Serpih Pemikiran Liberal Emak

Sebenarnya ketika membeli buku “Emak” ini aku hanya merasa membeli sebuah cerita hidup biasa. Tidak pernah terpikir bahwa didalamnya bakal ada serpih-serpih pemikiran liberal. Yang menyadarkan aku, betapa ternyata pola pikir liberal ini sudah ada sejak jaman dulu. Dalam tulisan kali ini akan saya kutipkan beberapa pendapat tokoh Emak dalam buku tersebut yang menjelaskan sebuah pemikiran liberal dengan cara yang lebih runtut dibanding cara saya bertutur selama ini.

1. Negara Islam

Ini adalah kesimpulan yang ditarik Emak dari perbincangan para tokoh tentang perlu tidaknya menerapkan negara Islam jika nanti Indonesia berhasil merdeka. Dan akhirnya semua tokoh sependapat bahwa yang terbaik bagi kondisi masyarakat Indonesia itu adalah sistem sekuler. Dan dengan begitu indahnya, tokoh Emak berhasil merangkum pendapat para tokoh-tokoh tesebut :

Begini. Semua agama, tanpa kecuali, mengajarkan yang serba baik bagi kehidupan kita. Bahkan tidak hanya terbatas pada hubungan antara sesama mahluk manusia, tetapi meliputi pula perlakuan Khalifah Tuhan ini terhadap mahluk binatang dan sikapnya terhadap alam sebagai keseluruhan. Maka alih-alih saling berebut menonjol-nonjolkan simbol agama masing-masing, saling menyombongkan kelebihan agama masing-masing, saling memamerkan bentuk bentuk-bentuk keimanan masing-masing, para penganut agama lebih baik membuat agamanya seperti garam saja, menyatu dan lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan manfaatnya serta ketepatan pemerataannya, tanpa kelihatan sedikit pun kehadirannya. Bukankah setiap agama seharusnya menjadi rahmat bagi kita semua. Jadi kalau Islam mau dibuat maslahat bagi manusia, jangalah ia disendirikan bagai garam dalam botol Arab yang pantang disentuh, tetapi dibiarkan lebur menyatu dengan semua bahan yang membuat makanan sempurna lezat.

Jadi tidak perlulah bawa label-label agama ke dalam negara. Cukup tiap-tiap penganut agama saling memberi yang terbaik bagi kehidupan. Maka ajaran agama itu akan terjewantahkan dengan sendirinya.

2. Pluralisme

Kali ini tokoh emak memberikan gambaran mengenai bagaimana keberagaman itu tidak harus diseragamkan. Gambaran ini berangkat dari adanya pihak-pihak yang ingin menyeragamkan seluruh pemahaman dari suatu agama. Tidak boleh ada yang berbeda. Maka emak memberitahukan bahwa keberagaman itu adalah keindahan dari hidup. Tidak perlu ditakuti. Begini kata Emak:

Bila demikian, ada baiknya mulai sekarang kita camkan dalam diri masing-masing betapa indahnya keseluruhan keindahan yang ditampilkan oleh keanekaragaman dari berbagai unsur kemanusiaan yang berbeda di kalangan bangsa dan negara kita. Harus kita bimbing anak-anak kita sedini mungkin agar bisa menghargai perbedaan-perbedaan serta keanekaragaman tersebut demi penikmatan keseluruhan keindahannya. Perlu dijelaskan kepada mereka bahwa disamping keindahan yang berlainan dari setiap unsur yang berbeda dari keanekaragaman, harus disadari adanya keseluruhan keindahan, suatu keindahan tersendiri, sebutkanlah sebagai keindahan keanekaragaman. Keindahan tersendiri ini dimungkinkan oleh kemerdekaan bangsa untuk kita bina demi ketentraman dan kesejahtraan hidup bersama.

Betapa jika sudah disadari ternyata pluralisme itu memang indah. Masing-masing yang beraneka ragam itu menyumbang keindahan masing-masing menjadi suatu keindahan yang utuh. Dan usaha penyeragaman menjadi seperti berusaha menghilangkan keindahan hidup itu sendiri.

3. Penutup

Ah, salut untuk Emak yang satu ini. Sungguh beruntung keluarganya, yang dapat belajar kearifan secara langsung. Dan saya merasa sungguh beruntung karena bisa menikmati keindahan pemikiran seorang Emak yang begitu filosofis melalui buku ini. Terimakasih Bung Daoed telah bebagi. Liberalisme yang indah, menurut saya. Bijak.

Dan bukan cuma soal agama saja pemikiran Emak yang menggetarkan. Banyak lagi pemikiran-pemikiran briliannya dalam setiap aspek kehidupan. Maka saya sarankan segera beli dan baca lah memoar dari Daoed Joesoef yang berjudul Emak ini. Banyak ilmu hidup yang terkandung didalamnya.

 

Kridit:

Emak karya Daoed Joesoef

21 Responses to “Serpih Pemikiran Liberal Emak”


  1. 1 esensi Juli 24, 2008 pukul 9:20 am

    Kukira “beberapa pendapat” itu banyak, ternyata cuma 2 pendapat yang diposting disini. Tambahkan lagi pemikiran2 liberal kontemporer, biar lebih lengkap dan jangkep.

    *menunggu komentar lain*

  2. 2 esensi Juli 24, 2008 pukul 9:22 am

    Maka saya sarankan segera beli dan baca lah memoar dari Daoed Joesoef yang berjudul Emak ini. Banyak ilmu hidup yang terkandung didalamnya

    Kirain mau bagi-bagi gratis, Mas…

  3. 3 esensi Juli 24, 2008 pukul 9:25 am

    Eh, jadi ini wacana “liberal” mau diangkat lagi? Undang sekalian blogger kontroversial mantan Koordinator JIL itu, Mas Ulil, sebab pemikiran liberal dalam buku “Emak”-mu ini masih cenderung simpel. Khazanah Islam Liberal masih banyak yang menarik untuk dieksplorasi, sekaligus cara tercepat untuk memperoleh musuh. Mwahahaha…😆

    Eh, ini jadi hetrix ya…😆

  4. 4 Nazieb Juli 24, 2008 pukul 5:27 pm

    😯
    Itu Emak-nya siapa? Keren banget…

    Err.. Meski negara ini “katanya” bukan negara Islam, kira-kira bagaimana yah kalau nanti ada presiden yang Kristen?
    Kayaknya orang-orangnya masih pada kolot itu…

    Betewe kena virus typo akut yah?😆

  5. 5 agorsiloku Juli 24, 2008 pukul 8:52 pm

    Percaya, emaknya Daoed Joesoef berkata seperti itu?😀

  6. 6 dana Juli 24, 2008 pukul 9:23 pm

    @esensi

    Sebenarnya bukan liberal sih, tapi bijak. Cuman orang-orang melabelnya dengan liberal.

    @Nazieb

    Iya , keren tuh.

    Soal presiden kristen, Indonesia belon sedewasa itu.:mrgreen:

    @agorsiloku

    Kalo ndak salah sih, ini memoar, bukan biography.😀

  7. 7 realylife Juli 24, 2008 pukul 10:30 pm

    aku beli kang , ngumpulin duit dulu nich

  8. 8 Rindu Juli 25, 2008 pukul 12:47 pm

    Kalau udah selesai bacanya, saya pinjam dong mas … boleh gak?

  9. 9 watonist Juli 25, 2008 pukul 2:13 pm

    @Nazieb

    Err.. Meski negara ini “katanya” bukan negara Islam, kira-kira bagaimana yah kalau nanti ada presiden yang Kristen?
    Kayaknya orang-orangnya masih pada kolot itu…

    wah … ndak terima saya mas kalau orang-orang indonesia dibilang “masih pada kolot”.
    sekarang dimana coba tempat yang nggak kolot itu ??
    kalau menurut saya, orang indonesia itu pada dasarnya malah sangat moderat, semua jenis budaya bisa diterima dengan baik disini … hampir tanpa resistensi. memang nggak semuanya budaya bagus/beradab, tapi tunggu saja sampai kita menemukan komposisi yang tepat untuk campuran budaya-budaya itu.

  10. 10 godamn Juli 25, 2008 pukul 2:57 pm

    Aku setuju banget itu bukan pemikiran liberal, itu mah pemikiran bijak karena sudah melihat kenyataan kehidupan yang beragam.

  11. 11 godamn Juli 25, 2008 pukul 3:57 pm

    Aku juga gak setuju banget kalo ada negara islam… negara kristen… negara budha en laen laen, Kalo bikin buku juga “judul” mah belakangan…., nulis aja karangan yang bagus, judulnya “Tanpa Judul” juga orang tahu bukunya bagus, kalo ditulisnya bagus mah.

    Dulu waktu aku sekolah, dilarang pake jilbab, sekarang ponakanku sekolah harus pake jilbab. Aku harap yang liberal tu bukan yang dimaksud pertama, juga yang kedua.

  12. 12 eswandjono Juli 26, 2008 pukul 1:03 pm

    wah blog menarik nih..berisi opini…bs objektif bs juga subjektif..
    terserah…namanya juga pandangan…
    lg buru2 nih…
    kpn2 aku mampir lagi buat bc opini kamu sesungguhnya..ok..
    slm kenal..

  13. 13 eswandjono Juli 26, 2008 pukul 1:04 pm

    lg buru2..ntr mampir lg ya…
    slm kenal..

  14. 14 daeng limpo Juli 26, 2008 pukul 8:53 pm

    liberal itu apa sih…? saya sering mendengar tetapi kurang paham…? mohon penjelasannya…?

  15. 15 danalingga Juli 27, 2008 pukul 6:29 am

    @realylife

    Semoga cepat terkumpul.

    @Rindu

    Boleh.

    @godamn

    Tul, kalo soal agama, yang penting perbuatannya, bukan labelnya.

    @eswandjono

    Silahkan mampir kalo sudah nggak sibuk.😀

    @daeng limpo

    Liberal dalam konteks artikel ini adalah berani bebas untuk mempunyai pengertian sendiri tentang hal yang berkaitan dengan agama.

  16. 16 godamn Juli 27, 2008 pukul 7:43 pm

    Kang aku jadi mikir… kalo Emakku kayak gitu mungkin aku jadi menteri kali yah…

    Kalo Emakku cuma bilang, “Kamu hidup yang jujur ya nak…, mesti baik ma orang, jangan berprasangka buruk ma orang lain, mesti rajin kerja, supaya hidup kamu tenang”, cuma gitu kang… tapi aku tahu… emakku sayang banget ma aku…
    Kalo emaknya Kang Dana ngomong apa ma Akang?

  17. 17 tomy Juli 28, 2008 pukul 11:27 am

    sungguh benar surga ada di telapak kaki emak😀

  18. 18 simbok Juli 28, 2008 pukul 1:39 pm

    Orang-orang liberal sering menterjemahkan negara islam, negara yang beragama islam + plus arabnya. Tapi kalau pemikiran simbokku yang kolot menterjemahkan “islam” sebagai selamat, artinya negara islam = negara yang selamat. Selamat dari krisis sospolbuk ek teckno, hukum. lalu apakah orang-orang pluralis/liberal akan menerima label ‘negara islam’ versi simbok. Menurut simbokku liberal artinya “ketidakbebasan di kotak lain”, dan pluralis adalah “keseragaman di suatu kotak lain”🙂

  19. 19 danalingga Juli 28, 2008 pukul 6:53 pm

    @godamn

    Kalo mak ku bilang, nggak peduli agama calon istrimu, yang penting dia sayang. Gitu katanya.:mrgreen:

    @tomy

    Tergantung emaknya juga kali bro.😀

    @simbok

    Berarti mboknya sedang membicarakan negara islam, libelaris, dan pluralis yang lain. Bukan yang dimaksud artikel ini.:mrgreen:

  20. 20 edratna Juli 28, 2008 pukul 7:07 pm

    Saya membaca tentang Daoed Yoesoef di Kompas, bagaimana dia mengarungi bahtera perkawinan dengan isterinya selama puluhan tahun, dan kuncinya satu…saling percaya….dan berusaha menjaga komitmennya. Daoed Yoesoef dan nyonya sama-sama telah berumur di atas 80 tahun, dan masih saling merasa jatuh cinta sampai saat ini. Kepribadian seorang Daoed Yoesoef itu, terbentuk karena mempunya “emak” yang mendidiknya dengan baik.

  21. 21 debby Juni 19, 2010 pukul 7:46 pm

    sekarang nyari buku itu dimana ya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: