Seandainya Saja …

Sebuah ruangan lembab dan pengap. Lumayan seram dengan lampu teplok yang hanya sanggup memberikaan cahaya remang-remang. Terjadilah dialog antara dua anak manusia yang kebetulan jadi pemimpin umat yang ngaku beragama. Orang pertama adalah orang yang mewakili orang lebih banyak. Jadi otomatis merasa bahwa yang diwakilinyalah agama sebenarnya. Orang kedua adalah pemimpin umat yang ternyata memiliki tafsir berbeda dengan yang diwakili oleh orang pertama. Berhubung umat orang kedua lebih sedikit dan tafsiran mereka juga lebih baru, maka otomatis orang pertama yang memiliki kedudukan lebih kuat. Maka dialog ini lebih kepada penasehatan dari orang pertama kepada orang kedua agar segera bertobat. Sebuah dialog yang wajar.

Orang Pertama dengan suara yang berwibawa :” Sampeyan segeralah bertobat. Tafsir yang sampeyan pegang itu sesat dan menyesatkan. Bukan mencerminkan agama ini. “

Orang Kedua dengan suara yang sedikit terintimidasi : ” Tapi saya kadung sangat yakin dengan tafsiran ini. Mungkin tafsiran sampeyan yang selama ini keliru. “

Orang Pertama menjadi agak marah : ” Heh! Sampeyan ini seenaknya. Tafsir yang saya imani ini adalah hasil dari bermilyar pemimpin agama sebelumnya. Dan merupakan versi tafsiran yang diikuti seluruh umat agama ini. Sedangkan tafsir sampeyan kan baru. Itu juga hanya dikemukakan golongan sampeyan. Pokoknya sampeyan telah sesat! Harus segera bertobat! Segera ikuti tafsir kami ini! “

Orang Kedua dengan suara yang makin mengecil ” Waduh , apa tidak bisa kita dibiarkan saja dengan tafsir sendiri. Lagipula kita-kita ini tidak mengganggu atau memaksa orang lain mengikuti tafsir versi kita . Jadi mohon kebijaksanaan sampeyanlah. “

Orang Pertama dengan suara yang meninggi : ” Apa?! Sampeyan bilang dibiarkan saja?! Tidak bisa! Sebab perkara ini menyangkut akidah. Tidak boleh ditafsir berbeda. Kalo urusan lain selain akidah memang bisa. Untuk hal akidah ini jelas tidak memungkinkan! “

Orang Kedua dengan muka yang pucat semakin pasrah” Jadi menurut sampeyan bagaimana baiknya nih? “

Orang Pertama dengan senyum kemenangan :” Begini saja. Sampeyan mengikuti tafsir versi kami atau sampeyan keluar dari agama ini. Bikin agama sendiri. Gampang toh?!”

Orang Kedua dengan muka pucat namun masih berusaha : ” Tapi apa tidak memungkinkan bahwa kami dengan tafsiran sendiri namun tetap mengaku beragama ini. Sebab sungguh mati semua sumber ajaran kami memang dari agama ini. Tidak ada dari sumber diluar agama ini. Masak kami tidak boleh mengaku menganut agama yang kami yakini sepenuh jiwa dan raga ? “

Orang Pertama kembali bertampang sangar : ” Hah! Tidak bisa! Pokoknya sampeyan telah sesat. Tidak berhak mengaku agama ini. Dan saya sudah baik sekali memberikan sampeyan pilihan. Jadi tinggal pilih saja. Jika memang sampeyan tidak bisa mengikuti tafsir kami ya silahkan sampeyan menyatakan keluar dari agama ini. Dan selanjutnya tidak akan kami utak-atik lagi. Bahkan akan kami lindungi. “

Orang Kedua semakin pias mukanya :” Jika begitu apa boleh buat. Tapi kami tetap akan menggunakan ajaran agama ini . Sebab memang itu sumber ajaran kami , tidak ada yang lain. “

Orang Pertama memandang sinis : ” Ya sudah. Itu terserah sampeyan. Yang penting jangan mengaku-ngaku lagi beragama agama ini. Atau dengan terpaksa sampeyan dan seluruh pengikut sampeyan terbasmi. “

Lalu orang Petama berlalu dengan hati yang puas. Orang Kedua masih membeku dengan pikiran penuh pertentangan.

Orang Ketiga memandang adegan itu dengan bingung ” Jika Tuhan, Kitab dan ajaran yang dipakai adalah sama mengapa harus menyebut diri sebagai agama baru ya? Ah, tapi sudahlah. Mungkin ini yang terbaik bagi kedua belah pihak. Semoga kedepannya hidup menjadi lebih damai. Tidak lagi dihiasi dengan tindak kekerasan akibat beda tafsir. Lagian apa sih arti sebuah label agama. Walau labelnya telah diganti yang penting kan ajarannya tidak diganti dan tetap bisa melaksanakan ajaran yang tentu diyakininya sepenuh hati akan menunjukkan jalan kepada Sang Asal. Malahan akan lebih bebas untuk menggali makna, tanpa takut dibrangus oleh orang lain. “

Ah, seandainya saja …Β  Β *ngelamun*

Β 

40 Responses to “Seandainya Saja …”


  1. 1 tomy Mei 5, 2008 pukul 7:41 am

    Seorang anak TK Panti Asuhan di sebuah negara yang dirundung perang saudara karena agama ketika ditanya harapan & cita2nya oleh Gurunya malah berkata:
    “Andai Tuhan tidak menciptakan bermacam-macam agama mungkin Ayah Ibu saya masih hidup & berkumpul bersama saya hari ini…..”

  2. 2 tomy Mei 5, 2008 pukul 7:42 am

    wah pertamaxπŸ˜€

  3. 3 goldfriend Mei 5, 2008 pukul 9:17 am

    Heh! Sampeyan ini seenaknya. Tafsir yang saya imani ini adalah hasil dari bermilyar pemimpin agama sebelumnya. Dan merupakan versi tafsiran yang diikuti seluruh umat agama ini.

    Jadi ingat kesalahan logika (logical fallacy) yang mengatakan “A [agama A] benar karena telah dianut oleh berjuta-juta orang, dan selama ribuan tahun mampu bertahan dari berbagai tantangan”.πŸ˜†

    *antiquatem sama apa itu lupa*πŸ˜‰

    Agama yang tidak toleran, atau pemeluknya yang tidak toleran ? Atau….. *ah, saya berandai-andai juga*

  4. 4 iseng2 Mei 5, 2008 pukul 10:41 am

    lamunan saya gini, saya udah bisa menafsirkan alquran sendiri secara syah, manqul. saya sendiri berarti minoritas, dan tidak menganggap mirsa ghulam ahmad sebagai nabi

  5. 5 daeng limpo Mei 5, 2008 pukul 11:45 am

    Setelah membaca obrolan tersebut diatas saya bertanya-tanya :
    1.Bagaimana kita bisa membedakan tujuan penafsiran itu “murni” atau “disusupi”?, hidup ini kenyataannya kan tidak polos-polos amat, selalu ada intrik (saya tidak mengatakan ini intrik siapa?).
    2.Mungkinkah kedua tafsir benar? bukankah sebuah kontradiksi? atau keduanya salah (lalu siapa yang benar ?)
    3.Jika yang banyak belum tentu benar, apakah yang sedikit sudah pasti benar? atau sebaliknya ?
    4.Jika bebas menafsir, apakah bukan berarti malah “membingungkan”?
    mohon penjelasannya mas Dana
    –salam—

  6. 6 daengfattah Mei 5, 2008 pukul 12:31 pm

    Tafsir2 luar biasa yang ada dalam pikiran orang beriman, diturunkan dr generasi ke generasi. Kadang, mereka memberikan sesuatu untuk di erdebatkan, sejauh mereka relevan dengan kondisi jaman.

  7. 7 orang (yg dituduh) sesat Mei 5, 2008 pukul 4:42 pm

    @ yg punya blog
    Kayaknya saya familiar dengan obrolan sejenis ituπŸ™‚
    (bijak skali tidak menyebut aliran/golongan tertentu ^-^ )
    *ini bahan provokasi yg disiapin kmrn mas?:mrgreen: *

    @ gold friendπŸ™‚ komen anda mengingatkan teguran dosen tafsir saya. Intinya beliau menekankan pentingnya Ilmu Logika (mantiq) sebelum belajar tafsir. Jangan sampai terjadi logical fallacy. Karena dunia penafsiran itu gak boleh “asal” (bisa2 merubah hukum/ pola kehidupan seseorang).

    @ daeng limpo
    wah pak daeng, pertanyaan saya samaπŸ™‚
    *ikut penasaran, nunggu penjelasan lbh lanjut*

  8. 8 lainsiji Mei 5, 2008 pukul 4:57 pm

    :mrgreen:

    manusia cenderung membuat klasifikasi dalam segala hal, pengkotak-kotakan.
    dan sering kali dihadapkan kepada kasus dimana terdapat banyak persamaan, tapi juga memiliki perbedaan mendasar.
    Akan ada sebuah kompromi antara logika dan mungkin juga hati, karena untuk tidak mengklasifikasi juga tidak memungkinkan (dalam kasus ini). Jadi kalau sebagian yang lain, anggaplah minoritas, kelompok kecil merasa tidak setuju adalah hal biasa.

    Toh pada akhirnya, semua kembali kepada hati, tempat kepercayaan itu bersemayam. Keyakinan, yang tak bisa mati hanya dengan perdebatan, aksi anarki, dan berderet hal lainnya.

    kasus yang sama kupikir dengan inti postingan sampean.

    jah.. ngomong po aku

  9. 9 zal Mei 5, 2008 pukul 6:07 pm

    ::Dan, sebenarnya permasalahan ini, sudah ada sejak dahulu kala, Para Nabi pun adalah orang yg bergeser dari keyakinan kaumnya pada waktu itu, namun terus berkembang sampai saat ini…, dan tiap kejadian sepertinya akan mengambil pengetahuan bagi yang berpengetahuan, menjadi ingatan bagi yang ingat, menjadi berkontempelasi, bagi yang merenungkannya… “hanya sedikit sekali hambaKU yang bersyukur” kataNYA, “dan ada juga do’a yg diajarkan “jadikanlah aku masuk dalam golongan yg sedikit”,

    apa mungkin, kedua hal ini yg menginspirasi membuka lahan baru tersebut, namun sayangnya setelah membuka lahan seringnya golongannya menjadi membesar pula, sebab selalu ada keinginan mengajak masuk kepada golongannya…, kapan bisanya menjadi golongan yg sedikit itu ya dan… ???
    apalagi golongan besar, malah takut menjadi sedikit…kenapa ya…????

  10. 10 abahdedhot Mei 5, 2008 pukul 9:11 pm

    @mas dana
    dari pengamatan abah mah… keduanya pada keblinger…:mrgreen:
    masa “tafsir” dijadikan landasan IMAN…??? wah teu puguh.
    jadi wajar aja… bentuk dialognya seperti itu.

    SALAM

  11. 11 nindityo Mei 6, 2008 pukul 3:14 am

    yang banyak belum tentu betul
    yang betul belum tentu banyak
    yang tau belum tentu paham
    yang paham belum tentu tau

  12. 12 alex Mei 6, 2008 pukul 6:26 am

    Ah… ya… seandainya saja…

    Saya jadi orang ke-empat saja deh…

    *nemenin Dana ngelamun*

    *sulut rokok*

  13. 13 goldfriend Mei 6, 2008 pukul 9:33 am

    [OOT]

    *bikin kopi kental buat AlexπŸ™‚

    [OOT]

    Btw, lamunan saya malah lebih liar lagi, Dan. Tapi nggak ditulis karena bisa merangsang timbulnya “perang”:mrgreen:

  14. 14 dimas Mei 6, 2008 pukul 12:03 pm

    hmmm. pingin menghayal nih..
    entah bagaimana tiba2 termimpi didatangi sebuah cahaya yang menyuruh aq menjadi nabi baru (wow keren nih)..dan membuat penafsiran baru lagi.girang nya aq jadi nabi baru agama ku…
    eh tak dinanya keesokkanya giliran adik ku (yang perempuan) mimpi juga sama seperti aq.padahal baru jadi nabi sehari…
    manakah yang aq harus IKUTI….**BINGUNG**
    IKUTI YANG BARU,…ATAU AJARAN KU YANG LAMA (yang telah dari jaman nenek moyang ku ikuti / akidah yang JELAS)..
    hmmmm bingung…
    tolong mas dana, bisa bantu ngak???
    ^+^

  15. 15 ebless Mei 6, 2008 pukul 1:19 pm

    @dimas
    ha ha ha ha yang mengirimkan cahaya adalah aku, maka ikutilah aku ha ha ha ha ha

  16. 16 cK Mei 6, 2008 pukul 2:06 pm

    cerpen aneh…πŸ˜•

  17. 17 danalingga Mei 6, 2008 pukul 7:50 pm

    @tomy

    Duh, mengerikan.😦

    @goldfriend

    Saya amati sih banyak yang begitu.

    Ah, mari berandai-andai saja…

    @iseng2

    Bagus tuh lamunannya. Lebih bagus lagi kalo dituliskan diblog biar bisa lebih dipahami.πŸ˜‰

    @daeng limpo

    Saya sih ndak ambil pusing semua itu daeng. Sing penting saya urusin saja pemahamanku. Tentang pemahaman orang lain ya untuk orang lain, bukan untuk saya.

    @daengfattah

    Maksudnya? Bisa lebih diperjelas lagi?

    @orang (yg dituduh) sesat

    Nggak disebut bukan karena bijak, tapi karena yakin dah tahu sama tahulah.πŸ˜†

    *bukan provokasi, ini masih renungan*

    @lainsiji

    Kembali pada hati, dan hati itu adalah milik diri bukan milik orang lain.

    @zal

    Yup, sayangnya memang setelah membuka lahan baru maka golongan tersebut menjadi banyak. Mungkin sebaiknya jangan buka golongan sama sekali zal, kan tetep dikit tuh.πŸ˜†

    @abahdedhot

    Wah, saya juga baru sadar bah. Ternyata belum haqul yakin ya bah?

    @nindityo

    Kebenaran adalah kebenaran baik jumlah pendukungnya banyak atau sedikit.:mrgreen:

    @alex

    Seandainya saja lex …

    *ndak ngerokok*

    @goldfriend

    Maksudnya ada Tuhan segala di lamunannya?

    @dimas

    Ikuti yang paling enak saja.πŸ˜†

    @cK

    Aneh kenapa chik?πŸ˜•

  18. 18 abahdedhot Mei 6, 2008 pukul 10:55 pm

    @mas dana
    abah ada “pernyataan”, yang amat pedes ( setara cabe lah… ) begini nih :

    “Ternyata… Mayoritas umat (yang mengaku…) ISLAM, pada saat ini… berpedoman kepada “KITAB” (yang katanya suci…) yang BERBEDA dengan “KITAB SUCI”nya Nabi Muhammad SAW”.

    Nah loh…
    Pernyataan ini bisa dibuktikan, dan bersandar kepada dalil nas, dalil aqli & dalil fi’il.
    Untuk penjelasannya abah minta izin dulu sama yang bijak sang pemilik blog… apakah mau digelar atau tetaplah menjadi sir…???:mrgreen: atau abah kirim ke pos suratnya mas dana… siapa tau jadi ajang petualangan “jenar” selanjutnya…??? karena mas dana rangkaian kalimat yang dilantunkan biasanya lebih indah untuk hati…πŸ˜†

    salam

  19. 20 Santri Gundhul Mei 6, 2008 pukul 11:36 pm

    Daialog ini sepertinya mirip-mirip dengan dialognya
    Siti Jenar dengan para Wali Songo yah Kang Dana…??

    Pertentangan praktek AKIDAH ( keyakinan ) orang pertama dan orang kedua nampaknya terletak pada ” PENEKANAN ASPEK FORMAL KETENTUAN SYARIAH ” yang dilakukan oleh Orang pertama, dan pertentangan seperti ini dalam dunia KEAGAMAAN,…BUKANLAH YANG PERTAMA….!!! ( sambil nodhongin TELUNJUK ) keks..keks..
    Orang kedua yang lebih mementingkan ASPEK ETIKA atau AKHLAQ, seringkali DITINDAS oleh Orang pertama yang KONG-KALIKONG dengan elite penguasa AGAMA yang didukung oleh elit AHLI SYARIAH yang notabene memiliki umat jauh lebih banyak.
    Memang dalam sejarah KEAGAMAAN, golongan Orang kedua harus menghadapi NASIB TRAGIS sampai kepada HUKUMAN GANTUNG, yah minim DIGEBUKIN dan PEMBERANGUSAN rumah pribadilah….

    Ah….RODA SEJARAH itu kini, telah TERULANG kembali di negeri ini…
    Siapa sih yang mendirikan AGAMA ” X, Y, Z ” itu yah…

    Nggelesod…nemenin Kang Dana…nih KOPINYA Kang…segelas berdua yah…bagi ROKONYA dong…234 loh…( sambil maksa ) keks..keks..

  20. 21 Santri Gundhul Mei 6, 2008 pukul 11:43 pm

    @….Abah Dhedhot,

    Oiiiihhh Abah, dah langsung di GELAR di sini saja Bah….
    Saya juga mau klu pake JAPRI, boleh kirim ke , Karyan_btg@yahoo.co.id

    Kumaha’ atuh kabarna’ Bah…Damang…??
    Lama tak suo, Ambo ketemu di Kandang Kang Danolinggo…hiks..hiks..

    Mundhuk-mundhuk…undur diri…

  21. 22 brainstorm Mei 7, 2008 pukul 1:13 am

    @ abah

    punten abah, digelar didieu wae atuh πŸ˜€

  22. 23 danalingga Mei 7, 2008 pukul 6:25 am

    @abahdedhot

    Weleh, sepertinya menarik ini bah. Bagaimana jika dikirim dulu ke email saya: dana_lingga@yahoo.com. Baru nanti saya post sebagai artikel, biar lebih enak mendiskusikannya.πŸ˜€

    @foamstudio24

    Tuhan sih pasti tahu.

    @Santri Gundhul

    kalo soal SSJ sama wali songo itu terus terang saya bingung juga. Sebab jejak di sekarang menunjukkan kalo ada juga wali songo yang ternyata sudah tercerahkan. Tapi kenapa waktu itu sampai harus ada pertumpahan darah ya? Sepertinya pasti ada makna yang terkandung nih. Gimana mbah, tertarik menuliskannya?

  23. 24 ariss_ Mei 7, 2008 pukul 7:18 am

    Sayang, Kang… suaramu hanya didengar di dunia maya saja. Sudah nasip para blogger kali yak… fyuhh…

    [ngelus dada, prihatin]

    *ngeloyor… tanpa semangat… kurang tenaga*

  24. 26 daeng limpo Mei 7, 2008 pukul 10:50 am

    @joyo
    emangnya pertandingan tinju…? bayar karcisnya dunk. πŸ˜€
    ***lari pakai sorban***

  25. 27 erander Mei 7, 2008 pukul 1:34 pm

    Sebenarnya kalo kita menyadari bahwa kebenaran itu hanyalah milik Allah .. insya Allah tidak ada yang meng-klaim paling benar. Sehingga kebenaran itu tidak datang dari pengikut terbanyak atau pengikut tersedikit. Tapi kebenaran tetaplah kebenaran.

  26. 28 NdaruAlqaz Mei 7, 2008 pukul 3:27 pm

    lagi-lagi-dan lagi.

    dari ketika Rosululloh baru saja meniggal pun ada lho yang kayak gini.

    kalo dulu mah tegas, nyeleweng, bunuh (kalo gak mau tobat), nah sekarang repotnya, mana yang nyeleweng mana yang nggak…???

    lumayan setuju sama komentar bang eby diatas. Yang paling benar itu hanya yang mengetahui segala kebenaran, kita ini tahu apa….

  27. 29 CY Mei 7, 2008 pukul 5:14 pm

    Lagian apa sih arti sebuah label agama. Walau labelnya telah diganti yang penting kan ajarannya tidak diganti dan tetap bisa melaksanakan ajaran yang tentu diyakininya sepenuh hati akan menunjukkan jalan kepada Sang Asal. Malahan akan lebih bebas untuk menggali makna, tanpa takut dibrangus oleh orang lain.

    Yakin Dan?? Apa ga ada kemungkinan kedepan nanti ada sweeping yg mencheck utk memastikan kelompok orang kedua tidak boleh memakai kitab suci kelompok orang pertama yg mayoritas tadi?? πŸ˜†

  28. 30 danalingga Mei 7, 2008 pukul 5:45 pm

    @ariss_

    Yah bagian saya memang diblog. Saya kira ada juga yang menyuarakan hal sama di media lain.

    @joyo

    Silahkan bro.

    @erander

    Seringnya Allah juga diklaim miliknya bang.πŸ˜‰

    @NdaruAlqaz

    Tul repot emang. Lebih repot lagi ketika ada pembrangusan.

    @CY

    Saya sih agak nggak yakin bro. Cuman mo gimana lagi coba?πŸ˜†

  29. 31 Sawali Tuhusetya Mei 7, 2008 pukul 9:08 pm

    alangkah damainya sebuah negeri jika dihuni oleh umat yang berbeda agsma dan aliran, tetapi ada napas toleransi yang sangat kita di sana, tidak ada yang saling mengklaim bahwa alirannya yang terbaik, dan tak ada stigma pengkafiran. dialog itu sepertinya mencerminkan belum terciptanya upaya menghargai dan menghormati orang dalam seagama yang berbeda aliran. waduh, repot juga yak, mas dana?

  30. 32 danalingga Mei 8, 2008 pukul 6:21 am

    Iya pak, kita ini ribut-ribut memang karena ego kita masing-masing. Jika tidak bisa saling mentoleransi, maka sebaiknya yang waras ngalah. Jika tidak, yah bisa bisa dua-duanya hancur pak.

  31. 33 Nazieb Mei 8, 2008 pukul 6:20 pm

    Seandainya saja aliran si orang kedua ternyata menjadi mayoritas..

  32. 34 Santri Gundhul Mei 8, 2008 pukul 10:34 pm

    Kang Dana,
    Ngomon-ngomon soal EGO Pribadi manusia, neh silahkan berangkat naik perahu gethek ( kayak Joko Tingkir ) temuilah si Gundhul.di Padepokan Borneo Timur

    Plaaaaaaass….plaaasssss…..mesat mabuuuur…

  33. 35 danalingga Mei 9, 2008 pukul 4:49 am

    @Nazieb

    Jika kebenaran dilihat dari jumlah.Sepertinya ceritanya bakal tetap sama. Hanya ada pertukaran tempat saja.

    @Santri Gundhul

    *berangkat*

  34. 36 Raden Mas Panut Mei 9, 2008 pukul 3:22 pm

    Aliran-aliran baru dalam penafsiran suatu ajaran saya rasa sah-sah saja. Saya ibaratkan seperti pohon beringin yang berdiri sangat kokoh dengan cabang-cabang dan daun-daunnya yang rindang.
    Ajaran agama berawal dari nabi ( saya ibaratkan akar dan batang pohon ), setelah punya pengikut/ murid/ penerus/imam atau apapun istilahnya, mereka akan menafsirkan ajaran dari sang nabi secara berbeda-beda ( saya ibaratkan cabang ). Nah kita ini sebagai pengikut dari penafsir2 itu sebagai ranting2 kecil dan daun2nya.

    So, harusnya kita bisa lebih menerima perbedaan cabang,ranting bahkan daun pohon beringin itu. Toh yang penting tetap satu pohon dan dari akr yang sama. Harusnya malah senang dong, wong jadi rimbun dan semakin menyejukkan. Bukan malah sebaliknya, jeruk kok makan jeruk ?

  35. 37 razuka Mei 10, 2008 pukul 12:08 pm

    HARI GINIII…tafsir dijadikan fondasi IMAN, so wat gitu loh
    pasti dech..kacau balau.

    @ abah
    saya pernah dengar, ada negri yang menjadikan tafsir sebagai landasan iman yaitu NEGERI ANTAH BERANTAH.!!!
    cape’ dech

  36. 38 iseng2 Mei 14, 2008 pukul 1:02 pm

    iseng-iseng menafsirkan, hakekat beragama hanyalah patuh tanpa syarat kepada Allah swt.
    caranya manembah kepada Allah swt yang paling penting
    1.menghadirkan Allah
    2.yakin kepada Allah
    3. merasa diri ini rendah dihadapan Allah swt.
    dari 1,2,3 ini mempertipis skeptis terhadap Allah dan membuang rasa “paling benar” dan dan mengkafirkan orang lain. Tetapi menimbulkan rasa “sudah di jalan yang benar”. namun membuka ruang untuk bertanya, sehingga mencari petunjuk.
    ada petunjuk lalu ada keraguan
    sehingga muncul silsilah perawi hadist
    muncul tafsir Al Quran menurut asbabulnuzun.
    yang kadang masih diperdebatkan adalah
    adanya tafsir lahir maupun tafsir batin, tafsir batin ssangat bersentuhan dengan “rasa” misal rasa ridho, rasanya beriman, rasanya bersyukur, rasanya himmah dll.
    Yang jadi masalah “penafsiran batin” ini biasanya dengan amalan-amalan tertentu yang rutin/istiqomah. Misalnya rutin sedekah akan memunculkan rasa ikhlas, rasa ikhlas tidak bisa dipelajari dari buka, harus dengan amalan. Sehingga kalau dituliskan , karena keterbatasan bahasa akan menimbulkan multitafsir, yang berbuntut pada perdebatan.
    Bagi sebagian kalangan (minoritas) menghadirkan Allah dalam hati terasa sangatlah mudah,tinggal menyebut Allah saja, sehingga untuk “menghadirkan” malaikat, nabi Muhammad, syaikh2 , ulama2 yang sudah meninggal terasa mudah. Secara hakekat bisa saja mengakui Mirza ghulam ahmad sebagai hamba Allah, tetapi untuk mengakui sebagai nabi sulit, karena para habib yang masih punya jalur keturuan dengan Nabi Muhammad saja ilmu agamanya belum tentu sempurna. Sebenarnyalah siapa saja kalau hatinya betul-betul dekat dan hanya bergantung pada Allah, hatinya terasa tenteram. orang-orang didekatnya ikut terpengaruh untuk tenteram. yang jadi masalah adalah kalau tolok ukur kebenaran ada pada “rasa tenteram” tersebut. sehingga diperlukan suatu pendapat banyak orang untuk mencari “kebenaran”. yang akhirnya menjadi mayoritas lagi.
    bingung nggak?
    aku juga bingung.

  37. 39 godamn Mei 29, 2008 pukul 9:11 pm

    Kasihan yahh… Allohuma sholi alla Muhammad

  38. 40 godamn Mei 29, 2008 pukul 9:13 pm

    Kasihan… yah… Salamun qoulam mir Robbi rohim


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: