Mempertanyakan Shalat

Terus terang saja pertanyaan ini sudah lama ada dikepala. Pertanyaan ini pertama kali muncul dulu ketika membaca sebuah debat di forum Myquran  antara dua kubu. Kubu pertama adalah orang-orang yang tampak sangat putus asa terhadap hadist-hadist, sehingga mempunyai pemikiran untuk meninggalkannya saja dan kemudian hanya menggunakan AQ. Nah , kubu kedua adalah orang-orang yang sangat menentang pemahaman demikian, karena menganggap tanpa penjelas (hadist-hadist tersebut) maka mustahil mengetahui apa yang dimaksud dengan ayat-ayat dalam AQ.

Perdebatan tersebut memang sangat seru, dan saya terpesona melihat argumentasi kedua belah pihak. Sungguh hebat mengutip ayat-ayat, hadist, maupun pendapat para ulama dalam usaha membenarkan kubu mereka. Terus terang, disitulah saya makin paham bahwa ternyata dalil-dalil yang sama, bisa dipakai dalam membenarkan pendapat yang bertolak belakang. Tergantung kepentingan si pemakai dalil. Makasih banyak kepada kedua kubu yang bertikai. Sehingga saya mendapat pencerahan dalam memahami penggunaan dalil-dalil demi membenarkan pendapat saya.:mrgreen:

Sungguh memang dahsyat perdebatan kedua kubu tersebut. Hingga pada suatu titik kedua kubu membahas mengenai shalat. Lebih tepatnya sih mengenai gerakan shalat. Nah, pembahasan inilah yang menimbulkan pertanyaan dalam diri saya. Apa memang benar bahwa gerakan shalat adalah seperti orang banyak lakukan sekarang ini? Atau itu hanya karena kesepakatan kaum mayoritas saja ? Atau ditetapkan kaum penguasa jaman dulu, dan yang berbeda tidak diberi ruang untuk tumbuh? Sebuah penyeragamaan mungkin?

Pertanyaan tersebut muncul disebabkan ada argumen (pertanyaan?) dari kubu pertama yang sepertinya belum terjawab dengan telak sampai saat ini, yakni:

Jika memang gerakan sholat sekarang adalah sama dengan perintah Tuhan kepada nabi Muhammad , kenapa tidak dituliskan dalam AQ? Padahal kan hal mengenai sholat ini sangat penting.

Kenapa tidak ada satupun hadist yang memuat bagaimana gerakan sholat ini dari awal sampai akhir? Hanya ada sepotong-sepotong saja dalam berbagai hadist.

Kubu kedua sih telah mencoba menjelaskan. Tapi terus terang penjelasan mereka belum cukup memuaskan. Hingga sampai sekarang belum bisa menghilangkan rasa penasaran saya. Nah , daripada saya nanti terus penasaran, maka lebih baik saya buka saja di blog ini. Kali saja menemukan jawaban yang lebih memuaskan.

Maka para pembaca, jangan malu-malu, kemukakan saja pendapat anda mengenai argumen kubu pertama yang saya kutipkan di atas. Bantulah saya menghilangkan rasa penasaran ini.

Inspirasi dari :

Gambar diambil dari sini

69 Responses to “Mempertanyakan Shalat”


  1. 1 Eve Zero April 14, 2008 pukul 9:31 am

    Sholat yang penting pertama itu “niat”, kalo memang ada kesalahan dalam gerakan dan pengucapan (asal kaga parah kaya “ada tuhan yang lain”)itu masih bisa dimaafkan. Katanya Tuhan Maha Pemaaf ?

    tapi itu pemikiran gue aja loh, kalo mau beragumen lain silahken asal jangan di pukul gue ;D

  2. 2 watonist April 15, 2008 pukul 7:52 am

    jadi gimana, apakah sholat itu equal dengan “ritual sholat” ??

  3. 3 watonist April 15, 2008 pukul 11:07 am

    nambah,

    mana yang lebih mending,
    melakukan sholat tanpa kenal esensi sholat ??
    atau tidak melakukan sholat juga tidak kenal esensi sholat ??

  4. 4 danalingga April 15, 2008 pukul 4:27 pm

    Lebih mending orang yang melaksanakan esensi sholat. Selain itu nggak ada yang mendingan.😉

  5. 5 watonist April 15, 2008 pukul 4:48 pm

    hahaha … betul betul …
    karena memang dunia ini hanya ada hitam dan putih *manggut-manggut*😀

  6. 6 razuka Mei 13, 2008 pukul 11:21 am

    mas dana
    masih ada tempat ga buat rani

  7. 7 razuka Mei 15, 2008 pukul 10:29 am

    Sebelum engkau sholat..
    Matilah dahulu..,sehingga engkau dapat merasakan
    sholat dalam kematian
    itulah yang sebenar benarnya sholat
    itupun bagi yang faham
    lalu yan tidak faham bagaimana???
    ya..ya..belajar dahulu lah
    sebelum engkau disholatkan dalam kematian
    KEMATIAN = mati boong boongan
    MATI = ditinggalkan oleh sang Hidup
    …….cape’ deh mikirnya

  8. 8 da Juni 6, 2008 pukul 12:33 pm

    sholat, yang di qur’an cuma disebut shola tanpa t, seperti terjemahan di sini, arti harfiahnya dalam bahasa indonesia katanya, komitmen, hubungan yg kuat, spt itulah.

    Kalo kita mati yg pertama dihizab katanya sholat kita dulu, kalo maksudnya ritual sholat spt saat ini, tentu gak terlalu masalah kan kalo kita jahat, asal ritual solat tetap jalan, perbuatan apapun akan jadi baik kalo sholat kita baik? tp jd bingung jg..

  9. 9 sitijenang Juni 14, 2008 pukul 9:37 am

    Aaamiiiin… *eh udah belom ya?*:mrgreen:

  10. 10 dewi eygi twina Agustus 14, 2008 pukul 8:43 pm

    assalamu’alaikum…
    Hdp ini adlh utk beribadah.jika kita msh tertanya2 ttg cara sholat yg benar itu bgmn,sebab itu kita dianjurkan utk belajar ilmu agama.agar kita tdk sesat didunia dan diakhirat.amin.wassalam

  11. 11 watonist Agustus 15, 2008 pukul 8:35 am

    @dewi eygi twina
    beribadah itu apa ?? melakukan ritual-ritual khusus itu ??

    seorang “ahli agama”, biasanya anti banget dengan yang namanya sekuler … meski (mungkin) tidak sadar bahwa dirinyalah sebenarnya salah satu pelaku/pengikut sekulerisme itu.

  12. 12 zal Agustus 15, 2008 pukul 10:54 am

    ::watonist, he..he… koq mekso…apapun makanannya minumnya…, selalu ada hasil dari jerih payah…biar dikit namun ada hasilnyakan…biarlah sepanjang ada khabar, lambat laun setelah cermin mulai cerah, maka gambar akan nampak juga…nah berita-berita ini telah sampai, seperti kilat dan guruhnya…meski kilat sudah menampakkan diri sebelumnya, suaranya baru didengar berikutnya, maka tersadar orang, dan berkata…ooohh…yang tadi itu kilat..ya.., alhamdulillah berarti mau turun hujan, sudah lama bumi ini kering, biar tanaman akan tumbuh kembali, rumput menghujau sebagai makanan ternak, ada buah-buahan yang banyak, yang beraneka dan ranum-ranum…sayangnya gaya bahasa majas, dikira hanya untuk membuat pantun, sajak, gurindam dan prosa saja…., sedangkan AQ tak menggunakan gaya bahasa…😦

  13. 13 watonist Agustus 15, 2008 pukul 11:21 am

    @zal
    ee … iya juga mas,
    ndak terasa juga sih, memang lagi agak sukar dikendalikan.

  14. 14 olads April 29, 2009 pukul 3:08 am

    Ass.wr.wb
    Mungkin apa yang saya kemukakan ini dapat sedikit membuka pemahaman kita semua tentang agama(aturan),shalat dsb.

    Segala hal tentang nilai-nilai agama, qur’an & hadits, juga argumen & fatwa-fatwa ulama, bila masih dijadikan polemik dan perdebatan, itu menandakan bahwa orang-orang tsb masih dalam keadaan maaf bodoh & sombong, karena mereka hanya menggunakan otak-fikiran(terutama otak kiri yang selalu menginginkan hal yang kongkrit & matematis), sehingga perdebatan itu tidaklah akan menghasilkan pembenaran yang hakiki, kecuali kekalahan & kemenangan dalam adu kepandaian otak.

    Rasulullah saw pernah marah besar ketika agama dijadikan perdebatan, beliau bersabda “Aku diturunkan kebumi bukanlah untuk memperdebatkan dan perdebatan”.

    Beliau bersabda al bahwa :
    ” Aku diturunkan kebumi untuk memperbaiki keluhuran akhlaq manusia”
    ” Aku diturunkan ke bumi untuk melengkapi ajaran para Nabi sebelumku, ibaratnya sebuah bangunan kokoh dan megah aku melengkapinya dengan sebuah bata pada dinding yang masih kosong”

    Islam bukanlah risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw saja, tetapi ajaran dari Nabi-nabi sebelumnya, sebagai mana pada QS:2
    “Orang orang yang bertaqwa adalah mereka yang percaya (beriman) kepada perkara yang telah diturunkan kepadamu Muhammad, dan perkara yang dirutunkan sebelum mu Muhammad, dan kepada hari akhir mereka meyakininya, itulah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Tuhannya, dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan keberuntungan”.

    Maka selama ayat & hadits masih diperdebatkan dengan fikiran maka hal itu menandakan orang-orang yang lemah aqalnya dan terhambat perkembangan jiwanya, karena merasa benar & paling benar, sedangkan kebenaran Al-qur’an & hadits bukan dan tidaklah menurut mendapatnya saja, masih banyak kebenaran lainnya yang perlu dipertimbangkan dengan arif dan bijaksana, yaitu kebenaran Yang Maha Benar(hakiki), yang hanya dapat diakses oleh kebersihan & kesucian hati(hatinurani), sesuai dengan petunjuk & pertolonganNya(taufik hidayah).

    Tentang shalat, Rasulullah hanya mencontohkan dengan gerakan dan bacaan, dalam tiap kesempatan kepada para sahabatnya pada waktu-waktu yang berbeda beliau mencontohkan shalatnya, hingga Rsulullah saw bersabda ” lihatlah ..inilah shalatku yang paling benar”, maka tiap gerakan & bacaan shalat itu selanjutnya ditiru oleh para sahabat, dan dijelaskan dengan detail oleh para sahabat, tabiin, it tabi’in, ulama dst oleh para warisatul anbiya, hingga tertuang dalam kitab-kitab fikih tentang tata cara shalat.

    Adapun shalat itu terbagi atas beberapa poko, yakni,
    – Asholatu imaddudin (shalat adalah menegakan agamanya), yakni shalat adalah tiangnya agama, yaitu suatu pekerjaan lahir & bathin dengan gerakan fisik, dengan waktu-waktu yang telah ditentukan.

    – Asholatu adzikri (shalat adalah memelihara ingatnnya kepada Tuhan) baik dengan fikiran & hatinya setiap saat, bahkan pada tiap tarikan nafas, tidak terikat oleh gerakan & waktu.

    – Asholatu mi’rajul mu’min( shalat adalah naiknya seorang mu’min bertemnu dengan Tuhannya), yakni bahwa ibadah yang tanpa hijab(penghalang) dengan Tuhannya adalah pada saat shalat.
    Pada shalat inilah puncak dari pengabdian seorang hamba dengan penciptanya sebagai mana peristiwa israa mi’raj Rasulullah saw pada 27 rajab. Disebutkan bahwa shalat berjamaah berpahala 27 derajat, yakni berjamaahnya jasmani dan ruhani(bersatunya fikiran & hati) masuk dalam orbit Tuhan dan berjumpa dengan Nya.

    Sahalat(sholu) artinya do’a, tidak terbatas pada waktu dan gerakan saja, pada intinya shalat adalah pertemuan antara hamba dengan Tuhannya, karena manusia telah berjanji(bersyahadat) kepada Tuhannya sewaktu di alam Ruh(Qs. Al-Araf), dengan sifat manusia yang penuh dengan kelemahan kebodohan dan kehinaan, maka mannusia diwajibkan menuntut ilmu untuk belajar dan menemukan serta mengetahui untuk meyakini tentang Tuhannya. Karena manusia berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi kepada Tuhan(koskwensi dari innalillahi wa inna ilaihi rojiuun).

    Maka dalam hal ini belajar, mempelajari, dan mengetahui serta meyakinini Tuhan dalam menempuh perjalanan & pengabdian hidup(ibadah),adalah sesuatu yang mutlak dan merupakan haq kewajibannya seluruh manusia sesuai fitrah nya.

    Sudah merupakan kewajaran(biasa),dan bukan hal yang aneh dan istimewa apalagi hebat, bila manusia mampu, pandai dan cerdas dalam beribadah dan beragama hingga mampu bertemu dengan Tuhannya lewat shalatnya. Sebab Tuhanlah yang akan membantu dan memberi kekuatan untuk hal tsb, bukan dengan kekuatan dan kepandaian serta kehebatan manusia untuk bertemu dengan Tuhan.

    Justru dihadapan Tuhan :
    -dengan merasa bodoh Tuhan akan berikan kepandaian
    -dengan kesederhanaan Tuhan akan berikan kecerdasan
    -dengan merasa miskin Tuhan akan berikan kekayaan
    dan kekayaan yang abadi adalah merasa memiliki Tuhan.
    -dengan merasa hina Tuhan akan memuliakan

    Sebagai mana Rasulullah yang umi(merasa bodoh, tidak dapat baca tulis), namun Rsulullah berakhlaq mulia, dan terpercaya(Al-Amin), tidak pernah sombong angkuh dan berdebat, dikagumi dan dihormati seluruh makhluk jagat raya, termasuk oleh para musuhnya).

    Pearsaan ragu dan penasaran serta cemas, adalah manusiawi, karena pengaruh fikiran hingga ke-hati, dan itu semua adalah sebuah halangan syetan & tantangan orang yang ber-iman, tanpa ujian itu semua mustahil manusia akan berkualitas.

    Tips nya adalah, yakinilah sekemampuan kita adanya, lalu kerjakanlah(amalkanlah) secara rutin & terus menerus, kelak dalam proses tsb kita akan menemukan kebenaran atas petunjuk Nya, karena kata kuncinya adalah “TUNDUK PATUH TANPA BERTANYA”,
    itulah Iman(percaya), diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, diperbuat(diamalkan) dengan anggota badan.

    Insyaallah, perbuatan(pengamalan) dengan ikhlash & sungguh-sungguh tanpa ragu, yakin dan itu pasti ada hasilnya. Sebab dengan demikian cahaya illahi akan terpancar dari dalam hati, dan Allah akan bertajali pada hambaNya yang sholeh untuk menampakan keagungan-Nya sepertihalnya Rasulullah saw bagai Alqur’an yang berjalan(kalam hidup).

    Hindari segala hal yang menjurus kepada perdebatan tentang agama, karena hal itu hanya akan membuat agama terpecah belah dalam kelompok, golongan, firqah-firqah dll.

    Setiap kelompok akan merasa paling banar atas hujahnya, karena cara pandang yang berbeda, disebabkan lemahnya ilmu & aqal, kita tidak menyadari bahwa dalam perdebatan itu kita telah dihinggapi sifat iblis dengan merasa paling banar.

    Dan agama itu akan menjadi rusak karena pedebatan & perpecahan.
    Agama tanpa ilmu akan kacau, dan ilmu tanpa agama akan rusak.
    Lihatlah buktinya dikehidupan saat ini, selama agama & ilmu tidak saling mendukung maka rusaklah & kacau kehidupan manusia.

    Berapa banyak orang-orang yang bersyahadat, yang shalat, yang puasa, yang zakat, yang haji. Dan berapa banyak ustad kiyai, ulama, tapi kehidupan makin kacau dan terpuruk.

    Karena agama hanya dijadikan ceremonial, dan dimomor duakan dalam kahidupan oleh kekuatan fikiran manusia.

    Tapi lihatlah kaum-kaum yang mamahami agama dengan kekuatan hatinya, baik kaum kebathinan, kaum sufi, yang selalu memelihara ketauhidan & akhlaq prilaku yang luhur, apakah mereka pernah berdebat & bertengkar ???. Itu semua karena mereka melihat & mendengan dengan hatinya.

    Allah berfirman :” Yang tuli bukanlah telinganya tapi hatinya, yang buta bukanlah matanya tapi hatinya”
    “maka yang buta terhadapKu didunia, kelak akan lebih buta terhadap Ku diakhirat”.

    Orang-orang yang bekerja dengan hatinya akan mampu mengukur dirinya dan orang lain, sehinggaz mereka mampu intropeksi diri dan tenggang rasa.

    Orang yang bekerja dengan fikirannya tidak bisa mengukur dirinya, dan hanya mampu mengukur orang lain dengan prasangka dan keraguannya.

    Maka orang -orang yang beragama dengan fikirannya saja tanpa hatinya, akan banyak benturan dan perbedaan faham, saling fitnah, dan buruk sangka, serta menghakimi orang dengan, bid’ah, kafir, musyrik, munafik, tanpa tahu bid’ah nya, kafirnya, musyriknya, munafiknya diri sendiri.

    Tuhan berfirman dalam Qs.2 :
    “bila kamu manganggap bahwa kampung akhirat itu hanyalah milikmu, maka mintalah kematianmu saat ini juga”.

    Nah sesungguhnya orang-orang yang berdebat & merasa paling benar dalam hal agamanya, sesungguhnya mereka belum mencapai, bahkan tidak akan mampu mencapai terhadap apa yang diperdebatkannya tsb ,demikan Allah berfirman.

    wabillahit taufik walhidayah,
    billahi fii sabillilhaq,
    wa astaghfirullahu lii walakum.

    Wassalam,

    • 15 dendy perang sukma sunanjaya Juni 9, 2009 pukul 1:21 am

      makasih mas … mbak … oomm tante … siapapun anda dan penyedia blog terima kasih banyak atas ilmuna … sudah dishare untuk orang² bodoh seperti saya ini yang baru tau tentang apa itu agama, sholat dan bagaimana harus bersikap …

  15. 16 noer anwar Juni 14, 2009 pukul 6:16 pm

    ini ada keterangan
    -“sholatlah seperti aku sholat sesungguhnya sholatku tak berkeputusan”
    -“Sholat itu bermunajat dengan tuhannya”
    -“Sholat itu berdialog/bercakap cakap dengan tuhannya”
    ….” menurut saya anda sudah sholat”……

  16. 17 Dhaif Januari 10, 2010 pukul 10:18 am

    Tiap hari ucapkan: Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

    Sesudah sebulan ucapkan: Allah Maha Berkehendak.

    Maka yang sudah sholat akan terperbaiki sholatnya.

    Yang belum sholat maka akan makin malas, karena:
    Allah Maha Mendengar, kenapa nabi mengajarkan bacaan dzikir dengan mengeraskan suara?

    Allah Maha Mengetahui, kenapa ada yang mengajarkan mengucapkan Usholi …, Nawaitu …?

    Allah Maha Berkehendak, kenapa saya yang dibilang sesat?

    Ini yang paling sesat, yakni iblis.

  17. 18 Olads Oktober 11, 2010 pukul 12:08 am

    Salam …
    jumpa lagi dengan saya, sekedar melengkapi kelanjutan bahasan ttg gerakan sholat. Trims sebelum nya untuk tuan rumah blog ini atas ruang dan waktunya, serta para temen/ikhwan sekalian.

    Tentang gerakan sholat tidak dijelaskan secara rinci dalam Alqurán dan Hadits, sehingga banyak orang awam yang tak faham ttg berbagai gerakan, berdiri suku, sujud, duduk, jari telunjuk diangkat dan ujung kaki dilipat. Tapi Tuhan tetap berikan pengetahuan lewat para warisatul anbiya atau siapapun hambannya yang dikehendaki Nya untuk memahami berbagai gerakan sholat.

    Apapaun gerakan sholat itu pasti punya maksud dan tujuan. Mari kita perhatikan, bahwa gerakan poko inti dalam sholat terdapat 4(empat) pokok gerakan( berdiri, rukuk, sujud, dan duduk), demikian pula anggota badan kita terdapat 4(empat)pokok ( kepala, tangan, lutut, kaki), demikian pula panca indera yang terlibat dalam fokus shalat ada 4 poko(telinga, mata, hidung, mulut).

    Dari ke 4(empat) poko tadi dalam sholat menjadi 7(tujuh) gerakan( berdiri, rukuk, ‘tidal, sujud-1, duduk tasyahud, sujud-2, duduk tawaruk). Anggota badan yang terlibat dalam gerakan sholatpun menjadi 7 bagian( 1-kepala, 2-tangan, 2-lutut, 2-kaki. Demikian pula panca indera pun menjadi 7 bagian( 2-telinga,2-mata,2-lubang pernafasan, 1-mulut pengucapan)

    Surat wajib yang dibacapun terdiri dari 7 ayat Alfatihah, jumlah hari dalam aktifitas sholat 7 hari dst kelipatannya, dinaungi oleh 7 lapis langit dan bumi, menuju 7 tingkat surga atau neraka.

    unsur Empat poko gerakan shalat identik dengan 4 huruf lafadz Allah dan lafadz Ahmad serta Muhammad. 4(empat) melambangkan kesempurnaan, sedang 7(tujuh) merupakan langkah usaha manusia dalam amal ibdah.

    Empat poko sifat Allah dalam panca indera diri manusia( samiun-samián, bashirun-bashiran, hayyun-hayyan, mutakalimun- mutakaliman)

    Empat malaikat muqorobun pada Allah dan muqorobin pada manusia ( Jibril- pembawa wahyu, ilham, taufiq hidayah, mikail pemberi rizki, isrofil peiniup sangkala membangunkan manusia tidur dan matinya, izroil pemcabut nyawa.

    Makna gerakan sholat
    -Taqbirotulikhrom, menyerah, pasrah, dihadapan kebesaran Allah, dengan makna mengharamkan(ikhram)membesarkan diri dalam kesombongan.
    – Berdiri melambangkan huruf Alif yang tegak, ada, ajeg, lurus, hanif.
    – Rukuk melambangkan huruf Lam-1, tunduk malu, hina, dan merasa kecil di hadapan wujud Allah yang suci dan Agung.
    -Sujud melambangkan huruf Lam-2, merendahkan kepala dan aqal fikiran yang mulia ke tanah sehingga tak tampak dunia, yang tampak dan dekat hanyallah Yang Maha Mulia dan Maha tinggi.
    -Duduk menunggu pertemuan dengan Allah berkomuinikasi dalam doá attahiyat.
    – Salam kiri kanan kepada para malaikat pendamping pencatat amal, dan makhluq lainnya disekitar kita, untuk menyampaikan keselamatan keberkahan dari Allah, karena kita telah bertemu dan berjumpa dengan Nya tatkala shalat.

    semua itu mamang tak terdapat di ayat-ayat tersurat pada Alqurán dan hadits, tapi tampak nyata pada ayat-ayat tersirat sebagai bukti nyata dalam diri manusia yang bisa dirasakan dengan hati yang di dalam dada.

    Firman ALlah :
    “Sesungguhnya Alqurán itu berada di dalam dada manusia yang diberi Ilmu”

    Sholat adalah merupakan manifestasi dari keadaan manusia tatkala di alam ruh bersama Tuhan, dalam keadaan tegak lurus ajeg hanif keimanannya, dengan tunduk merendah, malu, hina dina di hadapan wujud Allah. Semua itu suatu keadaan yang mutlaq wajib adanya dalam ketentuan di alam azali.

    Ketika di dunia sholatpun menjadi wajib(fardhu) sebagai mana keadaan kita sebelum turun ke bumi. Semua gerakan sholat merupakan penggambaran(kiasan) dan perwujudan sikap dan sifat ruhani/jiwa saat itu.

    ini hanya pendapat dalam kajian saya, yang tidak memaksakan dan dipaksakan untuk difahami. Kalau ada perbedaan sudah pasti dan tentu bahwa hal itu akan menambah khasanah dan semoga perbedaan itu membawa rohmat, dan bukan untuk membawa perpeacahan, perselisihan antar kelompok golongan dan merasa paling benar.

    Sebab kebenaran itu perlu kajian dan pembuktian, terutama bukti nyata pada alam kehidupan dan diri sendiri yang telah di tunjukan oleh Alqurán, maka mari kita cari pelajari dan fahami petunjuk bagi orn-2 yang taqwa(hudalilmutaqiin), dari pada sekedar debat dan adu argumen yang tak pernah dan belum pernah di buktikan oleah diri sendiri.

    wabillahit taufiq wal hidayah.
    wa astagh firullahu lii walakum.

    Wasssalam,


  1. 1 “shalat???!” « nurma rachman Lacak balik pada April 5, 2008 pukul 1:53 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Maret 2008
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: