J. Krishnamurti Menjelaskan Pilihanku

“Saya nyatakan bahwa kebenaran adalah wilayah tanpa jalan [Truth is a pathless land], dan kalian tak dapat mendekatinya melalui jalan apa pun, melalui agama apa pun, melalui sekte apa pun. Itulah sudut pandangku, dan saya berpegang pada itu secara mutlak dan tanpa syarat.

 Kebenaran, yang tanpa batas, tak terkondisi, tak dapat didekati melalui jalan apa pun, tak dapat diorganisir; tidak semestinya dibentuk suatu organisasi untuk menuntun atau memaksa orang menempuh suatu jalan tertentu. … Anda mungkin membentuk tarekat-tarekat lain, Anda akan terus masuk organisasi lain untuk mencari kebenaran. … Aku tidak ingin masuk organisasi spiritual apa pun; harap pahami ini. Jika suatu organisasi dibentuk untuk tujuan itu, itu akan menjadi tongkat penopang, kelemahan, belenggu, dan pasti akan melumpuhkan manusia, dan menghalanginya tumbuh, untuk menegakkan keunikannya, yang terletak pada penemuannya sendiri akan Kebenaran mutlak yang tak terkondisi. … Aku tidak menginginkan pengikut. Pada saat kalian mengikuti seseorang, kalian tidak lagi mengikuti Kebenaran. … Oleh karena aku bebas, tak terkondisi, utuh, bukan bagian, bukan relatif, melainkan seluruh kebenaran yang abadi, aku menghendaki mereka yang ingin memahamiku, untuk bebas pula, bukan mengikutiku, bukan membuat dariku sebuah kurungan, yang akan menjadi sebuah agama, sebuah sekte. … Kini aku telah memutuskan untuk membubarkan Tarekat ini, karena kebetulan aku menjadi Ketuanya. Kalian boleh membentuk organisasi-organisasi lain dan mengharapkan orang lain. Aku tak peduli dengan itu, tidak pula dengan menciptakan kurungan-kurungan baru, dan hiasan-hiasan baru untuk kurungan itu. Satu-satunya minatku hanyalah membuat manusia bebas secara mutlak, tanpa terkondisi.”

Kutipan di atas diambil dari kata-kata J. Krishnamurti saat membubarkan tarekat yang dipimpinnya setelah beliau mendapat pencerahan. Adapun saya menyempatkan diri untuk memuat kutipkan tersebut diblog saya ini adalah disebabkan bahwa kata-kata beliau ini, sangat tepat menggambarakan bahwa kenapa saya memilih untuk tidak terikat pada salah satu agama. Bahkan aliran spiritualpun aku tidak mengikat diri. Kucicipi ke-spiritual-an itu dari aliran manapun datangnya, selama bisa lebih mendekatkan aku pada kesejatian. Hanya merasakan tanpa syarat..

Sangkar yang telah lama ada
Sangkar pusaka warisan para leluhur
Indah, berlapis emas dengan sedikit berlian
Pesonanya memancar tiada terperi

Tapi sayang itu tetaplah sangkar
Yang memasung kebebasan seekor burung
Cicitnya ke kalbu, keinginannya terbang bebas
Berkelana tanpa batas, tanpa halangan

Maka kubuka pintu sangkar itu
Penuhi keinginan, biarkan burung terbang
Hinggap sesuka hati dimana dia berkehendak
Tanpa batas, tanpa halangan ‘tuk nikmati hidup

Cicitnya menjadi riang
Menyenangkan!

 

 

Kridit:

Kutipan diambil dari sini .

 

Disclaimer :

Tulisan Krishnamurti ditujukuan kepada para pelaku spiritual, bukan buat kalangan awam. Terimakasih.

 

68 Responses to “J. Krishnamurti Menjelaskan Pilihanku”


  1. 1 Tappang Mei 19, 2008 pukul 9:45 am

    Wah, berabe juga tuh, sli… Mungkin terikat secara fanatisme memang jadi kendala. Namun menurut saya, boleh-boleh aja tuh manusia memiliki komunitas, yang tentunya untuk saling menghargai perbedaan. Toh, manusia tidak hidup sendirian di muka bumi ini. Harus memiliki interaksi. Kalo semua menjadi individualistis, dasar berpijak kita untuk sebuah keyakinan, apa dong? Memang, si A atau si B masuk sorga apa enggak [?] tergantung dari prilakunya sesuai ajaran dogma agama yang dianutnya.

    Si Krishnamurti sejak lahir, apa sudah langsung seperti sekarang cara berpikirnya? Pasti dong di masa-masa kecilnya dia dicekokin ajaran salah satu agama? Itu yang disebut pijakan awal. Manusia tidak ujug-ujug jadi begini atau begitu.

  2. 2 danalingga Mei 19, 2008 pukul 10:34 am

    Iya memang begitu bang, bahwa Krishnamurti juga berawal langkahnya dari organisasi agama. Begitu juga saya. Tapi kan kalo mau bahas semua agama mau-tidak mau saya harus ngaku ngaku tidak terikat pada salah satu agama. Biar netral gitu.:mrgreen:

  3. 3 unknown entry Mei 19, 2008 pukul 10:54 am

    @ dana lingga
    oh arti spiritual yang d perkcil y??
    mngkin lebih tepat perjalanan psikologis kali y…
    spirit = ruh
    d atheis g ad ruh tuh…..

  4. 4 preethink Mei 20, 2008 pukul 10:13 am

    @CY dan @danalingga
    Lho saya kan membaca postingan ini secara serampangan dan menuliskan komentar saya langsung. Jadi saya merasa berbeda dengan J krishnamurti, dan saya tidak kenal beliaunya.
    Saya merasa bebas, lain, dan tidak terpengaruh dengan jkrishnamurti tetapi malah sama, heran aku🙂 🙂
    Apa itu bebas tetapi masih ada ikatan ya mas dana?

  5. 5 razuka Mei 26, 2008 pukul 9:18 am

    krishnamurti…apapun tentangnya boleh saja namun masih ada yang creshh point yang belum jelas layaknya sebuah kata yang berbias.

    @kang dana
    good artikel

    @abah dedhot
    good comment

    @rindu
    bulan terbelah coba diangkat di danalingga atikel yang laya dihamparkan agar semua dapat menuai hikmah dibalik peristiwamu

    @ Zal
    untuk lebur jangan berandai tapi cari jalan bagaimana cara meleburkan diri *hub TOKO MAS*

  6. 6 zal Mei 26, 2008 pukul 12:22 pm

    ::razuka, iya..ya..terima kasih…

  7. 7 razuka Mei 26, 2008 pukul 2:29 pm

    @ dana
    islam = selamat
    lalu bagaimana dikatakan islam kalau bakal tidak selamat???
    jadi apanya yang selamat??

  8. 8 razuka Mei 26, 2008 pukul 4:05 pm

    @ santri botak
    komentarnya api’ tenan begitu dong jangan berbelit belit kaya’ abah dedhot….mudah dimengerti
    -salam-

  9. 9 danalingga Mei 26, 2008 pukul 5:18 pm

    @razuka

    Saya juga berpikirnya sesederhana itu sih.

    Jika telah selamat berarti sudah berIslam. Jika berIslam berarti sudah selamat.

    Nah, jika belum yakin selamat kenapa bisa yakin telah berIslam ya?🙄

  10. 10 watonist Mei 27, 2008 pukul 7:45 am

    rupanya banyak yang salah paham dengan “Truth is a pathless land” Dan.
    memang sih … ketika diucapkan dianya akan menjadi “path of pathless land”, yaa … begitulah ..

  11. 11 danalingga Mei 27, 2008 pukul 6:33 pm

    Itulah keterbatasan ucapan ton. Mungkin mememang sebaiknya dibiarkan saja menjadi rasa.

  12. 12 godamn Mei 29, 2008 pukul 8:41 pm

    Saluuuut… saluuuut…. pinter juga akang jawabnya. seru loh… sumprit deh…. sering-sering ah kemari…

  13. 13 zsheefa Mei 31, 2008 pukul 4:15 pm

    wueeehh….gile abiees!
    ini mah kumpulan orang jago semua jadi minder
    * clingak clinguk, menunduk*
    -salam-

  14. 17 Tarno.. Mei 24, 2016 pukul 5:45 pm

    kenapa yah sy ko sangat mengagumi sekali tulisan2 JK, tp dr dulu ampe sekarang blm bisa memahami tulisannya.. ada yg bisa bantu, Mungkin Mas Admin..


  1. 1 Dari Blog Seberang: J. Krishnamurti, Sopo Toh? « diaryblogdotcom Lacak balik pada Mei 20, 2008 pukul 10:07 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: