Ketika Melihat Dari Sudut Karma

Setelah membaca curhat ira yang di sini , saya menjadi tergelitik untuk membuat sebuah postingan. Ini bukanlah dimaksudkan sebagai pembelaan untuk ira yang menye-menye karena merasa nilai kemanusiaannya digugat. Melainkan pembelaan untuk diri saya sendiri. Ya, karena saya memandang hal-hal seperti itu adalah hal yang biasa. Sebiasa saya tiap hari kerja, kecuali hari libur tentunya. Sebuah hal yang sangat normal bukan?  

Begini, saya jika bersinggungan dengan kejadian seperti anak kecil ini maka saya akan merasa hal itu sebagai hal yang normal. Senormal ketika saya bertemu dengan manusia lain. Tidak ada yang istimewa yang mengharuskan saya merasa kasihan terhadap hal-hal seperti itu. Eh, bentar, jangan langsung mengambi kesimpulan itu karena saya ini berdarah dingin. Atau menuduh karena rasa kemanusiaan saya sudah mati. Jangan terburu-buru menilai, dengarkan dulu pembenaran alasan saya.

Jadi begini, saya ini sangat mengimani yang namanya karma. Jadi konsekuensinya segala hal yang terjadi dalam hidup ini akan saya lihat melalui sudut pandang karma. Nah , ketika melihat kejadian seperti dalam postingan anak kecil itu yang katanya harus menyentuh rasa kemanusiaan kita. Maka saya langsung secara otomatis menganggap memang itu sudah karma anak kecil itu. Dan segala tindakan saya kepadanya juga diakibatkan oleh persinggungan karma saya dengan karma anak itu. Jadi saya biarkan tindakan saya mengalir sesuai karma tersebut, tanpa intervensi perasaan.

Nah, begitu juga saya memandang segala sesuatu di sekitar saya. Ketika saya bertemu dengan seorang peminta-minta misalnya, ya saya biasa saja. Mengganggap memang sudah seharusnya begitu, atau dengan kata lain memang sudah karmanya begitu. Dan saya akan mengalirkan tindakan sesuai dengan dorongan karma saja, berusaha untuk tidak terpengaruh oleh rasa kasihan. Jadi kalo saya ingin memberi sesuatu ya saya beri saja tanpa harus berpikir pemberian saya itu akan diapakan. Ketika saya sedang tidak ingin memberi , ya saya tidak beri tanpa harus mencari-cari pembenaran. Karmanya memang sudah begitu, mau apa lagi coba.

Jadi kembali mengenai ketika Ira cuma memfoto anak itu, maka memang itulah yang menjadi bagian persinggungan karma antara Ira dan anak itu. Juga ketika Silly memberikan pandangannya, maka itulah tindakan sebagai akibat persinggungan karma antara silly, Ira, dan anak itu. Begitu juga dengan hal-hal yang terjadi selanjutnya, merupakan rentetan dari akibat karma-karma orang yang bersinggungan didalamnya.Dan juga, akibat tindakan karma-karma itu akan menimbulkan karma-karma baru. Jadinya ya siap-siap saja melakukan tindakan-tindakan selanjutnya akibat karma-karma baru itu. Moga-moga saja akibatnya bukan merugikan, malah menguntungkan yang terlibat. Dari pengalaman saya selama ini sih bahwa jika tindakan dipaksakan, tidak mengikuti aliran saja, maka akan menambah karma-karma baru. Jadinya putaran karma yang tidak akan berakhir.

Sungguh hidup itu menjadi mengalir apa adanya dengan sudut pandang ini. Jadi silahkan dicoba. Tapi ya, resiko ditanggung sendiri, sebab itu juga bagian dari karma itu sendiri. Selagi hidup didunia ini memang tidak akan bisa terlepas dari karma. Karma palingan hanya bisa diminimalkan saja, agar cukup habis untuk hidup saat ini. Lain cerita kalo bisa mencapai tingkat seperti sang Budha misalnya, atau nabi-nabi, atau orang yang tercerahkan tanpa gelar lainnya.

43 Responses to “Ketika Melihat Dari Sudut Karma”


  1. 1 ulan Mei 27, 2008 pukul 12:40 pm

    sebener nya karma sendiri itu apa sih arti nya om??

  2. 2 deng fattah Mei 27, 2008 pukul 2:36 pm

    Apkah ada bukti ilmiah mengenai adanya karma itu?

  3. 3 danalingga Mei 27, 2008 pukul 6:25 pm

    @ulan

    Karma itu adalah segala yang terjadi padamu adalah akibat perbuatanmu sendiri.

    @deng fattah

    Nggak tahu. Silahkan dicari sendiri.😛

  4. 4 Sawali Tuhusetya Mei 27, 2008 pukul 7:35 pm

    karma, dalam padangan awam saya, bisa jadi merupakan sebuah entitas yang sengaja diciptakan utk membuat “pagar” kehidupan agar manusia lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, sebab, sikap dan tindakan itu akan menimbulkan implikasi lain, entah berkaitan langsung ataupun tidak.

  5. 5 Oom Senang, Hati Riyang... Mei 27, 2008 pukul 7:37 pm

    @ULAN #1,

    Karma ituh temannya Karno, mingsih temen deket Karman nyang punya kepenakan keponakan namanya Kartik….

  6. 6 Oom Senang, Hati Riyang... Mei 27, 2008 pukul 7:38 pm

    Oh, iya.
    Sayah ndak percaya karma.

  7. 7 dana Mei 27, 2008 pukul 7:44 pm

    @Sawali Tuhusetya

    Karma itu memang tentang tindakan pasti punya implikasi.

    @Oom Senang, Hati Riyang…

    Saya juga tidak percaya sama Karma temennya Karno itu.😛

  8. 8 zal Mei 27, 2008 pukul 8:20 pm

    ::jadi Dan, kekmananya bak keliatan karma itu, biar bisa ngelak darinya ..kalo enggak keliatannya, pastilah engga jelas ketabraknya ato tidak…🙂

  9. 9 Raden Mas Panut Mei 27, 2008 pukul 10:50 pm

    Arti karma sendiri adalah perbuatan, bisa baik ataupun buruk.
    Hukum Karma atau Hukum Alam Sebab Akibat biar orang tidak percaya sekalipun tapi tetap dijalani dalam kehidupan sehari-hari.
    Contoh : -Sebabnya makan akibatnya kenyang
    -Sebabnya berbuat baik maka akibatnya kebaikan yang di dapat
    demikian pula sebaliknya.

    Saya merasa Hukum Karma atau Hukum Alam Sebab Akibat ini merupakan hukum Tuhan yang jelas-jelas adil bagi siapapun juga.
    Kalau ada yang bertanya apakah bisa dibuktikan secara ilmiah, apakah beberapa contoh diatas tidak cukup ilmiah ?

    Kalau menurut Ilmu Fisika boleh juga dinamakan Hukum Aksi dan Reaksi.
    Setiap ada aksi pasti ada reaksi, setiap ada sebab pasti ada akibat.

  10. 10 Ersis Warmansyah Abbas Mei 27, 2008 pukul 11:47 pm

    Yang penting falsafah dibalik konsep karma, agar kita hati dalam berbuat … apa yang kau tanam akan kau tuai hasilnya, kira-kira begitu

  11. 11 odiboni Mei 28, 2008 pukul 3:40 am

    eh sori nih kalo OOT,
    uda tau belum Bapak Anand Krishna dateng ke Jogja,
    hari kamis 29 Mei 2008 di Kompas Gramedia Fair
    ada talkshow interaktif “Be Happy”.

    Trus tanggal 6 Juni 08 ada seminar “Total Success bersama Anand Krishna” di Grand Mercure Hotel.
    coba cek ke sini: http://www.akcjoglosemar.org

    salam

  12. 12 daeng limpo Mei 28, 2008 pukul 5:49 am

    karma bukannya hukum keseimbangan…?🙂

  13. 13 itikkecil Mei 28, 2008 pukul 8:57 am

    saya tidak tahu apakah saya percaya dengan karma atau tidak…. tapi saya percaya kalau apa yang kita lakukan baik ataupun buruk akan mendapat ganjarannya entah kapan😀

  14. 14 qaryatisyahin Mei 28, 2008 pukul 9:26 am

    Mas Dana bilang:
    Karma itu adalah segala yang terjadi padamu adalah akibat perbuatanmu sendiri

    apakah itu berarti – perbuatan baik, balasannya baik. Perbuatan buruk balasannya buruk-? (sebagaimana dijelaskan seorang teman di Bali kepada saya)

    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Isa, sehingga dia disalib?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Ibnu Rusd dan Galileo, sehingga mereka dihukum mati?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Joan d’Arc, sehingga dia mesti dibakar hidup-hidup?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan bla….bla…bla…sehingga dia mesti menanggung karma kebalikan dari perbuatannya?

  15. 15 CY Mei 28, 2008 pukul 11:24 am

    @Daeng fattah
    Pernah dengar apa yg namanya hukum aksi=reaksi waktu di SMU/SMA kan?? Itulah bukti ilmiah karma dlm skala kecil. Harap diingat hal2 spiritual seperti ini ga semua bisa diminta buktinya secara ilmiah. Bagaimana anda menjawab kalau saya bertanya apa bukti ilmiahnya Tuhan itu ada?? hehehe… 😀

  16. 16 CY Mei 28, 2008 pukul 11:27 am

    Ah.. ternyata ini memang karma saya terbaca postingan yg ini hihihi…

    @Danalingga
    Mengapa kesempatan bertemu anak melarat tersebut tidak dianggap sebagai peluang “membayar karma” bro?? Bukankah itu artinya si anak menjalani karmanya dan kita diberi kesempatan mencicil utang karma kita. Kecuali kalo ada yg merasa karmanya ga pernah ngutang ya lain cerita hehehe… 🙂

  17. 17 tomy Mei 28, 2008 pukul 11:59 am

    karma adalah hidup kita yang terhubung dengan HIDUP
    seperti sebatang pohon kehidupan kita akan melihat hidup hidup yang bergelantungan pada hidup

  18. 18 Nazieb Mei 28, 2008 pukul 4:22 pm

    Lantas, bagaimana ketika kita lahir? Apakah sesuatu yang terjadi pada diri kita sesaat setelah kita lahir, merupakan karma juga? Karma siapa? Kita kan belum pernah melakukan apa pun di masa lalu, ya namanya saja baru lahir..

    Apakah itu adalah karma dari orang tua ketika kita masih dalam rahim? Lantas, bagaimana dengan manusia pertama, yang tidak punya ayah ibu? Karma siapa yang ditanggungnya ketika ia pertama kali diciptakan?

    Apakah karma milik Tuhan?

  19. 19 penyokongpaklah Mei 28, 2008 pukul 5:05 pm


    COBA LIAT SITUS:
    rompaklah-malingsia.blogspot.com

  20. 20 Faubell Mei 28, 2008 pukul 5:27 pm

    Saya cocok dengan comment CY yang ini :
    “Mengapa kesempatan bertemu anak melarat tersebut tidak dianggap sebagai peluang “membayar karma” bro?? Bukankah itu artinya si anak menjalani karmanya dan kita diberi kesempatan mencicil utang karma kita.”

  21. 21 danalingga Mei 28, 2008 pukul 7:27 pm

    @zal

    nah, itu dia yang paling penting sebenarnya zal.

    @Raden Mas Panut

    Kurang lebih saya setuju.

    @Ersis Warmansyah Abbas

    Sangat betul sekali pak. Yang penting memang falsafahnya itu, bukan label karmanya.

    @odiboni

    Makasih atas infonya.

    @daeng limpo

    Saya lebih memandangnya sebagai hukum sebab akibat sih.

    @itikkecil

    Itu dia karma.

    @qaryatisyahin

    apakah itu berarti – perbuatan baik, balasannya baik. Perbuatan buruk balasannya buruk-? (sebagaimana dijelaskan seorang teman di Bali kepada saya)

    Wah, ndak tahu buruk apa baik ya. Yang pasti akibat suatu perbuatan selalu ada.

    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Isa, sehingga dia disalib?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Ibnu Rusd dan Galileo, sehingga mereka dihukum mati?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Joan d’Arc, sehingga dia mesti dibakar hidup-hidup?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan bla….bla…bla…sehingga dia mesti menanggung karma kebalikan dari perbuatannya?

    Baik dan buruk itu kan relatif.😛

    Tapi akan coba saya jelaskan tentang orang-orang yang jadi contoh itu:

    1. Jika telah tercerahkan maka akan bisa memilih karma mana yang hendak dijalaninya.
    2. Jika belum tercerahkan maka saya sangat yakin orang-orang tersebut memang telah melakukan perbuatan yang menyebabkan mereka harus mengalami yang kita anggap penderitaan itu. Kita toh tidak tahu bagaimana keseluruhan hidup orang-orang tersebut.

    Jadi mbak, jangan tanya karma mereka-mereka itu kepada saya. Sebab saya bukan Tuhan yang tahu segalanya. Kalo merasa mereka diperlakukan tidak adil, silahkan tanyakan sama Tuhan.

    @CY

    Ah bro, seandainya saja memang segampang itu “membayar karma” .😉

    Bagaimana jika ternyata itu bukan “membayar karma” melainkan malah menambah karma. Mau terus berputar di lingkaran karma apa?😆

    Intinya sih menurut saya adalah memperjelas dulu pandangan kita agar karma-karma itu terlihat, biar nggak salah jalan. Atau kalau nggak bisa ya terpaksa mengikuti intuisi saja.

    @tomy

    Bisa lebih diperjelas? Saya belon ngeh nih.

    @Nazieb

    Lantas, bagaimana ketika kita lahir? Apakah sesuatu yang terjadi pada diri kita sesaat setelah kita lahir, merupakan karma juga? Karma siapa? Kita kan belum pernah melakukan apa pun di masa lalu, ya namanya saja baru lahir..

    Reinkarnasi yang menjelaskannya bro.

    Apakah itu adalah karma dari orang tua ketika kita masih dalam rahim?

    Tetap kembali ke pasal reinkarnasi.

    Lantas, bagaimana dengan manusia pertama, yang tidak punya ayah ibu? Karma siapa yang ditanggungnya ketika ia pertama kali diciptakan?

    Perlu di sadari di asal itu tidak ada yang namanya karma. Karma itu hanya ada ketika di dunia (walau alam yang manapun) . Jadi manusia ada pertama kali itu adalah hasil kehendak. Karma dialami ketika telah ke dunia.

    Apakah karma milik Tuhan?

    Ah, Tuhan memang pemilik sejati karma itu.

    @Faubell

    Seandainya memang sesederhana itu.😀

  22. 22 cK Mei 28, 2008 pukul 11:17 pm

    huhuhu..saya adalah salah satu orang yang percaya karma. jadi apabila melihat orang melakukan hal salah, saya yakin karma akan menimpanya..🙄

  23. 23 CY Mei 29, 2008 pukul 9:18 am

    Ah bro, seandainya saja memang segampang itu “membayar karma”

    Bentuk “membayar” itu kan ga melulu sedekah bro.., bisa juga kita bantu dia dlm hal lain, memberinya kail misalnya atau membawanya ke lembaga sosial terdekat, atau seperti tindakan Ira yg mengekspos ke publik ttg keinginan2 mereka. Kan masih banyak caranya. Kalo kita pikirkan sederhana atau tidaknya proses “pembayaran” itu malah jadi rumit dan akhirnya kita cuman jalan di tempat.🙂

  24. 24 CY Mei 29, 2008 pukul 9:25 am

    @qaryatisyahin

    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Isa, sehingga dia disalib?

    Kita kan ga diberi akses utk tahu dikehidupan sebelumnya apa saja perbuatan yg dilakukan nabi Isa, jadi kalo anda tanya itu ga ada yg bisa menjawab. Tapi secara umum bisa saya jawab begini :

    Untuk mencapai level pencerahan setinggi itu, nabi Isa perlu menjalani prosesi siksaan penyaliban tanpa bisa melawan dengan kekuatanNya padahal Dia bisa. Karena Dia sanggup menjalaninya maka level pencerahannya meningkat pesat sehingga Dia dimuliakan oleh Tuhan.

  25. 25 danalingga Mei 29, 2008 pukul 6:34 pm

    @cK

    Berbuat baik juga dapat karma chik.

    @CY

    Maksud saya bahwa rumit bukan mengarah ke situ bro. Rumit dalam artian bahwa mungkin CY berpikir dengan menolong anak itu pasti bentuk “pencucian karma” , tapi menurutku itu belum tentu. Sebab tiap orang punya karmanya masing-masing, dan “penyuciannya” sesuai karma itu.

    Makanya saya bilang intinya adalah:

    memperjelas dulu pandangan kita agar karma-karma itu terlihat, biar nggak salah jalan. Atau kalau nggak bisa ya terpaksa mengikuti intuisi saja.

  26. 26 alfaroby Mei 29, 2008 pukul 6:50 pm

    emang sih karma itu aku juga setuju yawalaupun gak setuju setuju banget.. bayangin aja… setiap kita melakukan kebaikan atau keburukan pasti dibalas leh “TUHAN” dengan setimpal… gak lebih dan gak kurang…. sekarang bagaimana kita menyikapinya saja… apakah kita pengen pemalasan dari “TUHAN” yang baik atau yang buruk tergantung dari apa yang kita lakukan dan perbuat

  27. 27 godamn Mei 29, 2008 pukul 9:48 pm

    moga-moga kita bisa berbuat baik… temen-temen maapin aku yah… soalnya aku dah nyampe sini juga kayanya karna karmaku juga. jadi skalian aja minta dimaapin, kalo-kalo ada yang salah…

  28. 28 Faubell Mei 29, 2008 pukul 10:15 pm

    @Dana
    Allah menghendaki yang mudah2 dari kamu, kenapa dipersulit sendiri dengan persangkaan yang buruk.

  29. 29 danalingga Mei 29, 2008 pukul 10:36 pm

    @alfaroby

    Yup, itulah karma.

    @godamn

    Yup, karma yang membawamu. Mari kita lihat bersama sejauh apa karma itu menggerakkanmu disini.

    @Faubell

    Yup, jangan berprasangka memang. Baik itu prasangka buruk maupun prasangka baik. Sebab semua itu hanya prasangka, tidak kurang tidak lebih.😉

  30. 30 almascatie Mei 30, 2008 pukul 9:48 am

    comment ini dulu dah ntar balik lagi dah
    serius banget nih

  31. 31 penggoda80 Mei 30, 2008 pukul 9:51 pm

    @faubell

    *Saya cocok dengan comment CY yang ini :
    “Mengapa kesempatan bertemu anak melarat tersebut tidak dianggap sebagai peluang “membayar karma” bro?? Bukankah itu artinya si anak menjalani karmanya dan kita diberi kesempatan mencicil utang karma kita.”

    >>karma yang ada pada anak itu menjadi pembelajaran buat kita,
    dia membayar mahal melalui hidupnya tentu atas ketetapanNya,itu tidak lain hanya untuk kita ambil pelajaran darinya bukan mencicil karma.

    hanya kepada ALLAH jua tempat kita berserah diri.
    -salam-

  32. 32 joyokusumo (males login) Mei 31, 2008 pukul 12:27 am

    saya melihatnya sebagai….Keniscayaan…

  33. 33 Yeni Setiawan Juni 1, 2008 pukul 4:32 am

    Dari paragraf terakhir saya menyimpulkan bahwa sampeyan sudah memutuskan untuk mencapai level seperti sekarang Kang.

    Kenapa tidak menjadi budha? Kenapa tidak mencapai pencerahan tertinggi?

    Salam kenal🙂

  34. 34 nindityo Juni 1, 2008 pukul 2:06 pm

    bos dana, saya juga bertindak dilandasi karma. tapi cuma sebatas jangan sampai keburukan menimpa saya (ato keluarga dan temen saya) karena tindakan bodoh yang saya lakukan.😀
    ooo ..jadi saya udah boros minyak maka bbm naik
    *paham sambil angguk-angguk*
    eh, kalo saya nulis disini karmanya apa ya?

  35. 35 uhuik Juni 2, 2008 pukul 7:18 am

    Menurut saya tidak ada perbuatan “baik” atau “buruk”, yang ada adalah perbuatan “yang diperintahkan, diperbolehkan, dianjurkan” dan perbuatan “yang dilarang” oleh Tuhan.
    nggak tau karma, tahunya cuma kurma.
    tapi kalo kita meyakini (setelah berusaha sebaik mungkin) bahwa apa yang dihadapan kita pada detik-detik ini adalah yang terbaik bagi kita, dan kita merasa rela/ridho, maka Tuhan pun akan ridho pada kita, setelah muncul sifat ridho kita, lalu tumbuhlah benih-benih sifat ikhlas dan syukur. Kalau dah tumbuh sikap/sifat ridho, ikhlas, syukur, sabar baruu kerasa kalo kita itu dah dikit-dikit mencium aroma surga, lha wong apa-apa kerasa euunaaak. Hingga muncul perasaan pingin cepat-cepat ke sorga naah setelah itu baru kerasa ayat “dunia bagaikan penjara bagi mukmin”, karena kita belum boleh ke surga, masih “dipenjara”. “penjara” kayaknya identik dengan “neraka”.

  36. 36 tomyarjunanto Juni 2, 2008 pukul 7:44 am

    Menurut saya Kang Dana *pengertian yang ngawur tentunya*
    Karma adalah seperti manusia bersyahadat
    Ashadu anna muhammadar rasulullah
    Kesaksian bagi SETIAP manusia sebagai utusan Sang Hidup
    Untuk saling berjumpa menjadikan rahmat bagi seluruh semesta
    Dalam perjumpaan, dalam relasi yang saling memerdekakan,
    Hidup berjumpa dengan Hidup membangun rangkaian indah Pohon Kehidupan
    Karma buruk akan memutus rangkaian indah itu
    Sebaliknya karma baik merangkainya hingga suatu saat nanti
    Kita dengan takjub akan mampu melihat Indah & Agungnya POHON KEHIDUPAN
    Dan harapan saya entah Karma buruk atau Karma Baikku akan membawa saya bertatap muka dengan anda Kang

  37. 37 stey Juni 2, 2008 pukul 3:38 pm

    Kok bisa karma sih Om?secara dia masih kecil gitu lho?apa karma orangtuanya kah?

  38. 38 dana Juni 2, 2008 pukul 10:07 pm

    @joyokusumo (males login)

    Apanya yang niscaya bro?

    @Yeni Setiawan

    Bukan karma saya kali.

    @nindityo

    Ah, gitu juga bisa bro.

    @uhuik

    Yang pasti neraka dan sorga itu buah dari perbuatan kita sendiri.

    @tomyarjunanto

    Kalo saya, selama masih ada karma baik buruk maupun baik maka akan tetap merasakan hidup di dunia yang harus merasakan sedih dan gembira.

    @stey

    Karma dia sendiri. Setiap orang menanggung karmanya masing-masing, tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.

  39. 39 qaryatisyahin Juni 3, 2008 pukul 2:47 pm

    jadi karma itu apa?
    karma = balasan/akibat ?
    karma = takdir ??

    kenapa kita mesti perduli pada karma….

    apa yang kita niatkan ketika kita melakukan perbuatan baik?
    apakah yang kita inginkan adalah balasan yang baik?
    ingin masuk syurga?? (bukankah ini yang disebut pamrih??)
    ini yang disebut amalan “pedagang” (mencari laba)

    kenapa kita tidak ingin melakukan perbuatan buruk?
    karena kita takut mendapat balasan yang buruk?
    kita takut mendapat kemarahan dari Sang PEncipta??
    takut masuk neraka??
    ini yang disebut amalan “budak”

    amalan apa seharusnya yang kita jalani?
    amalan “PECINTA”
    berbuat baik karena kita “cinta”
    tidak perduli balasannya di dunia ini baik atau buruk,
    tidak peduli balasannya nanti neraka atau syurga….

    niatnya hanya “cinta” pada Sang Pencipta
    niatnya hanya “mardhotillah” “mengharap Allah ridho”

  40. 40 dana Juni 3, 2008 pukul 7:14 pm

    Karma itu ya apapun yang kita lakukan pasti menimbulkan akibat yang ditanggung sendiri.

    Silahkan tidak peduli dengan karma, tapi selama masih hidup di dunia ini maka tetap akan terpengaruh olehnya. Bukankah lebih baik mengenalnya agar hidup tidak sampai salah jalan?😀

  41. 41 eko Juni 19, 2008 pukul 3:07 pm

    Karma memang erat hubungannya dengan reinkarnasi.
    Apa yang kita terima di kehidupan ini adalah hasil dari perbuatan kita di kehidupan-kehidupan yang lampau.

    Jadi Bagi yang menyalahkan Tuhan, sebenarnya Tuhan itu maha adil.
    Ibarat supir angkot, yang narik yah dapet penghasilan, yang ga narik yah ga dapet. Siapa yang menanam dia yang memetik hasil.

    Untuk alasan kita kenapa kita ada di dunia, karena masih banyak hutang2 karma buruk dari kehidupan lampau yang belum terlunasi jadi kita harus datang kembali untuk melunasinya (tentunya jangan sambil menambah hutang karma buruk yang baru lagi, tetapi sambil menanam karma baik biar hutangnya cepat lunas hehehe). Jika sudah lunas yah kita ga lahir lagi jadi manusia, Tapi kita berhak atas tempat yang mulia di sisi-Nya.

    Buat qaryatisyahin :
    “Perbuatan buruk apa yang dilakukan Isa, sehingga dia disalib?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Ibnu Rusd dan Galileo, sehingga mereka dihukum mati?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan Joan d’Arc, sehingga dia mesti dibakar hidup-hidup?
    Perbuatan buruk apa yang dilakukan bla….bla…bla…sehingga dia mesti menanggung karma kebalikan dari perbuatannya?”

    Nabi Isa datang dengan misi untuk menebus dosa manusia. (saya rasa semua umat kristiani tau hal ini).
    Jadi untuk Nabi dan orang suci, mereka datang dengan misi tertentu, bukan karena hutang karma buruk.

    Ada teman saya pernah berkata : “Jadi saya hidup di dunia ini tidak ada artinya? Hanya mengikuti alur karma dan nasib yang sudah digariskan?
    Maka saya menyarankan teman saya untuk membaca Liao Fan’s Four Lessons.

    Menurut inti ajaran Liao-Fan Yuan (1550) dari tiogkok, nasib memang sudah digariskan, tetapi ada dua jenis manusia yang nasibnya tidak dapat dikuasai oleh takdir.
    Yang pertama adalah orang yang berbuat banyak kebajikan.
    orang yang berbuat banyak kebajikan, walaupun karmanya kurang baik, akan meringankan bahkan merubah karmanya tersebut menjadi lebih baik.
    Yang kedua adalah orang yang bebuat banyak kejahatan.
    Orang yang berbuat banyak kejahatan, walupun karmanya baik,
    akan bertemu hal hal yang tidak baik bahkan merubak nasib dan karmanya menjadi buruk.

    Jadi, terlepas dari baik atau buruknya kondisi kehidupan kita saat ini, jangan menyalahkan Tuhan. Semunya adalh hasil perbuatan kita sendiri (baik dikehidupan ini ataupun di kehidupan yang lampau).

    Cara merubahnya nasib? : Baca dan renungkan Liao Fan’s Four Lessons dan coba dipraktekkan. : )
    http://www.buddhanet.net/pdf_file/liaofan.pdf

  42. 42 daeng limpo Juni 22, 2008 pukul 11:54 am

    menyalahkan Tuhan sebenarnya adalah “persepsi” kita saja, karena Tuhan tidak pernah salah. Jika saya katakan Tuhan marah…..benarkah Ia marah…., wong hidup kita saja, kita tidak tahu akhirnya seperti apa…?

  43. 43 pencari tuhan Juni 22, 2008 pukul 8:47 pm

    jadi jelaslah sudah jika karma berkait erat dengan teori tumimbal lahir. kehidupan kita sekarang ini ( baik senang, susah, menderita ataupun bergelimang harta ) adalah imbalan karma masa lampau. disinilah keadilan tuhan. jadi setuju sekali kalau semua ini bukan salah tuhan, tapi salah manusianya sendiri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: