Sholatlah Seperti Engkau Melihatku Sholat

Sholatlah seperti engkau melihatku sholat

Tidak sengaja Jenar membaca kalimat tersebut. Saat itu dia sedang menikmati kacang yang dibelinya dari penjual keliling. Seperti biasa, kacang tersebut dibungkus kertas bekas demi penghematan. Yah, kelihatanya sih tidak higienis sebab entah kertas bekas apa yang beruntung terpilih untuk membungkus kacang yang dibeli Jenar.

Tapi tampaknya Jenar tidak pernah peduli. Toh, selama ini dia tidak pernah mengalami kesulitan dengan kesehatannya. Bahkan banyak pengetahuan baru yang dia dapatkan dari potongan-potongan kertas bekas yang bernasib menjadi pembungkus kacang itu. Tidak hanya pengetahuan baru, tapi juga pengetahuan lama yang mengingatkan sesuatu yang baru.

Proses pengetahuan itu jugalah tampaknya yang terjadi saat itu. Ketika dia tidak sengaja membaca kalimat yang seingatnya bersumber dari hadist. “Hem… mungkin saja bungkus kacang kali ini adalah kertas bekas pembukuan hadist.” Dasar para manusia yang tak beradab. Berani-beraninya membuang hadist. Apa pada tidak takut sama azab nan pedih ya?” Seharusnya begitu reaksi Jenar. Tapi saat itu, dia malah bersyukur. Sebab dengan adanya potongan kalimat di pembungkus kacangnyalah dia bisa mendapat sesuatu yang baru. Pemahaman yang datang secara tiba-tiba.

Tiba-tiba terlintas dalam pikiran Jenar bahwa maksud dari kalimat tersebut adalah membebaskan setiap orang untuk sholat sesuai dengan penglihatannya akan cara sholat sang Nabi. Dimana setiap orang melihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Sehingga hasil dari proses melihat itupun berbeda-beda. Atau dalam arti universalnya adalah dengan cara yang sesuai dengan pemahaman yang dipahamkan kepada masing-masing orang. Syukur-syukur pemahaman itu seragam semua, namun jikapun tidakpun ternyata tidak apa-apa.

Dan juga Jenar berpikir bahwa ternyata disuruh “seperti melihatku” bukan “seperti orang lain melihatku” . Jenar merasa perbedaan kalimat itu sangat besar. Sebab “seperti melihatku” berarti disuruh melihat sendiri, bukan mewakilkan pada penglihatan orang lain. Nah, jika “seperti orang lain melihatku” barulah berarti disuruh sholat bedasarkan apa yang dilihat orang lain. Alias nurut saja sama orang-orang yang beruntung merasakan hidup lebih dahulu.

Dari kedua hal itu maka Jenar mengambil kesimpulan bahwa ketika dia memutuskan sholat dengan cara tertentu maka itu karena memang dia melihat Nabi sholat seperti itu. Soal orang lain melihat Nabi sholat berbeda dari yang dilihat Jenar. Yang berarti orang lain tersebut melakukan cara sholat yang berbeda Jenar tidak ambil peduli. Biarlah melihat masing-masing semampunya saja. Dan dari sisi yang berbeda. Tidak perlu dipaksa-paksa.

Jenar juga merasa bahwa hal ini sesuai dengan mengapa disebutkan syahadat lah pintu gerbang ber Islam. Sebab jika tidak menyaksikan terlebih dahulu, maka otomatis tentu tidak bisa melihat sholatnya Rasul. Sehingga bagaimana mungkin disebut sholat sesuai dengan yang dilihat pada sholatnya Rasul?

Tapi seberkas kesadaran menghampiri Jenar. Dia merasa perlu mempertanyakan apakah memang harusnya begitu? Sudah benarkah pemahamannya itu? Sebab mungkin juga pemahanan ini hanyalah semacam pembenaran pendapatnya yang sengaja disandarkan pada ayat-ayat yang dianggap suci.

Ah, tampaknya hanya Tuhan saja yang tahu. Jenar bersiap-siap meditasi malam demi menghubungi yang empunya jawaban. Untuk bertanya.

57 Responses to “Sholatlah Seperti Engkau Melihatku Sholat”


  1. 1 razuka Agustus 5, 2008 pukul 1:23 pm

    @Faubel
    Eh den mas Faubel
    *ikut dudk pinggir kali sambil mancing*

  2. 2 Islah Agustus 11, 2008 pukul 5:46 am

    Assalamuailkum Warahmatullahiwabarakuh,

    Saya iseng2 baca artikel di forum ini dan sangat tertarik dengan tanggapan dan jawaban dari teman2 yang lain. Ada satu permasalahan yang ingin saya tanyakan di forum ini ” Kapankah waktu yang tepat shalat itu ?”

    Terima kasih

  3. 3 watonist Agustus 11, 2008 pukul 6:41 am

    @Islah
    kalau boleh tahu “apa sholat itu ??”
    maaf, bukannya bermaksud melecehkan pertanyaan sampeyan, tapi biasanya sebelum sampai pada pertanyaan “kapan”, saya bertanya tentang apa dan mengapa nya dulu. terima kasih sebelumnya, semoga menjadi pencerahan bagi kita-kita.

  4. 4 razuka Agustus 11, 2008 pukul 5:33 pm

    @watonist
    sy sangat setuju pertanyaan itu karena kita harus tau dulu baru mengerjakan yg akan terkait dengan waktunya

  5. 5 bertanya? Oktober 17, 2008 pukul 9:59 pm

    blog tu cuma bisa ngasih komen pendek ya?
    kyknya emang iya.
    kalo panjang jd bosan kali ya?

    padahal bacaan pd shalat srg nya panjang2 kan?
    tp kok bisa2nya cuma lama saat berdiri,
    tp saat ruku`, sujud dan duduk, pgn nya di pendekin aj.

    ya pantas aj srg ga bisa tegak.
    kalo g bisa tegak, gmn mo di diri kan?
    kalo g bisa berdiri, pasti deh jalannya sempoyongan.
    oleng ke kiri dan ke kanan, g mo lurus.

  6. 6 wong bingung Oktober 19, 2008 pukul 8:36 pm

    ngomong2 masalah sholat jadi inget lagunya ahmad dani yg sama chrisye itu yang berbunyi : “apakah kita semua benar2 sujud sepenuh hati atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga, jika surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau bersujud kepadaNya” trus jika kita mengharap surga berarti kita melakukan sholat itu tidak benar2 mengabdi tetapi kita masih mempunyai mental pedagang yang masih memperhitungkan untung ruginya… Meskipun kita melakukan sholat terus sepanjang hidup kemudian kita dimasukkan ke dalam neraka apakah kita sanggup membantahNya…..

    mohon jangan dimasukkan hati

  7. 7 tegak Oktober 19, 2008 pukul 10:14 pm

    empat gerakan dlm shalat memiliki hakikat. dan hakikat itu ada di diri kamu, zhahir dan batin. dlm setiap gerakan yg selalu kamu lakukan, kamu hrs selalu SUCI.

    empat kulimah dlm shalat memiliki hikmah. dan makna tersembunyi yg ada pada kejadian langit dan bumi, awal dan akhir. dlm setiap ucapan yg kamu lontarkan, kamu hrs selalu SUCI.

    17 bilangan itu akan selalu tegak. Berdiri dalam setiap ruas dan jengkal yg ada di dirimu, tegak dlm syariat dan hakikat. dlm setiap niat, ucapan dan perbuatan yg hrs selalu kamu SUCIkan.

    akan runtuh jika kamu permainkan dan berat utk di tegakkan.

    Barulah bisa dikatakan shalat itu adalah tiang agama; menegakkan yg ma`ruf dan mencegah yg munkar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: