Apa Benar Ahmadiyah Menghina Islam???

Saya mau tak mau jadi membaca tentang ahmadiyah dimana-mana dikarenakan oleh postingan saya kemaren . Dan akhirnya saya tergelitik juga untuk membahas mengenai Ahmadiyah ini terkait dengan Islam sebagai agama.

Banyak saya lihat protes terhadap ahmadiyah ini karena dianggap menghina atau menista agama Islam. Bahkan UU yang dikenakan adalah soal penistaan agama ini. (CMIIW). Tapi apa benar memang telah menghina agama Islam?

Sebenarnya kan yang dipersoalkan itu adalah :

bahwa ahmadiyah mengakui seorang nabi setelah Nabi Muhammad

Nah sekarang saya coba analisa mengenai hal tersebut. Benar memang ahmadiyah mengakui bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad. Tapi hal ini berdasarkan tafsir mereka bahwa nabi penutup yang dimaksud dalam AQ itu adalah menyatakan bahwa nabi baru setelah Nabi Muhammad sudah tidak akan membawa syariat baru lagi. Jadi memang Nabi Muhammad adalah nabi pembawa syariat baru penutup. Dan mereka tetap menjunjung Muhammad sebagai nabi. Begitu bukan?

Nah, jika memang semua analisa saya itu benar ( sepertinya perlu konfirmasi dari umat Ahmadiyah nih ) maka dimana letak menghina agama Islamnya? Toh saya lihat mereka justru menjunjung ajaran agama Islam juga. Hanya saja ada perbedaan tafsir dengan umat Islam kebanyakan mengenai nabi penutup tersebut. Tapi berbeda tafsir tentu bukan menghina. Apalagi memang tafsirnya tidak ada muatan menghina sama sekali.

Yah kalo mau tetap disalahkan sih, memang bisa dianggap bahwa tafsir mereka salah sehingga layak disebut sebagai sesat. Tapi ya mbok dipikirkan juga. Apa memang kebenaran Islam itu tergantung dari tafsir pihak mana yang mendapat dukungan terbanyak alias tirani mayoritas ? Sehingga jadinya tafsir Ahmadiyah pasti salah, karena mayoritas umat Islam tidak mengikuti tafsir mereka.

Lagian sebenarnya siapa sih yang berhak menafsir? Apa Ahmadiyah tidak punya hak itu?

Dan agar pendapat saya lebih diakui maka saya akan memelintir mengutip sedikit ayat-ayat dalam AQ:

Tidak ada paksaan dalam ADDIIN; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (2:256)

Tidak ada paksaan toh? :mrgreen:

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (6:116)

Hem… ternyata bukan mayoritas penentunya. :mrgreen:

Titipan pertanyaan buat umat Ahmadiyah:

Tapi berkaitan tulisan ini, saya punya pertanyaan terhadap Ahmadiyah. Apa nabi baru itu hanya seorang saja (M. Ghulam Ahmad) atau bisa banyak di berbagai belahan dunia yang luas ini? Moga-moga ada umat Ahmadiyah yang bersedia menjawab pertanyaan saya. 😀

 

203 Responses to “Apa Benar Ahmadiyah Menghina Islam???”


  1. 1 DensS cessario April 26, 2008 pukul 12:27 pm

    penutup yang dimaksud dalam AQ itu adalah menyatakan bahwa nabi baru setelah Nabi Muhammad sudah tidak akan membawa syariat baru lagi.

    Bukannya saya males nyari, tp bisa minta verse nya gak? (tapi males sih ada hehe… :mrgreen: )

  2. 2 daeng limpo April 26, 2008 pukul 5:24 pm

    @danalingga
    Thanks mas Dana, jawaban mas Dana sungguh mencerahkan.
    Saya juga bukan pemilik Islam sama seperti mas Dana, maksud saya kalau Tuan Mirza Ghulam Ahmad memang sebagai seorang “messiah” atau reinkarnasi dari Nabi ISA AS. Mengapa beliau meninggal sebelum para “dajjal” musnah ?, bukankah kalau benar beliau seorang “messiah” mestinya “dajjalnya” dulu yang musnah bukan messiahnya sehingga bisa dimungkinkan ada penerus beliau sebagai nabi didalam Ahmadiyah untuk menyelesaikan misi suci beliau.
    1.Ok…kalau kebenaran tidak mengenal mayoritas dan minoritas kita sepakat. Kalau menurut saya seharusnya juga tidak terjebak dengan mengatakan bahwa “pasti salah”, dengan penafsiran Ahmadiyah yang demikian sebenarnya mereka juga secara halus sudah menyatakan “pasti salah” kepada penafsiran Umat Islam yang lain. Jadi menurut saya kedua pihak sudah mengatakan “pasti salah” terhadap yang lain baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.
    2.Ok…ini juga saya sepakat. Hanya saya bingung bagaimana kalau sebuah Undang-undang atau sebuah hukum yang mengikat boleh ditafsirkan sembarangan, bukankah yang “dianggap” lebih paham untuk menafsirkan adalah orang-orang yang pernah sekolah hukum. Apakah mungkin seorang “awam hukum” boleh menafsirkan hukum bedasarkan tafsirannya?. Bukankah bagi umat beragama (c.q. Islam) memang ada beberapa hal yang kita serahkan kepada para Ahli agama untuk memutuskannya, jika memiliki tafsiran yang berbeda apalagi hal itu “krusial” mengapa tidak pisah perahu saja ?

    yang ketiga ini saya juga menunggu jawabannya.

  3. 3 alex April 26, 2008 pukul 5:50 pm

    @ RETORIKA

    ini berhubungan dengan masalah Franchise :mrgreen:

    setiap paket franchise ada beberapa persaratan wajib yang patut di penuhi, melakukan penambahan boleh, tetapi untuk hal2 tertentu ndak boleh dirubah.

    Pendapat yang bagus 🙂

    Tapi ada yang membedakan konsep agama dengan konsep lain, semisal konstitusi negara.

    Dengan argumentasi bahwa agama adalah urusan personal, maka adalah “lebih mudah dan aman” kalau mau menambah atau mengurangi poin-poin dalam agama. Tidak ada ancaman separah utak-atik konstitusi yang bisa berhadapan dengan tuduhan subversi misalnya. Dan agaknya ini yang membuat berurusan dengan prinsip-prinsip agama lebih safe daripada versus negara atau pemerintah 😛

    Ya, secara GBHA Islam yang saya tahu, ajaran Ahmadiyah – jika benar bahwa ada Nabi lain paska Nabi Muhammad, sehingga meniadakan apa yang disebut khatamman nabiyin, adalah menyimpang dari ajaran Islam yang disepakati mayoritas.

    Permasalahan mayoritas ada yang menindas, itu satu sisi. Tapi bahwa ada kesepakatan mayoritas yang mesti diakui, katakan saja sebagai konsensus bersama, itu mestinya diakui.

    Saya rasa masalahnya tidak akan besar jika saja Mirza Ghulam Ahmad disebut sebagai Imam Mahdi, misalnya, dibanding jika ia disebut sebagai Nabi setelah Muhammad. Atau menyebut diri sebagai agama baru dan tidak pakai nama Islam.

    Entah kenapa, saya jadi membayangkan kehebohan apa yang akan terjadi jika ada yang melancarkan paham Republik Indonesia Baru, dengan paham bahwa proklamator Indonesia bukanlah Bung Karno atau Pancasila memiliki tambahan-tambahan lain, dan Undang-undang direvisi sendiri. Paham tersebut agaknya bakal diterabas, dan mau tidak mau, tetap akan ada mayoritas yang berpendapat bahwa PAHAM ITU SESAT dan melanggar konstitusi. Apa analogi ini nyambung benar atau tidak, saya harap ini bisa mencerminkan pandangan saya 😛

    😐

    Tapi, meski saya berseberangan dengan saudara-saudara di Ahmadiyah dalam hal ini, saya tetap saja tidak setuju dengan pengrusakan dan macam-macam tindak anarkis yang menzalimi mereka. Sampai hari ini saya masih sewot kalau ingat ibu-ibu dari jamaah Ahmadiyah menangis karena rumahnya dirusak seperti yang pernah saya lihat. Kalau memang merasa mereka tersesat, dakwah persuasif dengan dialog, agaknya akan lebih baik dan santun (IMHO).

    *njrit! sekali komen di blog Dana sepanjang ini*
    :mrgreen:

  4. 4 danalingga April 26, 2008 pukul 8:15 pm

    @zal

    Mungkin karena tidak punya nabi baru zal. Saya kadang heran nih, kenapa Tuhan menurunkan Nabi ya? Padahal tiap diturunkan pasti gontok-gontokan tuh sama penganut agama yang lama. Apa memang sengaja biar pada berantem ya zal? 😦

    @DensS cessario

    Itu versi tafsir ahmadiyahnya, silakan langsung tanyakan kepada mereka deh.

    @daeng limpo

    Oh begitu maksudnya. *manggut-manggut* Mungkin mereka punya tafsir lain kali atas tugas “messiah” ini. Tapi jika memang tafsir mereka sama dengan umumnya umat Islam yang memepercayai “messiah” ini ya berarti mungkin telah salah. Atau mereka telah menganggap dajjal telah musnah? *butuh konfirmasi lagi nih*

    1. Sepengetahuan saya Ahmadiyah tidak pernah mengkafirkan (menganggap sesat) umat Islam diluar jemaah mereka pak. Mungkin itu bedanya dengan yang mayoritas itu. 😀

    2. Jangan bingung jangan bimbang. Tuhan telah menyiapkan jalan bagi masing-masing orang untuk memahaminya. Kalo saran saya sih soal menafsir ini, kalo memang kita belon PD, pelajari dari yang “ahli” . Tapi yang dipelajari bukan apa tafsirnya, melainkan cara menafsirnya. Sehingga akhirnya kita bisa menafsir sendir. Istilahnya mintalah dibuatkan kailnya, jangan minta ikannya. 😀

    Tapi sebenarnya inti dari artikel saya adalah apakah perbedaan penafsiran (padahal tafsiran tersebut tidak ada muatan menghina) bisa disebut sebuah penghinaan daeng?

    @alex

    Permasalahan mayoritas ada yang menindas, itu satu sisi. Tapi bahwa ada kesepakatan mayoritas yang mesti diakui, katakan saja sebagai konsensus bersama, itu mestinya diakui.

    Menarik. Mesti diakui berarti memaksa diakui dunk lex? Terus terang sikap saya sih, silahkan mayoritas menganggap sesat yang minoritas . Tapi nggak mesti yang minoritas dipaksa dibubarkan atau dipaksa mengganti keyakinannya toh. Kalo didakwahi sih, monggo aja. 😀

    Entah kenapa, saya jadi membayangkan kehebohan apa yang akan terjadi jika ada yang melancarkan paham Republik Indonesia Baru, dengan paham bahwa proklamator Indonesia bukanlah Bung Karno atau Pancasila memiliki tambahan-tambahan lain, dan Undang-undang direvisi sendiri. Paham tersebut agaknya bakal diterabas, dan mau tidak mau, tetap akan ada mayoritas yang berpendapat bahwa PAHAM ITU SESAT dan melanggar konstitusi. Apa analogi ini nyambung benar atau tidak, saya harap ini bisa mencerminkan pandangan saya

    Analoginya masih kurang pas tuh. 😛

    Mungkin yang pas adalah bahwa ternyata bukan Bung Karno dan Moh. Hatta yang proklamator, tapi ada orang ketiga yang layak juga disebut proklamator. 😆

  5. 5 alex April 26, 2008 pukul 9:16 pm

    Menarik. Mesti diakui berarti memaksa diakui dunk lex?

    Mesti diakui, bahwa ada hal-hal yang “HARUS” dipaksa dalam hal tertentu (dipaksa dalam tanda kutip lho ini).
    Misalnya begini.

    Katakan saja saya mendirikan sebuah agama baru. Sebut saja agama Vivid Salvation 😛

    Dan layaknya organisasi, maka ada AD/ART tersendiri yang saya buat bersama dengan para konseptornya. Dalam AD/ART tersebut, berlaku ketentuan bahwa: sejumlah poin-poin dalam AD/ART tersebut merupakan poin-poin yang menjadi kesepakatan siapapun, bagaimanapun dan kapanpun ada anggota yang masuk. Dan itu diumumkan ketika agama baru tersebut kami dakwahkan.

    Dikemudian hari, agama tersebut besar. Anggota bertambah lebih dari kader parpol :mrgreen: (misalnya lho, ini). Tapi pertambahan anggota tersebut, tidak memberi peluang bahwa poin-poin krusial yang menjadi dasar berdirinya agama – yang seperti organisasi itu – bisa diubah-ubah. Misalkan saja bahwa agama tersebut kesepakatan awal bahwa Hollywood adalah kiblat, misalnya.

    Maka adalah wajar, jika ada anggota yang melenceng atau ada yang dianggap keluar dari kesepakatan bersama tersebut, misal dengan mengubah kiblat ke Batam, untuk ditegur dan “dipaksa” mikir lagi, “Eh… ini lho kesepakatan awal agama ini yang menjadi konsensus bersama.”

    Dan, layaknya parpol pula, maka cara yang terbaik saat tidak ada titik temu adalah membuat agama baru. Dan ini cara yang fair lho, menurut saya. Dalam hal Ahmadiyah, saya penasaran juga jika diadakan jajak pendapat apakah mereka masih dalam koridor Islam atau tidak, seberapa suara yang akan mereka dapatkan 😛
    Kenapa kesepakatan mayoritas mesti ada? Karena terkadang pagar dan rambu-rambu itu memang diperlukan dalam hidup. Dalam hal ini, pendapat dari suara terbanyak, menjadi salah satu tolok ukur. Ini jika kita boleh berpendapat bahwa persoalan agama ini sudah tidak menjadi urusan personal lagi, karena ini berkenaan dengan konsep.

    Terus terang sikap saya sih, silahkan mayoritas menganggap sesat yang minoritas . Tapi nggak mesti yang minoritas dipaksa dibubarkan atau dipaksa mengganti keyakinannya toh. Kalo didakwahi sih, monggo aja. 😀

    Nah, itu yang kita sama sepakatnya. Dakwah itu hak siapa saja. Jangan mencak-mencak kalo umat ngilang karena malas buat dakwahin agama :mrgreen:

    *tuang kopi*

    Perasaan memiliki agama, sebagai sebuah konsep ideologi setidaknya, adalah hal yang wajar, bro. Bagaimana kalau Pancasila yang kita anggap sebagai ideologi bangsa, saya ubah dengan memasukkan kata “Kewajiban menjalankan prinsip-prinsip ekonomi dan politik ala Si Alex bagi seluruh rakyat Indonesia” ? Wahh… saya yakin banyak juga yang akan mencak-mencak, karena merasa memiliki Pancasila 😆

    Tapi terkadang, perasaan memiliki dengan jumlah mayoritas yang banyak ini, cenderung memaksa dengan kekerasan. Dan ini membenarkan bahwa tirani mayoritas adalah kaisar dari segala tiran.

    Saya lebih cocok dengan pendapat Din Syamsuddin dari Muhammadiyah

    Din mengibaratkan jamaah Ahmadiyah tersebut sudah berada di halaman rumah dan tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah akan mengajaknya masuk rumah kita ataukah justru “mengusir” mereka.

    “Tinggal bagiaman kita menyikapinya. Mau diajak masuk rumah kita ataukah justru kita mengusirnya. Kalau diusir tentu akan muncul resistensi dari mereka. Makanya ormas Islam bersama-sama mengajak mereka agar kembali ke akidah Islam dengan benar sesuai tauhid,” kata Din.

    Tentu saja kalimat “kembali ke akidah Islam dengan benar sesuai tauhid” itu juga bisa dipertanyakan lagi nanti: Tauhid menurut siapa? Menurut muslim yang mayoritas atau menurut Islam versi Ahmadiyah? 😐

    Kalau sudah begitu, sepertinya almarhum Wadehel juga yang benar: “Mari sepakat untuk tidak sepakat”
    😆

    *tiarap dari Guh*

  6. 6 alex April 26, 2008 pukul 9:23 pm

    Eh, kelupaan.. 😛

    Analoginya masih kurang pas tuh. 😛

    Yaa… namanya juga belum tidur-tidur dari semalam, dimaklumin deh kalo analogi jadi agak ngawur, Bro. 😀

    Mungkin yang pas adalah bahwa ternyata bukan Bung Karno dan Moh. Hatta yang proklamator, tapi ada orang ketiga yang layak juga disebut proklamator. 😆

    Tapi kenyataannya dalam sejarah disebut bahwa proklamator adalah Dwi Tunggal itu, bukan? Sejarah memang memiliki kemungkinan terdistorsi waktu, tapi setidaknya bukti-bukti yang disebut otentik dan hingga saat ini masih meyakinkan menunjukkan proklamator adalah dua orang tersebut.

    Jika kemudian ada yang bisa memberikan fakta baru, entah dalam bentuk rekaman video yang menampilkan bahwa pembaca teks proklamator ternyata Chairil Anwar atau mungkin Sanusi Pane, misalnya, kenapa tidak? :mrgreen:

    *tuang kopi lagi*

  7. 7 daeng limpo April 26, 2008 pukul 10:11 pm

    @danalingga
    Thanks atas jawabannya, saya rasa saya cukup puas.

    Sedikit tanggapan untuk yang menyebut mayoritas dan minoritas:
    Maaf setahu saya Tiran itu bukan hanya mayoritas, minoritas juga ada, buktinya ketika saddam hussein berkuasa, posisi syiah yang mayoritas malah ditindas oleh minoritas.
    Artinya Tiran itu….bisa mayoritas dan bisa minoritas (kalau ada kesempatan). Apakah anda yakin jika anda membela minoritas, maka ketika mereka mereka berkuasa tidak terjadi tirani…?.
    Saya bukan membela mayoritas juga bukan menyudutkan minoritas, mari kita dudukkan masalah ini tanpa menuding mayoritas dan minoritas. Bukankah penyebutan ini justru memperuncing perbedaan?
    —salam–

  8. 8 irdix April 27, 2008 pukul 4:20 am

    apa benar ???

    jawab : ga tau.. males mikirin.

  9. 9 danalingga April 27, 2008 pukul 3:15 pm

    @alex

    Ah, penjelasanmu yang panjang lebar itu semakin menambah alasanku untuk tidak menyukai pelembagaan sebuah kepercayaan menjadi lembaga agama. Sebab seperti yang kau katakan lex, bahwa memang jika sudah menjadi lembaga maka memang harus ada aturan-aturan yang dipenuhi jika ingin tetap dianggap sebagai bagian dari lembaga itu. Lembaga agamapun tentu demikian jadinya.

    Kenapa kesepakatan mayoritas mesti ada? Karena terkadang pagar dan rambu-rambu itu memang diperlukan dalam hidup. Dalam hal ini, pendapat dari suara terbanyak, menjadi salah satu tolok ukur. Ini jika kita boleh berpendapat bahwa persoalan agama ini sudah tidak menjadi urusan personal lagi, karena ini berkenaan dengan konsep.

    Betapa menyedihkan jika sebuah keyakinan harus begini. Tapi resiko ketika telah menjadi lembaga memang. 😦

    BTW, boleh juga tuh usulnya diadakan pemilihan suara saja. 😀

    Perasaan memiliki agama, sebagai sebuah konsep ideologi setidaknya, adalah hal yang wajar, bro. Bagaimana kalau Pancasila yang kita anggap sebagai ideologi bangsa, saya ubah dengan memasukkan kata “Kewajiban menjalankan prinsip-prinsip ekonomi dan politik ala Si Alex bagi seluruh rakyat Indonesia” ? Wahh… saya yakin banyak juga yang akan mencak-mencak, karena merasa memiliki Pancasila

    Kalo soal ini maka wajar memang. Tapi perlu dicamkan kewajaran bukan berarti kebenaran. 😀

    Tapi terkadang, perasaan memiliki dengan jumlah mayoritas yang banyak ini, cenderung memaksa dengan kekerasan. Dan ini membenarkan bahwa tirani mayoritas adalah kaisar dari segala tiran.

    Makanya coba seandainya tidak ada rasa kepemilikan itu, kan jadinya nggak usah ada paksaan dan kekerasan. 😀

    Btw, saya ingin mengutip pendapat seorang teman bahwa agama itu adalah milik publik tanpa kecuali. Jadi setiap orang berhak memahami sesuai kemampuannya tanpa diintervensi pemahaman orang lain karena agama bukan milik individu atau golongan tertentu saja. Konsekuensi logisnya maka tidak ada yang berhak mengklaim bahwa agama adalah miliknya.

    Tentu saja kalimat “kembali ke akidah Islam dengan benar sesuai tauhid” itu juga bisa dipertanyakan lagi nanti: Tauhid menurut siapa? Menurut muslim yang mayoritas atau menurut Islam versi Ahmadiyah?

    Walah, baru mo kasih argumen itu, ternyata dah keduluan. 😛

    Mungkin kalo kita bisa mengetahui Islam versi Tuhan maka semua selesai. Nyatanya tidak, sebab banyak pemahaman-pemahaman yang berbeda.

    Tapi kenyataannya dalam sejarah disebut bahwa proklamator adalah Dwi Tunggal itu, bukan? Sejarah memang memiliki kemungkinan terdistorsi waktu, tapi setidaknya bukti-bukti yang disebut otentik dan hingga saat ini masih meyakinkan menunjukkan proklamator adalah dua orang tersebut.

    Jika kemudian ada yang bisa memberikan fakta baru, entah dalam bentuk rekaman video yang menampilkan bahwa pembaca teks proklamator ternyata Chairil Anwar atau mungkin Sanusi Pane, misalnya, kenapa tidak?

    Berarti intinya adalah minta buktinya dunk wahai Ahmadiyah. Begitu bukan lex? :mrgreen:

    Tapi walau orang tersebut belum memberikan bukti yang meyakinkan pihak lain soal proklamator itu. Tidak lantas disuruh memilih mengganti kewarganegaraan Indonesianya kan lex? Palingan kita hanya berusaha memaparkan bahwa klaimnya tidak dapat dibuktikan. Namun jika dia tetap yakin dengan bukti yang dia punya telah cukup untuk meyakini bahwa ada proklamator ketiga. Kita mau apa? Nggak mungkin maksa orang tersebut merubah keyakinannya itu bukan? 😀

    *minum kopi*

    @daeng limpo

    Ah, mayoritas dan minoritas memang kenyataannya. Saya sih pengennya menyebut umat Islam kebanyakan dan ahmadiyah, namun nggak enak rasanya. Lagian kan kalo nanti terbalik bahwa ahmadiyah yang menjadi mayoritas, maka pernyataan saya tersebut tetap berlaku. 😀

    Artinya Tiran itu….bisa mayoritas dan bisa minoritas (kalau ada kesempatan). Apakah anda yakin jika anda membela minoritas, maka ketika mereka mereka berkuasa tidak terjadi tirani…?.

    Ini bukan soal yakin nggak yakin daeng. Tapi soal kenyataan sekarang ini bahwa ada sebagian orang yang menggunakan argumen karena mayoritas ya ini yang benar. Jika nanti ahmadiyah yang menjadi mayoritas dan berkelakuan sama, tentu tetap dikritisi juga. 😀

    Saya bukan membela mayoritas juga bukan menyudutkan minoritas, mari kita dudukkan masalah ini tanpa menuding mayoritas dan minoritas. Bukankah penyebutan ini justru memperuncing perbedaan?

    Jika begitu, marilah bersama jangan menggunakan argumen karena mayoritas itu. 😀

  10. 10 Tgk. Alex April 27, 2008 pukul 6:18 pm

    Ah, penjelasanmu yang panjang lebar itu semakin menambah alasanku untuk tidak menyukai pelembagaan sebuah kepercayaan menjadi lembaga agama. Sebab seperti yang kau katakan lex, bahwa memang jika sudah menjadi lembaga maka memang harus ada aturan-aturan yang dipenuhi jika ingin tetap dianggap sebagai bagian dari lembaga itu. Lembaga agamapun tentu demikian jadinya.

    Agama (mungkin) memang akan lebih baik dan lebih indah jika menjadi hal yang personal saja. Lha, saya saja merasa lebih nyaman shalat di kamar sendiri daripada rame-rame. Entah kenapa, rasanya lebih tenang 🙄

    Tapi… pelembagaan itu merupakan hal yang sukar untuk dihindari. Hal yang tidak-bisa-tidak akan terjadi juga. Ahmadiyah sendiri bukannya sudah melembagakan dirinya menjadi sebuah lembaga dengan judul Jemaah Ahmadiyah? Di dalam Jemaah Ahmadiyah sendiri tentu berlaku peraturan-peraturan bagi pengikutnya, bukan?

    Mari berandai-andai begini:

    Saya di dalam Jemaah Ahmadiyah. Saya membenarkan, misalnya, Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Tiba-tiba di kemudian waktu, saya menambahkan, “Kenabian Mirza Ghulam Ahmad tidaklah lengkap tanpa mengangkat Hugh Hefner sebagai another Messiah”. Apa kira-kira reaksi Jemaah Ahmadiyah itu sendiri? Apa juga akan toleran?

    Saya kira tidak. Pasti tetap akan ada pro dan kontra. Bahkan meskipun saya memberi klaim, “Lho, ini Ahmadiyah versi 0.0.2 yang saya beri patch sendiri. Cuma berlaku bagi saya dan mereka yang mau ikut, kok!” 🙂

    Dalam hal demikian, Jemaah Ahmadiyah adalah lembaga agama tersendiri juga jadinya, bukan?

    Betapa menyedihkan jika sebuah keyakinan harus begini. Tapi resiko ketika telah menjadi lembaga memang. 😦

    Menyedihkan memang. Apalagi ketika kelembagaan tersebut menuntut taklid yang parah dan tidak boleh ada wacana yang berbeda.

    BTW, boleh juga tuh usulnya diadakan pemilihan suara saja. 😀

    Hehehe… saya memang maunya begitu. Lebih demokratis, toh? Urusan agama sebagai personal sekaligus sosial menjadi terwakili dalam jajak pendapat demikian, karena setiap individu baik yang menganggap agama adalah urusan personal atau tidak akan memberikan pendapatnya 😛

    Makanya coba seandainya tidak ada rasa kepemilikan itu, kan jadinya nggak usah ada paksaan dan kekerasan. 😀

    Paksaan dan kekerasan saya tidak suka. Tapi rasa kepemilikan itu lambat-laun juga akan menjadi keniscayaan juga. Seperti kata saya tadi lho, Dan. Kalo suatu saat ada yang mbalelo dari kalangan Jemaah Ahmadiyah, apa iya Hak dan Kebebasannya untuk membentuk ‘kepemilikan baru’ akan tetap berlaku?

    Btw, saya ingin mengutip pendapat seorang teman bahwa agama itu adalah milik publik tanpa kecuali. Jadi setiap orang berhak memahami sesuai kemampuannya tanpa diintervensi pemahaman orang lain karena agama bukan milik individu atau golongan tertentu saja. Konsekuensi logisnya maka tidak ada yang berhak mengklaim bahwa agama adalah miliknya.

    Benar. Agama adalah milik publik dan sekaligus milik personal. Dalam urusan tauhid, saya tidak akan mau menyerah begitu saja untuk diatur-atur bahkan oleh MUI sekalipun jika saya tetap bersikukuh bahwa ada pandangan Mu’tazillah yang saya sepakati,misalnya. Tapi, ketika tauhid ini diaplikasikan dalam hidup sehari-hari, apa iya akan tetap menjadi hal yang personal selamanya? Batasan antara personal dan sosial itu yang belum begitu jelas kriterianya seperti apa.

    Tapi perlu dicamkan kewajaran bukan berarti kebenaran. 😀

    Kewajaran memang bukan berarti kebenaran.

    Karena kebenaran dan kewajaran itu sendiri relatif. Bukankah menurut Kanjeng Wadehel “Segala sesuatu benar tergantung dari sudut mana anda melihat” ?

    Walah, baru mo kasih argumen itu, ternyata dah keduluan. 😛

    Karena pertanyaan argumentatif seperti itu sendiri sudah pernah saya pakai dalam kasus-kasus sejenis begini dulu :mrgreen:

    Mungkin kalo kita bisa mengetahui Islam versi Tuhan maka semua selesai. Nyatanya tidak, sebab banyak pemahaman-pemahaman yang berbeda.

    Bicara tentang pemahaman-pemahaman yang berbeda ini, saya mencoba melihatnya sebagai warna-warni saja. Mungkin itu sebabnya saya tidak memaksakan sepaksa-paksanya bahwa Islam versi saya (yang saya klaim sebagai versi Tuhan juga) harus diterima.

    Berarti intinya adalah minta buktinya dunk wahai Ahmadiyah. Begitu bukan lex? :mrgreen:

    Ya.
    Karena, dengan segala hormat pada saudara-saudara di Ahmadiyah, jika mengikuti jalur-jalur dialektika materialis (yang tidak selalu benar itu), mestinya demikian. Ada pembuktian sejarah yang bisa diterima dan memiliki rentang kemungkinan terdistorsi yang amat kecil 😛

    Tapi walau orang tersebut belum memberikan bukti yang meyakinkan pihak lain soal proklamator itu. Tidak lantas disuruh memilih mengganti kewarganegaraan Indonesianya kan lex?

    Idealnya demikian. 😛

    Palingan kita hanya berusaha memaparkan bahwa klaimnya tidak dapat dibuktikan. Namun jika dia tetap yakin dengan bukti yang dia punya telah cukup untuk meyakini bahwa ada proklamator ketiga. Kita mau apa? Nggak mungkin maksa orang tersebut merubah keyakinannya itu bukan? 😀

    Dan itulah idealisme. Ke-ideal-an yang seharusnya ada.

    Tapi hidup dalam gelanggang pemikiran dan dalam gelanggang sosial, faktanya menjadi berbeda. Karena pendapat bahwa proklamator bukan Bung Karno dan Bung Hatta – baik terbukti atau pun tidak – akan dianggap memiliki konsekuensi berbeda.

    Konsekuensi itu bisa berarti bahwa Negara ini fake, sebuah rekayasa sejarah belaka. Dan itu bisa menghancurkan sikon yang ada saat ini. Apa yang disebut dengan stabilitas dan konstitusi konon menjadi terancam, bukan?

    Kesiapan untuk menerima perbedaan memang masih langka, Dan. Bisa itu berarti kalangan muslim, kristen, liberalis, sosialis, siapapun. Bisa jadi kita berdua juga lho :mrgreen:

    Bagaimana kalau kasusnya bukan proklamator, tapi Negara Islam Indonesia atau Darul Islam? Setiap orang bebas dan berhak berwacana, bukan? Tapi kenapa kenyataannya orang seperti saya, kawan-kawan yang sosialis, sekularis, nasionalis dan pro-demokrasi menolak dan bahkan bisa ‘ngamuk’ untuk hal ini?

    Karena kebenaran yang relatif itu menjadi ‘mutlak’ ketika sejumlah besar massa bergabung untuk menolak satu pihak yang lain 😐

  11. 11 Tgk. Alex April 27, 2008 pukul 6:23 pm

    Njrit! tulisannya ke-bold semua. Lupa nutup tag 😆

    “Kenabian Mirza Ghulam Ahmad tidaklah lengkap tanpa mengangkat Hugh Hefner sebagai another Messiah”.

    Bro, tolong tutup di bait bagian ini ya. Mestinya cuma sampai segitu saja yang di-bold 😥

  12. 12 iseng2 April 28, 2008 pukul 9:53 am

    Masalahnya sebenarnya cuma
    1. Kenapa warga Ahmadiyah memaksakan diri mempunyai nabi Mirza Ghulam Ahmad.
    2. Gimana kalau ada orang2 iseng yang menghipnotis, telepati orang yang sedang bingung “mencari” kebenaran, hingga keluar ilusi /waham bahwa ia mendapatkan wahyu?
    3. Apakah menolak MGA adalah suatu kekafiran?
    Kalau ya, berarti ahmadiyah agama baru.
    Kalau tidak, apa fungsi nabi tesebut?

  13. 13 Tito April 28, 2008 pukul 5:58 pm

    nggak kok, mereka gak ngehina Islam…
    tapi dasar umat islamnya aja yg hyper-sensitive…

  14. 14 danalingga April 28, 2008 pukul 6:41 pm

    @Tgk. Alex

    Agama (mungkin) memang akan lebih baik dan lebih indah jika menjadi hal yang personal saja. Lha, saya saja merasa lebih nyaman shalat di kamar sendiri daripada rame-rame. Entah kenapa, rasanya lebih tenang

    Pengalaman saya juga begitu. Setidaknya ada perasaan lebih intim sama Dia.

    Tapi… pelembagaan itu merupakan hal yang sukar untuk dihindari. Hal yang tidak-bisa-tidak akan terjadi juga. Ahmadiyah sendiri bukannya sudah melembagakan dirinya menjadi sebuah lembaga dengan judul Jemaah Ahmadiyah? Di dalam Jemaah Ahmadiyah sendiri tentu berlaku peraturan-peraturan bagi pengikutnya, bukan?

    Betul sekali lex. Coba seandainya Ahmadiyah tidak membentuk lembaga saya rasa mereka akan aman-aman saja dengan keyakinan mereka. Semoga ini menjadi masukan bagi ahmadiyah.

    Mari berandai-andai begini:

    Saya di dalam Jemaah Ahmadiyah. Saya membenarkan, misalnya, Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Tiba-tiba di kemudian waktu, saya menambahkan, “Kenabian Mirza Ghulam Ahmad tidaklah lengkap tanpa mengangkat Hugh Hefner sebagai another Messiah”. Apa kira-kira reaksi Jemaah Ahmadiyah itu sendiri? Apa juga akan toleran?

    Saya kira tidak. Pasti tetap akan ada pro dan kontra. Bahkan meskipun saya memberi klaim, “Lho, ini Ahmadiyah versi 0.0.2 yang saya beri patch sendiri. Cuma berlaku bagi saya dan mereka yang mau ikut, kok!”

    Iya bisa jadi dan semoga ini menjadi renungan bagi Ahmadiyah. Dan saya pasti akan mengkritisi juga jika mereka memaksakan orang yang berbeda tersebut untuk mengganti keyakinannya, atau disuruh keluar dari Ahmadiyah. 😉

    Dalam hal demikian, Jemaah Ahmadiyah adalah lembaga agama tersendiri juga jadinya, bukan?

    Iya, dan saya sayangkan hal tersebut. 😦

    Paksaan dan kekerasan saya tidak suka. Tapi rasa kepemilikan itu lambat-laun juga akan menjadi keniscayaan juga. Seperti kata saya tadi lho, Dan. Kalo suatu saat ada yang mbalelo dari kalangan Jemaah Ahmadiyah, apa iya Hak dan Kebebasannya untuk membentuk ‘kepemilikan baru’ akan tetap berlaku?

    Ndak niscaya kok lex. Buktinya saya sudah membuang rasa kepemilikan itu. Sebab toh saya sadar kalo saya tidak akan pernah memiliki. Paling banter cuma dititipin ama yang punya. :mrgreen:

    Benar. Agama adalah milik publik dan sekaligus milik personal. Dalam urusan tauhid, saya tidak akan mau menyerah begitu saja untuk diatur-atur bahkan oleh MUI sekalipun jika saya tetap bersikukuh bahwa ada pandangan Mu’tazillah yang saya sepakati,misalnya. Tapi, ketika tauhid ini diaplikasikan dalam hidup sehari-hari, apa iya akan tetap menjadi hal yang personal selamanya? Batasan antara personal dan sosial itu yang belum begitu jelas kriterianya seperti apa.

    Sepertinya kamu belum nangkap maksud milik publik di sini deh lex. Maksudnya adalah bahwa siapapun berhak memahami sesuai kemampuannya akan ajaran agama tersebut. Logikanya jika kita melarang seseorang berkeyakinan (memahami) suatu ajaran agama berbeda dengan pemahaman kita. Bukankah itu berarti kita mengklaim bahwa agama tersebut adalah milik kita? Nah inilah yang ditolak oleh teman tersebut, bahwa agama itu tidak bisa diklaim sebagai milik suatu individu atau golongan saja. Jadi bukan soal personal dan sosial lex. Tapi soal apakah agama itu milik publik atau individu.

    Kewajaran memang bukan berarti kebenaran.

    Karena kebenaran dan kewajaran itu sendiri relatif. Bukankah menurut Kanjeng Wadehel “Segala sesuatu benar tergantung dari sudut mana anda melihat” ?

    Sebenarnya kebenaran tidak relatif lex. Namun karena manusia masih sebatas menafsirkan kebenaran itu maka jadinya relatif. 😉

    Idealnya demikian.

    Dan itulah idealisme. Ke-ideal-an yang seharusnya ada.

    Tapi hidup dalam gelanggang pemikiran dan dalam gelanggang sosial, faktanya menjadi berbeda. Karena pendapat bahwa proklamator bukan Bung Karno dan Bung Hatta – baik terbukti atau pun tidak – akan dianggap memiliki konsekuensi berbeda.

    Konsekuensi itu bisa berarti bahwa Negara ini fake, sebuah rekayasa sejarah belaka. Dan itu bisa menghancurkan sikon yang ada saat ini. Apa yang disebut dengan stabilitas dan konstitusi konon menjadi terancam, bukan?

    Ah, idealisme yang layak diperjuangkan. Semoga minimal akan mendekati ideal tersebut. 😀

    Kesiapan untuk menerima perbedaan memang masih langka, Dan. Bisa itu berarti kalangan muslim, kristen, liberalis, sosialis, siapapun. Bisa jadi kita berdua juga lho

    Sebenarnya nggak mesti menerima sih lex. Namun ketidakpenerimaan itu hendaknya dinyatakan dengan elegan. Yah usul saya sih lewat dakwah aja. Kecuali jika memang sudah kriminil, ini soal lain lagi. 😀

    Bagaimana kalau kasusnya bukan proklamator, tapi Negara Islam Indonesia atau Darul Islam? Setiap orang bebas dan berhak berwacana, bukan? Tapi kenapa kenyataannya orang seperti saya, kawan-kawan yang sosialis, sekularis, nasionalis dan pro-demokrasi menolak dan bahkan bisa ‘ngamuk’ untuk hal ini?

    Menolak bukan memaksa kan lex? Tapi jika itu masih sebatas wacana, tapi kalo sudah memerangi atau membom misalnya, tentu beda lagi. 😉

    Karena kebenaran yang relatif itu menjadi ‘mutlak’ ketika sejumlah besar massa bergabung untuk menolak satu pihak yang lain

    Sepertinya memang begitu dikenyataan sekarang ini. Semoga saja kondisi ideal yang tadi itu bisa dicapai.

    @iseng2

    1. Karena itu keyakinan mereka
    2. ya, sudah resiko mencari kebenaran. Namun jika orang tersebut jodoh maka pasti akan menemukan kebenaran walau dihipnotis beribu kali.
    3. Setahu saya sih tidak.

    Kalau ya, berarti ahmadiyah agama baru.
    Kalau tidak, apa fungsi nabi tesebut?

    Ah, pernyataan anda ini secara tersirat menyatakan bahwa tafsir versi andalah yang layak disebut Islam. Sudah dapat mandat dari Tuhankah?

  15. 15 Mrs. Fortynine April 28, 2008 pukul 7:54 pm

    kalo saya lihat kondisi negara kita yang kayak sekarang, mungkin juga seperti itu kali ya, di awal awal agama islam atau agama lainnya ada?
    🙄

  16. 16 MAW April 29, 2008 pukul 12:27 am

    Pertama, sebelum mengupas lebih jauh saya koreksi bahwa tidak ada tirani mayoritas. Yang ada adalah diktator mayoritas dan tirani minoritas. Tujuan demokrasi adalah menghapus adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas. Tujuan yang aneh padahal dalam demokrasi pemenang adalah 50 persen plus satu.

    Kedua, sebagai penulis yang baik sebaiknya ditunjukkan dari mana sesuatu yang katanya tafsir Ahmadiyah itu didapatkan. Apakah dari ahmadiyya.or.I’d, ahmadiyah.org, atau alislam.org. Sampeyan masih memandang Ahmadiyah itu sebagai satu entitas. Padahal, ada Ahmadiyah Qadian dan ada Ahmadiyah Lahore. Mengatakan menurut tafsir Ahmadiyah tanpa menunjukkan sumber hanya membuat pembaca mengira Sampeyan mengarang sendiri kalimat-kalimat itu.

    Sebaiknya Sampeyan membandingkan penafsiran terhadap ayat Alqur’an yang menyebutkan Muhammad sebagai khatamun nabiyyin (penutup nabi-nabi) versi Ahlus sunnah wal jamaah dan Ahmadiyah yang Sampeyan bela itu. Silakan perkuat argumentasi Sampeyan bahwa siapa saja bebas menafsirkan AlQuran semaunya sendiri.

    Ketiga. Setiap ayat AlQur’an itu memiliki asbabun nuzul. Itu sebabnya Al-Quran tidak diturunkan langsung dalam satu waktu. Terhadap ayat mengenai tidak ada paksaan dalam agama yang Sampeyan kutip di atas, apakah Sampeyan melacak sampai ke sebab-sebab diturunkannya ayat tersebut. Peristiwa apa yang melatarbelakangi Allah menurunkan ayat tersebut? Kalau Sampeyan tidak melacak sampai ke sana, apa yang membuat Sampeyan menafsirkan dengan cara yang Sampeyan tunjukkan di atas?

    Keempat. Setiap agama pasti memiliki sejarah kelahiran. Agama Yahudi memiliki sejarah kelahiran. Agama Kristen memiliki sejarah kelahiran. Agama Islam memiliki ajaran kelahiran. Aliran Ahmadiyah ini juga memiliki sejarah kelahiran. Apakah Sampeyan sudah membaca sejarah kelahiran Ahmadiyah. Apakah Sampeyan membaca mengenai latar belakang Mirza Ghulam Ahmad? Siapa itu MGA? Apakah Sampeyan sudah membandingkan latarbelakang MGA dengan nabi-nabi lain yang Sampeyan kenal?

    Masih berkaitan dengan sejarah. Apakah Sampeyan tahu bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengebiri semangat jihad. Dia mengajak orang untuk tidak melawan penjajahan Inggris. Jihad termasuk ajaran pokok dalam Islam. Tahukah Sampeyan bahwa pada zaman Nabi mereka yang menolak jihad dan tidak mau berangkat berperang dikatakan sebagai orang munafik? Bahkan Alqur’an mengecam mereka yang tidak mau berjihad di jalan Allah. Sampeyan boleh bertanya “apakah Allah perlu kita bela?” Jawabannya mudah, buat apa Allah memerintahkan kita untuk jihad fisabilillah kalau Dia tidak minta dibela?

    Apakah Sampeyan mengikuti terus perkembangan sejarah itu? Sejak awal Inggris menyusui Mirza Ghulam Ahmad. Menyuplainya dengan dana dan perlindungan. Lihat sekarang di mana Khalifah Ahmadiyah bercokol. Di inggris kan? Lalu siapa pembela-pembela Ahmadiyah? Inggris, Amerika Serikat, Canada, Afrika Selatan. Mereka semua tidak dapat dikatakan Islam dan mengerti Islam. Semua negara itu membela Ahmadiyah karena telah dikebirinya jihad oleh MGA sehingga Ahmadiyah menurut bagai kerbau dicocok hidungnya kepada Inggris.

    Kelima. Ahmadiyah sudah lama ada di Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka mereka sudah ada. Yang pertama masuk adalah Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah masuk kemudian karena diminta oleh orang Indonesia. Silakan baca sejarahnya di tempat Ndorokakung.com. Setelah merdeka sampai berakhirnya era Soekarno saya tidak tahu mengapa Ahmadiyah dibiarkan. Kalau pada masa Orde Baru, Ahmadiyah dibiarkan karena dia tidak menentang Pancasila, berbeda dengan penganut Islam ideologis yang ingin mendirikan negara Islam yang oleh kalian disebut sebagai Islam Fundamentalis atau Isfun atau Islam Fundies. Di masa Orde Baru, kerukunan hidup beragama adalah sesuatu yang semu yang selalu siap meledak begitu kekuasaan tumbang. Kalau sekarang banyak yang berani menolak Ahmadiyah terang-terangan itu tanda kadar iman makin tinggi. Dulu mungkin orang hanya berani menyangkal dalam hati atau mencegah dengan perbuatan. Kini mereka berani mencegah dengan perbuatan. Itu tanda kadar iman semakin tinggi.

    Dulu, ketika Indonesia dijajah. Adakah yang menyalahkan orang-orang Indonesia yang merusak aset kompeni/Belanda? Adakah yang menyalahkan orang yang membunuh Belanda dan pengikutnya? Apakah dulu tidak ada hukum? Lalu, ketika ada orang yang merasa agamanya telah dicemari, dikotori, dan diobrak-abrik seenaknya sendiri, mengapa saat ini kita menyalahkan mereka. Apa dulu Belanda-Belanda itu tidak boleh hidup dan berkeyakinan bahwa mereka boleh menguasai Indonesia? Mengapa Sampeyan menolak penjajahan? Apakah salah bila ada yang berkeyakinan bahwa penjajahan itu boleh dilakukan asal mampu melakukannya? Itu hanya negara, Pak! Itu hanya keinginan untuk merdeka yang membuat kita tutup mata dan membenarkan pembunuhan terhadap Belanda-Belanda itu. Di manakah humanisme Sampeyan disembunyikan dalam konteks ini? Maaf, saya tidak setuju pembunuhan atas alasan apa pun. Saya hanya ingin membuka mata Sampeyan supaya adil dalam memandang. Ahmadiyah juga boleh membela diri dan mempertahankan keyakinannya sampai mati. Namun apa lacur? MGA sudah mengebiri semangat jihad. Terhadap Inggris mereka ibarat menjilati duburnya. Kalau JAI di Indonesia akan melawan, saya tidak tahu apa artinya.

    Terhadap Ahmadiyah kita pandai bicara humanisme. Padahal, agama itu adalah dogma. Memeluk agama berarti menghambakan diri kepada Tuhan. Kita patuhi perintah-Nya dan kita jauhi larangan-Nya. Karena AlQuran adalah firman Tuhan, kita boleh menafsirkan. Namun tidak semua ayat harus ditafsirkan. Ayat-ayat yang sudah jelas maknanya tentu tidak perlu ditafsirkan. Silakan perkuat argumen Sampeyan yang membenarkan setiap orang bebas menafsirkan AlQuran sesuai pemahaman masing-masing. Saya katakan ini karena Sampeyan membenarkan baik penafsiran mayoritas Islam bahwa Muhammad adalah penutup nabi-nabi dan tidak ada nabi apa pun sesudahnya serta membenarkan penafsiran Ahmadiyah yang mengatakan bahwa Muhammad adalah nabi pembawa syariat terakhir dan setelahnya masih akan turun Nabi lagi.

    Tambahan pertanyaan: Sampeyan membela Ahmadiyah. Apakah Sampeyan juga membela Lia Eden dan pengikutnya? Ahmad Mosadheq dan pengikutnya? Sholat Bahasa Jawa di Malang? Madi dan pengikutnya?

    Kalau Sampeyan tidak membela mereka, Sampeyan sudah bertindak tidak adil.

  17. 17 iseng2 April 29, 2008 pukul 6:28 am

    @Danalingga
    anda berbeda menafsirkan yang tersirat, seolah-olah anda paling benar menafsirkan kalimat saya, anda sudah dapat mandat dari sayakah?
    he he he
    maksud saya, kalau menentang MGA bukan suatu kekafiran, maka apa fungsi MGA itu, sepertinya ditentang tidak kafir, tidak ditentang tidak kafir. Seolaholah tidak ada hukumnya. Dalam riwayat keagamaan penentangan terhadap nabi dikategorikan penentang/ bahasa arabnya kafir.
    he he he
    jangan dibelokkan, agama apa, riwayat apa lho…

    seolah-olah tafsir saya yang paling benar?

    saya pakai tafsir AlHakim, tafsir dari depag, tafsir al mannar, juga tafsir dari Quraish shihab, hamka. ‘paling’ kan mestinya satu, malah seolah-olah tafsir dari Ahmadiyaah aja yang paling benar.

    he he he jangan dibelokkan banyak belum tentu benar, kebenaran adalah kebenaran….
    Jangan dibelokkan pula tiap kebenaran pada awalnya pasti ditentang, karena penyanyi dangdut inul, annisa bahar begitu muncul ditentang tetapi belum suatu kebenaran. Parameter kebenaran bukan pada ditentang atau tidaknya.

  18. 18 Kopral Geddoe April 29, 2008 pukul 3:07 pm

    @ Kang Kombor
    Berapologis untuk Ahmadiyah dari segi kajian Islam sendiri memang susah, Kang Kombor. Buat ini saya menonton saja; tapi soal toleransinya sendiri, anda mendukung tidak? 🙂

    Tentunya terlepas dari apakah Ahmadiyah itu keblinger apa tidak. Lagipula bukankah lewat kacamata Islam milyaran orang di bumi adalah keblenger?

    .
    .
    .
    .
    .

    “I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.”

    ~Evelyn Beatrice Hall, about what Voltaire believed in.

  19. 19 daeng limpo April 29, 2008 pukul 4:28 pm

    @danalingga
    Apakah mayoritas ini populasinya, segi ekonominya, atau pendapatnya?
    Tetapi saya malas ah…, masalahnya ntar saya dikira membela mayoritas :D.

  20. 20 danalingga April 29, 2008 pukul 6:39 pm

    @Mrs. Fortynine

    Sepertinya emang begitu. Karena pada dasarnya manusia itu tidak mau diusik kepercayaannya. Jadinya jika ada pemahaman yang baru pasti ditolak dan diserang. Sejarah memang tidak pernah berbohong.

    @MAW

    Kedua, sebagai penulis yang baik sebaiknya ditunjukkan dari mana sesuatu yang katanya tafsir Ahmadiyah itu didapatkan. Apakah dari ahmadiyya.or.I’d, ahmadiyah.org, atau alislam.org. Sampeyan masih memandang Ahmadiyah itu sebagai satu entitas. Padahal, ada Ahmadiyah Qadian dan ada Ahmadiyah Lahore. Mengatakan menurut tafsir Ahmadiyah tanpa menunjukkan sumber hanya membuat pembaca mengira Sampeyan mengarang sendiri kalimat-kalimat itu.

    Saya bukan penulis yang baek. Dan silahkan kalo beranggapan itu hanya karangan saya saja.

    Sebaiknya Sampeyan membandingkan penafsiran terhadap ayat Alqur’an yang menyebutkan Muhammad sebagai khatamun nabiyyin (penutup nabi-nabi) versi Ahlus sunnah wal jamaah dan Ahmadiyah yang Sampeyan bela itu.

    Saya tidak membela hasil penafsirannya. Saya hanya membela kebebasan mereka menafsir.

    Silakan perkuat argumentasi Sampeyan bahwa siapa saja bebas menafsirkan AlQuran semaunya sendiri.

    Saya tidak punya argumen tapi kalo penjelasan mungkin bisa dilihat di kitab yang dianggap suci dan metoda memahami kitab suci .

    Ketiga. Setiap ayat AlQur’an itu memiliki asbabun nuzul. Itu sebabnya Al-Quran tidak diturunkan langsung dalam satu waktu. Terhadap ayat mengenai tidak ada paksaan dalam agama yang Sampeyan kutip di atas, apakah Sampeyan melacak sampai ke sebab-sebab diturunkannya ayat tersebut. Peristiwa apa yang melatarbelakangi Allah menurunkan ayat tersebut? Kalau Sampeyan tidak melacak sampai ke sana, apa yang membuat Sampeyan menafsirkan dengan cara yang Sampeyan tunjukkan di atas?

    Silahkan di paparkan.

    Keempat. Setiap agama pasti memiliki sejarah kelahiran. Agama Yahudi memiliki sejarah kelahiran. Agama Kristen memiliki sejarah kelahiran. Agama Islam memiliki ajaran kelahiran. Aliran Ahmadiyah ini juga memiliki sejarah kelahiran. Apakah Sampeyan sudah membaca sejarah kelahiran Ahmadiyah. Apakah Sampeyan membaca mengenai latar belakang Mirza Ghulam Ahmad? Siapa itu MGA? Apakah Sampeyan sudah membandingkan latarbelakang MGA dengan nabi-nabi lain yang Sampeyan kenal?

    Apa hubungannya dengan artikel saya?

    Masih berkaitan dengan sejarah. Apakah Sampeyan tahu bahwa Mirza Ghulam Ahmad mengebiri semangat jihad. Dia mengajak orang untuk tidak melawan penjajahan Inggris. Jihad termasuk ajaran pokok dalam Islam. Tahukah Sampeyan bahwa pada zaman Nabi mereka yang menolak jihad dan tidak mau berangkat berperang dikatakan sebagai orang munafik? Bahkan Alqur’an mengecam mereka yang tidak mau berjihad di jalan Allah. Sampeyan boleh bertanya “apakah Allah perlu kita bela?” Jawabannya mudah, buat apa Allah memerintahkan kita untuk jihad fisabilillah kalau Dia tidak minta dibela?

    Terus apa hubungannya dengan artikel saya?

    Apakah Sampeyan mengikuti terus perkembangan sejarah itu? Sejak awal Inggris menyusui Mirza Ghulam Ahmad. Menyuplainya dengan dana dan perlindungan. Lihat sekarang di mana Khalifah Ahmadiyah bercokol. Di inggris kan? Lalu siapa pembela-pembela Ahmadiyah? Inggris, Amerika Serikat, Canada, Afrika Selatan. Mereka semua tidak dapat dikatakan Islam dan mengerti Islam. Semua negara itu membela Ahmadiyah karena telah dikebirinya jihad oleh MGA sehingga Ahmadiyah menurut bagai kerbau dicocok hidungnya kepada Inggris.

    Sekali lagi apa hubungannya dengan artikel saya?

    Kelima. Ahmadiyah sudah lama ada di Indonesia. Jauh sebelum Indonesia merdeka mereka sudah ada. Yang pertama masuk adalah Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah masuk kemudian karena diminta oleh orang Indonesia. Silakan baca sejarahnya di tempat Ndorokakung.com. Setelah merdeka sampai berakhirnya era Soekarno saya tidak tahu mengapa Ahmadiyah dibiarkan. Kalau pada masa Orde Baru, Ahmadiyah dibiarkan karena dia tidak menentang Pancasila, berbeda dengan penganut Islam ideologis yang ingin mendirikan negara Islam yang oleh kalian disebut sebagai Islam Fundamentalis atau Isfun atau Islam Fundies. Di masa Orde Baru, kerukunan hidup beragama adalah sesuatu yang semu yang selalu siap meledak begitu kekuasaan tumbang. Kalau sekarang banyak yang berani menolak Ahmadiyah terang-terangan itu tanda kadar iman makin tinggi. Dulu mungkin orang hanya berani menyangkal dalam hati atau mencegah dengan perbuatan. Kini mereka berani mencegah dengan perbuatan. Itu tanda kadar iman semakin tinggi.

    Berarti anda setuju dengan pemaksaan itu, begitukah? Kalo mau dilanjutkan inilah yang saya kritisi dalam artikel ini. Soal pemaksaan terhadap keyakinan orang, bahkan sampai meminta tangan negara untuk memberangus.

    Dulu, ketika Indonesia dijajah. Adakah yang menyalahkan orang-orang Indonesia yang merusak aset kompeni/Belanda? Adakah yang menyalahkan orang yang membunuh Belanda dan pengikutnya? Apakah dulu tidak ada hukum? Lalu, ketika ada orang yang merasa agamanya telah dicemari, dikotori, dan diobrak-abrik seenaknya sendiri, mengapa saat ini kita menyalahkan mereka. Apa dulu Belanda-Belanda itu tidak boleh hidup dan berkeyakinan bahwa mereka boleh menguasai Indonesia? Mengapa Sampeyan menolak penjajahan? Apakah salah bila ada yang berkeyakinan bahwa penjajahan itu boleh dilakukan asal mampu melakukannya? Itu hanya negara, Pak! Itu hanya keinginan untuk merdeka yang membuat kita tutup mata dan membenarkan pembunuhan terhadap Belanda-Belanda itu. Di manakah humanisme Sampeyan disembunyikan dalam konteks ini? Maaf, saya tidak setuju pembunuhan atas alasan apa pun. Saya hanya ingin membuka mata Sampeyan supaya adil dalam memandang. Ahmadiyah juga boleh membela diri dan mempertahankan keyakinannya sampai mati. Namun apa lacur? MGA sudah mengebiri semangat jihad. Terhadap Inggris mereka ibarat menjilati duburnya. Kalau JAI di Indonesia akan melawan, saya tidak tahu apa artinya.

    Tungu dulu masalah penjajahan sama hal ahmadiyah ini menurut saya berbeda. Jika anda memaksa kedua hal tersebut sama, boleh dijelaskan dimananya Ahmadiyah menjajah Islam?

    Dan sekali lagi masalah agama dan penjajahan itu sangat berbeda. Nah, sekarang saya hanya ingin konfirmasi apa beda tafsir lantas dituduh mencemari, mengkotori, dan mengobrak abrik?

    Terhadap Ahmadiyah kita pandai bicara humanisme. Padahal, agama itu adalah dogma. Memeluk agama berarti menghambakan diri kepada Tuhan. Kita patuhi perintah-Nya dan kita jauhi larangan-Nya. Karena AlQuran adalah firman Tuhan, kita boleh menafsirkan. Namun tidak semua ayat harus ditafsirkan. Ayat-ayat yang sudah jelas maknanya tentu tidak perlu ditafsirkan. Silakan perkuat argumen Sampeyan yang membenarkan setiap orang bebas menafsirkan AlQuran sesuai pemahaman masing-masing. Saya katakan ini karena Sampeyan membenarkan baik penafsiran mayoritas Islam bahwa Muhammad adalah penutup nabi-nabi dan tidak ada nabi apa pun sesudahnya serta membenarkan penafsiran Ahmadiyah yang mengatakan bahwa Muhammad adalah nabi pembawa syariat terakhir dan setelahnya masih akan turun Nabi lagi.

    Bagi saya agama bukan dogma. Agama hanyalah petunjuk untuk mengenal Tuhan. Itu saja tidak lebih.

    Tapi tolong dipahami saya tidak membenarkan hasil menafsir mayoritas maupun minoritas. Saya hanya mendukung kebebasan ahmadiyah untuk menafsirkan ayat-ayat yang mereka imani.

    Tambahan pertanyaan: Sampeyan membela Ahmadiyah. Apakah Sampeyan juga membela Lia Eden dan pengikutnya? Ahmad Mosadheq dan pengikutnya? Sholat Bahasa Jawa di Malang? Madi dan pengikutnya?

    Kalau Sampeyan tidak membela mereka, Sampeyan sudah bertindak tidak adil.

    Hal ini biar Tuhan saja yang tahu.

    @iseng2

    anda berbeda menafsirkan yang tersirat, seolah-olah anda paling benar menafsirkan kalimat saya, anda sudah dapat mandat dari sayakah?

    Belon dan jika salah silahkan dibenarkan. * Tuhan apa bisa begini ya?*

    maksud saya, kalau menentang MGA bukan suatu kekafiran, maka apa fungsi MGA itu, sepertinya ditentang tidak kafir, tidak ditentang tidak kafir. Seolaholah tidak ada hukumnya. Dalam riwayat keagamaan penentangan terhadap nabi dikategorikan penentang/ bahasa arabnya kafir.
    he he he

    Jika untuk disebut Nabi memang harus begitu ya jangan anggap MGA sebagai nabi. Gampang toh. 😀

    seolah-olah tafsir saya yang paling benar?

    saya pakai tafsir AlHakim, tafsir dari depag, tafsir al mannar, juga tafsir dari Quraish shihab, hamka. ‘paling’ kan mestinya satu, malah seolah-olah tafsir dari Ahmadiyaah aja yang paling benar.

    Siapa bilang saya membenarkan tafsir Ahmadiyah?

    Btw, apa anda berpendapat bahwa tafsir anda benar karena sama dengan tafsir depah, tafsir al mannar, tafsir Quraish Shihab, tafsir hamka? Jika begitu maka inilah yang saya sebut tentang mentang-mentang mayoritas itu.

    @daeng limpo

    Maksud saya seperti di atas ini. Bahwa berhubung yang setafsir dengan dia banyak dan terkenal maka dialah yang benar. Sedangkan tafsir orang lain yang ternyata kelihatan hanya sedikit yang sependapat (padahal bisa jadi karena tafsir versi beda tersebut telah diberangus) langsung dibilang salah. Singkatnya kebenaran berdasarkan jumlah. Gitu maksud saya daeng. 😀

  21. 21 muslim April 29, 2008 pukul 7:46 pm

    danalingga jelas bukan muslim…CMIIW

  22. 22 Tgk. Alex April 29, 2008 pukul 11:23 pm

    @ muslim

    danalingga jelas bukan muslim…CMIIW

    Errr… relevansinya dengan artikel di sini dimananya? 🙄

  23. 23 Debian April 30, 2008 pukul 1:12 am

    Ajakan sekjen FPI untuk membunuh anggota Ahmadyiah:

  24. 24 joyo April 30, 2008 pukul 1:31 am

    *klik
    nonton link youtube diatas

    sekali lagi greet wilders benar

    @danalingga
    sori bro oot

  25. 25 danalingga April 30, 2008 pukul 6:48 pm

    Sebenarnya saya sudah tahu akan filem tersebut sejak lama. Cuma memang saya tidak mau menggunakannya sebagai argumen. Wong bisa jadi itu hanya oknum.

    Inti artikel saya ini kan cuma:

    1. Apakah jika berbeda tafsiran lantas langsung bisa dituduh menghina?

    2. Apakah Ahmadiyah tidak berhak menafsir?

    Kalo yang lain lain kan sekedar kembangannya, bukan inti. 😉

  26. 26 syahbal April 30, 2008 pukul 8:07 pm

    cape hati saya…
    kasian saya melihat orang-orang itu…
    ah biarkan Allah saja yang menghukumnya…
    paling merak minta ama Allah untuk dikembalikan ke dunia lagi… setlah bersua dengan Allah tentunya…

  27. 27 danalingga Mei 1, 2008 pukul 9:35 am

    Setuju bal, biar Allah yang mengadilinya. Kita mah berusaha mengadili diri sendiri dulu saja gimana?

  28. 28 martha Mei 1, 2008 pukul 11:30 am

    Saya mau merecoki saja. Bagaimana kalau saya punya cerita lebih seru dari yg anda2 bayangkan.

    Kuncinya buka wawasan geopolitik historis internasional dan nasional – khususnya indonesia.

    Nah begini teorinya.

    Ahmadiyyah sudah sejak lama diketahui sebagai anaknya Inggris yang dididik dan dijadikan pion Inggris pasca keruntuhan kolonialismenya dan bangkitnya Inggris menjadi negara dagang.

    Ahmadiyyah khususnya ditujukan bagi koloni inggris di Timur jauh yang mayoritas Islam. Sejarah lengkapnya silahkan baca buku lama tentang ahmadiyyah seperti Ahmadiyyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah , dll. Silahkan cari di library Isnet.org.

    Di zaman modern ahmadiyyah ibarat gajah kecil yang sudah besar dan bisa ngamuk. ia bagi umat islam ibarat virus dan duri beracun dalam tubuh karena penyimpangan strukturalnya.

    Saat ini dunia sednag krisis pangan dan bahan bakar. negara2 besar terancam juga krisis tersebut terutama negara yang disebut sebagai Inggris, Australia, Kanada, dan USA alias sponsor Ahmadiyyah.

    Indonesia yang rakyatnya semakin hari semakin dungu dan bebal masih seperti rakyat jajahan tempo dulu. Mudah di kilik2 oleh isu sentimen keagamaan. Maka ia menjadi target operasi negara tersebut guna meneruskan jalannya sejarah versi barat.

    Nah, ahmadiyyah dikiliki setelah kegagalan mengiliki dengan cara perang informasi. Ingat film Fitna dan rentetan perang informasi sebelumnya yang diletuskan di Erupa. Semua itu prakondisi. Jadi dengan teknik infowar ini umat islam di testing emosinya gimana.

    ternyata masih dungu2, gampang disulut emosinya. Nalarnya pendek dan cenderung merusak, bahkan masjid pun dirusaknya pula. Lihat saja dalam jangka waktu singkat mereka gampang marah hanya karena kartun, film Fitna, dll.

    Namun, cara perang informasi ternyata mudah ditangkal. Makanya dipake cara langsung yaitu mengadu domba umat islam dengan mengaktifkan duri dalam daging Islam yaitu Ahmadiyyah.

    Disini tentu ahmadiyyah jadi korban dan ormas islam serta semua organisainya juga bakal jadi korban dan kelak gampang dilibas kalau skenario adu dombanya mulus.

    Adu domba itu antara ahmadiyyah yang DIKORBANKAN BAPAKNYA (Ingris, as, australi, kanada, dan konconya) dan ormas islam yang sebenarnya sudah disusupi agen2 lokal negara yang dibalik ayar itu (jadi lihat siapa yang paling vokal dan keras itulah yang disusupkan).

    Belum lagi kalangan KKN, politisi tua yang bakal tak lagi populer, dan militer indonesia yang sudah mulai tak laku. Lihat saja gerak gerik semua kalangan itu baik politisi, birokrat, militer dan pengusaha korup di TV dan rangkailah menjadi suatu skenario NEO G 30 S.

    Akan terlibat pola yang serupa dengan peristiwa tahun 65 itu. Tapi kali ini sasarannya tak tanggung2, semua ormas islam maupun organisasi sospolnya bakal di kerdilkan dan dipojokkan oleh isu sensitif yaitu anak yang dikorbankan Bapak asuhnya – ahmadiyyah.

    Itulah skenario geopolitiknya. mengenai sisi keagamaannya jelas Mirza terkecoh oleh nafsunya sendiri ketika merasa paling suci dan kuat dengan didukung inggris. Lantas jadilah ia ngaku2 Nabi. mirza sebenarnya salah menafsirkan teori kewalian Ibnu Arabi dan terjebak dalam eskatologi mesianistik Yahudi Kristen yang ketinggalan zaman karena sebenarnya didekonstruksi oleh Nabi Muhammad SAW ketika wahyu yang menyatakan dirinnya Nabi dan rasul terakhir dinyatakan.

    Kerumitan tafsir inilah yang digunakan menjadi dasar geopolitik kapitalis dan imperialisme di dunia Islam untuk memecah belah dan menghancurkan dari dalam sehingga Islam terjebak limbo kemahdian dan mesianistik yang jelas2 tidak dinyatakan dlaam al-Qur’an.

    Ingat baik-baik :

    “Suatu peradaban tak akan benar-benar hancur kecuali dihancurkan dari dalam.”

    —–

    semoga kalian semua pada sadar dan bangun dari tidur kekanak-kanakan

  29. 29 daeng limpo Mei 1, 2008 pukul 12:18 pm

    maafkan saya mas Dana, walaupun saya tahu pengetahuan saya dangkal….tetapi saya mencoba untuk “sekedar” nimbrung mengemukakan pendapat saya….masih boleh gak ? (awas kalau gak boleh…..ngancem dulu).

    Dari Jawaban-jawaban Panjenengan diatas ijinkan saya menarik kesimpulan “sementara” :

    1.Bahwa Panjenengan ingin menyatakan bahwa “beda Tafsir” itu boleh.
    2.Bahwa Panjenengan juga tidak memihak Tafsir yang manapun, baik tafsir Islam main stream maupun Ahmadiyah.

    Lalu tafsir panjenengan sendiri bagaimana ya…?, saya tahu Panjenengan seorang ahli tafsir. Mungkin Panjenengan punya penafsiran sendiri tentang ayat tersebut diatas…biar dapat “memperkaya khasanah tafsir” kita 😀

    —salam—

  30. 30 daeng limpo Mei 1, 2008 pukul 12:47 pm

    Sekalian saya juga ingin menanyakan pendapat Panjenengan sendiri tentang tafsir yang diributkan itu….khataman ambiya… (maaf kalau salah ketik..saya gak tahu bahasa arab)?

    Masalahnya saya berdiskusi dengan beberapa sobat Ahmadiyah, tetapi saya juga masih kurang puas dengan penafsiran mereka itu. Okelah…penafsiran mereka benar (misalnya), lalu sosok Nabinya?…apakah benar Mirza Ghulam Ahmad…? bukan saya sentimen sama beliau. Tetapi saya kok melihat tidak ada yang istimewa dari beliau ini, beliau “katanya” seorang messiah…lalu kok messiahnya lebih dulu meninggal sebelum dajjalnya. “Dajjal” disini menurut mereka adalah Inggris…?, benarkah apakah “mungkin” justru beliau sendiri adalah Dajjal itu (maaf buat sobat Ahmadiyah), karena beliau justru yang lebih dulu meninggal daripada Inggris?.

    Karena menurut sobat Ahmadiyah kita, Nabi Isa AS sudah meninggal (dikubur), dan tidak mungkin bangkit kembali untuk membunuh “dajjal”. Maka Ruh Nabi Isa “menitis” kedalam diri Mirza Ghulam Ahmad, lalu timbul lagi pertanyaan ,”kalau begitu apa bedanya?”. Tuan Mirza Ghulam Ahmad juga sudah meninggal dan tidak bisa bangkit kembali…? artinya “masih ada “MIRZA GHULAM AHMAD” lain yang bisa muncul , lalu yang menjadi pertanyaan ruh siapa yang menitis kepada “Messiah” selanjutnya apakah ruh Mirza Ghulam Ahmad atau Ruh”Nabi Isa AS”?

    Juga “tidak tertutup kemungkinan” ada Grand Skenario MENGERIKAN seperti yang diungkap oleh sobat MARTHA diatas.

    —salam—

  31. 31 daeng limpo Mei 1, 2008 pukul 1:39 pm

    @danalingga

    Tapi sebenarnya inti dari artikel saya adalah apakah perbedaan penafsiran (padahal tafsiran tersebut tidak ada muatan menghina) bisa disebut sebuah penghinaan daeng?

    saya pikir tafsiran tersebut bukan penghinaan, bisa jadi yang menjadi penghinaan adalah nabinya kok Mirza Ghulam Ahmad bukannya Anda ? 😀

  32. 32 danalingga Mei 1, 2008 pukul 8:09 pm

    Terus terang saya masih belum berani mengemukakan tafsir saya. Soalnya belon nanya kebenarannya pada empunya kalimat tersebut. Jadi doakan saja daeng. 😉

  33. 33 danalingga Mei 1, 2008 pukul 8:13 pm

    Juga “tidak tertutup kemungkinan” ada Grand Skenario MENGERIKAN seperti yang diungkap oleh sobat MARTHA diatas.

    AH, skenario ya? Tahu nggak kalo ada juga yang mengatakannya bahwa ada skenario dari beberapa negara di arab sana untuk membabat habis Ahmadiyah dari muka bumi ini. Dan negara-negara tersebut sedang menekan (membujuk) MUI (negara?) dengan iming-iming dinar agar ikut skenario mereka.

    Tapi saya sendiri sudah agak skeptis soal skenario-skenarioaan itu.

  34. 34 sutan Mei 2, 2008 pukul 8:24 pm

    Dan agar pendapat saya lebih diakui maka saya akan memelintir mengutip sedikit ayat-ayat dalam AQ:

    Tidak ada paksaan dalam ADDIIN; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (2:256)

    Tidak ada paksaan toh?

    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (6:116)

    Hem… ternyata bukan mayoritas penentunya.
    ======

    Wah.. wah… anda salah menafsirkan bung… benar bung MAW, setiap ayat punya sebab musabab turun dan tidak bisa ditafsirkan seenaknya. berbahaya sekali jadinya.

    (2:256)–tidak ada paksaan dalam addiin. tidak ada paksaan untuk beragama, bertuhan atau tidak bertuhan. tapi, jika sudah memilih bertuhan, beragama, timbullah ‘paksaan’ untuk menjalankan agama sesungguh-sungguhnya.

    (6:116)–Mayoritas disini bukan islam. karena islam adalah agama langit terakhir, ia muncul sebagai minoritas. mnioritas terhadap kafir quraisy, kristen, yahudi.

    hati2 bung, mengutip ayat.

  35. 35 danalingga Mei 2, 2008 pukul 9:05 pm

    Ya, ya saya salah karena anda Tuhan toh. 😛

    (2:256)–tidak ada paksaan dalam addiin. tidak ada paksaan untuk beragama, bertuhan atau tidak bertuhan. tapi, jika sudah memilih bertuhan, beragama, timbullah ‘paksaan’ untuk menjalankan agama sesungguh-sungguhnya.

    Lah, itu paksaan kok pake tanda kutib bisa dijelaskan? Dan bisa dipaparkan sesuai konteks ahmadiyah ini?

    (6:116)–Mayoritas disini bukan islam. karena islam adalah agama langit terakhir, ia muncul sebagai minoritas. mnioritas terhadap kafir quraisy, kristen, yahudi.

    Itulah makanya saya agak tidak setuju terlalu berpatokan pada asbabun nuzulnya. Bolehlah dijadikan refrensi, tapi jangan membebek buta pada asbabun nuzul tersebut. Untuk konteks kekinian menurut saya sudah tidak cocok jika hnya disematkan kepada kafir quiraisy, kristen , yahudi (itu juga kalo benar memang diniskbatkan kepada mereka) . Kenapa nggak diambil esensinya yakni ayat tersebut sedang menceritakan bahwa kebenaran itu bukan dilihat siapa yang menyuarakan paling banyak. Dan contoh kasusnya adalah (mungkin) qurisy, kristen, yahudi pada masa itu.

    Maka ayat tersebut tidak menjadi kerdil, melainkan meluas menjadi universal.

  36. 36 trizna Mei 4, 2008 pukul 1:09 am

    hehehe…
    ahmadiyah menyingung islam menurut mas gmn??? biasa2 ajj??
    ahmadiyah dah menyimpang dari ajaran islam.. inget tuh mas!! klo menurut saya ya tersinggung lah umat muslim!!yg disimpangin ajaranya.. beda sama mas yang gaa beragama.. ya ga bklan tersinggung!!

  37. 37 danalingga Mei 4, 2008 pukul 9:47 am

    Silahkan baca pertanyaan-pertanyaan dan alasan-alasan yang sudah banyak diberikan diatas.

    Nasehat saya sih, jangan gampang tersinggung, nggak baek itu. 😛

  38. 38 daeng limpo Mei 4, 2008 pukul 2:53 pm

    Ketika anda tersinggung sebaiknya tersungging (tersenyum) 😀

  39. 39 trizna Mei 4, 2008 pukul 4:02 pm

    saya gag tersinggung mas!! saya selalu tesenyum melihat orang seperti mas lingga dan mas limpo..
    hehehehehe….

  40. 40 Rustan Mei 5, 2008 pukul 9:15 am

    Kok ribet amat membahas Ahmadiyah itu sesat atau bukan ? Benar atau Salah ?
    Apalah artinya kita bisa menilai suatu ajaran itu sesat atau tidak ?

    Karena sebenarnya kebenaran itu ada di dalam diri..
    Carilah kebenaran itu,
    Kebenaran bukan di Mirza Ghulam Ahmad,
    Kebenaran bukan pada Kanjeng Nabi Muhammad,
    Kebenaran itu tidak kemana-mana,
    Tapi ada dimana-mana,

    Tuhan Yang Maha Besar itu bisa dipenjara di dalam diri manusia,
    Dimanakah Dia ?

    “Man arafah nafsah faqad arafah Rabbahu”
    Barang siapa yang mengenali dirinya, maka dia mengenali Tuhannya.

    Apakah cukup dengan syahadat kita mengaku Islam ?
    Apakah anda yang merasa sudah Islam, itu sudah pasti Selamat ?

    Maksud kata Selamat itu apa ? Apakah hanya dengan masuk Jannah itu sudah Selamat ? Padahal disana itu masih fana… 🙂 🙂 🙂
    Ada wanita, ada arak, ada makanan, ada tempat tidur, dll… masih seperti dunia, istilahnya cuma pindah tidur saja.

    Apakah Ruh itu sejatinya punya kelamin ?
    Apakah ruh itu masih makan dan minum ?
    Apakah ruh itu masih perlu (maaf) sex dengan wanita-wanita Surgawi ?

    Perlu dipikirkan..
    Perlu direnungkan….

  41. 41 pangonjat Mei 5, 2008 pukul 1:48 pm

    Apa benar Ahmadiyah menghina Islam?

    Yach tergantung Islamnya. Ada yg islam-nya terhina ada yang tidak, tergantung jenis keyakinannya masing-masing. Ada yang sensitif, gampang terhina ada juga yang cuek.

    Sy waktu masih kecil, pasti berantem (terhina) kalo temen saya manggil nama ‘bapak saya’, krn terdengar spt ejekan. Sekarang, sy bangga kalau ada yang menyebut dan mengenang nama bapak saya.

    Marilah menghormati hukum. Sungguh sial kalau hukum itu tidak adil.

  42. 42 danalingga Mei 5, 2008 pukul 6:47 pm

    @Rustan

    Sebenarnya sih artikel ini tidak membahas sesat itu. Cuma mempertanyakan saja mengapa Ahmadiyah dianggap menghina. 😉

    @pangonjat

    Jadinya relatif ya. *manggut-manggut*

  43. 43 qaryati_syahin Mei 6, 2008 pukul 12:13 pm

    waktu saya SMA kls 1, 1991, ada yang ceramah di Masjid(waktu itu bulan Ramadhan) “Ibu2 Bapak2 di kampung kita ada orang Ahmadiyah, orang Ahmadiyah percaya Mirzha Ghulam Ahmad adalah Nabi ke-26 setelah Nabi Muhammad SAW, mereka kafir! mereka sesat! menghina Islam! menghina NAbi Muhammad! kita usir dia dari kampung kita sebagaimana kita mengusir babi! mereka sama saja dengan anjing!”

    ada satu kata (dari Abang saya) yang saya pegang teguh dari kecil, ketika saya tidak suka pada suatu makanan karena bentuknya, Abang saya berkata “tidak kenal maka tak sayang..” saya dipaksa mencoba, eh sampe sekarang saya ketagihan ama itu makanan.

    kenapa di barat orang yang masuk Islam terus bertambah, padahal tidak sedikit buku2 yang menghina Islam, tidak terhitung hinaan untuk Nabi Muhammad: “Islam memenjara kebebasan wanita, Nabi mUhammad gila, Nabi mUhammad Nabi palsu, Nabi Muhammad sakit ayan, Nabi mUhammad Paedophil, Islam teroris, Islam identik dgn kemiskinan, ISlam norak”

    sudah berapa banyak hujatan dilemparkan tuk ahmadiyah, sudah berapa banyak Ahmadi yang dibunuh, sudah berapa banyak rumah ahmadi dan Masjid dibakar.

    dimana letak ahmadi menghina Nabi MUhammad SAW, sedangkan MGA mengaku “aku (MGA)dibandingkan Nabi MUhammad SAW, hanya sebutir debu dibawah telapak kaki beliau” ratusan syair tercipta tuk memuja Nabi Muhammad.

    saya ahmadi dari tahun 2002, dari seluruh keluarga besar baik dari Ibu di Palembang(NU) maupun Ayah di Pelembang (NU), sodara2 saya (MUhammadiyah, mereka tinggal di (SUmBar) mereka berninik bermamak ka urang Minang, hanya saya sendiri Ahmadi. saya satu-satunya ahmadi dari 89 orang PNS di kantor.

    kenali ahmadi, dekati ahmadi, pahami kami, pelajari kami, selidiki kami, sebagaimana sodara2 saya mendekati saya, sebagaimana temen2 kantor mendekati saya, mereka nanya, kita berbicara, mereka terima ke-ahmadian saya. mereka egaliter, mereka terima saya apa adanya, Mereka tidak menyetujui dan menentang keyakinan saya. tapi itu bukan dasar untuk mengucilkan dan membunuh saya.

    Yang paling baik di sisi ALlah adalah yang paling bermaanfaat bagi umat manusia. jangan nilai kami dari pendapat orang2, nilai kami dari apa yang kami hasilkan untuk kemanusiaan.

    modal saya dalam hidup hanya cinta, cinta, dan cinta. tak ada yang lebih saya cintai lebih dari pada Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib.

    lihat fs saya, dan lihatlah apa keahmadian saya mengganggu hubungan cinta saya dengan sodara2 saya, dengan lingkungan kerja saya?

    SATU JENDERAL BISA BUNUH RIBUAN MUSUH
    SERIBU JENDERAL TAKKAN BISA MEMBUNUH SATU KEYAKINAN YANG TEGUH
    AHMADIYAH !!!ZINDABAD!!!

    ahmadi tak pernah mengkafirkan orang lain
    jargon ahmadi LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE
    CINTA TUK SEMUA BENCI TAK UNTUK SIAPAPUN

    SALAM CINTA
    dari seorang ahmadi yang naif dan amat dhaif…
    Qory

  44. 44 daeng limpo Mei 6, 2008 pukul 1:15 pm

    Syukurlah..akhirnya ada sobit ahmadiyah kita yang mau urun rembuq di blognya mas Dana. Sebelumnya terima kasih kepada Mas Dana yang telah sudi dengan segala daya upaya untuk “mencerahkan” orang seperti saya ini.
    @qaryati_syahin
    “mengenai tak kenal maka tak sayang”, dengan contoh kue diatas. Mungkin tidak seenak mencoba kue, karena keyakinan bukanlah kue yang bisa dicoba-coba. Tetapi saya setuju dengan pepatah itu, untuk itu sebagai tanda perkenalan bolehlah saya yang hina dina ini menanyakan satu pertanyaan kepada nona?.

    Mengapa seorang ahmadiyah harus dibai’at ?, dan apa isi bai’at tersebut ?

  45. 45 Marie Mei 6, 2008 pukul 1:56 pm

    Saya sendiri setelah banyak baca buku soal Ahmadiyah, tidak melihat ada ajaran yg menghina Islam atau kata orang “menyesatkan”.

    Memang ada beberapa perbedaan pengertian dengan Islam pada umumnya, namun tergantung bagaimana kita menafsirkannya, dan itu sangat bisa keterima dengan akal sehat untuk saya yang selalu praktikal.

    Kalau masalah ada nabi lagi (tanpa syariat) setelah nabi Muhammad saw, umat Islam sangat tersinggung, lantas kenapa umat kristen tidak tersinggung kepada umat Islam karena Yesus yg mereka percayai sebagai anak tuhan atau Tuhan Yesus “cuma” dianggap nabi oleh kita?

    Dalam pengertian umat Islam nabi Isa (tuhan Yesus utk kristen) itu tidak meninggal dan akan kembali lagi kedunia.

    Pertanyaan saya simpel aja:
    (1)bagaimana dia akan turun dan kembali kedunia?
    (2)dimana dia akan turun duluan? di Indonesia, Israel, Amerika?
    (3)dari mana beliau akan datang, dari langitkah?
    (4)ajaran apa yg dibawa? Islam kah? kalau Islam, lantas bagaimana dengan kaum kristen yg juga sama2 menunggu? Begitu juga sebaliknya.

    Tolong dong jawab, *sakit kepala*

  46. 46 qaryati_syahin Mei 6, 2008 pukul 3:47 pm

    Sobat Daeng Limpo yang disayang Allah…
    gak ada maksud saya nyamain keyakinan dgn makanan, itu hanya asbabun nuzul saya mendapat pepatah “tak kenal maka tak sayang”

    Bagi saya keyakinan bukan makanan, bukan baju, bukan rumah, keyakinan adalah hak yang langsung diberikan Pencipta Alam Semesta kepada setiap ruh yang Dia tiupkan dalam kandungan. dan takkan ada apapun atau seorangpun yang bisa merenggut keyakinan, kecuali si mpunya keyakinan ingin melepaskannya.

    orang baru disebut ahmadi setelah dia dibai’at. Bai’at adalah sumpah setia. Seorang ABRI, Polisi, Jaksa, PNS, Pramuka,Anggota DPR/MPR, Bupati, Gubernur, Presiden, etc… baru syah menyebut diri mereka bla..bla..bla… setelah mereka dilantik, setelah mereka mengucap sumpah.

    isi Panca Prasetya KORPRI… eh salah…. isi dari SUmpah Setia Ahmadi ada 10 poin yang mesti dia ingat dan amalkan:

    1. dimasa yang akan datang hingga masuk ke dlm kubur senantiasa akan menjauhi syirik

    2. akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zinah, pandangan birahi terhadap bkn muhrim, perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru hara, dan memberontak, serta tidak akan dilkalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan thdpnya

    3. akan senantiasa mendirikan sholat 5 waktu, semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala, dan rasulNya, dan dgn sekuat tenaga senantiasa mendirikan sholat tahajud dan mengirim shalawat kepada junjungannya yang mulia Muhammad Rasulullah SAW. Dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa: akan ingat setiap saat kepada nikmat2 Allah, lalu mensyukurinya dgn hati tulus serta memuji dan menyanjungnya dgn hati yang penuh kecintaan

    4. tidak akan mendatangkan kesusaahan apapun yang tdk pada t4nya thdp makhluk Allah umumnya dan kaum muslimin khususnya, karena dorongan hawa nafsunya biar dgn lisan, atau dgn tangan, atw dgn cara apapun juga

    5. akan tetap setia thdp Allah Taala baik dlm sgl keadaaan susah ataupun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya akan rela atas keputusan Alah taala dan senantiasa akan bersedia menerima sgl kehinaan dan kesusahan di jalan Allah

    6. akan berhenti dari adat yang buruk, dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar2 akan menyunjung tinggi perintah Al Quran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda RasulNya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya

    7. Meninggalkan takabur dan sombong, akan hidup dgn merendahkan diri, beradab lemah lembut, berbudi pekerti yang halus dan sopan santun

    8. Akan menghargai agama, kehormatan agama, dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak2nya, dan dari segala yang dicintainya

    9.akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dgn kekuatan dan nikmat yang dianugrahkan Allah Ta’ala kpdnya

    10. akan mengikat tali persaudaraan dgn hamba ini,”Imam Mahdi dan Al Masih Al Mau’ud” semata-mata karena Allah, dgn pengakuan taat dalam hal ma’ruf (sgl hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya dan menjunjung tinggi ikatan perjajian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan, ataupun ikatan kerja

    saya masih baru masuk ahmadiyah, masih banyak belajar… saya gak berani mengklaim saya yang paling benar atau ajaran ahmadiyah yang paling benar,

    yang paling benar hanya Allah Ta’ala yang Maha Tahu hanya Allah Ta’ala,

    “apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah, apa yang menurut kita benar, belum tentu benar menurut Allah, apa yang menurut kita jelek, mungkin itulah yang baik menurut Allah”

    karenanya bagus pepatah minang:
    “yang pahit jangan cepat dilepehkan, yang manis jangan cepat ditelan”
    cari..cari..dan cari…
    selidiki..selidiki…selidiki…

    klw ada yang berkenan, bisa mengikuti perjalanan, pengalaman, pencarian saya, hamba yang naif dan amat dhaif ini:
    http://asperger-asperger.blogspot.com/

  47. 47 Sedemir Mei 6, 2008 pukul 5:31 pm

    Gua Ahmadiyah. Ahmadiyah kagak pernah menghina islam. Gimana menghina islam wong pegnen tetap teguh dalam islam kan berarti mencintai islam.

    Ahmadiyah dengan non Ahmadiyah cuma beda tafsir. Beda tafsir jangan disebut Menghina Islam dong.

    Yuk kita ke sumber yang sama Quran dan Sunnah.

    Apa bener Umat Islam enggak percaya ada nabi lagi yg datang setelah Nabi Muhammad saw?

    Anggap aja belum ada ahmadiyah nih.

    Umat Islam percaya ayat khatamannabiyyin (surah al ahzab : 40) diartiin penutup nabi-nabi. OK
    Terus dikuatkan dengan belasan hadits hadits la nabiyya ba’di yang artinya tidak ada nabi sesudahku. OK.

    Sampe di situ kelihatannya kalau ada nabi sesudah Rasulullah saw sesat banget iya enggak? OK.

    Tapi nanti dulu…..

    Ternyata ada nabi yang masih nyisa. Siapa itu?

    Umat Islam percaya Nabi Isa sesuai dengan An Nisa enggak disalib, diselametin dan terus diangkat ke langit masih hidup hingga sekarang sudah lebih 2000 tahunan.

    Menurut Hadits Mutawatir ada 50 an pada pokoknya menyatakan bahwa Nabi Isa as (yg umurnya 2000 tahun di langit) bakal turun menjadi hakim yang adil dan menghancurkan salib, membunuh dajal.

    Jadi walaupun umat islam percaya nabi Muhamad nabi terakhir toh Nabi Isa as tetap akan datang setelah Nabi Muhamad. Berarti ada Nabi yang diikutin umat islam setelah Nabi Muhamad saw yaitu nabi Isa as.

    Jadi menurut umat islam nanti akan ada nabi. Mereka akan melihat Nabi Isa as turun dari langit sebagai nabi dan mendapat wahyu dari Allah (hadits Muslim).

    Kesimpulannya :
    Umat islam bilang nabi muhammad nabi terakhir, tetapi masih ada nabi lama yaitu Isa yang akan datang nanti akan jadi hakim yang adil bagi umat manusia. Kalau hakim yang adil diikutin enggak? ya tentu aja keputusannya harus diikutin dong oleh umat islam.

    Kepercaan tersebut bertahan ribuan tahun bahkan hingga sekarang.

    Nah pendiri ahmadiyah itu sebelumnya mempunyai kepercayaan yang serupa. Beliau adalah orang yang saleh yang dalam hidupnya hanya untuk mengabdi kepada islam.

    Lalu Beliau mulai dapat wahyu yang menyatakan bahwa Nabi isa as sudah wafat dan dibukakan ilmunya dalam al quran, hadits, sejarah serta pertimbangan akal dan ilmu pengetahuan. Beliau kemudian mendapat perintah untuk menjadi Imam kaum muslim sebagai Isa yang dijanjikan. Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud Isa yang datang itu adalah dari umat islam yaitu Beliau. Karena Isa as Israeli sudah wafat sebagaimana wafatnya manusaia biasa.

    Janji ini kedatangan Isa as bukan sembarangan, janji ini adalah janji kemenangan islam kedua kali, kemenangan kemanusiaan untuk mendekati kepada Allah Tuhan yang telah memberikan wahyu kepada nabi-nabi seluruhnya Allah yang benar.

    NAh dengan penjelasan itu orang ahmadi adalah orang yang 100 persen percaya islam, percaya Quran dan hadits tetapi mengikuti tafsir dan penjelasan yang diberikan oleh HMAGA karena percaya bahwa Beliau diutus memang untuk mempersatukan umat manusia dalam islam penyerahan diri kepada Allah.

    Maka dilakukanlah studi yang komprehensif mengenai berita kewafatan isa as itu dan kedatangannya. Setelah diadakan studi komprehensif maka penganut ahmadiyah dengan petunjuk HMGA menemukan bahwa ada perbedaan penafsiran mengenai khatamannabiyyin berdasarkan pendapat para ulama besar juga dan para ahli tasawuf. Khatamannabiyin menurut ahmadiyah dan beberapa ulama besar maksudnya adalah Nabi termulia, yang membawa syariat terakhir. Jadi tidak akan ada nabi setelah rasulullah saw yang akan datang menyelisihi syariat islam, menyelisihi dan bertentangan dengan Nabi Muhamad saw.

    Sesuai dengan nubuatan dalam Hadits memang betul akan datang nabi yang disebut isa as kepada umat islam. Pangkatnya nabi dan Ia akan mengikuti Syariat Muhamad saw.

    Bagi yang tidak setuju pemahaman ini tentu saja orang ahmadi bisa memakluminya karena mereka juga tahu bagaimana keyakinan muslim mereka sebelum jadi ahmadi. Namun dengan pertimbangan yang mendalam dan sebagian setelah melalui kontemplasi yang panjang, bahkan banyak yang mendapatkan mimpi maupun khasyaf (vision) dengan sadar akhirnya membenarkan pendakwaan HMGA dan menjadi ahmadi. Mereka tetap muslim namun untuk membedakan dengan yang tidak percaya maka Jamaah Isa as ini disebut Jamaah Muslim Ahmadiyah, pengikutnya disebut Muslim ahmadi.

    Jadi sangat tidak beralasan kalau orang ahmadi yang seluruh hidupnya digunakan untuk mempelajari quran, hadits dan mengabdi pada islam malah dituduh sebagai penghina islam.

    Sebutlah itu perbedaan penafsiran, dan seyogyanya di Zaman ini sesuai dengan petunjuk Quran tidak ada yang boleh memaksakan penafsirannya kepada orang lain.

    Sekian dulu.

  48. 48 danalingga Mei 6, 2008 pukul 7:35 pm

    @qaryati_syahin

    Ah, akhirnya ada juga umat Ahmadiyah yang mengkonfirmasi. Terimakasih banyak mbak. *akhirnya tidak meraba-raba lagi*

    Nah, mumpung ada mbak. Pertanyaan saya yang diartikel tolong dijawab. Akan saya kutipkan kembali

    Tapi berkaitan tulisan ini, saya punya pertanyaan terhadap Ahmadiyah. Apa nabi baru itu hanya seorang saja (M. Ghulam Ahmad) atau bisa banyak di berbagai belahan dunia yang luas ini? Moga-moga ada umat Ahmadiyah yang bersedia menjawab pertanyaan saya.

    @Marie

    Kalau masalah ada nabi lagi (tanpa syariat) setelah nabi Muhammad saw, umat Islam sangat tersinggung, lantas kenapa umat kristen tidak tersinggung kepada umat Islam karena Yesus yg mereka percayai sebagai anak tuhan atau Tuhan Yesus “cuma” dianggap nabi oleh kita?

    Saya kira sih ada ketersinggungan itu. Tapi untuk masa sekarang ini tidak ada pemaksaan atau pembrangusan dari pihak yang tersinggung. Entah dulu pas awal berkembangnya. 😉

    @Sedemir

    Wah, ada lagi nih umat ahmadiyah. Saya sih tidak mempersoalkan soal tafsir menafsir atau sesat dan tidak sesat itu. Cuma kalo bisa dijawab pertanyaan saya di artikel. Yang telah saya kutipkan buat mbak qaryati_syahin di atas. 😀

  49. 49 Sedemir Mei 7, 2008 pukul 2:27 am

    Secara umum MGA mengajarkan bahwa Urusan Pengutusan Nabi-Nabi adalah hak prerogatif Allah swt. Kapan Dia menganggap perlu diturunkan ya Diturunkan Nyalah UtusanNya. MGA sendiri tidak begitu membahas detail mengenai kemungkinan nabi Isa lain sezamannya. Yang jelas HMGA hanya menjelaskan apa yang dialami sebagai pengalaman pribadinya berwawancakap dan mendapatkan misi dari Allah swt. Ada beberapa kriteria yang Beliau sebutkan mengenai pencapaian keselamatan haqiqi itu, antara lain ya harus melalui Rasulullah saw dan agama islam dengan kata lain tidak membawa syariat baru dan di jalan islam.

  50. 50 dedy_saputra2000@yahoo.com Mei 7, 2008 pukul 3:33 am

    ahmadiyiah punya nabi ? islam punya nabi. yang sama dari mereka cuma sama_sama punya JENGGOTnya, yang lebih mulia tetaplah nabi ku , MUHAMMAD.SAW. maap dalam penulisan kata


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

April 2008
S S R K J S M
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: