Sebuah Opini Tentang Kitab Suci

Janganlah terlalu mempercayai gambaran tentang Tuhan dalam kitab suci. Sebab gambaran Tuhan yang di katakan kitab suci adalah sebuah keterpaksaan menggambarkan Tuhan (yang tentu tidak tergambarkan) dalam bahasa yang di mengerti manusia. Dan lebih khusus lagi merupakan cara menggambarkan Tuhan dengan bahasa yang dimengerti oleh manusia di tempat kitab suci tersebut dibuat.

Nah, jika begitu bagaimana sebaiknya terhadap kitab suci ini? Yah, saran saya sih perlakukan saja kitab suci itu sebagai petunjuk. Sebagai awal dari usah untuk memahami Tuhan secara pribadi. Jangan malah kita sibuk meneliti kitab suci ini asli, kitab suci yang itu palsu. Atau kitab suci ini langsung buatan Tuhan (mang ada?) , kita suci ono hanya buatan manusia. Semua perbuatan yang begitu percuma, ndak ada gunanya. Dan juga jangan kemudian sangat terikat terhadap kitab suci itu, dan merasa segala sesuatu yang tidak tercantum di dalam kata-kata di kitab suci itu adalah sesat dan menyesatkan. Mau jadi apa sampean? Bisa-bisa malah kembali ke jaman batu.😆

Lagian sesuatu yang tidak ada di dalam kata-kata kitab suci, belum tentu tidak ada di kitab suci tersebut. Bisa jadi karena sesuatu itu di jelaskan dengan bahasa dan cara yang berbeda, makanya kita tidak menyadarinya. Yah, hanya tidak menyadarinya, padahal sebenarnya ada penjabarannya dalam kitab suci itu, walau dengan kata-kata yang tidak sama persis.

Atau kasus lainnya. Bahwa tindakan seseorang yang tidak berdalih berdalil mengembar-gemborkan ayat-ayat kitab suci, belum tentu tindakannya itu tidak terkandung di dalam kitab suci. Misalnya seseorang yang ternyata tidak beragama, melakukan kebaikan pada sesama manusia dengan ikhlas. Nah tentu tindakan seseorang tersebut mencerminkan perintah dalam kitab-suci, walau jelas orang tersebut tidak tahu kitab suci sebab dia kan tidak beragama. Bahkan orang tersebut tidak tanggung-tanggung telah melakukan tindakan yang diperintahkan dalam hampir semua agama di muka bumi ini. Padahal dia tidak beragama loh. Jadi lihatlah tindakannya, jangan dalilnya.:mrgreen:

Nah, yang sangat di sayangkan adalah keterburu-buruan mengganggap sesuatu itu atau tindakan sesorang memang tidak ada di kitab suci . Sifat terburu-buru melabel sesat sesuatu karena tidak di sebut di kitab suci secara gambalang biasanya karena kita telah sanggat yakin dan percaya diri bahwa kita telah mengetahui segala makna dalam kitab suci itu. Padahal, jika sadar kalo fungsi kitab suci adalah hanya sebagai petunjuk untuk dapat mengenalNya, sesuatu yang telah kita lupakan, maka kita tidak akan pernah seyakin itu. Kecuali memang telah berhasil mengenalNya, seperti para nabi baik tertulis maupun tidak tertulis di kitab, yang telah mengenalNya terlebih dahulu.

Petunjuk-petunjuk para nabi inilah yang sering di bahasakan dengan

“hanya melalui sayalah kamu bisa mengenal Tuhan”

“Hanya jalan agama inilah yang di ridhoi Tuhan”

“Hanya “berlaku” sepertiku lah baru bisa mengenal Tuhan”

Merupakan petunjuk-petunjuk yang sangat bagus jika diperlakukan dengan benar. Tapi entah kenapa, seringnya malah menjadi sumber perpecahan. Dan seolah-olah Tuhan menjadi ada banyak, dengan menganggap tiap agama-agama mempunyai Tuhannya masing-masing. Padahal mau sadar atau tidak dengan beranggapan begitu, sama aja telah menyekutukan Tuhan. Lagian toh, Tuhan ya Tuhan, dan semua agama pasti merujuk kepada Tuhan yang Tuhan. Ndak ada kok yang merujuk kepada Tuhan yang bukan Tuhan. Yah, diambil aja dari satu contoh, bukankah semua berpendapat bahwa Tuhan itulah yang menciptakan kita. Lah, jelas bukan pencipta itu hanya satu, bukan banyak.😛

Oh, iya saya ulangi sekali lagi sekalian mengingatkan dan menegaskan. Jangan terlalu percaya apa yang kau pikir di katakan oleh kitab suci tentang Tuhan. Sebab semua itu hanya gambaran yang dipaksakan untuk menggambarkan hal yang tidak tergambarkan. Mendingan usahakan mengenal diri, atau lebih khusus lagi mengenal ruh diri, yang berasal dari Sang Asal. Yah, jadikanlah itu tujuan, dengan memanfaatkan kata-kata dalam kitab suci sebagai petunjuk awal. Selanjutnya terserah anda.😉

Sebagai penutup :

Kitab suci itu diturunkan di suatu jaman dahulu, dan bisa sesuai dengan jaman sekarang, bisa juga tidak.😉


68 Responses to “Sebuah Opini Tentang Kitab Suci”


  1. 1 CY Maret 25, 2008 pukul 3:45 pm

    @Soopo
    Wakakaka… kok ada Sun Go Kong??? itu agama apa tho? Buddha enggak, Kong Hu Cu juga enggak hihihi…😆

  2. 2 syahbal Maret 25, 2008 pukul 7:27 pm

    @ihik..
    assalamualaikum..

    tarekat??
    saia jg punya silsilah pada Muhammad SAW.. tp lewadh ibu..
    klw bapak ke Abu Bakr..
    bisa bikin tarekat sndiri g y?
    tp saia g seneng ama kegiatannya..
    coz sperti buang2 waktu.. br sperti lho..
    padahal saia bkn wahabi ataupun mu’tazilah..
    saia mah pengikut Muhammad SAW..

  3. 3 syahbal Maret 25, 2008 pukul 7:34 pm

    @ihik
    lupa
    assalamualaikum,wr,wb..
    truz..
    wassalamualaikum,wr,wb..
    salam kenal..

  4. 4 Faubell Maret 25, 2008 pukul 8:02 pm

    Assalamualaikum wr wb.
    Numpang pendapat Mas Dana.

    Sebelumnya saya sampaikan bahwa pendapat ini saya sampaikan dengan kondisi saya sebagai seorang muslim. Jadi saya mengambil referensi Al Quran.

    Saya sependapat dengan Mas Santri Gundhul mengenai hal berikut :
    1. Kitab suci adalah petunjuk / lampu penerang.
    Sebagai penerang untuk memahami ayat-ayat yang nyata di dalam dada setiap manusia (kitab teles) dan sekaligus ayat-ayat kauniah yang banyak bertebaran di jagat raya ini sehingga manusia mengetahui petanya untuk menjalani hidup ini dalam kerangka kembali kepada Allah. Sebagai muslim harus meyakini dulu bahwa kitab Al Quran itu tidak ada keraguan di dalamnya (iman dulu), maka baru lebih mudah untuk memahami ayat-ayat yang lain. Pertanyaannya bagaiamana untuk orang yang tidak menggunakan kitab suci. Menurut saya ya bisa aja mengingat ayat ayat itu kan nggak cuma di kitab suci dan Allah sendiri sangat sabar dalam membimbing setiap insan untuk menemukan jalannya kembali kepada Nya. Cuma sampai tidaknya, lama atau cepatnya tergantung juga dari ikhtiar setiap insan itu, lha wong manusia diberi kehendak bebas oleh Allah. Tetapi kenapa kita harus mempersulit diri lha wong Allah sendiri sudah memberi petunjuk kok nggak dipakai, kadang dibilang ayatnya nggak valid lagi, bukan ahli tafsir, manusia memang suka mempersulit diri sendiri (karena pijakan nafsu merasa lebih benar).

    2. Kitab suci akan menjadi kering dalam makna manakala hanya dibaca saja.
    Membaca kitab suci adalah ibadah, namun untuk memaknainya harus diamalkan dulu (jalankan syariatnya). Padukan dengan yang teles tadi dan yang ada di jagad ini (ma’rifat). Paduan antara yang kering dan yang teles tadi Insya Allah akan menuju hakikatnya. Pertanyaannya gimana memadukan, baca tafsirannya aja bingung?. Ya jalankan ikhtiarnya untuk menemukan pemahamannya dan lakukan amalannya, jangan takut salah karena alam pasti akan merespon terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrahnya. Jangan jadikan logika sebagai benchmark yang paling benar untuk memahami suatu ayat. Ayat yang kelihatannya tidak logis menurut logika kita, berarti logika kita belum nyampai. Kalau kita sudah menyimpulkan tidak logis berarti kita sudah mengingkari keimanan kita bahwa Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya. Kalau kita ragu berarti kita belum diberikan pemahaman oleh Allah tentang hal itu, ikhtiarnya jalankan lagi lebih baik dan ikhklas. Insya Allah petunjukNya akan datang.
    Dan satu hal lagi bahwa Sunnatullah itu dari jaman baheula sampai nanti akhir zaman tidak berubah.

    Saya sependapat dengan Masa Dana dan Mas Santri Gundhul mengenai : Kenali diri sendiri dengan cara yang lebih benar sebagai jalan mengenali Allah. Di dalam diri setiap manusia ada ruh yang selalu berorientasi kepada Allah. Kenal ruh kita itu bagaimana? Jawaban pertanyaan ini susah digambarkan, mengingat Allah berkomunikasi dengan setiap insan dengan cara yang unik, berbeda-beda untuk setiap orang.

    Kekhilafan ada pada diri saya, semoga Allah memberikan petunjuk kebenaran yang lebih baik dari hal ini kepada kita semua.

    Wassalamualaikum wr. wb.

  5. 5 sigid Maret 26, 2008 pukul 9:22 am

    Wah, sudah lama ndak mampir ke sini ternyata saya melewatkan banyak tulisannya pakde:mrgreen:
    Baca yang terbaru ini dulu pakde …

    Menarik juga pemikirannya, berbeda dari kebanyakan orang.
    Saya juga termasuk orang yang percaya jika Tuhan yang dikatakan begitu besar, memang besar, jauh melebihi konsep.
    Dan ketika kita berusaha menuangkan “Tuhan” dalam suatu definisi, itu tidak akan benar-benar mewakili. Itu mungkin malah mengecilkan pemahamannya.

    Sebab semua itu hanya gambaran yang dipaksakan untuk menggambarkan hal yang tidak tergambarkan.

  6. 6 hilda alexander Maret 26, 2008 pukul 5:03 pm

    @Oom Dana
    “Wueheheheh… komenmu ini membuat saya bertanya-tanya : Mengapa ya Tuhan menurunkan petunjuk yang multitafsir?”

    Yang membuat itu menjadi multitafsir siapa ya? Dan petunjuk yang multitafsir itu maksudnya kitab suci? Lho memangnya kitab suci buatan Tuhan? Kalo ya, berarti Tuhan Maha Baik sehingga menurunkan petunjuknya buat kita. Kenapa Dia tidak membiarkan kita mencari sendiri untuk menuju kepada-Nya?

  7. 7 ihik Maret 26, 2008 pukul 6:43 pm

    @syahbal
    ssst saya ikut tarekat memang untuk buang waktu saja (kata halus membunuh waktu), soalnya udah kecapekan mikir dan kerja keras, mending ya daripada tidur.

  8. 8 ihik Maret 26, 2008 pukul 6:50 pm

    @hilda alexander
    sst
    Lho Tuhan kan memberi kebebasan manusia untuk mengikuti petunjukNYA ataupun tidak (mencari sendiri).
    sst dalam Islam : ada bagiku agamaku, bagimu agamamu. aku tidak menyembah (mengikuti) yang engkau sembah dan engkau tidak menyembah yang aku sembah. Bebasssss.

  9. 9 danalingga Maret 26, 2008 pukul 8:10 pm

    @encyblogedia

    Makasih atas penerangannya. Kurang lebih saya juga berpendapat seperti itu sih.😀

    @zal

    bukankah sebaiknya dikatakan “Jangan buang Kitab itu, sebelum menemui kitab yang nyata”,

    Hem… sepertinya memang lebih baik nih. *ngelus-ngelus jenggot*

    @Donny Reza

    Wah, kalo mau ngomonging ‘kembali ke zaman batu’…orang-orang zaman batu kan banyak yang nggak pake baju?! Sekarang orang memilih untuk sedikit-demi-sedikit menanggalkan bajunya, sementara dalam kitab tidak dianjurkan…apa nggak balik ke zaman batu namanya?

    Bukannya itu kembali ke jaman Adam?😆
    Btw, iya juga ya, jadi mengikuti dan tidak mengikuti ndak ada bedanya,tetap ke jaman batu dunk ya?🙄

    Konsep “benar” kan bermula dari adanya konsep “salah”. Jadi, mesti ada yang benar salah satu, dan tidak mungkin benar semua…secara logika jga begitu kan?!

    Apa konsep Tuhan berawal dari “benar” dan “salah” ini? Sebab sepemahaman saya dalam Tuhan sudah nggak ada tuh benar salah versi manusia.

    Jika ada yang mengatakan bahwa “HIV berbahaya” dan orang lain mengatakan “HIV tidak berbahaya”…mesti salah satu yang benar. Tidak mungkin keduanya benar. Tinggal pilih saja, mana yang kita yakini kebenarannya. Sesederhana itu saya kira.

    Iya kalo analoginya begitu. Bagaimana kalo diganti dengan logika mate-matika pelajaran SD:

    5 + 5 = 10
    4 + 6 = 10
    3 + 7 = 10
    2 + 8 = 10
    1 + 9 = 10
    dst.

    Nah, semua benar kan?😉

    @brainstrom

    Walah, ternyata hanya ucapan sang nabi yang dibukukan ya? Pantesan saja…

    @ardianzzz

    Opini yang menarik dan masuk akal.😀

    @daeng limpo

    Nah, itu dia intinya. Kan hanya opini toh.😀

    @baliazura

    Seringnya malah kebalik tuh.

    @soopo

    “kitab suci itu diturunkan di suatu jaman dahulu, dan bisa sesuai dengan jaman sekarang dan juga tidak”,
    1. itu kitab suci agama apa?
    2.siapa yang menulis kitab tersebut?
    3. Siapa yang diikuti/disembah/selalu dibenarkan?

    Menurutmu?😆

    Bukan bermaksud membenturkan, tampaknya gambaran kekerasan ada di banyak agama..
    Baratayudha
    Perang Salib
    Perang Jihad
    Sun Go Kong selalu membasmi/membunuh para siluman.

    Iya memang banyak, lantas apa itu memang tujuan agama ya?

    “Kitab suci tidak bisa menggambarkan tuhan”, ah mosok kayaknya banyak yang seperti digambarkan dalam kitab suci. “yaitu yang mempertuhankan hawa nafsunya sendiri”, alias ada yang merasa yang paling benar hanya logikanya sendiri.

    Jadi gimana? Bisa nggak kitab suci menggambarkan Tuhan?:mrgreen:

    hmm tulisan ini belum tentu benar.

    Emang.

    @syahbal

    Cara mengenal Tuhan lewat meditasi.😉

    @jumawa

    Nah tuh, mbulet kan jadinya.😆

    *bertobat*

    @Faubell

    Walaikumsalam wr. wb.

    Ok, mas. Makasih atas penjelasannya yang detail. Telah menambah pemahaman saya.

    @sigid

    Iya nih gid, kemana aja?😀

    Nah, oleh sebab itu gid, gimana kalo kitab suci dikembalikan saja menjadi fungsinya semula, sebagai petunjuk awal. Jangan malahan jadi Tuhan.😉

    @hilda alexander

    Yang membuat multitafsir keknya Tuhan. Yang saya maksud petunjuk adalah ayat-ayat kitab suci, berangkat dari pemahaman bahwa ayat-ayat kitab suci itu berasal dari pemahaman Nabi akan Tuhan itu sendiri. Dia sudah membiarkan mencari sendiri kok, kalo nggak kan bisa aja tiap manusia langsung disapaNya.😀

  10. 10 syahbal Maret 26, 2008 pukul 9:42 pm

    @danalingga
    meditasi gmn ini teh?
    duduk2 aja gtu..
    kosongin fikiran.. truz krasukan deh.. hehe..

  11. 11 sigid Maret 27, 2008 pukul 8:21 am

    @ danalingga
    Setubuh, setuju pakde.
    Mungkin itu membantu memahami Tuhan, tapi jelas bukan Tuhan.
    Yang kita bicarakan terlalu besar untuk dicocok-cocokan dengan kitab suci.

  12. 12 rajaiblis Maret 27, 2008 pukul 3:20 pm

    ibarat petunjuk –seperti yg dikatakan daeng limpo– sudah tentu diperuntukkan buat mereka yg sedang bangun bukan yg tidur sehingga tidak tersesat.

    namun anehnya, mungkin karena dianggap sangat hebat melebihi kehebatan yg menciptakan kalimat dalam kitab tersebut, dengan mengirimkan penggalan ayat dalam kitab suci itu kepada yg sudah mampus, maka khasiatnya sungguh tak terduga.

    ntah ditarok kemana otak mereka … !

  13. 13 rajaiblis Maret 27, 2008 pukul 3:26 pm

    #syahbal
    kalo ndak salah tuhan itu maha suci …
    maka bersihkan dirimu … !
    mudah-mudahan tuhan berkenan.

  14. 14 danalingga Maret 27, 2008 pukul 7:07 pm

    @syahbal

    Kalo kerasukan berarti bukan meditasi.:mrgreen:

    @rajaiblis

    Iyah, tarok dimana kira kira otaknya tuh?:mrgreen:

  15. 15 kw Maret 29, 2008 pukul 9:35 pm

    sepakat! jangan mau menjadi budak kitab suci manapun!

  16. 16 danalingga April 1, 2008 pukul 5:48 pm

    tul! Jangan mau jadi budak apapun.😀

  17. 17 tokoh semar Oktober 13, 2008 pukul 10:27 pm

    Ha-ha=ha+ha.
    Badanku adalah badan Tuhan, Rosoku adalah roso Tohan , Sukmaku adalah sukma Tuhan, Jadi aku yaa Tuhan sedang menjelma dan beraktivitas di alam nyata dan sebuah drama/ sandiwara.
    Jadi nikmati kehidupan ini jangan cari2 Hakekat Tuhan, biarlah yang rahasia ini tetap rahasia Illahi, Otak manusia tidak intelejen/nalar tidak sampai, jadi jangan cari sorga atau neraka, semua ada disini, berbuatlah/ ciptakanlah kesemua kehidupan adalah untuk dirimu sendiri, dan yang ada hukum di alam realitas ini adalah hukum sebab akibat, dengan pikiranmu , kata2mu, dan perbuatanmu, manusia menciptakan semua pengalamanya, karena manusia itu terdiri dari 3 bagian kehidupan, Rogo, Roso, dan sukma. apapun perbuatanmu baik dan buruk untuk mahluk lain/manusia, itu semua kamu yng menuai/ kamu kirimkan untuk dirimu, artinya …. Hanya ada satu kehidupan…., hanya ada satu manusia…, yaaaaa itu artinya kita semua satu. Itulah Dekotomi Illahi.
    berlanjut……

    Oom semar


  1. 1 piece of shit Lacak balik pada November 7, 2014 pukul 4:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: