Mereka Memang Orang-Orang Pintar

Jenar sedang bingung bin heran. Dia bingung akan orang-orang yang saling menyerang ajaran agama orang lain. Penyerangan yang dilakukan dengan memakai ayat-ayat dari kitab suci yang diserang. “Apa mereka-mereka itu telah selesai mempelajari agamanya masing masing ya? Sehingga punya waktu untuk mempelajari agama orang lain. ” pikir Jenar.

Ya, Jenar tidak habis pikir. Wong dia saja sudah belajar agamanya dari lahir sampai sekarang ini sudah berumur 40 tahun masih merasa belum menguasai semuanya.

“Apa mungkin karena aku yang bodoh? Atau orang-orang itu kelewat pintar ya? ” Jenar resah akan kemungkinan bahwa dia terlalu bodoh untuk belajar agama. Tidak seperti para ahli itu yang bisa menamatkan ajaran agamanya di umur yang begitu muda. Sehingga punya waktu untuk mencari kelemahan agama orang lain.

“Ah… tapi sebenarnya untuk apa mencari kelemahan agama lain ya? Apa untuk menunjukkan kebenaran agama sendiri? ” tanya Jenar terus berlanjut.

“Hem… seharusnya kan kebenaran adalah kebenaran. Tidak perlu ada kesalahan yang membuat dia benar. Sebab jika tergantung kesalahan, maka tidak ada salah tidak ada benar dunk. Wah, bisa bubar kalo gitu. Tuhan tidak ada tanpa iblis nantinya. ” Sisi lain dari Jenar berusaha menjawab.

Jenar terus bermain dengan pikirannya. Sebuah keheranan akan orang-orang yang sangat pintar bisa menamatkan agamanya, sehingga bisa punya waktu untuk meneliti kesalahan agama orang lain.

Dan terlebih Jenar mengamati dirinya sendiri yang ternyata juga sangat senang mempelajari kitab orang lain. “Apa aku juga termasuk orang yang merasa telah menamatkan agama. Sehingga mempelajari kitab suci agama orang lain? ” pikirnya semakin runyam. Dia memang selama ini sangat suka menggali ajaran agama lain. Berusaha menemukan kebenaran di sana. Dan kini dengan adanya pikiran bahwa orang yang mempelajari agama lain seharusnya sudah menamatkan ajaran agamanya, maka otomatis menohok dirinya sendiri. Pikiranna semakin kalut.

Di puncak rasa kalut itulah, Jenar memutuskan untuk berhenti memikirkannya saja. Akhirnya Jenar benar-benar telah menyerah untuk memikirkannya. Daripada dia terus menerus memusingkannya, kan mendingan dilupakan saja. Dia mengambil sikap pasrah sajalah atas apa yang terjadi. Tidak ingin menilai mereka-mereka itu. Toh dari pengalaman bahwa ternyata ahkhir penilaian itu kembali kepada dirinya sendiri. Jenar berpikir, biarlah hidup berjalan apa adanya. Yang harus terjadi terjadilah.

Kemudian, dalam kepasrahannya itu . Tiba-tiba terngiang petuah dari salah satu gurunya:

Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kebenaran maka kebenaranlah yang akan kau temukan. Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kesalahan maka kesalahanlah yang kau temukan.

Senyum mengembang di bibir Jenar. Matanya berbinar, air mukanya yang tadi keruh menjadi tenang kembali. Memancarkan pemahaman. Lalu digoreskannya pena di buku renungannya:

Mempelajari kitab suci agama lain dengan tujuan menemukan kebenaran, dapat membuka pintu kebenaran di kitab suci agama sendiri.

Jenar pun sujud sukur. Berterimakasih pada Dia yang Maha Mengilhami.

Ah, Jenar boleh terbenam dalam eforianya. Tapi semua itu harus dibuktikan dalam kenyataan. Tidak berhenti hanya sebatas teori di buku renungan saja.

45 Responses to “Mereka Memang Orang-Orang Pintar”


  1. 1 watonist April 17, 2008 pukul 6:08 am

    jadi maksudnya gini ya kang (ceritanya kan jenar sudah dewasa😀 ), “yang jadi masalah itu bukan apa yang kita pelajari, tetapi pada kondisi jiwa kita sendiri, apakah kita perlu ngasorake liyan (merendahkan orang lain) untuk memperoleh kemenangan ??”

    *ikut ber-euforia*

  2. 2 watonist April 17, 2008 pukul 6:10 am

    horee … akhirnya pertamax !!! *jingkrak-jingkrak dengan lebih semangat*

  3. 3 syahbal April 17, 2008 pukul 6:11 am

    assalamualaikum..

    *sok tahu mode:on*
    ketika kita menemukan kebenaran yg hakiki maka tertampaklah kesalahan2 yg hakiki pula..
    tapi beda dgn kebenaran yg relatif yg tidak akan menampakan kesalahan..
    hemm..
    pagi-pagi udah ngaco saya..

  4. 4 tomy April 17, 2008 pukul 8:52 am

    Maaf saya bukannya penentang agama *agama bukan sebagai kelembagaan* meski postingan saya sering dibaca ekstrim😥 bagi saya agama adalah ’ageming aji (budi pekerti luhur) kang tuwuh saka ing kalbu (tumbuh dalam kalbu) kang mahanani pranatan, kasusilan saha kabudayan (berimplementasi dalam aturan hidup, kesusilaan & kebudayaan manusia)
    Jadi agama sejatinya adalah pemaknaan hidup manusia di dunia ini yang akan terus bertumbuh & mendewasa sepanjang perjalanan hidupnya. Agama disini sebagai ranah privat yang menentukan kualitas pribadi, mengatur hubngannya dg sesama, alam & tuhan. Namun saat agama ditarik menjadi ranah publik, ia tak bisa melepaskan diri dari jerat kepentingan manusia *keluh*
    Andai kita mau kembali kepada kesejatian diri bahwa kita tercipta sama melalui bapa ibu & bahwa saat itu *bahkan sampai nanti keliang lahat* kita tak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain mungkin *sekali lagi mungkin* kita sungguh akan menemukan sejatinya agama sebagai ’ageming aji’ (pakaian SANG HIDUP)
    Selama kita terus mencari pembenaran diri *bukan kebenaran* dengan berkedok tuhan ya kita akan seperti ’orang2 pintar’ yang ternyata saat KEBENARAN SEJATI sungguh dinyatakan dalam hidup mereka, mereka akan ’semaya’ mengelak untuk merengkuhnya karena ’konflik kepentingan’ diri sendiri
    Juga saat agama ditarik keluar menjadi ranah publik maka manusiapun menjadi ’komoditi’
    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2007/12/07/kamu-cuma-komoditi/

  5. 5 ario dipoyono April 17, 2008 pukul 12:49 pm

    mungkin udah kepinteren kali bos… jadi mempelajari agama laen

  6. 6 daeng limpo April 17, 2008 pukul 12:58 pm

    Astagfirullah…
    Ampunilah kami yang hanya bisa mencari-cari kesalahan orang lain, dan mencari-cari pembenaran atas apa yang kami yakini.
    Astaghfirullah…..

  7. 7 Suluh April 17, 2008 pukul 2:35 pm

    Wahhh kalau begitu kesimpulannya jadi gini:

    ternyata aku (jenar) yang paling pintar merenung!

    betul kagak?

    kagak ya?

    ya gak papa lah…

  8. 8 iman brotoseno April 17, 2008 pukul 2:47 pm

    Jenar mungkin ingin mengetahui reaksi Tuhan di atas sana, ketika melihat orang saling menyerang dan berbunuh atas namaNya.

  9. 9 cK April 17, 2008 pukul 3:42 pm

    jenar itu ceritanya kamu ya dan?😕 😆

  10. 10 Rindu April 17, 2008 pukul 3:59 pm

    @cK

    Sama, saya juga binggung, jenar itu mas danna yah?

  11. 11 Mahasiswa Untuk bangsa April 17, 2008 pukul 5:09 pm

    salam kenal akh,,, blog nya seru euy,,,,

  12. 12 norie April 17, 2008 pukul 5:54 pm

    […]Tiba-tiba terngiang petuah dari salah satu gurunya:

    Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kebenaran maka kebenaranlah yang akan kau temukan. Mempelajari kitab suci agama lain untuk menemukan kesalahan maka kesalahanlah yang kau temukan.

    Coba ganti kata ‘kitab suci agama lain’dengan kata ‘kitab suci agama sendiri’ jadi lucu makna kalimatnya.
    Mempelajari kitab suci agama sendiri untuk menemukan kebenaran maka kebenaranlah yang akan kau temukan. Mempelajari kitab suci agama sendiri untuk menemukan kesalahan maka kesalahanlah yang kau temukan.
    Kalau begitu Mendingan tiap-tiap orang bertujuan menemukan kesalahan saja, ketika mempelajari kitab suci agamanya masing-masing. biar apa? ya biar ketemu kesalahan-kesalahan itu. Nah, kalau ternyata kitab itu nyata salahnya kan ga perlu dipatuhi.
    Akhirnya jadi sesuatu yang lucu…
    ketika kebenaran ditempatkan tergantung pada
    tujuan awal/niat/sudut pandang atau apalah namanya (mengatasnamakan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan).Kebenaran jadi relatif sangadh, ketika tergantung pada hal-hal serupa itu.

    Bukankah, ia (Jenar), pernah bercerita,
    “Hem… seharusnya kan kebenaran adalah kebenaran.[…dsb].

    Jenar… jenar…
    tampaknya aku sepakat dengan komen Mas Suluh di atas.

  13. 13 danalingga April 17, 2008 pukul 7:19 pm

    @watonist

    Selamat ber-euforia.

    *ngeliatin kang waton yang jingkrak-jingkrak*

    @syahbal

    Lah, saya malah lebih kaco lagi.

    @tomy

    Eh, tapi untuk ke kesejatian itu harus lewat agama atau bagaimana?

    Terus kira-kira perlu dengan menyalahkan dulu agama lain?

    @ario dipoyono

    Mungkin saja.

    @daeng limpo

    Amin.

    @Suluh

    Mungkin kamu memang benar.😀

    @iman brotoseno

    Mungkin sekali memang begitu. Jenar sangat penasaran apa Tuhan di sana akan kegirangan atau malah sedih?

    @cK & Rindu

    Bukan chik. Ini kan cerpen.

    @Mahasiswa Untuk bangsa

    Salam kenal.

    @norie

    Yang lucu itu kok malah nyari kesalahan sih? Buat apa?😆

    Btw, coba baca lebih teliti lagi dengan kepala dingin:

    Arti dari quote tersebut adalah kebenaran akan kau temukan jika yang kau cari kebenaran. Jadi kebenaran tidak akan ketemu kalau yang kau cari kesalahan. Sedangkan kebenaran itu ya tidak berubah, atau tergantung pada apapun. Hanya saja bisa tidak ditemukan, tergantung niatnya. Dah mudeng kan?😉

  14. 14 achoey sang khilaf April 17, 2008 pukul 8:48 pm

    Jenar Pintar
    dan mariah kita jadi orang-orang bodoh, trus kita lebih banyak belajar memperbaiki diri dengan mendalami agama kita🙂

  15. 15 parda April 17, 2008 pukul 9:01 pm

    mungkin karna sudah menamatkan agamanya, mencari kesalahan orang lain eh..gk taunya nemu kesalahan sendiri

  16. 16 danalingga April 17, 2008 pukul 9:18 pm

    @achoey sang khilaf

    Jenar emang pinter banget tuh . Tau dia makan apa maka bisa begitu.

    Tapi orang pintar yang merasa bodoh biasanya dahsyat, soale bakal terus belajar tanpa kenal lelah. Bayangkan bagaimana pintarnya dia kemudian.

    @parda

    Mungkin di sini letak inti yang disadari Jenar. Bahwa kitab suci itu (agama?) hanyalah sebuah cermin petunjuk, bukan kebenaran itu sendiri.

  17. 17 tomy April 18, 2008 pukul 7:25 am

    saya mau tanya dulu nih Mas, kira2 saat Nabi Muhammad nikah dulu beliau baca sahadatnya seperti apa? lalu arti agama sendiri itu apa? perlukah saling menyalahkan? apa yang harus disalahkan? kalau tahu salah pasti lebih dulu tahu yang benar

    setelah itu semua terjawab, membawa sesuatukah dalam hidup kita sendiri? atau mungkin sekedar ego kita merasa puas?
    jawabannya mungkin juga sebuah pertanyaan

  18. 18 stey April 18, 2008 pukul 9:31 am

    jenar mirip seperti saya, suka mempelajari agama lain. Bukan untuk menemukan kelemahan, ato untuk mencaci tapi untuk belajar peduli..

  19. 19 danalingga April 18, 2008 pukul 10:05 am

    tomy

    Wah saya ndak tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Kira kira ada gunanya tahu nggak?😀

    *kok jadi berbalas pertanyaan gini*

    @stey
    :mrgreen:

  20. 20 uhuik April 18, 2008 pukul 10:23 am

    Meskipun begitu, antara orang yang “meyakini bahwa Tuhan itu tunggal+meyakini hari akhir” dengan “orang yang tidak percaya” dipastikan beda niat kalau mempelajari AlQuran dan sunnah

  21. 21 kumoiku April 18, 2008 pukul 1:32 pm

    teman-2 dah pernah lihar simpanse main gitar di planet jupiter??

  22. 22 erander April 18, 2008 pukul 3:09 pm

    Saya barusan selesai membaca sebuah postingan yang mencerahkan http://azharku.wordpress.com/2008/04/10/aku-dan-syaitan-ikhris/ .. semoga kita menjadi orang-orang selalu bertakwa.

  23. 23 danalingga April 18, 2008 pukul 7:55 pm

    @uhuik

    Saya lebih setuju disebut mungkin beda niat.😉

    @kumoiku

    Maksudnya apa nih?😕

    @erander

    Makasih dan amin.😀

  24. 24 Santri Gundhul April 18, 2008 pukul 11:04 pm

    Weleh…weleh…Kang Dana,
    Kenapa seh Kitab-Kitab umat beragama itu selalu dikatakan SUCI…??? Apa seh SUCI itu…???

    SUCI tidak ada hubungannya dengan bentuk, bentuk tidak ada
    hubunganya dengan suara, bentuk bukan suara, Tiap bentuk punya
    laku/jalan dan tempat sendiri, punya tempat masing masing.

    Umpamanya, mau mencari putih jika diawali dengan bentuk. Mana sih
    yang dinamakan putih ? Apa sih putih itu ? kapur itu warnanya putih,
    Mega yang menggantung di atas juga putih, riak air dipantai juga
    putih, bulu burung kuntul juga putih. Semakin dikejar semakin
    membingungkan ..

    Sampai jambul beruban mencari SUCI tidak akan ditemukan jika hanya
    mencari dari luar saja. Sebab yang ada diluar sudah menjadi gelar yang nyata tergelar ada. Apa yang tergelar ada itu, adalah gelarnya angan angan., Siapa saja yang hanya mengikuti angan angan akan kesasar,sebab angan angan itu selalu berubah dan tidak nyata (owah gingsir)

    Jika demikian, SUCI itu bukan angan-angan, tidak pernah berubah,
    Jadi SUCI itu nyata, SUCI itu langgeng (abadi), Langgeng (abadi)
    itulah HIDUP, kuasanya GERAK, lungguh pada RASA yang dirasakan sekujur badan.

    Celinagk-celinguk…nggandheng si Jenar….

  25. 25 HILMAN April 19, 2008 pukul 10:22 am

    hmmmm…ya..ya..tergantung persepsi awal kita yah…> nuhun sialturahmi, salam kenal

  26. 26 HILMAN April 19, 2008 pukul 10:28 am

    maen-maen dong ke rumahku, tapi ya gitu, gada ga bisa nyediain hidangan yang mewah

  27. 27 extremusmilitis April 19, 2008 pukul 4:50 pm

    Dan, kaya-nya aku setuju dengan Mas Iman deh, juga setuju dengan si Jenar, karena ke-benar-an akan tetap men-jadi ke-benar-an dan ke-salah-an akan tetap men-jadi ke-salah-an, ter-gantung kita mandang-nya dari-mana😉

  28. 28 Sawali Tuhusetya April 20, 2008 pukul 12:59 am

    jenar, jenar, potret seorang pemburu nilai2 kebenaran yang selalu gelisah oleh banyak kejadian aneh yang berlangsung di sekitarnya. mudah2an saja kelak jenar bisa menemukan kebenaran-kebenaran itu seperti halnya ketika bima mampu melihat jatidirinya setelah memasuki lakon “gung susuhing angin” di tengah kedalaman samudra bersama dewa ruci.

  29. 29 joyo April 20, 2008 pukul 3:14 am

    sinkretis kamu jenar!!!
    kamu…!!!
    kamu…!!! (nuding2)
    Tunggu pembalasannya!!!

    *hlah, kabur…

  30. 30 abahdedhot April 20, 2008 pukul 4:42 pm

    @mr. jenar
    wah… mas jenar sudah besar sekarang… lebih dewasa. Gimana kabarnya dengan kakak berbibir ranum itu…???
    Tentang mencari kebenaran… Sebenarnya Mas Dana sudah faham…
    “mencari kebenaran (AL HAQ) diluar “PRIBADI” sudah PASTI SESATnya”.
    Makanya mr. Jenar lebih baik berguru dulu sama Mas Dana, dijamin sama Danalingga… ngga bakalan sesat…!!!😆
    kitab, buku, referensi… itu mah masih barang “luar”, tidak sepenuhnya memuat dzat sang Maha Benar… makanya disana AL HAQ sulit ditemukan, emh… ngga bakalan ketemu…:mrgreen:

    salam

  31. 31 sipakir April 21, 2008 pukul 9:31 am

    apa sih hakekat agama itu
    menurut saya
    hakekat agama adalah, menuruti perintah Allh swt tanpa syarat.
    jadi masalahnya cuma mana perintah dan larangan Allah swt

  32. 32 danalingga April 21, 2008 pukul 9:50 am

    @Santri Gundhul

    Disebut kitab suci karena dilabelkan kitab itu dengan yang suci. Gitu kali ya?

    Padahal sebenarnya seperti kata mbah, bahwa suci itu sudah melekat di jati diri. Jadi mengapa pula mencari kesucian di luar diri ya? *mabok*

    @HILMAN

    Persepsi emang dahsyat.

    @extremusmilitis

    Relatif sangadh kalo begitu. Tapi juga tidak relatif sangadh.:mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya

    Semoga saja pak. Sehingga nantinya saya tidak perlu pusing pusing lagi mendengar curhat si Jenar ini.😀

    @joyo

    *Jenar tertawa bangga*

    @abahdedhot

    Walah, mungkin karena Jenar udah nggak pernah bertemu dengan bibir ranum itu makanya Jenar bisa tersesat sejauh ini bah. *nyari nyari si kakak*

    Setuju saya bah, memang ternyata di dalam diri jugalah jawabannya. Dan sepertinya kakak berbibir ranum itu juga ada disana. *ngelirik Jenar*😀

    @sipakir

    Agama bagi Jenar sih tidak cuma itu, tapi agama adalah ilmu untuk mengenal Tuhan. Maka jika ternyata tidak bisa mengenal Tuhan, sepertinya ada yang salah dalam ber-agama itu.😀

  33. 33 sipakir April 21, 2008 pukul 11:35 am

    lha kalu sudah kenal mau apa? mau mendiskusikan kenapa matahari bersinar, angin berhembus po? Paling-paling ya menaati perintah, atau bahkan membangkang (kalau membangkan berarti ndak melaksanaken agama to?)Sedangkan ilmu sudah ditaburkan sejak dulu, cuman otak manusia yang nggak nyampe-nyampe.

  34. 34 danalingga April 21, 2008 pukul 12:08 pm

    Iya kalo dah kenal.😛

    Tapi kalo belon kenal, gimana mo menaati perintah dan menjauhi larangan itu? Lah bisa bisa jadi ketuker perintah menjadi larangan dan larangan menjadi perintah.

  35. 35 akmal April 22, 2008 pukul 11:43 am

    wah ini quote menarik:

    “Mempelajari kitab suci agama lain dengan tujuan menemukan kebenaran, dapat membuka pintu kebenaran di kitab suci agama sendiri.”

    IMHO, pencarian kebenaran akan bermuara pada samudera Tauhid. Dalam hal ini, tokoh Jenar memiliki kesadaran bahwa kebenaran bukanlah miliknya semata dan menjauhi sikap apriori terhadap kitab suci yang lain. Dengan pencarian tiada kenal lelah dan tentu dengan kehendakNya pula, kebenaran yang diidamkan Jenar akan tercapai.

    Setiap pintu kebenaran terbuka, muncullah pemahaman baru yang melengkapi atau pun menata ulang pemahaman yang telah ada. Untuk kemudian, pemahaman ini diejahwantahkan dalam bentuk amal shaleh.

  36. 36 petroek™ April 22, 2008 pukul 3:55 pm

    betul kang, semakin kita menemukan kebenaran, semakin banyak juga kesalahan dan kelemahan yang ada pada diri kita…

  37. 37 sipakir April 22, 2008 pukul 4:20 pm

    kalo belum kenal ya mintak inpo sama yang udah kenal.
    he he he
    trus debat lagi : apa betul-betul sudah kenal.
    Kata perkenalannya gini lho :
    Sapa yang menciptakan manusia, galaksi, gugusan bintang, proton elektron dll. Kalau udah bisa njawab berarti dah dikit2 kenal to? gitu aja pusing, gelisah, repot dll.

  38. 38 danalingga April 30, 2008 pukul 6:42 pm

    @akmal

    Pemahaman yang terus berevolusi.😀

    @petroek™

    Sampai nantinya kita sudah tidak ada.😉

    @sipakir

    Setuju.😛

  39. 39 Humbang Hasundutan Mei 5, 2008 pukul 10:10 am

    Kalau mempelajari kitab agama A dan kitab agama B tanpa ada tujuan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan, tetapi ternyata kebenaran yang ditemukan di kitab agama A dan kesalahan di kitab agama B, bolehkah membagikan kebenaran agama A kepada agama B?

  40. 40 J&W Mei 6, 2008 pukul 10:50 am

    Quote Humbang Hasundutan:

    Kalau mempelajari kitab agama A dan kitab agama B tanpa ada tujuan untuk menemukan kebenaran atau kesalahan, tetapi ternyata kebenaran yang ditemukan di kitab agama A dan kesalahan di kitab agama B, bolehkah membagikan kebenaran agama A kepada agama B?

    Jawab:

    Kalau menurut saya sih, bagus banget membagi kebenaran agama A kpd B, tapi tentunya dengan tidak menyalah-nyalahkan agama B, apalagi kalau A merasa paling benar terus memaksakan kebenarannya. Mungkin saja “kesalahan” B itu semata-mata berbeda persepsi.

    Contoh: ada 3 orang buta, bersamaan pegang gajah, yg 1 pegang belalai, bilang gajah itu cuma belalai, yg satu pegang kuping, bilang eh gajah itu cuma kuping, yg 1 lagi pegang kaki, yah dia pikir gajah itu kaki. Dimana kesalahannya? Jadi kaya teka teki nih yeh

  41. 41 Humbang Hasundutan Mei 7, 2008 pukul 9:37 am

    @J&W
    Tentu saja kawan, dengan tidak menyalahkan keyakinan pihak lain, dan tanpa ada unsur paksaan. Satu-satunya tujuan adalah untuk membagikan kebenaran itu.

    Karena kita bukanlah orang buta, tetapi kita dapat melihat dengan jelas dan kita memiliki akal sehat untuk mempertimbangkan apakah yang kita lihat dan dengar itu benar atau tidak, maka di pihak manapun kita, baik sebagai pihak yang sedang membagikan ataupun pihak yang sedang dibagikan, kita tidak perlu saling menyalahkan.

  42. 42 J&W Mei 8, 2008 pukul 10:05 am

    untuk Humbang, saya sependapat banget ama dikau. Kalau semua orang berpikir pola berpikirnya seperti itu. Masalahnya walaupun kita tidak buta, kadang kita suka melihat dari satu / dua sisi saja.

    saya punya seorang kawan yg senang banget baca buku, sampai dia punya perpustakaan sendiri, dan dia merasa sudah banyak dapat ilmu / informasi dari buku2 yg dia punya, tp setiap dia pergi ke toko buku dia merasa dia makin gak tahu apa2. – Saya gak pernah lupa ucapan dia.

  43. 43 godamn Mei 29, 2008 pukul 10:49 pm

    Yah… kalo niatnya tulus mah kayaknya masing-masing dapet hikmahnya kok… meski gak tau kapan… Kalo gak pernah ada yang berantem, kayaknya kita-kita juga jadi gak pernah mikir kok… asyik-asyik aja kalie… kang mesti bersyukur apa mesti bertobat nih..? berdoa kali yah….?

  44. 44 stainless tanks September 10, 2009 pukul 10:19 am

    Salam kenal aje deh..
    Keren blog’y..

  45. 45 ...Ibeng September 10, 2009 pukul 12:33 pm

    Menarik…dialog antara mas humbang hasandutan and j&w.
    sekedar cuma ikutan,saya rasa mas Humbang tidaklah seperti kawan mas j&w,
    banyak membaca tapi tidak menemukan/tau apa-apa.
    kalo boleh tau,memang yang di baca kawannya apa..?
    jangan2 komik nabìta.
    satu hal lagi tentang mas j&w,
    tentang argumentnya,Yang membandingkan orang buta and kawannya.
    saya rasa mas humbang bukanlah orang buta ataupun kawan mas j&w,’yang membaca tapi tidak mengerti apa yang di baca.
    mungkin kawan mas j&w termasuk orang yang dengan mata tidak bisa membedakan warnanya,dengan telinga tidak bisa membedakan suara.jadinya ya.. banyak baca juga gak bisa ambil hikmahnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: