifis yang menjalankan kewajiban sesuai tuntunan agamanya…..
    berapa banyak aktifis yang menjalankan kewajiban belajarnya…
    berapa banyak aktifis yang berasal dari keluarga kaya…..
    rata-rata aktifis berasal dari keluarga yang tidak kaya, wajarlah terjadi seperti si joe////

    aku juga seorang aktifis mahasiswa dulunya, aku tau bagaimana kehidupan aktifis mahasiswa….
    aku juga seorang pekerja buruh, aku tau bagaimana pahitnya mencari uang….
    aku juga seorang pekerja lsm, aku tau bagaimana kehidupan aktifis lsm…
    aku sama seperti kalian….

    yang namanya idealis itu tidak ada bagi orang2 yang berkehidupan miskin, paspasan atau tidak kaya…. semua pasti akan hilang bila kesempatan telah tercipta.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: