Salah Paham Terhadap Buddhisme

Selama ini ada banyak terdapat ke-salah paham-an mengenai agama Budha. Misalnya :

• Anggapan bahwa Gautama Buddha merupakan penemu Buddhisme
• Anggapan bahwa Buddhisme itu bersifat pesimistis dan nihilistik
• Anggapan bahwa Buddhisme tidak meyakini Tuhan
• Anggapan bahwa Buddhisme tidak meyakini eksistensi jiwa

Dan pada kenyataannya tidak semua umat Buddha mencerminkan anggapan-anggapan tersebut. Secara lebih umum lagi tidak semua aliran-aliran dalam Budhha yang mencerminkan anggapan-anggapan tersebut. Dengan kata lain, ternyata kita tidak bisa menggeneralisasi bahwa anggapan-anggapan tersebut mewakili Budhisme itu sendiri, hanya karena kita menemukan seorang atau lebih umat Budha meyakini yang sesuai dengan anggapan-anggapan di atas. Toh , kita sudah sepakat bahwa prilaku atau keyakinan umat bukan representasi kebenaran agama itu sendiri.😉

Dan untuk memperjelas mengapa bisa agama Buddha itu di salah pahami , maka akan saya bahas hal-hal yang menyebabkan sampai munculnya anggapan-anggapan yang sebenarnya tidak mencerminkan sejatinya ajaran Buddha itu. Menurut Wong Kiew Kit, dalam bukunya The Complete Book of Zen., ada 3 alasan utama timbul kesalah-anggapan itu, yakni :

1. Ada 3 aliran besar dalam Buddhisme

Yup, ada 3 aliran besar dalam Budhisme saat ini, yakni Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Dan sudut pandang dari ketiga aliran tersebut berbeda-beda terhadap sumber ajaran yang sama. Jadi anda tidak dapat menilai Budhisme itu begini, Budhisme itu begitu, jika hanya melihat dari sudut pandang satu aliran saja. Bahkan tidak dapat juga , walau anda menggunakan sudut pandang ke 3 aliran, tapi masih menganggap tiap sudut pandang itu berbeda. Budhisme menjadi mendekati sempurna jika anda melihat melalui ke 3 sudut pandang dan menyadari bahwa ke 3 sudut pandang itu adalah satu adanya. Tapi catat itupun hanya mendekati sempurna. Sempurna hanya bisa tercapai bila telah menjadi Buddha itu sendiri.

Merasa familiar bukan? Harusnya familiar, sebab semua agama-agama besar juga mengalaminya. Di mana sudut pandang berbeda akan melahirkan aliran-aliran tersendiri. Dan kita tidak dapat menilai kebenaran agama hanya berdasarkan salah satu aliran saja, tapi harus memahami secara utuh. Atau lebih bagus lagi bisa langsung mempelajari langsung dari sumber, sebelum terpecah-pecah berdasarkan penafsiran umatnya. Tapi biasanya hal tersebut hampir mustahil, sebab sang pembawa ajaran biasanya sudah tiada. Jadi kita hanya dapat mempelajari agama-agama dari sumber sumber yang telah melalui penafsiran-penafsiran. Kita hanya dapat berdoa, semoga saja tafsiran-tafsiran yang kita pelajari bisa membawa kita kepada sang Kebenaran Sejati. Maka jika demikian, kemudian kitapun menjadi penafsir dari Kebenaran Sejati kepada orang lain.

2. Keterbatasan Bahasa

Dalam Budhisme bahasa hanya digunakan secara temporer, dalam artian bahwa bahasa yang di gunakan untuk menerangkan suatu hal akan tidak tepat lagi begitu waktu telah berubah, bahkan dalam hitungan detik. Sering di temukan bahwa kata dan ekspresi (dalam bahasa apapun) yang berusaha menjelaskan konsep Buddhis itu di jelaskan, tidak selalu dapat mewakili artinya secara tepat. Hal ini dapat di lihat pada konsep kesadaran dan pencerahan. Di mana sebagus apapun bahasa yang di gunakan untuk menjelaskannya, maka tidak akan pernah sempurna jika kepada siapa penjelasan dilakukan, belum mengalaminya sendiri. Makanya para guru Buddhisme selalu menekankan bahwa pemenuhan spiritual itu bersifat pengalaman, bukan suatu proses intlektual, apalagi cuma proses history (berdasarkan katannya orang lain). Dan biasanya para guru Buddhis itu mengajar dengan mengkondisikan suatu kejadian bagi para murid sehingga langsung dapat mengalami sendiri, dan tidak sepenuhnya tergantung pada belajar dari buku.

Merasa familiar lagi bukan? Seharusnya familiarlah, sebab semua agama saya rasa memang harus melalui pengalaman diri sendiri. Tidak bisa hanya belajar dari buku, lantas langsung paham. Sebab jika tidak melalui pengalaman sendiri, maka hanya akan menjadi semacam katanya katanya katanya orang . Dan selanjutnya kita sendiri belum mengalami ber-agama , kita hanya menceritakan pengalaman orang lain dalam ber-agama. Dan seringnya , kita merasa telah ber agama hanya dengan menceritakan pengalaman orang lain itu. Sungguh sebuah tindakan menyedihkan bukan? Dan yang lebih menyedihkan lagi, kita memaksa orang beragama sesuai dengan cerita orang lain yang kita percayai itu. Heh! Kesadaran macam apa itu?!!! Itu seperti orang buta yang menuntun orang buta, melalui sebuah peta dari orang yang bisa melihat. Siapa coba yang bisa baca peta itu?😆

3. Perbedaan tingkat pemahaman

Sering terjadi kesulitan dalam membedakan antara pengetahuan biasa dengan kebijaksanaan yang lebih tinggi dalam Buddhisme. Sebab ketika seseorang itu tidak memahami kebijaksanaan Buddhisme yang lebih tinggi, maka ia akan kehilangan intisari ajaran Budhisme itu sendiri. Jadi jika kemampuan orang tidak sama, maka akan berbeda pula hal yang di dapat dari suatu ajaran Buddhisme yang sama. Jadi orang biasa, hanya akan menggunakan pengetahuan biasa. Dan orang bijaksana akan menggunakan pengetahuan yang lebih tinggi.

Misalnya, dalam memandang air. Biasanya kita menganggap sebagai cairan yang dapat digunakan untuk minum, mencuci, dan sebagainya. Tapi setelah melakukan suatu eksprimen, maka air merupakan kumpulan hydrogen dan oksigen. Dan ketika dilihat di mikroskop electron, maka airpun menjadi pola partikel subatomik. Pengetahuan biasa akan melihat air secara berbeda di setiap kondisi dan waktu yang berbeda . Sedangkan orang dengan kebijaksanaan tertinggi akan melihat air secara utuh, dengan menggabungkan semua aspek air yang berbeda tersebut pada waktu yang sama.

Nah, hal ini sangat sulit di capai. Sehingga banyak pandangan terhadap Budhisme tidak dapat melihat secara utuh sampai ke esensi. Jadi sering hanya melihat Budhisme secara bagian per bagian, namun sudah berani menyimpulkan bahwa Budhisme seperti anggapannya.

Nah, familiar lagi bukan? Harus familiarlah, sebab bukankah sering kita lihat (atau malah kita lakukan sendiri?) bahwa dalam menilai suatu agama atau aliran , kita menilai dari sudut pandang kita. Padahal ternyata pengetahuan kita tidak utuh tentang agama atau aliran itu alias kita belum mengalaminya sendiri. Tapi kita sudah berani memastikan bahwa agama atau aliran itu sesat adanya. Lah, bagaimana mungkin penilaian kita itu benar, jika ternyata kita sendiri tidak mengenal agama atau aliran tersebut secara benar? Dan hal ini juga berlaku dalam melihat pemahaman dari orang per orangan. Seperti misalnya memandang SSJ atau Al Hallaj. Mang yang menilai itu telah paham sepenuhnya akan pengalaman dari SSJ dan Al Hallaj itu? Sebab toh, si penilai tidak mengalami apa yang di alami mereka mereka itu. Maaf kalo saya mengambil contoh tokoh dari Islam, sebab memang itulah yang saya tahu. Tapi saya sadari perlakuan yang sama juga di berikan oleh lembaga-lembaga agama lain, terhadap yang di anggap telah menyalahi ajaran agama versi mereka.:mrgreen:

Begitulah kira-kira sebab-sebab mengapa Buddhisme sering di salah pahami. Dan ternyata sebab-sebab tersebut berlaku universal bagi agama dan aliran manapun. Jadi sebaiknya kita jangan buru buru menjudge suatu agama atau aliran atau orang yang kita anggap berbeda dengan kita sebagai sesat. Jika masih ingin menilai, maka selami dulu agama atau aliran tersebut sampai sebenar-benarnya. Jangan hanya memahami sepotong, sudah berkoar-koar telah mengetahui sepenuhnya. Nah , jika merasa tidak mampu untuk menyelami agama atau aliran yang berbeda dengan kita, ya cukuplah selami saja agama atau aliranmu sedalam-dalamnya. Tidak perlu menyibukkan diri menilai agama atau aliran orang lain.😉


Kridit:

The Complete Book Of Zen, Wong Kiew Kit

52 Responses to “Salah Paham Terhadap Buddhisme”


  1. 1 selero Maret 10, 2009 pukul 3:13 pm

    saya sangat se7 dengan pemikiran bahwa untuk menuju kesempurnaan bisa dilakukan dengan berbagai cabang yang berasal dari akar yang sama.

  2. 2 kesunyataan April 21, 2009 pukul 12:32 pm

    kalo saya sangat setuju dengan ajaran buddha dan saya kasih tahu kalo sleeping buddha itu bukan sebuah aliran melainkan itu adalah posisi buddha sakyamuni sebelum parinibana dalam posisi singa jadi yang namanya sleeping buddha itu bukanlah sebuah aliran dan juga bukan nama seorang buddha tetapi sebuah posisi buddha sayamuni sebelum parinibana yang jadi pertanyaan saya selama ini kosongadalah isi isi adalah kosong apaan tuh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: