Nabi Kok Cuma Laki-Laki

Tiba-tiba beberapa pikiran negatif menghampiri tanpa dapat ditahan ketika membaca komen bu Hana yang mengaku-ngaku sebagai nabi.

Begini prosesnya. Saya tersadar bahwa bu Hana ini kan seorang perempuan (kalo belon ganti kelamin sih). Dan selama sejarahnya (yang saya tahu nih) kok belon ada Nabi yang perempuan ya?

Nah, dari hal itulah ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala:

  1. Apa karena memang Tuhan itu bias gender, dan kebetulan memuja laki-laki?
  2. Apa karena ada manusia-manusia yang telah mengedit sejarah para Nabi, dan mengeluarkan dari daftar tentang adanya nabi-nabi perempuan?
  3. Atau memang hanya kualitas laki-lakilah yang layak menjadi nabi?
  4. Atau karena memang belon ada emansipasi pada masa agama-agama langit itu
  5. Atau …. ?

Terus terang saya belon tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Barangkali ada dari pembaca yang tahu. Atau guru pembaca yang tahu. Maka silahkan dipaparkan di kolom komentar. Semoga saya bisa menjadi puas, dan tidak tanya-tanya lagi.

*berdoa agar sudi kiranya Tuhan memberi jawaban melalui komen-komen di sini*

 

78 Responses to “Nabi Kok Cuma Laki-Laki”


  1. 1 adi isa Juli 12, 2008 pukul 7:58 pm

    sudah kodrat, dan menjadi rahasia tuhan,
    kalaupun kita tau sedikit2 kenapa sejak dulu nggak ada wanita
    yang ditunjuk sebagai nabi, mungkin karena memang
    hanya sampai disitu saja ilmu yang sampai pada kita.

    sekedar ilmu,
    ada koq nabinya wanita.
    (namun bukan berarti dia wanita)
    yakni nabi isa as.

  2. 2 Catshade Juli 12, 2008 pukul 10:16 pm

    Wedeh, ada toh. Berarti pengetahuanku yang kurang. Makasih atas infonya.

    Btw, setelah saya lihat-lihat lagi, nama nabi-nabi perempuan di atas hanya ada di agama Yahudi-Kristen, tapi gak ada padanannya (gak diceritain? gak diakuin?) di agama Islam. Silakan terka-terka sendiri kenapa itu bisa terjadi dan apa artinya…🙄

  3. 3 dana Juli 13, 2008 pukul 10:13 am

    @adi isa

    Rahasia bisa menjadi bukan rahasia ketika si pemilik rahasia mau membeberkannya.😉

    @Catshade

    *sibuk menerka*

  4. 4 adi isa Juli 20, 2008 pukul 8:07 pm

    maksud saya rahasia disini
    hanya individu dengan tuhannya saja yang tau.

    seperti contoh anda dengan tuhan anda
    apa yang anda lakukan, anda sembunyikan
    anda dustakan
    tentang amal anda’
    tentang dosa anda yang bahkan orang paling terdekat andapun
    nggak ada yang tau.
    hanya anda dengan tuhan anda yang tau. menjadi rahasia.

    jikalau anda telah membeberkan kepada orang lain,
    saya percaya masih ada yang lebih rahasia disana.

  5. 5 uhuik Juli 21, 2008 pukul 10:51 am

    saya pernah tanya cara ngetes apakah makluk itu malaikat atau jin, jawabnya dengan diperlihatkan wanita telanjang bugil.
    Kalau malaikat melihat wanita telanjang bugil akan pergi.
    Kalau jin melihat wanita telanjang bugil maka jinnya tambah melotot melihatnya, makin mengamati dengan seksama.

    Jadi kalau nabinya wanita so pasti malaikat jibril akan kerepotan mengirim wahyu, jadi pesan Tuhan malah tidak tersampaikan kepada umat manusia.🙂

  6. 6 dana Juli 21, 2008 pukul 6:41 pm

    @adi isa

    Wah, sepertinya maksud kita berbeda nih.

    Maksud saya yang membuka rahasia itu adalah Tuhan sendiri. Bukan manusianya.

    @uhuik

    Mungkin bakal ada malaikat Jibrilwati?😀

  7. 7 sita rita dewi Juli 22, 2008 pukul 9:57 am

    Kalo nabinya perempuan lha nanti malah anda kawini….🙂 🙂

  8. 8 Catshade Juli 22, 2008 pukul 10:46 am

    Kalo ngeliat komentarnya uhuik. berarti…malaikat dan jin itu laki-laki semua?

    *nambah pertanyaan buat dana*

    Kenapa nggak ada malaikat dan jin perempuan?😀

  9. 9 dana Juli 22, 2008 pukul 6:18 pm

    @ sita rita dewi

    Nggak mestilah. Tergantung.😀

    @Catshade

    Kalo jin ada keknya.

    Btw, makasih atas tambahannya.😀

  10. 10 Cikupa Juli 23, 2008 pukul 11:56 am

    Ada yang tahu referensi nabi Syith ?.

    By the way, segala urusan harus dikembalikan pada Allah dalam hal ini Al-Qur’an & hadist; jika anda mau mendapatkan jalan yang lurus. thx

  11. 11 dana Juli 23, 2008 pukul 6:33 pm

    makasih atas petunjuknya.

  12. 12 Lemon S. Sile Juli 27, 2008 pukul 11:58 am

    pernah bertanya kayak gini juga waktu SD. dan dijawab sama guru agama katanya karena wanita itu tidak memenuhi kriteria sebagai pemimpin. apa ini contoh bias gender?😆

  13. 13 Budak Baong Agustus 7, 2008 pukul 12:30 pm

    Kayakna cuman Tuhan yang tahu siapa yang layak jadi nabi atau rasul… Jadi bukan masalah gender….
    Sama halnya dengan hak jadi Presiden RI…. gak bicara jender… hanya saja kebetulan Presiden wanitana baru sekali… pilihan siapa yang mo jadi presiden ditentuin dari siapa yang ngangkatnya (rakyat), begitu pula nabi, yang nentuin yang ngangkatnya kali….
    Tapi sayangna pengetahuan kita terbatas…. dan lagi-lagi gak semua hal dibilang Tuhan ma manusia…😉

  14. 14 abdul September 10, 2008 pukul 10:22 pm

    saya jadi bingung kenapa anda ga berhasil-berhasil jadi nabi. sabar ya dana.

  15. 15 dina September 11, 2008 pukul 9:53 am

    waduh kalo soal malaikat jenis kelaminnya cuma Allah saja yang tau (rahasia perusahaan).
    sepengetahuan saya memang nabi itu laki-laki karena dari segi penciptaan mereka memiliki fisik yang lebih kuat dari perempuan dan kemampuan mengendalikan emosi yang lebih baik soalnya perempuan itu lembut dan emosinya mudah tersentuh.
    lagi pula akan sangat lucu kalo misalnya dalam berdakwah ternyata nabinya minta cuti karena lagi hamil, menyusui dsb.

  16. 16 Ordinary Kid Oktober 22, 2008 pukul 8:16 pm

    Saat saya SD, saya diajari bahwa Nabi itu adalah orang yang menerima wahyu tapi hanya untuk dirinya sendiri, bukan untuk disampaikan kepada orang lain. Nabi itu tidak sama dengan Rasul.
    Jadi, keberadaan nabi sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, memang sulit diketahui dan jumlahnya banyak.
    Hanya Allah yang mengetahui jumlahnya secara pasti dan akurat.

    Adapun mengenai permasalahan jenis kelamin
    Apakah itu sesuatu yang penting untuk diperdebatkan?!

    *berlagaksoktahu

  17. 17 NABI ANU Januari 19, 2009 pukul 10:38 am

    DARIPADA MENGURUS NABI PEREMPUAN ATAU BUKAN PEREMPUANLEBIH BAIK MENGURUSI UMAT YANG KIAN HARI MAKIN BODOH DAN LENGAH.
    PEREMPUAN ATAU BUKAN – NABI ATAU BUKAN – YANG PENTING ADALAH
    PERBUATANNYA DALAM HIDUP ITU BAGAIMANA? BERMANFAATKAH?
    ATAU JUSTRU MENGHISAP DARAH DAN MESYUSAHKAN BANYAK ORANG SEPERTI ANGGOTA DEWAN DAN OKNUM PLAT MERAH YANG BAJINGAN DAN BIADAB itu

  18. 18 Lhick Februari 23, 2010 pukul 2:37 pm

    Mon, 26 Feb 2007 01:08:41 -0800

    Ass Wr Wb,

    Nabi Perempuan: Adakah? Rabu, 01 November 2006
    Aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) menulis, bahwa konsep “nabi” dan “rasul”,
    tak hanya dimonopoli kaum laki-laki. Benarkah demikian?

    Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi *)

    Dalam situs JIL (www.islamlib.com, 25/10/2006), seorang aktivitsnya, Abd
    Moqsith Ghazhali menulis tentang “Nabi Perempuan”. Setelah panjang lebar
    menerangkan konsep “nabi” dan “rasul”, ia menyimpulkan, “Namun, setelah saya
    cek ke sejumlah kitab, ternyata status kenabian tak hanya dimonopoli kaum
    laki-laki. Ada juga nabi dari kalangan perempuan. Misalnya Ibnu Katsir dalam
    al-Bidayah wa al-Nihayah (Juz II, hlm. 59) mengutip satu pendapat yang
    menyatakan bahwa tak tertutup pintu bagi hadirnya nabi perempuan. Dikemukakan
    bahwa Maryam atau Bunda Maria adalah salah seorang nabi. Perempuan lain yang
    diangkat menjadi Nabi, menurut pendapat ini, adalah Sarah (ibu Nabi Ishaq,
    isteri Nabi Ibrahim), dan ibu Nabi Musa.
    Ulama yang berpendapat demikian misalnya bersandar pada ayat Al-Qur’an, wa
    awhayna ila ummi musa an ardhi’ihi fa idza khifti ‘alaihi, fa alqihi fi al-yamm
    (telah Kami wahyukan kepada ibu Musa; susukanlah dia, dan apabila kamu khawatir
    kepadanya maka lemparkanlah ia ke dalam sungai (Nil).
    Bagi ulama tersebut, wahyu hanya terjadi pada diri seorang nabi. Oleh karena
    itu, perempuan yang mendapatkan wahyu adalah seorang Nabi. Saya menyertai ulama
    tersebut; bahwa wahyu bukan hanya turun kepada laki-laki, melainkan juga
    terhadap perempuan. Alquran telah menunjukkan bahwa Tuhan tak melakukan
    diskrminasi jenis kelamin dalam perkara pewahyuan sekaligus penabiaan.”
    Dengan demikian, Moqsith mengambil pendapat yang menyatakan bahwa ada “nabi
    perempuan”. Kesimpulan Moqsith terlalu dini anti-klimaks. Hanya berdasarkan
    pendapat Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah-nya dan ayat yang
    menyatakan tentang wahyu dia langsung menyimpulkan bahwa benar-benar ada “nabi
    perempuan”. Benarkah demikian???
    Moqsith sangat tidak komprehensif ketika membahas wakna “wahyu” dalam Islam,
    maka wajar jika konklusinya “nyeleneh”. Tulisannya yang singkat dan sangat
    sederhana itu pun terkesan “tendensius” dan dipaksaan. Sepertinya dia sedang
    “geram” pada sementara pendapat yang ada dalam masalah ini.
    Konsep Etimologis “Wahyu” dalam Islam
    Dosen fakultas Akidah & Filsafat, Universitas Al-Azhar, Cairo, Dr. Muhammad
    Sayyid Ahmad al-Musayyar di dalam bukunya al-Risâlah wa al-Rusul fî al-‘Aqîdah
    al-Islâmiyyah (2001: 10, 12, 14 & 18) menjelaskan tentang konsep wahyu dalam
    Islam. Secara etimologis, “wahyu” terbagi empat:
    Pertama, bermakna “isyarat” (al-isyârah). Makna ini dijelaskan oleh Allah
    SWT., “Fakharaja ‘ala qawmihi mina’l-mihrabi fa awha ilayhim an sabbihuhu
    bukratan wa ‘asyiyyan” (Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia
    memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan
    petang) (Qs. Maryam [19]: 11). Makna “wahyu” di sini menunjuk kepada kisah nabi
    Zakariya.
    Kedua, bermakna “ilham secara fitrah” (al-ilham al-fithriy). Makna “wahyu”
    ini dijelaskan oleh Allah SWT. dalam firman-Nya, “Wa awha rabbuka ila al-nahli
    anittahidziy mina’l-jibali buyutan wa mina’s-syajari wa mimma ya‘risyun. Tsumma
    kuliy min kulli al-tsamarat faslukiy subula rabbiki dzululan yakruju min
    buthuniha syarabun mukhtalifun alwanuhu fihi syifa’un linnasi inna fi dzalika
    la’ayatan liqawmin yatafakkarun” (Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah
    sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang
    dibikin manusia”, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan
    tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke
    luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat
    yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
    terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.) (Qs.
    Al-Nahl [16]: 68-69). Jadi, arti “pewahyuan” (al-iha’) di
    sini adalah “al-ilham al-fithriy”, petunjuk (al-hidayah), arahan (al-tawjih)
    bagi lebah untuk menempuh sebab-sebab dalam mempertahankan eksistensinya,
    melakukan kerjanya lewat fitrahnya dan instingnya yang sangat menakjubkan.
    Ketiga, “ilham Tuhan” (al-Ilham al-Ilahiy). Artinya, apa yang disematkan oleh
    Allah ta‘ala ke dalam hati hamba-hamba-Nya yang terpilih, yang berkaitan dengan
    jalan-jalan kebaikan, arah kebaikan, dan cara berbuat kebaikan. Hal ini
    dijelaskan oleh-Nya, “W awhayna ila ummi Musa an ardhi‘hi fa idza khifti
    ‘alayhi fa’alqihi fi’l-yammi wa la takhafiy wa la tahzaniy inna raaduhu ilayki
    wa ja‘iluhu mina’l-mursalin” (Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia,
    dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan
    janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya
    Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men- jadikannya (salah seorang) dari
    para rasul) (Qs. Al-Qashash [28]: 7).
    Keempat, bisikan (al-waswasah). Artinya, apa yang dimasukkan oleh setan ke
    dalam jiwa dan menipu manusia dari kebenaran (al-haqq) dan kebaikan (al-khayr).
    Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT., “Kadzalika ja‘alna likulli nabiyyin
    ‘aduwwan syayatina’l-insi wa’l-jinni yuhiy ba‘dhuhum ila ba‘dhin
    zukhrufa’l—qawli ghururan wa law sya’a rabbuka ma fa‘aluhu fadzarhum wa ma
    yaftarun. Wa litashgha ilayhi af’idatu’l-ladzina la yu’minuna bi’l-Akhirati wa
    liyardhawhu wa liyaqtarifu ma hum muqtarifun” (Dan demikianlah Kami jadikan
    bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan
    (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain
    perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu
    menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan
    apa yang mereka ada-adakan) (Qs. Al-An‘am [6]: 112). Jadi, setan adalah makhluk
    pembangkang dan tiran (al-mutamarrid al-thagiyah): apakah jenisnya dari
    jin atau manusia. Kedua-duanya menghalang-halangi setiap seruan kebenaran:
    menanamkan “keraguan” (syubhat), mengobarkan fitnah dan menghalangi jalan
    kebenaran.
    Berbicara tentang Qs. Maryam [19]: 11 (“fa awha ilayhim an sabbihuhu bukratan
    wa ‘asyiyyan”) , Ibnu Katsir menyatakan bahwa makna wahyu di sini adalah
    “perkara yang tersembunyi” (al-amr al-khafiyy): apakah itu lewat satu tulisan,
    seperti yang dikatakan oleh Mujahid dan al-Suddiy, atau artinya “isyarat”,
    sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid, Wahab ibn Munabbih dan Qatadah. (Ibnu
    Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, cet. Cairo: Dar al-Taqwa, jilid I, juz I,
    cet. I, 1999, hlm. 59).
    Kesimpulan yang “Keliru”
    Apa yang disimpulkan oleh Moqisth adalah keliru. Anggapan ulama yang
    menganggap ibu Musa dan Sarah sebagai “nabi” harus dilihat lagi secara kritis.
    Karena tidak ada penjelasan rinci yang menyatakan bahwa keduanya dianggap
    sebagai “nabi”. Sampai hari ini, tidak ada pendapat atau buku yang menjelaskan
    bahwa ibu Musa dan Sarah (ibu nabi Ishaq dan istri nabi Ibrahim itu)
    menyampaikan risalah, atau memberi peringatan (al-indzar).
    Ibu Katsir sendiri, ketika menjelaskan ayat, “Wa awhayna ila ummi Musa an
    ardhi‘ihi…dst” (Qs. Al-Qashash [28]: 7-9) menyatakan, “Wahyu ini adalah wahyu
    dalam arti “ilham” dan “irsyad” (petunjuk), seperti firman Allah yang berbunyi,
    “Wa awhya rabbuka ila al-nahl, dst.” (Qs. Al-Nahl [16]: 67-68). Ini, menurut
    beliau, bukan wahyu dalam arti “kenabian” (al-nubuwwah), sebagaimana yang
    diklaim oleh Ibnu Hazm dan para Mutakallimin lainnya. Yang benar adalah yang
    pertama (baca: al-ilham wa al-irsyad), seperti yang dijelaskan oleh Abu
    al-Hasan al-‘Asy‘ari dari kelompok Ahlu Sunnah wal Jama‘ah.
    Menurut al-Suhayli: “Nama ibu Musa adalah Ayarikha, dikatakan pula:
    Ayadzikhat. Maksud ayat di atas adalah: ibu Musa diberi petunjuk (ursyidat)
    kepada apa yang kami sebutkan, kemudian dia diperintahkan agar tenang: tidak
    takut dan tidak sedih. Meskipun Musa pergi, Allah akan mengembalikannya
    kepadamu. Dan Allah akan menjadikannya seorang nabi yang diutus (nabiyyan
    mursalan): yang meninggikan kalimat-Nya di dunia dan akhirat…” (Lihat, Ibnu
    Katsir, Ibid., hlm. 288).
    Dr. Al-Musayyar juga menjelaskan syarat-syarat seorang nabi atau rasul,
    yakni: (1) manusia, (2) laki-laki, (3) merdeka (bukan budak), (4) terhindar
    dari aib (cacat): maksum dari perbuatan dosa dan salah, dan (5) Allah
    mewahyukan satu syari‘at kepadanya. (Lihat, op. cit., hlm. 56, 58, 59, & 60).
    Sebagian orang, menurut beliau, berusaha untuk “menyematkan’ kenabian
    (al-nubuwwah) itu kepada perempuan, seperti ibu Musa dan Maryam, berdasarkan
    firman Allah, “wa awhayna ila ummi Musa an ardhi‘ihi.” (Qs. Al-Qashash [28]: 7)
    dan, “Fa’arsalna ilayha ruhana fatamatstsala laha basyaran sawiyyan.” (Qs.
    Maryam [19]: 17). Dalil itu tertolak, karena “wahyu” kepada ibu Musa adalah
    “wahyu berupa ilham” (wahyu ilham), bukan “wahyu kenabian” (wahyu nubuwwah).
    Dan tidak lazim bahwa wahyu itu sebagai kenabian. (Ibid., hlm. 58).
    Dengan demikian, pendapat yang diikuti oleh Moqsith adalah pendapat yang
    tidak lebih dari sekadar “berwacana” yang ‘miskin’ makna. Dr. Muhammad Husein
    al-Dzahabi di dalam bukunya al-Wahyu wa al-Qur’an al-Karim (1986: 18)
    menyatakan bahwa “wahyu” turun kepada para nabi. Dengan begitu, pendapat yang
    menyatakan bahwa ibu Musa, Sarah dan Maryam sebagai “nabi” adalah pendapat yang
    keliru dan tidak dapat dibenarkan. Sejak zaman nabi-nabi Israil pun tidak
    pernah ada riwayat yang menyatakan bahwa terdapat “nabi” perempuan, konon lagi
    Kanjeng Nabi SAW. telah diproklamirkan oleh Allah SWT. sebagai “pamungkas” para
    nabi. (Qs. Al-Ahzab [33]: 40). Wallahu a‘lamu bi al-shawab. (Kairo, 30 Oktober
    2006).
    *) Penulis adalah alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo-Jurusan Tafsir dan
    ‘Ulumu’l-Qur’an dan peminat Qur’anic Studies & Christology.

  19. 19 murid Maret 4, 2010 pukul 2:54 pm

    jumlah nabi itu kan banyak…
    cuma diantara yg 25 itu saja yg gak ada perempuan. yg selain itu? sapa yg tau???

  20. 20 untea Desember 29, 2010 pukul 10:05 pm

    nabi dan rasul itu beda bro..

  21. 21 ale Februari 11, 2011 pukul 11:38 am

    tuhan cuma aga takut klo yg di turunkan adalah nabi prempuan,,,,
    tar tiap hari bawaannya nyuci aja,,,di ksi tugas ma tuhan,,,bentar han,,tanggung neh,,dikit lg mateng nasinya han,,,tak nyiapin sarapan dulu,kasihan bapaknya anak2 blm sarapan …

  22. 22 wisnu Maret 2, 2011 pukul 9:21 am

    benar sekali, memang ada rahasia, termasuk rahasia tujuan dibalik posting2 diatas ini,kasihan temen2ku dari muslim yang setiap hari di cemburui,.
    dana agamanya apa ya? kita jangan ikut2an si,…

    kalo saya sih buat nunjukin “agama kita benar” tidak harus dengan cara “mencari cari kelemahan agama lain”. itu satu kebodohan yang nyata,itu takkan berhasil, dan bahkan akan menimbulkan simpatik pada agama yang dilecehkan,..

    salam damai

  23. 23 Heny imout Januari 30, 2012 pukul 2:05 pm

    karena laki-laki adlah seorang pemimpin. Perempuan tdak bsa mmimpin karena bnyak skali halangan. Misalx Hait/ dtang blan. Dan jika mau adch perang bila prempuan itu sdang hamil mka tdaa bsa mnjadi seorang pemimpin. Maka Nabi itu adch yg perempuan,,,

  24. 24 chilank Februari 26, 2012 pukul 11:58 am

    Karena proses penciptaan manusia di awali oleh nabi adam, (laki-laki)…sementara perempuan di ciptakan melalui tulang rusuk adam, utk menemani nya di surga sampai turun ke dunia…jadi dri proses awal nya sudah begitu dana sampai akhir dunia pun tdk akan ada nabi dari kalangan perempuan, sudah menjadi sunattullah….!

  25. 25 Mahesya Teraphy November 16, 2013 pukul 10:50 pm

    “Man Arofa Nafsah pakod arofa robbah” Jika anda mengenal diri anda maka anda akan mengenal Tuhan anda, setelah mengenal Tuhan sudah pasti anda akan tahu jawaban apa yang anda perdebatkan. Maaf Terima Kasih.

  26. 26 sarohman Oktober 5, 2014 pukul 5:45 pm

    Menurut pendapat yang shahih dan yang dapat dijadikan pedoman, tidak ada nabi yang berasal dari kaum wanita, berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut :

    a. Ayat Al-Qur’an yang menunjukkan pembatasan kenabian hanya untuk kaum laki-laki, yaitu :

    وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلاّ رِجَالاً نّوحِيَ إِلَيْهِمْ

    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka……..” (QS. An-Nahl : 43).

    b. Kenabian haruslah diumumkan ke khalayak ramai, karena dakwah para nabi itu adalah hak dan seorang nabi harus melawan orang-orang yang membawa kebathilan. Oleh karena dakwah seorang Nabi harus tampak jelas dan terang di hadapan orang-orang, maka tidaklah layak hal ini bagi kaum wanita.

    c. Kaum wanita memiliki waktu-waktu “libur” dan saat-saat yang menyebabkan kondisinya lemah akibat melahirkan, nifas, haidl, dan hal-hal yang berkaitan dengan kewanitaan.

    d. Seseorang yang menerima misi kenabian dan kerasulan, berarti ia juga menjadi pemimpin bagi para pengikut dan pembelanya. Seandainya posisi ini ditempati oleh wanita, niscaya akan menganggap rendah orang lain karena mereka mau taat kepada wanita yang menjadi pemimpin mereka


  1. 1 Jawaban Kenapa Nabi cuman Laki2?? « Pilihan Lacak balik pada Juli 16, 2008 pukul 8:04 am
  2. 2 Wanita, Tuhan, dan Kuda « RosenQueen, company. Lacak balik pada Agustus 19, 2008 pukul 11:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: