Nuansa Sufistik dari PADI

Tulisan kali ini adalah sebagai perwujudan rasa hormat terhadap kenikmatan yang telah saya peroleh dari album padi terbaru Tak Hanya Diam . Sungguh memang selama ini mereka tak hanya diam sembarang diam, tapi demi menghasilkan maha karya ini. Dan secara lebih khusus lagi maka saya sangat menikmati lagu Sang Penghibur dan Harmony. Yang begitu mendengar pertama sekali, saya langsung jatuh cinta terhadap kedua lagu tersebut. Sebab entah kenapa lagu ini membuat saya bisa langsung tenggelam dalam kontemplasi yang mengasyikkan. Itu sebelum saya terlalu mengerti akan liriknya, namun setelah lebih memahami lagi liriknya maka memang sungguh sangat mengena terhadap rasa dalam hidup saya. Sebuah pesan yang bagi saya pribadi sangat kental dengan spiritualitas sufistik. Dan saya sangat menikmatinya, sungguh indah.

Silahkan nikmatiΒ keindahannya :

Sang Penghibur
Ciptaan: Piyu

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi kucerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Kugerakkan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

Masih kucoba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah, penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Yang lelah jiwanya…

Oh..bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya…

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
Melangkahkan kaki…menuju cahaya

(Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)

Harmony
Ciptaan: Piyu

Aku mengenal dikau
Tak cukup lama … separuh usiaku
Namun begitu banyak…pelajaran
Yang aku terima

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmony

Segala kebaikan
Tak akan terhapus oleh kepahitan
Kulapangkan resah jiwa
Karna kupercaya
Kan berujung indah

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmony

Kau membuatku mengerti hidup ini
Kita terlahir bagai selembar kertas putih
Tinggal kulukis dengan tinta pesan damai
Dan terwujud harmony…

31 Responses to “Nuansa Sufistik dari PADI”


  1. 1 caplang[dot]net Februari 4, 2008 pukul 9:08 am

    PADI memang masih dahsyat
    dengerin album-albumnya ga bikin bosen

  2. 2 Ina Februari 4, 2008 pukul 9:40 am

    saya suka banget tuch lagu “sang penghibur”. Keren…!!!!

    Padi emang nga ada matinya.

  3. 3 sawali Februari 4, 2008 pukul 11:53 am

    mas dana pengagum group “padi” rupanya, yak. wah? kalao dirasakan syair2 group musik itu menawarkan banyak lirik yang menyentuh persoalan keseharian, tidak banyak bertaburan rayuan kata-kata cinta yang cenderung membosankan seperti yang biasa dilantunkan oleh kelompok lain.

  4. 4 Sayap KU Februari 4, 2008 pukul 1:29 pm

    Mas, nanti malam dengarkan lagu ke-3 dari album ini.. ada kata-kata yang bagus banget:

    “belumlah terlambat untuk mengerti, dan belum terlambat untuk … dst” sebuah arti untuk cinta tanpa melihat wujud.

    -Ade-

  5. 5 :::::: Februari 4, 2008 pukul 1:31 pm

    hayah ternyata review lagu
    *berlalu*

  6. 6 zal Februari 4, 2008 pukul 1:57 pm

    ::iya ferry, hanya review lagu tok..abaikan saja…
    mana mungkinkan Allah, melantunkan petunjuknya lewat lagu…
    meskipun si pencipta musik, harus merenung dalam menemukan kalimat…iya kan…

  7. 7 bsw Februari 4, 2008 pukul 2:33 pm

    Kata2 yg indah dan bisa direnungkan mungkin memang nilainya “universal”. Mungkin seorang sufi memang ditakdirkan ada untuk menunjukkan kata-kata ini. Seseorang bisa terinspirasi dari nilai2 keindahan “universal” ini, bisa dari sufi bisa juga dari perenungannya sendiri.
    Piyu sendiri mungkin terinspirasi dari ucapan sufi (Islam) ataupun tokoh kristiani (karena setahuku dia penganut Kristen).
    Bagaimanapun nilai2 keindahan “universal” itu memang ada – darimanapun dia.
    – SOK TAHU SEKALI mode off –πŸ™‚

  8. 8 danalingga Februari 4, 2008 pukul 6:37 pm

    @caplang[dot]net

    iya, emang dahsyat.

    @Ina

    Emang keren tuh lagu.πŸ˜€

    @sawali

    Saya kagum ama dua lagu di atas pak, ama lagu yang lainnya sih saya suka.πŸ˜€

    @Sayap KU

    Sufistik nggak?

    @::::::

    Silahkan.πŸ˜›

    @zal

    Bah! Bisa satir juga ternyata.πŸ˜†

    @bsw

    Justru sufi itu memang universal adanya. Sufi itu hanya sebutan untuk kekasih Allah, hanya sebutan saja.πŸ˜€

  9. 9 calonorangtenarsedunia Februari 4, 2008 pukul 7:24 pm

    kayaknya lagu ini pernah di posting JB ya?

    *males ngecek*

  10. 10 takochan Februari 4, 2008 pukul 8:41 pm

    PADI itu benar2 “padi”, makin tua, makin berisi, makin “merunduk”:mrgreen:

  11. 11 sitijenang Februari 4, 2008 pukul 10:34 pm

    kayaknya syair dari Piyu deh. saya pernah ketemu sama dia. kayaknya emang tipe melankolik sufistik *halah* btw, aransemen musiknya juga rasanya pas… *haiyah*:mrgreen:

    *padi makin tua makin merunduk. tapi koruptor makin tua makin betah duduk. soalnya perutnya mblenduk* lha kok?

  12. 12 abahdedhot Februari 4, 2008 pukul 11:58 pm

    …Tapi abah belum tau pasti “pesan” apa, yang mas piyu ingin sampaikan kepada para pendengarnya…
    Yang mantep mah, justru “sang pengamat”, melalui “Sang Pendengaran”, hingga dapat dipertemukan (oleh ?) dengan “makna” yang cukup dalam dari seuntai syair… HIDUP MAS DANA…!!!:mrgreen:
    salam

  13. 13 Pyrrho Februari 5, 2008 pukul 2:57 am

    Padi makin dewasa dengan lirik-liriknya yang tidak hanya bercerita soal cinta dari satu sisi, tapi dari sisi yang lebih universal.

    Saya malah lebih suka lagu Bila Engkau Bersedih dan Belum Terlambat. Seperti komen Ade : belumlah terlambat untuk mengerti, dan belum terlambat untuk menumbuhkan cintaku…πŸ™‚

    *dari penggemar Padi sejak album Indie dulu*

  14. 14 tukangkopi Februari 5, 2008 pukul 9:59 am

    belum beli mp3 bajakannya..:mrgreen:

  15. 15 Goenawan Lee Februari 5, 2008 pukul 1:23 pm

    *nungguin pembahasan tentang Dewa 19*
    πŸ˜†

    *gelar tikar*

  16. 16 qzink666 Februari 5, 2008 pukul 3:08 pm

    Lagu “belum terlambat” lebih mengena di hati saya kayaknya, bro..
    *bagi yg pernah dengerin curhat saya, harap diam!!*

  17. 17 danalingga Februari 5, 2008 pukul 5:07 pm

    @calonorangtenarsedunia

    JB itu sopo bu?

    @takochan

    Kata padinya sih emang begitu tujuannya.πŸ˜€

    @sitijenang

    Yah, emang mungkin lagi pas aja nih.πŸ˜€

    Walah, malah bisa jadi ke koruptor segala.πŸ˜›

    @abahdedhot

    Hueheheh… abah ini suka pura pura nih. Saya kira pesannya akan berbeda beda terhadap orang yang berbeda. Walau itu lagu yang sama *jadi inget kitab suci nih*

    Tapi saya sangat setuju soal HIDUP MAS DANA itu bah.πŸ˜†

    @Pyrrho

    Yah, apresiasi saya ini dari sisi spiritual sih bang. Dan menurut saya kedua lagu di atas yang sangat kental nuansa spiritualnya.

    @tukangkopi

    Silahkan beli di toko terdekat.πŸ˜›

    @Goenawan Lee

    Dewa 19 kan dah banyak yang bahas gun, jadi nggak perlu saya tambahin lagi deh.:mrgreen:

    @qzink666

    Jangan percaya bro, sebab memang udah terlambat.πŸ˜†

  18. 19 Hoek Soegirang Februari 6, 2008 pukul 12:05 am

    Johh!!! benul-benul asek sangadh memang, walofun menurudh saia kalo keseringan didengerin bikin bosen juga *ditendang*
    tafi saia suka laguna fadi soale ndak mbawa lirik cengeng, manja, laknat nan tengik khas band endonesa yang sekarang. tafi kalo ada lagunya yang soal cinta-cintaan…
    mendink ke laudh ajah! :evi:

  19. 20 'K, Februari 6, 2008 pukul 7:23 am

    padi,,,my love,hope n soul!

  20. 21 calonorangtenarsedunia Februari 6, 2008 pukul 9:19 am

    Maap..Maap..Yang posting ternyata si Alex.. bukan JB (jendral bayut).

  21. 22 dobelden Februari 6, 2008 pukul 9:45 am

    klo kaset kayaknya dah kusut lagu ini.. karena seharian distel terusπŸ˜€

  22. 24 eMina Februari 6, 2008 pukul 2:01 pm

    oOo
    emang syairnya sufistik ya?πŸ˜•
    *ga ngerti*

    tapi saya lebih suka lirik dan lagu Letto. Simpel, romantis, tapi ga vulgar dan nyastra bangetπŸ˜€

  23. 25 danalingga Februari 6, 2008 pukul 6:58 pm

    @Heinrich Harrer

    Selamat dan silahkan berbagi.πŸ˜€

    @Hoek Soegirang

    Ternyata hoek anti cinta cintaan. *lirik betina hoek*

    @’K,

    Hohohoho… sobat ternyata.

    @calonorangtenarsedunia

    Oh, kalo si alex sih emang iya.πŸ˜€

    @dobelden

    Kan ada cd nya.πŸ˜†

    @baliazura

    Setuju banget.

    @eMina

    Sufistik banget. Sebenarnya sih sufistik kontemporer.πŸ˜€

  24. 26 lahapasi Februari 6, 2008 pukul 10:12 pm

    PADI namanya ndeso banget padahal..
    tapi lagunya keren.

    oya,sayangnya model klip sang penghibur kurang cantik hehee..

  25. 27 nicoustic Februari 7, 2008 pukul 1:25 am

    Sang penghibur? Memang yang piyu tulis itu semua menyentuh hati

  26. 28 Hair Februari 7, 2008 pukul 9:47 am

    Kalau saya sich suka Harmony N sebelum terlambat
    Lagunya bagus banget

  27. 29 hildalexander Februari 13, 2008 pukul 11:06 am

    Tapi Om, melodi Harmony itu ‘nyontek’ or ‘plagiasi’ dari melodinya Ebony and Ivory-nya Stevie Wonder…..100%. Dengerin lagi deh….

    Meski saya suka Padi, tapi menurut saya lirik dan syairnya amat sangat merefleksikan ‘kekalahan’ Piyu (notabene dia yang menciptakan nyaris seluruh lagu Padi) dalam mewujudkan relasi romantis (cinta). Simak lirik dan syair Padi dari album pertama hingga terakhir. Yang paling kentara adalah Kasih Tak Sampai dan Menanti Sebuah Jawaban.

    Kecuali ‘Sobat’ yang sangat menggugah, meski lirik dan syairnya pun ‘pecundang’ banget…..

  28. 30 danalingga Februari 13, 2008 pukul 5:00 pm

    @lahapasi

    Apalah arti sebuah nama?πŸ˜†

    Wah, saya belon liat klipnya tuh.

    @nicoustic

    Sepertinya emang penciptaan lagu oleh piyu ndak sembarangan.

    @Hair

    Yah, emang tergantung selera sih.

    @hildalexander

    Saya sih ndak pedulu nyontek atau gimana. Yang penting enak di dengar ajah.

    Dan soal makna dari lagunya, maka tergantung yang mendengarkan. Kalo saya melihat lagu tersebut mempunyai makna sufistik.πŸ˜‰

  29. 31 empuisme Juni 17, 2011 pukul 12:12 pm

    *cium tangan* mas @danalingga dan @piyupadi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: