Ayat Sebagai Pendukung Pendapat : Contoh Kasus Poligami

Setelah membaca satu komen di tulisan saya tentang reinkarnasi dalam Islam dan Kristen  maka saya terilhami membuat tulisan ini. Terimakasih banyak *menjura* . Tulisan kali ini ingin membahas bahwa memang benar seperti komen tersebut bahwa ternyata seringkali ayat-ayat itu digunakan atas nama kepentingan. Eh, sebenarnya tidak tepat juga disebut kepentingan sih. Mungkin lebih tepatnya disebut bergantung pada refrensi yang telah kita peroleh selama ini.

Seperti tentang kasus reinkarnasi itu maka yang saya pahami adalah bahwa orang yang membuat tulisan tersebut telah mengalami sendiri bahwa ternyata reinkarnasi itu ada. Nah berdasarkan pengalamannya itu maka dia mencocokkan dengan yang tertulis dalam ayat-ayat kitab suci kedua agama samawi itu. Karena mungkin kebetulan orang tersebut meyakini bahwa kedua kitab suci tersebut adalah menyatakan kebenaran. Maka dia beranggapan tentu saja ada hal yang menjelaskan tentang pengalaman reinkarnasi tersebut. Hasil pembacaan tersebut adalah dikutipnya ayat-ayat yang dirasa tepat menggambarkan pengalamannya.

Tapi sudahi dulu saja mengenai benar tidaknya reinkarnasi itu. Sekarang saya ingin membahas mengenai pemakaian ayat-ayat kitab suci dilihat dari sudut pandang kasus pro kontra poligami. Semoga dengan demikian maka akan dapat dilihat dengan jernih mengapa bisa ada perbedaan dalam memaknai ayat-ayat dalam kitab suci. Kedepannya semoga bisa lebih siap menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut.

Sebagai kita ketahui bersama maka ayat untuk meributkannya adalah :

” Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. ” [AQ 4:3]

Setelah saya amati dari dulu sekali sampai sekarang ini cara memandang satu ayat di atas ada dua. Yakni pandangan dari sudut pro dan kontra. Walau mungkin ada pandangan yang lain. Namun demi kepentingan tulisan saya maka akan saya generalisasi jadi dua saja. Cara memandang ini tentu saja sesuai dengan masing-masing kepentingan pihak yang bertentangan tersebut.

Adapun cara pandang tersebut adalah:

1.Pro

Biasanya lebih menekankan kepada hal bahwa beristri sampai empat itu dibolehkan. Sudah itu saja, titik. Sedangkan syarat adilnya sih biasanya dengan merasa bisa adil saja. Atau dengan argumen bahwa jika tidak dicoba mana tahu bisa adil atau ngga.

2. Kontra

Biasanya menekankan pada syarat adil itu. Beranggapan bahwa tidak akan ada manusia yang bisa adil (setahuku ini memang ada ayatnya dalam AQ nih). Jadi dengan kata lain bahwa sebenarnya ayat ini hanya sekedar permainan kata-kata yang intinya Poligami itu haram.

Saya sendiri tidak akan menilai mana pihak yang benar dalam kasus Pro-Kontra Poligami ini. Saya lebih membahas bagaimana hubungan sikap Pro – Kontra tersebut dengan cara memahami suatu ayat dalam kitab suci. Jelas dapat dilihat bahwa masing-masing pihak dalam memandang ayat yang sama ternyata menggunakan penekanan yang berbeda. Pihak yang Pro lebih menekankan pada kebolehan, sebab itulah yang mendukung pendapat mereka. Sedangkan pihak yang Kontra lebih menekankan pada syarat adil, sebab itu pulalah yang mendukung pendapat mereka.

Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa ternyata ayat-ayat kitab suci itu memang seringnya dimanfaatkan oleh manusia tanpa disadari. Bahwa manusia itu sudah punya pendapat sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mencari dukungan di ayat-ayat yang disesuaikan dengan pendapatnya. Atau bisa disebut menyesuaikan ayat-ayat dengan pendapatnya.

Tapi apa kemudian cara tersebut salah? Saya kira tidak salah juga. Hal tersebut adalah kewajaran sebagai konsekuensi dari manusia yang mengakui (mengimani?) kesucian dari kitab suci itu tapi juga sekaligus dianugrahi akal untuk berpikir sendiri. Nah maka ketika akal kita mempunya pendapat tentang sesuatu maka otomatis biasanya kita mencari ayat-ayat kitab suci yang dapat mendukung pendapat tersebut.

Seringnya kita merasa bahwa setiap pendapat yang tidak dapat disandarkan kepada ayat-ayat kitab suci serasa kurang afdol. Kurang bisa dibuat jadi pegangan. Sikap tersebut memang dapat memacu kita memahami kitab suci dari konteks- konteks kekinian yang terjadi di sekitar kita. Sehingga kitab suci itu bisa menjadi kitab yang hidup, bukan hanya menjadi mahluk mati. Tapi ada bahayanya juga, bahwa jadinya kitab suci menjadi pembenar dari pendapat kita. Bukan lagi sebagai petunjuk.

Untuk hal tersebut maka kita harus menyadari bahwa kepentingan-kepentingan atau pengalaman-pengalaman kita sendiri sangat berperan dalam hal kita memahami makna ayat-ayat dalam kitab suci. Jadi janganlah langsung mengkronfontir saya yang benar kamu pasti salah terhadap pemahaman orang lain. Mendingan disikapi dengan kepala dingin, dipelajari pelan-pelan. Mungkin akhirnya kita dapat hikmah dari perbedaan tersebut. Jangan sampai nantinya kedua pihak malah malu sendiri. Sebab bisa jadi ternyata kedua-duanya telah salah atau hanya memahami sebagian dan tidak utuh. Atau jadinya hanya memanfaatkan ayat-ayat kitab suci sesuai kepentingan pendapat pribadinya saja.

Oh iya, hal ini sejalan juga dengan pendapat saya bahwa kitab suci adalah hanya sebuah petunjuk. Dan hebatnya ayat yang sama bisa menjadi petunjuk untuk berbagai peristiwa yang tidak ada kaitannya sama sekali. Dalam hal ini saya akan menukil sebuah pribahasa tua bahwa “Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya ” . Kaitannya dengan ayat kita suci adalah : bahwa setiap ayat bisa mempunyai makna yang berbeda-beda, tergantung kondisi dan siapa yang memaknainya. Bukankah memang kitab suci itu diturunkan sebagai petunjuk untuk pribadi-pribadi? Jadi logika saya mengatakan memang sudah dari sononya bahwa ayat-ayat kitab suci itu multitafsir. Hal ini untuk mengakomodir kebutuhan yang berbeda-beda dari setiap umat manusia.

Di akhir tulisan tiba-tiba terlintas bahwa jangan-jangan penyesuaian ini juga yang terjadi dalam justifikasi pro dan kontra tindakan teror atas nama agama. Atau juga tentang pro dan kontra pandangan liberalis . Bukankah kedua belah pihak telah menggunakan ayat-ayat kitab suci sebagai pendukung argumen masing-masing ?

Mungkin kita semua tanpa terkecuali perlu merenungkan kembali tentang kisah tiga orang buta yang menerangkan apa itu gajah. Jangan-jangan kita semua telah mengemukakan pandangan bagai orang buta yang menerangkan bagian gajah yang mereka raba. Namun merasa mereka sudah mengenal gajah secara lengkap.

…. tunjukkanlah saya jalan yang lurus, jalan yang telah dilalui para kekasihMu …

 

82 Responses to “Ayat Sebagai Pendukung Pendapat : Contoh Kasus Poligami”


  1. 1 grace Mei 6, 2008 pukul 7:54 pm

    ya bukan maksudnya si suami berhak berpilogmi terus dia bisa enggak adil, kembali ke essensi awal syarat itu tadi, ya suami harus menyanggupi berlaku adil, tapi kalo di tengahnya ternyata enggak adil (ya manusia ga ada yang sempurna kan?terkadang ada silap dan cacat di sana sini, tapi tentu di uahakan terus buat bersikap adil, itu udah urusan suami dan Yang diatas lah, kok dia menyalahi syarat yang di berikan tadi), nah sedangkan dari pihak istri, untuk yang mampu bersikap sabar dan ikhlas ketika menghadapi segala cobaan dalam rumah tangga, terutama ketidak adilan dan rasa berat dalam satu pernikahan poligami, nikmat surga lah jaminannya). bukan maksudnya sang istri mau mau saja di sikapi tidak adil, toh Allah membolehkan jalan cerai kok kalo pada akhirnya ketidak adilan itu merusak sebuah mahligai pernikahan, ya sang istri halal halal saja kok meminta cerai..
    tapi itu sih menurut saya…:mrgreen:
    eh tapi saya setuju kalo ayat poligami itu ga boleh d jadikan pembenaran dalam berpoligami, sebab, memang sangat sulit di lakukakn. menurut saya peribadi:mrgreen:

  2. 2 danalingga Mei 6, 2008 pukul 8:04 pm

    @edratna

    Sebenarnya ini bukan membahas soal poligaminya bu. Tapi lebih kepada mengapa sampai bisa pihak yang pro-kontra memilih bagian ayat yang mendukung pendapatnya. Nah kekhawatiran saya, jangan-jangan begitu pula dengan ayat lainnya. Sehingga jadi tidak utuh.

    @grace

    Nah, kan jadi panjang ngejelasinnya.😛

    Ok, saya terima dulu pendapatnya. Tapi artikel ini bukan bahas poligaminya sih grace.

  3. 3 Faubell Mei 7, 2008 pukul 6:28 pm

    Tadabur ayat tersebut akan lebih lengkap apabila dimulai dari ayat 1,kemudian 2, dan 3. Kalau dipahami ayat 3 saja, terbuka kemungkinan timbul pendapat yang pro poligami, monggo…, silahkan.
    Namun terbuka kemungkinan baru, kalau dimaknai dari ayat 1~3. Dan Insya Allah dapat diperoleh makna yang lain, misalnya proses pengambilan keputusan dalam menjalankan hidup manusia berdasarkan karunia yang diberikan Allah terhadap setiap manusia berdasarkan fitrah penciptaannya.
    Maaf, perbedaan adalah rahmat. Silahkan masing2 memilih. Yang penting pilihan Anda berdasarkan pertimbangan yang masak. Jangan asal taklid aja. Tetapi, pilihan manusia itulah yang akan mengubah jalan hidupnya ke depan. (manusia tidak sadar telah ngobahke jangka).
    Waspadalah!!!! Waspadalah!!!.

  4. 4 Faubell Mei 7, 2008 pukul 6:44 pm

    Sedikit Tambahan:
    Berhati-hatilah dalam mengambil referensi ayat untuk mendukung pendapat Anda. Jangan sampai Anda termasuk orang yang yang menjual Ayat-ayat-Nya dengan harga yang murah.
    Waspadalah!!!! Waspadalah!!!

  5. 5 danalingga Mei 8, 2008 pukul 6:17 am

    Sepertinya memang harus begitu. Kalo pendapat saya sih malah harusnya dibaca seluruh ayat baik tertulis maupun tidak tertulis untuk mengetahui makna sesungguhnya.

  6. 6 Raden Mas Panut Mei 9, 2008 pukul 1:12 am

    Pemahaman masing-masing orang tentang ayat-ayat dalam kitab2 suci agama memang bisa berbeda, dan mereka masing-masing merasa paling benar.
    Menurut saya “kebenaran” itu sendiri tidak mutlak, karena beda pengertian dan penafsiran itu tadi. Karena, benar menurut si A belum tentu benar menurut si B.
    Alangkah baiknya yang kita lihat kebaikannya ayat2 kitab suci tsb terhadap hidup kita dan kita implementasikan dalam hidup kita ini.

    Jadi dengan demikian ayat-ayat yang kiranya baik dan relevan untuk kita terapkan dalam hidup kita bermasyarakat sajalah yang harusnya kita pakai sebagai pedoman.

  7. 7 danalingga Mei 9, 2008 pukul 4:50 am

    Iya, sepertinya begitu lebih masuk akal.

  8. 8 Faubell Mei 10, 2008 pukul 11:21 am

    @ Raden Mas Panut
    Salam kenal Raden Mas.

    “kebenaran” yang Anda maksud itu kebenaran yang ada dari hasil olah pikir dan budi manusia atau “Kebenaran” dari Sang Maha Benar. Kalau yang pertama memang tidak mutlak, sedangkan yang kedua adalah Mutlak.
    Karena persepsi manusia itu berbeda-beda tergantung dari hidayah Allah yang ditanamkan dalam jiwa manusia tersebut. Makanya lakukan olah pikir dan budi dan jalankan amal kebaikan (jangan kotori jiwa itu). Insya Allah, Allah akan menurunkan hidayah yang lebih baik, sebagai kerangka penyempurnaan jiwa manusia.

    Raden Mas Panut :”Alangkah baiknya yang kita lihat kebaikannya ayat2 kitab suci tsb terhadap hidup kita dan kita implementasikan dalam hidup kita ini.”
    Saya lebih cocok dengan pemikiran Anda, bahasa sononya “Tadabur”, jangan bilang tafsirlah, kecuali kalau memang kita sudah memiliki prasyarat untuk menjadi Ahli Tafsir.

  9. 9 razuka Mei 10, 2008 pukul 11:57 am

    untuk lebih jauh mengkaji tentang ayat-NYA maka tanya aja pada-NYA karena ha-NYA dia yang tau persis tentang bagaimana kalam-NYA.
    @abah dedhot
    HIDUP ( Rani Razuka ) tentu dalam ESA-NYA bukan ke-ESA-anNYA karena awalan Ke= artinya menuju
    akhiran An= artinya bukan sesungguhnya.
    (contoh)
    ketika kita memahami kata main itu berarti sesungguhnya,
    namun bila kata itu menjadi main-an maka akhiran an menerangkan bukan sesungguhnya.
    BTW..untuk abah dedhot is OK!!! * terselip maksud *
    <>

  10. 10 pencari tuhan Mei 10, 2008 pukul 12:29 pm

    @ Faubell

    saya kurang setuju kalau “kebenaran” tuhan itu mutlak, dia memang maha segalanya salah satunya maha benar, tapi karena dia maha segalanya berarti dia juga maha salah dong. betuuuuul ?

  11. 11 Faubell Mei 10, 2008 pukul 6:31 pm

    @Pencari Tuhan
    Terimakasih atas pertanyaannya.
    1.Pemahaman saya tidak. Kalau Allah mengilhamkan kefasikan dan ketakwaan ke setiap jiwa, iya betul. Saya tidak boleh menisbatkan kesalahan kepada Allah, karena itu tidak sopan.
    2. Kebenaran yang saya maksud di sini adalah manakala saya ikut kehendak Allah, maka saya Benar, Sebaliknya, kslsu saya tidak mengikuti kehendak Allah, maka saya Salah. Kebenaran seperti itulah yang saya maksud, sehingga Benar menurut Allah itu mutlak benar bagi manusia, walaupun tidak sesuai pemahaman manusianya. Makanya pemahaman benar salah menurut manusia jadi tidak mutlak.

  12. 12 danalingga Mei 10, 2008 pukul 8:48 pm

    Untuk soal Tuhan apa juga salah? Mungkin posting di sini bisa sedikit menjelaskan.

  13. 13 Faubell Mei 12, 2008 pukul 12:38 pm

    @Dana
    Proses pencarian Tuhan, adalah proses pencarian Kebenaran. Dalam prosesnya Insya Allah akan ditemukan dulu dengan tuhan-tuhan yang Tidak Benar, tuhan yang salah. Benturan persepsi akan terjadi. Jangan takut, waspadalah, jalani terus pencarian itu, berpikir positif dan dilandasi keihlasan. Yakinlah bahwa Sang Maha Benar yang akan menuntun Anda untuk menuju kepada-Nya. Bagi pencari kebenaran, menisbatkan kesalahan kepada Sang Kebenaran adalah tidak sopan dan hanya akan menambah hijab yang justru semakin menjauhkan dari Sang Kebenaran.
    “Untuk apa kita mengupas kulit telur, kalau kita sudah merasa tahu telor itu busuk. Hanya akan meyakinkan bahwa telor itu busuk kan?”.

  14. 14 rajani simatupang Mei 12, 2008 pukul 1:27 pm

    kok repot2 ya? mestinya kita berangkat dari penciptaan manusia,utk adam hanya satu orang diberikan perempuan(hawa/eva).Bukankah TUHAN dapat menciptakan lima perempuan utk adam? tetapi mengapa TUHAN hanya memberikan satu orang?artinya basicnya satu orang,lebih dari situ maunya manusia(bukan perintah TUHAN).

  15. 15 daeng limpo Mei 12, 2008 pukul 3:47 pm

    @rajani simatupang
    Lalu bagaimana dengan orang yang tidak percaya dengan kisah nabi adam dan eve …?
    Maaf, saya tidak mendukung poligami tetapi juga tidak menentangnya.
    Pertanyaan saya…?
    Jika Manusia boleh memilih mengapa Tuhan hanya menyediakan satu….? benarkah jodoh setiap laki-laki itu satu…?, buktinya ada yang cerai kawin lagi, artinya jodohnya kan nggak satu…? inikan hanya masalah waktu karena ada selang waktu antara jodoh yang satu dengan yang lain. Bagaimana jika pada saat yang bersamaan dua orang wanita menyukai satu pria dan keduanya rela “berbagi”…..?
    ***maaf ini bukan untuk mendukung pria-pria yang “meniatkan” poligami***
    —salam—

  16. 16 danalingga Mei 12, 2008 pukul 5:16 pm

    @Faubell

    Apa itu benar dan salah?
    Apa itu sopan dan tidak sopan?
    Bukankah semua itu masih dalam dualisme sobat?

    Yang aku cari bukan yang maha benar, sebab pasti ada yang namanya maha salah jika begitu.

    Yang aku cari adalah yang tidak terumuskan.😉

  17. 17 Faubell Mei 12, 2008 pukul 6:11 pm

    @Dana
    Aha.. Good. Thank’s Bro.

    Dari dualisme menuju ke “yang tidak terumuskan”, atau yang lebih umum dari pluralisme menuju ke singularitas. Pada singularitas, pengetahuan manusia sudah terhenti, tidak mampu mendefinisikan lagi.

    Jadi terinspirasi dengan ayat ini :

    “dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiyaa’ :30)”

    Waduh, baru sadar saya masih kafir tental hal ini.

    *Nyorongin Kopi ke Om Dana*

  18. 18 danalingga Mei 12, 2008 pukul 6:31 pm

    Ah, terimakasih telah memberikan kalimat yang bagus.

    Dari dualisme menuju ke “yang tidak terumuskan”, atau yang lebih umum dari pluralisme menuju ke singularitas. Pada singularitas, pengetahuan manusia sudah terhenti, tidak mampu mendefinisikan lagi.

  19. 19 kenthir Mei 14, 2008 pukul 3:38 pm

    @Pencari Tuhan
    numpang tanya “Tuhan maha segalanya” itu termasuk asmaul husna atau hanya akal-akalan @pencari tuhan.
    Tuhan maha salah ? ha ha ha ha, apa definisi salah dari kacamata Tuhan. Lah wong Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Mosok ada kreasi salah-kreasi betul. Tanya lagi apa bisa Tuhan bisa masuk neraka? mengapa tidak?Tuhan yang menciptakan, tentu saja bebas mau keluar masuk, lha wong neraka dan malaikat tunduk pada kekuasaan Tuhan. neraka mau didinginkan juga bisa, dibuka-tutup juga bisa tentunya dengan kehendak Tuhan. Tuhan masuk surga? kenapa tidak? Jadi Tuhan dimana? dimana-mana ada manifestasi/tajalli Tuhan. Alamat Tuhan dimana, jawabnya di arashy. Ngendi kuwi? Mboh.

  20. 20 pencari tuhan Mei 14, 2008 pukul 9:25 pm

    bayi terlahir cacat, manusia terlahir bencong, bayi lahir langsung mati. apakah sebabnya ?
    bukankah ini tuhan juga maha salah ? apa karena tuhan sudah terlalu tua jadi mulai pikun ya ??

  21. 21 daeng limpo Mei 15, 2008 pukul 11:00 am

    @pencarituhan
    dari sisi mana anda menganggapnya salah…..?

  22. 22 Faubell Mei 15, 2008 pukul 12:00 pm

    @pencari tuhan
    Jangan kotori jiwamu, nanti kamu merugi.

  23. 23 pencari tuhan Mei 17, 2008 pukul 11:11 pm

    @daeng limpo

    dari hasil kraesi atau ciptaan dia sendiri. contoh seperti diatas.
    dalam kasus poligamipun itu salah dia, kenapa nggak dibikin prosentase pria wanita sama jumlahnya? yang akhirnya bikin masalah!

    @faubel

    dikotori oleh apa jiwaku ini. kurasa malah murni tanpa doktrin-doktrin agama yang malah mengotori jiwa2 manusia yang katanya tahu agama dan tuhan. betuuuul?

  24. 24 adit Mei 18, 2008 pukul 11:58 am

    …Bahwa manusia itu sudah punya pendapat sendiri terlebih dahulu, baru kemudian mencari dukungan di ayat-ayat yang disesuaikan dengan pendapatnya…

    ehem.. menurut saya pernyataan ini bisa menjadi dilema tak berujung seperti “mana yg lebih dulu, telur atau ayam ?”

    pada kenyataanya menurut saya, manusia sulit berpikir kalau tanpa referensi

    so bisa jadi juga kan, manusia membaca ayat tersebut lalu karena ayat tsb dia dapat inspirasi lalu berpendapat deh …

  25. 25 danalingga Mei 18, 2008 pukul 5:10 pm

    so bisa jadi juga kan, manusia membaca ayat tersebut lalu karena ayat tsb dia dapat inspirasi lalu berpendapat deh …

    Kalo begini kan memang sudah benar yakni memperlakukan ayat sebagai petunjuk, bukan malah sebaliknya, memperlakukan ayat sebagai pembenaran pendapat. Gitu sih yang aku tangkap, maaf kalo salah.😀

  26. 26 papabonbon Mei 24, 2008 pukul 1:03 pm

    demi kepentingan manusia

    ketika masih miskin dan istri masih muda dan cakep cakepnya : pilih monogami

    ketika sudah kaya, terkenal, cari temen ngobrol yang cantik dan asik punya : jadi pendukung poligami deh …

    hehehe :p hidup islam agamaku ..

  27. 27 danalingga Mei 24, 2008 pukul 9:24 pm

    Walah, pemanfaatan ayat poligami yang maksimal tuh.😛

  28. 28 Kucing Mei 24, 2008 pukul 10:56 pm

    Saya numpang baca baca yah…dapet situs blog ini dari blognya Daeng Fattah

  29. 30 Rajani Simatupng Januari 4, 2010 pukul 10:52 pm

    Maaf Daeng Limpo,baru sekarang dapat saya jawab,baru hari ini saya buka-buka situs ini,Menjawab pertanyaan pertama,jawabannya adalah:Menanyakan kepada TUHAN mengapa hanya satu yg diberikan pada Penciptaan Manusia?.Lalu bila orang tdk percaya kisah penciptaan Adam dan Eva,tanya saja daun yang bergoyang kenapa dia bergoyang.Soal jodoh laki-laki pasti satu,kecuali mati atau kedapatan berjinah sebab kurang baik manusia itu sendirian.Kalau kawin cerai bung, itu maunya manusia.Lalu ketika dua perempuan menyukai seorang lelaki dan KEDUA perempuan itu mau berbagi,itu juga maunya manusia(satu tongkat pegang rame2),dan ketika satu perempuan dikawini 2 laki2 bersamaan, itu juga maunya manusia(satu lobang rame2(salome).Almarhum Gus Dur bilang,itu saja kok repot.Tks.

  30. 31 arifin Juni 10, 2010 pukul 12:53 pm

    ada larangan poligami atas wanita yg bersaudara, tetapi poligami boleh atas wanita yg tidak diharamkan


  1. 1 Sholatlah Seperti Engkau Melihatku Sholat « Sebuah Perjalanan Lacak balik pada Juli 21, 2008 pukul 7:05 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: