Rumput

Rumput tampak terengah heran
melihat ujung bambu yang meliuk
tenggelam dalam tarian
Entah dengan siapa?

“dengan angin” bisik tersampai
ketika tanya dinyatakan

Rumput tampak semakin heran
“angin?! angin yang mana?”
hanya tarian dengan diri sendiri
yang terlihat di ujung bambu
tanpa ada angin

Oh, duhai rumput
seandainya aku bisa bahasamu
‘kan ku bisikkan langsung ke kalbu
engkau sendiri tengah menari
bercumbu dengan sang angin
dari sejak kau ada.

Angin mengalun, membelai semua
mengajak menari tanpa lelah
dalam kesadaran atau tidak.

Dan rumput tetap menanti
sang badai yang akan menyadarkan.

terinspirasi dari komen-komen di Ujung Bambu

32 Responses to “Rumput”


  1. 1 cK Februari 23, 2008 pukul 8:19 am

    hhhmm…jadi si angin selain bermain dengan si bambu, main juga dengan si rumput?πŸ˜•

    *tetep nggak mudeng puisi kelas berat*

  2. 2 danalingga Februari 23, 2008 pukul 8:33 am

    Menari chik… menari… bukan main.πŸ˜†

    *terus berusaha chik*

  3. 3 goop Februari 23, 2008 pukul 9:10 am

    Hahaha…
    saya mengawasi bambu, malah sudah dibikinkeun rumput..
    ah pengawasan yang telat😦
    ___________________________
    bagaimana bila badai datang? rumput tak goyah,
    karena rumput terlindung tubuh bambu?
    bukan rumput yang tercerabut tapi bambu yang tumbang?
    kemana rumput berpaling, pada angin kah?

  4. 4 little_@ Februari 23, 2008 pukul 12:30 pm

    ujung bambu yang meliuk
    satu diksi baru ne,
    setelah rumput bergoyang dan ilalang menari
    paling indah yang mana ya?

  5. 5 tukangkopi Februari 23, 2008 pukul 1:34 pm

    sang rumput tampak belum menyadari karunia yang ia punya… entahlah..😐

  6. 6 Nazieb Februari 23, 2008 pukul 2:20 pm

    Bukannya sang angin lah yang telah mencipta rumput?

  7. 7 Ariyadi Februari 23, 2008 pukul 7:40 pm

    seandainya aku bisa bahasamu
    β€˜kan ku bisikkan langsung ke kalbu
    engkau sendiri tengah menari
    bercumbu dengan sang angin
    dari sejak kau ada.

    Bisikkan saja dengan senyum dan cinta oom:mrgreen:
    *bayangin Oom Dana merayu rumput yang bergoyang*

  8. 8 deKing Februari 23, 2008 pukul 7:45 pm

    Biarkan angin yang menyapa sang rumput oom…

  9. 10 fauzansigma Februari 24, 2008 pukul 2:50 am

    jadi perjalananya sekarang sedang di padang rumput nih

  10. 11 Gunawan Kere Kemplu Februari 24, 2008 pukul 5:57 am

    Tunggu saja di rumput memanjang.πŸ˜›

  11. 12 almascatie Februari 24, 2008 pukul 7:51 am

    asal rumput jangan jadi alas aja kisah asmara dua jenis tumbuhan πŸ˜†

  12. 13 cessario Februari 24, 2008 pukul 8:40 am

    “β€œangin?! angin yang mana?””

    Wogh, rumput koq binggung!?

  13. 14 danalingga Februari 24, 2008 pukul 9:04 am

    @goop

    Iya, dah cerita rumput nih goop.πŸ˜€

    Sepertinya ketika badai datang,
    rumput akan menyadari angin,
    tanpa peduli bambu tumbang atau tidak.

    @little_@

    Semua indah, sebab ada sang angin.πŸ˜€

    @tukangkopi

    Iya, rumput sepertinya belum sadar.

    @Nazieb

    Waduh, kalo yang ini saya ndak ikutan.πŸ˜›

    @Ariyadi

    *merayu rumput*:mrgreen:

    @deKing

    Sepertinya akan saya biarkan saja, tapi saya gemes melihat ketidaksadaran rumput nih.πŸ˜€

    @agorsiloku
    :mrgreen:

    @fauzansigma

    Savana yang indah, di hiasi bambu dan angin.πŸ˜€

    @Gunawan Kere Kemplu

    Saya tunggu.πŸ˜›

    @almascatie

    Pengalaman pribadi ya mas?πŸ˜†

    @cessario

    Bingung karena belum menyadari.πŸ˜€

  14. 15 joyo Februari 24, 2008 pukul 10:17 am

    setelah bambu, rumput, apalagi ya?
    *menanti*

  15. 16 achoey Februari 24, 2008 pukul 11:57 am

    Dan rerumputan tetap bergoyang
    Saat pagi ataupetang
    Mengingat-Nya
    Mengingat kebesaran-Nya

    Rumput tetap tegar
    Meski tak tegak dengan benar

    Danlingga memang multi talenta, salut.

  16. 17 Sawali Tuhusetya Februari 24, 2008 pukul 12:27 pm

    Rumput? wah, ini bisa menjadi simbol “keabadian” sebuah peradaban, apalagi di situ ada angin. rumput dan angin agaknya tak akan pernah mati. mereka selalu ada di sepanjang peradaban umat manusia. meski demikian, rumput dan angin akan juga disapu oleh sang waktu ketika Tuhan sudah menurunkan tangan gaib-Nya untuk menutup layar kehidupan semesta.

  17. 18 calonorangtenarsedunia Februari 24, 2008 pukul 3:32 pm

    Rumput terlalu fokus pada bambu sehingga tidak menyadari kehadiran angin, Dan. Dia terlalu asik dengan keterpanaannya.:mrgreen:

  18. 19 Cabe Rawit Februari 24, 2008 pukul 7:02 pm

    Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri… Itulah tafsir ane untuk puisi ini.:mrgreen:

  19. 20 Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ Februari 24, 2008 pukul 7:31 pm

    andai aku jadi rumput…
    takkan kubiarkan hijauku memudar…
    agar bumi tempat akar2ku menancap tidak murka…
    karena biadabnya manusia yang merusak alam…

  20. 21 ikhy Februari 24, 2008 pukul 8:03 pm

    Hmm….
    Numpang lewat…
    Puisinya bagus banget…
    salut dat 10 jempol…πŸ™‚

  21. 22 danalingga Februari 25, 2008 pukul 6:51 pm

    @joyo

    Matahari keknya boleh juga tuh.πŸ˜€

    @achoey

    Makasih.:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Sepertinya komen bapak menarik nih di jadiin tulisan. *kontemplasi*

    @calonorangtenarsedunia

    Iya tuh han, terlalu sibuk memperhatikan yang di luar diri.πŸ˜€

    @Cabe Rawit

    Bukan rumput tetangga, tapi bambu tetangga.πŸ˜†

    @Moerz, anaknyaCHIWygdiadopsiADIT&NIEZ

    Ah, nikmat dari seandainya.πŸ˜€

    @ikhy

    Makasih.πŸ˜€

  22. 23 fajarwisnu Februari 26, 2008 pukul 2:23 pm

    kembali ke dunia puisi?, dunia sastra?, terpengaruh herlinatiens di http://www.herlinatiens.wordpress.com. wooow, opo tumon

  23. 24 Ina Februari 26, 2008 pukul 7:00 pm

    walah..yg namanya pujangga, biar rumput aja bisa dijadiin puisi.
    keren…!!!

  24. 25 Edi Psw Februari 27, 2008 pukul 3:42 pm

    Alam itu kalau dituliskan dalam sebuah pusisi, indah banget. Misalnya tentang rembulan, gunung, bintang dan lain-lain.

  25. 26 Santri Gundhul Februari 27, 2008 pukul 4:29 pm

    Dan rumput tetap menanti sang badai yang akan menyadarkan.

    Hmmm…hmmm…
    sebuah FILSAFAT tentang KESADARAN sang DIRI, sampai rumputpun menjadikan Ilmu RASA bagi kang Lingga.

    Lalu, pertanyaannya sekarang adalah: mengapa kita harus berupaya untuk mencapai kesadaran yang murni? Perumpamaannya adalah: seandainya air di dalam ember sangat kotor dan berlumpur, apakah engkau akan bisa melihat bagian bawah(dasar) dari ember itu? Nah, demikian pula, di dasar (hati/kesadaran)manusia, kita dapat menemukan Atma (Ruh). Namun Sang Atma (Ruh) tersebut hanya bisa teridentifikasi jikalau kesadaran kita telah menjadi jernih.

    Anginpun tak lain adalah hembusan NAFAS bagi Alam semesta dan menjadikan makhluk ini bisa URIP ( hidup ) dan MATI ( meninggal ) dalam wujud materi dan fisik.

    Nggelesod ambegan alon-alon….HU..HU..HU..

  26. 27 danalingga Februari 27, 2008 pukul 7:11 pm

    @fajarwisnu

    Ndak perlu kembali, karena saya ndak pernah pergi.:mrgreen:

    @Ina
    😳

    @Edi Psw

    Karena alam memang indah.

    @Santri Gundhul

    Walah, kupasan yang mencerahkan ndhul. Saya setuju sepenuhnya.:mrgreen:

  27. 28 tomy Februari 28, 2008 pukul 1:25 pm

    jadi teringat cerita tentang ikan kecil yang menanyakan letak laut pada ibunya.
    Manusia kadang tak sadar yang selama ini dirindunya telah ada dalam keberadaan dirinya. Seperti Rasul yang menjadi utusan Allah, demikianlah juga RASA sejatinya adalah utusan Sang Hidup. Namun seperti kata Kang Santri Gundhul, karena air yang kotor kita tak mampu melihat kedasar ember. Sering Rasa dimatikan hingga kita tak mampu lagi melihat kedalam kedalaman Diri, bahkan mata sudah dibutakan sehingga kita tak mampu lagi melihat kesedihan saudara kita yang anaknya busung lapar *hiks sedih*
    ngeloyor pergi mencari kali mencoba mencuci kekotoran diri, ah bisa gak ya?

  28. 29 eMina Februari 28, 2008 pukul 1:50 pm

    Saya kagum pada sang rumput. Jika badai datang menghempas dirinya yang mungil, adakah perasaannya tersampaikan seperti berhamburannya putik –putik bunga ke angkasa?

    Semoga perasannya tersampaikan pada langit dan bumi.

    Doh, puisinya berat juga ya..ga kalah keren sama shinobi.
    maap jika melantur aneh:mrgreen:

  29. 30 danalingga Februari 28, 2008 pukul 6:30 pm

    @tomy

    *ikut nyari kali*

    @eMina

    Heh! Shinobi mana tuh?

  30. 31 Mrs. Fortynine Maret 5, 2008 pukul 7:50 pm

    Dana… Dana…

    hobi banget nyeritain rumput, bambu sama angin di tiap puwisi yang kamu buwat…

    aku jadi curiga sama orientasi s*ksuwalmu…
    πŸ˜†

  31. 32 harriansyah Maret 12, 2008 pukul 7:41 pm

    berat2 om.. musti di baca2 lagi niyπŸ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Februari 2008
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: