Buang Saja Agama Itu !!!

Entah karena saya baru menulis tentang memanfaatkan komentar  atau memang karena saya jenius (mungkin karena keturunan Yahudi ) . Nah tiba-tiba setelah membaca komen Wahyu. S yang nangkring di salah-satu postingan ,  saya dapat ide postingan lagi nih. Postingan kali ini mengenai apa sih sebenarnya fungsi agama itu sehingga kita perlu beragama. Nah, karena ini postingan saya bukan postingan anda apalagi postingan mereka *nyitir sabda anangku* , maka tentu saja sudut pembahasannya dari sudut pandang saya. Jadi harap maklum saja kalo nggak sesuai sudut pandang pembaca. Jika di rasa perlu silahkan di tulis di mengenai sudut pandang yang tidak terwakili itu di kolom komentar. Sehingga nanti sudut pandang kita bisa sama-sama semakin luas.

Begini, ketika membaca komentar dari sodara Wahyu S tersebut, di mana yang saya tangkap beliau meniscayakan bahwa antar agama yang berbeda pasti mengkafirkan. Dan konsekuensinya adalah beliau menganggap wajar jika antar agama saling menyesatkan, toh memang masing-agama pasti menganggap dia benar sedangkan agama yang lain salah. Secara sepintas sih memang kelihatannya sangat benar sekali logika itu. Tapi kan kita tahu bersama, bahwa sesuatu itu terlihat benar bukan berarti benar bukan? Sebab jika logika itu benar maka berarti agama di turunkan untuk menyesatkan agama yang lain dunk? Kurang kerjaan amat Tuhan membuat agama untuk tujuan itu. Bikin susah saya aja sebegai manusia. Kenapa nggak di buat aja manusia beragama satu biar nggak pada gontok-gontokan. Atau Tuhan emang sengaja biar tontonan di dunia panggung sandiwara ini makin meriah? Duh kejamnya Dikau Tuhan, pan saya capek berantem muluw.

Tapi berhubung Tuhan yang saya kenal sepertinya nggak gitu, maka pikiran saya mulai bekerja, mengira-ngira di mana sebenarnya masalahnya. Sebab rasanya sih Tuhan tidak menurunkan suatu agama untuk menjelekkan agama yang lain. Nah, tiba-tiba terlintas jawaban yang entah dari mana. Kalo kata orang sih itu wahyu, tapi saya takut ah… mengaku menerima wahyu. Entar di tuduh jadi nabi palsu lagi, kan repot, apalagi MUI belon bubar jugak.. Nah, ternyata wahyu.. eh… jawaban itu adalah bahwa agama itu sebenarnya berfungsi untuk petunjuk agar kita bisa mengenal Allah, kembali mengingatNya. Sebab setelah kita main-main ke dunia ini, kebanyakan kita langsung lupa padahal sebelumnya kita kan berada bersama Dia Toh. Eits… pendapat saya ini di dukung kitab suci kok, bukankah di sebutkan ” yang berasal dariNya akan kembali kepadaNya ” atau “rohNya lah yang ditiupkan ke dalam manusia” . Nah tuh, benarkan kalo dulu kita sebelum ke dunia ini memang bersamaNya. Tapi karena kita ingin main-main di bumi ini, jadinya sebagai akibat kelahiran kita maka kita bisa lupa kepadaNya.

Dan di situlah sebenarnya peran agama bermain. Untuk mengingatkan kita kembali akan Dia , yang dulu kita bersamaNya. Sebenarnya kurang cocok juga sih kalo di sebut agama, sebab agama adalah petunjuk-petunjuk dari orang yang telah mengingat Dia , yang akhirnya di lembagakan. Jadi sebenarnya agama itu hanyalah pelembagaaan aja , nggak penting. Yang penting itu ya petunjuk-petunjuk itu sendiri. Nah lembaga atau agama itu mungkin berguna untuk merangkum dan melestarikan petunjuk-petunjuk itu, agar tidak hilang di telan jaman. Agar tetap bisa menjadi petunjuk manusia-manusia setiap jaman.

Maka saya tegaskan lagi bahwa pandangan saya agama itu adalah petunjuk untuk mengingat atau mengenal Tuhan. Dan jika ternyata sebuah agama itu tidak bisa melakukan fungsi tersebut, maka akan serta merta saya buang saja. Sebab tidak berguna bagi saya. Toh., jika hanya untuk bermoral baik, kan dah ada adat istiadat, moralitas masyarakat, hati nurani, hukum dan lain-lain aturan yang nggak pake label agama. Atau biar masuk surga dan terhindar dari neraka jahanam? Eh… mang ada tuh surga dan neraka?😆 Ups… jangan emosi dulu itu hanya becanda. Tapi jika memang ada surga dan neraka itu, saya mah ogah ke salah satunya, mendingan kembali ke asal saya ajah. Ngapain singgah dulu, capek tauk! Nah dengan mengenal sang Asal itu kan berarti lebih besar peluangnya untuk kembali kepadaNya, ndak pake kesesat ke surga dulu, atau neraka dulu. Atau malah balik ke dunia lagi, ih … amit-amit jabang bayi kalo itu.

Oh iya, sebelum saya lupa. Bagi saya agama itu tidak terbatas apa yang di akui di Indonesia. Toh semua pelembagaan kepercayaan bagi saya adalah agama. Dan bagi saya agama yang berguna adalah agama yang bisa membuat umatnya mengenal Tuhan, walau apapun agamanya itu. Jika tidak begitu, maka agama itu hanya sampah, ndak ada gunanya. Buang aja agama yang gitu ke tong sampah, apalagi jika dengan beragama malah kita bertindak laksana binatang. Tebas sana , tebas sini.

131 Responses to “Buang Saja Agama Itu !!!”


  1. 1 syahbal Februari 16, 2008 pukul 8:09 pm

    @danalingga

    truz cara mengenal tuhannya gmn???

    lagian Allah (tuhan) itu satu paket dalam Islam…paket hemat waktu sebelum keburu mati…

  2. 2 danalingga Februari 16, 2008 pukul 8:25 pm

    @Cabe Rawit

    Siyal!!!👿 *tendang cabe ke ulekan*

    @syahbal

    Ya, dengan agama yang bisa mengenalkan Tuhan.😛

    Bos, kita di sini nggak bicara agama mana, tapi bicara bahwa fungsi agama itu harusnya mengenalkan Tuhan, bukan buat sesat-menyesatkan. Jadi jika ternyata Islam yang bisa mengenalkan Tuhan kepadamu, ya jangan di buang, soalnya fungsinya kan dah di penuhi. Nah begitu juga dengan agama lainnya.😀

  3. 3 Wahyu.S Februari 17, 2008 pukul 9:34 am

    yah gw cm komen buat yg berpendapat “semua agama tu sama,tuhannya sama, cm cara nyembahnya berbeda.”

    karena kata tmn gw salah milih agama bisa berakibat fatal di akhirat nanti. coz Tuhan cm bikin 1 agama🙂

    Tp apapun agamanya kalo menuju kearah kebaikan gw rasa penting lah, daripada tanpa agama cm terikat peraturan doang ?
    masalah benar kgknya agama kita udah dikasi akal ama Tuhan buat mikir2 n milih2.

    peace V(-_-)V

  4. 4 danalingga Februari 17, 2008 pukul 9:56 am

    Yah, silahkan berkomen sesukanya, soalnya emang blog ini bebas.

    Dan itu kata teman anda , dan dia bebas berpendapat. Tapi jika ingin melihat pendapat yang berbeda, dan jika ternyata sama kenapa Tuhan mengijinkan agama yang banyak, silahkan di lihat di link yang telah saya berikan.

  5. 5 abah dedhot Februari 17, 2008 pukul 10:29 am

    @mas dana
    Untuk sekilas renungan, tapi kudu dalem nyelemnya:

    RASULLULLAH ditanya oleh seorang muhajirin:
    “Ya RASULULLAH, kalo ada orang yang meninggal dunia bertepatan dengan waktu digelarnya majelis ILMU, lantas yang manakah yang utama yang harus saya hadiri…???”
    jawab RASULULLAH :
    “Sekiranya sudah ada yang mengurus jenazah itu maka utamakan menghadiri MAJELIS ILMU, sebab ILMU lebih utama dari melayat 1000 jenazah, ILMU lebih utama dari menjenguk 1000 orang yang sakit, ILMU lebih utama dari IBADAH 1000 tahun, ILMU lebih utama dari 1000 kali haji.”

    ALLAH dipatuhi dan disembah karena ILMU.
    (bukan atas dasar IKUT-IKUTan, denger apa kata orang lain… TAKLID)
    Kebaikan dunia dan akhirat karena ILMU.
    Kerusakan dunia dan akhirat karena BODOH.

    salam

  6. 6 danalingga Februari 17, 2008 pukul 5:08 pm

    Makasih atas renungannnya bah.:mrgreen:

    *kontemplasi*

  7. 7 abah dedhot Februari 17, 2008 pukul 9:45 pm

    @mas dana
    … disambung lagi ah… Inget yang dulu mas…??? Apabila muncuk suatu masalah atau pertanyaan, maka ia menuntut jawaban atau solusi. Bila jawaban dan solusi tidak ditemukan maka disebut SESAT.
    Tetapi saat masalah atau pertanyaan itu disinari oleh cahaya ILMU sehingga jawaban atau solusi diperoleh maka itu disebut mendapat petunjuk / HUDA.

    Jawaban atau solusi adalah wajib bagi ILMU, sebab kedudukan ILMU adalah:
    1.Memberikan jawaban atas problema.
    2.Memberikan jawaban pasti, tidak boleh mengambang sehingga menimbulkan keraguan.
    3.Menyajikan fakta yang nyata sebagai dasar jawaban.

    segini dulu… ntar nyambung lagi…

    salam

  8. 8 tomy Februari 18, 2008 pukul 2:08 pm

    wah komennya dah banyak amat
    gini Pak, gimana kalo saya beranggapan agama cuma pelarian manusia saja yang tak berani mengambil tanggungjawabnya atas hidupnya sendiri
    lalu coba mencari pemaknaan suatu entitas lain yang jauh lebih berkuasa dari dirinya, sebut aja Tuhan
    seperti yang pernah saya komen juga bahwa mencintai tuhan berarti berkata “YA” akan hidup, mengambil & membuat keputusan akan hidupnya & bertanggungjawab penuh ata keputusan hidup itu
    dan Tuhan akan benar2 hidup di hati, dengan kata lain kita benar2 mengalami Yang Illahi, bukan suatu entitas diluar sana yang jadi tempat kita membuang tanggungjawab karena tak berani menghadapi HIDUP
    mohon tanggapannya

  9. 9 daeng limpo Februari 18, 2008 pukul 3:37 pm

    YA TUHAN
    Rupanya nyang komen disini Tuhan semua

    **Kaboooooorrrrrrr***

  10. 10 danalingga Februari 18, 2008 pukul 5:06 pm

    @abah dedhot

    Di tunggu lanjutannya, entar kalo bisa sekalian kesimpulannya bah.😀

    @tomy

    Berarti harusnya fungsi agama membuat Tuhan itu hidup di hati, jika tidak mendingan buang aja deh.😀

    @daeng limpo

    Sampean juga komen nih, jadi Tuhan juga ya?😆

  11. 11 leksa Februari 18, 2008 pukul 9:42 pm

    agama = label .. bahasa.. barisan huruf

    Btw situ pernah terbayang ga anak Bisu Tuli dari lahir mengerti bagaimana pengucapan, label, dan makna agama..?

    Start from it okeh ? 😀

  12. 12 Tito Februari 19, 2008 pukul 10:15 am

    Agama? Agama dalam bentuk apa dulu?

    Kalau agama dalam bentuk yang institusional dan sektarian saya sudah membuangnya dari dulu…. saya injak2, saya kencingi dan saya siram ke toilet, toh itu lebih sering menjadi belenggu sekaligus candu, ketimbang alat mencapai kebenaran.

    Tapi kalau agama dalam pengertian yg lebih esensial (jalan hidup, makna hidup, dll) ya emang gak bisa dilepas dan dibuang lah… bahkan jalan hidup atheistik pun termasuk agama lho😀

  13. 13 fajarwisnu Februari 19, 2008 pukul 1:54 pm

    ya hadist yang sahih aja kadang2 nggak digubris, lahwong wahyu Allah swt, aja tak digubris. Lha mas dana mau kontenplasi trus buat agama baru, lalu siapa yang menggubris

  14. 14 danalingga Februari 19, 2008 pukul 5:46 pm

    @leksa

    Pernah ke bayang sih, dan sepertinya tuh anak bakalan nggak perlu membuaang agama.😛

    @Tito

    Agama yang tidak bisa membuat kita mengenal Tuhan to.😀

    @fajarwisnu

    Kira-kira hadist sahih itu bisa membuat mengenal Tuhan nggak? Kalo nggak maka udah bener nggak usah di gubris.😆

    Lha mas dana mau kontenplasi trus buat agama baru, lalu siapa yang menggubris

    Saya kok ndak yakin bakalan nggak di gubris nih? Minimal bakal ada acara sesat-menyesatkan.😛

  15. 15 fajarwisnu Februari 19, 2008 pukul 8:14 pm

    iya memang, mungkin ada acara sesat menyesatkan. terus banyak opini terus, ada tinjauan secara hukum, ham, kebebasan berpendapat dll.
    Paling-paling rujukannknya ke syariat-thariqat-hakekat-ma’rifat lagi.
    (wis dibahas di http://www.sufinews.com ).(Islam)
    he he he tapi kok lama-lama mas danalingga yang main tebas, sorry ya bercanda….(kalimat “Buang saja agama itu!!!” juga merupakan tebasan juga to)
    Lha po hidup ini berhenti kalau udah mengenal Tuhan. Kalau sekarang sudah kenal Tuhan khan tinggal menuriti apa mauNYA to…
    Kalau mauNYA sebagai rahmat lil alamin ya ikuti aja

  16. 16 danalingga Februari 20, 2008 pukul 6:42 pm

    Iyah, memang menebas. Tapi kan ada jika nya tuh?😆

  17. 17 Humbang Hasundutan Februari 24, 2008 pukul 11:31 am

    Hidup kekal yang diberikan Tuhan kepada manusia hilang akibat dosa. Tetapi Tuhan masih memberikan kesempatan kepada manusia untuk memperolehnya kembali, dengan syarat harus mengikuti perintah/hukum Tuhan yaitu: Jangan ada ilah lain, jangan menyembah patung, batu, gunung, dll. Sebagai bukti bahwa kita menghormati Tuhan, Tuhan mengharapkan manusia itu untuk mengasihi sesamanya manusia sama seperti diri sendiri dengan cara: Hormatilah orangtuamu; jangan membunuh; jangan berzinah; jangan mencuri; jangan berdusta; jangan mengingini milik orang lain.

    Simpel sekali teman teman. Nah, sekarang tempatkan agama anda itu kepada dua hal di atas: Menyembahlah hanya kepada Tuhan, dan Kasihilah sesamamu manunsia seperti dirimu sendiri. Diluar itu, seperti tulisah sudara dana di atas, tinggalkanlah agamamu itu.

  18. 18 Wahyu.S Februari 25, 2008 pukul 5:34 am

    yah menyembah tuhan kan berati menaati perintahnya dan menjauhi larangannya, keparat sekali kalo ada orang yg sengaja berbuat dosa karena berpikir ‘ah nanti jg tobat’.

    mengasihi sesama manusia itu harus, tapi kalo ada manusia yg merusak kita jg perlu bertindak tegas.

    setuju gk ?

  19. 19 danalingga Februari 25, 2008 pukul 6:57 pm

    @Humbang Hasundutan

    Kira-kira udah berhasi bertemu Tuhan dengan caranya itu belon?😉

    @Wahyu.S

    Setuju. Eh… tapi itu merusak kita atau hanya merasa merusak kita?:mrgreen:

  20. 20 Humbang Hasundutan Februari 26, 2008 pukul 10:11 pm

    @wahyu.S
    Kita boleh membela diri, tetapi jangan balas merusak. Karena pembalasan itu bukan milik kita, ada hukum (pemerintah), ada Tuhan.
    Kalau pemerintah tidak adil, Tuhan pasti adil.

    @danalingga
    Saya tidak berusaha untuk bertemu Tuhan secara langsung. Dengan melihat ciptaanNya, sudah cukup bukti bagi saya bahwa Dia ada. Saya beriman bahwa Tuhanlah yang memciptakan dan menempatkan manusia itu di bumi ini, dan saya percaya bahwa manusia pertama itu bertemu langsung dengan Tuhan.
    Saya percaya/beriman bahwa Tuhan sudah menebus manusia dari dosa melalui penjelmaannya menjadi manusia. Kelak bila Tuhan datang membawa hidup kekal itu, saya berharap akan memperolehnya.
    Bila hal itu terjadi, itu berarti saya bertemu dengan Tuhan.

  21. 21 danalingga Februari 27, 2008 pukul 7:06 pm

    Ou , begitu toh. Kalo saya sih beragama karena ingin bertemu langsung dengan Dia. Dan saya percaya jika manusia pertama bisa bertemu Tuhan, maka sayapun bisa. Yah, mungkin karena saya tidak sabar untuk menanti dalam ketidak pastian akan hari nanti itu. :mrgreeen:

  22. 22 Wahyu.S Maret 4, 2008 pukul 5:24 am

    @Humbang Hasundutan

    “boleh membela diri, tetapi jangan balas merusak. Karena pembalasan itu bukan milik kita, ada hukum (pemerintah), ada Tuhan.
    Kalau pemerintah tidak adil, Tuhan pasti adil.”

    membela diri tanpa balas merusak bagaimana maksudnya ?
    kalau saya dipukulin apa saya tidak boleh balas memukul ? dari sudut pandang kesabaran itu memang baik, tapi dari sudut keadilan kan jelas salah.
    masa orang mukulin saya ampe babak benyok saya diemin aja ?
    sabar2 terus sampe muka saya gk berbentuk.

    gmn saya bisa bela diri kalo saya gk bales nonjok ?

    nah kalo ada tempat pelacuran atau perjudian bukankah itu namanya merusak ? masa kita gk boleh bertindak buat merusak tempat2 semacam itu ?

    nunggu pemerintah bertindak gmn orang pungli2 masuk kekantong petugas gitu, mau nyerahin ke agama gmn ama orang2 yg gk takut tuhan gitu. haruskah kita menunggu anggota keluarga kita ato kerabat2 kita terjerumus kedalamnya baru kita bertindak ?

    nah cinta kasih bukan alasan buat membiarkan kerusakan disekitar kita.

  23. 23 Humbang Hasundutan Maret 6, 2008 pukul 6:16 am

    @Sdr. Wahyu S.
    Misalnya kita bersahabat selama ini, tetapi akibat selisih paham Wahyu memukul saya. Tindakan yang terbaik bagi saya adalah tidak balas memukul, sebab kalau saya membalas, perkelahian sengit akan terjadi. Tetapi kalau saya sudah memaafkan, sudah menghindar, Wahyu masih tetap mengejar saya, wajar saya untuk membela diri. Tujuan pertama saya membela diri adalah agar saya tidak babak belur. Bagaimana saya bisa kerja besoknya kalau wajah saya gak berbentuk lagi? Tujuan kedua adalah untuk menghentikanmu memukul saya, bukan untuk melampiaskan emosi saya.

    Bila ada tempat pelacuran dan atau perjudian di lingkungan kita, kita berhak melaporkannya kepada pemerintah. Bila pemerintah tidak bereaksi, janganlah merusaknya, itu bukan wewenang kita. Hal yang terbaik adalah membentengi saudara saudara kita agar tidak terjerumus. Bila perlu kita tinggalkan tempat itu. Misalnya salah satu dari keluarga anda mendapat beasiswa bersekolan di sebuah Negara yang menghalalkan judi, apakah anda akan meminta Negara itu menutup lokasi perjudian itu? Yang terbaik adalah mencari tempat sekolah yang lain.

    Kita tidak boleh membiarkan kerusakan terjadi di sekitar kita. Kita harus mencegahnya, tetapi tidak dengan cara yang salah.
    Terimakasih.

  24. 24 Wahyu.S Maret 7, 2008 pukul 10:42 pm

    @Humbang Hasundutan

    hmm… pendapat anda yg pertama memang bagus tapi sulit bagi kebanyakan orang untuk mengamalkannya,tapi ya…. bisa dimulai dari diri kita sendiri.

    nah untuk pendapat yang kedua jika saudara kita pergi keluar negri untuk bersekolah tentu saja kita tidak mungkin menyuruh menutup tempat2 judi disana karena diluar wewenang kita (tuan rumah yg punya aturan, mau jadiin negrinya negri maksiat pun kita ga bisa apa2) yg harus kita lihat apakah saudara kita itu mampu membentengi dirinya sendiri, tapi ketika tempat2 yg merusak tersebut ada dalam jangkauan kita kenapa kita tidak bertindak ? membentengi keluarga kita belum cukup mengingat tidak setiap orang bisa melakukannya.
    coba anda bayangkan kalau disebelah masjid tempat saya sholat ada tempat pelacurannya ? lucu sekali kalo khotib sedang berkotbah sementara disebelahnya ada bangunan tempat orang2 berzina.

    salam

  25. 25 Humbang Hasundutan Maret 8, 2008 pukul 9:27 am

    Sdr. Wahyu, sukar_sulit memang keadaan itu. Mengapa pemerintah kita tidak mau bertindak tegas dalam hal ini, padahal mereka punya kuasa untuk itu.

    Saya pernah tanya-tanya sama teman-teman di beberapa negara, apakah ada lokalisasi di sana. Mereka bilang tidak ada samasekali. Kalaupun ada psk, itu bukan di lokalisasi. Kalau ada phb termakan rayuan tetapi ketahuan sama polisi, hukumannya berat.

    Dalam hal ini, negara kitapun sebenarnya harus bisa bersikap tegas. Tidak ada lokalisasi, titik. Kita tetap boleh menyuarakannya, itu hak kita.

    salam

  26. 26 crappuccino Maret 11, 2008 pukul 2:11 pm

    maaf kalo komennya sudah basi.
    Setuju sama posting ini ^^
    Saya rasa sih, “Tuhan” itu suatu “kebutuhan” spiritual, dan sejak jamann jebot manusia itu selalu mencari, yang akhirnya melahirkan agama yg beda2.
    Gimana yah… kadang saya melihat agama itu sebagai suatu “sistem”. Intinya – oke, pemahaman saya tentang “Tuhan” adalah seperti ini/itu, dan agama ini pas buat saya. Ya udah, “sistem” yang ada di situ diikutin gtuh.
    ah, tambah ngelantur.

  27. 27 danalingga Maret 12, 2008 pukul 6:51 pm

    Ndak ada komen yang basi kok.

    Tapi kan Tuhan tetaplah Tuhan , walau apapun pemahaman kita tentangnya. Jadi mungkin mau mengikuti sistem yang manapun, asal bisa menghantar kita menuju Tuhan ya oke oke saja. Gitu kali ya?

  28. 28 razuka Mei 8, 2008 pukul 5:52 pm

    @Mas dana
    saya sangat setuju bila AGAMA dibuang juga bila perlu TUHAN kita buang saja………….
    >ketika si AGAMA tidak mampu membawa kita menjadi selamat.
    >ketika si TUHAN yang kita yakini hanya sekedar membawa kita kedalam fatamorgana kenikmatan alias surgaan. ( akhiran an menunjukan bohong2an,main mainan atau palsulah)

  29. 29 junadi April 23, 2009 pukul 11:32 am

    saya setuju dengan artikle ini, ini sangat bagus, dan luar biasa, ini pertanda kemajuan jaman ….

  30. 30 barong Juli 23, 2015 pukul 1:06 am

    Nice post, selamat berTuhan diluar kotak agama


  1. 1 Katakan “YA” pada Hidupmu « Mata Air Lacak balik pada Februari 18, 2008 pukul 2:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: