Kebebasan BerAgama

Ya, saya benar menganggap semua agama itu sama saja. Sama sama bisa mengantar kita untuk mengalami Tuhan. Tapi juga sama-sama bisa mengantar kita menjadi iblis. Semua tergantung pilihan kita. Kitalah yang memilih mau beragama dengan benar atau tidak. Dengan resiko pilihan terebut ditanggung masing-masing. Tidak akan bisa ditransfer ke orang lain. Jadi seharusnya tidak ada yang memaksa kita harus memilih yang benar atau yang salah.

Bahkan menurut pemahaman saya, bahwa Tuhan sekalipun tidak pernah memaksa. Tuhan membebaskan kita memilih yang mana saja. Maka jika hanya kebenaran dan kesalahan menurut manusia saja, tentu lebih tidak bisa memaksa lagi. Yang saya katakan ini adalah kondisi idealnya. Tapi apa daya kita hidup di dunia yang tidak ideal ini. Maka kemungkinan adanya pemaksaan itu cukup besar. Jadi siapkan diri untuk menghadapi pemaksaan tersebut.

Saya sendiri tidak ingin menganggap salah pada orang yang berpandangan berbeda dengan saya. Yakni terhadap orang-orang yang berpandangan bahwa agama itu memang berbeda. Bahwa hanya agamanya saja yang bisa mengantar manusia untuk mengalami berTuhan. Rasanya pemahaman seperit itu tidak membuat saya layak menyalahkannya sebab memang itulah hasil dari pengalamannya. Tidak bisa lantas saya paksakan orang tersebut mengikuti hasil pengalaman saya. Juga walau pada akhirnya orang tesebut berpendapat bahwa agama lain dibilang salah, Tetap tidak saya salahkan. Selama bisa menghantar kepada Tuhan, tidak masalah toh ?

Kalaupun saya terlihat menyalahkan dalam beberapa tulisan saya, maka itu lebih karena kebetulan saja pengalaman saya berbeda dengan pendapat tersebut. Dalam hal tersebut sebenarnya saya hanyalah mengkomunikasikan perbedaan tersebut. Itu saja. Oh iya, saya juga tidak menyalahkan pada orang yang menganggap saya salah. Tapi tentu tidak juga membenarkan. Toh, semua dianugrahi Tuhan kemerdekaan untuk merumuskan beragamanya masing-masing. Bahkan juga untuk merumuskan salah tidak nya orang lain. Silahkan pergunakan kebebasan itu.:mrgreen:

Jadi semua tidak ada yang salah dunk kalo begitu ?

Yah, saya kan juga manusia, bukan malaikat. Dan umumnya manusia tentu agak senang menyalahkan. Maka sayapun ingin menyalahkan orang-orang yang memaksakan rumusan beragamanyalah yang harus diikuti orang-orang. Padahal jelas-jelas Tuhan saja membebaskan manusia untuk mengikutiNya atau tidak. Walau sih memang ada ancaman resiko masuk neraka, tapi resiko itupun bagian dari pilihan. Terserah kita mau memilih yang mana.

Memang sih jadi kelihatan seperti kebebasan semu saja. Dimana ternyata pilihan itu tidak bebas-bebas amat. Ada semacam pemaksaan terselubung. Tapi masih lebih baiklah, daripada resiko tersebut tidak diberitahukan terlebih dahulu. Entar pada menuntut bahwa Tuhan itu curang lagi. Dan saya rasa hal tersebut adil jugalah, sebab kan kita sudah diberi tahu akibat dari pilihan-pilihan kita . Sudah medapat tahu jika melakukan begini neraka, jika melakukan begitu surga. Lalu terserah kita memilihnya. Benar benar terserah kita, bukan terserah dia atau mereka.

Dan dengan adanya pemberitahuan resiko-resiko itu , maka minimal jadinya tidak seperti memilih kucing dalam karung. Supaya kita tidak melakukan beragama hanya seperti berjudi saja. Judi dalam bentuk sukur-sukur dapat surga, apesnya dapat neraka. Maka agar tidak beragama judi maka marilah kita kenali resiko-resiko itu. Adapun cara satu-satunya adalah mengenal sang sumber segala sumber. Dengan begitu maka tidak akan pernah salah memilih. Juga tidak salah mengenal resiko. Rasanya nanti kita tidak bisa protes bahwa kesalahan pilihan kita karena kata-kata penggambarannya yang tidak jelas.

31 Responses to “Kebebasan BerAgama”


  1. 1 zsheefa September 22, 2008 pukul 9:41 am

    Agama adalah indra dalam hal ketuhanan.

  2. 2 razuka September 22, 2008 pukul 10:59 am

    @dana
    ” Allahumma warabbukum lahujjata bainana wabainakum, Allahumma yazmau’ bainakum wallahu alimul hakim ” Allah adalah tuhan kami dan tuhan kamu, bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu Allah yang akan menghakimi kamu sekalian.
    selamat kembali
    -salam-

  3. 3 sigid September 22, 2008 pukul 12:05 pm

    Kalo saya itu, secara gampang …
    Yang selama ini dicari manusia itu mungkin semacam “kedamaian abadi” yang bisa kita capai kalau kita ikut Tuhan
    Sementara bermacam agama yang ada berusaha membantu kita ke sana
    Jadi jika kawan ada yang memakai bantuan A, B atau yang lain ya monggo saja
    Namun harus disadari bahwa yang A, B, C dst itu bukan tujuan akhir
    Jangan sampai agama justru jadi semacam “berhala” yang menghisap seluruh perhatian kita dan membuat kita melupakan tujuan akhirnya
    Gitu …:mrgreen:

  4. 4 sigid September 22, 2008 pukul 12:07 pm

    Mati untuk agama … ndak cool😀
    Hidup untuk Tuhan dan selalu jadi berkat bagi sesama, itu cool:mrgreen:

    *lama-lama saya pikir komentar saya itu ndak nyambung yak *

  5. 5 watonist September 22, 2008 pukul 5:56 pm

    jadi inget sesuatu yang bersumpah akan mencari pengikut sebanyak-banyaknya😀

  6. 6 kishandono September 22, 2008 pukul 7:17 pm

    yang namanya dipaksakan pasti ga enak. kebebasan beragama berarti bebas untuk tidak beragama tidak? bahkan ada yang bilang ‘agama adalah candu.’ tapi salut lah buat tulisannya, berani. kadang sensitif nih tulisan kaya gini.

  7. 7 mikekono September 22, 2008 pukul 8:46 pm

    benar sekali, semua bebas memilih agamanya
    masalahnya adalah ketika pilihan sdh ditetapkan
    bnyk orng tidak melakukan apa2 atas pilihan itu
    alias tetap berperilaku sprt org tak beragama

  8. 8 zal September 22, 2008 pukul 10:40 pm

    ::Dan, pandanganku mengatakan, pilihan bergama sebaiknya ditujukan pada “Islam” dalam arti sesungguhnya, Sebab fahamku mengatakan Islam yang sebenarnya adalah siapa saja, dalam wadah apa saja, dimana keberserahdirian sudah menyatu dalam segala perilaku, baik yang terlihat baik menurut pandangan manusia, maupun tidak, sebagaimana tindakan Nabi Chidir AS sewaktu berjalan bersama Nabi Musa AS.

    yang harus dimasuki pertama adalah “PERCAYA Kepada ALLAH”, mengapa Percaya menjadi titik sentral…???, sebab jika tak Percaya bagaimana mau yakin, jika tak yakin bagaimana mau berserah diri, bagaimana “berserah diri” jika percaya sajapun tidak.

    Permasalahan “percaya” ini yang mungkin sering dipandang sederhana, kalau sudah mengerjakan ibadah dianggap sudah percaya, padahal titik membangun percaya amatlah sangat banyak, bahkan Seorang Ibrahim AS perlu bertanya tentang menghidupkan yang mati kepada Allah, untuk membangun haqqul yaqinnya…

  9. 9 aRuL September 23, 2008 pukul 12:06 am

    inti dari beragamakan berkeyakinan😀

  10. 10 sitijenang September 23, 2008 pukul 1:10 am

    kebanyakan kita kan beragama karena pilihan orang tua. setelah cukup dewasa idealnya memang mencari jalan sendiri. tapi, tentu saja risiko ditanggung sendiri-sendiri.😎

  11. 11 aku September 23, 2008 pukul 2:26 am

    18:38. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku

  12. 12 aku September 23, 2008 pukul 2:36 am

    12:53. Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  13. 13 kami September 23, 2008 pukul 2:37 am

    16:79. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.

  14. 14 kamu September 23, 2008 pukul 2:42 am

    3:20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

  15. 15 kita September 23, 2008 pukul 2:50 am

    Yuk kita simak sama-sama…

    “49:15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

    49:16. Katakanlah (kepada mereka): “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

    49:17. Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.

    49:18. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

    Apa iya masih layak menyebut aku, kamu, kami dan mereka???
    Jgn2 selama ni kita msh suka menduga2..

  16. 16 dg.limpo September 23, 2008 pukul 3:28 pm

    wah agak berat nih Dan….😀 (apa karena bulan puasa ya…?)

  17. 17 danalingga September 24, 2008 pukul 7:58 pm

    @zsheefa

    Atau indra keiblisan.

    @razuka

    Allah memang memberikan kebebasan.

    @sigid

    Kita sejalan nih.:mrgreen:

    @watonist

    Sesuatu yang mana tuh?

    @kishandono

    Yup tentu kebebasa begitu. Tapi jangan lupa memang ada resiko yang harus ditanggung dari setiap piliha dalam melaksanakan kebebasan itu.

    @mikekono

    Itu namanya munafik bukan sih?

    @zal

    ::Dan, pandanganku mengatakan, pilihan bergama sebaiknya ditujukan pada “Islam” dalam arti sesungguhnya, Sebab fahamku mengatakan Islam yang sebenarnya adalah siapa saja, dalam wadah apa saja, dimana keberserahdirian sudah menyatu dalam segala perilaku, baik yang terlihat baik menurut pandangan manusia, maupun tidak, sebagaimana tindakan Nabi Chidir AS sewaktu berjalan bersama Nabi Musa AS.

    Memang pemahamanku juga begitu. Tapi dalam konteks kebebasan di sini saya tidak akan memaksakan orang untuk mengikuti pemahamanku. Paling banter cuma memberitahu saja.

    yang harus dimasuki pertama adalah “PERCAYA Kepada ALLAH”, mengapa Percaya menjadi titik sentral…???, sebab jika tak Percaya bagaimana mau yakin, jika tak yakin bagaimana mau berserah diri, bagaimana “berserah diri” jika percaya sajapun tidak.

    Nah, sekarang masalahnya bagaimana percaya terhadap sesuatu yang tidak kita ketahui sama sekali zal?

    Permasalahan “percaya” ini yang mungkin sering dipandang sederhana, kalau sudah mengerjakan ibadah dianggap sudah percaya, padahal titik membangun percaya amatlah sangat banyak, bahkan Seorang Ibrahim AS perlu bertanya tentang menghidupkan yang mati kepada Allah, untuk membangun haqqul yaqinnya…

    Wah, ternyata memang percaya itu sangat dalam. Btw, bisa lebih dijelaskan lagi bagaimana caranya untuk percaya itu?

    @aRuL

    Dan bagaimanakah yang sudah disebut yakin itu? Bagaimana mencapainya?

    @sitijenang

    Tul, resiko memang mau tidak mau ditanggung masing masing.

    @dg.limpo

    Mosok berat sih daeng. Padahal dah sengaja dipilih yang agak ringan nih berhubung puasa.

  18. 18 Godamn September 24, 2008 pukul 8:20 pm

    kang masih ngobrolin kotak kecil yah…? ngobrolin kotak gede dong skarang… pusing aku bacanya juga… kan skarang mah dah krisna imut bukan kaki kayak dulu lagi… kayaknya lebih enak deh…

    kalo aku liat obrolan di atas sih gak nyambung deh kayaknya… soalnya, kalo aku rasa sih persepsi mengenai agamanya aja dah beda-beda… meskipun sama-sama ngomongnya agama. satu ngomong sirup, satu lagi ngomongin gula, yang laen madu, yang laen aspartam. Mending ngomongin manis aja deh… kan enak… maknyus buat buka puasa… kata oom Bondan juga.
    Tapi gak tau juga deh… selera orang kan beda-beda yah. tapi tadi aku dah minum sirup, makan kolak, dikasih permen juga ma ponakan. skarang ngopi lagi kan asyik… manis loh semuanya… mayan kenyang.

  19. 19 danalingga September 24, 2008 pukul 8:27 pm

    Apa sih kotak kecil, apa sih kotak besar?

  20. 20 Garis September 25, 2008 pukul 3:42 am

    39:53. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  21. 21 Tapal batas September 25, 2008 pukul 3:44 am

    50:25. yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,

  22. 22 Kotak September 25, 2008 pukul 3:46 am

    73:20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  23. 23 aryf September 25, 2008 pukul 4:31 am

    Keknya lbh mudah berjalan, di atas garis
    Biar bisa, liat kiri dan kanan.

    Keknya lbh gampang tangan, menarik garis
    Biar jelas, mana lawan mana kawan.

    Keknya lbh suka ngomong, memutus garis
    Biar tau, pahitnya hdp g punya kawan.

    Keknya terasa nikmat klo g ada garis
    Baru lah merasa, hdp g sendirian.

    *Aksioma matematika: Garis bisa dibentuk dari dua titik yang `berjarak`*

  24. 24 gandhos September 25, 2008 pukul 4:35 am

    “Memang sih jadi kelihatan seperti kebebasan semu saja. Dimana ternyata pilihan itu tidak bebas-bebas amat. Ada semacam pemaksaan terselubung.” ……..?
    Jadi teringat ketika para pemimpin merumuskan bentuk KTP yaitu harus beragama dan agamannyapun ditentukan ……. ironis memang, karena udah menyimpang dari “Kebebasan memeluk Agama dan Kepercayaan”. Lha klo agamannya gak ada disitu ….. Minta bantuan Gus Dur lagi ahhhhhh …..

  25. 25 unknown entry September 25, 2008 pukul 2:59 pm

    nyang penting,kita sadar kita hanya ‘percaya’,,klo ga banyak tuh orang2
    yang ngakunya ‘tahu’ dan akhirny merugikan orang lain yg berbeda dengan ny,malah bsa jadi pertumpahan darah…
    yah pokokny manusia suka diperlakukan baik,,jd knapa qta g berbuat baik..wong baik itu sendiri sebuah generalisasi dimana menurut persepsi manusia yang rata2 bermakna sama..berpuluh ribuan tahun terjadi pembentukan makna dan pertukaran informasi masyarakat tentang baik..y kurang lebih sama kali ya…

  26. 26 danalingga September 25, 2008 pukul 8:02 pm

    @aryf

    Keknya lebih enak jika telah melewati garis itu.

    @gandhos

    Hohoho… tapi memang kebebasan sepertinya rata rata begitu.

    @unknown entry

    Ah, yang penting memang kesadaran itu.😀

  27. 28 nindityo September 29, 2008 pukul 2:47 am

    kebebasan beragama ?! :drunk:

    *lagi mikir sambil nonton youtube.. berani nulis gak ya sambil duduk dibangku depan dalam sebuah gedung di jalan gajah mada*

  28. 29 watonist Oktober 2, 2008 pukul 5:37 pm

    @watonist

    Sesuatu yang mana tuh?

    itu lho … yang minta ditangguhkan kematiannya, yang biasanya suka maksa-maksa kan dia.

  29. 30 danalingga Oktober 4, 2008 pukul 11:19 pm

    @nindityo

    Ada apa dengan kebebasan beragama bro?

    @ watonist

    Oh, yang itu toh. *ngelus ngelus idung*

  30. 31 abdul Oktober 11, 2008 pukul 9:16 pm

    Bro, anda jangan memahami setengah – setengah tentang agama sehingga anda akan menemukan sedikit kebenaran dan sedikit kesalahan jadi kaya gitulah ente.Tu juga kalo nemuin kesalahan ato kebenaran.kalo gak nemuin??? (pasti ente yang bener)
    Coba sekarang gunakan akal anda sekali saja. Disetiap kitab suci selalu ditemukan bahwa agama tersebut yang paling benar dari agama lain. kalo demikian, yang benar pernyataan kitab suci tersebut ato pernyataan ente?
    kalo yang bener pernyaaatn kitab suci, bagaimana dengan pernytaan ente? tapi kalo yang bener pernyataan ante berarti kitab suci salah dong dan secara otomatis tuhan juga salah. jadi gimana urusanya?
    Emang lo dah pantes jadi tuhan ye……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Saran Saya

Kepala nyut-nyutan membaca blog ini? Mari santai sejenak sambil ngupi di kopimaya dot com

AKU

Bermakna

Tanggalan

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Jejak Langkahku

RSS Perjalanan Teman-Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Spiritualitas Para Teman

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: